My name is Barry Allen and I'm the fastest man alive. When I was a
child, I saw my mother killed by something impossible. My father went to prison
for her murder. Then an accident made me the impossible. To the outside world,
I'm just an ordinary forensic scientist, but secretly with the help of my
friends I use my speed to fight crime and find others like me, and one day I'll
find who killed my mother and get justice for my father. I am The Flash.
“Loh, siapa nih yang suka nonton
film kesukaan ku?” , tanya ku dalam hati sambil mencari sumber suara opening
film Flash itu.
Ku temukan babeh. Sedang menatap
layar laptop dengan serius. Tenyata dia pelakunya. Babeh, merupakan sapaan orang-orang
kantor kepada dirinya, tepatnya kami orang-orang HRD. Lantaran jauh generasinya
dibanding kami yang lahir tahun 80 dan 90an. Ia angkatan 70an, tapi tetap saja
kami berinteraksi dengan baik, tentu juga bekerjasama dan berkoordinasi dengan
baik dalam hal kerja. Satu hal lagi, meski aku dan babeh selevel, tapi aku
sangat mempertuakan usia dan pengalamannya.
“huiihhh, suka nonton Flash juga beh ? bahagianya aku ada
teman yang suka nonton film yang sama. Aku ngikutin loh dari season pertama”
“iyaa, nu eta kan yang Reverse Flash
nya ?” sambil nunjuk ke layar laptop
Aku tambah senang. Babeh tau
detailnya. Aku putuskan ambil kursi terdekat dan duduk untuk ikut nonton juga.
Biarlah cuma sebentar meski ini jam kerja daripada memusingkan serah terima
jabatan yang meluap dari porsinya, karena ini bukan serah terima sebagai
pejabat sementara, bisa jadi selamanya. Sudah ketok palu bahwa tidak akan ada
penggantinya. Hingga kiamat kecuali Tuhan mengetuk hati boss-besar yang kita
tidak ada yang tahu kapan waktunya.
“iya beeeh. Terus asik banget ya
dengan kecepatannya dia bisa kembali ke masa lalu dan merubah sesuatu”
“ah, tapi kan tetap saja. Tidak
akan bisa merubah apa-apa yang sudah ditakdirkan. Misalnya kematian” sanggah
babeh
“iya beh. Itu kalau pakai konsep
Islam. Ada takdir yang bisa dirubah dan tidak bisa dirubah. Ini kan film. Di
Season 3 kan si Flash coba merubah takdir supaya kedua orangtuanya gak
meninggal pada saat dia masih kecil itu loh. Kalau gitu sih keenakan ya ? ” Aku
menoleh ke Babeh
Babeh hanya mengangguk. Menatap
layar laptop. Tapi aku tahu pikirannya mengembara.
“Tadi saya dikasih pilihan sama
boss-besar” kata babeh tiba-tiba melenceng dari topik
“Jadi gimana beh ?” aku tanya
langsung meski ada perasaan enggan tahu karena semuanya terasa berat untuk saat
ini. Namun apa yang ia ceritakan ini secara langsung maupun tidak langsung akan
mempengaruhi apa yang akan aku hadapi. Jadi aku harus tau. Aku harus hadapi.
“saya kan ditawari posisi di
bisnis unit lain yang masih 0 itu loh, yang dana tunai”
“terus babeh jawab apa ?” tanya
ku penasaran
“ya saya bilang, bahwa di
Al-Quran sudah jelas Dan janganlah kamu
mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Kemudian,
kerja dimanapun saya paling menghindari pekerjaan yang mengurus uang,
karena biang fitnahnya jauh lebih besar.
Saya minta waktu untuk istikharah dulu”
“oohh begitu ya. Jadi nasib ku
juga akan bergantung dengan hasil istikharah babeh nanti ?”
“ya kira-kira begitu” babeh
mengangguk
Aku menghela nafas. Kalau Babeh
menerima tawaran itu, aku tidak saja menerima serah terima pekerjaan dari
boss-langsung yang resign, tapi juga pekerjaan dari babeh yang juga sumbernya
dari serah terima boss-langsung itu. Dengan kata lain, babeh meninggalkan ku.
Sendiri. Dengan tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya, ah, ya kecuali tentang fungsi HR.
“tadi jawaban babeh ke boss besar
menunjukan babeh berkeberatan dengan pilihan menerima tawaran posisi itu.
Lantas kalau hasil istikharah babeh adalah mengambil posisi itu bagaimana ?”
“ya dijalani aja. Kan seperti
hidup sufi. Hanya menjalankan perintah” jawab babeh enteng
“lah, serius beh ? nggak ada
perasaan gak nyaman atau gak terima gitu ?”
“kalau kaya gitu, berarti pake
nafsu”
Aku diam. Ada hening sejenak. Terdengar
suara Lift Gudang Unit Sepeda Motor yang sedang turun.
“jadi kita harus ridha ya beh,
sama apapun ketetapan Allah. Ikhlas”
“betul. Dosa terbesar itu bisa
jadi kalau kita mengeluh atas ketetapan-Nya. Harus yakin kalau pasti ada
hikmahnya. Kalau memang saya harus jadi di unit bisnis baru itu, saya yakin ada
sesuatu, hikmah”
“termasuk kalau ada orang yang
menyakiti hati kita juga beh ?” tanya ku melenceng. Sebab hati tidak pernah
bisa bohong. Selalu perlu memahami atas apa yang sedang dirasakan
“yaiya dong, kan mereka menyakiti
hati kita juga atas izin Allah”
“aku kemarin dengar ceramah Aa
Gym beh, katanya kalau ada orang yang menyakiti hati kita, berarti kita pernah
melakukan hal itu juga kepada orang lain. Jadi ya solusinya taubat”
“ya itu benar, tapi biar saya
lengkapi. Kamu tahu ? bahwa setiap orang yang ada disekitar kita atau yang
dipertemukan kita itu adalah cerminan kita”
“maksudnya beh ?” tanyaku dengan
mengerutkan dahi maksimal sembari berpikir karena sangat tidak mengerti dengan
jawabannya
“iya, cerminan kita” jawab babeh
singkat seperti malas menjelaskan
“duh nggak ngerti deh” kata ku
kesal dan menyerah
“jadi begini, sebetulnya, kita
juga memiliki sifat baik maupun buruk dari orang sekitar kita. Apabila orang
tersebut mengimplementasikan sifat-sifat baiknya, ya sebetulnya kita juga
memiliki sifat baik itu. Tapi kalau ada orang yang berlaku buruk kepada kita.
Sebetulnya kita juga memiliki sifat buruk itu. Tapi karena Allah sayang sama
kita. Makanya sifat itu dimunculkan kepada kita, agar sifat itu tidak muncul
pada diri kita. Ya tapi bisa juga kok, hal itu terjadi karena kita pernah
berbuat buruk kepada orang lain”
“ohhh supaya kita tidak berlaku
seperti orang yang berlaku buruk itu ya beh ?” tanya ku memastikan pemahaman
dengan nada sedikit meninggi karena bahagia. Ah, aku mengerti sekarang.
“makasi ya beh. Besok-besok mau belajar
tasawuf lagi dari babeh. Babeh hari ini telah menjadi syareat pengantar jawaban
atas pertanyaan ku.”
“oohh iya Alhamdulillah atuh”
Secara tidak sengaja adegan
terimakasih itu disaksikan staff ku yang sedang lewat. Lalu dia mengejek babeh.
“Jemaaahh oohhh Jemaaaahh..
Alhamdu lillaaah....”
Babeh yang sambil bersiap pulang
sedang menggunakan jaket dan syal. Kontan melempar syalnya seperti ustadz yang
di TV setelah menyapa jemaah.
******
Hari ini Sabtu. Aku berusaha
bangun pagi, karena ada janji. Tidak lupa aku membawa dua buah buku yang aku
ambil dari rak buku ku. Sengaja sudah dipisahkan dari beberapa hari yang lalu
agar tidak buru-buru mencarinya.
Sampailah aku pukul 09.30 di
depan rumah seseorang. Tentu karena sudah
familiar aku langsung buka sendiri saja pagarnya. Lalu ada yang menyapa ku
dari balkon lantai atas rumah tersebut.
“Hei !”
Aku melihat ke atas, tersenyum
kepada kak Barlian.
Motor sudah masuk dan pada saat
aku akan menutup pagar,
“Udaaah.. nggak apa-apa. Nggak sudah
ditutup”
“Nggak apa-apa. Kan motor ku biar
aman juga. Hahaha” jawab ku bercanda tapi niatnya lurus adanya
Aku berjabat tangan dengannya.
“sudah lama sekali ya kita nggak
ketemu” kata ku sambil jalan bersama masuk ke ruangan mengajar. Tidak ada ruang
tamu karena rumah ini lantai bawahnya adalah tempat les MAFIKI SD-SMP-SMA. Jadi
kami duduk di meja dan kursi belajar mengajar. Aku menyempatkan diri melihat
keseluruh ruangan. Masih sama seperti dulu. Hampir tidak ada yang berubah.
Letak Salib di dinding, letak lukisan yang aku pikir dari dulu itu adalah Yesus
bagi pemilik rumah, letak papan tulis, letak meja dan kursi. Ah, masih sama
seperti ketika aku mengajar disini 3 tahun lalu. Sebetulnya ini bukan rumahnya,
tapi rumah kakak Iparnya. Aku belum tahu juga kenapa Kak Barlian jadi tinggal
disini.
“Oh iya, ini bukunya Kak. Maaf ya
kembalikannya jadi lama” sambil aku keluarkan 2 buah buku dari tas ku.
“Nggak apa-apa. Nggak dibaca juga
kok. Gimana Training nya ?”
“Ya begitu lah, feedback dari trainee sih sejauh ini positif” jawab ku singkat sedang tidak mau
bahas urusan kantor padahal maksud Kak Barlian baik, memastikan apa buku yang
dipinjamkannya membantu dalam menyusun materi Training Komunikasi
“Hei sa ! udah lama ya nggak
ketemu”
Setelah selesai menyapa aku
kembali duduk
“So, How is Work ?” tanya kak Barlian
Sebelum menjawab, aku sejenak
menahan nafas, berpikir berat. Ini pertanyaan yang tidak terlalu menarik untuk
dijawab saat ini.
“Ah ya, perusahaan start-up masih banyak perubahan, masih
banyak yang harus dimaklumi. Well,
setiap perusahaan pasti ada yang membuat kita nyaman dan tidaknya. Tinggal
seberapa besar ambang toleransi kita saja untuk menghadapinya”
“jadi, masih bisa bertoleransi ?”
“hehehe. Honestly aku sedang mencari pekerjaan lagi di tempat lain. Tapi ini
bukan karena ambang toleransi. Ini
karena inflasi kak. Aku kewalahan mengejar inflasi. Kenaikan harga bahan pokok
jauh lebih pesat daripada kenaikan gaji. Tapi ini masih proses kak, belum
menemukan. Namun ada perubahan kondisi mendadak”
“Perubahan kondisi itu memang
bisa mendadak, di luar kuasa, kontrol dan rencana kita sebagai manusia. Tapi
jangan takut, itu Tuhan yang mengatur. Tuhan ingin kita berpegang kepada Dia. Ini
yang aku alami. Episode yang menakutkan memang kalau seperti ini. Tapi kalau
kita sudah menerima. Ternyata banyak berkat”
Kak Barlian melanjutkan cerita
“Hal itu lah yang aku alami
kenapa jadi pindah ke rumah ini. Hal yang tidak pernah diduga. Kak Anto, kakak
ipar ku mendadak pindah ke Surabaya karena mertuanya sakit dan butuh orang yang
meneruskan usahanya di sana. Jadilah, tempat les ini jadi aku dan istri yang
menjalani, karena banyak menghabiskan waktu di sini. Kami memutuskan tinggal di
sini. Rumah ku aku kontrakan saja. Tentu saja pada awalnya banyak hal yang
melelahkan dan ku keluhkan. Tidak hanya soal tempat tinggal, tapi juga waktu.
Aku berkorban melepaskan salah satu pekerjaan ku untuk bantu istri mengajar
disini. Tapi ternyata ada banyak berkat yang aku rasakan dan aku sangat
bersyukur karena itu”
“Nampaknya refleksi kita tahun
ini sama kak. Different story but same
meaning” kataku sambil mengangguk dan tersenyum.
“Really? So how is your story ?“
****
“Bu, maaf sebelumnya kira-kira
kenaikan gaji di tahun depan berapa persen ya ?”
“Kurang lebih (Sekian) persen sa.
Ada apa ?”
“Sejujurnya, aku mengalami
kesulitan. Aku tidak bilang gajiku kecil karena itu sangat relatif. Tapi tentu
saja, kebutuhan dan tuntutan setiap orang berbeda. Andai saja aku seseorang yang
tinggal di rumah orang tua dan gaji ku hanya untuk ongkos ke kantor dan makan
siang di kantor. Pastilah gajiku jadi sangat besar. Akan tetapi dengan tuntutan
ku sebagai pencari nafkah bagi keluarga, dengan skala rumah tangga yang aku
pikirkan. Belum lagi soal inflasi yang tidak dapat terkejar lagi.”
Boss menghela nafas. Sejenak
hening.
“Kamu tidak mau cari di tempat
lain saja ?”
“Izin nya repot bu. Tidak semudah
itu meninggalkan pekerjaan disini”
“yasudah, nggak apa-apa nanti saya yang handle pekerjaan dan berikan kamu izin
kalau ada panggilan kerja”
“wah serius bu ?”
“iya, kamu cari aja pekerjaan
yang jauh lebih baik di luar sana. Aku bantu”
“Baiklah kalau gitu ! aku akan
mencari mata air ” jawab ku senang.
Seperti ada secercah harapan
untuk bisa keluar dari situasi ini. Bukankah Allah tidak akan merubah keadaan
suatu kaum kalau bukan kaum itu sendiri yang berusaha mengubahnya ? maka
kesempatan ini akan aku gunakan sebaik-baiknya untuk merubah nasib. Aku akan
mulai perjalanan shafa marwa ku sampai mencari mata air
zam-zam.
Pencarian pun dimulai. Hingga ada salah satu perusahaan besar yang
mengundang aku untuk psikotest dan aku pun meminta izin kepada boss via Whatsapp (selanjutnya disebut WA) untuk
bisa meninggalkan pekerjaan.
“Bu, besok aku mau izin untuk
masuk siang. Tapi jam 12 siang juga sudah sampai di kantor kok. Ini ada
undangan psikotes hanya sampai jam 11 saja”
“Oh yasudah, sampai seharian juga
nggak apa-apa kok”
“yah, kan cuma 4 jam bu
diudangannya tertera buat apa juga aku menghabiskan waktu seharian”
“eh, sa. Aku mau menghubungi
teman ku yang waktu itu mau mengajak aku kerja di Rumah Sakit”
Dalam hati ku, “eh kok jadi
ikutan?”
“ya... terserah ibu saja gimana
baiknya” aku menjawab sembari bingung
Waktu pun terus berjalan, ia
proses, aku pun proses. Tentu saja lebih heboh aku karena aku tidak melalui
jalur referensi dan tentu lebih dari satu yang aku apply, juga tidak menutup
lokasi tes di Jakarta. Segala ikhtiar dikerahkan. Sedangkan boss ku, meski
tetap prosedural itu adalah jalur referensi. Ia juga sudah mengikuti beberapa
tahap sebelumnya 2 tahun lalu. Jadi sebetulnya ia adalah kandidat yang memang
dinanti. Sedangkan aku ? ya bukan siapa-siapa. Kalau sesuai requirement dan memang rejeki ya lolos,
kalau tidak sesuai dan bukan rejeki ya gagal.
“eh sa mending aku dulu atau kamu
dulu ya yang resign ?” katanya santai
sambil kita menyantap nasi uduk dekat kantor sepulang kerja
“tentu saja aku dong !” jawab ku
reaktif
“kenapa ?” tanyanya tanpa menoleh
kepadaku karena sibuk dengan lele di piringnya
“tentu saja, aku sudah
memprediksi kemungkinan-kemugkinan yang akan muncul dari suatu situasi. Kalau
ibu resign duluan maka ada beberapa
kemungkinan situasi yang muncul. Pertama, diantara aku dan babeh akan ada yang
‘dipaksakan’ naik jabatan untuk menggantikan tanpa dasar yang jelas. Hal ini
dlakukan hanya untuk meningkatkan efisiensi. Lebih baik naikin dari internal
dengan gaji juga hanya dinaikan tidak seberapa. Daripada rekrut eksternal
dengan biaya lebih tinggi. Kedua, akan dicari penggantinya, rekrutmen eksternal.
Ketiga, tidak akan ada penggantinya, fungsi manager akan dipecah tidak karuan.
Sehingga tidak jelas siapa yang memerankan pengambilan keputusan dan penyusunan
strategi di departemen HRD. Tentu saja hal tidak rasional ini dilakukan karena
dasar profit dengan memangkas fixed cost”
Tidak ada komentar dari boss.
Nafsu makan ku mendadak saja hilang. Aku menyadari, hal terburuk dari semua ini
adalah kemungkinan situasi yang ketiga. Belum lagi kesempatan ku untuk mencari
mata air akan semakin sempit. Masa iya aku izin sama boss besar untuk mencari
pekerjaan di tempat lain ? tentu saja kesempatan tidak akan seleluasa saat ini.
Makanan kami sudah habis, yang
ada hanya lamunan tanpa pembicaraan. Aku merasa ada sesuatu yang harus
ditanyakan kepadanya.
“Bu, kalau aku mulai bergerak
mencari mata airnya jauh lebih awal, apa Ibu akan ikut menghubungi teman ibu
pada saat itu juga?”
“ya kemungkinan begitu. Eh nggak
tau lah sa. Emang kenapa ?”
“kenapa Ibu tidak menyadari untuk
resign jauh sebelum atau jauh sesudah
aku memulai perjalanan shafa dan marwa ini
?”
“ya nggak tahu juga ya. Pokoknya
aku jadi kepikiran aja setelah kamu mulai bergerak”
“ya tapikan aku juga tidak akan
bergerak kalau ibu tidak memberikan kesempatan bergerak. Lagian, aku tidak tahu
berapa lama aku akan mendapat pekerjaan baru di luar sana. Akan selalu ada
kemungkinan gagal kok. Cari kerjaan itukan tidak langsung dapat kalau bukan
rejekinya”
“ya nggak tau lah !” katanya
dengan nada bicara tidak enak dan menyudahi pembicaraan ini secara paksa.
Setelah pembicaraan singkat pada
malam itu. Aku sadar aku berada pada posisi yang tidak mengenakan. Sulit
diungkapkan dengan kata-kata.
Hingga akhirnya hari itu semakin
dekat, meski perasaan ku tidak nyaman berada dalam posisi ini. Tapi aku
berusaha bersikap wajar. Seperti biasanya saja, makan siang bersama di luar. Dengan
santainya boss cerita-cerita soal bagaimana tahap rekrutmen terakhirnya dan
hanya tinggal menunggu hasil untuk bisa menerbitkan surat resign. Aku dengarkan saja apapun yang ia ceritakan.
“kok nggak ada komentar ?”
tanyanya karena aku hanya senyum-senyum saja mendengar ceritanya.
“ya nggak apa-apa, kan menyimak”
jawabku sambil tersenyum
“ada yang salah ?”
“tidak. Tapi boleh aku bertanya ?”
“apa ?”
“pada saat itu Ibu bilang mau
bantu aku untuk menemukan mata air. Saat inikan kondisinya berbeda. Dengan kondisi
saat ini, bagaimana ibu akan membantu ku ?”
Dia hanya diam. Cukup lama. Tidak
bisa menjawab.
“kok diam ? tidak bisa jawab ?”
gantian aku yang bertanya
Hari itu aku tidak dapat jawaban
darinya. Tapi aku terbuka tentang apa yang aku rasakan.
“yasudah tidak apa-apa. Aku kan
hanya bertanya, ya menagih kemana larinya ucapan ibu itu. Aku tidak marah atau
membenci mu. Hanya sedih dan kecewa saja, sakit hati juga ada. Ya mungkin aku
akan dianggap berlebihan dan terlalu perasa soal ini. Tapi itulah yang aku
rasakan saat ini. Kok ya seperti merasa dibohongi dan ditinggalkan begitu saja ya
? Meski secara Habluminallah aku
sadar betul rezeki itu sudah diatur sama Allah dan kalau sudah rejeki, tidak
akan ada yang dapat menghalang-halangi. Aku hanya mempertanyakan ranah Habluminannas nya”
“Yasudah yuk, kita kembali ke
kantor. Sudah jam segini”, ajak aku
Hari-hari aku jalani dengan tidak
mudah. Selain harus bangkit dari harapan menemukan mata air yang kandas, setiap
hari aku harus berkoordinasi dengan manusia yang membuat hati ini tidak
bahagia. Belum lagi vonis sudah diputuskan, bahwa aku dan babeh akan dijatuhi
pekerjaan dari jabatan boss-langsung. Tanpa ada penggantinya. dengan kata lain,
prediksi ku mengenai kemungkinan ketiga lah yang terjadi.
Pada titik ini, aku menemukan
bahwa, ternyata sedih itu bisa dikontrol tapi tidak bisa hilang begitu saja.
Suatu saat, boss mengajak sarapan
bersama di luar kantor. Seperti biasa, aku turuti saja. Meski kondisi hati ya
begitulah adanya. Selama sarapan, tidak ada pembicaraan apapun. Ia malah sibuk
menelpon temannya yang ada di Jakarta, menginformasikan bahwa dalam hitungan
hari ia akan kerja di Bekasi. Aku diam saja, jadi kacang.
“ada yang ibu mau bicarakan
mungkin ?”
“nggak ada. Emang kenapa ?”
“lazimnya orang ngajak makan
karena mau ngobrol bareng atau ada yang ingin dibicarakan gitu bu”
“lazimnya ?” dia bertanya dengan
nada dan raut muka yang tajam.
Aku diam.
“kenapa kamu ? kecewa ?”
“nggak” Aku tertunduk lesu.
“aku cuma mau kamu nemenin doang
kok. Tapi nggak harus ngobrol kan ?”
Sudah suasana hati sedang buruk,
diperlakukan seperti ini malah semakin memperburuk saja. Tapi yasudahlah,
maklum. Dua tahun jadi follower-nya
sudah hapal betul sikapnya memperlakukan orang lain.
“oia, kamu bisa kapan buat acara
makan-makan?” tanya nya
“aku ikut yang lain saja bu. Pokoknya
kalau yang lain bisa, yasudah jadikan saja. Nggak perlu nunggu aku bisa ya”
jawabku tidak minat sama sekali dengan suasana hati seperti ini
“maksud kamu ? kamu bisa jadi gak
ikut ?!”
“ya, suasana hati ku sedang buruk
sekali. Kan ibu tahu, aku sedang sedih dan kecewa. Berat bagi aku harus
berpura-pura bahagia didepan yang lain seperti tidak ada apa-apa.”
Harapan ku jawabannya akan
seperti manusia dewasa pada umumnya, “Yasudah saya minta maaf. Terserah kamu
saja baiknya gimana. Nggak datang juga nggak apa-apa. Tapi kalau kamu datang
saya akan merasa sangat senang”
Namun kenyataannya jawabannya
adalah sebagai berikut, “kalau kamu nggak ikut, kalau gitu semuanya akan aku
batalkan. Acaranya nggak usah jadi aja !”
Aku menghela nafas sementara hati
semakin tenggelam dalam ketidaknyamanan.
Tentu saja pertanyaan ini tidak
langsung aku jawab. Ada pergulatan batin yang cukup sengit. Ada 2 waktu shalat
untuk aku bisa bicara dengan Tuhan. Zuhur dan Ashar.
Zuhur aku menyadari bahwa kenapa
aku tidak ambil langkah memaafkan saja ? toh, sebetulnya dia sudah minta maaf
via WA dan mengakui bahwa ia kurang perhitungan dalam mengambil keputusan ini
dan juga minta maaf karena membuat aku bersedih. lagipula aku kan juga tidak
mau membencinya. Aku percaya akan konsep islam tentang menjaga silaturrahim. Aku
tidak akan membakar jembatan yang nantinya aku lewati lagi. Siapa tau, ada
rejeki ilmu dan referensi pekerjaan di kemudian hari yang syareatnya adalah
melalui dirinya. Selain itu, aku meyakini bahwa sebetulnya diri ku lah yang
menjadi syareat untuk menyadarkannya bahwa ini adalah saatnya dia untuk resign. Lantas bagaimana dengan ku ?
tentu nanti sudah ada waktunya tersendiri.
Ashar aku mempertanyakan bahwa
sesungguhnya hidup ini apa yang aku cari ? bukankah rangkaian kejadian ini
sudah atas izin Allah ? aku menitikan air mata. Ketika berdoa. apa yang aku
cari dan inginkan dalam hidup ini sesungguhnya ? “ya sudah Ya Allah. Aku ikhlas. Aku Ridho. apapun yang Engkau tetapkan untuk
ku saat ini. Di dunia ini aku tidak ingin apa-apa lagi selain keridhoan-Mu,
karena aku tidak tahu mana yang terbaik bagiku”
Kalau aku memaafkan, ikhlas dan ridho atas ketetapan
ini, maka aku tidak boleh setengah-setengah. Dengan hati yang lebih ringan aku
bersiap juga mengikuti acara itu. Teman-teman yang lain sudah duluan. Aku cek
dompet, apakah aku masih ada uang cash atau
tidak. Aku menemukan secarik kertas yang aku simpan di dompet. Tulisannya
adalah tulisan tanggan ku sendiri. Aku menulis dan menyimpannya di dompet sejak
duduk di bangku kuliah semester 2.
Aku tidak peduli dalam keadaan apa aku menjalani hari-hari ku, dalam
kondisi yang kusukai atau tidak kusukai. Karena aku tidak tahu mana yang lebih
baik bagiku diantara keduanya. Karena aku hanya ingin ridho atas pengaturan
Allah dan tenang atas pilihan dan ketentuan-Nya.
[Abu Bakar Ash – Shidiq ra]
****
“That’s good, kamu
mengambil langkah memaafkan” kata kak Barlian menanggapi cerita ku
“ya kak,ilmu ikhlas juga dan manusia sekitar kita adalah cerminan kita
seperti yang disampaikan babeh di kantor. Memang sih kak, apa yang secara
keliahatan dari luar belum ada perubahan apapun dari kejadian itu. Aku belum pindah kerjaan juga. Tapi perubahan
ku, hijrah ku ada di hati kak”
“ya memang sa, karena Tuhan lebih
tertarik merubah apa yang ada di dalam, bukan di luar. Tapi manusia seringkali
berusaha merubah apa yang di luar, sementara yang di dalam tidak pernah berubah”
“setuju kak. Dan aku sangat
merasa berysukur sekali akan kejadian ini. Seperti yang kakak alami juga,
ternyata malah banyak keberkahan dalam perjalanan batin”
“Tuhan itu tidak ingin kita
berpegang pada dunia. Kalau berpegang sama dunia sih tidak apa juga. Tapi kita
hanya pegang dunia. Buka Tuhan, bukan kehidupan kekal nanti. Padahal berpegang
dengan Tuhan itu lebih aman”
“oohh ya, kalau bahasa ku, kalau
mengejar dunia akan dapat dunia dan kalau mengejar akhirat akan dapat akhirat
dan juga dunia. Juga, tidak boleh bergantung kepada selain Allah”
“Jadi, hidup mu akan berubah ?”
“ya ntahlah kak, aku jalani saja
dulu. Di kantor ku situasinya tidak lazim”
Aku sedikit banyak cerita soal
kondisi kantor dan manajemennya.
“itu perusahaan sakit sa ?” tanya
kak Barlian yang aku pikir itu adalah opininya daripada pertanyaannya
“iya ya, kok aku baru sadar,
saking udah mati rasa menjalani di dalamnya sebagai romusha. Hehehe” kata ku
bercanda
“nggak apa-apa sa, nanti akan ada waktunya kok kamu keluar dari sana. Tapi
kamu tetap harus lakukan yang terbaik untuk menunggu saat itu. Kamu mungkin
juga sudah tau kisah ini. Kisah Nabi Yusuf”
Aku menunjukan wajah menyimak
dengan serius. Ingin dengar versi dari Kak Barlian.
“Pasti kamu juga sudah tahu kalau
Nabi Yusuf itu dikagumi karena ketampanannya”
“ya kak”
“lalu dia diceburkan ke dalam
sumur oleh saudara-saudaranya, diselamatkan kemudian diangkat menjadi budak
atau anak angkat. Namun kemudian ia di fitnah lalu dimasukan ke penjara. Di
penjara ia menafsirkan mimpi kedua temannya yang merupakan kepala bagian
minuman dan makanan kerajaan. Salah satu temannya pun bebas dari pejara dan
kembali ke kerajaan. Mungkin saat itu Yusuf bilang ketemennya itu. Ntar kalau
lu udah keluar. Bantu gue keluar dari sini ya. Tapikan ternyata boro-boro
temannya itu ingat. Hingga suatu saat Raja Mesir punya mimpi yang tidak satu
orang pun bisa menafsirkannya. Akhirnya si temannya itu ingat sama Yusuf. setelah
sekian lama Yusuf keluar dari penjara. Mungkin kalau kita bayangin, Yusuf ayo
bebersih, mandi, kamu keluar sekarang. Ya itu lah yang aku bilang tadi. Sudah waktunya.
Disitulah hidupnya mulai berubah, ia menafsirkan mimpi Raja Mesir kan bahwa
akan terjadi 7 tahun masa subur dan 7 tahun masa paceklik. Keluarganya kan ada
di Palestina, pergilah saudara-saudaranya kesana untuk menukarkan emas dengan
bahan makanan. Ternyata mereka bertemu. Saudara-saudaranya saat itu tidak
menyadari bahwa Menteri Ekonomi Kerajaan Mesir yang mereka hadapi adalah Yusuf.
Finally, mereka berkumpul lagi, Nabi
Yaqub juga dibawa ke kerajaan. So, kalau Yusuf tidak menghadapi serangkaian
kejadian diceburkan ke sumur, difitnah, masuk penjara, ia tidak akan dapat
menyelamatkan dan berkumpul dengan keluarganya pada akhirnya.”
Aku terdiam.
“Jadi sa, percayalah bahwa
kejadian apapun yang kamu hadapi saat ini. Sepahit apapun. Itu pasti ada
manfaatnya di kemudian hari. Serangkaian kejadian yang kamu hadapi saat ini
akan membuahkan berkat di kemudian hari. Pertanyaannya are you ready to face it ?”
No comments:
Post a Comment