aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Saturday, January 28, 2012

me, writing, and stolen book


Yesterday, I woke up in the morning with sadness, but today I wake up with happiness. I ask to my self, what kind of life is this? Full with up and down. Sometimes i’m exhausted with all of those things. In fact, this is what is called life. I have lived in this world for 20 years, in the same time I have been trying to understand my self and my life.
            I like to tell someone my life story, but I think it’s difficult to find someone who will listen to me everytime, so i decided to write it. Actually, that was not my idea, it was my friends idea.  They, my senior and my best friend, suggested that I write everything what I feel and I think. My best friend said that she was writting because she wanted to share life lessons to many people, so I could try it as in her opinion I had skill to do it. On the other hand, my senior wrote a note for me to keep writting all things from my mind and my heart. Unfortunately, they haven’t known that I have started to write since a few months ago. I intend that they don’t have to know because I think my writting is not appropriate to be showed not only to them but also to many people. But it doesn’t matter if people wanna visit this blog. I just don’t wanna share it by my self. That’s why i don’t publish it after i have written, like most people do. Futhermore, i don’t care how many my page views and who has visited my blog.
            Talking about writting and life, it reminds me the book that I borrowed from my senior. I didn’t borrow it actually, probably I stole it, because i haven’t given it back to her and I won’t maybe. 9 Summers and 10 Autumns, based on true story, tells about pursuing dreams, using no limitation as limitation, and struggling. This book is so inspiring for me, this holiday I wanna read it again after last holiday I had already read it. That’s why I probably won’t give it back to her. someday, when I am at the highest achievement in my life, I will write my life story like Iwan Setyawan did. I wanna share to many people about my life journey. I hope it will inspire many people like i am imspired. In addition, perhaps I will tell a big secret that everybody knowing me haven’t known about that. So that I am not mis-understood by people who just know a little part of me and in the end they can understand for what I have done and what I have treated to them so far.
                                                                                        
aku menyimpan beberapa rahasia besar dan hanya pada malam yang sepi dan panjang, aku bisa membebaskan mereka
9 Summers 10 Autumns, page 120
Iwan Setyawan

Dari aku duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 29.01.2012
Irsa Ikramina

Thursday, January 26, 2012

aku dan hijrahku


           hari ini ada hal yang mengingatku pada kota asalku. Aku memang terlahir di Jakarta, namun aku tidak tinggal di Jakarta. Sebut saja “Jakarta coret”. Ya, kota pinggiran Jakarta. Aku dibesarkan di kota tersebut. Banyak memori yang masih aku ingat hingga saat ini, baik mengenai keluarga, teman, sekolah, sahabat. rasanya semua tidak begitu saja luput dari ingatanku walaupun sekarang kehidupanku begitu menyita seluruh energi psikis. Kadang ingatan-ingatan itu terlintas begitu saja di kepalaku dan ada suatu perasaan yang sulit aku jelaskan ketika mengingatnya.
            Kehidupan remajaku pada saat di kota itu sama seperti remaja pada umumnya, bisa dikatakan memang seperti itu tahapan perkembangannya, stress and storm dan mencari jati diri. Di rumah aku sulit diatur, kakak yang egois dan suka menyuruh-nyuruh adik, sering menyendiri di kamar, lebih mendengarkan apa kata teman-teman daripada orang tua. Di sekolah, aku bukan star aku juga bukan underdog. Ya, bisa dikatakan aku netral, tidak masalah bagiku berteman dengan siapapun, hanya saja aku sudah memiliki peer group yang aku sudah merasa nyaman. Aku tidak menonjol dalam akademik, kecuali pada saat kelas 3 SMP dan 1 SMA. pada dasarnya aku tidak suka menonjolkan diri, tapi karena waktu itu aku punya group musik, kadang aku tampil di beberapa acara sekolah. Awal masa SMP aku juga sempat bergabung dalam tim basket untuk bertanding sana-sini. Tapi itu hanya cerita klasiknya.
            Dulu aku punya peer group yang sudah aku anggap sebagai keluarga, jumlahnya sekitar 6 hingga 7 orang. Kedekatan kami tidak cukup hanya di sekolah, salah satu temanku dari peer group itu sudah diperbolehkan membawa kendaraan pribadi. Kemanapun, kita selalu bersama. Tidak mintapun, kadang aku dijemput ketika memang akan pergi bersama. Ini adalah salah satu memori yang paling mudah kuingat. Kadang kita pergi seharian, hanya ingin menikmati kota Jakarta. Ke pasar Senen untuk membeli barang-barang, ke mangga dua untuk mencari baju, mencari roti bakar Eddie di malam hari, hingga waktu itu pernah perjalanan di akhiri di monas pada saat malam hari. Ya, hanya sekedar menatap monas, melihat lalu lalang mobil di dekat Gambir, dan berbincang bersama. Kadang, kita tidak menghabiskan waktu seharian. Namun pergi dari sore untuk pergi ke mall. Aku ingat, yang paling sering dikunjungi adalah Pondok Indah Mall, karena ketika berada disana, pasti saja bertemu teman-teman yang lain.  Aku dulu tidak terlalu memperhatikan masalah akademik, kecuali kelas 3 SMP ketika akan menghadapi Ujian Nasional.
            Kehidupanku sedikit ada perubahan ketika naik ke kelas 1 SMA, aku sudah tidak terpaku pada peer group itu lagi karena memang ada yang berganti sekolah dan banyak teman baru dari luar. Ya, karena memang sebagian besarnya diisi lagi oleh anak-anak dari SMP sekolah tersebut. Kelas 1 SMA, aku tidak peduli dengan akademik, tapi aku masih bertanggung jawab. Jika ada tugas aku kerjakan, jika pekan ulangan aku belajar. Hanya saja aku tidak menggebu seolah memiliki need achievement yang tinggi. Tapi tanpa disengaja ternyata aku bisa berprestasi walaupun mungkin jajaran guru agak bingung, karena perilaku yang aku tampilkan kontradiktif dengan hasil akademik. Aku sering tidur di kelas, tidak memperhatikan pelajaran, terlambat masuk kelas, mengobrol saat pelajaran, dan sulit diatur. Di kelas 1 SMA ini aku mendalami musik di bidang klasik, aku mengambil les gitar klasik, aku juga les bahasa inggris. Sehingga aku tidak aktif di lingkungan sekolah.
            Aku punya teman dekat yang sama-sama di tempat les inggris yang sama namun berbeda kelas di sekolah. Kesamaan minat pada seni, cukup mendekatkan kami. Aku pernah pergi ke kota tua dengannya, dengan menggunakan bus. Ya, bus trans Jakarta membawa kami pergi mengelilingi Jakarta untuk mengambil beberapa foto dari sudut-sudut kota Jakarta. Sisanya, hidupku masih tidak jauh berbeda, malam minggu masih sering “bergaul” dengan teman-teman yang lain.
            Hingga pada suatu saat, aku merasakan kehampaan. Aku tidak mengerti untuk apa keberadaan dan eksistensiku. Di saat aku pergi bersama teman-teman di malam minggu, aku malah merasa tidak nyaman. Pikiranku seolah tidak berada di sana. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk menjadi anak rumahan. Dan ternyata cukup menyenangkan, aku menikmati kebersamaan dengan adik-adik di rumah yang selama ini aku sudah lewatkan. Menaiki kelas 2, aku masih meragukan eksistensiku dan malah menjadi menganggu kemampuan adjust. Aku merasa sangat tidak nyaman.
Pada akhirnya, aku yang masih berusia 16 tahun, memutuskan untuk
berhijrah ke Bandung. Aku ingin mencari “kehidupan yang sesungguhnya”.
            Persetujuan dari mama tidaklah cukup, aku harus berbicara kepada papa. Dan ini yang agak sedikit merepotkan bagiku. Kadang sosok papa agak sedikit kaku dan sulit dimengerti, sehingga selalu mempengaruhi komunikasi yang ada. Mungkin papa terlalu genius, sehingga punya pemikiran-pemikiran yang original dan sulit dimengerti orang lain.
Aku : “aku mau pindah sekolah di Bandung”
Papa: “buat apa?”
Aku: “aku ngerasa aneh, aku gak ngerasa menikmati hidup. Aku gak kaya temen-temen yang lain. Aku pengen cari kehidupan yang membuat aku nyaman”
Papa: “gak masuk akal”
-----hening-----
Papa: “kamu tau hidup untuk apa?”
Aku: “ya jalanin aja”
Papa: *tersenyum sinis dan meremehkan* kamu harus tau hakekat hidup itu apa nak. Buat apa irsa hidup, itu harus tau.”
Aku: “.............”
Papa: “oke, papa izinkan kamu sekolah di Bandung. Tapi kamu harus mencari tau. Apa itu hakekat kehidupan”
            Aku tidak mempedulikan pesan papa pada saat itu, yang penting aku pindah ke Bandung.....
            Ya, akhirnya aku bersekolah di Bandung, itu juga dengan proses yang banyak di mudahkan. Sekolah yang aku akan masuki termasuk 5 terbaik di Bandung. Aku harus melalui seleksi, tes dan wawancara. Aku juga punya beberapa saingan pada saat itu. Tapi nampaknya Tuhan memang memiliki maksud untuk meng-hijrahkan aku ke Bandung. Sehingga segala prosesnya menjadi banyak kemudahan.
            Bulan-bulan pertama sekolah menjadi berat bagiku, semua yang aku bayangkan hanya fatamorgana. Karena aku harus berhadapan dengan cultural shock , bahasa sunda, sekolah negeri yang aku rasakan sangat jauh berbeda dari sekolah swasta yang selama ini jadi sekolahku, jarak antara rumah dan sekolah yang begitu jauh harus aku tempuh selama 1 jam. Semua menjadi sulit bagiku.
            Memasuki kelas 3 SMA, semua menjadi tidak terasa lagi olehku. Karena aku sudah menemukan teman yang nyaman, selain itu yang terpikirkan adalah UAN dan akan berkuliah dimana nantinya. Dari semenjak pindah aku memang melanjutkan lagi di institusi yang sama untuk les musik dan bahasa inggris di Bandung sehingga pada saat kelas 3 aku menambah bimbingan belajar, hari-hariku menjadi padat, dan dengan begitu saja aku lupa dengan kesulitan-kesulitanku dalam proses adaptasi.  
             Selama awal 2 tahun aku di Bandung itulah yang cukup merekonstruksi ‘aku’. Ketika kelas 2 aku menjadi orang baru, tidak ada yang mengenalku. aku lebih banyak berbicara pada diriku sendiri, masa-masa sulit dan berat aku coba dekatkan pada Tuhan. Ritual-ritual ibadah tidak aku tinggalkan. Meski mudah saja untuk ditinggalkan semestinya. Ya, karena aku sudah tidak lagi bersekolah di sekolah Islam. Tapi ternyata aku kehilangan budaya dan ritual Islam yang selama ini diterapkan di sekolah lamaku. dari kecil aku memang di sekolahkan di sekolah Islam dan ketika aku keluar dari zona itu. Aku jadi dapat melihat jelas sampai sejauh mana batasan yang dimiliki diriku, sebagai ego conscience dan ego ideal. Kesadaran spiritual pun menjadi lebih meningkat.
            Menaiki kelas 3, kesibukan les ku tidak menghalangi aku untuk bertafakur mencari tau apa hakikat hidup yang papa maksudkan. Untung saja, di tempat bimbingan belajar itu antara guru dan murid tidak ada batasan. Setahun bersama, mereka menjadi seperti keluarga. Beberapa guru yang dekat denganku sangat berpengaruh dalam hal ini. Pandangan-padangan mereka mengenai kehidupan memudahkan aku menemukan hakikat hidup yang aku cari selama ini. Hidupku menjadi lebih bermakna.
            Tidak terasa olehku, aku sudah di Bandung selama kurang lebih 4.5 tahun. Aku yang sekarang hampir memasuki semester 6 dalam bidang psikologi, sangat bersyukur jika aku mengingat live event hijrah ini. Terlebih selama aku di psikologi, aku juga belajar memahami diriku sendiri, memahami orang lain dan tentu saja aku padu padankan dengan spritualitas dan pemaknaan kehidupan yang aku peroleh selama 2 tahun itu. Aku juga tidak pernah menyangka sebelumnya kalau aku harus bergelut di dunia psikologi. Karena dulu impianku adalah seni. Aku ingin kuliah perfilman di IKJ, tapi nampaknya orang tua tidak mengizinkan. Maka dari itu aku ingin belajar ilmu komunikasi untuk broadcast sebagai kompensasi. tapi sejauh ini aku pikir not bad. Psikologi bagaimanapun juga adalah seni, seni memahami manusia tentunya.
            Berbicara soal hijrah, dulu aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk kembali lagi ke Jakarta. Tapi ternyata aku sudah terlanjur mencintai Bandung dengan segala perjalanan yang aku tempuh. Bukan berarti, aku akan tinggal selamanya di Bandung dan tidak akan pernah kembali ke Jakarta. Tidak lama lagi aku akan lulus kuliah, dan menghadapi episode kehidupan yang baru dan mungkin lebih menantang. Untuk itu sekarang ini aku persiapkan diriku untuk berhijrah lagi. Lalu kemana aku akan berhijrah? Insya Allah ketempat yang lebih baik, dimana setiap hijrah bisa mendekatkan aku pada-Nya, lebih bermakna tidak hanya untuk aku tapi juga untuk orang lain.

I expect more, actually.
But only God knows the best place for me.

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 27.01.2012
Irsa Ikramina
                       

Aku dan region


           Pagi ini aku bangun dengan datar-datar saja. Seharusnya memang aku berperilaku seperti biasanya. Ya, karena kemarin adalah hari terakhir UAS, jadi seharusnya aku memasuki episode manik. Beli DVD, belanja makanan ringan, beli atau pinjem buku, dan merealisasikan jani-janji main dengan teman. Tapi kali ini berbeda, bahkan aku tidak ingat kalau kemarin baru saja mengerjakan soal dinamika kepribadian dengan “melayang”, mungkin bisa digambarkan seperti dibawah pengaruh obat-obatan. Terang saja, soalnya selalu membuat ingin melaksanakan salat taubat setelahnya.
            aku pagi ini malah merenung, bukan masalah karena kemarin adalah hari terakhir UAS. Tapi lebih pada “berarti sebentar lagi adalah semester 6 ya?” miris, rasanya 5 semester di psikologi belum cukup apa-apa. Membenahi diri saja belum terbenah. Mungkin, karena memang konflik-konflik intrapsikis belum mereda sejauh ini. Tapi di sisi lain, banyak hal unik dan lucu yang aku alami bersama teman-teman di psikologi. Kadang aku sampai berpikir, “seperti ini calon-calon yang akan membenahi kehidupan orang lain?”.  Kalau biasanya aku bercerita mengenai significant person dan orang-orang penting dalam hidup. Kali ini aku menaruh perhatian pada orang-orang yang aku tempatkan hanya di lapisan terluar, tapi mereka begitu memberi warna pada kehidupan. Aku tidak menyangka kalau aku tidak bersama mereka. Hidupku mungkin akan sama seperti dunia internalku, “warna akromatik”. Hari ini, aku bersyukur karena Tuhan memberikan warna-warna dalam kehidupanku.
            Beriringan dengan rasa syukur itu pula, nampaknya daerah pribadi ku sedang berlokomosi secara tidak realistis. Kata lewin, realita dan tidak realita itu kontinum. Ya, aku sedang menerawang jauh, kelak aku berada disuatu tempat dan melakukan hal yang sama, yaitu ketika aku berada disuatu titik kehidupan dan aku menyadari bahwa perjalananku sudah begitu jauh aku lalui. Aku bersedih tapi aku juga bersyukur mengenai semua yang telah aku lalui.
            Rasa syukur rasanya aku sudah tidak dapat menuliskan dengan kata-kata lagi mengenai apa saja yang telah Tuhan berikan dalam kehidupan. Bersedih? Ya, mungkin karena konflik-konflik intrapsikis yang belum juga mereda itu. Mungkin aku akan sedikit bercerita mengenai apa yang aku hayati sebagai kesedihan itu.
            Aku pikir kesedihan itu tidak akan dirasakan begitu dalam kalau saja, boundaries yang ada dalam ruang hidup adalah permeable. Konsepnya sederhana saja sebetulnya, kebutuhan yang ada dalam cell menuntut daerah pribadi untuk berlokomosi menuju region yang bervalensi positif. Tapi pada kenyataannya, daerah pribadi tidak akan dengan lancar berlokomosi ke region-region yang bervalensi positif. Boundaries yang ada begitu tebal untuk bisa ditembus. Disinilah titik letak ketidaksederhanaannya. Sementara Tension yang ada harus dapat aku redakan selama aku tidak bisa sampai pada region yang dituju. Beginilah kebanyakan kasus dalam kehidupan, kadang orang bukan tidak bisa melihat apa solusi dari masalahnya. Hanya saja, perjalanan menuju solusi itu yang menjadi tidak mudah untuk diselesaikan.    
Kadang Tuhan hanya sedang menguji kesabaran,
mungkin akan hadir region lain yang permeable,
yang lebih baik.
amin

dari aku, duniaku, dan penghayatanku
bandung, 26.01.2012
irsa ikramina

Sunday, January 22, 2012

aku dan rasa kehilangan


           setiap orang pasti pernah merasa kehilangan. Kehilangan orang yang dicintai, kehilangan status, atau apapun yang dianggap berharga. Aku sendiri tidak bisa menjelaskan apa itu kehilangan. Tapi aku tahu rasanya.
            Kehilangan pada dasarnya memiliki tarafnya tersendiri. Semakin berharga sesuatu yang hilang itu, akan semakin tinggi derajat kehilangan yang dirasakan. Jadi itu semua tergantung bagaimana seseorang memberi makna pada apa yang hilang tersebut. Apalagi hal tersebut sudah sangat menyentuh aspek emosi. Proses penyesuaian terhadap kehilangan  tidak akan menjadi sederhana lagi. Itu sebabnya orang kadang menjadi tidak rasional ketika harus dihadapkan pada kehilangan. Mungkin kalau barang, masih bisa dibeli lagi. Tapi jika seseorang yang pernah mengisi ruang kekosongan hidup yang akan menjadi lebih sulit untuk dilepaskan.
            Aku jadi tidak heran dan akan lebih empati pada orang yang merasa kehilangan seseorang yang dianggap penting dalam hidupnya. Kadang yang membuat sedikit lucu adalah ketika orang itu menyadari kenapa ia harus merasakan kehilangan yang teramat dalam. Hal ini juga pernah aku alami tentunya, sehingga aku akan lebih memahami orang lain ketika dihadapkan pada hal yang sama. Ya, pada dasarnya tanpa disadari kita memberi makna pada orang-orang yang hadir dalam hidup kita. Caranya adalah dengan memberikan mereka posisi. Sebagai teman jauh, teman dekat, sahabat, pacar, “kakak”, “adik” atau apapun itu. Sehingga semakin dalam mereka ditempatkan dalam lapisan penetrasi sosial kehidupan kita, maka akan semakin besar derajat kehilangan yang dirasakan.
            Pada kasus-kasus tertentu, kadang hal ini bisa menjadi serius jika berkepanjangan dan apabila yang dihayati sebagai kehilangan itu berperan sebagai social support. Kehilangan teman yang sekedar kenal saja, akan menjadi sangat berbeda apabila kehilangan teman yang menjadi social support. Kehilangan memiliki skor stressnya sendiri, begitu juga dengan social support, yang memainkan peranan penting bagi orang dalam menyesuaikan diri dengan stressor yang ada. Itu sebabnya kasus-kasus depresi tidak hanya digali soal bagaimana coping orang tersebut terhadap permasalahan, tapi bagaimana juga social support-nya.
            Tapi mungkin yang perlu diingat bahwa, dalam kehidupan ini tidak ada yang selamanya dapat mendampingi dan berada di sisi kita. Tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali Tuhan. Tuhanlah yang akan selalu menemani dan tidak pernah meninggalkan kita. Bukan berarti pemaknaan terhadap orang-orang yang hadir dalam hidup ini menjadi tidak boleh dan bukan berarti social support juga menjadi tidak penting. Hanya saja, cara pandangnya mungkin yang harus sedikit dirubah. Tuhan mengirimkan orang-orang pilihan-Nya untuk menjadi bagian dari hidup kita, dan dipilih oleh-Nya siapa-siapa yang pantas menjadi social support. Itu sebabnya manusianya yang menjadi tidak kekal. Mereka bisa datang dan pergi, silih berganti. Memang ada yang pernah mengatakan padaku, “mungkin kelak aku tidak akan tergantikan dengan posisi orang lain dalam hidupmu”. Setiap kali aku mengingatnya, aku menjadi tersenyum. Pada dasarnya, bagiku tidak ada siapa yang menggantikan siapa. Semua yang hadir dalam kehidupanku akan memiliki posisinya tersendiri tidak ada pergantian tempat. Tidak akan ada yang bisa menggantikan siapa dengan siapa. Dan aku akan men-treat sesuai dengan apa yang mereka treat padaku sesuai porsi dan posisinya. Dan ketika mereka tidak ada disampingku lagi, itu tidak merubah penghayatanku sedikitpun. Posisinya akan tetap sama dan ada. Hanya saja, memang mungkin Tuhan mengaturnya seperti itu. Sudah selesai tugasnya untuk mendampingiku dalam episode kehidupan kali ini..
Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung 22.01.2012
Irsa Ikramina

aku dan kecerdasan


            rasanya ini bukan untuk pertama kalinya lagi aku mendengar kasus anak yang tidak berhasil mencetak prestasi yang memuaskan, walaupun pada kenyataannya mereka memiliki kapasitas kecerdasan yang tinggi, baik secara hasil IQ atau prestasi yang telah berhasil mereka cetak dalam perjalanan pendidikan. Tapi tiba-tiba saja setelah mereka menaiki jenjang berikutnya, kecerdasannya seperti tidak teraktualisasikan. Lalu dimana letak kesalahannya?
            Seperti yang telah aku pelajari di psikologi mengenai kecerdasan, ternyata definisi  kecerdasan sesungguhnya begitu luas dari yang hanya diartikan dalam kehidupan sehari-hari. Cerdas yang dimaksud dalam kehidupan sehari-hari kadang hanya dikaitkan dengan prestasi yang dicetak di sekolah atau di kampus. Nampaknya belum banyak orang yang paham mengenai apa itu kecerdasan.
            Dikaitkan dengan kasus diatas, maka data yang harus diperoleh adalah bagaimana peran orang tua dalam mengarahkan anak-anaknya dalam perjalanan pendidikan yang ditempuh. Kebanyakan dalam kasus-kasus seperti itu adalah karena orang tua salah mengartikan kecerdasan dan apa yang dijadikan sebagai tolak ukurnya. Aku perhatikan bahwa biasanya orang tua mengaitkan kecerdasan dan kesuksesan dengan yang berbau eksak. Itu sebabnya kadang IPA menjadi sesuatu yang harus dapat ditempuh anak-anak. hal ini memang tidak luput dari labeling masyarakat dan lingkungan pendidikan yang tidak berhasil meluruskan bahwa IPA dan IPS itu bukan untuk membedakan kecerdasan dan prestasi tapi untuk membedakan bidang apa yang ingin difokuskan. Memang tidak semua sekolah dan lingkungan pendidikan yang beranggapan bahwa IPS itu adalah kelas buangan untuk anak-anak yang naik kelas bersyarat dan tidak berprestasi. Tapi tentu tidak sedikit tentu yang masih memiliki paradigma seperti ini. Aku adalah yang termasuk menjadi korban labeling ini. Bersekolah di sekolah swasta pinggiran kota Jakarta dan mengambil IPS tidak ada yang menjadi masalah, namun ketika aku harus berpindah dipertengahan kelas 2 ke kota Bandung di sekolah negeri dan tetap di jalur IPS, aku jadi memiliki posisi yang tidak sengaja jadi dibedakan di masyarakat. Kadang labeling ini pada taraf tertentu menjadi teinternalisasi begitu dalam terhadap seseorang. Ya, aku jadi merasa inferior ketika harus masuk jurusan psikologi di jenjang pendidikan universitas.
            Mungkin yang perlu diingat bahwa, kecerdasan (jika mengacu pada teori Rudolf Amthauer) pada dasarnya memiliki corak tersendiri. Apakah itu fleksibel-non-eksak dan apakah itu eksak-mantap, sehingga hal ini nantinya yang akan menentukan apakah seseorang cocok dibidang sosial atau sains.
            Hal lain yang perlu dibahas adalah bahwa orang tua mungkin kurang tepat menggunakan tolak ukurnya. Bagi orang tua yang dulunya sangat berprestasi mungkin jadi sangat menuntut anak untuk bisa seperti dirinya baik di bidang yang sama, atau di bidang yang lebih darinya. Bagi orang tua yang merasa ‘gagal’, maka mereka akan menuntut ke anak untuk dapat memenuhi obsesinya di masa lalu. Hal ini sering terjadi tanpa mempertimbangkan kapasitas serta kekurangan dan kelebihan anak dalam kecerdasannya. Jadi menjadi sangat wajar, ketika kecerdasan yang dimiliki anak tidak diperhatikan dan dipertimbangkan sebagai kelanjutan ke jenjang pendidikan yang selanjutnya, menjadi tidak teraktualisasikan dengan optimal. Maka pada hakikatnya tugas orang tua adalah untuk mengetahui potensi kecerdasan baik kekurangan dan kelebihannya untuk selanjutnya dikembangkan.
dari aku, duniaku, dan penghayatanku
bandung, 22012012
irsa ikramina