Maghrib
tadi, setelah aku mendirikan salat. Seperti biasa aku menengadahkan kedua
tangan. Berdoa kepada Yang Maha Mendengar. Biasanya aku berdoa dengan penuh
keyakinan yang selalu menguatkan aku di tiap bait doa yang aku panjatkan. Tapi hari
ini tanpa disadari, butir-butir air mata membahasahi pipiku, bibir bergetar
ketika memanjatkan doa, pikiran terhenti seolah aku tidak tau apa yang ingin
aku panjatkan, sampai pada akhirnya mulutpun sudah tidak mampu membacakan
doa-doa dari hati ku, yang aku rasakan hanya beratnya beban yang menggelayut di
hati ini..
Aku akui, aku orang yang sangat
mudah menangis di kala aku sedang sendiri. Banyak hal yang bisa menjadi
penyebabnya, kehilangan, penyesalan, rasa syukur, rasa sakit, dan kekecewaan. Tapi
aku berusaha untuk tidak menjadi cengeng
dalam menjalani ujian dan melaksanakan amanah dari-Nya. Aku tidak mau dianggap
mudah berputus asa, seolah aku tidak yakin Tuhan selalu berada di sampingku. Tapi
aku hanya manusia.
Manusia memang harus kuat, harus
berdiri lagi ketika jatuh, dan harus bertahan ketika badai menerjang. Akan tetapi
ada suatu bagian di mana manusia mencapai garis keterbatasannya sebagai
manusia. Artinya, manusia juga perlu untuk memasrahkan diri.. karena masih ada
Tuhan Yang Maha Kuat..
Air mata yang mengalir sehabis salat hari
ini mengingatkan aku bahwa apa yang aku hadapi sudah terlalu besar, tapi masih
sangat kecil di hadapan Tuhan. Sudah saatnya aku memasrahkan segala apa yang
telah aku ikhtiarkan dan apa yang telah aku perjuangkan. Segalanya dari Allah
dan akan kembali kepada Allah. Maka sabar, syukur, dan tawakal akan menjadi solusi
psikologi tertinggi.
Dari
aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung,
05.12.2012
Irsa
Ikramina
No comments:
Post a Comment