Bismillahirromanirrohiim.. dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..
Saraya Ikramina Husna adalah nama yang diberikan orang tuaku yang artinya istana memberi kemuliaan yang baik dan indah.. Subhanallah.. rasa syukur teramat dalam hati diberikan nama seindah itu. nama merupakan harapan dan doa orang tua kepada anaknya. Pasangan orang tua ini mengharapkan dan mendoakan agar buah hatinya yang terlahir di dunia ini menjadi suatu tempat bagai istana yang memancarkan cahaya kemuliaan dari nama-nama Allah yang baik dan indah yaitu Asmaul Husna.. sehingga diharapkan aku dapat menjadi wakil Allah di muka bumi ini.
dan untuk menjadikan nama yang merupakan doa itu melekat pada akhlak dan tertanam dalam qalbu, aku harus memulai suatu perjalanan spiritual atau perjalanan batin untuk lebih mengenal Sang Pencipta dan mengenal diri ini.. semua itu agar pada saat aku mendengar firman-Nya dan melihat tanda-tanda kekuasaanNya hatiku tidak membatu tapi bergetar karena sentuhan CintaNya kepada hati ini.. karena hati setiap manusia adalah rumah Allah..
Sebagai pencari makna hakiki yang dalam perjalanan mencari cinta-Nya dan dalam mengarungi samudra Illahiyyah tentu aku menemukan berbagai ujian yang tak akan pernah bisa kulewati tanpa pertolonganNya dan petunjukNya. Bagiku, perjalanan ini adalah juga sebagai proses belajar untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan taqwa. karena ujian yang diberikan Allah sudah ada jawabannya di Al-Quran dan Hadist. Sehingga untuk menemukan jawaban dari segala ujian, aku harus menggunakan akal (pikiran) dan rasa (qalbu/hati) untuk berpikir mengenai tanda-tanda kekuasaanNya dan meresapinya; tidak hanya sekedar menggunakan indera penglihatan dan pendengaran saja.. untuk itu, ku ucap syukur yang sangat kepada Allah yang memberikan modalitas tertinggi kepada manusia untuk menggapai hikmah dan hidayah yaitu akal dan rasa. Karena sesungguhnya Allah tidak pernah secara Cuma-Cuma memberikan hikmah dan hidayah..
Dalam perjalanan ini, sering aku berhenti untuk beristirahat sejenak. Kuhamparkan sajadah panjang sembari berteduh dari teriknya siang dan menghangatkan diri dari dinginnya malam dengan limpahan cahayaNya, ditemani alquran dan tasbih. Kupanjatkan doa dan memuji asmaNya, bersujud aku bersyukur atas segala nikmat dan tersungkur aku mohon ampun atas segala dosa. Serta bersalawat kepada Rasulullah sebagai ungkapan kerinduan dan cintaku padanya. Air mataku yang menetes menjadi saksinya... di dalam kekhusyuan itu, aku banyak bertafakur, merenung, dan introspeksi sejenak mengenai perjalanan yang sudah kulewati agar selalu ada perbaikan dalam menempuh perjalanan ini..
Sabar dan ikhlas, menjadi suatu perbekalan penting dalam perjalanan yang kutempuh.. tanpa adanya sabar dan ikhlas, perjalananku sudah terhenti di tengah jalan karena sabar merupakan nafasku dan ikhlas adalah langkahku. Terasa berat penuh beban dada ini dalam proses sabar dan ikhlas. Memohon yang terbaik, menerima apa yang ditetapkan Allah, memperbaiki apa yang seharusnya diperbaiki, dan melakukan yang terbaik hanya karena Allah. Tapi ternyata pada saai itulah aku merasakan Allah benar-benar sangat dekat denganku dan menampakkan kasih sayangnya. Karena Allah menyukai orang-orang yang bersabar..
Harta karun dan mutiara aku temukan dalam perjalanan mencari Cinta-Nya dan dalam mengarungi samudra Illahiyyah ini.. harta yang lebih berharga dan lebih bernilai dari sekedar uang, emas, dan perak. Harta karun dan mutiara ini kubagikan kepada orang yang memerlukannya sebagai zakat dan sedekahku yaitu ilmu yang bermanfaat. Amal ini kelak yang akan memanjangkan usiaku walaupun aku sudah terbujur kaku terkubur dalam tanah. Hanya amal itu yang dapat menolongku baik di dunia dan di akherat nanti. Aku tak dititipkan banyak kekayaan oleh Allah dalam perjalananku ini. tapi aku tidak pernah khawatir, karena Allah Maha Kaya yang menjamin rezekiku. Aku hanya membawa beberapa perbekalan penting selain kesabaran dan keikhlasan yaitu ketulusan dan niat hanya karena Allah (lillahi ta ‘ala). Karena hanya ini perbekalan untuk aku bisa lulus dari ujian-ujian Allah.
Dalam perjalanan ini tidak lupa Doa selalu ku panjatkan kepadaNya sebagai ungkapan ketidakberdayaanku dan memohon pertolongan kepadaNya. Karena tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah. Bagiku, doa adalah yang memperkuat tali cinta diantara manusia dan Tuhan. Karena Allah akan senang jika hambanya memohon kepadaNya dan seorang hamba selalu merindukan ketentraman dan kelegaan hati dengan memanjatkan doa kepadaNya..
“Ya Allah, berikanlah kemudahan di setiap langkah ikhtiar perjalananku. Ini bukan untukku karena aku tidak pantas menerima kemudahan dariMu. Tapi ini untuk kedua orang tuaku. Agar aku kelak dapat memuliakan mereka..”
“Ya Allah, jadikan setiap langkah ikhtiarku ini nilai ibadah untuk dapat diterima disisiMu, karena tidak ada yang kuinginkan selain ridho dan Cinta-Mu. Bahkan aku malu untuk meminta surgaMu ya Allah..”
“Ya Allah, jernihkan pikiranku, tenangkanlah batinku, bimbinglah pikiran dan hatiku agar tindakan yang dilakukan masih dalam keadaan yang pertengahan..tuntunlah ucapan dan perbuatanku agar perkataan yang dikeluarkan dan apa yang diperbuatan tidah merupakan sesuatu yang sia-sia..”
“Ya Allah, pasangkan aku dengan pemimpin dan imam yang baik bagi keluarganya, yang dapat mengahargai proses dan perjalanan setiap makmumnya, menjadi penyejuk bagi keluarganya dan yang mencintai keluarganya hanya karena Allah. serta karuniakan kami anak-anak yang Soleh. Agar keluarga kami dapat menempuh perjalanan menuju sakinah...”
“Ya Allah, ampuni segala dosaku.. segala kekhilafanku.. dosa yang ku perbuat mungkin lebih panjang dari perjalanan yang aku tempuh.. sunggih Engkau Maha Pemaaf Ya Allah”
Amiiinn ya Robbal alamin...
19 tahun sudah aku menempuh perjalanan ini, entah berapa lama lagi waktu yang aku punya untuk selalu berusaha meraih cintaNya dan keridhoanNya sebelum aku benar-benar meninggalkan dunia ini untuk menempuh kehidupan yang kekal abadi di akhirat. Hal ini mengingatkanku pada suatu hal.. “aku tidak peduli dalam keadaan apa aku menjalani hari-hariku, dalam kondisi yang kusukai atau tidak kusukai. Karena aku tidak tahu mana yang lebih baik bagiku diantara keduanya. Karena aku hanya ingin ridho atas pengaturan Allah dan tenang atas pilihan dan ketentuanNya” (Abu Bakar ash-Shiddiq ra.)
Irsa ikramina,
Bandung, 25 agsutus 2010