Sepanjang aku jadi
mahasiswa psikologi, aku tidak terlalu banyak bergaul dengan mahasiswa fakultas
lainnya. aku merasa setiap fakultas memiliki pola pikir yang berbeda karena
bidang studi yang digeluti, selain itu iklimpun pasti berbeda, peraturan dan
kehidupan in-group membuat
keeratannya juga semakin kuat dibandingkan terhadap out-group. Tapi aku lebih penasaran dengan kehidupan psikologi di
kampus lainnya.
Suatu saat aku dan
Anis pergi ke kampus yang ada di Jl. Surya Sumantri. Sekedar untuk mengunjungi
perpustakaannya dan kalau memang sempat aku ingin bertemu dengan temanku yang
merupakan mahasiswa psikologi juga di kampus itu. Aku dan Anis berangkat dari
kampus setelah suatu mata kuliah selesai pukul sepuluh pagi hari itu. Kami memang
pernah “mengambil keatas” pada semester genap lalu. Sehingga pada hari itu
memang hanya satu mata kuliah. Aku dan anis mengendarai motor ke kampus itu. Parkiran
motor di kampus itu ternyata ada di belakang dan harus melalui jalan yang
merupakan perumahan. Terlalu terperangah aku melihat gedung kampus itu yang
begitu menjulang tinggi, sampai aku tidak melihat ada polisi tidur dan tidak
sempat menarik rem. “eh, sorry nis,
gue ngga liat. Saking ngahuleung gue liat tu gedung”, kataku. “iya ngga papa,
santai. Iya gue juga”, jawab Anis. Kamipun tertawa. Bagiku, kampus ini begitu “tinggi”
tidak hanya soal gedungnya, tapi juga kelas sosialnya.
Memasuki tempat parkir,
parkirannya begitu luas dan rapi. Tidak perlu takut tidak kebagian parkir. Aku dan
Anis saling memandang, tidak banyak bicara dengan sedikit senyum, mata kita
saling berbicara, dan tatapan penuh makna yang artinya “beda banget sama kampus
sendiri”. Memasuki kampus itu, aku kebingungan dengan gedung yang dimaksud
temanku melalui SMS. Tapi akhirnya kami menemukannya dengan arahan melalui SMS
dari temanku. Perpustakaannya ada di lantai 6. Kamipun naik ke lantai 6. Setelah
menyerahkan KTM dan memasukkan tas ke locker
serta menulis di buku tamu. Aku mulai melangkahkan kaki di perpustakaan
itu. Terpaan angin sejuk dari pendingin ruangan begitu memberikan kesegaran
dari udara luar yang begitu panas. Aku lihat ke setiap sudut ruangan, ruangan
ini sangat luas dan bersih. Begitu “putih”. Banyak rak buku besar yang tersusun
rapi diberi nama sesuai bidang ilmu pengetahuannya. Banyak meja dengan beberapa
kursi yang tersusun rapi. Di beberapa meja ada mahasiswa yang sedang berkumpul
mengerjakan tugas. Begitu tenang dan begitu nyaman.
Aku dan Anis
langsung menuju rak buku ilmu sosial, salah satunya ada rak besar berisikan
buku-buku psikologi. kami memilih buku untuk dibaca. “ah! Ada tentang crime! Yes!”, kataku sambil mengambil
buku dan langsung duduk di kursi dan meja terdekat. Sedangkan Anis masih
mencari buku yang akan dibacanya. kami
membaca buku sambil sedikit berbincang. “nis, kalo kaya gini kondisinya gue
langsung rajin kali belajar mulu. Ngerjain tugas juga betah. Ck ck ck. Langsung
deh need of achievement tinggi”. “iyaaa
banget.” Jawab Anis. kami tertawa bercanda sambil membaca. Aku dan Anis memang
selama ini kesulitan mencari tempat mengerjakan tugas, atau sekedar membaca
buku. Kami rajin membawa buku bacaan ke kampus ketika ada jam kosong yang
panjang. untuk melakukan kedua hal tersebut selalu saja tempat makan dekat
kampus yang menjadi lahan aktivitas kami walaupun ramai orang dan bising.
Kemudian aku dan
Anis melakukan pelayaran lagi, ke dunia psikologi lainnya. kali ini aku tidak
berdua saja dengan Anis. Tapi juga bersama dua teman ku lainnya, Mita dan Rina.
kami mengendarai mobil untuk mencapai tempat tujuan karema kali ini tujuan
pelayarannya agak lebih jauh, ke daerah Jatinangor. Memasuki kawasan kampus
ini, hatiku ku begitu sejuk. Meskipun udaranya disana sangat panas. Aku melihat
disini adalah tempat menuntut ilmu yang sesungguhnya. tidak seperti pelayaranku
yang sebelumnya, kali ini perpustakaannya perfakultas. Menginjakkan kaki pada
dunia psikologi disini membuatku melihat gambaran menuntut ilmu yang
sesungguhnya. Begitu tenang. Aura “mahasiswa” begitu kuat disini. Aku lihat ada
beberapa mahasiswa yang sedang makan, ada juga yang sedang mengerjakan tugas,
ada juga yang sedang shalat di masjid kecil namun begitu besar untuk mahasiswa
yang mendirikan shalat disana. Akupun menyempatkan diri untuk shalar zuhur dan
ashar disana.
Tujuan kami, tidak
hanya melakukan kunjungan belaka sebetulnya. Sama seperti pelayaranku dengan
Anis sebelumnya, yaitu ke perpustakaan. Memasuki perpustakaan ini aura “psikologi”
begitu kuat. Mungkin karena ruangan yang tidak terlalu luas namun padat dengan
jajaran buku-buku psikologinya. Di dalam sana ada beberapa mahasiswa yang
keliatannya sudah tingkat akhir, karena sibuk dengan laptop, skripsi yang
dipinjam, dan beberapa tumpukan buku yang diambil dari rak buku. Mereka seperti
sudah lama berada disana semenjak perpustakaan ini buka sehabis shalat Jumat.
Kami berempat
langsung melihat buku-buku yang ada disana. Masing-masing langsung ke jajaran
buku yang merupakan bidang yang diminati. Seperti biasanya, “huuiihh
forensiknya lebih lengkap nih”, kataku sambil melihat-lihat jajaran buku. “tuh gifted child sa, kesukaan lu juga”, kata
Anis kepadaku sambil menunjuk ke arah bukunya. Nampaknya Anis sudah hafal apa
yang menjadi kesukaanku. Tapi kali ini aku tidak ingin menyentuh forensik. Setahuku,
di kampus ini analisis eksistensialnya
masih “hidup” tidak seperti di kampus ku yang bahkan sudah dipunahkan. Tapi rasa
ingin tahuku kepada analisis eksistensial tidak ikut punah. Maka aku pergi ke
jajaran buku Filsafat. Beberapa buku aku ambil, mondar-mandir tidak ada buku
yang “menggunggah”ku. Sementara teman-temanku tenang dengan buku-buku
perkembangan dan Anis dengan buku “marriage”
nya.
“nis, gue pengen
liat skripsi aja deh kayanya, mumpung udah sampe sini. Tapi boleh ngga sih,
yang jaga mana lagi. Itu tempat tertutup banget yang skripsi”, kataku kepada
Anis. “yauda sok aja, coba tanya kang Imam gih diakan uda sering kesini
bukannya?”. Ah iya juga ya, dalam hatiku. Aku langsung saja SMS dia.
Bang,
itu di perpus “kawasan Jatinangor” boleh liat skripsi ngga sih. Nyelonong aja
gitu?
Tidak lama, kang Imam membalas SMS ku.
Iya,
sa nyelonong aja. Haha. Tapi kalo skripsi kamu liat daftar judul terus pilih
ntar diambilin kok. Ngga boleh ambil sendiri soalnya. terus jangan lupa isi
daftar nama peminjam ya.
Setelah
membaca balasan SMS itu aku mendekati ruang skripsi, aku ambil daftar judul
skripsi. Aku pilih yang lulus tahun 2009. Aku bukan melihat judul tapi malah
nama pembimbing. Hanya ada dua pembimbing yang aku incar, kang Eppy dan Zainal
Abidin. Nampaknya magnet terhadap analisis eksistensial disini begitu kuat
bagiku. ibu penjaga perpus menghampiri dan bertanya dengan ramah, “hayooo mau
pinjem skripsi apa?” . lalu aku dengan tidak sungkan memberitahu si ibu, “yang
ini bu” kataku sambil menunjuk judulnya. Hanya sepersekian detik Ibu itu
melihat Judul seperti sudah hafal dan hanya sepersekian detik juga Ibu itu
keluar lagi dari ruang skripsi mengambilkan skripsi untukku. Nampakanya Ibu ini
sudah sangat hafal dengan tata letak dan urutan skripsinya. Dalam sekejap
skrispi itu sudah ada dihadapanku.
Aku
membawanya ke meja tempat kami membaca. “sa, apaan tuh?”, tanya Rina, salah
satu temanku dengan heran. “ya skripsi lah, aneks niiihhh!!!” kata ku dengan
muka sombong. “hah, kaya apa sih sa?”. “ya gitulah, filsafat gitu deh” jawabku
dengan singkat karena malas menjelaskan lantaran sudah tidak sabar meihat isi
skripsinya. Situasi hening sejenak, sibuk dengan bacaan masing-masing. Aku baru
membaca bab satu saja tidak berasa kalau itu skripsi dan bukan buku bacaan. “nis,
mungkin ngga ya gue penelitiannya ini? Sementara kita ga dapet aneks dan di kampus
kita uda punah”, tanyaku kepada Anis. “mungkin aja sih, asal lu suka
sebetulnya. Bukannya mending gitu ya. penelitian tu yang emang kita pengen tau”,
jawab Anis. “tapi coba lu liat deh, ini kualitatif. Mainannya wawancara”,
tandasku. “kualitatif kaya apa sih sa?” tanya Rina yang mendengar pembicaraanku
dengan Anis. “yaaa, macem-macem sih. Itu lohh yang dulu metpen 2, fenomenologi,
studi kasus. Tapi ya lebih mendalam ini mah namanya juga kualitatif”, jawabku
dengan asal karena sedikit malas membahas ini. Aku tidak memahami kampusku memberikan
mata kuliah metodologi penelitian kualitatif tapi menghapuskan analisis
eksistensial.
“gue
juga sebenarnya tertarik saa, sama marriage
yang kaya gini ini”, kata Anis sambil menunjuk buku yang sedang dibacanya. “terus?”,
tanyaku singkat. “yaaa gue mikirin respondennya lah, keluarga, pasangan,
sungkan gue”. “iyaaa siiihhh”, kata ku menyetujui. Aku tau Anis sempat tertarik
dengan pendidikan, “sebetulnya pendidikan “mungkin” responden lebih mudah karena
populasi dan sampelnya kan kebayang. Tapi satu hal, bisa jadi ngga valid lantaran
anak sekolah ngisi angket suka ngasal”. “duh iya ya”, Anis tersadar. “ya
berarti tipenya questionaire nya kita yang isi” kata Anis menimpali.
Hening
sejenak.. lalu Rina lagi-lagi memecah keheningan, “kalian mau ambil Metpen KKPP
apa?” aku sendiri tidak tahu, bahkan belum bisa menjawab pertanyaan Rina. tapi di
mataku.analisis eksistensial selalu menjadi seni dalam memahami manusia. Hidup tidak
hanya untuk memahami aku, duniaku, dan pengahayatanku. Tapi juga memahami dunia
dan penghayatan orang lain. Ku pegang erat skripsi itu, menatapnya, dan
menghela nafas..
Aku,
duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 29
Juni 2012
Irsa Ikramina