aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Sunday, July 9, 2017

agar lapang sedikit saja syukurnya banyak

“Gue duduk di deket pintu masuk ya, sebelah kiri”, isi WA (WhatsApp) ku kepada Amel

Amel adalah sahabat ku sejak SMA kelas 3, 8 tahun kami berteman. Hubungan tidak intens. Tapi setiap berapa bulan sekali kami suka bertemu. Sekedar menceritakan progress kisah hidup, untuk saling memberikan masukan atau sekedar memahami. Dalam beberapa hal, kami memang memiliki kesamaan. Amel juga tinggal hanya dengan Ibunya. Kami sama-sama introvert. Tapi cara kami memandang hidup yang berbeda. Disitulah seninya kami saling memahami dan memberi masukan. Selepas SMA, Amel meneruskan kuliah di Unpad, Ekonomi Manajemen. Kemudian pekerjaan pertama ia dapat bidang perbankan di Jakarta. Ini sudah perusahaan keduanya. Meski Amel sempat beberapakali pindah posisi atau fungsi. Amel tetap konsisten di jalur perbankan dan mencari rezeki di Jakarta. Amel tipikal orang yang easy going, hidupnya pun bukan buah dari perencanaan yang matang. Apa yang ada di depannya, ya dihadapi dan dinikmati.

Amel sahabat yang jujur. Bahkan menurut ku terlalu jujur tapi aku tidak pernah tersinggung. Misalnya saja pertemuan beberapa bulan lalu, Amel berkomentar tanpa beban “perut lu sekarang buncit sa ?” Biasanya komentar Amel membuat aku bingung harus jawab apa. Pasti  pertemuan selanjutnya akan ada komentar jujur lagi.

Hari ini adalah jadwal kami bertemu. Mumpung liburan lebaran yang panjang dan sudah pasti Amel pulang ke Bandung. Amel rumahnya memang dekat dengan pusat kota Bandung. Itu sebabnya selalu aku yang sampai lebih dulu di tempat janjian. Setelah mengabari aku sampai, Amel hanya membutuhkan waktu 15 menit saja untuk sampai.

Heiii... Maaf lahir Batin yaa..” sapanya dengan riang sambil saling cium pipi kanan dan kiri

“Lu sekarang jerawatan sa ?” keluarlah komentar jujur Amel.

“Ah, kagak gue maapin lu”

Amel hanya tertawa saja

“Enaknya sebelum ngobrol kita pesen dulu kali ya” kata ku menyarankan

Setelah kami memesan dan pesanan kami pun datang. Ada diam sejenak. Mungkin kami bingung harus memulai pembicaraan darimana.

“Gimana kerjaan ?” kata Amel memancing.

“Seperti yang udah gue ceritakan ke lu mel waktu di telp” kadang kami update dan catch-up stories via telp juga

Aku melanjutkan, “So far nggak ada yang aneh di tempat kerja gue sekarang. Yaiyalahya, wong perusahaan sudah established, perusahaan sehat.”

“Ya syukurlah lah”

“Lu sendiri gimana mel ?”

“gue udah cerita belum ya, gue udah dipindah bagian? Dan gue kesel banget sama si wanita ular yang mindahin gue ke bagian lain. Tanggal efektifnya ya pas tanggal gue diinfo-in. Ya gue sih iya-iya aja di depan. Cuma di belakang ya gue meraung-raung juga kesel sama si wanita ular”

“Hahaha, lu emang udah cerita ke gue lu dipindahin. Gue juga tau lu diujii kesabaran satu tim sama wanita ular. Tapi part lu meraung-raung kayanya gue sekarang baru tau deh”

“iya nih, kurang lengkap ya ? gue lupa sih. Saking gue kesel dan cerita kesemua orang”

“Hahaha, gilak lu.” Kata ku sambil terbahak-bahak

“Ya habis gimana sa, saking aja gue ngeliat si wanita ular itu single parent juga dan mengingatkan gue sama nyokap. Yasudahlah, mungkin dia harus kerja menafkahi anaknya sampai harus mendepak gue ke bagian lain.”

“Hehehe, emang Mel. Kerja kudu banyak doa minta dilapangkan dada. Kelakuan manusia-manusia itu loh. Suka di luar nalar” kata ku coba menetralisir nuansa emosi yang mulai terasa.

Ada hening sejenak. Aku menghela nafas.

“Tapi ya kerja tuh ternyata Cuma gitu aja ya mel”

“Maksud lu sa?” mempertanyakan pendapat ku yang ambigu

“Jadi gini mel, guekan sempet makan siang sama temen-temen kantor gue yang lama. Soalnya kantor lama dan baru guekan deketan. Gue cerita banyak ke mereka, bahwa kerja itu ternyata sama aja. Kerja ya sama aja toh, ada aja orang macem wanita ular yang elu ceritain, kalau gak atasan ya rekan kerja ada yang error, atau sistemnyalah, pressure-nya lah, load kerjanya lah. Ah, sama aja. ketika gue hijrah perbedaanya adalah bagaimana perusahaan memperlakukan karyawan. Di kantor lama karyawan diperlakukan layaknya romusha. Sedangkan di kantor baru gue, karyawan betul-betul diperlakukan sebagai asset.”

“Gue bersyukur sih Mel. Cuma malah kaya ada sensasi yang gue rasakan aneh gitu” kata ku sok serius biar bikin penasaran

“Maksudnya ?” tanya Amel terpancing penasaran

“gue kebiasaan di kantor lama dimana yang sudah jelas hak karyawan masih ada kemungkinan nggak cair atau dipotong. Misalnya KPI gue tahun 2016  itu 80% harusnya gue dapet bonus, eh terus pas awal tahun definisi salah satu KPI gue dibengkokin gitu. Jadi artinya gue seolah-olah gue nggak capai dan nggak berhak atas bonus. Adalagi temen supervisor GA gue dulu, KPI nya capai 100% terus KPI nya diganti deh baru berapa bulan jalan, kesannya biar nggak 100% gitu. Termasuk yang terakhir, gue resign sebetulnya 30 hari sebelum Hari Raya, kalau berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerja harusnya gue masih berhak atas THR. Yah, si bossman tea atuh, nggak mau ngasih. Gue ngingetin kalau gue masih punya hak. Eh dia malah nyerang personal, “lu lagi ngapain resign sebelum THR cair ?” Gue gak berani jawab, bukan gue takut sama bossman. Soalnya kan memang semua sudah diatur Allah, mana gue tau perjalanan shafa marwa gue air zamzam-nya ditemukan pada waktu itu.”

“Gila, jadi lu nggak dapet THR sama sekali ? Harusnya dapet dong. Kantor baru kasih proporsional nggak ?” tanya Amel Kaget

“Aku orapopo Mel, sudah biasa. Insya Allah rejekinya nanti diganti dari pintu yang lain. Kalau di kantor baru, bakal dapet kalau minimal masa kerja 1 bulan. Kan gue belum 1 bulan, makanya harusnya masih berhak dari kantor yang lama. Tapi yawislah”

“Belum lagi keluhan karyawan itu kan udah jelas seputar gaji dibawah UMK lah, potongan kehadiran gede banget lah, lembur gak dibayarlah, tanggal merah masuk lah, gaji yang dilaporkan ke BPJS nggak sesuai lah. Pokonya problematika kesejahteraan, tapi diforsirnya kerjanya bak dijajah”

“Terus gue aneh gitu Mel, di kantor baru. Karyawan itu bisa complaint hanya karena potongan pajak THR jauh lebih besar. Yah gue aja kagak dapet kagak lapor ke Disnaker. Pake pengadilan Allah aja. Hehe. Terus, kemarin kan di kantor baru gue ada survey seluruh karyawan by online, untuk karyawan lapangan yang nggak ada akses email ya kita provide laptop. Seperti biasa HR jadi PIC pelaksanaan di setiap region lah ya. Teknis kerjanya mirip kaya di kantor lama gue kalau lagi jadi PIC kegiatan CSR. Singkat cerita hasil survey achieve target untuk jumlah karyawan yang harus mengisi survey. Terus sebagai apresiasi, tim HRBP dikasih voucher belanja gitu Mel. Bukan gue nggak bersyukur sih. Tapi kaya aneh, pekerjaan yang biasa gue lakukan di kantor lama, di kantor baru ini hasilnya kaya dihargai banget gitu Mel”

“Sa...”

“Ya Mel ?”

“LOH ?! kok sedih ? bagian mana sedihnya ?”

“Ya bukan sa... Maksud gue, emang seharusnya kaya gitu perusahaan memperlakukan karyawan”

“OOOHH... ya kan lu lebih beruntung. langsung kerja di perusahaan ternama Mel. Guekan jadi romusha dulu”

“Nggak kok, gue rasa elu yang lebih beruntung”

“Maksud lu, karena gue bisa lebih bersyukur dengan nikmat yang dirasakan orang pada umumnya adalah hal biasa ?”

“Yup”

“Iya sih.. ternyata benar adanya. kalau Allah tidak bermaksud menyulitkan, tapi supaya kita jadi kaum yang bersyukur. Jadi memang sempit itu perlu ya, agar lapang sedikit saja bersyukurnya sangat. Ternyata kerja gitu aja kan Mel ? sarana ibadah aja. Kalau diperlakukan sebagai romusha ya ujian kesabaran, kalau diperlakukan sebagai asset ya ujian rasa syukur. Tugas kita ya amanah aja, lillahi ta’ala, sing Ikhlas”

“ Ya sa, tapi gimana kalau kasus gue. Gue kok kerja itung-itungan banget ya.”

“Maksud lu itungan gimana Mel ?” tanyaku kurang jelas

“Iya, gue kalau udah jam pulang ya pulang aja tenggo”

“Lah, menurut gue itu yang bener Mel. Kalau udah beres ya pulang lah, masa lu ngerjain kerjaan OB.”

“Iya sih, tapi kalau gue liat temen-temen gue tuh pada macem going extra miles gitu sa. Gue berpikir, kalau gue gini terus, kapan gue naik jabatan atau dapat karir yang lebih baik ?”

“Ok. Kita urai ya. Pertama gue mau bahas masalah kerja lebih dari waktu atau lembur. Sepanjang terpaan perjalanan karir gue, gue menemukan bahwa kerja itu harus bisa menyeimbangkan 3 bagian. Kerja, keluarga dan kesehatan. Kerjalah dengan sungguh-sungguh, tapi juga jangan berlebihan. Allah udah ciptain siang buat kita kerja dan malam supaya kita istirahat, tapi kalau ada yang belum beres dan urgent, yah nggak ada salahnya diberesin meski lebih waktu. Akan lebih baik, kalau kita bisa manage pekerjaan supaya bisa pulang ontime. Orang yang suka lembur atau bawa kerjaan ke rumah biasanya emang nggak tinggal sama keluarganya, karena nggak ada yang nuntut atau complaint untuk quality time sama keluarga. Keluarga itu penting, jangan Cuma pas kita sakit atau down aja baru kita diurus keluarga. Perhatikan mereka tidak hanya dari segi finansial, tapi juga perhatian, waktu dan pendampingan. Kesehatan itu ada 2, fisik dan mental. Kalau kerja berlebih badan juga ancur, belum stress dan tekanan yang dirasa secara psikis. Perhatikan 2 hal itu, lelah ya istirahat, jenuh dan stress ya cari hiburan, ketemu teman, jalan dengan keluarga, me time. Itu sebabnya ada hak cuti kan ?”

“iya sih sa.. mereka yang masih stay di kantor ketika gue uda pulang tenggo emang misalnya udah berkeluarga tapi belum punya anak, atau emang nungguin macet juga”

“nah.. ya kan.. kedua, kerja juga landasannya niat. Bukan going extramiles dulu baru lu nyari arah dan tujuan lu apa, juga dasar lu ke tujuan itu. Terlalu jumping kalau lu liat temen-temen lu kerja lembur terus lu jadi khawatir soal jenjang karir dan pengen ikutan. Ok, supaya sistematis, misalnya lu mau ngejar karir, tapi pertanyaan gue, buat apa ? kalau lu udah nemu dan yakin itu yang terbaik, untuk kehidupan, akhir urusan dan agama lu. So, go ahead, going extramiles. Man Jadda Wa Jadda, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Ikhtiar yang lu keluarkan akan disesuaikan dengan porsi yang ditentukan dari niat lu. Toh Tuhan akan merubah nasib kalau kita yang berupaya mengubah nasib kita. Yang penting niat sing baik Mel. Kalau niat udah lurus dan baik, Insya Allah nggak gampang nyerah menghadapi kenyataan atau kesulitan dan kepada Allah senantiasa berserah. It is called Ikhlas tanpa batas.

Bandung, 2 Juli 2017
Dari Aku, Duniaku dan Penghayatanku
Irsa Ikramina





No comments:

Post a Comment