“nak,
kamu sebetulnya cerdas. Tapi cobalah ikut organisasi. Sukses itukan ngga cukup Cuma
cerdas aja kan?”
Hari
ini, aku masih UAS, dan seperti biasa aku adalah peserta ujian terakhir yang
keluar kelas. Aku memang lama dalam mengerjakan soal, selain karena memang aku
hati-hati, bagiku skor satu nomor saja begitu berharga. Hari ini yang mengawas
adalah salah satu dosen yang aku segani dan aku kagumi. Entahlah, semua
dosenkan memang cerdas, tapi selalu ada daya tarik tersendiri untukku dari
dosen-dosen tertentu. Ya, salah satunya ibu dosen yang satu ini. Pembawaannya tegas
dan disegani anak-anak mahasiswanya karena memang memiliki expert power. Ia juga selalu menuntut mahasiswanya berpikir lebih
tinggi. Itu yang aku suka, “membesarkan” mahasiswa, tidak semua dosen
melakukannya.
Ketika
hanya tinggal aku yang dikelas, aku
beranjak dan mengumpulkan lembar jawab ke meja dosen. Lalu ibu dosen itu
bertanya,
Ibu dosen :
“kamu kegiatannya apalagi nak? Selain kuliah.”
Irsa : “ngga ada bu, di rumah aja. Paling
juga mengajar. Tapi itu juga Cuma seminggu sekali sih” jawabku sambil tersenyum
Ibu dosen :
“oh, mengajar apa nak?”
Irsa : “bahasa inggris bu. Privat. Nagajarin temen sih”
Ibu dosen :”ohhh.
Ngajar temen. kalo kata saya cobalah ikut berorganisasi. nak, kamu sebetulnya
cerdas. Tapi cobalah ikut organisasi. Sukses itukan ngga cukup Cuma cerdas aja
kan?”
Irsa : “iya bu, makasih” kataku sambil
tersenyum dan menganggukan kepala.
Aku diam sejenak sambil tersenyum. The insider-outsider difference kah? Bahwasannya,
aku tahu organisasi itu juga perlu. Tapi aku lebih tau tentang diriku sendiri,
sebab mengapa aku tidak terlibat dalam organisasi. Tapi kemudian aku lebih
mengganggap, ibu dosen ini care dengan
memberi inputan seperti itu. Maka aku terima dengan positif saja. Aku tersenyum
lagi dan mengatakan terimakasihku.
Lalu ketika aku akan pergi dari kelas, ibu
memanggilku lagi
Ibu dosen :”eh,
saraya. Boleh ibu minta nomer kamu?”
Irsa :”boleh bu”, jawabku singkat
Dia mencatat nomer ku di buku agendanya. Lalu aku
pamit dan keluar kelas. Dalam benak, aku bertanya, “ngapain ya si ibu minta
nomer gue? Buset. Berasa penting nih gue.”
Pada saat keluar
kelas, aku bertemu beberapa teman yang nampak cemas. Beberapa diantaranya
bilang, “ih itu apa ngga di bold aja sih petunjuknya kalo emang harus
pilih lebih dari satu jawaban. kenapa juga ngga pake yang 1,2,3 benar A gitu-gitu”,
ungkapnya dengan kesal.
Inalillah
! aku
juga menjawab hanya satu jawaban. “bodoh!”, aku mencerca diriku sendiri dalam
hati. Seniorku memang pernah mengingatkan, “Hati-hati sama dosen yang satu itu,
kalau buat soal suka menjebak. Baca petunjuknya baik-baik”. aku melihat ke
sekumpulan teman yang lain ada juga yang sangat-sangat cemas, dan mengatakan, “ah..
aku Cuma pilih satu..”
Pada saat itupun
aku cukup soak. tapi aku berusaha
menenangkan diriku. Aku tidak mengatakan kepada siapapun aku terkena jebakan
itu juga. Kebetulan, aku tidak membawa motor seperti biasanya. Mama yang mengantar
jemputku hari ini. Sambil menunggu mama, aku sambil berbicara pada diriku
sendiri.
“ada-ada saja rencana Allah untuk membawaku SP. Aku
rajin berdoa belakangan ini, agar ada atau tidaknya yang harus SP aku serahkan
saja pada pengaturanNya. Karena aku punya beberapa rencana besar untuk liburan
kali ini. Dengan catatan, aku tidak SP. Selain itu, aku berusaha agar
penghasilan ku dari mengajar tidak habis hanya untuk SP. Tapi bisa membeli
buku-buku yang aku pikir bisa mendukung untuk metpen dan KKPP semester depan. Namun,
aku dibuat tidak menyadari jebakan petunjuk soal itu. Yasudahlah, SP nya aku
bayar pakai sedekah saja. Mudah-mudahan Insya Allah dilancarkan urusan akademik
ini”
Bayar
pakai sedekah? Sedekah itu punya 4 mata pisau, yaitu mengundang datangnya
rezeki, menolak bala, menyembuhkan penyakit dan memanjangkan umur. Aku
menyadari bahwa aku kurang bersedekah, seringkali dari penghasilan ku mengajar
tidak besar aku sisihkan untuk anak yatim. Mungkin, dengan kejadian pada saat
ujian hari ini, Allah ingin mengingatkatkan ku pada sedekah, sedekah itu
menolak bala. Karena, kalau dirunut aku sudah berdoa sebelum ujian, biasanya
aku juga mendirikan salat duha sebelum ujian. Tapi karena hari ini sedang “halangan”
jadi aku hanya mengandalkan doa dan keyakinan. Dengan adanya hal ini, aku
berusaha tidak berprasangka buruk kepada Allah. Aku pikir, buat apa
berprasangka buruk? Seperti tidak mengenal Allah saja. Sudah 20 tahun hidup
tapi kalau belum mengenal Allah lebih dalam percuma saja. Aku yakin, akan ada
hikmah yang nanti akan terkuak dalam skenario ini.
Satu hal yang
membuat ku tetap yakin kepada-Nya adalah karena aku sudah meluruskan niat untuk
menyempurnakan amanah, menyempurnakan ikhtiar.
Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya yang
tertanam di dalam hati itu adalah keyakinan”
Ya, di akhir semester ini aku
berusaha mencari meaning of life apa
yang membuat perjalanan tahun terakhir berkuliah ini akan membuat lebih
bermakna. kata Viktor E. Frankl, kalau aku tidak salah mengartikan dari
bukunya. makna hidup itu berbeda-beda setiap orang dan juga berbeda-beda setiap
waktu. Itu berarti, setiap episode kehidupan akan memiliki makna yang berbeda. Oleh karena itu
aku berusaha menemukan “makna” untuk masa satu tahun terakhir ku berkuliah.
Aku mencoba merunut ke belakang,
ketika aku baru menapaki kota Bandung, ketika hijrah pertama dalam hidupku aku
lakukan, untuk menemukan makna, dan untuk menemukan Allah dalam ketersesatanku
(baca aku dan hijrah). aku juga mengingat masa aku ditakdirkan untuk menempuh
pendidikan di psikologi.
Waktu itu aku
berpikir bahwa, aku tidak punya alasan untuk “mengggebu” dalam menuntut ilmu di
psikologi ini. Aku tidak minat. Tapi aku masih punya alasan untuk bertanggung
jawab dalam menjalankan amanah ini, sebagai tanda rasa syukur ku pada-Nya
Sudut
pandang yang sederhana untuk menyikapi suatu babak kehidupan, tapi energinya
luar biasa dan aku juga dihujani berkah dan rahmat-Nya. Kemudahan demi
kemudahan atas izin-Nya selalu menyertai langkahku. Speechless rasanya untuk menceritakan ini, tapi let me tell you reader , merupakan kebesaran Allah aku bisa
sampai di titik perjalanan yang sekarang ini dengan sudah dua tahun
berturut-turut memboyong jatah mendapat beasiswa dengan jalur prestasi ! subhanallah..
Rasulullah saw. bersabda, "jika engkau beramal untuk dunia maka engkau akan mendapatkan dunia, tetapi jika engkau beramak untuk akhirat maka engkau akan mendapatkan akhirat dan juga dunia"
maka, aku tidak punya
alasan lagi selain untuk menyempurnakan amanah sebagai mahasiswa
psikologi dalam setahun terakhir berkuliah ini. Mengenai hasil akhir? Biarlah
Allah yang mengatur, aku percayakan pada-Nya. Dalam perjalanan untuk
menyempurnakan amanah ini, tidak cukup hanya belajar dengan rajin dan cerdas saja.
Tapi juga harus ada perbaikan dalam sisi aqidah dan ibadah. aqidah, aku
berusaha lebih yakin lagi, haqqul yaqin dengan janji-janji dan pertolongan
Allah. Intensitas dan kualitas ibadah juga aku perbaiki, salat sunnah mulai aku
terbarkan di sela-sela kesibukan yang ada. Tidak tetinggal juga, seperti apa
yang sudah diingatkan hari ini oleh Allah, sedekah..
Bagaimana engkau
menginginkan sesuatu yang luar biasa padahal engkau sendiri tak mengubah dirimu
dari kebiasaan mu? Kita banyak meminta, banyak berharap kepada Allah. Tapi sibuknya
meminta meminta kadang membuat kita tak sempat menilai diri sendiri. Padahal kalau
kita meminta, akan berakibat kita mengubah diri, dan Allah akan memberi apa
yang kita minta..
-Ibnu Ath-Tha’ilah-
Rasulullah saw. bersabda, "sesungguhnya amal itu ditinjau dari niatnya, dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan apa yang ia niatkan"
Rasulullah saw. bersabda, "sesungguhnya amal itu ditinjau dari niatnya, dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan apa yang ia niatkan"
Terlalu dalam aku
menyelami dunia internalku, sampai tidak menyadari kalau aku sedang
menunggu dijemput mama. kemudian tidak lama, mobil mama sudah terlihat dari
kejauhan. Di mobil, aku bercerita kepada mama mengenai kejadian dalam ujian
hari ini dan pembicaraan aku dengan ibu dosen. Nampaknya mama lebih tertarik
menanggapi cerita aku dengan ibu dosen.
Mama :”ya memang sayang kalau cerdas tapi cuma kuliah
aja dan ngga di aktualisasikan ke bidang lain”
Irsa :”iya siih”
Mama :”coba main ke kantornya kang Tauhid
gih, siapa tau ada kesempatan buat aktualisasi diri. Feeling mama, irsa ada “tempat”
untuk menulis..
Dari aku,
duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 7
Juni 2012
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment