aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Friday, December 30, 2011

aku dan rahasiaku


           RAHASIA, itu adalah kata yang harus tertera di pojok kanan laporan psikologi. Begitu dilindunginya identitas dan kehidupan seseorang di psikologi. Maka aku yakin setiap orang memiliki rahasia. Sebenarnya aku sendiri tidak mengetahui secara pasti apa definisi dari rahasia. Mungkin, rahasia menjadi subjektif dalam pengertiannya. Karena ada hal serupa yang bagi sebagian orang itu tidak ingin diketahui orang lain , tapi bagi sebagian orang yang lain itu sah-sah saja apabila diketahui orang lain.
            Rahasia adalah sesuatu yang hanya diri sendiri yang mengetahui dan diketahui beberapa orang terpilih yang kita percaya. Rahasia bisa berupa kisah perjalanan kehidupan (live event), penghayatan seseorang terhadap kehidupan, identitas, apa yang kita rasakan dan apa yang kita pikirkan. Siapapun bisa mengetahui rahasia yang kita miliki. Sahabat, pacar, keluarga, psikolog, atau siapapun yang kita kenal.
            Bagiku, kaitan antara rahasia dan orang yang dipercaya memiliki dimensi yang berbeda-beda. Rahasia bisa mengandung unsur kognisi, afeksi, dan emosi. Tentu aku tidak akan menceritakan semua hal ini kepada hanya satu orang. Biasanya aku akan melihat kepribadian mereka sebagai pertimbangan dimensi rahasia yang aku percayakan kepada mereka. Teman yang sangat realistis, mungkin cocok dengan rahasia dimensi kognisi. Teman yang hangat, cocok dengan rahasia dimensi afeksi. Teman yang selalu mendengarkan, cocok dengan dimensi emosi. Oleh sebab itu, orang-orang terdekat yang aku percaya akan memiliki porsi dan tingkat kedetailan cerita yang berbeda yang mereka ketahui tentang aku.
            Aku bersyukur, Tuhan menyertakan aku dengan orang-orang yang dapat aku percaya. Tapi tentu saja ini semua tidak berjalan dengan mulus. Entah apa aku yang salah mempercayai orang atau karena memang begitulah seharusnya, ada dari mereka yang tiba-tiba saja sudah tidak bisa aku jadikan tempat menceritakan segala rahasiaku. Aku sadar aku tidak dapat memaksakan siapapun meski aku begitu nyaman untuk menyimpan segala rahasiaku padanya. Mungkin aku juga salah, aku tidak melibatkan Tuhan dalam hal ini. Seharusnya aku mintakan kepada-Nya siapa-siapa yang Ia kehendaki menjadi orang yang menyertaiku dan aku tidak membukakan secara gegabah apa yang sudah Tuhan tutupi untukku. Aku hanya bisa berdoa, rahasiaku tetap terjaga. Aku percaya padanya. Ia akan menyimpan rahasiaku baik-baik. aku juga selalu berdoa kepada Tuhan, agar tidak dibukakan apa-apa yang seharusnya ditutupi.  
Rahasia adalah bagian dari kehidupan. Tanpa rahasia, tidak akan ada orang yang bisa aku percaya. Rahasia adalah yang membedakan siapa aku sebenarnya dihadapan orang-orang yang aku percaya dan siapa aku dihadapan orang-orang umum.

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 30122011
Irsa Ikramina

Thursday, December 29, 2011

Aku, empati, dan disalahpahami


           Kemarin siang, pada saat mata kuliah dinamika kepribadian. Teman yang mendapat giliran presentasi menjelaskan anamnesa dari seseorang yang begitu rumit mengenai latar belakang keluarganya. Kedua orang tua Subjek berpisah sejak S masih duduk di bangku kelas 2 SD. Kedua orang tuanya pun masing-masing menikah lagi dan menghasilkan saudara tiri bagi S. Ibu kandung S meninggal saat melahirkan saudara tiri S, sehingga S tinggal bersama ayah kandung dan ibu tirinya. Menurut data anamnesa dari teman yang presentasi. Ketika SMA, S mencari jati dirinya, karena S merasa berbeda dengan yang lain...
            Dosen menegaskan bahwa seharusnya ditanyakan lagi mengenai jati diri yang seperti apa? Bukankah memang itu merupakan tugas perkembangan remaja. Apa penghayatannya sehingga ia harus merasa berbeda? Teman-teman ku yang presentasi di depan terdiam, karena memang itu berarti data yang mereka gali belum mendalam. Kelaspun hening sejenak. Aku berkata pada diriku sendiri..
“aku bisa, aku bisa menjawabnya atas nama siubjek! S merasa berbeda karena life event non-normatif yang telah ia lalui. Tapi bukan merasa berbeda karena kepribadiannya. Life event membuat seseorang mendalami penghayatan-penghayatan dalam hiudpnya. Maka apabila life event itu non-normatif, dimana tidak semua orang yang mengalami. Maka itu akan membuat penghayatan seseorang mengenai dirinya, kehidupannya, dan cara pandang dalam melihat kehidupan akan berbeda”
            Seandainya saja, aku mengenal S. Akan aku katakan bahwa aku sangat memahami apa yang ia hayati karena hal-hal yang seperti ini begitu sensitif untuk menjadi merasa disalahpahami. Aku betul-betul tidak mengerti dengan empati yang dituntut. Artinya, kehidupan di psikologi menuntut kita untuk memiliki empati yang tinggi pada orang lain. Lalu apa ini benar-benar efektif? Aneh. Yah, mungkin empati itu sendiri memiliki taraf. Ada suatu lapisan empati yang tidak dapat ditembus oleh orang-orang yang tidak mengalaminya. Tidak harus orang psikologi, orang akan dapat benar-benar merasakan apa yang dirasakan orang lain dan berada di sudut pandang orang tersebut jika memang ia juga pernah mengalami hal tersebut. Bagiku, ini adalah empati yang paling dalam.
            Aku bisa memahami S, karena aku juga melalui life event non-normatif, aku juga merasa berbeda karena aku juga disalahpahami, aku juga mencari jati diri seperti yang S maksud karena aku juga mengalami. Aku terkadang bisa sangat memahami orang lain, bukan karena teori-teori psikologi, bukan karena cara kerja dengan konsep teori ku begitu tinggi di PAPI, tapi karena aku juga mengalami apa yang mereka alami..
            Mungkin aku memang bukan Carl Rogers yang begitu menempatkan klien setara dengan konselor, mengedepankan empati, non-directive, unconditional positive regard. Aku hanya irsa, yang akan selalu berusaha untuk memahami orang-orang yang disalahpahami, orang-orang yang merasa berbeda, dan orang-orang yang mengalami live event non-normatif..  
Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 30122011
Irsa Ikramina

Wednesday, December 28, 2011

aku dan si inferior


Aku pikir memasuki dunia perkuliahan dan usia berkepala dua sudah tidak akan ada penyelesaian masalah yang kekanak-kanakan. Tapi kenyataannya tidak begitu, mungkin ini yang dikatakan bahwa kedewasaan tidak melihat usia. Meskipun definisi dari kedewasaan itu sendiri dapat dinilai subjektif bagi setiap orang.
Ini bukan yang pertama kalinya lagi aku harus mendengar selentingan pembicaraan tentang aku yang tidak mengenakan ‘dibelakang’. Tragisnya, orang yang melakukan hal ini ternyata tidak berubah. Artinya memang perilaku menetap ini, yang membuat aku jadi dapat membedakan mana orang-orang yang aku anggap ‘tidak bermasalah’ dan yang ‘bermasalah’. Tanpa bermaksud mendiskriminasikan gender, tapi mirisnya pelaku ini adalah pria. Bukankah yang aku tau kegiatan mempergunjingkan, merendahkan, dan menyindir orang lain itu adalah pekerjaan wanita?
Teman-teman terdekat sering kali mengingatkan aku untuk jangan mau direndahkan dan diinjak-injak. Memang kesannya aku diam saja yang seperti jadi tertindas. Sebetulnya bukan karena alasan superego yang terlalu kuat. Hanya saja, aku tidak mau mengurusi orang yang sebetulnya bermasalah dengan dirinya sendiri. Ya, dalam istilah Adler ini disebut inferiority complex. Kata Adler, manusia itu selalu ingin mengejar superior dan melakukan kompensasi atas apa yang dihayati sebagai rasa inferior-nya. Tapi kadang malah menjadi overkompensasi, ya seperti contoh yang satu ini. Mereka harus merendahkan orang lain untuk meninggikan dirinya. Jadi, tentu saja letak masalahnya bukan pada diriku kan? J
Kadang, memang seperti inilah kehidupan. Ketika kita berada di posisi yang cukup tinggi. Mungkin kita cukup rendah hati dalam menyikapinya. Tapi ternyata malah orang lain yang di sekitar yang tidak cukup berlapang dada dengan kekalah-kealahannya. Disnilah letak ujiannya bagi kedua belah pihak. Kalaupun aku harus berada di posisi sekarang ini, tentu aku tidak pernah menduga sebelumnya. bagiku, sudah banyak campur tangan Tuhan untuk memberikan kemudahan dan memberikan kemuliaan dalam perjalanan kehidupan ini. Ini sudah menjadi hak prerogatif Tuhan untuk memberikan kemuliaan pada siapapun yang Ia kehendaki.
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”.
(QS.3 : 26)
Dimanapun posisi kita dalam kehidupan, kita membawa amanah dan ujiannya masing-masning. Posisi tinggi atau rendah itu hanya tergantung penghayatan subjektif dari seseorang. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kita menjadi mulia di mata Tuhan, bukan sibuk mencari kemuliaan di mata manusia. Melalui amanah yang dipikul dan ujian yang dihadapi. Ini lah tugas kita yang sesungguhnya dalam kehidupan. Tuhan yang paling tahu dimana posisi yang terbaik untuk kita. Jadi kenapa mesti repot mengurusi posisi orang lain? Toh, Tuhan sangat jelas sekali dalam janjinya, “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadan diri mereka sendiri” (QS.13: 11)
Jadi kalau aku harus berlaku seperti mereka, maka apa bedanya aku dengan mereka?
Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 28122011
Irsa Ikramina

Sunday, December 18, 2011

aku dan salat sunah


dhuha melapangkanku dan istikharah meyakinkanku
Belakangan ini, aku sangat merasa bahwa salat sunah itu penting. Memang salat sunah tidak memiliki konsekuensi hukum apapun bagi yang meninggalkan. Hanya saja, setelah aku jauh lebih mengetahui keutamaan salat sunah, menjadi merasa merugi bagiku untuk meninggalkannya.
            Begitu banyak pilihan salat sunah yang bisa umat muslim dirikan. Tapi hatiku pada saat ini berat pada salat istikharah dan salat dhuha..
            Sudah sejak lama aku mengenal salat sunah, bagiku tidak asing jika mendengar ada orang yang suka mengamalkan salat-salat sunah tertentu. Ya, karena memang setiap salat sunah itu memiliki keutamaan tersendiri. Selain itu, dibesarkan hingga remaja di sekolah berbasis islam juga sangat didorong untuk selalu berpegang juga pada salat sunah.
            Salat sunah yang aku anggap paling sederhana pada masa sekolah adalah dhuha, karena rukun melakukannya bagiku tidak sulit, selain rakaatnya tidak dibatasi waktu pelaksanannya pun bisa dilakukan di sela-sela pergantian mata pelajaran di sekolah. semasa aku masih bersekolah di sekolah islam, salat dhuha adalah salat sunah yang paling sering dibiasakan.
           Aku sendiri masih terpukau dengan keutamaan salat dhuha ini, memang seperti yang telah diketahui oleh banyak orang adalah untuk kelapangan rezeki. Tapi aku melihat ada hal lain yang membuat dhuha ini begitu tinggi kedudukannya. Dua rakaat salat dhuha dapat menggantikan tiga ratus enam puluh kali sedekah !
Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut dengan pintu Dhuha. Kelak di Hari kiamat, para penikmat Duha akan diundang secara khusus.
-HR Thabrani-
Tuhanmu, Allah ‘Azza wa jalla berfirman, “wahai anak cucu Adam, salatlah untu-Ku empat rakaat pada pagi hari, maka salat itu akan memncukupi bagimu sepanjang hari”
-HR Ahmad bin Hanbal, Abu Dawud dan At-Tirmizi-
            Sebetulnya, apa yang membuat aku sangat mengandalkan salat dhuha ini pada mulanya dalah bukan dari keutamaannya. Tapi karena arti dari doa salat dhuha itu sendiri yang entah kenapa begitu menyentuh hati..
Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha itu adalah waktu dhuha-Mu, keagungan itu adalah keagungan-Mu, keindahan itu adalah keindahan-Mu, kekuatan itu adalah kekuatan-Mu, kekuasaan itu adalah kekuasaan-Mu, dan perlindungan itu adalah perlindungan-Mu. Ya Allah, jika rezekiku masih diatas langit, maka turunkalah dan jika di dalam bumi, maka keluarkanlah, jika masih sukar maka mudahkanlah, jika rezekiku itu haram, maka sucikanlah. Jik masih jauh, maka dekatkanlah. Dengan kebenaran waktu Dhuha-Mu, dan keagungan-Mu, dengan kebenaran keindahan-Mu, dan kekuatan-Mu, dengan kebenaran kekuasan-Mu, dan perlindungan-Mu limpahkan kepada kami segenap apa yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yan saleh
            Bagiku, salat dhuha tidak hanya perihal kelapangan rezeki, tapi kelapangan berupa kemudan-kemudahan yang hadir ketika langkah kaki dalam perjalanan ikhtiar ini begitu terasa berat.
            Salat istikharah, aku mengenalnya sejak aku duduk di bangku SD di mata pelajaran pecahan dari agama islam, yaitu akhlak dan ibadah. Pengertianku terhadap salat istikharah dulu hanya sebatas untuk “menentukan pilihan”. Tapi kini yang aku ketahui pada hakikatnya adalah untuk memantapkan dan meminta petunjuk dari pilihan yang kita pilih, dimana kita melibatkan Allah disetiap keputusan yang kita ambil. Agar kita dipastikan tidak kecewa, dan Allah melapangkan hati kita apabila dibalik pilihan tersebut ada sesuatu yang tidak kita harapkan.
            Bagiku, di setiap langkah ikhtiar yang aku tentukan begitu pentingnya untuk melibatkan Allah. Aku ingin, setiap apa yang aku pilih selalu melibatkan Allah. Bahkan disetiap langkah yang aku ambil. Adakalanya aku merasa hati dan pikiran sangat bertentangan dalam menentukan pilihan. Aspek emosi dan rasio yang sedang berperang ini aku tenangkan dengan melibatkan-Nya. Ya, dengan salat istikharah ini. Aku ingin kemanapun aku melangkah, adalah ke arah dimana ada kebaikan untuk segala urusan dan kebaikanku. Aku juga ingin menjadi orang yang rido dengan ketetapan-Nya. Lagi-lagi aku terkesan dengan salat sunah yang satu ini, karena arti dari doa salat istikharah..
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk kepada-Mu dengan ilmu-Mu, memohon ketetapan dengan kekuasan-Mu, dan aku memohon karunia-Mu yang sangat agung, karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedang aku tidak berkuasa sama sekali. Engkau mengetahui, sedangkan aku tidak mengetahui dan Engkau Maha Mengetahui segala hal yang gaib. Ya Allah jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini lebih baik bagi diriku dalam agama, kehidupan, dan akhir urusanku, maka tetapkanlah ia bagiku dan mudahkan ia untukku, kemudian berilah berkah kepadaku dalam menjalankannya. Dan, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku dalam agama, kehidupan, dan akhir urusanku, maka jauhkan urusan itu dariku dan jauhkan aku darinya, serta tetapkanlah yang baik itu bagiku di mana pun kebaikan itu berada, kemudian jadikanlah aku orang yang rida dengan ketetapan tersebut
Ya Rabb, mudahkan dan lapangkan setiap langkah ikhtiarku menuju pada-Mu, arahkan langkahku di mana pun kebaikan itu berada
dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 18122011
irsa ikramina

Tuesday, December 6, 2011

ketika ego sudah sangat lelah

adakalanya, ego sudah begitu lelah
menghubungkan realitas dan dunia internal

            Aku suka anak kecil dan aku suka mengajaknya berbincang meski pembicaraannya sangat bersifat konkret. Aku suka perhatikan wajahnya yang begitu polos, seperti tidak ada beban. Bukannya anak kecil memang belum ada beban? begitulah kehidupan mereka. Kadang, ketika aku memandangi foto masa kecilku, rasanya aku ingin kembali ke masa itu.
            aku tidak ingat persisnya kapan perjalanan hidupku mulai menemukan gelombang-gelombang yang menghantam, sampai akhirnya aku sekarang berada di titik perjalanan yang sekarang ini. Jika aku harus katakan, aku akan katakan ketika aku SMP adalah masa dimana ujian-uijian hidup mulai menampar batin.
            Aku tidak benci dengan hidupku dan aku juga tidak menginginkan kehidupan seperti orang lain, tapi yang aku inginkan adalah aku ingin kehidupan ku yang lebih baik lagi, yang juga diridoi Allah. Walaupun aku sadar, ujian hidup akan selalu ada kemanapun kita melangkah, karena ujian adalah tanda kasih sayang-Nya, tanda Ia selalu mendampingi kita, dan tanda Ia tidak pernah meninggalkan kita sendirian.
            Aku yakin Allah memberikan ujian yang sesuai dengan kemampuan manusia, Allah tidak pernah salah dalam mengukurnya. Tapi aku ini manusia, aku bisa merasakan kesedihan, kepedihan, dan juga menghayati kesulitan.
adakalanya, ego sudah begitu lelah
menghubungkan realitas dan dunia internal
ada saat-saat dimana aku berada begitu dekat dengan garis batas keputusasaan, aku begitu lelah, bahkan aku sudah tidak bisa memanjatkan doa setiap sehabis solat, aku hanya menangis dan bersujud memohon ampun. Allah yang tidak menyukai orang-orang yang berputus asa dari rahmat-Nya, tapi Allah juga yang menyelamatkan aku ketika aku sangat terpuruk dan nyaris berputus asa.
            Ketika perhitunganku sebagai manusia sudah mengatakan “tidak bisa”, maka pada saat itu Allah membukakan peluang-peluang dan kemudahan-kemudahan yang tidak pernah kuduga sebelumnya. disinilah, Allah seperti ingin mengatakan kepadaku “jangan mendahului perhitungan-Ku, sungguh Aku yang lebih mengetahui”
            Maka ketika itu, dengan beratnya beban yang terasa dalam dada ini. Aku berusaha bangkit kembali, meyakinkan diri bahwa selama ini Allah mendengar rintihan dari doa-doaku, melihat ikhtiarku dan mengetahui isi hatiku.
Ketika aku disakiti dan dizolimi orang lain, Allah sudah menyiapkan balasan yang seadil-adilnya
Ketika aku merasa inferior dengan apa yang aku hadapi, Allah mengecilkannya untukku dengan kebesaran-Nya
Ketika aku merasa sedih, Allah menyentuh hatiku dengan kasih sayang-Nya
Ketika kesulitan menghampiriku, Allah membukakan jalan-jalan kemudahan dengan kekuasaan-Nya
Ketika aku merasa begitu lelah menjalani amanah ini, Allah memberikan aku sedikit cahaya-Nya, meyakinkan bahwa akan ada titik terang, Allah tidak pernah ingkar janji
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Enkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir
Al-Baqarah: 286

dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 06122011
Irsa Ikramina

Tuesday, November 29, 2011

aku, perhitunganku, dan perhitungan-Nya


Betul memang adanya jika kita harus mempertimbangkan dan memperhitungkan, tapi adakalanya aku merasa perhitungan ku terlalu jauh dan melampaui batas sehingga tidak berani melangkah, memprediksi hasil yang belum pasti, dan menjadi tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri

            belakangan ini, aku banyak mengingat kejadian masa lalu. Pada awalnya tujuannya adalah untuk introspeksi diri, selama 20 tahun menjalani hidup, ujian apa saja yang sudah aku lalui, hikmah apa saja yang dapat kupetik, live event apa saja yang benar-benar sangat berpengaruh pada kepribadian. Tetapi nampaknya aku terlalu jauh menelusuri ingatan masa laluku sehingga tiba-tiba aku teringat pada masa aku TK yang hingga saat ini kisahnya masih sangat melekat jelas dalam ingatanku.
            Ketika aku duduk di bangku TK, aku sempat bersekolah di Bandung karena memang pada saat itu kondisi keluarga belum benar-benar memungkinkan untuk hijrah ke tempat papa ku mencari nafkah. TK BPI yang dulu berada di Jl. Patuha adalah sekolah yang paling sebentar aku jalani selama masa pendidikan, seingatku rasanya hanya hitungan bulan aku bersekolah disana.  Pada saat itu, aku, orang tuaku dan adikku yang masih bayi tinggal tidak jauh dari sekolah, tepatnya di Jl. Lodaya yang merupakan rumah nenek dan datuk ku. 
            Tidak ada masalah dalam menyesuaikan diri di sekolah ini, mungkin karena memang dari kecil aku anak yang cuek, tidak mau terlalu ambil pusing dengan lingkungan sekitar, aku sibuk mewarnai gambarku sendiri dan tidak terlalu merespon ketika teman-teman mengomentari gambarku atau crayon yang aku bawa. Setiap hari, pulang dan pergi ke sekolah pasti selalu diantar dan dijemput oleh mama. hingga suatu hari, papa ku yang menjemput..
            Aku tidak tahu kalau hari itu bukan mama yang menjemput seperti biasanya, biasanya mama bahkan sudah menunggu aku di depan pintu kelas sehingga aku tidak perlu mencari-cari keberadaan mama lagi. Hari itu, papa yang berinisiatif menjemput ku. Sementara bel pulang sudah berbunyi, aku sempat kebingungan mencari mama yang tidak ada di depan kelas. Aku jalan ke depan gerbang sekolah, menunggu kedatangan mama di bawah teriknya matahari siang. Cukup lama aku menunggu, hingga sekolah itu benar-benar sudah sepi. Sebenarnya, papa sudah ada, tapi papa menunggu di mobil sambil membaca buku. Kalau aku boleh berkomentar sekarang, “hah, dasar, anak TK ya mana kepikiran menghampiri mobil”.
            Aku sudah begitu lelah menunggu, aku sempat bingung apa yang harus aku lakukan. Lalu entah petunjuk darimana, aku memutuskan untuk berjalan kaki pulang sendiri ! pada saat itu aku merasa hafal jalan pulang ke rumah. Aku berjalan dengan sisa-sisa tenaga, aku ingat sekali bagaimana lelahnya berjalan dengan langkah kaki sejauh kaki anak TK. Huuft... apalagi, aku harus menyebarang melalui dua traffic light. Seingatku, aku menyebrang tanpa memperhatikan lampunya sedang merah atau hijau, aku menerabas saja hingga mobil-mobil yang berada disitu berhenti dan menyalakan klakson. Aku ingat ada orang dari belakang ku berkata, “hei hei de ! hati hati ! jangan nyebrang dulu !” aku hanya menoleh lesu dan mengabaikannya karena memang sudah terlanjur berada di tengah jalan.
            Hingga akhirnya, aku sampai di rumah dan menggedor-gedor pintu garasi sampai datuk yang membukakan pintunya. Ia nampak kaget, “loh! Papa mana?!” aku dengan polos menjawab, “gak taaaauuuuu” sambil mengankat kedua bahu. Lalu melengos ke dalam. Setelah itu, jangan di tanya apa respon mama dan sikapnya terhadap papa. J
            Ada perasaan miris, ada juga khawatir, ada juga rasa ingin tertawa kalau mengingat kejadian ini. Aku mencoba memahami irsa kecil yang akhirnya memutuskan untuk pulang berjalan kaki sendiri. Apakah ini keberanian atau kenekatan tanpa perhitungan? Mungkin bisa dibilang keberanian tanpa perhitungan. Ketika kita kecil, sering kali kita berani melakukan hal-hal yang dianggap bahaya oleh orang dewasa karena memang pada dasarnya anak kecil itu ‘pendek pikiran’. Ketika tumbuh dewasa, seiring dengan bertambahnya pengalaman dan kematangan perkembangan kognisi, kita akan mulai memperhitungkan dan mempertimbangkan dalam memberikan respon. Betul memang adanya jika kita harus mempertimbangkan dan memperhitungkan, tapi adakalanya aku merasa perhitungan ku terlalu jauh dan melampaui batas sehingga tidak berani melangkah, memprediksi hasil yang belum pasti, dan menjadi tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri. Padahal irsa kecil melakukan solving problem usia anak yang lebih dewasa rasanya. Irsa kecil memutuskan pulang sendiri karena yakin ia akan sampai karena ingatannya akan jalan pulang ke rumah. Tapi kenapa sekarang aku jadi tidak yakin menghadapi apa-apa yang dihadapanku dan lebih mempercayai perhitungan sendiri?
            Mungkin yang perlu digaris bawahi adalah manusia memang perlu melakukan perhitungan, tapi di atas itu, masih ada AL HASIB, Yang Maha Pembuat Pehitungan. Perhitungan manusia bisa salah, tapi tidak dengan perhitungan-Nya. Aku belajar dari irsa kecil untuk tidak terlalu tenggelam dengan perhitungan-perhitungan sebagai manusia, tapi perlu diingat bahwa ada perhitungan-Nya yang sempurna. Allah sudah memperhitungkan segala pengaturan dengan sangat sempurna, lalu apalagi yang harus menjadi keraguan, menciutkan keyakinan dan menghalagi langkah?
  

dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 29112011
irsa ikramina

Sunday, November 27, 2011

aku dan doaku


            aku tidak benar-benar ingat, kapan tepatnya aku pertama kali berdoa. Berdoa dengan penuh pengharapan dan dari hati tentunya. Kalau masalah ‘kebiasaan’ berdoa, aku rasa aku sudah mulai berdoa ketika aku kecil. Bersyukur aku disekolahkan di sekolah islam semenjak TK sehingga aku benar-benar terbiasa dengan berdoa. Tapi, kesungguhan dalam berdoa dan makna hakiki doa ternyata tidak begitu saja didapat ketika baru pertama belajar berdoa..
            tanpa disadari sebetulnya doa adalah hal yang paling sering aku lakukan. Hidup sebagai manusia wajar saja memiliki kecemasan, kebahagiaan, kesedihan, kepedihan, kehampaan, dan pengharapan. pada saat-saat itulah aku selalu dan sering-sering berdoa. secara syariat saja, doa sudah sangat mengikat kita dalam melakukan aktivitas apapun. Setelah solat, ketika hendak berpergian, sebelum dan sesudah makan, ketika akan tidur dan bangun tidur, dll. aku rasa doa betul-betul mengikat kita pada Yang Maha Kuasa dan juga sebagai penyelamat tentunya.
            Dalam menjalani perjalanan hidup yang penuh ujian, aku jadi betul-betul menyatu dengan aktivitas berdoa dan sudah seperti bagian dari diriku. Bagiku, doa tidak hanya sekedar kata-kata yang aku ucapkan kepada-Nya. Tapi di dalam doa itu ada keyakinan, kesabaran, ikhtiar, keikhlasan, kekuatan dan perbaikan diri (taubat).
keyakinan
Aku pernah membaca salah satu sabda Rasulullah, “berdoalah kepada Allah dan kalian (harus) yakin kalau doa itu akan dikabulkan”. Aku menyadari bahwa seringkali aku berdoa, tapi tetap saja pesimis dengan keadaan dan berprasangka yang tidak-tidak terhadap apa yang akan terjadi. Sampai aku tersadar, apa yang sudah aku lakukan adalah bukan berdoa tapi terkesan “protes” kepada Allah mengenai keadaan yang ada. doa tidak akan ada ruhnya tanpa keyakinan. Bukankah Allah mengikuti prasangka hamba-Nya? Kadang apa yang aku ucapkan dalam doa tidak panjang, bahkan mungkin hanya satu kalimat. Tapi aku hidupkan doa itu dengan keyakinan, haqqul yaqin bahwa Allah akan mengabulkan. Maka betul-betul akan terasa berbeda, hadirlah  ketenangan yang menghapus kegundahan. Maka doa akan selalu mengiringi keyakinan ku pada-Nya.
Aku akan memberikan apa yang hamba-Ku menyangka terhadap-Ku
(Hadis Qudsi)
kesabaran
            Bagiku, doa adalah suatu proses dari perjalanan panjang. Adakalanya tidak secara cepat Allah menjawab doa. Butuh kesabaran dalam berdoa. kesabaran dalam selalu memanjatkan doa tanpa berputus asa dan kesabaran dalam menunggu jawab-Nya.

Ikhtiar dan taubat
            Apalah arti doa jika tanpa usaha? Bagiku, itu seperti hanya menuntut kepada Allah. Rasanya aku malu sekali banyak meminta tapi aku tidak melakukan dan mengusahakan apapun untuk memperbaiki keadaan sendiri.
“Bagaimana engkau menginginkan sesuatu yang luar biasa padahal engkau sendiri tak mengubah dirimu dari kebiasaanmu? Kita banyak meminta, banyak berharap kepada Allah. Tapi sibuknya meminta kadang membuat kita tak sempat menilai diri sendiri. Padahal kalau kita meminta akan berakibat kita mengubah diri, dan Allah akan memberi apa yang kita minta..”
(Ibnu Ath-Tha’ilah)
            Sambil terus aku berdoa, aku berusaha, dan aku juga memperbaiki diri dengan cara bertaubat. Aku pikir, mungkin saja doa-doa ku terhijab oleh dosa-dosa yang aku perbuat sehingga menjadi penghalang untuk terkabulnya doa. Begitulah doa, bisa membawaku berusaha dan terus memperbaiki diri menjadi lebih baik.
Keikhlasan dan kekuatan
            Doa ternyata juga membutuhkan keikhlasan. Suatu saat dalam perjalanan hidupku, aku pernah berdoa meminta sesuatu, aku bedoa dengan sangat memohon dan bersungguh-sungguh, dan ketika waktu itu datang. Allah memberikan yang terbaik menurut-Nya. Pada awalnya aku sangat tidak bisa menerima, namun selama aku menjalani pilihan-Nya, ternyata begitu berlimpah hikmah, hidayah, dan kemudahan dari Nya. Aku malu, aku menyesal. Doaku sebenarnya selama ini selalu didengarkan-Nya, maka Ia memberikan yang lebih baik dari apa yang aku minta..
            Pada akhirnya, doa adalah kekuatan ku, disaat aku dilanda kesulitan dan kesedihan. Doa dapat menyatukan aku dengan sifat Arrahman dan Arrahim-Nya sehingga aku bisa melalui apa-apa yang menurut perhitunganku sebagai manusia tidak akan sanggup aku lalui..

Berdoa adalah bagian dari perjalanan hidup yang akan selalu menemani selama masih hidup dan doa akan menghidupkan hati karena doa menyatukan aku dengan-Nya.

dari aku, duniaku, dan penghayatanku 
Bandung, 27112011
irsa ikramina