aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Monday, January 23, 2017

Ikhlas

My name is Barry Allen and I'm the fastest man alive. When I was a child, I saw my mother killed by something impossible. My father went to prison for her murder. Then an accident made me the impossible. To the outside world, I'm just an ordinary forensic scientist, but secretly with the help of my friends I use my speed to fight crime and find others like me, and one day I'll find who killed my mother and get justice for my father. I am The Flash.


“Loh, siapa nih yang suka nonton film kesukaan ku?” , tanya ku dalam hati sambil mencari sumber suara opening film Flash itu.

Ku temukan babeh. Sedang menatap layar laptop dengan serius. Tenyata dia pelakunya. Babeh, merupakan sapaan orang-orang kantor kepada dirinya, tepatnya kami orang-orang HRD. Lantaran jauh generasinya dibanding kami yang lahir tahun 80 dan 90an. Ia angkatan 70an, tapi tetap saja kami berinteraksi dengan baik, tentu juga bekerjasama dan berkoordinasi dengan baik dalam hal kerja. Satu hal lagi, meski aku dan babeh selevel, tapi aku sangat mempertuakan usia dan pengalamannya.

“huiihhh, suka nonton Flash juga beh ? bahagianya aku ada teman yang suka nonton film yang sama. Aku ngikutin loh dari season pertama”

“iyaa, nu eta kan yang Reverse Flash nya ?” sambil nunjuk ke layar laptop

Aku tambah senang. Babeh tau detailnya. Aku putuskan ambil kursi terdekat dan duduk untuk ikut nonton juga. Biarlah cuma sebentar meski ini jam kerja daripada memusingkan serah terima jabatan yang meluap dari porsinya, karena ini bukan serah terima sebagai pejabat sementara, bisa jadi selamanya. Sudah ketok palu bahwa tidak akan ada penggantinya. Hingga kiamat kecuali Tuhan mengetuk hati boss-besar yang kita tidak ada yang tahu kapan waktunya.

“iya beeeh. Terus asik banget ya dengan kecepatannya dia bisa kembali ke masa lalu dan merubah sesuatu”

“ah, tapi kan tetap saja. Tidak akan bisa merubah apa-apa yang sudah ditakdirkan. Misalnya kematian” sanggah babeh

“iya beh. Itu kalau pakai konsep Islam. Ada takdir yang bisa dirubah dan tidak bisa dirubah. Ini kan film. Di Season 3 kan si Flash coba merubah takdir supaya kedua orangtuanya gak meninggal pada saat dia masih kecil itu loh. Kalau gitu sih keenakan ya ? ” Aku menoleh ke Babeh

Babeh hanya mengangguk. Menatap layar laptop. Tapi aku tahu pikirannya mengembara.

“Tadi saya dikasih pilihan sama boss-besar” kata babeh tiba-tiba melenceng dari topik

“Jadi gimana beh ?” aku tanya langsung meski ada perasaan enggan tahu karena semuanya terasa berat untuk saat ini. Namun apa yang ia ceritakan ini secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi apa yang akan aku hadapi. Jadi aku harus tau. Aku harus hadapi.

“saya kan ditawari posisi di bisnis unit lain yang masih 0 itu loh, yang dana tunai”

“terus babeh jawab apa ?” tanya ku penasaran

“ya saya bilang, bahwa di Al-Quran sudah jelas Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Kemudian, kerja dimanapun saya paling menghindari pekerjaan yang mengurus uang, karena  biang fitnahnya jauh lebih besar. Saya minta waktu untuk istikharah dulu”

“oohh begitu ya. Jadi nasib ku juga akan bergantung dengan hasil istikharah babeh nanti ?”

“ya kira-kira begitu” babeh mengangguk

Aku menghela nafas. Kalau Babeh menerima tawaran itu, aku tidak saja menerima serah terima pekerjaan dari boss-langsung yang resign, tapi juga pekerjaan dari babeh yang juga sumbernya dari serah terima boss-langsung itu. Dengan kata lain, babeh meninggalkan ku. Sendiri. Dengan tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, ah, ya kecuali tentang fungsi HR.

“tadi jawaban babeh ke boss besar menunjukan babeh berkeberatan dengan pilihan menerima tawaran posisi itu. Lantas kalau hasil istikharah babeh adalah mengambil posisi itu bagaimana ?”

“ya dijalani aja. Kan seperti hidup sufi. Hanya menjalankan perintah” jawab babeh enteng

“lah, serius beh ? nggak ada perasaan gak nyaman atau gak terima gitu ?”

“kalau kaya gitu, berarti pake nafsu”

Aku diam. Ada hening sejenak. Terdengar suara Lift Gudang Unit Sepeda Motor yang sedang turun.

“jadi kita harus ridha ya beh, sama apapun ketetapan Allah. Ikhlas”

“betul. Dosa terbesar itu bisa jadi kalau kita mengeluh atas ketetapan-Nya. Harus yakin kalau pasti ada hikmahnya. Kalau memang saya harus jadi di unit bisnis baru itu, saya yakin ada sesuatu, hikmah”

“termasuk kalau ada orang yang menyakiti hati kita juga beh ?” tanya ku melenceng. Sebab hati tidak pernah bisa bohong. Selalu perlu memahami atas apa yang sedang dirasakan

“yaiya dong, kan mereka menyakiti hati kita juga atas izin Allah”

“aku kemarin dengar ceramah Aa Gym beh, katanya kalau ada orang yang menyakiti hati kita, berarti kita pernah melakukan hal itu juga kepada orang lain. Jadi ya solusinya taubat”

“ya itu benar, tapi biar saya lengkapi. Kamu tahu ? bahwa setiap orang yang ada disekitar kita atau yang dipertemukan kita itu adalah cerminan kita”

“maksudnya beh ?” tanyaku dengan mengerutkan dahi maksimal sembari berpikir karena sangat tidak mengerti dengan jawabannya

“iya, cerminan kita” jawab babeh singkat seperti malas menjelaskan
“duh nggak ngerti deh” kata ku kesal dan menyerah

“jadi begini, sebetulnya, kita juga memiliki sifat baik maupun buruk dari orang sekitar kita. Apabila orang tersebut mengimplementasikan sifat-sifat baiknya, ya sebetulnya kita juga memiliki sifat baik itu. Tapi kalau ada orang yang berlaku buruk kepada kita. Sebetulnya kita juga memiliki sifat buruk itu. Tapi karena Allah sayang sama kita. Makanya sifat itu dimunculkan kepada kita, agar sifat itu tidak muncul pada diri kita. Ya tapi bisa juga kok, hal itu terjadi karena kita pernah berbuat buruk kepada orang lain”

“ohhh supaya kita tidak berlaku seperti orang yang berlaku buruk itu ya beh ?” tanya ku memastikan pemahaman dengan nada sedikit meninggi karena bahagia. Ah, aku mengerti sekarang.

 “makasi ya beh. Besok-besok mau belajar tasawuf lagi dari babeh. Babeh hari ini telah menjadi syareat pengantar jawaban atas pertanyaan ku.”

“oohh iya Alhamdulillah atuh

Secara tidak sengaja adegan terimakasih itu disaksikan staff ku yang sedang lewat. Lalu dia mengejek babeh.

“Jemaaahh oohhh Jemaaaahh.. Alhamdu lillaaah....”

Babeh yang sambil bersiap pulang sedang menggunakan jaket dan syal. Kontan melempar syalnya seperti ustadz yang di TV setelah menyapa jemaah.


******

Hari ini Sabtu. Aku berusaha bangun pagi, karena ada janji. Tidak lupa aku membawa dua buah buku yang aku ambil dari rak buku ku. Sengaja sudah dipisahkan dari beberapa hari yang lalu agar tidak buru-buru mencarinya.

Sampailah aku pukul 09.30 di depan rumah seseorang. Tentu karena sudah familiar aku langsung buka sendiri saja pagarnya. Lalu ada yang menyapa ku dari balkon lantai atas rumah tersebut.

“Hei !”            
        
Aku melihat ke atas, tersenyum kepada kak Barlian.

Motor sudah masuk dan pada saat aku akan menutup pagar,

“Udaaah.. nggak apa-apa. Nggak sudah ditutup”

“Nggak apa-apa. Kan motor ku biar aman juga. Hahaha” jawab ku bercanda tapi niatnya lurus adanya

Aku berjabat tangan dengannya.

“sudah lama sekali ya kita nggak ketemu” kata ku sambil jalan bersama masuk ke ruangan mengajar. Tidak ada ruang tamu karena rumah ini lantai bawahnya adalah tempat les MAFIKI SD-SMP-SMA. Jadi kami duduk di meja dan kursi belajar mengajar. Aku menyempatkan diri melihat keseluruh ruangan. Masih sama seperti dulu. Hampir tidak ada yang berubah. Letak Salib di dinding, letak lukisan yang aku pikir dari dulu itu adalah Yesus bagi pemilik rumah, letak papan tulis, letak meja dan kursi. Ah, masih sama seperti ketika aku mengajar disini 3 tahun lalu. Sebetulnya ini bukan rumahnya, tapi rumah kakak Iparnya. Aku belum tahu juga kenapa Kak Barlian jadi tinggal disini.

“Oh iya, ini bukunya Kak. Maaf ya kembalikannya jadi lama” sambil aku keluarkan 2 buah buku dari tas ku.

“Nggak apa-apa. Nggak dibaca juga kok. Gimana Training nya ?”

“Ya begitu lah, feedback dari trainee sih sejauh ini positif” jawab ku singkat sedang tidak mau bahas urusan kantor padahal maksud Kak Barlian baik, memastikan apa buku yang dipinjamkannya membantu dalam menyusun materi Training Komunikasi

“Hei kak Santi !” Aku menyapa istri kak Barlian yang berjalan menuju dapur

“Hei sa ! udah lama ya nggak ketemu”

Setelah selesai menyapa aku kembali duduk

So, How is Work ?” tanya kak Barlian

Sebelum menjawab, aku sejenak menahan nafas, berpikir berat. Ini pertanyaan yang tidak terlalu menarik untuk dijawab saat ini.

“Ah ya, perusahaan start-up masih banyak perubahan, masih banyak yang harus dimaklumi. Well, setiap perusahaan pasti ada yang membuat kita nyaman dan tidaknya. Tinggal seberapa besar ambang toleransi kita saja untuk menghadapinya”
“jadi, masih bisa bertoleransi ?”

“hehehe. Honestly aku sedang mencari pekerjaan lagi di tempat lain. Tapi ini bukan karena  ambang toleransi. Ini karena inflasi kak. Aku kewalahan mengejar inflasi. Kenaikan harga bahan pokok jauh lebih pesat daripada kenaikan gaji. Tapi ini masih proses kak, belum menemukan. Namun ada perubahan kondisi mendadak”

“Perubahan kondisi itu memang bisa mendadak, di luar kuasa, kontrol dan rencana kita sebagai manusia. Tapi jangan takut, itu Tuhan yang mengatur. Tuhan ingin kita berpegang kepada Dia. Ini yang aku alami. Episode yang menakutkan memang kalau seperti ini. Tapi kalau kita sudah menerima. Ternyata banyak berkat”

Kak Barlian melanjutkan cerita
“Hal itu lah yang aku alami kenapa jadi pindah ke rumah ini. Hal yang tidak pernah diduga. Kak Anto, kakak ipar ku mendadak pindah ke Surabaya karena mertuanya sakit dan butuh orang yang meneruskan usahanya di sana. Jadilah, tempat les ini jadi aku dan istri yang menjalani, karena banyak menghabiskan waktu di sini. Kami memutuskan tinggal di sini. Rumah ku aku kontrakan saja. Tentu saja pada awalnya banyak hal yang melelahkan dan ku keluhkan. Tidak hanya soal tempat tinggal, tapi juga waktu. Aku berkorban melepaskan salah satu pekerjaan ku untuk bantu istri mengajar disini. Tapi ternyata ada banyak berkat yang aku rasakan dan aku sangat bersyukur karena itu”

“Nampaknya refleksi kita tahun ini sama kak. Different story but same meaning” kataku sambil mengangguk dan tersenyum.

“Really? So how is your story ?“
****
“Bu, maaf sebelumnya kira-kira kenaikan gaji di tahun depan berapa persen ya ?”

“Kurang lebih (Sekian) persen sa. Ada apa ?”

“Sejujurnya, aku mengalami kesulitan. Aku tidak bilang gajiku kecil karena itu sangat relatif. Tapi tentu saja, kebutuhan dan tuntutan setiap orang berbeda. Andai saja aku seseorang yang tinggal di rumah orang tua dan gaji ku hanya untuk ongkos ke kantor dan makan siang di kantor. Pastilah gajiku jadi sangat besar. Akan tetapi dengan tuntutan ku sebagai pencari nafkah bagi keluarga, dengan skala rumah tangga yang aku pikirkan. Belum lagi soal inflasi yang tidak dapat terkejar lagi.”

Boss menghela nafas. Sejenak hening.

“Kamu tidak mau cari di tempat lain saja ?”

“Izin nya repot bu. Tidak semudah itu meninggalkan pekerjaan disini”

“yasudah,  nggak apa-apa nanti saya yang handle pekerjaan dan berikan kamu izin kalau ada panggilan kerja”

“wah serius bu ?”

“iya, kamu cari aja pekerjaan yang jauh lebih baik di luar sana. Aku bantu”

“Baiklah kalau gitu ! aku akan mencari mata air ” jawab ku senang.

Seperti ada secercah harapan untuk bisa keluar dari situasi ini. Bukankah Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum kalau bukan kaum itu sendiri yang berusaha mengubahnya ? maka kesempatan ini akan aku gunakan sebaik-baiknya untuk merubah nasib. Aku akan mulai perjalanan shafa marwa ku sampai mencari mata air zam-zam.

Pencarian pun dimulai.  Hingga ada salah satu perusahaan besar yang mengundang aku untuk psikotest dan aku pun meminta izin kepada boss via Whatsapp (selanjutnya disebut WA) untuk bisa meninggalkan pekerjaan.

“Bu, besok aku mau izin untuk masuk siang. Tapi jam 12 siang juga sudah sampai di kantor kok. Ini ada undangan psikotes hanya sampai jam 11 saja”

“Oh yasudah, sampai seharian juga nggak apa-apa kok”

“yah, kan cuma 4 jam bu diudangannya tertera buat apa juga aku menghabiskan waktu seharian”

“eh, sa. Aku mau menghubungi teman ku yang waktu itu mau mengajak aku kerja di Rumah Sakit”

Dalam hati ku, “eh kok jadi ikutan?”

“ya... terserah ibu saja gimana baiknya” aku menjawab sembari bingung

Waktu pun terus berjalan, ia proses, aku pun proses. Tentu saja lebih heboh aku karena aku tidak melalui jalur referensi dan tentu lebih dari satu yang aku apply,  juga tidak menutup lokasi tes di Jakarta. Segala ikhtiar dikerahkan. Sedangkan boss ku, meski tetap prosedural itu adalah jalur referensi. Ia juga sudah mengikuti beberapa tahap sebelumnya 2 tahun lalu. Jadi sebetulnya ia adalah kandidat yang memang dinanti. Sedangkan aku ? ya bukan siapa-siapa. Kalau sesuai requirement dan memang rejeki ya lolos, kalau tidak sesuai dan bukan rejeki ya gagal.

“eh sa mending aku dulu atau kamu dulu ya yang resign ?” katanya santai sambil kita menyantap nasi uduk dekat kantor sepulang kerja

“tentu saja aku dong !” jawab ku reaktif

“kenapa ?” tanyanya tanpa menoleh kepadaku karena sibuk dengan lele di piringnya

“tentu saja, aku sudah memprediksi kemungkinan-kemugkinan yang akan muncul dari suatu situasi. Kalau ibu resign duluan maka ada beberapa kemungkinan situasi yang muncul. Pertama, diantara aku dan babeh akan ada yang ‘dipaksakan’ naik jabatan untuk menggantikan tanpa dasar yang jelas. Hal ini dlakukan hanya untuk meningkatkan efisiensi. Lebih baik naikin dari internal dengan gaji juga hanya dinaikan tidak seberapa. Daripada rekrut eksternal dengan biaya lebih tinggi. Kedua, akan dicari penggantinya, rekrutmen eksternal. Ketiga, tidak akan ada penggantinya, fungsi manager akan dipecah tidak karuan. Sehingga tidak jelas siapa yang memerankan pengambilan keputusan dan penyusunan strategi di departemen HRD. Tentu saja hal tidak rasional ini dilakukan karena dasar profit dengan memangkas fixed cost

Tidak ada komentar dari boss. Nafsu makan ku mendadak saja hilang. Aku menyadari, hal terburuk dari semua ini adalah kemungkinan situasi yang ketiga. Belum lagi kesempatan ku untuk mencari mata air akan semakin sempit. Masa iya aku izin sama boss besar untuk mencari pekerjaan di tempat lain ? tentu saja kesempatan tidak akan seleluasa saat ini.
Makanan kami sudah habis, yang ada hanya lamunan tanpa pembicaraan. Aku merasa ada sesuatu yang harus ditanyakan kepadanya.

“Bu, kalau aku mulai bergerak mencari mata airnya jauh lebih awal, apa Ibu akan ikut menghubungi teman ibu pada saat itu juga?”

“ya kemungkinan begitu. Eh nggak tau lah sa. Emang kenapa ?”

“kenapa Ibu tidak menyadari untuk resign jauh sebelum atau jauh sesudah aku memulai perjalanan shafa dan marwa ini ?”

“ya nggak tahu juga ya. Pokoknya aku jadi kepikiran aja setelah kamu mulai bergerak”

“ya tapikan aku juga tidak akan bergerak kalau ibu tidak memberikan kesempatan bergerak. Lagian, aku tidak tahu berapa lama aku akan mendapat pekerjaan baru di luar sana. Akan selalu ada kemungkinan gagal kok. Cari kerjaan itukan tidak langsung dapat kalau bukan rejekinya”

“ya nggak tau lah !” katanya dengan nada bicara tidak enak dan menyudahi pembicaraan ini secara paksa.

Setelah pembicaraan singkat pada malam itu. Aku sadar aku berada pada posisi yang tidak mengenakan. Sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Hingga akhirnya hari itu semakin dekat, meski perasaan ku tidak nyaman berada dalam posisi ini. Tapi aku berusaha bersikap wajar. Seperti biasanya saja, makan siang bersama di luar. Dengan santainya boss cerita-cerita soal bagaimana tahap rekrutmen terakhirnya dan hanya tinggal menunggu hasil untuk bisa menerbitkan surat resign. Aku dengarkan saja apapun yang ia ceritakan.

“kok nggak ada komentar ?” tanyanya karena aku hanya senyum-senyum saja mendengar ceritanya.

“ya nggak apa-apa, kan menyimak” jawabku sambil tersenyum

“ada yang salah ?”

“tidak. Tapi boleh aku bertanya ?”

“apa ?”

“pada saat itu Ibu bilang mau bantu aku untuk menemukan mata air. Saat inikan kondisinya berbeda. Dengan kondisi saat ini, bagaimana ibu akan membantu ku ?”

Dia hanya diam. Cukup lama. Tidak bisa menjawab.

“kok diam ? tidak bisa jawab ?” gantian aku yang bertanya

Hari itu aku tidak dapat jawaban darinya. Tapi aku terbuka tentang apa yang aku rasakan.

“yasudah tidak apa-apa. Aku kan hanya bertanya, ya menagih kemana larinya ucapan ibu itu. Aku tidak marah atau membenci mu. Hanya sedih dan kecewa saja, sakit hati juga ada. Ya mungkin aku akan dianggap berlebihan dan terlalu perasa soal ini. Tapi itulah yang aku rasakan saat ini. Kok ya seperti merasa dibohongi dan ditinggalkan begitu saja ya ? Meski secara Habluminallah aku sadar betul rezeki itu sudah diatur sama Allah dan kalau sudah rejeki, tidak akan ada yang dapat menghalang-halangi. Aku hanya mempertanyakan ranah Habluminannas nya”

“Yasudah yuk, kita kembali ke kantor. Sudah jam segini”, ajak aku

Hari-hari aku jalani dengan tidak mudah. Selain harus bangkit dari harapan menemukan mata air yang kandas, setiap hari aku harus berkoordinasi dengan manusia yang membuat hati ini tidak bahagia. Belum lagi vonis sudah diputuskan, bahwa aku dan babeh akan dijatuhi pekerjaan dari jabatan boss-langsung. Tanpa ada penggantinya. dengan kata lain, prediksi ku mengenai kemungkinan ketiga lah yang terjadi.

Pada titik ini, aku menemukan bahwa, ternyata sedih itu bisa dikontrol tapi tidak bisa  hilang begitu saja.

Suatu saat, boss mengajak sarapan bersama di luar kantor. Seperti biasa, aku turuti saja. Meski kondisi hati ya begitulah adanya. Selama sarapan, tidak ada pembicaraan apapun. Ia malah sibuk menelpon temannya yang ada di Jakarta, menginformasikan bahwa dalam hitungan hari ia akan kerja di Bekasi. Aku diam saja, jadi kacang.

“ada yang ibu mau bicarakan mungkin ?”

“nggak ada. Emang kenapa ?”

“lazimnya orang ngajak makan karena mau ngobrol bareng atau ada yang ingin dibicarakan gitu bu”

“lazimnya ?” dia bertanya dengan nada dan raut muka yang tajam.

Aku diam.

“kenapa kamu ?  kecewa ?”

“nggak” Aku tertunduk lesu.

“aku cuma mau kamu nemenin doang kok. Tapi nggak harus ngobrol kan ?”

Sudah suasana hati sedang buruk, diperlakukan seperti ini malah semakin memperburuk saja. Tapi yasudahlah, maklum. Dua tahun jadi follower-nya sudah hapal betul sikapnya memperlakukan orang lain.

“oia, kamu bisa kapan buat acara makan-makan?” tanya nya

“aku ikut yang lain saja bu. Pokoknya kalau yang lain bisa, yasudah jadikan saja. Nggak perlu nunggu aku bisa ya” jawabku tidak minat sama sekali dengan suasana hati seperti ini
“maksud kamu ? kamu bisa jadi gak ikut ?!”

“ya, suasana hati ku sedang buruk sekali. Kan ibu tahu, aku sedang sedih dan kecewa. Berat bagi aku harus berpura-pura bahagia didepan yang lain seperti tidak ada apa-apa.”

Harapan ku jawabannya akan seperti manusia dewasa pada umumnya, “Yasudah saya minta maaf. Terserah kamu saja baiknya gimana. Nggak datang juga nggak apa-apa. Tapi kalau kamu datang saya akan merasa sangat senang”

Namun kenyataannya jawabannya adalah sebagai berikut, “kalau kamu nggak ikut, kalau gitu semuanya akan aku batalkan. Acaranya nggak usah jadi aja !”

Aku menghela nafas sementara hati semakin tenggelam dalam ketidaknyamanan. 

Hari itu saat memasuki siang, staff ku bertanya via WA, karena aku sedang ada urusan di luar, “Bu, semuanya bisa hari ini sepulang kerja untuk acara perpisahan boss. Ibu bisa kan ?”

Tentu saja pertanyaan ini tidak langsung aku jawab. Ada pergulatan batin yang cukup sengit. Ada 2 waktu shalat untuk aku bisa bicara dengan Tuhan. Zuhur dan Ashar.

Zuhur aku menyadari bahwa kenapa aku tidak ambil langkah memaafkan saja ? toh, sebetulnya dia sudah minta maaf via WA dan mengakui bahwa ia kurang perhitungan dalam mengambil keputusan ini dan juga minta maaf karena membuat aku bersedih. lagipula aku kan juga tidak mau membencinya. Aku percaya akan konsep islam tentang menjaga silaturrahim. Aku tidak akan membakar jembatan yang nantinya aku lewati lagi. Siapa tau, ada rejeki ilmu dan referensi pekerjaan di kemudian hari yang syareatnya adalah melalui dirinya. Selain itu, aku meyakini bahwa sebetulnya diri ku lah yang menjadi syareat untuk menyadarkannya bahwa ini adalah saatnya dia untuk resign. Lantas bagaimana dengan ku ? tentu nanti sudah ada waktunya tersendiri.

Ashar aku mempertanyakan bahwa sesungguhnya hidup ini apa yang aku cari ? bukankah rangkaian kejadian ini sudah atas izin Allah ? aku menitikan air mata. Ketika berdoa. apa yang aku cari dan inginkan dalam hidup ini sesungguhnya ? “ya sudah Ya Allah. Aku ikhlas.  Aku Ridho. apapun yang Engkau tetapkan untuk ku saat ini. Di dunia ini aku tidak ingin apa-apa lagi selain keridhoan-Mu, karena aku tidak tahu mana yang terbaik bagiku”

Kalau aku  memaafkan, ikhlas dan ridho atas ketetapan ini, maka aku tidak boleh setengah-setengah. Dengan hati yang lebih ringan aku bersiap juga mengikuti acara itu. Teman-teman yang lain sudah duluan. Aku cek dompet, apakah aku masih ada uang cash atau tidak. Aku menemukan secarik kertas yang aku simpan di dompet. Tulisannya adalah tulisan tanggan ku sendiri. Aku menulis dan menyimpannya di dompet sejak duduk di bangku kuliah semester 2.

Aku tidak peduli dalam keadaan apa aku menjalani hari-hari ku, dalam kondisi yang kusukai atau tidak kusukai. Karena aku tidak tahu mana yang lebih baik bagiku diantara keduanya. Karena aku hanya ingin ridho atas pengaturan Allah dan tenang atas pilihan dan ketentuan-Nya.
[Abu Bakar Ash – Shidiq ra]

****
That’s good, kamu mengambil langkah memaafkan” kata kak Barlian menanggapi cerita ku

“ya kak,ilmu ikhlas juga dan manusia sekitar kita adalah cerminan kita seperti yang disampaikan babeh di kantor. Memang sih kak, apa yang secara keliahatan dari luar belum ada perubahan apapun dari kejadian itu.  Aku belum pindah kerjaan juga. Tapi perubahan ku, hijrah ku ada di hati kak”

“ya memang sa, karena Tuhan lebih tertarik merubah apa yang ada di dalam, bukan di luar. Tapi manusia seringkali berusaha merubah apa yang di luar, sementara yang di dalam tidak pernah berubah”

“setuju kak. Dan aku sangat merasa berysukur sekali akan kejadian ini. Seperti yang kakak alami juga, ternyata malah banyak keberkahan dalam perjalanan batin”

“Tuhan itu tidak ingin kita berpegang pada dunia. Kalau berpegang sama dunia sih tidak apa juga. Tapi kita hanya pegang dunia. Buka Tuhan, bukan kehidupan kekal nanti. Padahal berpegang dengan Tuhan itu lebih aman”

“oohh ya, kalau bahasa ku, kalau mengejar dunia akan dapat dunia dan kalau mengejar akhirat akan dapat akhirat dan juga dunia. Juga, tidak boleh bergantung kepada selain Allah”

“Jadi, hidup mu akan berubah ?”

“ya ntahlah kak, aku jalani saja dulu. Di kantor ku situasinya tidak lazim”

Aku sedikit banyak cerita soal kondisi kantor dan manajemennya.

“itu perusahaan sakit sa ?” tanya kak Barlian yang aku pikir itu adalah opininya daripada pertanyaannya

“iya ya, kok aku baru sadar, saking udah mati rasa menjalani di dalamnya sebagai romusha. Hehehe” kata ku bercanda

“nggak apa-apa sa, nanti  akan ada waktunya kok kamu keluar dari sana. Tapi kamu tetap harus lakukan yang terbaik untuk menunggu saat itu. Kamu mungkin juga sudah tau kisah ini. Kisah Nabi Yusuf”

Aku menunjukan wajah menyimak dengan serius. Ingin dengar versi dari Kak Barlian.

“Pasti kamu juga sudah tahu kalau Nabi Yusuf itu dikagumi karena ketampanannya”

“ya kak”

“lalu dia diceburkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, diselamatkan kemudian diangkat menjadi budak atau anak angkat. Namun kemudian ia di fitnah lalu dimasukan ke penjara. Di penjara ia menafsirkan mimpi kedua temannya yang merupakan kepala bagian minuman dan makanan kerajaan. Salah satu temannya pun bebas dari pejara dan kembali ke kerajaan. Mungkin saat itu Yusuf bilang ketemennya itu. Ntar kalau lu udah keluar. Bantu gue keluar dari sini ya. Tapikan ternyata boro-boro temannya itu ingat. Hingga suatu saat Raja Mesir punya mimpi yang tidak satu orang pun bisa menafsirkannya. Akhirnya si temannya itu ingat sama Yusuf. setelah sekian lama Yusuf keluar dari penjara. Mungkin kalau kita bayangin, Yusuf ayo bebersih, mandi, kamu keluar sekarang. Ya itu lah yang aku bilang tadi. Sudah waktunya. Disitulah hidupnya mulai berubah, ia menafsirkan mimpi Raja Mesir kan bahwa akan terjadi 7 tahun masa subur dan 7 tahun masa paceklik. Keluarganya kan ada di Palestina, pergilah saudara-saudaranya kesana untuk menukarkan emas dengan bahan makanan. Ternyata mereka bertemu. Saudara-saudaranya saat itu tidak menyadari bahwa Menteri Ekonomi Kerajaan Mesir yang mereka hadapi adalah Yusuf. Finally, mereka berkumpul lagi, Nabi Yaqub juga dibawa ke kerajaan. So, kalau Yusuf tidak menghadapi serangkaian kejadian diceburkan ke sumur, difitnah, masuk penjara, ia tidak akan dapat menyelamatkan dan berkumpul dengan keluarganya pada akhirnya.”

Aku terdiam.

“Jadi sa, percayalah bahwa kejadian apapun yang kamu hadapi saat ini. Sepahit apapun. Itu pasti ada manfaatnya di kemudian hari. Serangkaian kejadian yang kamu hadapi saat ini akan membuahkan berkat di kemudian hari. Pertanyaannya are you ready to face it ?”




 Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 23 Januari 2017
Irsa Ikramina

No comments:

Post a Comment