aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Sunday, August 28, 2016

ibadah 2

ibadah.
dan lagi. ini soal hati dan niat.
bukan sebatas ritual, atau sekedar menggugurkan kewajiban, atau juga sekedar formalitas belaka, atau sekedar melakukan karena tekanan publik.

wadah ibadah begitu banyak dalam hidup ini. selain bekerja...  ah, menikah. itu juga sering digadang-gadangkan sebagai ibadah. ya memang benar. tapi soal hati ? memang hanya Tuhan yang tahu. 

***

aplikasi LINE ku terus berdering, bahkan belakangan ini terlalu sering. Group Psikologi 2009 sedang ramai. paling tidak tahun ini memang, yang dibicarakan di group itu kalau tidak soal lowongan pekerjaan ya undangan pernikahan. wajar, usia rata-rata mencapai seperempat abad. sudah saatnya menunaikan tugas perkembangan dewasa awal untuk memiliki hubungan intimasi membangun keluarga. 

lalu ?

ya kalau sedang ada uang dan waktu ya menghadiri. kalau tidak ya ucapkan saja selamat via apapun. maklum, kondangan memang tidak ada plafonnya di anggaran ku. karena memang gaji naiknya seuprit, tapi lonjakan harga kebutuhan begitu pesat dan tinggi. jadi bukan karena tidak peduli. tapi begitulah kalau berbicara realita hidup. tapi biasanya, aku akan berusaha menghadiri undangan teman-teman yang aku anggap penting, dekat dan berarti. karena sederhananya, aku juga ingin teman-teman yang aku anggap penting, dekat dan berarti juga ada saat hari bahagiaku nanti.

tidak hanya di kalangan rekan kuliah. momen ini juga sedang laris di kantor. beberapa rekan kerja ku satu ruangan juga  menikah tahun ini. 

"weeess.... kamu mau menikah to ?" kata manager sales dengan suara medok menggelegar. saat rekan kerja yang merupakan staff ku itu memberikan undangan pernikahannya

"eh, bentar lagi bu Indri juga looh paaak. kita kan cuma bentar doang waktunya" katanya mungkin ia berusaha mengalihkan perhatian

"iya pak, disini pada mau closing. emang opreasional doang yang closing. status single juga kudu di closing" jawab Indri.

aku seperti biasa sedang sibuk di depan laptop, jadi tidak menanggapi.

"nah loh, lu kapan sa ?" kata si manager sales itu yang masih berdiri di ambang pintu ruang HRD dan bukannya masuk ke ruangan saat mengobrol begitu. 

"iya pak, Insha Allah tahun depan" kataku datar sambil tetap sibuk dengan laptop.

setelah manager itu pergi. barulah ruangan HRD dihampiri kesejukan lagi. 

"heboh banget sih" kata Indri

"tau tuh.." kata staff ku itu

aku sedang sibuk dengan alam pikiran ku. kalau lagi buat konsep dan analisa. tidak suka terputus-putus. jadi tidak mau menanggapi hal yang remeh.

"bu, ini tandatangan dulu lah, biar aku bisa ke si boss besar minta acc"

"ok", aku cek berkasnya lalu tandatangan

cukup padat pekerjaan ku hari ini, aku harus lanjut buat Instruksi Kerja Penggunaan Mesin EDC. sebetulnya ini tugas supervisor departemen sebelah, supervisor finance. tapi disini aku tidak akan menceritakan kenapa fungsinya bisa amburadul. yang jelas, aku sibuk.

"eh bu, tadi pas aku minta tandatangan  ke ruangan sana kan manager lagi pada ngumpul, terus mereka tuh bercandanya parah banget deh"

aku sibuk memotret mesin EDC langkah per langkah dengan smartphone ku sesuai dengan instruksi kerja yang sudah aku ketik. aku kurang minat mendengarkan cerita staff ku, karena sudah tahu, di kantor ini antara tingkat jabatan dan gaya bercandanya ada ketimpangan. 

"iya bu, masa tadi pas minta tandatangan kan manager pada ngumpul tuh. terus kata si manager sales, aku suruh ajarin ibu supaya punya pacar. ya aku bilang, orang ibu punya kok, terus mereka kaya shock gak percaya gitu bu. kok mereka gitu sih"

"ohh ya dari dulu mereka memang begitu. biarkan aja" kataku sok tua seperti orang tua yang menanggapi cerita anaknya, sembari sibuk memotret mesin EDC

aku tidak heran dengan bercandaan seperti itu di kantor ini, hanya ada 2 gaya sosialisasi informal di kantor ini. kalau tidak bercanda seperti anak SMP ya seperti infotainment, selalu ingin tahu kehidupan pribadi orang lain. itu sebabnya aku lebih sibuk baca buku atau browsing hal menarik saat istirahat atau luang

"ya itukan harus diluruskan loh bu, masa jahat gitu" kata staff ku

"udah gak perlu, biarkan aja" kata ku tidak mau menanggapi hal remeh. 

"udah ashar kan ya, solat dulu deh", kata ku sambil beranjak untuk ke musola dan sedikit melirik ke arahnya. kasihan juga tidak ditanggapi. habis ya memang tidak penting untuk ditanggapi kok. hanya Indri yang akhirnya menanggapi ceritanya. tapi aku tak menyimak apa yang mereka bahas

***

"Hai maaaaa" kata ku sambil buka pintu rumah ketika pulang kerja

"Hai syaaaaa" jawab mama

"habis gak bekal makan siangnya?" kata mama

"habis dong. mandi solat dulu deh, eh minggu kondangan nih. staff di kantor ku nikahan" 

"oh iya ? dimana gitu ?"

aku tidak menjawab, karena sudah keburu masuk kamar mandi. sesudahnya, seperti biasa kita akan ngobrol santai sambil makan dan nonton TV. 

"eh si Firda mau married juga nih, hadeuh banyak banget kalau harus kondangan" kata ku sambil lihat medsos di smartphone

"temen irsa banyak yang mau nikah ?"

"banyaaak.. ni kalau diturut satu-satu gak akan bisa nih didatengin semua"

"are you worried ?" tanya mama

aku sambil tersenyum, sambil menatap layar televisi. aku paham pertanyaan ini arahnya kemana

"not at all, mom. Allah sudah atur. tenang aja, hanya soal waktu. disini aku juga sedang beribadah kok. ibadah kerja untuk cari nafkah, dikasih waktu lebih untuk bisa memuliakan ibunya. nanti kalau sudah waktunya ya menikah juga sama-sama ibadah. dalam bentuk yang berbeda. yang penting totalitas aja, sekarang tanggung jawab aku apa, kerja untuk cari rejeki buat kita, yasudah, itu ibadah aku. nanti kalau sudah menikah wadahnya lebih luas lagi, ibadahnya ke suami dan anak. tidak ada yang perlu diburu-buru disini. aku juga ingin memastikan kehidupan mama aman dan nyaman sebelum aku menikah, sistem keuangan kita terprogram dan jelas pfafonnya. karena ketika aku menikah bangun fondasi dan sistem yang berbeda lagi. tapi kalau segala sesuatu sudah siap, maka ya memang harus disegerakan. apalagi untuk ibadah dan menyempurnakan agama"

ada jeda tapi kami tidak saling menatap

"sekarang berapa banyak ma, orang yang diuji sama pernikahannya karena mungkin niat dihatinya bukan untuk ibadah. cuma buat cari pasangan, lah pasangan bisa siapa aja. bisa meninggal, bisa selingkuh, bisa dikasih gak harmonis ujungnya cerai. cuma buat punya anak, lah nanti kalau emang ditakdirkan gak punya anak ? anak bisa gak dikasih, bisa lahir tidak sempurna. sudah sekarang kira fokus sama ibadah kita ma, terus kita sama-sama berdoa, supaya bisa menyegerakan ibadah yang lain. Allah sudah memperhitungkan segala sesuatunya kok"

"iya.. mama juga akan fokus apa yang menjadi wadah ibadah mama saat ini dan semoga Allah selalu dekat dan mendegarkan doa kita. Insha Allah apa yang kita rencanakan selama tujuannya baik akan diberikan jalan"

"Amin"


Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 28 Agustus 2016

No comments:

Post a Comment