Semalam, sekitar
pukul 20.30, aku terbangun dari tidur. Aku keluar kamar dan berjalan ke arah
meja makan, lalu aku mendengar mama di telepon sedang berbicara dengan
seseorang, “eh uda pernah baca blog nya irsa belum?”. Langsung saja mataku
melotot dan mengatakan sambil berbisik, “PSSSSTTT ! jangan di promosiin!”.
Mungkin karena
kemarin salah seorang teman mama mengatakan kalau sebaiknya blog ini dibukukan
saja dan kelak aku harus menulis buku. Jadi mama dengan senang hati meminta feedback dari orang lain. Padahal, pada
saat itu aku mengizinkannya karena sudah melalui pertimbangan bahwa teman mama
itu bisa memberi feedback yang
membangun dan tidak mengedepankan “rasa ingin tahu yang usil”. Jadi, aku belum
bisa untuk mempromosikan ini secara blak-blakan. Apalagi, ini adalah perjalanan
hidupku..
Aku tidak punya keberanian yang
cukup untuk membagikan kisahku pada banyak orang, telalu banyak cerita yang
bermuatan emosi, terlalu banyak perjalanan disalahpahami, dan.. pengalaman
ditinggalkan dengan membawa separuh rahasia hidupku...
aku
hanya percaya dengan “menulis” karena aku bisa begitu “lepas”
kini aku hanya
percaya pada “menulis”, karena mengingat aku pernah mempercayai seseorang, aku
bagikan kisah hidupku padanya, lalu ia pergi.. “menghilang”.. tanpa alasan yang
dapat
aku pahami dengan sederhana.
aku tidak
menyalahkannya, hanya saja butuh waktu bagiku untuk bisa memahami dan adjust dengan semua ini. Meskipun
begitu, jika bertemu dan berinteraksi dengannya, aku berusaha seolah semua “baik-baik
saja”. Dan ini bukan hal yang mudah, butuh energi psikis yang besar untuk dapat
ber-acting seperti ini.
Selalu
ada helaan nafas berat setelah ber-acting.
Yaa.. hingga kini..
aku tahu, ini
terdengar “aneh”, terlebih bagi orang yang ekstovert dan terbuka mengenai
banyak hal pada banyak orang. Tapi hal ini bukan hal yang sedehana bagi
introvert seperti ku. Aku tidak seperti ekstrovert yang dengan mudah bisa
bercerita mengenai banyak hal tentang dirinya kepada orang lain, aku tidak
seperti ekstrovert yang memiliki personal
space yang lebih kecil. Tidak akan
ada aku dan duniaku, tanpa personal space
yang besar. aku yang begitu “diam” berusaha mengontrol warna-warna
akromatik yang bergejolak di dalam diriku, aku yang penuh “diplomasi” untuk
melindungi diriku, dan aku yang hanya “tersenyum” sebagai respon yang penuh
makna.
Belum lagi aku
adalah orang yang menjunjung tinggi privacy.
Aku tidak suka apabila kesendirianku diganggu. Tanpa privacy yang aku
junjung tinggi, maka tidak akan ada penghayatanku. Sendiri, maka bukan
berarti kesepian. aku suka untuk sendiri di kamarku, hanya aku dan diriku,
mungkin ditemani beberapa buku. Aku tidak suka keramaian dan aku hanya senang
mengobrol dengan orang-orang tertentu saja. Selain itu, mungkin hanya segelintir
orang yang tahu mengenai aku “yang sebenarnya”. aku cenderung merahasiakan jati
diri dan tidak mengungkapkan diri terlalu banyak kepada orang lain.
Personal
space and privacy make me who I am
It
is the way I live
If
those things did not exist, it wouldn’t be existence of aku, duniaku, dan penghayatanku.
Bandung. 2 Mei 2012
Dari
aku, duniaku, dan penghayatanku
Irsa
Ikramina
No comments:
Post a Comment