aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Wednesday, September 19, 2012

Aku dan perwalian maha galau


           Akhirnya tiba juga perwalian maha galau sepanjang masa perkuliahan. Perwalian semester 7 adalah seperti memilih agama. Kita harus yakin dengan apa yang kita kontrak adalah sanggup untuk dijalani. Sudah tidak ada lagi ikut-ikutan teman, ini adalah memilih jalan untuk segera meraih tiket kelulusan menjadi seorang sarjana. Di semester ini kita harus mempertimbangkan banyak hal untuk mengontrak mata kuliah yang berkaitan dengan penelitian dan berbobot sks besar. Taruhannya adalah waktu atau masa studi. Belum lagi ada yang tidak bisa mengambil mata kuliah yang berkaitan dengan penelitian itu karena sks yang ditempuh masih kurang atau masih ingin memperbaiki nilai-nilai yang sudah terlanjur tercetak di transkrip nilai.
            Sudah dari beberapa hari lalu aku saling berhubungan dengan Anis sekedar untuk mengecek apakah keimanannya masih sama mengenai apa yang akan dikontrak dan apa yang akan didrop untuk  semester depan. Semua kami putuskan atas berbagai pendapat dari senior dan juga kesanggupan kami. Belum lagi ada mata kuliah baru yang disungguhkan untuk angkatan kami, dan itu merupakan mata kuliah pilihan. Ini juga menambah tingkat kegalauan dikalangan mahsiswa yang baru menginjak tingkat akhir. Timeline twitter sejak seminggu lalu pun sudah mulai ramai dengan kicauan para mahasiswa yang galau akademik.  
            Hari maha galau itu pun tiba. Anis tiba lebih dulu di kampus. selang setengah jam akupun sampai di kampus. sesampainya di fakultas aku melihat Anis sedang mengobrol dengan teman-teman yang lain. Aku sudah bisa menebak dari kejauhan apa yang mereka sedang bicarakan, pasti mengenai mata kuliah baru pilihan itu. training atau konseling ? aku dan Anis sudah haqul yaqin untuk mengontrak training. Sehingga pandangan apapun yang kami dengar tidak akan menggoyahkan keimanan kami. Sambil menunggu antrian perwalian, obrolan maha galau itupun terus berlanjut menguji keimanan setiap orang yang terlibat dalam obrolan itu. Hingga keimanan Anis pun sempat tergoyahkan,
 “sa, apa gue betul-betulin nilai dulu aja ya? jadi gue ngga usah ambil metpen1) dulu”
“hus, istigfar nis. Sayang masa studi, IPK lu kan masih 3 koma. Yang maha galau itu kalo kita ngga bisa ngontrak metpen sama KKPP2). Lah ini kita bisa, kenapa ngga hajar terus aja.”
“iya juga siih”
            Keimanan Anis pun kembali di jalan yang lurus. Selama obrolan yang menguji keimanan dan menunggu antrian perwalian itu. aku perhatikan Rendy sudah bolak-balik masuk ruang wakil dekan, yang merupakan dosen wali kami, Ibu Milda. Pertama Rendy merubah pilihan training atau konselingnya, kemudian dia masuk lagi kedua kalinya untuk merubah kontraknya untuk tidak jadi mengambil semua yang ada di semester 7 itu. memang, paket sesungguhnya pada semester 7 itu adalah 3 penelitian yang terdiri dari metpen, KKPP, dan juga Psikologi Islam V3). Serta mata kuliah pilihan training/konseling dan beberapa mata kuliah penghabisan. Jika kita dapat mengambil semua mata kuliah yang sudah dipaketkan di semseter 7, maka di semester 8 hanya akan tersisa skripsi. Namun ada keringangan yang berlaku yaitu kita bisa men-drop salah satu diantara KKPP, MetPen, dan psikologi Islam V untuk dikontrak di semester 8 bersama skripsi.
            Giliran aku dan Anis yang masuk pun tiba. Dan Anis berpesan sebelum masuk ruangan wakil dekan itu.
“ngga usah banyak nanya lagi, bisi lebih galau”
            Akupun menuruti apa kata Anis. Pada saat mengisi lembar FRS kami sudah tidak banyak tanya lagi mengenai bagaimana baiknya. Kami langsung menandai mata kuliah yang akan dikontrak dan menandatangani lembar FRS itu. tidak seperti biasanya memang, biasanya kami selalu banyak tanya. Mungkin lebih tepatnya aku yang banyak tanya. Aku hati-hati.
            Aku sangat hati-hati dan tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan. Bagiku, buat apa mengambil banyak tapi kualitas nilai jadi menurun. Lebih baik mengontrak semampunya tetapi hasil maksimal.
            Aku dan Anis yang sudah selesai perwalian masih ikut duduk-duduk bersama teman-teman lain yang masih mengantri. Sekonyong-konyong Ichul pun datang menghampiri, sambil menunggu gilirannya masuk kami pun mengobrol.
“sa, IPK sekarang berapa ? 3.6 ? 3.7 ?
“hus, masya Allah, enggaaaa”
“berapa ?”
“3.45 . kenapa emang chul ?”
“si ‘orasi’ IPK nya 3.8”
“astagfirulloh.....” kata aku dan Anis menyebut segala zikrulloh dan segala ekspresi spritual. Ya, kami menjulukinya si ‘orasi’ karena konon kata Anis waktu itu pernah praktikum karena ada pembimbing yang tidak bisa hadir. Maka kelompoknya bergabung dengan kelompok si ‘orasi’. Dan pada saat itu si ‘orasi’ mempresentasikan dan memberi feedback kepada anggota kelompok lain sudah seperti orasi. Dan menurut isu yang berhembus, si ‘orasi’ memang yang nilai B pun ia perbaiki pada saat semester pendek untuk menjadi A. Jadi wajar saja kalau IPK nya menjulang tinggi sendiri. Di tengah terengah-engahnya IPK kami untuk melonjak.
            Hampir saja aku kufur nikmat dan goyah iman. Aku melihat wajah Ichul dan Anis pun lesu. Baru saja kami meyakinkan diri untuk dapat melalui ini semua. Lalu mendengar itu rasanya keyakinan kami hancur berkeping-keping, putus asa. Aku juga jadi ingat kalau targetku adalah 3.5 sebetulnya. Ya, karena aku pernah mencari tahu bahwa perusahaan asing yang aku incar memasang minimal IPK 3.3 . aku pikir walaupun IPK hanya merupakan proses seleksi awal. Tapi tidak ada salahnya jangan terlalu pas-pasan dengan standar minimal yang ditetapkannya. Namun dalam hati aku juga ragu apa bisa kembali lagi menjadi 3.5 . bisa tapi kalau mata kuliah yang berkaitan dengan penelitian dan skripsi ku bisa mencapai A. Terdengar gila dan muluk memang sejenak dalam batinku.
            Bagaimanapun aku masih harus sangat bersyukur. Mengingat IPK ku masih paling tinggi diantara teman-teman sekelasku, aku tidak sengaja melihat di daftar hadir perwalian pada saat itu. apalagi, yang berhasil meraih IPK 3 koma itu kini hanya segelintir orang saja. Sepulang dari perwalian, aku sampai lupa kebiasaan dan ritual ku ketika liburan selama 2 bulan kebelakang. Mungkin karena hawa pressure sudah sangat terasa. Terutama adalah mengenai judul penelitian.
            Aku kuatkan diri lagi, niatku untuk menyempurnakan amanah di tingkat akhir ini sudah menjadi fondasi. Niatku untuk membawa mama hijrah juga sudah tidak bisa ditarik kembali. Aku ingat-ingat perjalananku smenjak hijrah, sudah begitu banyak perjuangan ,air mata, dan juga keringat. Tidak ada jalan lain selain harus melalui ini semua. Seberat apapun. Aku teringat nasihat papa melalui SMS..
Sukses ya nak..tujuan hidup, cita-cita dan apa yang hendak diraih sesungguhnya adalah Allah itu sendiri. Jangan lupakan Allah Azza wajalla, kapan dan dimana pun selalulah bersama-Nya dalam dzikrulloh..

Dari, aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 12 September 2012
Irsa Ikramina