aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku. terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.
sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.
Yesterday, I woke
up in the morning with sadness, but today I wake up with happiness. I ask to my
self, what kind of life is this? Full with up and down. Sometimes i’m exhausted
with all of those things. In fact, this is what is called life. I have lived in
this world for 20 years, in the same time I have been trying to understand my
self and my life.
I
like to tell someone my life story, but I think it’s difficult to find someone
who will listen to me everytime, so i decided to write it. Actually, that was
not my idea, it was my friends idea. They,
my senior and my best friend, suggested that I write everything what I feel and
I think. My best friend said that she was writting because she wanted to share
life lessons to many people, so I could try it as in her opinion I had skill to
do it. On the other hand, my senior wrote a note for me to keep writting all
things from my mind and my heart. Unfortunately, they haven’t known that I have
started to write since a few months ago. I intend that they don’t have to know
because I think my writting is not appropriate to be showed not only to them but
also to many people. But it doesn’t matter if people wanna visit this blog. I just
don’t wanna share it by my self. That’s why i don’t publish it after i have
written, like most people do. Futhermore, i don’t care how many my page views
and who has visited my blog.
Talking
about writting and life, it reminds me the book that I borrowed from my senior.
I didn’t borrow it actually, probably I stole it, because i haven’t given it
back to her and I won’t maybe. 9 Summers
and 10 Autumns, based on true story, tells about pursuing dreams, using no
limitation as limitation, and struggling. This book is so inspiring for me, this
holiday I wanna read it again after last holiday I had already read it. That’s
why I probably won’t give it back to her. someday, when I am at the highest
achievement in my life, I will write my life story like Iwan Setyawan did. I wanna
share to many people about my life journey. I hope it will inspire many people
like i am imspired. In addition, perhaps I will tell a big secret that
everybody knowing me haven’t known about that. So that I am not mis-understood by
people who just know a little part of me and in the end they can understand for
what I have done and what I have treated to them so far.
aku menyimpan
beberapa rahasia besar dan hanya pada malam yang sepi dan panjang, aku bisa
membebaskan mereka
hari ini ada hal yang mengingatku pada kota
asalku. Aku memang terlahir di Jakarta, namun aku tidak tinggal di Jakarta. Sebut
saja “Jakarta coret”. Ya, kota pinggiran Jakarta. Aku dibesarkan di kota
tersebut. Banyak memori yang masih aku ingat hingga saat ini, baik mengenai
keluarga, teman, sekolah, sahabat. rasanya semua tidak begitu saja luput dari
ingatanku walaupun sekarang kehidupanku begitu menyita seluruh energi psikis. Kadang
ingatan-ingatan itu terlintas begitu saja di kepalaku dan ada suatu perasaan
yang sulit aku jelaskan ketika mengingatnya.
Kehidupan
remajaku pada saat di kota itu sama seperti remaja pada umumnya, bisa dikatakan
memang seperti itu tahapan perkembangannya, stress
and storm dan mencari jati diri. Di rumah aku sulit diatur, kakak yang
egois dan suka menyuruh-nyuruh adik, sering menyendiri di kamar, lebih mendengarkan
apa kata teman-teman daripada orang tua. Di sekolah, aku bukan star aku juga bukan underdog. Ya, bisa dikatakan aku netral, tidak masalah bagiku
berteman dengan siapapun, hanya saja aku sudah memiliki peer group yang aku sudah merasa nyaman. Aku tidak menonjol dalam
akademik, kecuali pada saat kelas 3 SMP dan 1 SMA. pada dasarnya aku tidak suka
menonjolkan diri, tapi karena waktu itu aku punya group musik, kadang aku tampil di beberapa acara sekolah. Awal masa
SMP aku juga sempat bergabung dalam tim basket untuk bertanding sana-sini. Tapi
itu hanya cerita klasiknya.
Dulu
aku punya peer group yang sudah aku
anggap sebagai keluarga, jumlahnya sekitar 6 hingga 7 orang. Kedekatan kami
tidak cukup hanya di sekolah, salah satu temanku dari peer group itu sudah diperbolehkan membawa kendaraan pribadi. Kemanapun,
kita selalu bersama. Tidak mintapun, kadang aku dijemput ketika memang akan
pergi bersama. Ini adalah salah satu memori yang paling mudah kuingat. Kadang kita
pergi seharian, hanya ingin menikmati kota Jakarta. Ke pasar Senen untuk
membeli barang-barang, ke mangga dua untuk mencari baju, mencari roti bakar Eddie
di malam hari, hingga waktu itu pernah perjalanan di akhiri di monas pada saat
malam hari. Ya, hanya sekedar menatap monas, melihat lalu lalang mobil di dekat
Gambir, dan berbincang bersama. Kadang, kita tidak menghabiskan waktu seharian.
Namun pergi dari sore untuk pergi ke mall.
Aku ingat, yang paling sering dikunjungi adalah Pondok Indah Mall, karena
ketika berada disana, pasti saja bertemu teman-teman yang lain. Aku dulu tidak terlalu memperhatikan masalah
akademik, kecuali kelas 3 SMP ketika akan menghadapi Ujian Nasional.
Kehidupanku
sedikit ada perubahan ketika naik ke kelas 1 SMA, aku sudah tidak terpaku pada peer group itu lagi karena memang ada
yang berganti sekolah dan banyak teman baru dari luar. Ya, karena memang
sebagian besarnya diisi lagi oleh anak-anak dari SMP sekolah tersebut. Kelas 1
SMA, aku tidak peduli dengan akademik, tapi aku masih bertanggung jawab. Jika ada
tugas aku kerjakan, jika pekan ulangan aku belajar. Hanya saja aku tidak menggebu
seolah memiliki need achievement yang
tinggi. Tapi tanpa disengaja ternyata aku bisa berprestasi walaupun mungkin
jajaran guru agak bingung, karena perilaku yang aku tampilkan kontradiktif
dengan hasil akademik. Aku sering tidur di kelas, tidak memperhatikan
pelajaran, terlambat masuk kelas, mengobrol saat pelajaran, dan sulit diatur. Di
kelas 1 SMA ini aku mendalami musik di bidang klasik, aku mengambil les gitar
klasik, aku juga les bahasa inggris. Sehingga aku tidak aktif di lingkungan
sekolah.
Aku
punya teman dekat yang sama-sama di tempat les inggris yang sama namun berbeda
kelas di sekolah. Kesamaan minat pada seni, cukup mendekatkan kami. Aku pernah
pergi ke kota tua dengannya, dengan menggunakan bus. Ya, bus trans Jakarta
membawa kami pergi mengelilingi Jakarta untuk mengambil beberapa foto dari
sudut-sudut kota Jakarta. Sisanya, hidupku masih tidak jauh berbeda, malam
minggu masih sering “bergaul” dengan teman-teman yang lain.
Hingga
pada suatu saat, aku merasakan kehampaan. Aku tidak mengerti untuk apa
keberadaan dan eksistensiku. Di saat aku pergi bersama teman-teman di malam
minggu, aku malah merasa tidak nyaman. Pikiranku seolah tidak berada di sana. Hingga
akhirnya, aku memutuskan untuk menjadi anak rumahan. Dan ternyata cukup menyenangkan,
aku menikmati kebersamaan dengan adik-adik di rumah yang selama ini aku sudah
lewatkan. Menaiki kelas 2, aku masih meragukan eksistensiku dan malah menjadi
menganggu kemampuan adjust. Aku merasa
sangat tidak nyaman.
Pada
akhirnya, aku yang masih berusia 16 tahun, memutuskan untuk
berhijrah
ke Bandung. Aku ingin mencari “kehidupan yang sesungguhnya”.
Persetujuan
dari mama tidaklah cukup, aku harus berbicara kepada papa. Dan ini yang agak sedikit
merepotkan bagiku. Kadang sosok papa agak sedikit kaku dan sulit dimengerti,
sehingga selalu mempengaruhi komunikasi yang ada. Mungkin papa terlalu genius,
sehingga punya pemikiran-pemikiran yang original
dan sulit dimengerti orang lain.
Aku
: “aku mau pindah sekolah di Bandung”
Papa:
“buat apa?”
Aku:
“aku ngerasa aneh, aku gak ngerasa menikmati hidup. Aku gak kaya temen-temen
yang lain. Aku pengen cari kehidupan yang membuat aku nyaman”
Papa:
“gak masuk akal”
-----hening-----
Papa:
“kamu tau hidup untuk apa?”
Aku:
“ya jalanin aja”
Papa:
*tersenyum sinis dan meremehkan* kamu harus tau hakekat hidup itu apa nak. Buat
apa irsa hidup, itu harus tau.”
Aku:
“.............”
Papa:
“oke, papa izinkan kamu sekolah di Bandung. Tapi kamu harus mencari tau. Apa itu
hakekat kehidupan”
Aku tidak
mempedulikan pesan papa pada saat itu, yang penting aku pindah ke Bandung.....
Ya,
akhirnya aku bersekolah di Bandung, itu juga dengan proses yang banyak di
mudahkan. Sekolah yang aku akan masuki termasuk 5 terbaik di Bandung. Aku harus
melalui seleksi, tes dan wawancara. Aku juga punya beberapa saingan pada saat
itu. Tapi nampaknya Tuhan memang memiliki maksud untuk meng-hijrahkan aku ke
Bandung. Sehingga segala prosesnya menjadi banyak kemudahan.
Bulan-bulan
pertama sekolah menjadi berat bagiku, semua yang aku bayangkan hanya
fatamorgana. Karena aku harus berhadapan dengan cultural shock , bahasa sunda, sekolah negeri yang aku rasakan
sangat jauh berbeda dari sekolah swasta yang selama ini jadi sekolahku, jarak
antara rumah dan sekolah yang begitu jauh harus aku tempuh selama 1 jam. Semua menjadi
sulit bagiku.
Memasuki
kelas 3 SMA, semua menjadi tidak terasa lagi olehku. Karena aku sudah menemukan
teman yang nyaman, selain itu yang terpikirkan adalah UAN dan akan berkuliah
dimana nantinya. Dari semenjak pindah aku memang melanjutkan lagi di institusi
yang sama untuk les musik dan bahasa inggris di Bandung sehingga pada saat
kelas 3 aku menambah bimbingan belajar, hari-hariku menjadi padat, dan dengan
begitu saja aku lupa dengan kesulitan-kesulitanku dalam proses adaptasi.
Selama awal 2 tahun aku di Bandung itulah yang
cukup merekonstruksi ‘aku’. Ketika kelas 2 aku menjadi orang baru, tidak ada
yang mengenalku. aku lebih banyak berbicara pada diriku sendiri, masa-masa
sulit dan berat aku coba dekatkan pada Tuhan. Ritual-ritual ibadah tidak aku
tinggalkan. Meski mudah saja untuk ditinggalkan semestinya. Ya, karena aku
sudah tidak lagi bersekolah di sekolah Islam. Tapi ternyata aku kehilangan
budaya dan ritual Islam yang selama ini diterapkan di sekolah lamaku. dari
kecil aku memang di sekolahkan di sekolah Islam dan ketika aku keluar dari zona
itu. Aku jadi dapat melihat jelas sampai sejauh mana batasan yang dimiliki
diriku, sebagai ego conscience dan
ego ideal. Kesadaran spiritual pun menjadi lebih meningkat.
Menaiki
kelas 3, kesibukan les ku tidak menghalangi aku untuk bertafakur mencari tau
apa hakikat hidup yang papa maksudkan. Untung saja, di tempat bimbingan belajar
itu antara guru dan murid tidak ada batasan. Setahun bersama, mereka menjadi seperti
keluarga. Beberapa guru yang dekat denganku sangat berpengaruh dalam hal ini. Pandangan-padangan
mereka mengenai kehidupan memudahkan aku menemukan hakikat hidup yang aku cari
selama ini. Hidupku menjadi lebih bermakna.
Tidak
terasa olehku, aku sudah di Bandung selama kurang lebih 4.5 tahun. Aku yang
sekarang hampir memasuki semester 6 dalam bidang psikologi, sangat bersyukur
jika aku mengingat live event hijrah
ini. Terlebih selama aku di psikologi, aku juga belajar memahami diriku
sendiri, memahami orang lain dan tentu saja aku padu padankan dengan
spritualitas dan pemaknaan kehidupan yang aku peroleh selama 2 tahun itu. Aku juga
tidak pernah menyangka sebelumnya kalau aku harus bergelut di dunia psikologi. Karena
dulu impianku adalah seni. Aku ingin kuliah perfilman di IKJ, tapi nampaknya
orang tua tidak mengizinkan. Maka dari itu aku ingin belajar ilmu komunikasi
untuk broadcast sebagai kompensasi. tapi
sejauh ini aku pikir not bad. Psikologi
bagaimanapun juga adalah seni, seni memahami manusia tentunya.
Berbicara
soal hijrah, dulu aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk kembali lagi ke
Jakarta. Tapi ternyata aku sudah terlanjur mencintai Bandung dengan segala
perjalanan yang aku tempuh. Bukan berarti, aku akan tinggal selamanya di
Bandung dan tidak akan pernah kembali ke Jakarta. Tidak lama lagi aku akan
lulus kuliah, dan menghadapi episode kehidupan yang baru dan mungkin lebih
menantang. Untuk itu sekarang ini aku persiapkan diriku untuk berhijrah lagi. Lalu
kemana aku akan berhijrah? Insya Allah ketempat yang lebih baik, dimana setiap
hijrah bisa mendekatkan aku pada-Nya, lebih bermakna tidak hanya untuk aku tapi
juga untuk orang lain.
Pagi ini aku bangun dengan datar-datar saja. Seharusnya
memang aku berperilaku seperti biasanya. Ya, karena kemarin adalah hari
terakhir UAS, jadi seharusnya aku memasuki episode manik. Beli DVD, belanja
makanan ringan, beli atau pinjem buku, dan merealisasikan jani-janji main
dengan teman. Tapi kali ini berbeda, bahkan aku tidak ingat kalau kemarin baru
saja mengerjakan soal dinamika kepribadian dengan “melayang”, mungkin bisa
digambarkan seperti dibawah pengaruh obat-obatan. Terang saja, soalnya selalu
membuat ingin melaksanakan salat taubat setelahnya.
aku
pagi ini malah merenung, bukan masalah karena kemarin adalah hari terakhir UAS.
Tapi lebih pada “berarti sebentar lagi adalah semester 6 ya?” miris, rasanya 5
semester di psikologi belum cukup apa-apa. Membenahi diri saja belum terbenah. Mungkin,
karena memang konflik-konflik intrapsikis belum mereda sejauh ini. Tapi di sisi
lain, banyak hal unik dan lucu yang aku alami bersama teman-teman di psikologi.
Kadang aku sampai berpikir, “seperti ini calon-calon yang akan membenahi kehidupan
orang lain?”. Kalau biasanya aku
bercerita mengenai significant person dan
orang-orang penting dalam hidup. Kali ini aku menaruh perhatian pada
orang-orang yang aku tempatkan hanya di lapisan terluar, tapi mereka begitu
memberi warna pada kehidupan. Aku tidak menyangka kalau aku tidak bersama
mereka. Hidupku mungkin akan sama seperti dunia internalku, “warna akromatik”. Hari
ini, aku bersyukur karena Tuhan memberikan warna-warna dalam kehidupanku.
Beriringan
dengan rasa syukur itu pula, nampaknya daerah pribadi ku sedang berlokomosi
secara tidak realistis. Kata lewin, realita dan tidak realita itu kontinum. Ya,
aku sedang menerawang jauh, kelak aku berada disuatu tempat dan melakukan hal
yang sama, yaitu ketika aku berada disuatu titik kehidupan dan aku menyadari
bahwa perjalananku sudah begitu jauh aku lalui. Aku bersedih tapi aku juga
bersyukur mengenai semua yang telah aku lalui.
Rasa
syukur rasanya aku sudah tidak dapat menuliskan dengan kata-kata lagi mengenai
apa saja yang telah Tuhan berikan dalam kehidupan. Bersedih? Ya, mungkin karena
konflik-konflik intrapsikis yang belum juga mereda itu. Mungkin aku akan
sedikit bercerita mengenai apa yang aku hayati sebagai kesedihan itu.
Aku
pikir kesedihan itu tidak akan dirasakan begitu dalam kalau saja, boundaries yang ada dalam ruang hidup adalah
permeable. Konsepnya sederhana saja
sebetulnya, kebutuhan yang ada dalam cell
menuntut daerah pribadi untuk berlokomosi menuju region yang bervalensi
positif. Tapi pada kenyataannya, daerah pribadi tidak akan dengan lancar
berlokomosi ke region-region yang
bervalensi positif. Boundaries yang
ada begitu tebal untuk bisa ditembus. Disinilah titik letak ketidaksederhanaannya.
Sementara Tension yang ada harus
dapat aku redakan selama aku tidak bisa sampai pada region yang dituju. Beginilah kebanyakan kasus dalam kehidupan,
kadang orang bukan tidak bisa melihat apa solusi dari masalahnya. Hanya saja,
perjalanan menuju solusi itu yang menjadi tidak mudah untuk diselesaikan.
setiap orang pasti pernah merasa kehilangan. Kehilangan
orang yang dicintai, kehilangan status, atau apapun yang dianggap berharga. Aku
sendiri tidak bisa menjelaskan apa itu kehilangan. Tapi aku tahu rasanya.
Kehilangan
pada dasarnya memiliki tarafnya tersendiri. Semakin berharga sesuatu yang
hilang itu, akan semakin tinggi derajat kehilangan yang dirasakan. Jadi itu
semua tergantung bagaimana seseorang memberi makna pada apa yang hilang
tersebut. Apalagi hal tersebut sudah sangat menyentuh aspek emosi. Proses penyesuaian
terhadap kehilangan tidak akan menjadi
sederhana lagi. Itu sebabnya orang kadang menjadi tidak rasional ketika harus
dihadapkan pada kehilangan. Mungkin kalau barang, masih bisa dibeli lagi. Tapi jika
seseorang yang pernah mengisi ruang kekosongan hidup yang akan menjadi lebih
sulit untuk dilepaskan.
Aku
jadi tidak heran dan akan lebih empati pada orang yang merasa kehilangan seseorang
yang dianggap penting dalam hidupnya. Kadang yang membuat sedikit lucu adalah
ketika orang itu menyadari kenapa ia harus merasakan kehilangan yang teramat
dalam. Hal ini juga pernah aku alami tentunya, sehingga aku akan lebih memahami
orang lain ketika dihadapkan pada hal yang sama. Ya, pada dasarnya tanpa
disadari kita memberi makna pada orang-orang yang hadir dalam hidup kita. Caranya
adalah dengan memberikan mereka posisi. Sebagai teman jauh, teman dekat,
sahabat, pacar, “kakak”, “adik” atau apapun itu. Sehingga semakin dalam mereka ditempatkan dalam lapisan penetrasi
sosial kehidupan kita, maka akan semakin besar derajat kehilangan yang
dirasakan.
Pada
kasus-kasus tertentu, kadang hal ini bisa menjadi serius jika berkepanjangan dan
apabila yang dihayati sebagai kehilangan itu berperan sebagai social support. Kehilangan teman yang
sekedar kenal saja, akan menjadi sangat berbeda apabila kehilangan teman yang
menjadi social support. Kehilangan memiliki
skor stressnya sendiri, begitu juga dengan social
support, yang memainkan peranan penting bagi orang dalam menyesuaikan diri
dengan stressor yang ada. Itu sebabnya kasus-kasus depresi tidak hanya digali
soal bagaimana coping orang tersebut
terhadap permasalahan, tapi bagaimana juga social
support-nya.
Tapi
mungkin yang perlu diingat bahwa, dalam kehidupan ini tidak ada yang selamanya
dapat mendampingi dan berada di sisi kita. Tidak ada yang abadi di dunia ini
kecuali Tuhan. Tuhanlah yang akan selalu menemani dan tidak pernah meninggalkan
kita. Bukan berarti pemaknaan terhadap orang-orang yang hadir dalam hidup ini
menjadi tidak boleh dan bukan berarti social
support juga menjadi tidak penting. Hanya saja, cara pandangnya mungkin
yang harus sedikit dirubah. Tuhan mengirimkan orang-orang pilihan-Nya untuk
menjadi bagian dari hidup kita, dan dipilih oleh-Nya siapa-siapa yang pantas
menjadi social support. Itu sebabnya
manusianya yang menjadi tidak kekal. Mereka bisa datang dan pergi, silih
berganti. Memang ada yang pernah mengatakan padaku, “mungkin kelak aku tidak
akan tergantikan dengan posisi orang lain dalam hidupmu”. Setiap kali aku
mengingatnya, aku menjadi tersenyum. Pada dasarnya, bagiku tidak ada siapa yang
menggantikan siapa. Semua yang hadir dalam kehidupanku akan memiliki posisinya
tersendiri tidak ada pergantian tempat. Tidak akan ada yang bisa menggantikan
siapa dengan siapa. Dan aku akan men-treat
sesuai dengan apa yang mereka treat
padaku sesuai porsi dan posisinya. Dan ketika mereka tidak ada disampingku
lagi, itu tidak merubah penghayatanku sedikitpun. Posisinya akan tetap sama dan
ada. Hanya saja, memang mungkin Tuhan mengaturnya seperti itu. Sudah selesai
tugasnya untuk mendampingiku dalam episode kehidupan kali ini..
rasanya ini bukan untuk pertama kalinya lagi aku
mendengar kasus anak yang tidak berhasil mencetak prestasi yang memuaskan,
walaupun pada kenyataannya mereka memiliki kapasitas kecerdasan yang tinggi,
baik secara hasil IQ atau prestasi yang telah berhasil mereka cetak dalam
perjalanan pendidikan. Tapi tiba-tiba saja setelah mereka menaiki jenjang
berikutnya, kecerdasannya seperti tidak teraktualisasikan. Lalu dimana letak
kesalahannya?
Seperti
yang telah aku pelajari di psikologi mengenai kecerdasan, ternyata definisi kecerdasan sesungguhnya begitu luas dari yang
hanya diartikan dalam kehidupan sehari-hari. Cerdas yang dimaksud dalam kehidupan
sehari-hari kadang hanya dikaitkan dengan prestasi yang dicetak di sekolah atau
di kampus. Nampaknya belum banyak orang yang paham mengenai apa itu kecerdasan.
Dikaitkan
dengan kasus diatas, maka data yang harus diperoleh adalah bagaimana peran
orang tua dalam mengarahkan anak-anaknya dalam perjalanan pendidikan yang
ditempuh. Kebanyakan dalam kasus-kasus seperti itu adalah karena orang tua salah mengartikan kecerdasan dan apa yang
dijadikan sebagai tolak ukurnya. Aku perhatikan bahwa biasanya orang tua
mengaitkan kecerdasan dan kesuksesan dengan yang berbau eksak. Itu sebabnya
kadang IPA menjadi sesuatu yang harus dapat ditempuh anak-anak. hal ini memang
tidak luput dari labeling masyarakat
dan lingkungan pendidikan yang tidak berhasil meluruskan bahwa IPA dan IPS itu
bukan untuk membedakan kecerdasan dan prestasi tapi untuk membedakan bidang apa
yang ingin difokuskan. Memang tidak semua sekolah dan lingkungan pendidikan
yang beranggapan bahwa IPS itu adalah kelas buangan untuk anak-anak yang naik
kelas bersyarat dan tidak berprestasi. Tapi tentu tidak sedikit tentu yang masih
memiliki paradigma seperti ini. Aku adalah yang termasuk menjadi korban labeling ini. Bersekolah di sekolah
swasta pinggiran kota Jakarta dan mengambil IPS tidak ada yang menjadi masalah,
namun ketika aku harus berpindah dipertengahan kelas 2 ke kota Bandung di
sekolah negeri dan tetap di jalur IPS, aku jadi memiliki posisi yang tidak
sengaja jadi dibedakan di masyarakat. Kadang labeling ini pada taraf tertentu menjadi teinternalisasi begitu
dalam terhadap seseorang. Ya, aku jadi merasa inferior ketika harus masuk
jurusan psikologi di jenjang pendidikan universitas.
Mungkin
yang perlu diingat bahwa, kecerdasan (jika mengacu pada teori Rudolf Amthauer) pada
dasarnya memiliki corak tersendiri. Apakah itu fleksibel-non-eksak dan apakah
itu eksak-mantap, sehingga hal ini nantinya yang akan menentukan apakah
seseorang cocok dibidang sosial atau sains.
Hal
lain yang perlu dibahas adalah bahwa orang tua mungkin kurang tepat menggunakan
tolak ukurnya. Bagi orang tua yang dulunya sangat berprestasi mungkin jadi
sangat menuntut anak untuk bisa seperti dirinya baik di bidang yang sama, atau
di bidang yang lebih darinya. Bagi orang tua yang merasa ‘gagal’, maka mereka
akan menuntut ke anak untuk dapat memenuhi obsesinya di masa lalu. Hal ini
sering terjadi tanpa mempertimbangkan kapasitas serta kekurangan dan kelebihan
anak dalam kecerdasannya. Jadi menjadi sangat wajar, ketika kecerdasan yang
dimiliki anak tidak diperhatikan dan dipertimbangkan sebagai kelanjutan ke
jenjang pendidikan yang selanjutnya, menjadi tidak teraktualisasikan dengan
optimal. Maka pada hakikatnya tugas orang tua adalah untuk mengetahui potensi kecerdasan
baik kekurangan dan kelebihannya untuk selanjutnya dikembangkan.