aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Sunday, August 20, 2017

Thawaf

Kupikir setiap manusia memiliki thawafnya masing-masing. Dan pilihan manusia, terletak pada jalur thawaf yang mendekat pada cahaya atau malah menjauhinya, thawaf yang menuju kesempurnaan atau kehancuran

Layaknya tarian sufi yang membawa hingga titik transendental, layaknya planet-planet yang mengitari matahari, layaknya jamaah haji yang berthawaf mengelilingi ka’bah

Sepanjang hidup, manusia berthawaf dalam hidupnya, dalam hatinya. Begitu juga dengan dunia itu sendiri, beputar. Harus ada satu titik yang menjadi porosnya.

Alam semesta saja mengerti, mereka harus berthawaf sesuai garis edarnya. Atau kalau tidak, alam semesta ini akan hancur.

Langkah dalam thawaf sepanjang hidup tentu melelahkan, tapi itulah prosesnya. Lelah dan ketidakberdayaan harus dilalui agar nafsu-nafsu ini tertanggalkan, higga langkah kaki terasa ringan seperti tidak menapak, terbang.

Terbang ke lapisan langit tertinggi, manusia akan melihat banyak hal, bahwa dunia dibawah sana bukanlah pusat thawaf yang membahagiakan.

Hanya menyatu dengan Tuhan adalah bahagia yang hakiki.

Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 20 Agustus 2017

Irsa Ikramina

No comments:

Post a Comment