aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Sunday, January 31, 2016

22 Desember 2015 lewat – part 1

22 Desember 2014 adalah hari pertama aku masuk kerja di perusahaan yang saat ini masih menjadi pintu rezeki untuk keluarga ku.

22 Desember 2015 telah lewat, dengan begitu kini masa kerjaku sudah satu tahun. Semenjak pertama bekerja di perusahaan ini, aku nyaris tidak pernah santai. Jam kerjanya memang tidak manusiawi. Apa yang tertulis di Perjanjian Kerja memang hanyalah fatamorgana. Hampir selalunya aku membawa pekerjaan ke rumah dan jarang akhir pekan aku benar-benar istirahat. Ada saja beberapa jam aku menyentuh pekerjaan. Aku juga tidak selalunya pulang kerja tepat waktu. Kadang jam 18, kadang jam 19, sesekali jam 20. Ah ya, dan satu hal lagi, tidak ada uang lembur.

Satu tahun pertama aku sikapi dengan “akselrasi”. Anggap saja dengan jam kerja ku lebih, semakin banyak aku mencoba mengerjakan hal baru dan semakin banyak aku belajar.


Lantas bagaimana dengan menginjak masa kerja tahun ke dua ?

25 Januari 2016

Aku sedang berada di dalam kereta menuju Sidareja bersama rekan kerja ku, secara struktur ia adalah staff ku. Panggil saja dia Riska.
Hari pertama dinas di tahun 2016. Pertama kalinya juga aku dinas bersama staff ku karena cabang di Sidareja ini baru diakusisi. Jadi tim HRD akan sosialisasi SOP. Maka aku membawa Riska kali ini. Biasanya aku pergi dengan rekan ku, sama-sama supervisor tapi dia bagian GA. Panggil saja Fatir. Fatir dan Staff nya, Rico. Mereka menggunakan mobil pada perjalanan dinas kali ini karena harus mampir ke cabang Tasikmalaya dan Banjar. Tanggal 25 malam kita semua berkumpul di Sidareja.

Dalam perjalanan aku sempat tertidur, ipod ku masih terus memutarkan musik di telinga. Antara tidur atau tidak, memori serta perasaan yang ada di dalam memori tersebut ikut terasa. Memori ketika aku sedang kuliah. Ada suatu kerinduan untuk bisa kembali ke masa itu. ah, apakah aku sedang regresi ? salah satu mekanisme pertahanan diri secara psikologis dengan mundur ke tahap perkembangan sebelumnya. Tapi buat apa aku regresi ? ya mungkin sebetulnya aku lelah menghadapi realita saat ini. Sejak awal Januari aku hampir tidak bernafas, kebanjiran pekerjaan. Tapi aku sadar yang membuat lelah ataupun tidak nyaman bukan soal pekerjaannya, tapi soal aku sering kena damprat belakangan ini oleh boss. boss menganut result oriented, jadi tidak lihat proses. Begitu hasilnya tidak sesuai, ya tentu saja sasaran empuk untuk diteriaki di ruangan HRD adalah aku atau Riska. Padahal aku tau identifikasi masalahnya apa. Misalnya seperti beberapa hari yang lalu.
***

Aku sedang men-training beberapa karyawan di ruang meeting. Memang hari itu sedang perhitungan payroll. Biasanya HRD tidak bisa di ganggu gugat karena sangat sibuk dan penuh konsentrasi. Khawatir ada kesalahan transfer atau perhitungan absen. Salah-salah meng-alfakan orang premi hadir orang tersebut langsung hangus seketika. Soal perut karyawan. Soal paling sensitif di HRD.

“coba buka master karyawan !” tiba-tiba boss ku sudah ada di sebelah ku. wajahnya aku sudah hafal, ia sedang manahan amarah.

Aku kaget sebetulnya, sehingga aku berhenti bicara mendadak. Semua mata karyawan mengarah kepada aku dan boss. Aku cabut dulu kabel yang menghubungkan laptopku dengan infokus. Setelah master karyawan terbuka.

“INI KENAPA ORANG INI MASIH AKTIF !” sambil menunjuk ke layar laptop ku.

“loh, diakan masih proses surat pemanggilan bu”

“YA TAPI TANGGAL BERAPA ??!! BUKANNYA ITU SUDAH LAMA ??!!” tanya boss ku masih mengorek kesalahan

“bagaimana kalau kita bicarakan di ruang sebelah saja bu”

Boss setuju, ia langsung berjalan ke ruangan sebelah

“semua, saya tinggal sebentar. Kalian lanjutkan dulu menulis PICA” kataku kepada karyawan yang sedang training
Setelah berada di ruang sebelah.

“COBA, MANA SAYA LIHAT SURAT PEMANGGILAN DAN RESI PENGIRIMANNYA ! KALAU KARYAWAN DI MASTER STATUS AKTIF MAKA DI SISTEM PAYROLL SAYA AKAN OTOMATIS TERGAJI!”

Riska memberikan semua yang diminta boss. Memang kesalahan aku dan Riska adalah rentang waktu pengiriman surat pemanggilan ke dua dan ke tiga terlalu lama. Riska nampaknya kebablasan. Waktu itu aku yang ingatkan, barulah ia cepat mengirim surat pemanggilan yang ke 3. 

“INI KENAPA LAMA BANGET ?!! DARI YANG KEDUA KE YANG KETIGA???!!!” boss belum puas mengorek kesalahan.

Padahal aku sadar betul identifikasi masalahnya sebetulnya bukan itu. terlepas memang aku salah pada bagian antara pemanggilan ke dua dan ketiga. jadi aku harus segera cut amarahnya.

“ya pokoknya itu salah saya bu yang gak kontrol. sudah”

“ya bukan itu, nanti ini jangan sampe terjadi lagi !”

“ok. Saya dan Riska ketika menonaktifkan karyawan dasarnya adalah surat pemanggilan tsb. Apabila pada surat pemanggilan ketiga karyawan tidak hadir juga. Maka saya dan Riska akan menonaktifkan karyawan tsb. Kami tidak tahu, kalau karyawan masih aktif di master karyawan kami, di master payroll ibu akan otomatis tergaji. Baiklah kasus kali ini salah saya antara pemnaggilan kedua dan ketiga terlalu jauh rentang waktunya, sehingga pada saat payroll karyawan tsb masih aktif. Lalu kalau kedepannya ada kasus dimana ada karyawan yang statusnya masih surat pemanggilan pertama tapi sudah keburu perhitungan payroll bagaimana bu ? sebetulnya kapan saya dan Riska harus menonaktifkan karyawan sementara di master payroll ibu tidak bisa kalau karyawan tsb masih aktif.”

“ya manual saja informasikan ke saya setiap payroll. Mana karyawan yang pemanggilan”

Aku mengehela nafas. Sembari istigfar. Bukankah ini bisa dibicarakan degan kepala dingin ? situasi emosi seperti itu sungguh membuat tidak nyaman.

“sudah bu? saya harus kembali isi training”

“ya”
***
Tapi yasudahlah, namanya juga boss, memang lebih mudah untuk menyalahkan bawahan apabila ada persoalan. Entah kenapa belakanga ini aku sering diomeli untuk hal-hal ya menurutku tidak perlu di selesaikan dengan emosi. Riska juga belakangan ini sering kena omel. Maklum, boss memang cenderung reaktif. Tapi untunglah Riska cuek, tidak terlalu ambil pusing. Hal lain yang membuat lelah mungkin juga, soal keterbatasan waktu dan fisik yang aku miliki. Tentu saja aku bukan tidak mau mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Bisa dibayangkan, kalau aku hampir setiap hari kerja overtime dan weekend ada saja jam-jam menyentuh pekerjaan tapi masih juga diomeli kerjaan belum selesai. What do you think ? mungkin aku harusnya tidak tidur ya.

Soal ini aku pernah bercerita kepada Fatir, bahwa aku seringkali membawa pekerjaan ke rumah.

“kok lu mau aja sih ? apalagi itu SOP departemen lain. itu Dept.head dan supervisor di departemen itu pekerjaannya apa coba ? harusnya mereka yang buat. Wah, katanya perusahaan mau maju. Gimana nih” kata Fatir heran

“ya gue tahu, tapi masa gue tolak kalau boss yang udah kasih tugasnya ? di sini memang budayanya agak keliru. Ntah kenapa segala SOP all departemen dibuat di HRD dan gue juga gak ngerti kenapa hal ini gak diluruskan, malah diteruskan. Mungkin ini ya yang membuat kerjaan gue gak beres-beres. Ngerjain yang seharusnya dikerjakan departemen masing-masing.  Soal kerja di bawa ke rumah, kadang gue lelah sama tekanan psikologisnya, memang boss tidak pernah eksplisit nyuruh gue kerja pas weekend atau di rumah. Tapi secara implisit iya”

“maksud lu ?” kata Fatir

“ya misalnya begini, gue pernah ditanya sama si boss....”

“sa, kamu kapan bisa beresin konsep training ?” tanya boss
ya gue jawab gini, “Ya hari Rabu lah bu” eh si boss malah nafsu
“KAMU NGERJAIN KAYA GITU AJA 3 HARI ? SENEN GAK BISA ?”
“yasudah, saya kerjakan di Hari Minggu bu.”
“ENGGAK-ENGGAK SAYA GAK NYURUH KAMU KERJA DI SABTU MINGGU”

“Hadeuh. Pusing kan gue maunya si boss gimana. Padahal kan bisa ditanya dengan kepala dingin. Kenapa gue selesainya mesti Rabu. Emang Hari Senin sampai Rabu schedule nya apa. Ya, soalnya gue kan emang ada psikotes, wawancara, terus ke BPJS. Itu kan cukup menyita waktu. Makanya gue kasih spare waktu di Rabu. Takut gak keburu. Akhirnya kadang gue memilih ngerjain di luar jam kerja daripada ribut sama si boss. Kerja udah lelah, diomelin untuk hal yang sebetulnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin lebih melelahkan”

Fatir pun terdiam. Seperti berpikir. “tapi ya seharusnya jangan seperti itu dong” katanya lirih

Nampaknya di tahun ke 2 masa kerja ku ini, sudah tidak cukup lagi untuk menyikapi dengan belajar atau akselrasi. Kalau tidak mau kandas di tengah jalan. Aku harus cepat mencari sudut pandang lagi untuk menyikapi.

“Bu, kayanya kita sudah dekat sama stasiun Sidareja” kata Riska memecah lamunan ku dan membangunkan ku dari kondisi setengah tidur ku

“ah iya, ayo siap-siap. Biar aku BBM kepala cabangnya bahwa kita sudah dekat”

Sampai di stasiun, kami sempat menunggu. Tak lama mobil pengiriman unit sepeda motor terlihat memasuki area parkir stasiun. 

“wah, itu kita di jemput” kata Riska.

Sampai di cabang, tentu saja aku dan Riska segera mencari tempat makan dan solat zuhur. Tidak lupa aku transfer Fastir uang dinas. Karena uang dinas aku yang pegang. Ia hampir tidak bisa beli bensin di rancaekek karena ternyata gaji belum masuk dan ia tidak pegang uang dinas. Sementara aku baru bisa transfer setelah sampai di Sidareja. Itu pun kalau orang finance tidak terlambat transfernya.

Boss ku memberi instruksi dadakan. Dadakan dalam hal ini mengacu pada tugas yang harus dikerjaan dan dapat menggeser semua schedule yang telah direncanakan dengan matang....

to be continued....

Bandung, 31 Januari 2016
Irsa Ikramina