aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Tuesday, July 3, 2012

aku dan islam yang mendewasakan

tau agama itu mudah tapi dewasa dalam beragama itu sulit

“sa, kok bisa sih lu jadi orang yang religius, lu setelah liburan kaya langsung berubah”, tanya seorang temanku.
“ujian kehidupan mungkin? Pada saat itu gue emang lagi dirundung banyak ujian”, jawabku yang sebetulnya merasa seperti tidak menjawab pertanyaan temanku. Karena aku tau ini akan sangat panjang untuk dijelaskan. Lagipula ungkapan ini hanya akan menunjukkan bahwa kalau susah baru cari Allah. Tapi sebenarnya, ujian juga yang mendewasakan, membuat lebih dekat dengan-Nya.
Percakapan itu terjadi di semester tiga setelah liburan panjang semester genap. Kebetulan aku juga tidak mengambil semester pendek pada saat itu. Mungkin teman-teman memperhatikan status update facebook ku selama liburan yang rata-rata jadi bertemakan spritual.
Mungkin disini aku ingin sedikit bercerita dan berbagi tapi bukan juga menceramahi tentunya, karena bagiku spritual dan agama adalah sebuah perjalanan, sebuah proses jadi bukan berupa materi yang harus dipelajari seperti kuliah. sebetulnya Islam bisa mendewasakan kita, tapi di sisi lain kita juga dituntut untuk dewasa dalam beragama.
Semenjak duduk di bangku TK, aku disekolahkan di sekolah swasta berbasis Islam. kebiasaan dalam Islam dan hafalan doa sehari-hari mulai diperkenalkan. Memasuki SD, doa surat-surat pendek mulai diperkenalkan, tata cara shalat dengan benar dari yang wajib hingga sunnah, pelajaran mengenai agama mulai beragam. SMP dan SMA pendalaman dan spesifikasi pelajaran agama mulai meningkat, sehingga pada saat itu pelajaran agama pun harus dipecah menjadi aqidah, akhlak, ibadah, sejarah islam, dan sebagai tambahan ada pelajaran alquran yang mempelajari tafsir dan tanda baca serta bahasa Arab.
Pada saat itu segala ritual Ibadah hanya dilakukan pada taraf kebiasaan saja. Sekedar menggugurkan kewajiban dan bahkan formalitas. Dari TK sampai SMA kelas 1, bukan waktu yang sebentar aku pikir untuk dijejali ilmu agama. Aku sering mengeluh jenuh bersekolah disitu. Aku ingin bersekolah di sekolah umum.
Ketika kelas 2 SMA aku memutuskan untuk hijrah ke Bandung (baca aku dan hijrah), berpindah sekolah ke sekolah negeri (umum) dan keluar dari lingkungan yang begitu “Islam” di sekolahku. Ada misi yang harus dicapai ketika hijrah, mencari makna kehidupan sekaligus menyembuhkan vacuum existential yang aku alami. Ternyata itu memunculkan kesadaran spiritual dalam diriku. Ada rasa kehilangan juga mengenai budaya Islam, karena kini di sekolah baru ku sudah tidak ada lagi salah berjamaah, tidak ada lagi ikrar yang diucapkan setiap pagi, tidak ada lagi peraturan yang berlandaskan Islam, dsb. Tapi disnilah aku dihadapkan pada suatu kesadaran bahwa ternyata agama bukan hanya soal ritual ibadah yang dilakukan sebagai kebiasaan dan luasnya pengetahuan agama yang dimiliki. Jadi apa?
Seiring dengan perjalanan aku mencari makna kehidupan, dalam hal ini Islam turut mendewasakanku. Dalam upaya meredakan kegundahan hati shalat, tidak dipandang lagi hanya sebagai ritual Ibadah aku coba lebih memahami arti bacaannya, menghadirkan hati, dan meningkatkan kesadaran bahwa shalat adalah sedang berhubungan langsung dengan Sang Khalik. Shalat yang seperti ini yang sebetulnya secara hakiki akan mendatangkan ketenangan, secara emosional juga lebih stabil dan tidak banyak gelisah hati. Itu yang aku rasakan.
Tanpa disadari sebetulnya dalam shalat juga melatih manusia untuk adjustment. Bukan memang begitu kehidupan? Kita harus selalu adjust dengan segala perubahan. Shalat punya segudang alternatif supaya kita bisa menjaga kontinuitas pelaksanannya. Kalau tidak ada air, bisa pake tayamum. Kalau lagi berpergian, bisa jama’ dan qashar. Kalau lagi sakit, boleh sambil duduk atau tiduran.
Shalat juga mendidik untuk sabar dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan segala hal. Setiap gerakan shalat yang dilakukan harus secara tumaninah. Pada dasarnya tergesa-gesa merupakan perbuatan setan, karena hanya mengedepankan hawa nafsu. Aku pikir, segala hal yang kita lakukan dalam kehidupan jika dilakukan tergesa-gesa tentu hasilnya akan tidak maksimal.
Setelah shalat bisa dinikmati maka akan merambah pada ritual ibadah yang lainnya, misalnya puasa dipandang sebagai melatih mengendalikan hawa nafsu, zakat dan sedekah adalah untuk berbagi dan lebih besyukur. Memang, perjalanan ini membutuhkan waktu dan proses. Setiap orang juga memiliki skenario kehidpan yang berbeda untuk bisa mnecapai titik ini.
Setelah ritual ibadah bisa dinikmati, maka ada beberapa variabel dalam islam yang menuntut kedewasaan tapi juga dapat mendewasakan, diantaranya ada sabar, ikhlas, syukur, tawakal. Kenapa dapat dikatakan menuntut kedewasaan tapi juga mendewasakan?
Apapun motif soal ujian yang diberikan Allah, toh kisi-kisinya tetap sama. Allah ingin menguji kesabaran, keikhlasan, keyakinan, rasa syukur, berserah diri, amanah, dan kebersihan hati.
Sederhana, tapi memang tidak mudah dan membutuhkan waktu untuk bisa memahaminya. Seringkali ketika manusia dihadapkan pada suatu ujian, padahal jawabannya seringnya sudah tau, misalnya sabar. Tapi begitu sulit untuk menjalankannya. Tapi, ketika kita berhasil melaluinya, lalu kita menoleh ke belakang kita akan menyadari bahwa satu langkah lebih dewasa dari sebelumnya.
Itu sebabnya begitu mudah terlihat orang-orang yang dapat menguasai variabel-variabel tersebut, tenang, tidak kemerusuk, dewasa, soleh. Meskipun ini semua tidak tekait pada suatu kategori dewasa atau tidak dewasa, soleh atau tidak soleh. namun ketika kita berbicara soal spiritual maka ini merupakan sebuah perjalanan dan juga proses. Artinya, orang juga selalu dituntut untuk belajar lagi untuk lebih baik.

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 3 Juli 2012
Irsa Ikramina