aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Friday, June 29, 2012

Aku dan pelayaran ke dunia psikologi lainnya


Sepanjang aku jadi mahasiswa psikologi, aku tidak terlalu banyak bergaul dengan mahasiswa fakultas lainnya. aku merasa setiap fakultas memiliki pola pikir yang berbeda karena bidang studi yang digeluti, selain itu iklimpun pasti berbeda, peraturan dan kehidupan in-group membuat keeratannya juga semakin kuat dibandingkan terhadap out-group. Tapi aku lebih penasaran dengan kehidupan psikologi di kampus lainnya.
Suatu saat aku dan Anis pergi ke kampus yang ada di Jl. Surya Sumantri. Sekedar untuk mengunjungi perpustakaannya dan kalau memang sempat aku ingin bertemu dengan temanku yang merupakan mahasiswa psikologi juga di kampus itu. Aku dan Anis berangkat dari kampus setelah suatu mata kuliah selesai pukul sepuluh pagi hari itu. Kami memang pernah “mengambil keatas” pada semester genap lalu. Sehingga pada hari itu memang hanya satu mata kuliah. Aku dan anis mengendarai motor ke kampus itu. Parkiran motor di kampus itu ternyata ada di belakang dan harus melalui jalan yang merupakan perumahan. Terlalu terperangah aku melihat gedung kampus itu yang begitu menjulang tinggi, sampai aku tidak melihat ada polisi tidur dan tidak sempat menarik rem. “eh, sorry nis, gue ngga liat. Saking ngahuleung gue liat tu gedung”, kataku. “iya ngga papa, santai. Iya gue juga”, jawab Anis. Kamipun tertawa. Bagiku, kampus ini begitu “tinggi” tidak hanya soal gedungnya, tapi juga kelas sosialnya.
Memasuki tempat parkir, parkirannya begitu luas dan rapi. Tidak perlu takut tidak kebagian parkir. Aku dan Anis saling memandang, tidak banyak bicara dengan sedikit senyum, mata kita saling berbicara, dan tatapan penuh makna yang artinya “beda banget sama kampus sendiri”. Memasuki kampus itu, aku kebingungan dengan gedung yang dimaksud temanku melalui SMS. Tapi akhirnya kami menemukannya dengan arahan melalui SMS dari temanku. Perpustakaannya ada di lantai 6. Kamipun naik ke lantai 6. Setelah menyerahkan KTM dan memasukkan tas ke locker serta menulis di buku tamu. Aku mulai melangkahkan kaki di perpustakaan itu. Terpaan angin sejuk dari pendingin ruangan begitu memberikan kesegaran dari udara luar yang begitu panas. Aku lihat ke setiap sudut ruangan, ruangan ini sangat luas dan bersih. Begitu “putih”. Banyak rak buku besar yang tersusun rapi diberi nama sesuai bidang ilmu pengetahuannya. Banyak meja dengan beberapa kursi yang tersusun rapi. Di beberapa meja ada mahasiswa yang sedang berkumpul mengerjakan tugas. Begitu tenang dan begitu nyaman.
Aku dan Anis langsung menuju rak buku ilmu sosial, salah satunya ada rak besar berisikan buku-buku psikologi. kami memilih buku untuk dibaca. “ah! Ada tentang crime! Yes!”, kataku sambil mengambil buku dan langsung duduk di kursi dan meja terdekat. Sedangkan Anis masih mencari buku yang akan dibacanya.  kami membaca buku sambil sedikit berbincang. “nis, kalo kaya gini kondisinya gue langsung rajin kali belajar mulu. Ngerjain tugas juga betah. Ck ck ck. Langsung deh need of achievement tinggi”. “iyaaa banget.” Jawab Anis. kami tertawa bercanda sambil membaca. Aku dan Anis memang selama ini kesulitan mencari tempat mengerjakan tugas, atau sekedar membaca buku. Kami rajin membawa buku bacaan ke kampus ketika ada jam kosong yang panjang. untuk melakukan kedua hal tersebut selalu saja tempat makan dekat kampus yang menjadi lahan aktivitas kami walaupun ramai orang dan bising.
Kemudian aku dan Anis melakukan pelayaran lagi, ke dunia psikologi lainnya. kali ini aku tidak berdua saja dengan Anis. Tapi juga bersama dua teman ku lainnya, Mita dan Rina. kami mengendarai mobil untuk mencapai tempat tujuan karema kali ini tujuan pelayarannya agak lebih jauh, ke daerah Jatinangor. Memasuki kawasan kampus ini, hatiku ku begitu sejuk. Meskipun udaranya disana sangat panas. Aku melihat disini adalah tempat menuntut ilmu yang sesungguhnya. tidak seperti pelayaranku yang sebelumnya, kali ini perpustakaannya perfakultas. Menginjakkan kaki pada dunia psikologi disini membuatku melihat gambaran menuntut ilmu yang sesungguhnya. Begitu tenang. Aura “mahasiswa” begitu kuat disini. Aku lihat ada beberapa mahasiswa yang sedang makan, ada juga yang sedang mengerjakan tugas, ada juga yang sedang shalat di masjid kecil namun begitu besar untuk mahasiswa yang mendirikan shalat disana. Akupun menyempatkan diri untuk shalar zuhur dan ashar disana.
Tujuan kami, tidak hanya melakukan kunjungan belaka sebetulnya. Sama seperti pelayaranku dengan Anis sebelumnya, yaitu ke perpustakaan. Memasuki perpustakaan ini aura “psikologi” begitu kuat. Mungkin karena ruangan yang tidak terlalu luas namun padat dengan jajaran buku-buku psikologinya. Di dalam sana ada beberapa mahasiswa yang keliatannya sudah tingkat akhir, karena sibuk dengan laptop, skripsi yang dipinjam, dan beberapa tumpukan buku yang diambil dari rak buku. Mereka seperti sudah lama berada disana semenjak perpustakaan ini buka sehabis shalat Jumat.
Kami berempat langsung melihat buku-buku yang ada disana. Masing-masing langsung ke jajaran buku yang merupakan bidang yang diminati. Seperti biasanya, “huuiihh forensiknya lebih lengkap nih”, kataku sambil melihat-lihat jajaran buku. “tuh gifted child sa, kesukaan lu juga”, kata Anis kepadaku sambil menunjuk ke arah bukunya. Nampaknya Anis sudah hafal apa yang menjadi kesukaanku. Tapi kali ini aku tidak ingin menyentuh forensik. Setahuku, di kampus  ini analisis eksistensialnya masih “hidup” tidak seperti di kampus ku yang bahkan sudah dipunahkan. Tapi rasa ingin tahuku kepada analisis eksistensial tidak ikut punah. Maka aku pergi ke jajaran buku Filsafat. Beberapa buku aku ambil, mondar-mandir tidak ada buku yang “menggunggah”ku. Sementara teman-temanku tenang dengan buku-buku perkembangan dan Anis dengan buku “marriage” nya.
“nis, gue pengen liat skripsi aja deh kayanya, mumpung udah sampe sini. Tapi boleh ngga sih, yang jaga mana lagi. Itu tempat tertutup banget yang skripsi”, kataku kepada Anis. “yauda sok aja, coba tanya kang Imam gih diakan uda sering kesini bukannya?”. Ah iya juga ya, dalam hatiku. Aku langsung saja SMS dia.
Bang, itu di perpus “kawasan Jatinangor” boleh liat skripsi ngga sih. Nyelonong aja gitu?
Tidak lama, kang Imam membalas SMS ku.
Iya, sa nyelonong aja. Haha. Tapi kalo skripsi kamu liat daftar judul terus pilih ntar diambilin kok. Ngga boleh ambil sendiri soalnya. terus jangan lupa isi daftar nama peminjam ya.
            Setelah membaca balasan SMS itu aku mendekati ruang skripsi, aku ambil daftar judul skripsi. Aku pilih yang lulus tahun 2009. Aku bukan melihat judul tapi malah nama pembimbing. Hanya ada dua pembimbing yang aku incar, kang Eppy dan Zainal Abidin. Nampaknya magnet terhadap analisis eksistensial disini begitu kuat bagiku. ibu penjaga perpus menghampiri dan bertanya dengan ramah, “hayooo mau pinjem skripsi apa?” . lalu aku dengan tidak sungkan memberitahu si ibu, “yang ini bu” kataku sambil menunjuk judulnya. Hanya sepersekian detik Ibu itu melihat Judul seperti sudah hafal dan hanya sepersekian detik juga Ibu itu keluar lagi dari ruang skripsi mengambilkan skripsi untukku. Nampakanya Ibu ini sudah sangat hafal dengan tata letak dan urutan skripsinya. Dalam sekejap skrispi itu sudah ada dihadapanku.
            Aku membawanya ke meja tempat kami membaca. “sa, apaan tuh?”, tanya Rina, salah satu temanku dengan heran. “ya skripsi lah, aneks niiihhh!!!” kata ku dengan muka sombong. “hah, kaya apa sih sa?”. “ya gitulah, filsafat gitu deh” jawabku dengan singkat karena malas menjelaskan lantaran sudah tidak sabar meihat isi skripsinya. Situasi hening sejenak, sibuk dengan bacaan masing-masing. Aku baru membaca bab satu saja tidak berasa kalau itu skripsi dan bukan buku bacaan. “nis, mungkin ngga ya gue penelitiannya ini? Sementara kita ga dapet aneks dan di kampus kita uda punah”, tanyaku kepada Anis. “mungkin aja sih, asal lu suka sebetulnya. Bukannya mending gitu ya. penelitian tu yang emang kita pengen tau”, jawab Anis. “tapi coba lu liat deh, ini kualitatif. Mainannya wawancara”, tandasku. “kualitatif kaya apa sih sa?” tanya Rina yang mendengar pembicaraanku dengan Anis. “yaaa, macem-macem sih. Itu lohh yang dulu metpen 2, fenomenologi, studi kasus. Tapi ya lebih mendalam ini mah namanya juga kualitatif”, jawabku dengan asal karena sedikit malas membahas ini. Aku tidak memahami kampusku memberikan mata kuliah metodologi penelitian kualitatif tapi menghapuskan analisis eksistensial.
            “gue juga sebenarnya tertarik saa, sama marriage yang kaya gini ini”, kata Anis sambil menunjuk buku yang sedang dibacanya. “terus?”, tanyaku singkat. “yaaa gue mikirin respondennya lah, keluarga, pasangan, sungkan gue”. “iyaaa siiihhh”, kata ku menyetujui. Aku tau Anis sempat tertarik dengan pendidikan, “sebetulnya pendidikan “mungkin” responden lebih mudah karena populasi dan sampelnya kan kebayang. Tapi satu hal, bisa jadi ngga valid lantaran anak sekolah ngisi angket suka ngasal”. “duh iya ya”, Anis tersadar. “ya berarti tipenya questionaire nya kita yang isi” kata Anis menimpali.
            Hening sejenak.. lalu Rina lagi-lagi memecah keheningan, “kalian mau ambil Metpen KKPP apa?” aku sendiri tidak tahu, bahkan belum bisa menjawab pertanyaan Rina. tapi di mataku.analisis eksistensial selalu menjadi seni dalam memahami manusia. Hidup tidak hanya untuk memahami aku, duniaku, dan pengahayatanku. Tapi juga memahami dunia dan penghayatan orang lain. Ku pegang erat skripsi itu, menatapnya, dan menghela nafas..


Aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 29 Juni 2012
Irsa Ikramina

No comments:

Post a Comment