aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Saturday, December 12, 2015

kesetiaan dan ketulusan

"apa yang membuat kamu sedih Jes ?" kata bos ku terhadap staff ku yang sedang sesenggukan menangis di hadapannya. disampingku. 

aku hanya tersenyum. bos ku memandang ku. melontarkan pertanyaan. mungkin respon ku tidak sesuai dengan suasana yang dirasakan.

"bu irsa, kenapa senyum-senyum saja ?"

"karena saya paham, apa yang dirasakan Jesica. tanpa saya harus bertanya. tanpa dia bercerita"

"bisa tolong diceritakan ?"

aku tersenyum lagi. kali ini bukan karena aku mengetahui suatu hal. tapi karena menyadari pertanyaan bos ku itu sangat tidak appropriate. aku memandang Jesica yang masih sibuk dengan air mata dan tisu nya. baiklah, aku bantu. semoga ilmu cenayang aku kali ini tidak membaca secara meleset.

"Jesica memiliki kepribadian yang tidak jauh dari saya. melankolis. kami pun memiliki bintang yang sama. setipe tentu. orang seperti kami, ketika attach dengan seseorang, kehidupan, lingkungan ataupun pekerjaan. maka akan sulit untuk berpaling. karena selalu melibatkan hati dan selalu 'dalam' "

Jesica langsung menyahut, dengan suaranya yang masih sengau

"mungkin ada benarnya juga apa yang dikatakan bu irsa. mungkin ilustrasinya begini, saya sudah punya rumah sendiri yang nyaman. tiba-tiba saya harus pergi keluar rumah dan tinggal di rumah orang lain, dengan lingkungan yang baru dan tidak saya kenal. belum lagi saya tidak tahu apa yang harus dilakukan."

begitu ungkapan perasaan Jesica yang ditawari promosi jabatan tapi di departemen tetangga. 

"loh tapi kan, cuma departemen sebelah. tetangga" kata bos ku, yang selalu saja pada situasi afek dan emosi. responnya rasional.

aku hanya menghela nafas. rasanya lelah menjelaskan soal afek dan emosi, dengan manusia rasional.

"ya tapi kan tetap saja bu, aku tidak bisa bercerita lagi, makan bareng lagi" kata Jesica yang mungkin masih punya kesabaran untuk menjelaskan di tengah dirinya yang sedang sangat emosional.

"ya banyak hal bu, kenyamanan dengan atasan mungkin salah satunya" kata ku iseng  untuk menyanjungnya

"ya kamu kan juga atasannya", kata bos ku merespon humor dengan serius. dalam rangka memuji ku juga gagal seketika dengan jawabannya seperti itu

"ya begini lah bu, intinya orang-orang seperti kami pasti tidak mudah menghadapi hal seperti ini. kami selalu melibatkan perasaan, melibatkan hati, selalu mengingat dan tidak mudah melupakan." kata ku yang ingin segera pertemuan ini berakhir

"kalau ibu pasti suatu saat lupa deh sama kami", kata ku bercanda

"enggak ah, enggak akan lupa lah"

"yakin bu ? waktu ibu nonton acara musik sama saya. ada seeorang yang menyapa ibu duluan, ternyata itu dosen ibu. dosennya masih ingat dengan ibu. tapi ibu sudah lupa dengannya" kata ku ingin mencairkan situasi ini

Jesica sedikit tertawa. meski wajahnya masih sembab. aku tersenyum sambil memandangnya. guyon ku akhirnya berhasil. setidaknya ada yang terhibur

"iya sih, aku bener-bener lupa loh. ya ampun. itu dosen pembimbing atau penguji ya ?" kata bos ku berusaha mengingat. "tapi aku bener-bener lupa loh"

"tuh kan, pasti sama kami ibu akan lupa" kata ku sambil menggoda. tapi aku sudah tahu apa yang akan dikatakan dan bagaimana responnya. setahun bekerja dengannya dinamika kepribadiannya sudah terbaca oleh ku

"yaiya, mungkin bisa begitu. kl tadi berbicara soal rumah. aku memang tidak sulit dan malah nyaman-nyaman saja kalau aku tidur di rumah siapapun"

ya. memang di kehidupannya nyatanya seperti itu. itu sebabnya ia punya beberapa keluarga angkat meski merantau di Bandung. mudah masuk pada situasi sosial apapun. tapi aku tau, orang semacam ini akan mudah juga melupakan atau meninggalkan. tidak "dalam". tidak seperti aku dan Jesica.

ruangan General Manager hening. kami pun menyudahi pertemuan yang melankolis di tengah tuntutan profesional. 

pertemuan siang itu, ternyata menjadi bahan renungan ku. 

orang-orang terdekat dalam hidup ku, yang juga significant person. mayoritas memang manusia yang serupa dengan ku. itu sebabnya kami tidak ada kesulitan dalam menjalin hubungan pertemanan jangka panjang. meski kadang kesibukan menyempitkan ruang dan waktu kebersamaan kami. tapi pintunya selalu terbuka kapanpun. jika diibaratkan dengan lapisan-lapisan. maka mereka tetap berdiri pada lapisan yang terdalam, mendekati personal ku. jarang ada yang bergerak mundur menjadi lapisan terjauh. 

menjalin hubungan dengan orang-orang yang seperti ini memang mengajari ku apa itu kesetiaan. ruang dan waktu memang variabel yang tidak stabil. ia bisa membuat kebersamaan menjadi intens tapi bisa juga  menjadi kurang intens. tapi hati kami selalu terikat. 

namun ternyata dalam lapisan ku itu, tidak semuanya orang setipe dengan ku. ada juga yang mudah melupakan. mudah masuk ke lapisan terdalam, tapi juga mudah beranjak lalu menghilang. seperti menjauh dari tata surya ku hingga sudah tak terlihat lagi. 

menjalin hubungan dengan orang-orang seperti ini mengajari ku apa itu ketulusan. aku tidak bisa berharap apa yang aku lakukan terhadapnya akan selalu dibalas hal yang sama. aku tidak bisa berharap ia selalu mengingat ku seperti aku selalu mengingatnya. tapi satu hal yang aku sadari, bahwa tidaklah perlu untuk tahu, apa ia masih memerlukan ku atau tidak. tapi aku harus selalu ada untuknya, disampingnya.  paling tidak secara hati. ya, meski ruang dan waktu kelak akan membuat kebersamaan menjadi tidak intens.


mengenal dua macam manusia seperti ini mengajari ku bahwa waktu kebersamaan itu sangatlah berharga, meskipun  sekejap. sebab aku tidak pernah tau dalam tiap-tiap detik pertemuan dan kebersamaan. dalam tiap-tiap kata yang aku ucapkan. mungkin itulah yang terakhir kalinya. karena ya, ruang dan waktu adalah variabel yang yang tidak stabil dan tidak bisa diprediksi. kelak bisa merapatkan kebersamaan. kelak bisa juga menyurutkan kebersamaan. dan variabel ruang dan waktu itu yang mengatur adalah Yang Maha Mengatur dengan segala skenarioNya. 

Teruntuk orang-orang yang tersayang dalam hidup ku. aku berterimakasih atas kebersamaan yang membahagiakan. dan teruntuk Tuhan yang mengatur variabel ruang dan waktu, aku berysukur Engkau pertemukan aku dengan orang-orang pilihan Mu.


Dari aku, duniaku dan penghayatan ku
Bandung, 13 Desember 2015
Irsa Ikramina

Tulisan ini didedikasikan untuk 
orang-orang yang aku sayang dalam hidup ku,
dalam dunia ku

Sunday, December 6, 2015

aku dan teman satu species


Pada Sabtu sore yang mendung, aku bertemu dengan teman kuliah. Teman yang tidak biasa, sebab ketika aku bersamanya, aku seperti berkaca pada diri sendiri, juga tidak merasa sendiri, seperti menemukan manusia yang satu species dengan ku.

“hai ! “ sapa kami ketika saling melihat wajah setelah beberapa bulan.

“tadi gue nyari-nyari loh. Tempatnya kok pilih yang mojok dan remeng-remeng sih ?” kata aku.

“hah, iya ya ?” ternyata caroline sedang nonton film drama korea di laptopnya.

“tadi gue bilang ke mas-mas yang greeter di depan. Gue nyari temen. Terus dia langsung anterin gue kesini. Kok dia tau ya ? lu tadi titip pesen ?”

“hah. Enggak kok. Mungkin gue nampak sendirian”

“bukan, gue rasa kita nampak satu species”

Sambil aku melihat menu dan memesan minuman, caroline menawari ku film-film yang ada di laptopnya.

“sa, ini bagus loh. Drama korea. Supaya lu gak tumpul afek”

“kurang ajar lu. Gue gak tumpul afek. Cuma industri yang membentuk gue seperti ini.

“Gimana tesis ?” pertanyaan pembuka umum tentu saja aku lontarkan.

“intens, tapi lebih naas si ranti. Dosen pembimbingnya”

“what’s wrong ?”

“sangat rasional. Kita nuansa afeksi. Tp dia selalu memberi jarak”

“bukannya memang begitu seharusnya, you should try live in coorporate world. Worse than that. Kerja dan hidup di tengah manusia yang tidak mengedepankan kepekaan”

“hahaha, iya sih”.

“eh, caroline. gue seperti merindukan sesuatu di fase kehidupan kuliah. Seperti ada rasa yang hilang. Tapi gue gak tahu apa itu”

“masa lu gak tau sih sa ?”

“yeeee... gue orangnya abstrak keleus. Emg elu, konkret” kata ku bercanda.

Pembicaraan kami menjelajah ke berbagai topik. Caroline bercerita soal bagaimana kuliah S2 dan aku bercerita bagaimana kehidupan di industri. Sepanjang cerita kami banyak tertawa bukan karena kisah kami memang lucu. Tapi karena imajinasi kami juga ikut bermain mewarnai cerita-cerita nyata. Khususnya kisah-kisah kami dulu ketika kuliah.

“oia, gue mau check in ah”, kata caroline

“oh”

“lu hingga saat ini bener-bener gak punya path sa ? itu bener-bener pilihan hidup lu ?”

“gilak lu, nanya medsos aja sampe kayak nanya pilihan karir atau jodoh. Iya, gue Cuma pake twitter, instagram dan blog”

“lu kalau ujian suka open book caroline ?” tanya ku ganti topik

“suka. Kenapa ?”

“kata gue percuma open book. Gue udah gak kemakan iming-iming kemudahan yang ditawarkan dosen. Seringkali memang karena jawabannya tidak ada di buku”

“hahaha. Iya ya. Di buku ada penjelasan id, ego dan superego. Eh, di soal, jelaskan dinamikanya”

“yaiyalah. Emang kita anak SD. Kudu berpikir kritis dan analisis dong”

“eh, kok gue pernah liat di foto WA lu, lu nonton musik bareng dosen pembimbing. Gimana ceritanya ?”

“ya, doi nge WA, ada acara musik yang main subjek skripsi gue. Katanya inget gue. Jadi kita janjian gitu deh.”

“ooohh”

“eh, ngomong-ngomong soal skripsi, gue inget jaman ngerjain tu penelitian kualitatif” kata aku jadi mendadak teringat

“kenapa ?”

“kesannya kan gimana gitu si penelitian kualitatif. Sampe temen gue ada yang nanya, karena gue sering begadang pas ngerjain revisi. Itu sih settingan gue aja, supaya kesannya penelitian kualitatif itu lebayatun. Padahal yaiyalah. Gimana gue gak tidur jam 2 jam 3. Orang mulainya juga baru jam 9 jam 10”

“anjrit. Bener banget dong. Hahaha”

“kedua, kita juga sering mendramatisir pas UTS dan UAS atau praktikum ngerjain laporan terus gak tidur. Padahal, mulainya juga jam berapa.”

“hahahah”, caroline terbahak-bahak

“satu hal lagi, belajar atau ngetik laporan sejam. Istirahatnya dua jam. Kelakuan siapa coba tuh ?”

“hahaha iya banget ya. Terus kita berasa paling menderita sendiri. Merasa gak tidur, terus sensitif. Gak mau diganggu gitu. Orang lain harus memahami kondisi kita”

“iya, gilak kan ? gue bilang juga apa”

“terus ini loh sa, gue ngerasa, dulu hal yang paling bikin stress pas kuliah itu praktikum. Lu ngerasa gak ?” caroline mencoba mencari tahu apa aku sependapat dengannya atau tidak

“iya gue ngerasa”

“kenapa ya sa, apa karena kita hanya punya waktu 3 hari untuk nyusun laporan ?”

“bukan carol, gue rasa karena banyak hal yang diluar kuasa manusia. Disitulah letak stressornya”

“maksud lu ?”

“ya, misalnya kita sudah siap praktikum. Siap OP. Tiba-tiba aja tu OP ngebatalin di detik-detik terakhir. Gilak kan ? terus, gue udah merasa siap buat feedback praktikum. Bawa dong gue laporan-laporan temen sekelompok yang udah difotokopi. Pas feedback mau mulai. Gue menyadari bahwa laporan yang gue bawa Cuma 3. Sisanya gue salah bawa laporan. Praktikum lain. ya maklum lah, udah di titik jenuh dan lelah”

“anjrit. Terus lu gimana sa ?”

“gue pura-pura kalau itu laporan yang di tangan gue emang laporan sesungguhnya. Gue coba perhatiin aja temen-temen gue kasih feedback apa. Ntar gue improvisasi dari situ. Rada masih inget juga sih. Kebetulan malam nya kan udah baca. Biasa, acting”

“hahaha parah banget dong”

“ya. Ntahlah. Dulu hidup kok gitu-gitu amat ya. Kocar kacir di dunia internal sendiri. Hampir putus dengan realitas gitu” kata ku sambil prihatin dengan diri sendiri

“tapi carol, dibalik naas nya hidup kita dulu. Gue bersyukur dan berterimakasih banget sama dosen yang signifikan membentuk cara pikir gue di tingkat akhir. Ya, di KKPP sama skripsi. Di skripsi nuansanya bebas, jadi gue kaya bisa eksplor dan coba kreatif dengan topik dan metode penelitian. Melihat dinamika dalam pengalaman manusia. Tidak ada sistem yang membentuk perilaku, adanya inisiatif untuk eksplor dan minta bimbingan sendiri. Di KKPP, gue belajar hidup dengan sistem kerja. Power point harus kirim ke dosen setiap hari apa maksimal jam berapa. Dasar teori harus jelas, analisa harus tajam dan susunan laporan dan cara berpikir sistematis. Sampe kostum pun dulu gue diatur kan. Tp tingkat akhir was really amazing. Setelah terlalui, baru menyadari bahwa bisa melalui 2 pola belajar itu. dan di dunia kerja, ternyata gue hidup dengan kombinasi pola keduanya. In coorporate world, you had better create system as well as live in established system”

“ya sih, gak semuanya ya. hal yang kita lalui itu konyol”

“eh, by the way, how is Roy ? dia ambil S2 psikologi industri organisasi kan ? kayanya gue perlu ngobrol banyak sama dia”

“Roy sibuk sa, sama kaya dulu dia S1 aja. Suka berorganisasi juga kan”

“hahaha. I see. Bukan satu species ya. kita sih, kuliah biasa juga udah lelah. Pulang, terus tidur. Kind of useless. Ya mungkin karena orang-orang yang aktif seperti species mereka adalah orang yang punya need of power dan affiliasi, belum lagi energi psikis yang berlebih dan mereka merasa charging kita bersama orang lain. not kind of us, kecenderungan introvert dan mencari ketenangan”

“beuh, bener banget tuh. Kalopun gue ikut rapat-rapat gitu. Cuma fisik gue doang yang ada. Psikis gue bawaannya udah pengen pulang. Sembari di rapat itu lagi coba memaksa pesertanya mengeluarkan pendapat. “ayo keluarkan ide, keluarkan ide", tapi gue hanya bisa memberi tatapan kosong”

“hahaha. I’m really happy right now. Thanks ya. kayanya gue menemukan jawabannya, imajinasi. Di dunia kerja gue tidak bisa berimajinasi dan tidak punya teman untuk itu. selalu saja berpikir realistis. Padahal imajinasi itu perlu”

“iya sih, sayang rachel gak bisa dateng. Imajinasi dia juga liar. Pantes kita adalah segitiga bermuda. Ketika kita duduk berdekatan di kelas. Pasti ada aja kita ditegur dosen, karena kehadiran psikis kita tidak di kelas. Terlalu banyak imajinasi”

“oia carol, apa.. di kehidupan lu saat ini, khususnya kuliah S2, lu menemukan peer group atau teman satu species”

“ I don’t think so, sulit rasanya.”

“individual ya ? ya, sama aja kaya gue di kantor. Pertememanan sebatas rekan kerja, tidak deep, tidak attach. Nampaknya gue menemukan jawaban satu lagi. attachment. Terjawab sudah rasa yang hilang dan gue rindukan itu apa. Imajinasi dan attachment. kita tidak terkoneksi dengan orang-orang tertentu secara mendalam”

“ya gue rasa juga gitu”

“thanks anyway”

“eh sa, lu jadi ngopi film ? ayolah. Selain berbagi pengalaman mungkin lu juga dapet film dari gue” kata caroline terdengar memaksa

Bandung, 6 Desember 2015
Irsa Ikramina

Sunday, October 25, 2015

Pulang

Suatu hari di toilet kantor. Aku membasuh wajah dengan air di washtafel. Lalu aku memandang refleksi diriku sendiri di cermin.

“oh, aku masih hidup dan masih menjadi aku”, ucap ku dalam hati
.
Seseorang yang jabatannya lebih tinggi 2 level dariku baru saja membunuh karakter ku. Lalu aku menyadari suatu hal. Pembunuhan karakter tidak akan membuat aku mati ternyata dan tidak akan membuat aku melupakan diri ku sendiri. Jadi buat apa ada orang yang selalu membunuh karakter orang lain ?

Orang-orang inferior memang umumnya akan membunuh karakter orang lain, untuk membuat dirinya superior. Sedangkan orang yang dibunuh karakternya agaknya memang harus bersyukur, karena ia berada pada posisi yang menguatkan dan membangun karakternya sendiri.

Dalam dunia keja seperti ini, yang perlu di sadari bahwa kita tidak hanya belajar soal KPI, SOP, analisa, data, presentasi, improvement, audit, product knowledge, dll.  Itu remeh sesungguhnya. Tp karakter dan mental seseorang yang akan menentukan kematangan juga harus selalu dibangun. Ya aku rasa, aku memang memerlukan peran-peran antagonis yang membunuh karakter dalam skenario hidup ku saat ini. Tentu saja untuk membentuk mental dan karakter yang lebih matang.

Hidup memang tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya, sesuai keinginan dan wacana. Karena memang manusia terlalu sok tahu atas apa yang baik bagi kehidupannya dan terlalu sering berkhayal menjauh dari kenyataan dengan melukiskan wacananya sendiri.

Aku tersenyum pada refleksi diriku sendiri, meyakinkan diriku sendiri bahwa semua ini baik-baik saja.

Aku keluar toilet. Kembali ke ruang kerja. Di meja kerjaku ada buku.

Nasib Manusia.

Judul buku yang aku pinjam dari rumah buku. Karya seorang temanku, Syarif Maulana. Mengisahkan perjalanan hidup Pak Awal Uzhara, yang menuntut ilmu perfilman di Rusia, kemudian tidak bisa pulang karena dicurigai ada kaitan dengan G30S PKI pada masa itu. Bahkan kewarganegaraan Indonesianya dicabut sehingga ia stateless (tidak memiliki kewarganegaraan). Nasibnya terkatung-katung selama 50 tahun di Rusia dengan impian bisa pulang ke tanah air.

Cerita ini agak menohok, setidaknya bagi ku pribadi. Bahwa hal yang sederhana direncanakan manusia, yaitu sekolah di luar dengan beasiswa lalu pulang ke tanah air. Menjadi tidak sederhana lagi.

Aku menjadi banyak berpikir soal kenyataan, nasib dan pilihan hidup.

Seperti aku, aku tidak memilih berada di ruangan ini, ditanyai ini itu oleh staff ku dan di suruh ini itu oleh atasan ku. juga, saat pekerjaan sedang memenuhi kehidupan ku. aku sangat rindu sekali untuk pulang. Pulang ke tempat aku merasa pulang bersama seniman-seniman lainnya. Tidak sulit bagi aku dan mereka untuk saling dekat dan bicara dari hati ke hati, juga menyikapi soal hidup. Aku merasa seperti dilahirkan dari rahim yang sama.

Tapi di sini, di tempat kerjaku saat ini. Pekerjaan sederhana saja bisa menjadi pelik. Dengan dasar dan alasan yang tak pasti. Kelakuan kelakuan manusianya pun melampuai batas nalar. Ya, meskipun tak semua dan tekecuali tim ku.

Aku sedikit mengasosiasikan hidup ku dengan Pak Awal, kami sama-sama rindu ingin pulang. Hanya saja tempat aku pulang lebih abstrak dan Pak Awal lebih konkret.
ketika jam solat tiba, aku pergi ke musola. sambil jalan ke musola, aku ingat kata atasan ku padaku, “ya kalau itu kehidupan yang kamu inginkan, maka persiapkanlah untuk itu”. ya, maksud atasan ku adalah aku harus siapkan darimana penghasilanku dsb kalau aku mau hijrah ke dunia tempat aku merasa pulang itu.

oia, aku sebetulnya bukan pemeluk islam yang taat secara praktek ibadah. Tapi aku spiritualis. Aku percaya Tuhan, aku yakin Tuhan, aku banyak bicara dengan Tuhan. Aku tidak paham soal agama terlalu dalam, tapi bertahun-tahun di sekolahkan di sekolah islam, membuat aku selalu menggunakan juga kacamata islam dalam setiap permasalahan hidup yang aku alami.

Tunggu dulu.. jadi sebetulnya pada hakikatnya aku  mempersiapkan diri untuk pulang ya ? ah, iya, bukankah hidup memang seperti itu adanya. Mempersiapkan diri untuk pulang secara lebih hakiki dalam artian, ke kampung akhirat.
Kalau ditafsirkan secara lebih dalam, aku dan Pak Awal mengalami perasaan yang memang merupakan fitrah manusia, yaitu kerinduan untuk pulang kepada yang menciptakan.


Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 25 Oktober 2015
Irsa Ikramina


            

Friday, February 20, 2015

aku dan industri

         Tidak terasa, sebulan sudah aku menempa diri di dunia industri. Dunia yang menuntut serba cepat, rasional, sistematis serta prosedural. Ya tentu saja hal tersebut menggerus kepekaan emosi dan afeksi terhadap manusia. Behavioristik menekan humanistik. Meskipun dunia industri menempa soft skill dan kompetensi, tapi di saat yang bersamaan, di sisi lain, ada nilai, etik dan idealisme profesi yang tersudut. Memahami manusia dengan menggunakan kacamata kepentingan korporasi, bukan memahami eksistensinya.
            Sampai detik ini, aku mempersepsi diri ku bahwa aku belum berjiwa industri, bahkan aku belum memilikinya. Mungkin karena aku terlalu berpegang teguh pada nilai-nilai profesi. Ntahlah, industri di mata ku tetap saja, “terlalu” rasional. Banyak hal yang aku lihat, aku dengar, aku alami tidak sesuai dengan hati ku. Banyak juga tuntutan dari pekerjaan ku yang membuat aku mengalami konflik super ego. Berapapun lamanya aku hidup di industri. Aku hanya selalu mengingatkan diri ku, bahwa apa yang aku tampilkan pada setting industri hanyalah sebatas peran dan tuntutan kerja, aku tidak ingin menginternalisasi begitu dalam nilai-nilai industri sampai merubah kepribadian dan cara pandang ku seperti manusia manusia yang telah terlalu dalam terbentuk oleh industri. Cukup sebatas menempa diri untuk meningkatkan skill dan knowledge. Yah, mungkin juga sedikit mental, karena harus menghadapi berbagai macam orang yang... ntahlah.. sulit ku jelaskan.
            Atasan langsung ku terus terang saja sangat industrial mindset, didukung oleh latar belakang pendidikan yang lebih tinggi dan sesuai bidangnya, jabatannya, serta memang kompetensi manajerialnya yang telah terasah dari pengalaman kerjanya. Menurut ku ia atasan yang sangat baik hatinya, tapi terlalu rasional dan sanguinis sehingga mungkin sepertinya agak kesulitan memahami duniaku yang banyak melibatkan emosi, afeksi, estetika, deep emphathy dan juga idealisme profesi. Itu sebabnya ia bilang aku tukang galau, padahal kenyataanya memang aku tidak serasional dirinya. Ia sabar karena ia berusaha memahami duniaku yang sangat jauh dari industri. Karena kalau ia mau, bisa saja ia mendepakku selepas masa percobaan ini, lantaran aku adalah manusia yang sulit dipahami. Tapi aku rasa ia tidak akan menyerah. dalam hal pekerjaan, ia tidak pelit ilmu, kapan pun dan apapun aku bertanya ia ajarkan. Ini salah satu alasan aku bertahan di industri. Mungkin memang Tuhan ingin aku belajar sesuatu di sini. Tuhan memberi aku mentor. Terus terang saja aku ngos-ngosan, mengikuti ritmik kerjanya yang lari sprint sementara aku tipe pelari marathon. Tapi selama Tuhan memberi kesempatan belajar ini, akan aku coba ikuti meskipun berdarah-darah. Ia berlari maka aku ikut lari, ia jalan aku akan mendampinginya, ia diam aku akan menemaninya.

Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 9 Februari 2015
Tengah Malam, pukul 00.27 di rumah atasan langsung ku.
Menjelang dinas bersama geng dept.head.
Irsa Ikramina