aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Friday, June 29, 2012

Aku dan pelayaran ke dunia psikologi lainnya


Sepanjang aku jadi mahasiswa psikologi, aku tidak terlalu banyak bergaul dengan mahasiswa fakultas lainnya. aku merasa setiap fakultas memiliki pola pikir yang berbeda karena bidang studi yang digeluti, selain itu iklimpun pasti berbeda, peraturan dan kehidupan in-group membuat keeratannya juga semakin kuat dibandingkan terhadap out-group. Tapi aku lebih penasaran dengan kehidupan psikologi di kampus lainnya.
Suatu saat aku dan Anis pergi ke kampus yang ada di Jl. Surya Sumantri. Sekedar untuk mengunjungi perpustakaannya dan kalau memang sempat aku ingin bertemu dengan temanku yang merupakan mahasiswa psikologi juga di kampus itu. Aku dan Anis berangkat dari kampus setelah suatu mata kuliah selesai pukul sepuluh pagi hari itu. Kami memang pernah “mengambil keatas” pada semester genap lalu. Sehingga pada hari itu memang hanya satu mata kuliah. Aku dan anis mengendarai motor ke kampus itu. Parkiran motor di kampus itu ternyata ada di belakang dan harus melalui jalan yang merupakan perumahan. Terlalu terperangah aku melihat gedung kampus itu yang begitu menjulang tinggi, sampai aku tidak melihat ada polisi tidur dan tidak sempat menarik rem. “eh, sorry nis, gue ngga liat. Saking ngahuleung gue liat tu gedung”, kataku. “iya ngga papa, santai. Iya gue juga”, jawab Anis. Kamipun tertawa. Bagiku, kampus ini begitu “tinggi” tidak hanya soal gedungnya, tapi juga kelas sosialnya.
Memasuki tempat parkir, parkirannya begitu luas dan rapi. Tidak perlu takut tidak kebagian parkir. Aku dan Anis saling memandang, tidak banyak bicara dengan sedikit senyum, mata kita saling berbicara, dan tatapan penuh makna yang artinya “beda banget sama kampus sendiri”. Memasuki kampus itu, aku kebingungan dengan gedung yang dimaksud temanku melalui SMS. Tapi akhirnya kami menemukannya dengan arahan melalui SMS dari temanku. Perpustakaannya ada di lantai 6. Kamipun naik ke lantai 6. Setelah menyerahkan KTM dan memasukkan tas ke locker serta menulis di buku tamu. Aku mulai melangkahkan kaki di perpustakaan itu. Terpaan angin sejuk dari pendingin ruangan begitu memberikan kesegaran dari udara luar yang begitu panas. Aku lihat ke setiap sudut ruangan, ruangan ini sangat luas dan bersih. Begitu “putih”. Banyak rak buku besar yang tersusun rapi diberi nama sesuai bidang ilmu pengetahuannya. Banyak meja dengan beberapa kursi yang tersusun rapi. Di beberapa meja ada mahasiswa yang sedang berkumpul mengerjakan tugas. Begitu tenang dan begitu nyaman.
Aku dan Anis langsung menuju rak buku ilmu sosial, salah satunya ada rak besar berisikan buku-buku psikologi. kami memilih buku untuk dibaca. “ah! Ada tentang crime! Yes!”, kataku sambil mengambil buku dan langsung duduk di kursi dan meja terdekat. Sedangkan Anis masih mencari buku yang akan dibacanya.  kami membaca buku sambil sedikit berbincang. “nis, kalo kaya gini kondisinya gue langsung rajin kali belajar mulu. Ngerjain tugas juga betah. Ck ck ck. Langsung deh need of achievement tinggi”. “iyaaa banget.” Jawab Anis. kami tertawa bercanda sambil membaca. Aku dan Anis memang selama ini kesulitan mencari tempat mengerjakan tugas, atau sekedar membaca buku. Kami rajin membawa buku bacaan ke kampus ketika ada jam kosong yang panjang. untuk melakukan kedua hal tersebut selalu saja tempat makan dekat kampus yang menjadi lahan aktivitas kami walaupun ramai orang dan bising.
Kemudian aku dan Anis melakukan pelayaran lagi, ke dunia psikologi lainnya. kali ini aku tidak berdua saja dengan Anis. Tapi juga bersama dua teman ku lainnya, Mita dan Rina. kami mengendarai mobil untuk mencapai tempat tujuan karema kali ini tujuan pelayarannya agak lebih jauh, ke daerah Jatinangor. Memasuki kawasan kampus ini, hatiku ku begitu sejuk. Meskipun udaranya disana sangat panas. Aku melihat disini adalah tempat menuntut ilmu yang sesungguhnya. tidak seperti pelayaranku yang sebelumnya, kali ini perpustakaannya perfakultas. Menginjakkan kaki pada dunia psikologi disini membuatku melihat gambaran menuntut ilmu yang sesungguhnya. Begitu tenang. Aura “mahasiswa” begitu kuat disini. Aku lihat ada beberapa mahasiswa yang sedang makan, ada juga yang sedang mengerjakan tugas, ada juga yang sedang shalat di masjid kecil namun begitu besar untuk mahasiswa yang mendirikan shalat disana. Akupun menyempatkan diri untuk shalar zuhur dan ashar disana.
Tujuan kami, tidak hanya melakukan kunjungan belaka sebetulnya. Sama seperti pelayaranku dengan Anis sebelumnya, yaitu ke perpustakaan. Memasuki perpustakaan ini aura “psikologi” begitu kuat. Mungkin karena ruangan yang tidak terlalu luas namun padat dengan jajaran buku-buku psikologinya. Di dalam sana ada beberapa mahasiswa yang keliatannya sudah tingkat akhir, karena sibuk dengan laptop, skripsi yang dipinjam, dan beberapa tumpukan buku yang diambil dari rak buku. Mereka seperti sudah lama berada disana semenjak perpustakaan ini buka sehabis shalat Jumat.
Kami berempat langsung melihat buku-buku yang ada disana. Masing-masing langsung ke jajaran buku yang merupakan bidang yang diminati. Seperti biasanya, “huuiihh forensiknya lebih lengkap nih”, kataku sambil melihat-lihat jajaran buku. “tuh gifted child sa, kesukaan lu juga”, kata Anis kepadaku sambil menunjuk ke arah bukunya. Nampaknya Anis sudah hafal apa yang menjadi kesukaanku. Tapi kali ini aku tidak ingin menyentuh forensik. Setahuku, di kampus  ini analisis eksistensialnya masih “hidup” tidak seperti di kampus ku yang bahkan sudah dipunahkan. Tapi rasa ingin tahuku kepada analisis eksistensial tidak ikut punah. Maka aku pergi ke jajaran buku Filsafat. Beberapa buku aku ambil, mondar-mandir tidak ada buku yang “menggunggah”ku. Sementara teman-temanku tenang dengan buku-buku perkembangan dan Anis dengan buku “marriage” nya.
“nis, gue pengen liat skripsi aja deh kayanya, mumpung udah sampe sini. Tapi boleh ngga sih, yang jaga mana lagi. Itu tempat tertutup banget yang skripsi”, kataku kepada Anis. “yauda sok aja, coba tanya kang Imam gih diakan uda sering kesini bukannya?”. Ah iya juga ya, dalam hatiku. Aku langsung saja SMS dia.
Bang, itu di perpus “kawasan Jatinangor” boleh liat skripsi ngga sih. Nyelonong aja gitu?
Tidak lama, kang Imam membalas SMS ku.
Iya, sa nyelonong aja. Haha. Tapi kalo skripsi kamu liat daftar judul terus pilih ntar diambilin kok. Ngga boleh ambil sendiri soalnya. terus jangan lupa isi daftar nama peminjam ya.
            Setelah membaca balasan SMS itu aku mendekati ruang skripsi, aku ambil daftar judul skripsi. Aku pilih yang lulus tahun 2009. Aku bukan melihat judul tapi malah nama pembimbing. Hanya ada dua pembimbing yang aku incar, kang Eppy dan Zainal Abidin. Nampaknya magnet terhadap analisis eksistensial disini begitu kuat bagiku. ibu penjaga perpus menghampiri dan bertanya dengan ramah, “hayooo mau pinjem skripsi apa?” . lalu aku dengan tidak sungkan memberitahu si ibu, “yang ini bu” kataku sambil menunjuk judulnya. Hanya sepersekian detik Ibu itu melihat Judul seperti sudah hafal dan hanya sepersekian detik juga Ibu itu keluar lagi dari ruang skripsi mengambilkan skripsi untukku. Nampakanya Ibu ini sudah sangat hafal dengan tata letak dan urutan skripsinya. Dalam sekejap skrispi itu sudah ada dihadapanku.
            Aku membawanya ke meja tempat kami membaca. “sa, apaan tuh?”, tanya Rina, salah satu temanku dengan heran. “ya skripsi lah, aneks niiihhh!!!” kata ku dengan muka sombong. “hah, kaya apa sih sa?”. “ya gitulah, filsafat gitu deh” jawabku dengan singkat karena malas menjelaskan lantaran sudah tidak sabar meihat isi skripsinya. Situasi hening sejenak, sibuk dengan bacaan masing-masing. Aku baru membaca bab satu saja tidak berasa kalau itu skripsi dan bukan buku bacaan. “nis, mungkin ngga ya gue penelitiannya ini? Sementara kita ga dapet aneks dan di kampus kita uda punah”, tanyaku kepada Anis. “mungkin aja sih, asal lu suka sebetulnya. Bukannya mending gitu ya. penelitian tu yang emang kita pengen tau”, jawab Anis. “tapi coba lu liat deh, ini kualitatif. Mainannya wawancara”, tandasku. “kualitatif kaya apa sih sa?” tanya Rina yang mendengar pembicaraanku dengan Anis. “yaaa, macem-macem sih. Itu lohh yang dulu metpen 2, fenomenologi, studi kasus. Tapi ya lebih mendalam ini mah namanya juga kualitatif”, jawabku dengan asal karena sedikit malas membahas ini. Aku tidak memahami kampusku memberikan mata kuliah metodologi penelitian kualitatif tapi menghapuskan analisis eksistensial.
            “gue juga sebenarnya tertarik saa, sama marriage yang kaya gini ini”, kata Anis sambil menunjuk buku yang sedang dibacanya. “terus?”, tanyaku singkat. “yaaa gue mikirin respondennya lah, keluarga, pasangan, sungkan gue”. “iyaaa siiihhh”, kata ku menyetujui. Aku tau Anis sempat tertarik dengan pendidikan, “sebetulnya pendidikan “mungkin” responden lebih mudah karena populasi dan sampelnya kan kebayang. Tapi satu hal, bisa jadi ngga valid lantaran anak sekolah ngisi angket suka ngasal”. “duh iya ya”, Anis tersadar. “ya berarti tipenya questionaire nya kita yang isi” kata Anis menimpali.
            Hening sejenak.. lalu Rina lagi-lagi memecah keheningan, “kalian mau ambil Metpen KKPP apa?” aku sendiri tidak tahu, bahkan belum bisa menjawab pertanyaan Rina. tapi di mataku.analisis eksistensial selalu menjadi seni dalam memahami manusia. Hidup tidak hanya untuk memahami aku, duniaku, dan pengahayatanku. Tapi juga memahami dunia dan penghayatan orang lain. Ku pegang erat skripsi itu, menatapnya, dan menghela nafas..


Aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 29 Juni 2012
Irsa Ikramina

Aku dan pintu baru bagi duniaku dan penghayatanku


kamu kenapa irsa!!!?? Kamu kenapa !!??? kamu kenapa !!??  saya kecewa sama kamu?!!! Akh..!! gimana kamu mau jadi psikolog kriminal kalo apa kata OP kamu percaya aja!! Saya kecewa sama kamu!!”.

            Berbaring diatas tempat tidur, berselimut, sambil membaca sebuah novel. Akh akhirnya aku menyerah, mataku pedih. Aku sudahi dulu membaca novelnya. Entah kenapa aku selalu tenggelam didalam kisah yang dituliskan Iwan Setyawan. Novel yang berjudul “Ibuk” itu baru aku beli siang tadi dan aku berniat ingin baca sekali habis. Tapi kondisi mata tidak memungkinkan. Aku menutup novel itu, bangun dan menatap ke sekeliling kamarku. Kamar ini tidak jauh berbeda pada saat tidak libur kuliah. Beberapa buku tergeletak di pinggir tempat tidurku. Ada novel, buku “tombo ati”, dan bahkan kamus pocket oxford dan text book yang aku photocopy dari dosenku. Aku tidur bersama mereka dan aku bangun dengan mereka. Ada sajadah terbentang yang diatasnya ada lipatan mukena yang kulipat asal saja serta alquran di sudut sajadah. Meja belajar tidak pernah sesuai fungsi, selalu saja dipenuhi barang-barang entah jam tangan, radio, DVD, atau map-map yang berisi kertas penting. Tumpukan buku psikologi selalu terlihat “penuh” tepat di samping tempat tidur. Ada tumpukan laporan di sudut kamar, di belakang pintu.
Kondisi kamar memang tidak berbeda, tapi rutinitasnya yang berbeda ya itu karena UAS telah selesai. Itu berarti semester 6 juga sudah berakhir. Aku ingat dua minggu yang lalu masih bangun dengan sangat pagi, sekedar untuk bisa menyempatkan diri membaca materi ujian.  Aku juga masih sangat ingat di hari terakhir ujian bagaimana aku mengisi jawaban essay. Aku menjawab dengan tidak “selayaknya” karena energi ku sudah habis terutama karena kejadian di hari sebelumnya. “aku ceritakan saja sambil menulis, sudah lama aku tidak menulis”, dalam hatiku. Kemudian aku ambil laptop ke atas tempat tidurku..
Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pramoedya Ananta Toer
            Hari sebelum aku mengisi ujian “dengan tidak layak”, aku dan kelompok praktikum observasi interview melakukan feedback. Aku tidak bisa menebak perasaan dan pikiran mereka satu per satu, namun aku bisa membaca dari wajah teman-teman ku kalau ada satu keinginan yang sama yaitu, “cepatlah segera berakhir”. ya mungkin karena kami sempat tidak jadi feedback dan jadwal UAS yang “recet” membuat kami ingin dengan segera menyelesaikan semua kegiatan di penghujung semester ini. 
            Aku menyadari bahwa seperti biasanya pasti ada kesalahan dalam pengambilan data dan penulisan laporan. Wajarkah? Entahlahya batasan wajar menjadi begitu subjektif. Aku pikir ini menjadi wajar ketika memaklumi bahwa semua skill yang diajarkan dalam praktikum akan berkembang sesuai dengan jumlah jam terbang. Namun, bagi beberapa pembimbing, terutama yang memang dosen senior. Justru ini menjadi kesalahan yang tidak dapat “dimaafkan”.
            Itu sebabnya feedback kali ini aku merasa takut, karena pembimbingnya kali ini dosen senior. Senior disini tidak hanya mengacu pada lamanya pengalaman mengajar, namun juga berkaitan dengan expert power. Aku melihat dosen yang satu ini sangat cerdas. Dimataku pemikiran-pemikirannya sangat original, terlihat juga dari bagaimana caranya menyampaikan materi sangat berbeda dengan dosen yang lainnya. terus terang ketika menghadapi dosen yang satu ini antara takut dan segan jadi tidak ada bedanya. Mengingat aku sering melakukan kesalahan ketika presentasi analisis kasus di kelas psikologi sosial. tapi tanpa aku sadari, lepas dari mata kuliah tersebut kepekaan terhadap realitas dengan teori sosial menjadi tinggi. Aku setuju bahwa keberhasilan dalam suatu mata kuliah bukan hanya mengacu pada hasil nilai A, B, C, namun juga bagaimana teori-teori yang diajarkan menjadi “bagian” dari mahasiswa dan mampu mengaplikasikannya pada realitas kehidupan sehari-hari. Sederhana, tapi apabila ini didukung dengan jam terbang yang tinggi aku pikir siapa yang tidak mau memperkerjakan seorang analyst atau consultant yang handal? Namun, terlepas dari itu semua, dliuar jam mengajar dan ketika memasuki mejanya di ruang dosen. Aku tau beliau adalah orang yang akan selalu dengan ringan meminjamkan buku-bukunya yang juga “original” kepada mahasiswa dan menjawab pertanyaan mahasiswa atau sekedar berdiskusi seputar pelajaran.
            Feedback hari itu berjalan “seperti biasanya”, seperti biasa disini berarti membahas seluruh kesalahan dan “dosa” yang telah mahasiswa perbuat dari laporan dan pengambilan datanya. Pada dasarnya ketika seorang pembimbing merupakan dosen senior dan memiliki expert power, tentu akan memiliki standard yang tinggi dalam menilai hasil kerja mahasiswa. Singkatnya, tidak akan banyak memaklumi.
            Satu per satu mahasiswa menunggu giliran untuk “mempertanggungjawabkan” apa yang telah dikerjakan. Aku tidak seperti salah satu teman sekelompok ku yang ketika ada kesalahan dengan segera mengatakan, “maaf kang”. Karena untukku, aku tidak mengerjakan laporan hanya untuk minta maaf. Itu sebabnya aku banyak diam dan hanya menghela nafas ketika ditanyai mengenai kesalahan. Hingga akhirnya tibalah giliranku. Kesalahanku adalah aku terlalu mengandalkan wawancara daripada observasi tapi tidak didukung dengan kemampuan wawancara yang memadai, dengan sedikit probing akibatnya aku seperti begitu saja mempercayai apa kata OP. Langsung saja dosen ini mengatakan padaku dengan nada tinggi, “kamu kenapa irsa!!!?? Kamu kenapa !!??? kamu kenapa !!?? saya kecewa sama kamu?!!! Akh..!! gimana kamu mau jadi psikolog kriminal kalo apa kata OP kamu percaya aja!! Saya kecewa sama kamu!!”. Seketika aura ketegangan menyeruak ke seluruh ruangan. aku hanya diam, terpaku, menundukkan kepala, sesekali aku melihat ke arah dosen itu. Setiap dosen itu bertanya, “kamu kenapa!!!??” dalam hati aku menjawab, “loh? Kenapa gimana? Biasanya juga begini kok. Ya ngga kenapa-napa. Kok jadi malah kaya intimate vs stranger difference gini. Artinya, secara past experience kan biasanya juga salah”
Aku menatap kedua wajah cemas temanku yang belum mendapat giliran. Ada ketakutan dan kecemasan di mata mereka. Aku hanya bisa diam tapi rasanya warna-warna akromatik meledak di dalam diriku. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Seusai feedback kami hanya terdiam menatap satu sama lain, hanya beberapa kata yang terungkap, helaan nafas mewakili ungkapan kelelahan kami. Sambil berjalan ke luar lab, aku berkata, “ yasudah, semoga lulus semua. Amin”
Aku akui menempuh pendidikan psikologi di kampus ini, yang menjadi berat bukan masalah persaingan. Dimana letak persaingan kalau iklimnya need of affiliation? Tapi yang memberatkan adalah tuntutan yang tinggi.
            Sesampai di rumah, kata-kata dosen itu masih terdengar jelas di kepalaku. Kondisi kehabisan energi psikis turut mendukung tidak maksimalnya dalam mempelajari materi ujian untuk besok. Keesokan harinya, entah apa yang aku isi di lembar jawaban. rasanya seperti setengah sadar. Bahkan disaat mengerjakan ujianpun kata-kata dosen itu masih seperti nyata. Padahal hari itu aku sedang berulang tahun, tapi kebahagiaan ku tidak “lepas”. Biasanya aku juga bertafakur mengenai perjalanan hidup yang aku tempuh, tapi aku sedang tidak memiliki energi psikis untuk melakukannya hari itu. Aku biarkan saja hari itu terlalui..
            Meski aku masih bertanya-tanya dalam hati dan pikiranku, kenapa kata dosen ini masih begitu nyata dalam duniaku?  Kenapa kata-katanya begitu mempengaruhiku sedalam ini? Apa mungkin karena secara social impact ada strength dimana dosen tersebut memiliki status tinggi dan expert power. Selain itu ada satu hal yang mengganjal, kenapa hanya kepada aku saja dosen ini mengatakan kekecewaannya. Sehingga dalam hal ini menyinggung juga immediacy, ada sesuatu yang ia sampaikan kepadaku secara personal.
            lusa harinya, aku dan mama pergi berlibur ke pangandaran. Sudah lama direncanakan, hampir gagal tapi aku bersikeras. Kenapa? Aku ingin merasa lebih dekat dengan Allah melalui alam ciptaan-Nya. Kami tiba disana malam hari, setibanya disana aku sedikit melupakan kejadian yang memberatkan psikis ku beberapa hari ke belakang. baru keesokan paginya aku akan ke pantai. Kebetulan, jarak pantai dan hotelnya hanya 50 meter. Aku sudah tidak sabar!!
            Keesokan paginya aku pergi ke pantai.  Aku lihat dari kejauhan warna biru yang begitu menyejukkan, hamparan air yang begitu luas seperti tiada batas melambangkan kebesaran pencipta-Nya. Bersama suara gemuruh ombak kecil aku mempercepat langkahku untuk mendekatinya. Kakiku menyentuh pasir yang begitu lembut. Aku lepas sandal yang ku kenakan, dan aku biarkan air laut menyentuh kakiku. Begitu dingin, begitu sejuk, memadamkan kegundahan hati ini. Aku biarkan angin laut menerpa wajahku. Aku menatap langit biru. Sinar matahari membuatku sulit membuka mataku, namun di tengah silaunya matahari aku melihat ada layang-layangan yang bergerak “bebas”. Seperti aku yang “bebas” bersama duniaku dan penghayatanku.
            Aku terpaku di tepian pantai menatap laut lepas. Aku ingin seperti laut yang begitu “lepas”. Aku ingin melepaskan segala beban yang memberatkan langkahku. Luasnya lautan menembus hatiku, meluaskan hati yang begitu sempit. Aku ucapkan Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar. Aku tidak ragu sedikitpun akan kekuasaan dan kebesaran-Nya dan ini hanya sebagian kecil dari keindahan-Nya. 

            Hari itu aku yang pergi bersama mama tidak lama menghabiskan waktu di pantai, setelah mengambil beberapa foto. Kami kembali ke hotel, karena matahari sudah mulai sangat menyengat. Ah, aku ingin ke pantai lagi ! niatku dalam hati ketika menghabiskan waktu di hotel.
            Besoknya aku ke pantai lagi, hanya aku, kamera, dan laut lepas. Lagi-lagi aku terpaku menatap ke lautan. Aku merasa ini seperti sebuah meditasi alam yang membentuk ulang kepingan-kepingan self concept yang sempat hancur. Existential vacuum dan depresi yang pernah aku alami cukup meluluh lantakan self concept yang kupunya. Aku berusaha menyusunnya kembali, dan hari ini, di hadapan laut adalah saat menggabungkannya meskipun itu retak-retak. Di kepala ku terdengar kata-kata dari orang-orang terdekat, kini suara di kepalaku tidak hanya dari dosen itu. Sekarang ada banyak. Suara-suara itu silih berganti hadir di kepalaku..
Dari cara bicara kamu, dan melihat IPK kamu yang sekarang, Ibu yakin kamu bisa jadi psikolog nanti..
Sa, kamu belum menyadari. Sebenarnya kamu punya daya analisis yang cukup bagus. Cobalah jangan berdasarkan common senses aja, pake teori-teorinya.
Kamu bisa disalahpahami orang lain tetapi jangan salah memaknai keindahan dirimu sendiri
Nak, kamu sebetulnya cerdas..
Anggaplah kamu masuk psikologi karena menurut Tuhan kualitas kamu terlalu bagus untuk Fikom, maka Tuhan memilihkan psikologi untukmu. Dari dulu saya sudah pernah bilang kan bahwa kamu memiliki pemikiran yang berbeda
           
            Masih banyak suara-suara yang terdengar di kepalaku. Aku tetap berdiri, terpaku, melihat lautan. Namun dunia internalku berjalan begitu dalam dengan penghayatannya. Orang disekitar pantai seperti bingung melihatku. Mungkin mereka bertanya-tanya aku sedang apa. Beberapa meter dariku ada sekumpulan anak muda yang sedang bermain pasir, ada juga yang sedang bermain bola atau sekedar berenang di air. Untuk membuatku merasa “penuh” aku tidak perlu melakukan semua itu. Aku hanya butuh mengarungi lautan bersama duniaku dan penghayatanku. Tanpa disadari aku sudah cukup lama berdiri disitu, matahari mulai terasa menyengat di tanganku, aku berpindah tempat dari tempatku berdiri..

 Ku tuliskan jejak ku di pantai ini, meski aku tau itu akan hilang tersapu air pantai. Tapi pantai ini sudah menjadi bagian dari duniaku dan tidak akan pernah ku lupakan dalam penghayatanku.


Dengan berat hati aku tinggalkan pantai ini, dengan menoleh lagi sebelum aku benar-benar meninggalkannya.

            Jadi apa maksudnya dari semua ini? Perkataan dosen itu dan meditasi itu, mengingatkanku bahwa perjalananku masih sangat panjang namun tidak banyak waktunya. Aku seharusnya bisa berbuat lebih dari saat ini. Maka selama ini aku sudah terlalu “santai”, terbawa arus perputaran kehidupan yang hanya sekedar reaktif namun tidak proaktif, bahwa masih ada virtue dan strength yang dapat diaktualisasikan, aku masih bisa belajar dan bekerja lebih dari ini. So what the hell is wrong with me? Psikologi sudah menjadi bagian dari duniaku, dari hidupku. Sama seperti misi dari psikologi sendiri. First, to cure mental illness. i have ever been depression and existential vacuum. Second, to find and nurture genius and talent. Third, to make normal life more fulfilling. Ofcourse the next step will follow those missions. At least, I do for my self first in order to “give” to people arround me.
I have lived through much and now I think I have found what is needed for happiness. A quiet, secluded life in the country with possibility of being useful to people
Tolstoy
            Aku sering meilhat pesawat terbang diatas langit dan bertanya dalam benak ini. Akan kemana pesawat itu membawa penumpangnya? Mungkin ke negara tetangga atau negara yang jaraknya puluhan jam. Kapan aku bisa sampai disana? Dari SMP aku selalu bermimpi untuk bisa study abroad. Aku ingin mengenal orang-orang diluar sana, belajar banyak hal, mersakan jadi pelajar yang dididik secara humanistik. Tapi kini aku sudah berada di penghujung perjalanan pendidikan. Tapi mimpi itu tidak hilang, tetap menyala. Bagiku belajar adalah nafas hidup. Tidak harus melalui jalur pendidikan formal. Mungkinkah ini adalah salah satu jalan yang harus ku tempuh untuk menguji sejauh aku bisa melalui keraguan dan ketakutanku? Haruskah aku berhijrah lagi untuk yang kedua kalinya dalam hidupku? Mungkin iya. Kita tidak akan pernah tahu sampai kita mencobanya. Sebab aku tidak berjalan bersama Freud yang selalu melihat masa lalu; aku tidak berjalan bersama Adler yang berjuang menjadi superior hanya karena inferioritas; tapi aku berjalan bersama Maslow untuk bergerak maju ke depan, mengaktualisasikan diri; aku berjalan bersama Seligment untuk mengembangkan diri, melakukan yang terbaik untuk kehidupan, untuk lebih bahagia, untuk lebih “penuh”; dan aku berjalan bersama Viktor E Frankl untuk memaknai setiap langkah dalam kehidupan.
By the way, i just wanna say that maybe i’m not a person who easily say “sorry” because i hate my self when make people dissapointed because of me. But i’d like to say “thank you”, sir. For making me realize, the place where i should go, the abilities that I have, and the way i should see this life journey from now.



Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 29 Juni 2012
Irsa Ikramina

Thursday, June 7, 2012

Aku dan Amanah


“nak, kamu sebetulnya cerdas. Tapi cobalah ikut organisasi. Sukses itukan ngga cukup Cuma cerdas aja kan?”

            Hari ini, aku masih UAS, dan seperti biasa aku adalah peserta ujian terakhir yang keluar kelas. Aku memang lama dalam mengerjakan soal, selain karena memang aku hati-hati, bagiku skor satu nomor saja begitu berharga. Hari ini yang mengawas adalah salah satu dosen yang aku segani dan aku kagumi. Entahlah, semua dosenkan memang cerdas, tapi selalu ada daya tarik tersendiri untukku dari dosen-dosen tertentu. Ya, salah satunya ibu dosen yang satu ini. Pembawaannya tegas dan disegani anak-anak mahasiswanya karena memang memiliki expert power. Ia juga selalu menuntut mahasiswanya berpikir lebih tinggi. Itu yang aku suka, “membesarkan” mahasiswa, tidak semua dosen melakukannya.
            Ketika  hanya tinggal aku yang dikelas, aku beranjak dan mengumpulkan lembar jawab ke meja dosen. Lalu ibu dosen itu bertanya,
Ibu dosen        : “kamu kegiatannya apalagi nak? Selain kuliah.”
Irsa                   : “ngga ada bu, di rumah aja. Paling juga mengajar. Tapi itu juga Cuma seminggu sekali sih” jawabku sambil tersenyum     
Ibu dosen        : “oh, mengajar apa nak?”
Irsa                   : “bahasa inggris  bu. Privat. Nagajarin temen sih”
Ibu dosen        :”ohhh. Ngajar temen. kalo kata saya cobalah ikut berorganisasi. nak, kamu sebetulnya cerdas. Tapi cobalah ikut organisasi. Sukses itukan ngga cukup Cuma cerdas aja kan?”
Irsa                   : “iya bu, makasih” kataku sambil tersenyum dan menganggukan kepala.
Aku diam sejenak sambil tersenyum. The insider-outsider difference kah? Bahwasannya, aku tahu organisasi itu juga perlu. Tapi aku lebih tau tentang diriku sendiri, sebab mengapa aku tidak terlibat dalam organisasi. Tapi kemudian aku lebih mengganggap, ibu dosen ini care dengan memberi inputan seperti itu. Maka aku terima dengan positif saja. Aku tersenyum lagi dan mengatakan terimakasihku.
Lalu ketika aku akan pergi dari kelas, ibu memanggilku lagi
Ibu dosen        :”eh, saraya. Boleh ibu minta nomer kamu?”
Irsa                   :”boleh bu”, jawabku singkat
Dia mencatat nomer ku di buku agendanya. Lalu aku pamit dan keluar kelas. Dalam benak, aku bertanya, “ngapain ya si ibu minta nomer gue? Buset. Berasa penting nih gue.”
Pada saat keluar kelas, aku bertemu beberapa teman yang nampak cemas. Beberapa diantaranya bilang, “ih itu apa ngga di bold aja sih petunjuknya kalo emang harus pilih lebih dari satu jawaban. kenapa juga ngga pake yang 1,2,3 benar A gitu-gitu”, ungkapnya dengan kesal.
Inalillah ! aku juga menjawab hanya satu jawaban. “bodoh!”, aku mencerca diriku sendiri dalam hati. Seniorku memang pernah mengingatkan, “Hati-hati sama dosen yang satu itu, kalau buat soal suka menjebak. Baca petunjuknya baik-baik”. aku melihat ke sekumpulan teman yang lain ada juga yang sangat-sangat cemas, dan mengatakan, “ah.. aku Cuma pilih satu..”
Pada saat itupun aku cukup soak. tapi aku berusaha menenangkan diriku. Aku tidak mengatakan kepada siapapun aku terkena jebakan itu juga. Kebetulan, aku tidak membawa motor seperti biasanya. Mama yang mengantar jemputku hari ini. Sambil menunggu mama, aku sambil berbicara pada diriku sendiri.
“ada-ada saja rencana Allah untuk membawaku SP. Aku rajin berdoa belakangan ini, agar ada atau tidaknya yang harus SP aku serahkan saja pada pengaturanNya. Karena aku punya beberapa rencana besar untuk liburan kali ini. Dengan catatan, aku tidak SP. Selain itu, aku berusaha agar penghasilan ku dari mengajar tidak habis hanya untuk SP. Tapi bisa membeli buku-buku yang aku pikir bisa mendukung untuk metpen dan KKPP semester depan. Namun, aku dibuat tidak menyadari jebakan petunjuk soal itu. Yasudahlah, SP nya aku bayar pakai sedekah saja. Mudah-mudahan Insya Allah dilancarkan urusan akademik ini”
            Bayar pakai sedekah? Sedekah itu punya 4 mata pisau, yaitu mengundang datangnya rezeki, menolak bala, menyembuhkan penyakit dan memanjangkan umur. Aku menyadari bahwa aku kurang bersedekah, seringkali dari penghasilan ku mengajar tidak besar aku sisihkan untuk anak yatim. Mungkin, dengan kejadian pada saat ujian hari ini, Allah ingin mengingatkatkan ku pada sedekah, sedekah itu menolak bala. Karena, kalau dirunut aku sudah berdoa sebelum ujian, biasanya aku juga mendirikan salat duha sebelum ujian. Tapi karena hari ini sedang “halangan” jadi aku hanya mengandalkan doa dan keyakinan. Dengan adanya hal ini, aku berusaha tidak berprasangka buruk kepada Allah. Aku pikir, buat apa berprasangka buruk? Seperti tidak mengenal Allah saja. Sudah 20 tahun hidup tapi kalau belum mengenal Allah lebih dalam percuma saja. Aku yakin, akan ada hikmah yang nanti akan terkuak dalam skenario ini.

Satu hal yang membuat ku tetap yakin kepada-Nya adalah karena aku sudah meluruskan niat untuk menyempurnakan amanah, menyempurnakan ikhtiar.

Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya yang tertanam di dalam hati itu adalah keyakinan”
            Ya, di akhir semester ini aku berusaha mencari meaning of life apa yang membuat perjalanan tahun terakhir berkuliah ini akan membuat lebih bermakna. kata Viktor E. Frankl, kalau aku tidak salah mengartikan dari bukunya. makna hidup itu berbeda-beda setiap orang dan juga berbeda-beda setiap waktu. Itu berarti, setiap episode kehidupan akan  memiliki makna yang berbeda. Oleh karena itu aku berusaha menemukan “makna” untuk masa satu tahun terakhir ku berkuliah.
            Aku mencoba merunut ke belakang, ketika aku baru menapaki kota Bandung, ketika hijrah pertama dalam hidupku aku lakukan, untuk menemukan makna, dan untuk menemukan Allah dalam ketersesatanku (baca aku dan hijrah). aku juga mengingat masa aku ditakdirkan untuk menempuh pendidikan di psikologi.
Waktu itu aku berpikir bahwa, aku tidak punya alasan untuk “mengggebu” dalam menuntut ilmu di psikologi ini. Aku tidak minat. Tapi aku masih punya alasan untuk bertanggung jawab dalam menjalankan amanah ini, sebagai tanda rasa syukur ku pada-Nya 
            Sudut pandang yang sederhana untuk menyikapi suatu babak kehidupan, tapi energinya luar biasa dan aku juga dihujani berkah dan rahmat-Nya. Kemudahan demi kemudahan atas izin-Nya selalu menyertai langkahku. Speechless rasanya untuk menceritakan ini, tapi let me tell you reader , merupakan kebesaran Allah aku bisa sampai di titik perjalanan yang sekarang ini dengan sudah dua tahun berturut-turut memboyong jatah mendapat beasiswa dengan jalur prestasi ! subhanallah..  

Rasulullah saw. bersabda, "jika engkau beramal untuk dunia maka engkau akan mendapatkan dunia, tetapi jika engkau beramak untuk akhirat maka engkau akan mendapatkan akhirat dan juga dunia"
 
maka, aku tidak punya alasan lagi selain untuk menyempurnakan amanah sebagai mahasiswa psikologi dalam setahun terakhir berkuliah ini. Mengenai hasil akhir? Biarlah Allah yang mengatur, aku percayakan pada-Nya. Dalam perjalanan untuk menyempurnakan amanah ini, tidak cukup hanya belajar dengan rajin dan cerdas saja. Tapi juga harus ada perbaikan dalam sisi aqidah dan ibadah. aqidah, aku berusaha lebih yakin lagi, haqqul yaqin dengan janji-janji dan pertolongan Allah. Intensitas dan kualitas ibadah juga aku perbaiki, salat sunnah mulai aku terbarkan di sela-sela kesibukan yang ada. Tidak tetinggal juga, seperti apa yang sudah diingatkan hari ini oleh Allah, sedekah..
Bagaimana engkau menginginkan sesuatu yang luar biasa padahal engkau sendiri tak mengubah dirimu dari kebiasaan mu? Kita banyak meminta, banyak berharap kepada Allah. Tapi sibuknya meminta meminta kadang membuat kita tak sempat menilai diri sendiri. Padahal kalau kita meminta, akan berakibat kita mengubah diri, dan Allah akan memberi apa yang kita minta..
-Ibnu Ath-Tha’ilah-

Rasulullah saw. bersabda, "sesungguhnya amal itu ditinjau dari niatnya, dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan apa yang ia niatkan"
           
            Terlalu dalam aku menyelami dunia internalku, sampai tidak menyadari kalau aku sedang menunggu dijemput mama. kemudian tidak lama, mobil mama sudah terlihat dari kejauhan. Di mobil, aku bercerita kepada mama mengenai kejadian dalam ujian hari ini dan pembicaraan aku dengan ibu dosen. Nampaknya mama lebih tertarik menanggapi cerita aku dengan ibu dosen.
Mama              :”ya memang  sayang kalau cerdas tapi cuma kuliah aja dan ngga di aktualisasikan ke bidang lain”
Irsa                   :”iya siih”
Mama              :”coba main ke kantornya kang Tauhid gih, siapa tau ada kesempatan buat aktualisasi diri. Feeling mama, irsa ada “tempat” untuk menulis..

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 7 Juni 2012
Irsa Ikramina