aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Monday, April 23, 2012

Aku , personal space, dan privacy

Semalam, sekitar pukul 20.30, aku terbangun dari tidur. Aku keluar kamar dan berjalan ke arah meja makan, lalu aku mendengar mama di telepon sedang berbicara dengan seseorang, “eh uda pernah baca blog nya irsa belum?”. Langsung saja mataku melotot dan mengatakan sambil berbisik, “PSSSSTTT ! jangan di promosiin!”.
Mungkin karena kemarin salah seorang teman mama mengatakan kalau sebaiknya blog ini dibukukan saja dan kelak aku harus menulis buku. Jadi mama dengan senang hati meminta feedback dari orang lain. Padahal, pada saat itu aku mengizinkannya karena sudah melalui pertimbangan bahwa teman mama itu bisa memberi feedback yang membangun dan tidak mengedepankan “rasa ingin tahu yang usil”. Jadi, aku belum bisa untuk mempromosikan ini secara blak-blakan. Apalagi, ini adalah perjalanan hidupku..
Aku tidak punya keberanian yang cukup untuk membagikan kisahku pada banyak orang, telalu banyak cerita yang bermuatan emosi, terlalu banyak perjalanan disalahpahami, dan.. pengalaman ditinggalkan dengan membawa separuh rahasia hidupku...
aku hanya percaya dengan “menulis” karena aku bisa begitu “lepas”
kini aku hanya percaya pada “menulis”, karena mengingat aku pernah mempercayai seseorang, aku bagikan kisah hidupku padanya, lalu ia pergi.. “menghilang”.. tanpa alasan yang  dapat aku pahami dengan sederhana.
aku tidak menyalahkannya, hanya saja butuh waktu bagiku untuk bisa memahami dan adjust dengan semua ini. Meskipun begitu, jika bertemu dan berinteraksi dengannya, aku berusaha seolah semua “baik-baik saja”. Dan ini bukan hal yang mudah, butuh energi psikis yang besar untuk dapat ber-acting seperti ini.
Selalu ada helaan nafas berat setelah ber-acting. Yaa.. hingga kini..
aku tahu, ini terdengar “aneh”, terlebih bagi orang yang ekstovert dan terbuka mengenai banyak hal pada banyak orang. Tapi hal ini bukan hal yang sedehana bagi introvert seperti ku. Aku tidak seperti ekstrovert yang dengan mudah bisa bercerita mengenai banyak hal tentang dirinya kepada orang lain, aku tidak seperti ekstrovert yang memiliki personal space yang lebih kecil. Tidak akan ada aku dan duniaku, tanpa personal space yang besar. aku yang begitu “diam” berusaha mengontrol warna-warna akromatik yang bergejolak di dalam diriku, aku yang penuh “diplomasi” untuk melindungi diriku, dan aku yang hanya “tersenyum” sebagai respon yang penuh makna.
Belum lagi aku adalah orang yang menjunjung tinggi privacy. Aku tidak suka apabila kesendirianku diganggu. Tanpa privacy yang aku junjung tinggi, maka tidak akan ada penghayatanku. Sendiri, maka bukan berarti kesepian. aku suka untuk sendiri di kamarku, hanya aku dan diriku, mungkin ditemani beberapa buku. Aku tidak suka keramaian dan aku hanya senang mengobrol dengan orang-orang tertentu saja. Selain itu, mungkin hanya segelintir orang yang tahu mengenai aku “yang sebenarnya”. aku cenderung merahasiakan jati diri dan tidak mengungkapkan diri terlalu banyak kepada orang lain.

Personal space and privacy make me who I am
It is the way I live
If those things did not exist, it wouldn’t be existence of  aku, duniaku, dan penghayatanku.



Bandung. 2 Mei 2012
Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Irsa Ikramina 

Monday, April 16, 2012

aku dan surat untuk mama


           aku sengaja menuliskan sepucuk surat untuk mama, yang sebenarnya ingin aku berikan beberapa hari lagi pada saat ulang tahun mama. tapi, karena malamnya aku tau aku akan disibukkan oleh tugas praktikum, maka aku sempatkan untuk menuliskannya hari ini.

Untuk mama tercinta,
Di hari ulang tahun mama ini, aku tidak bisa memberikan apa-apa selain hasil dari aku mengajar yang mungkin tidak seberapa. Tapi mudah-mudahan cukup untuk membuat mama tersenyum, untuk sedikit melepaskan beban yang memberatkan hati mama.
Hari ini usia mama berkurang, namun tidak sedikitpun mengurangi kecantikkan lahir dan batin mama dan juga ketegaran mama. setiap mama berulang tahun, maka bertambahlah kebijaksanaan mama dan juga kedewasaan mama. mudah-mudahan, mama diberikan kesehatan selalu dan diberikan usia yang berkah. Aku ingin, kita bisa menikmati masa “hijrah” kita bersama. Setelah perjalanan panjang yang telah kita perjuangkan. Amin
Mungkin, aku tidak begitu ekspresif untuk dapat mengungkapkan emosi dan afeksi. Tapi aku harap, melalui tulisan ini, bisa mewakili dan bisa tersampaikan segala hal yang terpendam dalam diriku. 
Bagiku, mama tidak hanya sekedar orang tua. Tapi juga menjadi modelling bagiku. Sepanjang aku menjadi anak mama, maka selama itu juga aku menjadi saksi ketegaran mama dalam kerasnya kehidupan. mama pernah di fitnah dan dihinakan, tapi mama kemudian bangkit lagi seolah mama tidak mempedulikan orang-orang yang sudah menghinakan mama. mama membuktikan kepada mereka bahwa perbuatan mereka tidak cukup untuk bisa menjatuhkan mama. mama pernah diuji oleh kehilangan, kehilangan yang aku tahu tidak semua orang akan sanggup mengihklaskannya, tapi mama mampu melaluinya. Sepanjang hidup, mama lah satu-satunya orang yang aku jadikan panutan dalam kemampuan adjust terhadap kehilangan yang begitu beratnya. Mama juga pernah “dijajah” hingga mama sampai pada titik terendah kehidupan mama, tidak dimanusiakan sebagai manusia. Tapi kemudian ketika ada celah, mama memperjuangkan kebebasan yang menjadi hak setiap manusia. Aku ingat kata mama bahwa “kebebasan harus diperjuangkan”. mama juga dihadapkan oleh perjalanan yang gersang, yang begitu sulit. Tapi mama tetap berjuang, seolah mama sangat yakin akan menemukan air zamzam di tengah gurun.
Mama adalah gambaran Siti Hajar masa kini bagiku. Mama tidak mengenal lelah dan tetap berdiri pada keyakinannya bahwa akan menemukan air zamzam diantara shafa dan marwa (perjalanan panjang ini). Aku bersyukur, bahkan sangat-sangat bersyukur bahwa aku yang ditakdirkan untuk dilahirkan dari rahim mama. kalaupun bukan aku, maka aku yakin siapapun yang menjadi anak mama akan begitu bersyukur dilahirkan dari ibu seperti mama dan tidak punya alasan apapun untuk tidak bertanggung jawab memuliakan dan membahagiakan mama. 
Sesuai dengan nama belakang mama, amalia. Yang dalam bahasa latin berarti pekerja keras. Dan juga sifat baik mama lainnya, aku ingin semua predisposisi itu bisa diturunkan kelak pada keturunanku juga. Aku ingin dunia ini diisi dengan orang-orang yang penuh ketegaran seperti mama. maka dunia ini akan bersinar lebih terang, tidak ada kegelapan dan keputusasaan.  

Terlepas dari segala kesulitan dan ujian hidup yang aku hadapi bersama mama, satu hal yang paling disyukuri olehku adalah kehadiran mama dalam kehidupanku.
Terimakasih ya Allah
Selamat ulang tahun mama.


Hidup ini terlalu singkat,
Maka nikmatilah kebersaman bersama orang-orang yang dicintai
Sebab, kita tidak pernah tahu.
Sampai berapa lama kesempatan itu diberikan oleh Tuhan.


Anakmu,
Irsa Ikramina
Bandung, 16 April 2012

Thursday, April 5, 2012

Aku dan perjalanan pendidikan

             Kini aku telah sampai pada bangku perkuliahan semester 6, telah jauh perjalanan pendidikan ku tempuh. telah banyak ilmu yang kudapat dan telah banyak kutemui para pengajar. Mengingat ke belakang, aku menyadari bahwa, tidak semua tempat untuk menuntut ilmu itu “nyaman” bagiku dan tidak semua pengajar dapat dikatakan “guru” olehku.
            Ketika aku menjadi murid selama bersekolah, aku hanya merasa sebagai seseorang yang harus ditertibkan, yang harus dididik, dan yang harus dihukum ketika melakukan kesalahan.  Hingga ketika aku banyak menempuh pendidikan non-formal di luar sekolah, aku malah merasa lebih “humanis”. Aku tidak hanya bisa bertanya mengenai materi yang dipelajari, namun juga segala hal mengenai kehidupan. Murid dan guru seperti tidak ada pembatas, aku merasa “lepas” dalam belajar.
            Dan ketika aku memasuki perkuliahan, aku merasa seperti “input” yang merupakan bagian dari transformasi agar menjadi output yang memuaskan dalam suatu sistem. Memang tidak salah, toh aku juga akan mendapat keuntungannya jika setelah lulus aku menjadi “terpakai” dalam ketatnya persaingan dunia pekerjaan. Hanya saja, aku menjadi merasa tidak diperlakukan “humanis”. Begitu banyak nilai dan potensi manusia yang menjadi terabaikan. Dalam perjalanan panjang pendidikan yang telah ku tempuh, aku merasa sebagai “makhluk behavioristik”. Penuh aturan, penuh sanksi, dan penuh tuntutan.
            Begitu sulit juga mencari pengajar yang bisa aku katakan sebagai “guru”, hanya segelintir orang mungkin yang dapat aku temui. Kebanyakan mereka adalah guru-guru yang berjasa dalam pondidikan non-formal. Namun untuk saat ini, aku teringat sebuah nama yang bisa aku katakan sebagai “guru” yang begitu humanistik, siapa yang tidak mengenal Tauhid Nur Azhar?
            Pertama kali aku bertemu beliau adalah di semester satu mata kuliah biopsikologi. Aku yang berlatar belakang anak IPS, tentu saja suda merasa “jiper” dengan mata kuliah ini. Terlebih, sebagian besar teman-teman berasal dari IPA. Lalu aku mengungkapkan “kejiperan” ku kepada kang Tauhid. “kang, saya gak yakin bisa mata kuliah ini, ini IPA banget, saya IPS.” Kang Tauhid dengan tersenyum berusaha menenangkan, “iya memang, tapi tenang aja. Pada dasarnya ini hanya bla... blaa... “ kang Tauhid meneruskan dengan penjelasannya untuk menenangkan.
            Nampaknya, beliau benar-benar menghargai jerih payah mahasiswa, aku tidak menyangka keputusasaan yang aku sampaikan padanya dengan usaha yang aku pikir belum cukup baik bagiku, menghasilkan nilai tertinggi di kelas ketika UTS dan nilai A yang tecetak di transkrip nilai pada mata kuliah ini. Semester dua, aku diajar beliau lagi. Kali ini mata kuliahnya faal. Tapi karena aku benar-benar diperlakukan secara humanistik, aku sudah “tidak takut” lagi. Agar lebih paham, terhadap tugas dan materinya. Sambil menyambung silaturrahim, aku menelpon temanku yang berkuliah di kedokteran trisakti. “eh, bantuin gue dong. Coba lu jelasin tentang syaraf ke gue supaya gue bisa ngerti”. Temanku yang memang helpful, menjelaskan dengan sangat sistematis dan mudah dimengerti bagi aku yang begitu “IPS”.
            Alhasil, ketika UTS telah selesai. Kang Tauhid menyampaikan, “ya, UTS telah saya periksa, dan sudah terpampang di fakultas. Seperti yang kalian sudah lihat, nilai tertinggi diperoleh oleh irsa. Karena penjelasannya yang sangat sistematis. Ketika irsa menjawab dengan sistematis, berarti irsa juga sudah paham betul materinya.” Aku merasa, “terangkat” dan merasa lebih “humanis”. Padahal ikhtiarku yang tidak seberapa begitu dihargainya di mata beliau. setelah kelas bubar, aku menghampirinya, “kang, itu sih saya paham karena diajarin temen anak kedokteran”. Dia menjawab sambil terseyum, “ya ngga papa kan? Dengan begitu irsa juga sudah ada usaha, dan juga memprosesnya melalui otak irsa. Hingga tertulis sebagai jawaban irsa”
aku menemukan “guru”
aku menemukan “humanistik”
di dalam perjalanan pendidikan yang gersang ini

hingga saat ini, ketika bertemu di kampus. ia selalu dengan gayanya yang “merendah” padahal kita semua tahu. Ilmu yang dimilikinya begitu “tinggi”. Itu sebabnya sosok beliau menjadi banyak disukai. Wajar saja kalau aku sedikit banyak menjadikannya modelling. Satu hal yang membuatnya “original” dimataku adalah karena kemampuannya memadukan ilmu pengetahuan yang tidak hanya vertikal saja (kepada Tuhan) atau hanya horizontal saja (Sesama manusia). Ya, ia mampu menguak kebesaran Allah di dalam ilmu pengetahuan yang ia kuasai.
Sulit bagiku menemukan “guru” dan juga menemukan “humanistik”. Sejak SMP, ketika di tanya siapapun “kalo punya uang banyak, mau apa sa?” aku selalu menjawab, “study abroad”. Aku selalu “melihat” disana banyak “guru” disana sangat “humanistik”. Dan itu yang tertanam dalam diriku hingga saat ini. Mungkin tidak perlu aku jelaskan lagi mengenai hal ini, bahkan hal ini terlalu mudah dilihat. Siapa yang tidak tahu ajang pencarian bakat menyanyi yang tidak hanya ada di Amerika tapi juga Indonesia. Aku “melihat” bagaimana komentar dan cara juri memperlakukan kontestan itu sangat jauh berbeda. Itu sebabnya semenjak aku berlangganan TV kabel, aku tidak mau menyentuh lagi channel Indonesia. Karena aku hanya mau melihat “humanistik”.


Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 6 April 2012
Irsa Ikramina