Kupikir setiap manusia memiliki thawafnya masing-masing. Dan
pilihan manusia, terletak pada jalur thawaf yang mendekat pada cahaya atau
malah menjauhinya, thawaf yang menuju kesempurnaan atau kehancuran
Layaknya tarian sufi yang membawa hingga titik transendental,
layaknya planet-planet yang mengitari matahari, layaknya jamaah haji yang
berthawaf mengelilingi ka’bah
Sepanjang hidup, manusia berthawaf dalam hidupnya, dalam
hatinya. Begitu juga dengan dunia itu sendiri, beputar. Harus ada satu titik
yang menjadi porosnya.
Alam semesta saja mengerti, mereka harus berthawaf sesuai garis edarnya. Atau
kalau tidak, alam semesta ini akan hancur.
Langkah dalam thawaf sepanjang hidup tentu melelahkan, tapi
itulah prosesnya. Lelah dan ketidakberdayaan harus dilalui agar nafsu-nafsu ini
tertanggalkan, higga langkah kaki terasa ringan seperti tidak menapak, terbang.
Terbang ke lapisan langit tertinggi, manusia akan melihat
banyak hal, bahwa dunia dibawah sana bukanlah pusat thawaf yang membahagiakan.
Hanya menyatu dengan Tuhan adalah bahagia yang hakiki.
Dari aku, duniaku dan
penghayatanku
Bandung, 20 Agustus
2017
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment