aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Thursday, January 26, 2012

Aku dan region


           Pagi ini aku bangun dengan datar-datar saja. Seharusnya memang aku berperilaku seperti biasanya. Ya, karena kemarin adalah hari terakhir UAS, jadi seharusnya aku memasuki episode manik. Beli DVD, belanja makanan ringan, beli atau pinjem buku, dan merealisasikan jani-janji main dengan teman. Tapi kali ini berbeda, bahkan aku tidak ingat kalau kemarin baru saja mengerjakan soal dinamika kepribadian dengan “melayang”, mungkin bisa digambarkan seperti dibawah pengaruh obat-obatan. Terang saja, soalnya selalu membuat ingin melaksanakan salat taubat setelahnya.
            aku pagi ini malah merenung, bukan masalah karena kemarin adalah hari terakhir UAS. Tapi lebih pada “berarti sebentar lagi adalah semester 6 ya?” miris, rasanya 5 semester di psikologi belum cukup apa-apa. Membenahi diri saja belum terbenah. Mungkin, karena memang konflik-konflik intrapsikis belum mereda sejauh ini. Tapi di sisi lain, banyak hal unik dan lucu yang aku alami bersama teman-teman di psikologi. Kadang aku sampai berpikir, “seperti ini calon-calon yang akan membenahi kehidupan orang lain?”.  Kalau biasanya aku bercerita mengenai significant person dan orang-orang penting dalam hidup. Kali ini aku menaruh perhatian pada orang-orang yang aku tempatkan hanya di lapisan terluar, tapi mereka begitu memberi warna pada kehidupan. Aku tidak menyangka kalau aku tidak bersama mereka. Hidupku mungkin akan sama seperti dunia internalku, “warna akromatik”. Hari ini, aku bersyukur karena Tuhan memberikan warna-warna dalam kehidupanku.
            Beriringan dengan rasa syukur itu pula, nampaknya daerah pribadi ku sedang berlokomosi secara tidak realistis. Kata lewin, realita dan tidak realita itu kontinum. Ya, aku sedang menerawang jauh, kelak aku berada disuatu tempat dan melakukan hal yang sama, yaitu ketika aku berada disuatu titik kehidupan dan aku menyadari bahwa perjalananku sudah begitu jauh aku lalui. Aku bersedih tapi aku juga bersyukur mengenai semua yang telah aku lalui.
            Rasa syukur rasanya aku sudah tidak dapat menuliskan dengan kata-kata lagi mengenai apa saja yang telah Tuhan berikan dalam kehidupan. Bersedih? Ya, mungkin karena konflik-konflik intrapsikis yang belum juga mereda itu. Mungkin aku akan sedikit bercerita mengenai apa yang aku hayati sebagai kesedihan itu.
            Aku pikir kesedihan itu tidak akan dirasakan begitu dalam kalau saja, boundaries yang ada dalam ruang hidup adalah permeable. Konsepnya sederhana saja sebetulnya, kebutuhan yang ada dalam cell menuntut daerah pribadi untuk berlokomosi menuju region yang bervalensi positif. Tapi pada kenyataannya, daerah pribadi tidak akan dengan lancar berlokomosi ke region-region yang bervalensi positif. Boundaries yang ada begitu tebal untuk bisa ditembus. Disinilah titik letak ketidaksederhanaannya. Sementara Tension yang ada harus dapat aku redakan selama aku tidak bisa sampai pada region yang dituju. Beginilah kebanyakan kasus dalam kehidupan, kadang orang bukan tidak bisa melihat apa solusi dari masalahnya. Hanya saja, perjalanan menuju solusi itu yang menjadi tidak mudah untuk diselesaikan.    
Kadang Tuhan hanya sedang menguji kesabaran,
mungkin akan hadir region lain yang permeable,
yang lebih baik.
amin

dari aku, duniaku, dan penghayatanku
bandung, 26.01.2012
irsa ikramina

No comments:

Post a Comment