22
Desember 2014 adalah hari pertama aku masuk kerja di perusahaan yang saat ini
masih menjadi pintu rezeki untuk keluarga ku.
22
Desember 2015 telah lewat, dengan begitu kini masa kerjaku sudah satu tahun.
Semenjak pertama bekerja di perusahaan ini, aku nyaris tidak pernah santai. Jam
kerjanya memang tidak manusiawi. Apa yang tertulis di Perjanjian Kerja memang
hanyalah fatamorgana. Hampir selalunya aku membawa pekerjaan ke rumah dan
jarang akhir pekan aku benar-benar istirahat. Ada saja beberapa jam aku menyentuh
pekerjaan. Aku juga tidak selalunya pulang kerja tepat waktu. Kadang jam 18,
kadang jam 19, sesekali jam 20. Ah ya, dan satu hal lagi, tidak ada uang
lembur.
Satu
tahun pertama aku sikapi dengan “akselrasi”. Anggap saja dengan jam kerja ku
lebih, semakin banyak aku mencoba mengerjakan hal baru dan semakin banyak aku
belajar.
Lantas
bagaimana dengan menginjak masa kerja tahun ke dua ?
25 Januari 2016
Aku
sedang berada di dalam kereta menuju Sidareja bersama rekan kerja ku, secara
struktur ia adalah staff ku. Panggil saja dia Riska.
Hari
pertama dinas di tahun 2016. Pertama kalinya juga aku dinas bersama staff ku
karena cabang di Sidareja ini baru diakusisi. Jadi tim HRD akan sosialisasi
SOP. Maka aku membawa Riska kali ini. Biasanya aku pergi dengan rekan ku,
sama-sama supervisor tapi dia bagian GA. Panggil saja Fatir. Fatir dan Staff
nya, Rico. Mereka menggunakan mobil pada perjalanan dinas kali ini karena harus
mampir ke cabang Tasikmalaya dan Banjar. Tanggal 25 malam kita semua berkumpul
di Sidareja.
Dalam
perjalanan aku sempat tertidur, ipod ku masih terus memutarkan musik di
telinga. Antara tidur atau tidak, memori serta perasaan yang ada di dalam
memori tersebut ikut terasa. Memori ketika aku sedang kuliah. Ada suatu
kerinduan untuk bisa kembali ke masa itu. ah, apakah aku sedang regresi ? salah
satu mekanisme pertahanan diri secara psikologis dengan mundur ke tahap
perkembangan sebelumnya. Tapi buat apa aku regresi ? ya mungkin sebetulnya aku lelah
menghadapi realita saat ini. Sejak awal Januari aku hampir tidak bernafas,
kebanjiran pekerjaan. Tapi aku sadar yang membuat lelah ataupun tidak nyaman bukan
soal pekerjaannya, tapi soal aku sering kena damprat belakangan ini oleh boss. boss
menganut result oriented, jadi tidak lihat proses. Begitu hasilnya tidak
sesuai, ya tentu saja sasaran empuk untuk diteriaki di ruangan HRD adalah aku
atau Riska. Padahal aku tau identifikasi masalahnya apa. Misalnya seperti
beberapa hari yang lalu.
***
Aku
sedang men-training beberapa karyawan di ruang meeting. Memang hari itu sedang
perhitungan payroll. Biasanya HRD tidak bisa di ganggu gugat karena sangat
sibuk dan penuh konsentrasi. Khawatir ada kesalahan transfer atau perhitungan
absen. Salah-salah meng-alfakan orang premi hadir orang tersebut langsung
hangus seketika. Soal perut karyawan. Soal paling sensitif di HRD.
“coba
buka master karyawan !” tiba-tiba boss ku sudah ada di sebelah ku. wajahnya aku
sudah hafal, ia sedang manahan amarah.
Aku
kaget sebetulnya, sehingga aku berhenti bicara mendadak. Semua mata karyawan
mengarah kepada aku dan boss. Aku cabut dulu kabel yang menghubungkan laptopku
dengan infokus. Setelah master karyawan terbuka.
“INI
KENAPA ORANG INI MASIH AKTIF !” sambil menunjuk ke layar laptop ku.
“loh,
diakan masih proses surat pemanggilan bu”
“YA
TAPI TANGGAL BERAPA ??!! BUKANNYA ITU SUDAH LAMA ??!!” tanya boss ku masih
mengorek kesalahan
“bagaimana
kalau kita bicarakan di ruang sebelah saja bu”
Boss
setuju, ia langsung berjalan ke ruangan sebelah
“semua,
saya tinggal sebentar. Kalian lanjutkan dulu menulis PICA” kataku kepada
karyawan yang sedang training
Setelah
berada di ruang sebelah.
“COBA,
MANA SAYA LIHAT SURAT PEMANGGILAN DAN RESI PENGIRIMANNYA ! KALAU KARYAWAN DI
MASTER STATUS AKTIF MAKA DI SISTEM PAYROLL SAYA AKAN OTOMATIS TERGAJI!”
Riska
memberikan semua yang diminta boss. Memang kesalahan aku dan Riska adalah
rentang waktu pengiriman surat pemanggilan ke dua dan ke tiga terlalu lama.
Riska nampaknya kebablasan. Waktu itu aku yang ingatkan, barulah ia cepat
mengirim surat pemanggilan yang ke 3.
“INI
KENAPA LAMA BANGET ?!! DARI YANG KEDUA KE YANG KETIGA???!!!” boss belum puas
mengorek kesalahan.
Padahal
aku sadar betul identifikasi masalahnya sebetulnya bukan itu. terlepas memang
aku salah pada bagian antara pemanggilan ke dua dan ketiga. jadi aku harus
segera cut amarahnya.
“ya
pokoknya itu salah saya bu yang gak kontrol. sudah”
“ya
bukan itu, nanti ini jangan sampe terjadi lagi !”
“ok.
Saya dan Riska ketika menonaktifkan karyawan dasarnya adalah surat pemanggilan
tsb. Apabila pada surat pemanggilan ketiga karyawan tidak hadir juga. Maka saya
dan Riska akan menonaktifkan karyawan tsb. Kami tidak tahu, kalau karyawan
masih aktif di master karyawan kami, di master payroll ibu akan otomatis
tergaji. Baiklah kasus kali ini salah saya antara pemnaggilan kedua dan ketiga
terlalu jauh rentang waktunya, sehingga pada saat payroll karyawan tsb masih
aktif. Lalu kalau kedepannya ada kasus dimana ada karyawan yang statusnya masih
surat pemanggilan pertama tapi sudah keburu perhitungan payroll bagaimana bu ? sebetulnya
kapan saya dan Riska harus menonaktifkan karyawan sementara di master payroll
ibu tidak bisa kalau karyawan tsb masih aktif.”
“ya
manual saja informasikan ke saya setiap payroll. Mana karyawan yang pemanggilan”
Aku
mengehela nafas. Sembari istigfar. Bukankah ini bisa dibicarakan degan kepala
dingin ? situasi emosi seperti itu sungguh membuat tidak nyaman.
“sudah
bu? saya harus kembali isi training”
“ya”
***
Tapi
yasudahlah, namanya juga boss, memang lebih mudah untuk menyalahkan bawahan
apabila ada persoalan. Entah kenapa belakanga ini aku sering diomeli untuk
hal-hal ya menurutku tidak perlu di selesaikan dengan emosi. Riska juga
belakangan ini sering kena omel. Maklum, boss memang cenderung reaktif. Tapi
untunglah Riska cuek, tidak terlalu ambil pusing. Hal lain yang membuat lelah
mungkin juga, soal keterbatasan waktu dan fisik yang aku miliki. Tentu saja aku
bukan tidak mau mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Bisa dibayangkan, kalau
aku hampir setiap hari kerja overtime dan weekend ada saja jam-jam menyentuh
pekerjaan tapi masih juga diomeli kerjaan belum selesai. What do you think ?
mungkin aku harusnya tidak tidur ya.
Soal
ini aku pernah bercerita kepada Fatir, bahwa aku seringkali membawa pekerjaan
ke rumah.
“kok
lu mau aja sih ? apalagi itu SOP departemen lain. itu Dept.head dan supervisor
di departemen itu pekerjaannya apa coba ? harusnya mereka yang buat. Wah,
katanya perusahaan mau maju. Gimana nih” kata Fatir heran
“ya
gue tahu, tapi masa gue tolak kalau boss yang udah kasih tugasnya ? di sini
memang budayanya agak keliru. Ntah kenapa segala SOP all departemen dibuat di
HRD dan gue juga gak ngerti kenapa hal ini gak diluruskan, malah diteruskan. Mungkin
ini ya yang membuat kerjaan gue gak beres-beres. Ngerjain yang seharusnya
dikerjakan departemen masing-masing. Soal
kerja di bawa ke rumah, kadang gue lelah sama tekanan psikologisnya, memang
boss tidak pernah eksplisit nyuruh gue kerja pas weekend atau di rumah. Tapi secara
implisit iya”
“maksud
lu ?” kata Fatir
“ya
misalnya begini, gue pernah ditanya sama si boss....”
“sa,
kamu kapan bisa beresin konsep training ?” tanya boss
ya
gue jawab gini, “Ya hari Rabu lah bu” eh si boss malah nafsu
“KAMU
NGERJAIN KAYA GITU AJA 3 HARI ? SENEN GAK BISA ?”
“yasudah,
saya kerjakan di Hari Minggu bu.”
“ENGGAK-ENGGAK
SAYA GAK NYURUH KAMU KERJA DI SABTU MINGGU”
“Hadeuh.
Pusing kan gue maunya si boss gimana. Padahal kan bisa ditanya dengan kepala
dingin. Kenapa gue selesainya mesti Rabu. Emang Hari Senin sampai Rabu schedule
nya apa. Ya, soalnya gue kan emang ada psikotes, wawancara, terus ke BPJS. Itu kan
cukup menyita waktu. Makanya gue kasih spare waktu di Rabu. Takut gak keburu. Akhirnya
kadang gue memilih ngerjain di luar jam kerja daripada ribut sama si boss. Kerja
udah lelah, diomelin untuk hal yang sebetulnya bisa diselesaikan dengan kepala
dingin lebih melelahkan”
Fatir
pun terdiam. Seperti berpikir. “tapi ya seharusnya jangan seperti itu dong”
katanya lirih
Nampaknya
di tahun ke 2 masa kerja ku ini, sudah tidak cukup lagi untuk menyikapi dengan
belajar atau akselrasi. Kalau tidak mau kandas di tengah jalan. Aku harus cepat
mencari sudut pandang lagi untuk menyikapi.
“Bu,
kayanya kita sudah dekat sama stasiun Sidareja” kata Riska memecah lamunan ku
dan membangunkan ku dari kondisi setengah tidur ku
“ah
iya, ayo siap-siap. Biar aku BBM kepala cabangnya bahwa kita sudah dekat”
Sampai
di stasiun, kami sempat menunggu. Tak lama mobil pengiriman unit sepeda motor
terlihat memasuki area parkir stasiun.
“wah,
itu kita di jemput” kata Riska.
Sampai
di cabang, tentu saja aku dan Riska segera mencari tempat makan dan solat
zuhur. Tidak lupa aku transfer Fastir uang dinas. Karena uang dinas aku yang
pegang. Ia hampir tidak bisa beli bensin di rancaekek karena ternyata gaji
belum masuk dan ia tidak pegang uang dinas. Sementara aku baru bisa transfer
setelah sampai di Sidareja. Itu pun kalau orang finance tidak terlambat
transfernya.
Boss
ku memberi instruksi dadakan. Dadakan dalam hal ini mengacu pada tugas yang
harus dikerjaan dan dapat menggeser semua schedule yang telah direncanakan
dengan matang....
to be continued....
Bandung, 31 Januari 2016
Irsa Ikramina