aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Sunday, August 20, 2017

Thawaf

Kupikir setiap manusia memiliki thawafnya masing-masing. Dan pilihan manusia, terletak pada jalur thawaf yang mendekat pada cahaya atau malah menjauhinya, thawaf yang menuju kesempurnaan atau kehancuran

Layaknya tarian sufi yang membawa hingga titik transendental, layaknya planet-planet yang mengitari matahari, layaknya jamaah haji yang berthawaf mengelilingi ka’bah

Sepanjang hidup, manusia berthawaf dalam hidupnya, dalam hatinya. Begitu juga dengan dunia itu sendiri, beputar. Harus ada satu titik yang menjadi porosnya.

Alam semesta saja mengerti, mereka harus berthawaf sesuai garis edarnya. Atau kalau tidak, alam semesta ini akan hancur.

Langkah dalam thawaf sepanjang hidup tentu melelahkan, tapi itulah prosesnya. Lelah dan ketidakberdayaan harus dilalui agar nafsu-nafsu ini tertanggalkan, higga langkah kaki terasa ringan seperti tidak menapak, terbang.

Terbang ke lapisan langit tertinggi, manusia akan melihat banyak hal, bahwa dunia dibawah sana bukanlah pusat thawaf yang membahagiakan.

Hanya menyatu dengan Tuhan adalah bahagia yang hakiki.

Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 20 Agustus 2017

Irsa Ikramina

Sunday, July 9, 2017

agar lapang sedikit saja syukurnya banyak

“Gue duduk di deket pintu masuk ya, sebelah kiri”, isi WA (WhatsApp) ku kepada Amel

Amel adalah sahabat ku sejak SMA kelas 3, 8 tahun kami berteman. Hubungan tidak intens. Tapi setiap berapa bulan sekali kami suka bertemu. Sekedar menceritakan progress kisah hidup, untuk saling memberikan masukan atau sekedar memahami. Dalam beberapa hal, kami memang memiliki kesamaan. Amel juga tinggal hanya dengan Ibunya. Kami sama-sama introvert. Tapi cara kami memandang hidup yang berbeda. Disitulah seninya kami saling memahami dan memberi masukan. Selepas SMA, Amel meneruskan kuliah di Unpad, Ekonomi Manajemen. Kemudian pekerjaan pertama ia dapat bidang perbankan di Jakarta. Ini sudah perusahaan keduanya. Meski Amel sempat beberapakali pindah posisi atau fungsi. Amel tetap konsisten di jalur perbankan dan mencari rezeki di Jakarta. Amel tipikal orang yang easy going, hidupnya pun bukan buah dari perencanaan yang matang. Apa yang ada di depannya, ya dihadapi dan dinikmati.

Amel sahabat yang jujur. Bahkan menurut ku terlalu jujur tapi aku tidak pernah tersinggung. Misalnya saja pertemuan beberapa bulan lalu, Amel berkomentar tanpa beban “perut lu sekarang buncit sa ?” Biasanya komentar Amel membuat aku bingung harus jawab apa. Pasti  pertemuan selanjutnya akan ada komentar jujur lagi.

Hari ini adalah jadwal kami bertemu. Mumpung liburan lebaran yang panjang dan sudah pasti Amel pulang ke Bandung. Amel rumahnya memang dekat dengan pusat kota Bandung. Itu sebabnya selalu aku yang sampai lebih dulu di tempat janjian. Setelah mengabari aku sampai, Amel hanya membutuhkan waktu 15 menit saja untuk sampai.

Heiii... Maaf lahir Batin yaa..” sapanya dengan riang sambil saling cium pipi kanan dan kiri

“Lu sekarang jerawatan sa ?” keluarlah komentar jujur Amel.

“Ah, kagak gue maapin lu”

Amel hanya tertawa saja

“Enaknya sebelum ngobrol kita pesen dulu kali ya” kata ku menyarankan

Setelah kami memesan dan pesanan kami pun datang. Ada diam sejenak. Mungkin kami bingung harus memulai pembicaraan darimana.

“Gimana kerjaan ?” kata Amel memancing.

“Seperti yang udah gue ceritakan ke lu mel waktu di telp” kadang kami update dan catch-up stories via telp juga

Aku melanjutkan, “So far nggak ada yang aneh di tempat kerja gue sekarang. Yaiyalahya, wong perusahaan sudah established, perusahaan sehat.”

“Ya syukurlah lah”

“Lu sendiri gimana mel ?”

“gue udah cerita belum ya, gue udah dipindah bagian? Dan gue kesel banget sama si wanita ular yang mindahin gue ke bagian lain. Tanggal efektifnya ya pas tanggal gue diinfo-in. Ya gue sih iya-iya aja di depan. Cuma di belakang ya gue meraung-raung juga kesel sama si wanita ular”

“Hahaha, lu emang udah cerita ke gue lu dipindahin. Gue juga tau lu diujii kesabaran satu tim sama wanita ular. Tapi part lu meraung-raung kayanya gue sekarang baru tau deh”

“iya nih, kurang lengkap ya ? gue lupa sih. Saking gue kesel dan cerita kesemua orang”

“Hahaha, gilak lu.” Kata ku sambil terbahak-bahak

“Ya habis gimana sa, saking aja gue ngeliat si wanita ular itu single parent juga dan mengingatkan gue sama nyokap. Yasudahlah, mungkin dia harus kerja menafkahi anaknya sampai harus mendepak gue ke bagian lain.”

“Hehehe, emang Mel. Kerja kudu banyak doa minta dilapangkan dada. Kelakuan manusia-manusia itu loh. Suka di luar nalar” kata ku coba menetralisir nuansa emosi yang mulai terasa.

Ada hening sejenak. Aku menghela nafas.

“Tapi ya kerja tuh ternyata Cuma gitu aja ya mel”

“Maksud lu sa?” mempertanyakan pendapat ku yang ambigu

“Jadi gini mel, guekan sempet makan siang sama temen-temen kantor gue yang lama. Soalnya kantor lama dan baru guekan deketan. Gue cerita banyak ke mereka, bahwa kerja itu ternyata sama aja. Kerja ya sama aja toh, ada aja orang macem wanita ular yang elu ceritain, kalau gak atasan ya rekan kerja ada yang error, atau sistemnyalah, pressure-nya lah, load kerjanya lah. Ah, sama aja. ketika gue hijrah perbedaanya adalah bagaimana perusahaan memperlakukan karyawan. Di kantor lama karyawan diperlakukan layaknya romusha. Sedangkan di kantor baru gue, karyawan betul-betul diperlakukan sebagai asset.”

“Gue bersyukur sih Mel. Cuma malah kaya ada sensasi yang gue rasakan aneh gitu” kata ku sok serius biar bikin penasaran

“Maksudnya ?” tanya Amel terpancing penasaran

“gue kebiasaan di kantor lama dimana yang sudah jelas hak karyawan masih ada kemungkinan nggak cair atau dipotong. Misalnya KPI gue tahun 2016  itu 80% harusnya gue dapet bonus, eh terus pas awal tahun definisi salah satu KPI gue dibengkokin gitu. Jadi artinya gue seolah-olah gue nggak capai dan nggak berhak atas bonus. Adalagi temen supervisor GA gue dulu, KPI nya capai 100% terus KPI nya diganti deh baru berapa bulan jalan, kesannya biar nggak 100% gitu. Termasuk yang terakhir, gue resign sebetulnya 30 hari sebelum Hari Raya, kalau berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerja harusnya gue masih berhak atas THR. Yah, si bossman tea atuh, nggak mau ngasih. Gue ngingetin kalau gue masih punya hak. Eh dia malah nyerang personal, “lu lagi ngapain resign sebelum THR cair ?” Gue gak berani jawab, bukan gue takut sama bossman. Soalnya kan memang semua sudah diatur Allah, mana gue tau perjalanan shafa marwa gue air zamzam-nya ditemukan pada waktu itu.”

“Gila, jadi lu nggak dapet THR sama sekali ? Harusnya dapet dong. Kantor baru kasih proporsional nggak ?” tanya Amel Kaget

“Aku orapopo Mel, sudah biasa. Insya Allah rejekinya nanti diganti dari pintu yang lain. Kalau di kantor baru, bakal dapet kalau minimal masa kerja 1 bulan. Kan gue belum 1 bulan, makanya harusnya masih berhak dari kantor yang lama. Tapi yawislah”

“Belum lagi keluhan karyawan itu kan udah jelas seputar gaji dibawah UMK lah, potongan kehadiran gede banget lah, lembur gak dibayarlah, tanggal merah masuk lah, gaji yang dilaporkan ke BPJS nggak sesuai lah. Pokonya problematika kesejahteraan, tapi diforsirnya kerjanya bak dijajah”

“Terus gue aneh gitu Mel, di kantor baru. Karyawan itu bisa complaint hanya karena potongan pajak THR jauh lebih besar. Yah gue aja kagak dapet kagak lapor ke Disnaker. Pake pengadilan Allah aja. Hehe. Terus, kemarin kan di kantor baru gue ada survey seluruh karyawan by online, untuk karyawan lapangan yang nggak ada akses email ya kita provide laptop. Seperti biasa HR jadi PIC pelaksanaan di setiap region lah ya. Teknis kerjanya mirip kaya di kantor lama gue kalau lagi jadi PIC kegiatan CSR. Singkat cerita hasil survey achieve target untuk jumlah karyawan yang harus mengisi survey. Terus sebagai apresiasi, tim HRBP dikasih voucher belanja gitu Mel. Bukan gue nggak bersyukur sih. Tapi kaya aneh, pekerjaan yang biasa gue lakukan di kantor lama, di kantor baru ini hasilnya kaya dihargai banget gitu Mel”

“Sa...”

“Ya Mel ?”

“LOH ?! kok sedih ? bagian mana sedihnya ?”

“Ya bukan sa... Maksud gue, emang seharusnya kaya gitu perusahaan memperlakukan karyawan”

“OOOHH... ya kan lu lebih beruntung. langsung kerja di perusahaan ternama Mel. Guekan jadi romusha dulu”

“Nggak kok, gue rasa elu yang lebih beruntung”

“Maksud lu, karena gue bisa lebih bersyukur dengan nikmat yang dirasakan orang pada umumnya adalah hal biasa ?”

“Yup”

“Iya sih.. ternyata benar adanya. kalau Allah tidak bermaksud menyulitkan, tapi supaya kita jadi kaum yang bersyukur. Jadi memang sempit itu perlu ya, agar lapang sedikit saja bersyukurnya sangat. Ternyata kerja gitu aja kan Mel ? sarana ibadah aja. Kalau diperlakukan sebagai romusha ya ujian kesabaran, kalau diperlakukan sebagai asset ya ujian rasa syukur. Tugas kita ya amanah aja, lillahi ta’ala, sing Ikhlas”

“ Ya sa, tapi gimana kalau kasus gue. Gue kok kerja itung-itungan banget ya.”

“Maksud lu itungan gimana Mel ?” tanyaku kurang jelas

“Iya, gue kalau udah jam pulang ya pulang aja tenggo”

“Lah, menurut gue itu yang bener Mel. Kalau udah beres ya pulang lah, masa lu ngerjain kerjaan OB.”

“Iya sih, tapi kalau gue liat temen-temen gue tuh pada macem going extra miles gitu sa. Gue berpikir, kalau gue gini terus, kapan gue naik jabatan atau dapat karir yang lebih baik ?”

“Ok. Kita urai ya. Pertama gue mau bahas masalah kerja lebih dari waktu atau lembur. Sepanjang terpaan perjalanan karir gue, gue menemukan bahwa kerja itu harus bisa menyeimbangkan 3 bagian. Kerja, keluarga dan kesehatan. Kerjalah dengan sungguh-sungguh, tapi juga jangan berlebihan. Allah udah ciptain siang buat kita kerja dan malam supaya kita istirahat, tapi kalau ada yang belum beres dan urgent, yah nggak ada salahnya diberesin meski lebih waktu. Akan lebih baik, kalau kita bisa manage pekerjaan supaya bisa pulang ontime. Orang yang suka lembur atau bawa kerjaan ke rumah biasanya emang nggak tinggal sama keluarganya, karena nggak ada yang nuntut atau complaint untuk quality time sama keluarga. Keluarga itu penting, jangan Cuma pas kita sakit atau down aja baru kita diurus keluarga. Perhatikan mereka tidak hanya dari segi finansial, tapi juga perhatian, waktu dan pendampingan. Kesehatan itu ada 2, fisik dan mental. Kalau kerja berlebih badan juga ancur, belum stress dan tekanan yang dirasa secara psikis. Perhatikan 2 hal itu, lelah ya istirahat, jenuh dan stress ya cari hiburan, ketemu teman, jalan dengan keluarga, me time. Itu sebabnya ada hak cuti kan ?”

“iya sih sa.. mereka yang masih stay di kantor ketika gue uda pulang tenggo emang misalnya udah berkeluarga tapi belum punya anak, atau emang nungguin macet juga”

“nah.. ya kan.. kedua, kerja juga landasannya niat. Bukan going extramiles dulu baru lu nyari arah dan tujuan lu apa, juga dasar lu ke tujuan itu. Terlalu jumping kalau lu liat temen-temen lu kerja lembur terus lu jadi khawatir soal jenjang karir dan pengen ikutan. Ok, supaya sistematis, misalnya lu mau ngejar karir, tapi pertanyaan gue, buat apa ? kalau lu udah nemu dan yakin itu yang terbaik, untuk kehidupan, akhir urusan dan agama lu. So, go ahead, going extramiles. Man Jadda Wa Jadda, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Ikhtiar yang lu keluarkan akan disesuaikan dengan porsi yang ditentukan dari niat lu. Toh Tuhan akan merubah nasib kalau kita yang berupaya mengubah nasib kita. Yang penting niat sing baik Mel. Kalau niat udah lurus dan baik, Insya Allah nggak gampang nyerah menghadapi kenyataan atau kesulitan dan kepada Allah senantiasa berserah. It is called Ikhlas tanpa batas.

Bandung, 2 Juli 2017
Dari Aku, Duniaku dan Penghayatanku
Irsa Ikramina





Monday, March 27, 2017

Sabar

Aroma kopi seduhan tangan ku sendiri menyeruak, menemani ku yang pura-pura kerja padahal sedang berselancar di situs lowongan pekerjaan. Inilah Shafa Marwa ku yang belum putus sedari akhir tahun lalu. Memang, rezeki sudah Tuhan atur. Tapi itu baru keyakinan batiniah, harus disertai upaya lahiriah untuk membuka pintu rezeki yang lebih besar. Siti Hajar yakin Allah tidak akan menelantarkannya, tapi keyakinan itu tidak membuatnya hanya berdiam dan menunggu. Upaya lahiriah yang ia lakukan adalah berlari Shafa dan Marwa. Begitu juga dengan ku.

Hanya saja yang membedakan dengan akhir tahun lalu. Kali ini bukan sekedar soal rezeki, tapi juga ilmu. Kalau memang hari ini harus lebih baik dari kemarin. Maka selama 3 bulan belakang ini aku sudah menjadi orang yang merugi bekerja di perusahaan ini. Kerja bagiku selain untuk menjemput rezeki, juga untuk belajar dan berkembang menjadi lebih baik. Sebab, menimba ilmu itu juga berarti berjalan di Jalan Tuhan. Being Leader sama halnya seperti jadi trainer atau dosen. We share knowledge, train and teach team to be better. Itu sebabnya harus selalu belajar terus, agar bisa berbagi ilmu terus dan menjadi amal yang tidak terputus. Tapi sayangnya, akibat struktur organisasi yang banyak bolongnya (resign kemudian tidak dicari penggantinya, dibiarkan saja), sisanya yang menempati adalah orang-orang yang “tidak disarankan” (posisi strategis bahkan), sisanya juga harus bekerja rangkap fungsi. Akibat hal-hal tersebut, sulit menciptakan budaya learning organization. I see no future in here.

So, I think Hijrah is the best decision now. Leaving Jahiliyah, going to the light.

Klik Apply

Sambil menyeruput kopi aku melirik ke staff ku, yang kelihatannya sudah agak senggang setelah menginput banyaknya pengajuan karyawan sales. Aku langsung tembak saja bertanya.

“Kamu nggak ada rencana cari kerjaan yang lebih baik?” tanya ku santai tapi to the point. Pertanyaan ini menjadi lazim apabila kita kerja di perusahaan yang engagement karyawannya sangat rendah

“eh, maksudnya gimana bu ?” dia kaget. Kikuk juga, karena pertanyaan ku terlalu mengejutkan mungkin baginya.

“ya gini loh, kira-kira kamu ada rencana resign nggak dalam waktu dekat ini ? siapa tau kamu mau memutuskan mengurus anak setelah lahiran bulan Juni ini atau mau lanjut disini setelah cuti melahirkan tapi sekedar sambil mencari pekerjaan lain ? karena kalau kamu memang mau fokus mengembangkan diri di karir. Di sini sudah bukan tempat yang sesuai” kataku menjelaskan

 “oohh.. sebetulnya ada bu. Tapi tergantung suami ku. Suami ku dari beberapa bulan lalu sudah cari-cari kerja juga yang lebih baik. Begitu di Jakarta dia sudah pindah ke perusahaan yang salary nya kira-kira bisa mencukupi keluarga. Maka aku akan ikut suami ke Jakarta. Perkara nanti akan kembali bekerja, itu kan paling di Jakarta dan nunggu anak sudah agak besar”

“That’s Nice. Mau memaksimalkan ibadah sebagai istri dan Ibu ya ?”  tanya ku. oohh suaminya yang sedang Shafa Marwa, ujarku dalam hati

“Iya Bu, sudah komitmen tidak akan LDR kalau anak sudah lahir”

“Bagus, ikut senang mendengarnya. Mudah-mudahan yang terbaik ya buat kamu dan keluarga. Nanti kabarin aja kalau suami sudah ketemu air zam-zamnya. Supaya disini aku bisa mempersiapkan”

“Iya Bu, saranku pas cari orang buat pengganti cuti melahirkan ku, cari yang requirement nya seolah untuk menggantikan aku hingga kedepannya. Jaga-jaga bu, nggak akan ada yang tahu kan”

“Iya, kamu betul”

“Ibu sendiri bagaimana ?”  tanyanya balik.

“tentu kalau ada peluang lebih baik pasti aku akan menyegerakan hijrah. Tapi memang harus sabar. di Bandung perusahaan yang sudah established bisa dihitung pakai jari, posisi HR Supervisor juga tidak banyak. Nanti kalau sudah waktunya juga dilancarkan. Tidak tergesa-gesa tapi ya menyegerakan kalau sudah waktunya. Kan, Hijrah harus lebih baik” jawabku singkat saja

“Ibu nggak mau coba di Jakarta ?”
Aku tersenyum sebelum menjawab pertanyaan ini. “sesungguhnya aku sudah memulai perjalanan shafa dan marwa ini cukup lama. Bahkan sampai ke Jakarta sekalipun. Tapi ada beberapa pertimbangan yang di putuskan bersama dengan keluarga untuk menetap saja di Bandung”

Kami terdiam sejenak. Mungkin sama-sama merenungi pilihan kami masing-masing.

“Jangan-jangan kita akan resign dalam waktu yang tidak jauh berbeda. Doa kita diijabah” kataku memecah keheningan dengan nada bercanda.

Kami memang pernah bercanda, supaya tim HRD kalau bubar secara bersamaan. Siapa tahu itu bisa memberikan pelajaran ke manajemen karena kami tahu tidak mudah merekrut orang baru yang bersedia diperlakukan dan dipekerjakan seperti kami.  Kami merasa dipekerjakan melebihi porsi yang seharusnya, manajemen merasa tim HRD bisa berjalan sebagaimana mestinya meski Manager HRD resign sehingga tidak dicari pengganti. Alhasil aku juga ketimpaaan fungsi manager, begitu juga dengan rekan supervisor ku yang akrab disapa Babeh. Sedangkan staff, harus megerjakan administratif HRD yang menurut analisa jabatan harusnya dikerjakan dua orang. Dulu pernah ada, namun karena politik manajemen, orangnya dipindahkan kebagian lain secara paksa, kalau tidak berseda resign lah pilihannya. Kalau memang berkurangnya orang bisa membantu kondisi perusahaan saat ini, sayangnya alasan-alasan itu tidak pernah dipaparkan secara transparan dan jelas kepada kami. Apalagi penjelasan basis data. Itu sebabnya, tanpa alasan dan penjelasan rasional. Kami merasa diperlakukan seperti romusha.

“Jangan-jangan bu. Kita kan lagi di Dzalimi” kata staff ku serius sambil matanya melotot. Padahal aku cuma bercanda

Aku malah tertawa. Melihat ekspresinya yang menanggapi serius. Pertanyaan selanjutnya mungkin adalah kenapa kami merasa didzalimi. Dzalim sebetulnya tidak selalu indentik dengan hal yang sifatnya keji dan mengarah pada penderitaan. Mengacu pada konsep dalam Islam, Dzalim itu berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Misalnya sampah dibuang secara sembarangan tidak pada tempatnya. Maka itu sudah Dzalim. Di kantor ini ? tentu banyak yang ditempatkan bukan pada tempatnya. Misalnya lembur tanpa uang lembur yang semestinya, tanggal merah pada kalender bisa jadi tanggal hitam tanpa bayaran lembur yang seharusnya, hasil rekrutmen kurang disarankan tapi tetap saja dipaksakan, dan seperti misalnya yang aku dan tim ku hadapi, masalah fungsi dan tanggung jawab yang sudah tidak pada tempat dan porsi kami.

Masih banyak hal mengenai Dzalim di kantor ini sebetulnya. Tapi bagiku yang paling menarik dari sekian banyak adalah ketika menempatkan kenyataan sebagai bukan kenyataan. Misalnya saja ketika aku membuat kuesioner karyawan dan melaporkannya, yang merupakan persentase terbesar dari motivasi karyawan adalah gaji, bonus dan insentif (berkaitan dengan imbalan dan hampir semua mengatakan alasannya untuk menafkahi keluarga). Aku rasa ini jawaban lazim. Kemudian setelah dilaporkan, aku ditugaskan untuk membuat kuesioner lagi di bulan depan dengan pertanyaan yang sama mengenai motivasi kerja tapi ditambah keterangan dalam kurung (kecuali bonus, gaji dan insentif). Sia-sialah kerjaku dan upaya karyawan menyampaikan aspirasinya, karena tindakan korektif atau upaya mengobati akan dilakukan berdasarkan diagnosa yang diingingkan, bukan diagnosa sesungguhnya. Tapi karyawan ada yang begiu jujurnya, di kuesioner kedua itu dia menjawab, “TIDAK MUNAFIK, TETAP GAJI, BONUS DAN INSENTIF.” Aku tersenyum waktu membaca dan merekapnya. Pemilihan kata yang menarik “munafik”. Pikir ku benar juga apa katanya, kita dipaksa kerja dengan membohongi hati sendiri, buka didorong bekerja dengan hati. Ya memangnya kenapa kalau kita kerja untuk mejemput rejeki untuk nafkah keluarga, tidak ada yang salah sepanjang niatnya baik dan prosesnya halal. Kenapa jadi harus dipaksa dengan menggunakan alasan lain.

“iya loh bu.. bener deh. Sekarang coba pikir. Berapa banyak orang yang di dzalimi di perusahan ini. Ratusan. Berapa banyak yang berdoa ? tidak hanya kayawan tapi juga keluarga karyawan. Artinya, doa-doa kita bisa saja diijabah”

Aku masih tertawa kecil. “doa itu pasti dikabulkan kok, hanya saja ada 3 kondisi, dikabulkan sesuai keinginan, ditunda, atau digantikan dengan yang terbaik menurut Allah. Nah, mekanismenya ketika sedang di dzalimi, kita berada titik 0, tidak ada nafsu, ego pun terkikis, disitulah tidak ada penghalang antara kita dan Allah, maka doa akan lebih mudah untuk dikabulkan”

“iya berarti tinggal tunggu waktu aja kan.. memang bu, saat ini posisi kita semua sedang dibawah. Tapi pasti ada waktunya kok kondisi akan berbalik kalau Allah berkehendak”

“iya.. sudah tertuang di Al-Imran ayat 26” jawab ku singkat

Staff ku hanya menaikan alisnya, dengan maksud bertanya apa isi ayatnya.

“Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki” Jawab ku

“coba kalau kita ingat nasib Fajar saat ini. Sekarang dia udah berada di tempat yang lebih baik dari kita. Tentu perlu proses dan waktu untuk bisa kesana, tapi kalau sudah waktunya ya. Sampai juga di tempat lebih baik” staff ku bercerita, mengngatkan soal nasib Supervisor GA

Dulu dalam tim ku ada supervisor GA, karena posisi itu akan dihapuskan, maka ia diminta mengundurkan diri kalau tidak mau mengambil posisi yang ditwarkan perusahaan. Tentu saja prosedur dan ketentuan PHK yang dilakukan terhadap dirinya tidak sesuai jalannya UU Ketenagakerjaan. Suatu hari aku bingung kedapatan WA dari GM menanyakan apakah surat resign Fajar sudah masuk atau belum. Untung aku cukup dekat dan sering ngobrol dengannya, jadi aku langsung saja tanyakan ada apa. Kebayang kalau aku tidak dekat, masa tiba-tiba menagih surat resign seperti mengusir. Fajar sempat menganggur beberapa bulan kemudian sekarang mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik.

“iya.. Man Shabara Zhafira” jawab ku singkat lagi, kali ini sambil tersenyum

“apa itu bu ?”

“Syair Arab. Siapa yang sabar, dian akan beruntung”

Terdiam sejenak.

“Tanpa disadari yang kita lakukan saat ini adalah bersabar. Kita tidak pasif atau sekedar pasrah. Kita tetap aktif menjalani tugas-tugas sembari aktif mencari solusi kita masing-masing. Ya mungkin dengan membuka pintu berhijrah atau shafa marwa mencari air zam-zam. Sembari menunggu, kita juga aktif bertahan. Mudah-mudahan, siapapun yang bisa hijrah dari tempat ini lebih dulu, mudah-mudahan itu yang terbaik untuk kita” kata ku meneruskan obrolan

Tapi sayang, sebelum sempat obrolan ini berlanjut. Pak De menghampiri ku, memintanya ikut ke ruangan lain untuk bicara. Pak De hanya sapaan akrab, seperti panggilan kami kepada Babeh. Pak De adalah salah satu Dept. Head yang bertahan hingga saat ini setelah 2 Dept.Head resign di awal tahun ini.

Selama di ruangan, Pak De bercerita panjang lebar. Aku hanya bisa diam dan mengangguk sebagai tanda kalau aku mendengarkan. Dari bahasa tubuhnya, Pak De hanya ingin didengarkan saja. Pak De memang sering curhat ke HRD soal uneg-unegnya. Tapi baru kali ini, hati ku sama sedihnya seperti yang Pak De rasakan dari ungkapkan secara tersirat bahasa tubuh dan intonasi bicaranya. Sedihnya hingga sampai terasa di hati ku juga. Aku juga tidak tega Pak De diperlakukan seperti itu dan aku juga mengerti posisi Pak De. Apalagi aku selalu ikut meeting manajemen mewakili departemen HRD dan menyaksikan bagaimana Pak De dibantai padahal kondisi lapangan yang tidak mendukung. Seperti biasa, kenyataan tidak ditempatkan sebagai kenyataan. Pucuk pimpinan tutup mata, tidak mau tahu bahwa untuk mencapai tujuan kita perlu waktu, perlu perbekalan, dan perlu petunjuk arah. Pak De juga tidak setuju berat soal karyawan di departemennya akan dipekerjakan dari jam 7 pagi sampai 6 sore tanpa uang lembur yang layak. Kalau kondisi seperti ini terus, Pak De memutuskan untuk hijrah. Tidak segan ia meninggalkan tempat ini. Meski aku belum bisa pastikan, itu sudah niat seperti aku atau masih keputusan emosi sesaat saja.

Aku keluar ruangan, maksud hati mau menikmati kopi ku yang mungkin sudah semakin dingin. Babeh melambai dari jauh, dari kursi dan meja kerjanya. Dalam hatiku, saking aja lebih tua, padahal aku mau menikmati kopi. Aku hampiri dia.

“Kenapa beh ? kusut amat mukanya”

“saya tuh udah bingung. Ngasih tahunya harus gimana coba. Masa data mau dimanipulasi. Nanti kalau ketahuan pihak eksternal kan kita kena denda. Duh...” babeh bercerita sembari wajahnya menunjukan lelah batin

Tidak untuk pertama kalinya Babeh mengalami ini. Jujur aku pun bosan mendengarnya.
“Yasudah beh. Sabar aja. Ya harus bagaimana lagi ?” kata ku sambil tersenyum

Ada senyuman di wajah Babeh meski terlihat berat

“Allah beserta orang yang sabar” kataku sambil meningalkan babeh.

Bukan aku tidak empati. Tapi semua orang disini mulai mengeluhkan hal yang itu-itu lagi. Kalau masih mau tinggal disini ya jangan mengeluh, hadapi. Kalau mau hijrah, ya bergerak. Hanya dua itu pilihannya. Sebab, memang begitulah hidup. Sabar menerima takdir sambil bergerak menju takdir yang lebih baik.

Kembali lagi aku ke meja kerjaku. Aaah.. Alhamdulillah.. akhirnya aku bisa menikmati kopi, masih hangat. Ternyata, untuk menikmati secangkir kopi saja butuh kesabaran, tapi beruntunglah aku tidak hanya kopi yang bisa dinikmati. Ada gorengan datang traktiran dari petinggi untuk satu ruangan. Ternyata menikmati kopinya ditunda agar lebih nikmat ketika gorengan juga tiba.

Bandung, 27 Maret 2017
Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Irsa Ikramina

Saturday, February 18, 2017

Tuhan di hati ku, maka aku ada


Begitu banyak pilihan dalam hidup ini. Manusia punya kebebasan memilih. Pilihlah ! toh, tidak memilih, juga sebetulnya sudah memilih. Aku pun begitu. Memilih ini dan itu, tentu dengan melibatkan Tuhan di setiap pilihan, karena Tuhan-lah Yang Maha Mengetahui.

Kenyataannya, ketika manusia dihadapkan pada kejadian menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Manusia ternyata berada pada posisi harus memilih. Ya, setidaknya aku melihatnya seperti itu. Memilih respon dari kejadian tersebut, mau direspon dengan mendekat kepada Tuhan atau menjauh dari Tuhan. Sesederhana itu ternyata makna dari setiap rangkaian kejadian yang dihadapi manusia. Tapi, proses menjalaninya memang tidak semudah mengatakannya.

Butuh sabar, ikhlas, syukur, dll. Kalau hidup ini ibarat ujian. Maka itulah kisi-kisi ujiannya. Setiap orang dapat menghadapi persoalan yang berbeda, seperti ujian sekolah. Ada pilihan ganda, essay, isian, praktik dll. Tapi kisi pastilah sama. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menghadapi ujiannya. Cara belajar setiap orang pun berbeda-beda. Ada yang suka belajar di waktu subuh, ada yang hanya mengandalkan mendengarkan dosen di kelas, ada yang selalu berusaha memahami materi, dll. Tentu dalam menghadapi ujian hidup, cara belajar ini harus ditemukan sendiri, tidak bisa mengikuti cara orang lain. Akan tersiksa apabila memaksakan cara belajar orang lain pada diri sendiri. Cara belajarku, aku meyakini bahwa selalu ada pesan yang ingin disampaikan Tuhan dari setiap kejadian, itu lah yang selalu aku cari tahu. Tuhan ingin sampaikan apa kepada ku ? jawaban yang aku temukan bisa saja salah, sama seperti ujian, lalu kemudian tidak lulus. Itu sebabnya ini memang perkara tidak mudah. Tapi memang harus dilalui. Sedikit saja melibatkan nafsu, jawaban yang ditemukan bisa saja malah menjerumuskan.

Semakin banyak lulus ujian, semakin tinggi kelas atau tingkat kesulitan ujiannya. Pilihannya mau semakin dekat atau semakin menjauh dari Tuhan. Terus seperti itu siklusnya. Hingga ada suatu titik dimana, kemana pun aku melangkah, aku bertemu Tuhan. Dengan siapapun aku bertemu, Tuhan sedang berbicara pada ku melalui makhluk-Nya. Kejadian pahit atau manis yang dihadapi, keduanya dipandang baik. Tuhan selalu hadir dalam setiap nafas, setiap jengkal dalam hidup ini. Jadi Tuhan ada dimana ?

Tuhan memang selalu hadir, tapi sayang manusia tidak selalu menyadari hal ini. Itu sebabnya ada proses-proses ujian yang harus dihadapi. Melelahkan memang, baru ujian yang sebelumnya terlalui, sudah muncul lagi dst. Agar hati ini terlatih, untuk tidak meletakan apapun di hati selain Tuhan. Proses untuk berada pada titik zero, kosong atau fitrah. Pada titik inilah, tidak ada penghalang lagi antara aku dan Tuhan.

Itu sebabnya Tuhan lebih tertarik merubah apa yang ada “di dalam”, sedangkan manusia sibuk merubah apa yang ada “di luar”

Pada akhirnya, eksistensi ini adalah aku dan Tuhan. Tuhan di hati ku, maka aku ada.

Bandung, 18 Februari 2017
Dari aku, duniaku dan penghayatanku



Monday, January 23, 2017

Ikhlas

My name is Barry Allen and I'm the fastest man alive. When I was a child, I saw my mother killed by something impossible. My father went to prison for her murder. Then an accident made me the impossible. To the outside world, I'm just an ordinary forensic scientist, but secretly with the help of my friends I use my speed to fight crime and find others like me, and one day I'll find who killed my mother and get justice for my father. I am The Flash.


“Loh, siapa nih yang suka nonton film kesukaan ku?” , tanya ku dalam hati sambil mencari sumber suara opening film Flash itu.

Ku temukan babeh. Sedang menatap layar laptop dengan serius. Tenyata dia pelakunya. Babeh, merupakan sapaan orang-orang kantor kepada dirinya, tepatnya kami orang-orang HRD. Lantaran jauh generasinya dibanding kami yang lahir tahun 80 dan 90an. Ia angkatan 70an, tapi tetap saja kami berinteraksi dengan baik, tentu juga bekerjasama dan berkoordinasi dengan baik dalam hal kerja. Satu hal lagi, meski aku dan babeh selevel, tapi aku sangat mempertuakan usia dan pengalamannya.

“huiihhh, suka nonton Flash juga beh ? bahagianya aku ada teman yang suka nonton film yang sama. Aku ngikutin loh dari season pertama”

“iyaa, nu eta kan yang Reverse Flash nya ?” sambil nunjuk ke layar laptop

Aku tambah senang. Babeh tau detailnya. Aku putuskan ambil kursi terdekat dan duduk untuk ikut nonton juga. Biarlah cuma sebentar meski ini jam kerja daripada memusingkan serah terima jabatan yang meluap dari porsinya, karena ini bukan serah terima sebagai pejabat sementara, bisa jadi selamanya. Sudah ketok palu bahwa tidak akan ada penggantinya. Hingga kiamat kecuali Tuhan mengetuk hati boss-besar yang kita tidak ada yang tahu kapan waktunya.

“iya beeeh. Terus asik banget ya dengan kecepatannya dia bisa kembali ke masa lalu dan merubah sesuatu”

“ah, tapi kan tetap saja. Tidak akan bisa merubah apa-apa yang sudah ditakdirkan. Misalnya kematian” sanggah babeh

“iya beh. Itu kalau pakai konsep Islam. Ada takdir yang bisa dirubah dan tidak bisa dirubah. Ini kan film. Di Season 3 kan si Flash coba merubah takdir supaya kedua orangtuanya gak meninggal pada saat dia masih kecil itu loh. Kalau gitu sih keenakan ya ? ” Aku menoleh ke Babeh

Babeh hanya mengangguk. Menatap layar laptop. Tapi aku tahu pikirannya mengembara.

“Tadi saya dikasih pilihan sama boss-besar” kata babeh tiba-tiba melenceng dari topik

“Jadi gimana beh ?” aku tanya langsung meski ada perasaan enggan tahu karena semuanya terasa berat untuk saat ini. Namun apa yang ia ceritakan ini secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi apa yang akan aku hadapi. Jadi aku harus tau. Aku harus hadapi.

“saya kan ditawari posisi di bisnis unit lain yang masih 0 itu loh, yang dana tunai”

“terus babeh jawab apa ?” tanya ku penasaran

“ya saya bilang, bahwa di Al-Quran sudah jelas Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Kemudian, kerja dimanapun saya paling menghindari pekerjaan yang mengurus uang, karena  biang fitnahnya jauh lebih besar. Saya minta waktu untuk istikharah dulu”

“oohh begitu ya. Jadi nasib ku juga akan bergantung dengan hasil istikharah babeh nanti ?”

“ya kira-kira begitu” babeh mengangguk

Aku menghela nafas. Kalau Babeh menerima tawaran itu, aku tidak saja menerima serah terima pekerjaan dari boss-langsung yang resign, tapi juga pekerjaan dari babeh yang juga sumbernya dari serah terima boss-langsung itu. Dengan kata lain, babeh meninggalkan ku. Sendiri. Dengan tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, ah, ya kecuali tentang fungsi HR.

“tadi jawaban babeh ke boss besar menunjukan babeh berkeberatan dengan pilihan menerima tawaran posisi itu. Lantas kalau hasil istikharah babeh adalah mengambil posisi itu bagaimana ?”

“ya dijalani aja. Kan seperti hidup sufi. Hanya menjalankan perintah” jawab babeh enteng

“lah, serius beh ? nggak ada perasaan gak nyaman atau gak terima gitu ?”

“kalau kaya gitu, berarti pake nafsu”

Aku diam. Ada hening sejenak. Terdengar suara Lift Gudang Unit Sepeda Motor yang sedang turun.

“jadi kita harus ridha ya beh, sama apapun ketetapan Allah. Ikhlas”

“betul. Dosa terbesar itu bisa jadi kalau kita mengeluh atas ketetapan-Nya. Harus yakin kalau pasti ada hikmahnya. Kalau memang saya harus jadi di unit bisnis baru itu, saya yakin ada sesuatu, hikmah”

“termasuk kalau ada orang yang menyakiti hati kita juga beh ?” tanya ku melenceng. Sebab hati tidak pernah bisa bohong. Selalu perlu memahami atas apa yang sedang dirasakan

“yaiya dong, kan mereka menyakiti hati kita juga atas izin Allah”

“aku kemarin dengar ceramah Aa Gym beh, katanya kalau ada orang yang menyakiti hati kita, berarti kita pernah melakukan hal itu juga kepada orang lain. Jadi ya solusinya taubat”

“ya itu benar, tapi biar saya lengkapi. Kamu tahu ? bahwa setiap orang yang ada disekitar kita atau yang dipertemukan kita itu adalah cerminan kita”

“maksudnya beh ?” tanyaku dengan mengerutkan dahi maksimal sembari berpikir karena sangat tidak mengerti dengan jawabannya

“iya, cerminan kita” jawab babeh singkat seperti malas menjelaskan
“duh nggak ngerti deh” kata ku kesal dan menyerah

“jadi begini, sebetulnya, kita juga memiliki sifat baik maupun buruk dari orang sekitar kita. Apabila orang tersebut mengimplementasikan sifat-sifat baiknya, ya sebetulnya kita juga memiliki sifat baik itu. Tapi kalau ada orang yang berlaku buruk kepada kita. Sebetulnya kita juga memiliki sifat buruk itu. Tapi karena Allah sayang sama kita. Makanya sifat itu dimunculkan kepada kita, agar sifat itu tidak muncul pada diri kita. Ya tapi bisa juga kok, hal itu terjadi karena kita pernah berbuat buruk kepada orang lain”

“ohhh supaya kita tidak berlaku seperti orang yang berlaku buruk itu ya beh ?” tanya ku memastikan pemahaman dengan nada sedikit meninggi karena bahagia. Ah, aku mengerti sekarang.

 “makasi ya beh. Besok-besok mau belajar tasawuf lagi dari babeh. Babeh hari ini telah menjadi syareat pengantar jawaban atas pertanyaan ku.”

“oohh iya Alhamdulillah atuh

Secara tidak sengaja adegan terimakasih itu disaksikan staff ku yang sedang lewat. Lalu dia mengejek babeh.

“Jemaaahh oohhh Jemaaaahh.. Alhamdu lillaaah....”

Babeh yang sambil bersiap pulang sedang menggunakan jaket dan syal. Kontan melempar syalnya seperti ustadz yang di TV setelah menyapa jemaah.


******

Hari ini Sabtu. Aku berusaha bangun pagi, karena ada janji. Tidak lupa aku membawa dua buah buku yang aku ambil dari rak buku ku. Sengaja sudah dipisahkan dari beberapa hari yang lalu agar tidak buru-buru mencarinya.

Sampailah aku pukul 09.30 di depan rumah seseorang. Tentu karena sudah familiar aku langsung buka sendiri saja pagarnya. Lalu ada yang menyapa ku dari balkon lantai atas rumah tersebut.

“Hei !”            
        
Aku melihat ke atas, tersenyum kepada kak Barlian.

Motor sudah masuk dan pada saat aku akan menutup pagar,

“Udaaah.. nggak apa-apa. Nggak sudah ditutup”

“Nggak apa-apa. Kan motor ku biar aman juga. Hahaha” jawab ku bercanda tapi niatnya lurus adanya

Aku berjabat tangan dengannya.

“sudah lama sekali ya kita nggak ketemu” kata ku sambil jalan bersama masuk ke ruangan mengajar. Tidak ada ruang tamu karena rumah ini lantai bawahnya adalah tempat les MAFIKI SD-SMP-SMA. Jadi kami duduk di meja dan kursi belajar mengajar. Aku menyempatkan diri melihat keseluruh ruangan. Masih sama seperti dulu. Hampir tidak ada yang berubah. Letak Salib di dinding, letak lukisan yang aku pikir dari dulu itu adalah Yesus bagi pemilik rumah, letak papan tulis, letak meja dan kursi. Ah, masih sama seperti ketika aku mengajar disini 3 tahun lalu. Sebetulnya ini bukan rumahnya, tapi rumah kakak Iparnya. Aku belum tahu juga kenapa Kak Barlian jadi tinggal disini.

“Oh iya, ini bukunya Kak. Maaf ya kembalikannya jadi lama” sambil aku keluarkan 2 buah buku dari tas ku.

“Nggak apa-apa. Nggak dibaca juga kok. Gimana Training nya ?”

“Ya begitu lah, feedback dari trainee sih sejauh ini positif” jawab ku singkat sedang tidak mau bahas urusan kantor padahal maksud Kak Barlian baik, memastikan apa buku yang dipinjamkannya membantu dalam menyusun materi Training Komunikasi

“Hei kak Santi !” Aku menyapa istri kak Barlian yang berjalan menuju dapur

“Hei sa ! udah lama ya nggak ketemu”

Setelah selesai menyapa aku kembali duduk

So, How is Work ?” tanya kak Barlian

Sebelum menjawab, aku sejenak menahan nafas, berpikir berat. Ini pertanyaan yang tidak terlalu menarik untuk dijawab saat ini.

“Ah ya, perusahaan start-up masih banyak perubahan, masih banyak yang harus dimaklumi. Well, setiap perusahaan pasti ada yang membuat kita nyaman dan tidaknya. Tinggal seberapa besar ambang toleransi kita saja untuk menghadapinya”
“jadi, masih bisa bertoleransi ?”

“hehehe. Honestly aku sedang mencari pekerjaan lagi di tempat lain. Tapi ini bukan karena  ambang toleransi. Ini karena inflasi kak. Aku kewalahan mengejar inflasi. Kenaikan harga bahan pokok jauh lebih pesat daripada kenaikan gaji. Tapi ini masih proses kak, belum menemukan. Namun ada perubahan kondisi mendadak”

“Perubahan kondisi itu memang bisa mendadak, di luar kuasa, kontrol dan rencana kita sebagai manusia. Tapi jangan takut, itu Tuhan yang mengatur. Tuhan ingin kita berpegang kepada Dia. Ini yang aku alami. Episode yang menakutkan memang kalau seperti ini. Tapi kalau kita sudah menerima. Ternyata banyak berkat”

Kak Barlian melanjutkan cerita
“Hal itu lah yang aku alami kenapa jadi pindah ke rumah ini. Hal yang tidak pernah diduga. Kak Anto, kakak ipar ku mendadak pindah ke Surabaya karena mertuanya sakit dan butuh orang yang meneruskan usahanya di sana. Jadilah, tempat les ini jadi aku dan istri yang menjalani, karena banyak menghabiskan waktu di sini. Kami memutuskan tinggal di sini. Rumah ku aku kontrakan saja. Tentu saja pada awalnya banyak hal yang melelahkan dan ku keluhkan. Tidak hanya soal tempat tinggal, tapi juga waktu. Aku berkorban melepaskan salah satu pekerjaan ku untuk bantu istri mengajar disini. Tapi ternyata ada banyak berkat yang aku rasakan dan aku sangat bersyukur karena itu”

“Nampaknya refleksi kita tahun ini sama kak. Different story but same meaning” kataku sambil mengangguk dan tersenyum.

“Really? So how is your story ?“
****
“Bu, maaf sebelumnya kira-kira kenaikan gaji di tahun depan berapa persen ya ?”

“Kurang lebih (Sekian) persen sa. Ada apa ?”

“Sejujurnya, aku mengalami kesulitan. Aku tidak bilang gajiku kecil karena itu sangat relatif. Tapi tentu saja, kebutuhan dan tuntutan setiap orang berbeda. Andai saja aku seseorang yang tinggal di rumah orang tua dan gaji ku hanya untuk ongkos ke kantor dan makan siang di kantor. Pastilah gajiku jadi sangat besar. Akan tetapi dengan tuntutan ku sebagai pencari nafkah bagi keluarga, dengan skala rumah tangga yang aku pikirkan. Belum lagi soal inflasi yang tidak dapat terkejar lagi.”

Boss menghela nafas. Sejenak hening.

“Kamu tidak mau cari di tempat lain saja ?”

“Izin nya repot bu. Tidak semudah itu meninggalkan pekerjaan disini”

“yasudah,  nggak apa-apa nanti saya yang handle pekerjaan dan berikan kamu izin kalau ada panggilan kerja”

“wah serius bu ?”

“iya, kamu cari aja pekerjaan yang jauh lebih baik di luar sana. Aku bantu”

“Baiklah kalau gitu ! aku akan mencari mata air ” jawab ku senang.

Seperti ada secercah harapan untuk bisa keluar dari situasi ini. Bukankah Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum kalau bukan kaum itu sendiri yang berusaha mengubahnya ? maka kesempatan ini akan aku gunakan sebaik-baiknya untuk merubah nasib. Aku akan mulai perjalanan shafa marwa ku sampai mencari mata air zam-zam.

Pencarian pun dimulai.  Hingga ada salah satu perusahaan besar yang mengundang aku untuk psikotest dan aku pun meminta izin kepada boss via Whatsapp (selanjutnya disebut WA) untuk bisa meninggalkan pekerjaan.

“Bu, besok aku mau izin untuk masuk siang. Tapi jam 12 siang juga sudah sampai di kantor kok. Ini ada undangan psikotes hanya sampai jam 11 saja”

“Oh yasudah, sampai seharian juga nggak apa-apa kok”

“yah, kan cuma 4 jam bu diudangannya tertera buat apa juga aku menghabiskan waktu seharian”

“eh, sa. Aku mau menghubungi teman ku yang waktu itu mau mengajak aku kerja di Rumah Sakit”

Dalam hati ku, “eh kok jadi ikutan?”

“ya... terserah ibu saja gimana baiknya” aku menjawab sembari bingung

Waktu pun terus berjalan, ia proses, aku pun proses. Tentu saja lebih heboh aku karena aku tidak melalui jalur referensi dan tentu lebih dari satu yang aku apply,  juga tidak menutup lokasi tes di Jakarta. Segala ikhtiar dikerahkan. Sedangkan boss ku, meski tetap prosedural itu adalah jalur referensi. Ia juga sudah mengikuti beberapa tahap sebelumnya 2 tahun lalu. Jadi sebetulnya ia adalah kandidat yang memang dinanti. Sedangkan aku ? ya bukan siapa-siapa. Kalau sesuai requirement dan memang rejeki ya lolos, kalau tidak sesuai dan bukan rejeki ya gagal.

“eh sa mending aku dulu atau kamu dulu ya yang resign ?” katanya santai sambil kita menyantap nasi uduk dekat kantor sepulang kerja

“tentu saja aku dong !” jawab ku reaktif

“kenapa ?” tanyanya tanpa menoleh kepadaku karena sibuk dengan lele di piringnya

“tentu saja, aku sudah memprediksi kemungkinan-kemugkinan yang akan muncul dari suatu situasi. Kalau ibu resign duluan maka ada beberapa kemungkinan situasi yang muncul. Pertama, diantara aku dan babeh akan ada yang ‘dipaksakan’ naik jabatan untuk menggantikan tanpa dasar yang jelas. Hal ini dlakukan hanya untuk meningkatkan efisiensi. Lebih baik naikin dari internal dengan gaji juga hanya dinaikan tidak seberapa. Daripada rekrut eksternal dengan biaya lebih tinggi. Kedua, akan dicari penggantinya, rekrutmen eksternal. Ketiga, tidak akan ada penggantinya, fungsi manager akan dipecah tidak karuan. Sehingga tidak jelas siapa yang memerankan pengambilan keputusan dan penyusunan strategi di departemen HRD. Tentu saja hal tidak rasional ini dilakukan karena dasar profit dengan memangkas fixed cost

Tidak ada komentar dari boss. Nafsu makan ku mendadak saja hilang. Aku menyadari, hal terburuk dari semua ini adalah kemungkinan situasi yang ketiga. Belum lagi kesempatan ku untuk mencari mata air akan semakin sempit. Masa iya aku izin sama boss besar untuk mencari pekerjaan di tempat lain ? tentu saja kesempatan tidak akan seleluasa saat ini.
Makanan kami sudah habis, yang ada hanya lamunan tanpa pembicaraan. Aku merasa ada sesuatu yang harus ditanyakan kepadanya.

“Bu, kalau aku mulai bergerak mencari mata airnya jauh lebih awal, apa Ibu akan ikut menghubungi teman ibu pada saat itu juga?”

“ya kemungkinan begitu. Eh nggak tau lah sa. Emang kenapa ?”

“kenapa Ibu tidak menyadari untuk resign jauh sebelum atau jauh sesudah aku memulai perjalanan shafa dan marwa ini ?”

“ya nggak tahu juga ya. Pokoknya aku jadi kepikiran aja setelah kamu mulai bergerak”

“ya tapikan aku juga tidak akan bergerak kalau ibu tidak memberikan kesempatan bergerak. Lagian, aku tidak tahu berapa lama aku akan mendapat pekerjaan baru di luar sana. Akan selalu ada kemungkinan gagal kok. Cari kerjaan itukan tidak langsung dapat kalau bukan rejekinya”

“ya nggak tau lah !” katanya dengan nada bicara tidak enak dan menyudahi pembicaraan ini secara paksa.

Setelah pembicaraan singkat pada malam itu. Aku sadar aku berada pada posisi yang tidak mengenakan. Sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Hingga akhirnya hari itu semakin dekat, meski perasaan ku tidak nyaman berada dalam posisi ini. Tapi aku berusaha bersikap wajar. Seperti biasanya saja, makan siang bersama di luar. Dengan santainya boss cerita-cerita soal bagaimana tahap rekrutmen terakhirnya dan hanya tinggal menunggu hasil untuk bisa menerbitkan surat resign. Aku dengarkan saja apapun yang ia ceritakan.

“kok nggak ada komentar ?” tanyanya karena aku hanya senyum-senyum saja mendengar ceritanya.

“ya nggak apa-apa, kan menyimak” jawabku sambil tersenyum

“ada yang salah ?”

“tidak. Tapi boleh aku bertanya ?”

“apa ?”

“pada saat itu Ibu bilang mau bantu aku untuk menemukan mata air. Saat inikan kondisinya berbeda. Dengan kondisi saat ini, bagaimana ibu akan membantu ku ?”

Dia hanya diam. Cukup lama. Tidak bisa menjawab.

“kok diam ? tidak bisa jawab ?” gantian aku yang bertanya

Hari itu aku tidak dapat jawaban darinya. Tapi aku terbuka tentang apa yang aku rasakan.

“yasudah tidak apa-apa. Aku kan hanya bertanya, ya menagih kemana larinya ucapan ibu itu. Aku tidak marah atau membenci mu. Hanya sedih dan kecewa saja, sakit hati juga ada. Ya mungkin aku akan dianggap berlebihan dan terlalu perasa soal ini. Tapi itulah yang aku rasakan saat ini. Kok ya seperti merasa dibohongi dan ditinggalkan begitu saja ya ? Meski secara Habluminallah aku sadar betul rezeki itu sudah diatur sama Allah dan kalau sudah rejeki, tidak akan ada yang dapat menghalang-halangi. Aku hanya mempertanyakan ranah Habluminannas nya”

“Yasudah yuk, kita kembali ke kantor. Sudah jam segini”, ajak aku

Hari-hari aku jalani dengan tidak mudah. Selain harus bangkit dari harapan menemukan mata air yang kandas, setiap hari aku harus berkoordinasi dengan manusia yang membuat hati ini tidak bahagia. Belum lagi vonis sudah diputuskan, bahwa aku dan babeh akan dijatuhi pekerjaan dari jabatan boss-langsung. Tanpa ada penggantinya. dengan kata lain, prediksi ku mengenai kemungkinan ketiga lah yang terjadi.

Pada titik ini, aku menemukan bahwa, ternyata sedih itu bisa dikontrol tapi tidak bisa  hilang begitu saja.

Suatu saat, boss mengajak sarapan bersama di luar kantor. Seperti biasa, aku turuti saja. Meski kondisi hati ya begitulah adanya. Selama sarapan, tidak ada pembicaraan apapun. Ia malah sibuk menelpon temannya yang ada di Jakarta, menginformasikan bahwa dalam hitungan hari ia akan kerja di Bekasi. Aku diam saja, jadi kacang.

“ada yang ibu mau bicarakan mungkin ?”

“nggak ada. Emang kenapa ?”

“lazimnya orang ngajak makan karena mau ngobrol bareng atau ada yang ingin dibicarakan gitu bu”

“lazimnya ?” dia bertanya dengan nada dan raut muka yang tajam.

Aku diam.

“kenapa kamu ?  kecewa ?”

“nggak” Aku tertunduk lesu.

“aku cuma mau kamu nemenin doang kok. Tapi nggak harus ngobrol kan ?”

Sudah suasana hati sedang buruk, diperlakukan seperti ini malah semakin memperburuk saja. Tapi yasudahlah, maklum. Dua tahun jadi follower-nya sudah hapal betul sikapnya memperlakukan orang lain.

“oia, kamu bisa kapan buat acara makan-makan?” tanya nya

“aku ikut yang lain saja bu. Pokoknya kalau yang lain bisa, yasudah jadikan saja. Nggak perlu nunggu aku bisa ya” jawabku tidak minat sama sekali dengan suasana hati seperti ini
“maksud kamu ? kamu bisa jadi gak ikut ?!”

“ya, suasana hati ku sedang buruk sekali. Kan ibu tahu, aku sedang sedih dan kecewa. Berat bagi aku harus berpura-pura bahagia didepan yang lain seperti tidak ada apa-apa.”

Harapan ku jawabannya akan seperti manusia dewasa pada umumnya, “Yasudah saya minta maaf. Terserah kamu saja baiknya gimana. Nggak datang juga nggak apa-apa. Tapi kalau kamu datang saya akan merasa sangat senang”

Namun kenyataannya jawabannya adalah sebagai berikut, “kalau kamu nggak ikut, kalau gitu semuanya akan aku batalkan. Acaranya nggak usah jadi aja !”

Aku menghela nafas sementara hati semakin tenggelam dalam ketidaknyamanan. 

Hari itu saat memasuki siang, staff ku bertanya via WA, karena aku sedang ada urusan di luar, “Bu, semuanya bisa hari ini sepulang kerja untuk acara perpisahan boss. Ibu bisa kan ?”

Tentu saja pertanyaan ini tidak langsung aku jawab. Ada pergulatan batin yang cukup sengit. Ada 2 waktu shalat untuk aku bisa bicara dengan Tuhan. Zuhur dan Ashar.

Zuhur aku menyadari bahwa kenapa aku tidak ambil langkah memaafkan saja ? toh, sebetulnya dia sudah minta maaf via WA dan mengakui bahwa ia kurang perhitungan dalam mengambil keputusan ini dan juga minta maaf karena membuat aku bersedih. lagipula aku kan juga tidak mau membencinya. Aku percaya akan konsep islam tentang menjaga silaturrahim. Aku tidak akan membakar jembatan yang nantinya aku lewati lagi. Siapa tau, ada rejeki ilmu dan referensi pekerjaan di kemudian hari yang syareatnya adalah melalui dirinya. Selain itu, aku meyakini bahwa sebetulnya diri ku lah yang menjadi syareat untuk menyadarkannya bahwa ini adalah saatnya dia untuk resign. Lantas bagaimana dengan ku ? tentu nanti sudah ada waktunya tersendiri.

Ashar aku mempertanyakan bahwa sesungguhnya hidup ini apa yang aku cari ? bukankah rangkaian kejadian ini sudah atas izin Allah ? aku menitikan air mata. Ketika berdoa. apa yang aku cari dan inginkan dalam hidup ini sesungguhnya ? “ya sudah Ya Allah. Aku ikhlas.  Aku Ridho. apapun yang Engkau tetapkan untuk ku saat ini. Di dunia ini aku tidak ingin apa-apa lagi selain keridhoan-Mu, karena aku tidak tahu mana yang terbaik bagiku”

Kalau aku  memaafkan, ikhlas dan ridho atas ketetapan ini, maka aku tidak boleh setengah-setengah. Dengan hati yang lebih ringan aku bersiap juga mengikuti acara itu. Teman-teman yang lain sudah duluan. Aku cek dompet, apakah aku masih ada uang cash atau tidak. Aku menemukan secarik kertas yang aku simpan di dompet. Tulisannya adalah tulisan tanggan ku sendiri. Aku menulis dan menyimpannya di dompet sejak duduk di bangku kuliah semester 2.

Aku tidak peduli dalam keadaan apa aku menjalani hari-hari ku, dalam kondisi yang kusukai atau tidak kusukai. Karena aku tidak tahu mana yang lebih baik bagiku diantara keduanya. Karena aku hanya ingin ridho atas pengaturan Allah dan tenang atas pilihan dan ketentuan-Nya.
[Abu Bakar Ash – Shidiq ra]

****
That’s good, kamu mengambil langkah memaafkan” kata kak Barlian menanggapi cerita ku

“ya kak,ilmu ikhlas juga dan manusia sekitar kita adalah cerminan kita seperti yang disampaikan babeh di kantor. Memang sih kak, apa yang secara keliahatan dari luar belum ada perubahan apapun dari kejadian itu.  Aku belum pindah kerjaan juga. Tapi perubahan ku, hijrah ku ada di hati kak”

“ya memang sa, karena Tuhan lebih tertarik merubah apa yang ada di dalam, bukan di luar. Tapi manusia seringkali berusaha merubah apa yang di luar, sementara yang di dalam tidak pernah berubah”

“setuju kak. Dan aku sangat merasa berysukur sekali akan kejadian ini. Seperti yang kakak alami juga, ternyata malah banyak keberkahan dalam perjalanan batin”

“Tuhan itu tidak ingin kita berpegang pada dunia. Kalau berpegang sama dunia sih tidak apa juga. Tapi kita hanya pegang dunia. Buka Tuhan, bukan kehidupan kekal nanti. Padahal berpegang dengan Tuhan itu lebih aman”

“oohh ya, kalau bahasa ku, kalau mengejar dunia akan dapat dunia dan kalau mengejar akhirat akan dapat akhirat dan juga dunia. Juga, tidak boleh bergantung kepada selain Allah”

“Jadi, hidup mu akan berubah ?”

“ya ntahlah kak, aku jalani saja dulu. Di kantor ku situasinya tidak lazim”

Aku sedikit banyak cerita soal kondisi kantor dan manajemennya.

“itu perusahaan sakit sa ?” tanya kak Barlian yang aku pikir itu adalah opininya daripada pertanyaannya

“iya ya, kok aku baru sadar, saking udah mati rasa menjalani di dalamnya sebagai romusha. Hehehe” kata ku bercanda

“nggak apa-apa sa, nanti  akan ada waktunya kok kamu keluar dari sana. Tapi kamu tetap harus lakukan yang terbaik untuk menunggu saat itu. Kamu mungkin juga sudah tau kisah ini. Kisah Nabi Yusuf”

Aku menunjukan wajah menyimak dengan serius. Ingin dengar versi dari Kak Barlian.

“Pasti kamu juga sudah tahu kalau Nabi Yusuf itu dikagumi karena ketampanannya”

“ya kak”

“lalu dia diceburkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, diselamatkan kemudian diangkat menjadi budak atau anak angkat. Namun kemudian ia di fitnah lalu dimasukan ke penjara. Di penjara ia menafsirkan mimpi kedua temannya yang merupakan kepala bagian minuman dan makanan kerajaan. Salah satu temannya pun bebas dari pejara dan kembali ke kerajaan. Mungkin saat itu Yusuf bilang ketemennya itu. Ntar kalau lu udah keluar. Bantu gue keluar dari sini ya. Tapikan ternyata boro-boro temannya itu ingat. Hingga suatu saat Raja Mesir punya mimpi yang tidak satu orang pun bisa menafsirkannya. Akhirnya si temannya itu ingat sama Yusuf. setelah sekian lama Yusuf keluar dari penjara. Mungkin kalau kita bayangin, Yusuf ayo bebersih, mandi, kamu keluar sekarang. Ya itu lah yang aku bilang tadi. Sudah waktunya. Disitulah hidupnya mulai berubah, ia menafsirkan mimpi Raja Mesir kan bahwa akan terjadi 7 tahun masa subur dan 7 tahun masa paceklik. Keluarganya kan ada di Palestina, pergilah saudara-saudaranya kesana untuk menukarkan emas dengan bahan makanan. Ternyata mereka bertemu. Saudara-saudaranya saat itu tidak menyadari bahwa Menteri Ekonomi Kerajaan Mesir yang mereka hadapi adalah Yusuf. Finally, mereka berkumpul lagi, Nabi Yaqub juga dibawa ke kerajaan. So, kalau Yusuf tidak menghadapi serangkaian kejadian diceburkan ke sumur, difitnah, masuk penjara, ia tidak akan dapat menyelamatkan dan berkumpul dengan keluarganya pada akhirnya.”

Aku terdiam.

“Jadi sa, percayalah bahwa kejadian apapun yang kamu hadapi saat ini. Sepahit apapun. Itu pasti ada manfaatnya di kemudian hari. Serangkaian kejadian yang kamu hadapi saat ini akan membuahkan berkat di kemudian hari. Pertanyaannya are you ready to face it ?”




 Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 23 Januari 2017
Irsa Ikramina