Pagi ini aku bangun dengan datar-datar saja. Seharusnya
memang aku berperilaku seperti biasanya. Ya, karena kemarin adalah hari
terakhir UAS, jadi seharusnya aku memasuki episode manik. Beli DVD, belanja
makanan ringan, beli atau pinjem buku, dan merealisasikan jani-janji main
dengan teman. Tapi kali ini berbeda, bahkan aku tidak ingat kalau kemarin baru
saja mengerjakan soal dinamika kepribadian dengan “melayang”, mungkin bisa
digambarkan seperti dibawah pengaruh obat-obatan. Terang saja, soalnya selalu
membuat ingin melaksanakan salat taubat setelahnya.
aku
pagi ini malah merenung, bukan masalah karena kemarin adalah hari terakhir UAS.
Tapi lebih pada “berarti sebentar lagi adalah semester 6 ya?” miris, rasanya 5
semester di psikologi belum cukup apa-apa. Membenahi diri saja belum terbenah. Mungkin,
karena memang konflik-konflik intrapsikis belum mereda sejauh ini. Tapi di sisi
lain, banyak hal unik dan lucu yang aku alami bersama teman-teman di psikologi.
Kadang aku sampai berpikir, “seperti ini calon-calon yang akan membenahi kehidupan
orang lain?”. Kalau biasanya aku
bercerita mengenai significant person dan
orang-orang penting dalam hidup. Kali ini aku menaruh perhatian pada
orang-orang yang aku tempatkan hanya di lapisan terluar, tapi mereka begitu
memberi warna pada kehidupan. Aku tidak menyangka kalau aku tidak bersama
mereka. Hidupku mungkin akan sama seperti dunia internalku, “warna akromatik”. Hari
ini, aku bersyukur karena Tuhan memberikan warna-warna dalam kehidupanku.
Beriringan
dengan rasa syukur itu pula, nampaknya daerah pribadi ku sedang berlokomosi
secara tidak realistis. Kata lewin, realita dan tidak realita itu kontinum. Ya,
aku sedang menerawang jauh, kelak aku berada disuatu tempat dan melakukan hal
yang sama, yaitu ketika aku berada disuatu titik kehidupan dan aku menyadari
bahwa perjalananku sudah begitu jauh aku lalui. Aku bersedih tapi aku juga
bersyukur mengenai semua yang telah aku lalui.
Rasa
syukur rasanya aku sudah tidak dapat menuliskan dengan kata-kata lagi mengenai
apa saja yang telah Tuhan berikan dalam kehidupan. Bersedih? Ya, mungkin karena
konflik-konflik intrapsikis yang belum juga mereda itu. Mungkin aku akan
sedikit bercerita mengenai apa yang aku hayati sebagai kesedihan itu.
Aku
pikir kesedihan itu tidak akan dirasakan begitu dalam kalau saja, boundaries yang ada dalam ruang hidup adalah
permeable. Konsepnya sederhana saja
sebetulnya, kebutuhan yang ada dalam cell
menuntut daerah pribadi untuk berlokomosi menuju region yang bervalensi
positif. Tapi pada kenyataannya, daerah pribadi tidak akan dengan lancar
berlokomosi ke region-region yang
bervalensi positif. Boundaries yang
ada begitu tebal untuk bisa ditembus. Disinilah titik letak ketidaksederhanaannya.
Sementara Tension yang ada harus
dapat aku redakan selama aku tidak bisa sampai pada region yang dituju. Beginilah kebanyakan kasus dalam kehidupan,
kadang orang bukan tidak bisa melihat apa solusi dari masalahnya. Hanya saja,
perjalanan menuju solusi itu yang menjadi tidak mudah untuk diselesaikan.
Kadang
Tuhan hanya sedang menguji kesabaran,
mungkin
akan hadir region lain yang permeable,
yang
lebih baik.
amin
dari aku,
duniaku, dan penghayatanku
bandung,
26.01.2012
irsa
ikramina
No comments:
Post a Comment