Akhirnya tiba juga perwalian maha galau
sepanjang masa perkuliahan. Perwalian semester 7 adalah seperti memilih agama.
Kita harus yakin dengan apa yang kita kontrak adalah sanggup untuk dijalani.
Sudah tidak ada lagi ikut-ikutan teman, ini adalah memilih jalan untuk segera
meraih tiket kelulusan menjadi seorang sarjana. Di semester ini kita harus mempertimbangkan
banyak hal untuk mengontrak mata kuliah yang berkaitan dengan penelitian dan
berbobot sks besar. Taruhannya adalah waktu atau masa studi. Belum lagi ada
yang tidak bisa mengambil mata kuliah yang berkaitan dengan penelitian itu
karena sks yang ditempuh masih kurang atau masih ingin memperbaiki nilai-nilai
yang sudah terlanjur tercetak di transkrip nilai.
Sudah
dari beberapa hari lalu aku saling berhubungan dengan Anis sekedar untuk
mengecek apakah keimanannya masih sama mengenai apa yang akan dikontrak dan apa
yang akan didrop untuk semester depan. Semua kami putuskan atas
berbagai pendapat dari senior dan juga kesanggupan kami. Belum lagi ada mata
kuliah baru yang disungguhkan untuk angkatan kami, dan itu merupakan mata
kuliah pilihan. Ini juga menambah tingkat kegalauan dikalangan mahsiswa yang
baru menginjak tingkat akhir. Timeline
twitter sejak seminggu lalu pun sudah
mulai ramai dengan kicauan para mahasiswa yang galau akademik.
Hari
maha galau itu pun tiba. Anis tiba lebih dulu di kampus. selang setengah jam
akupun sampai di kampus. sesampainya di fakultas aku melihat Anis sedang
mengobrol dengan teman-teman yang lain. Aku sudah bisa menebak dari kejauhan
apa yang mereka sedang bicarakan, pasti mengenai mata kuliah baru pilihan itu. training atau konseling ? aku dan Anis
sudah haqul yaqin untuk mengontrak training. Sehingga pandangan apapun yang
kami dengar tidak akan menggoyahkan keimanan kami. Sambil menunggu antrian
perwalian, obrolan maha galau itupun terus berlanjut menguji keimanan setiap
orang yang terlibat dalam obrolan itu. Hingga keimanan Anis pun sempat
tergoyahkan,
“sa, apa
gue betul-betulin nilai dulu aja ya? jadi gue ngga usah ambil metpen1)
dulu”
“hus, istigfar nis. Sayang masa studi, IPK lu
kan masih 3 koma. Yang maha galau itu kalo kita ngga bisa ngontrak metpen sama
KKPP2). Lah ini kita bisa, kenapa ngga hajar terus aja.”
“iya juga siih”
Keimanan
Anis pun kembali di jalan yang lurus. Selama obrolan yang menguji keimanan dan
menunggu antrian perwalian itu. aku perhatikan Rendy sudah bolak-balik masuk
ruang wakil dekan, yang merupakan dosen wali kami, Ibu Milda. Pertama Rendy merubah
pilihan training atau konselingnya,
kemudian dia masuk lagi kedua kalinya untuk merubah kontraknya untuk tidak jadi mengambil semua yang ada di semester 7 itu. memang, paket sesungguhnya pada
semester 7 itu adalah 3 penelitian yang terdiri dari metpen, KKPP, dan juga
Psikologi Islam V3). Serta mata kuliah pilihan training/konseling dan beberapa mata kuliah penghabisan. Jika kita
dapat mengambil semua mata kuliah yang sudah dipaketkan di semseter 7, maka di
semester 8 hanya akan tersisa skripsi. Namun ada keringangan yang berlaku yaitu
kita bisa men-drop salah satu diantara
KKPP, MetPen, dan psikologi Islam V untuk dikontrak di semester 8 bersama
skripsi.
Giliran
aku dan Anis yang masuk pun tiba. Dan Anis berpesan sebelum masuk ruangan wakil
dekan itu.
“ngga usah banyak nanya lagi, bisi lebih galau”
Akupun
menuruti apa kata Anis. Pada saat mengisi lembar FRS kami sudah tidak banyak
tanya lagi mengenai bagaimana baiknya. Kami langsung menandai mata kuliah yang
akan dikontrak dan menandatangani lembar FRS itu. tidak seperti biasanya
memang, biasanya kami selalu banyak tanya. Mungkin lebih tepatnya aku yang
banyak tanya. Aku hati-hati.
Aku sangat hati-hati dan tidak mau gegabah dalam mengambil
keputusan. Bagiku, buat apa mengambil banyak tapi kualitas nilai jadi menurun. Lebih baik mengontrak semampunya tetapi hasil maksimal.
Aku
dan Anis yang sudah selesai perwalian masih ikut duduk-duduk bersama
teman-teman lain yang masih mengantri. Sekonyong-konyong Ichul pun datang
menghampiri, sambil menunggu gilirannya masuk kami pun mengobrol.
“sa, IPK sekarang berapa ? 3.6 ? 3.7 ?
“hus, masya Allah, enggaaaa”
“berapa ?”
“3.45 . kenapa emang chul ?”
“si ‘orasi’ IPK nya 3.8”
“astagfirulloh.....”
kata aku dan Anis menyebut segala zikrulloh dan segala ekspresi spritual.
Ya, kami menjulukinya si ‘orasi’ karena konon kata Anis waktu itu pernah
praktikum karena ada pembimbing yang tidak bisa hadir. Maka kelompoknya
bergabung dengan kelompok si ‘orasi’. Dan pada saat itu si ‘orasi’
mempresentasikan dan memberi feedback kepada
anggota kelompok lain sudah seperti orasi. Dan menurut isu yang berhembus, si
‘orasi’ memang yang nilai B pun ia perbaiki pada saat semester pendek untuk
menjadi A. Jadi wajar saja kalau IPK nya menjulang tinggi sendiri. Di tengah
terengah-engahnya IPK kami untuk melonjak.
Hampir
saja aku kufur nikmat dan goyah iman. Aku melihat wajah Ichul dan Anis pun
lesu. Baru saja kami meyakinkan diri untuk dapat melalui ini semua. Lalu
mendengar itu rasanya keyakinan kami hancur berkeping-keping, putus asa. Aku
juga jadi ingat kalau targetku adalah 3.5 sebetulnya. Ya, karena aku pernah
mencari tahu bahwa perusahaan asing yang aku incar memasang minimal IPK 3.3 .
aku pikir walaupun IPK hanya merupakan proses seleksi awal. Tapi tidak ada
salahnya jangan terlalu pas-pasan dengan standar minimal yang ditetapkannya.
Namun dalam hati aku juga ragu apa bisa kembali lagi menjadi 3.5 . bisa tapi
kalau mata kuliah yang berkaitan dengan penelitian dan skripsi ku bisa mencapai
A. Terdengar gila dan muluk memang sejenak dalam batinku.
Bagaimanapun
aku masih harus sangat bersyukur. Mengingat IPK ku masih paling tinggi diantara
teman-teman sekelasku, aku tidak sengaja melihat di daftar hadir perwalian pada
saat itu. apalagi, yang berhasil meraih IPK 3 koma itu kini hanya segelintir
orang saja. Sepulang dari perwalian, aku sampai lupa kebiasaan dan ritual ku
ketika liburan selama 2 bulan kebelakang. Mungkin karena hawa pressure sudah sangat terasa. Terutama adalah
mengenai judul penelitian.
Aku
kuatkan diri lagi, niatku untuk menyempurnakan amanah di tingkat akhir ini
sudah menjadi fondasi. Niatku untuk membawa mama hijrah juga sudah tidak bisa
ditarik kembali. Aku ingat-ingat perjalananku smenjak hijrah, sudah begitu
banyak perjuangan ,air mata, dan juga keringat. Tidak ada jalan lain selain
harus melalui ini semua. Seberat apapun. Aku teringat nasihat papa melalui
SMS..
Sukses
ya nak..tujuan hidup, cita-cita dan apa yang hendak diraih sesungguhnya adalah
Allah itu sendiri. Jangan lupakan Allah Azza wajalla, kapan dan dimana pun
selalulah bersama-Nya dalam dzikrulloh..
Dari, aku,
duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 12
September 2012
Irsa
Ikramina