aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Thursday, June 7, 2012

Aku dan Amanah


“nak, kamu sebetulnya cerdas. Tapi cobalah ikut organisasi. Sukses itukan ngga cukup Cuma cerdas aja kan?”

            Hari ini, aku masih UAS, dan seperti biasa aku adalah peserta ujian terakhir yang keluar kelas. Aku memang lama dalam mengerjakan soal, selain karena memang aku hati-hati, bagiku skor satu nomor saja begitu berharga. Hari ini yang mengawas adalah salah satu dosen yang aku segani dan aku kagumi. Entahlah, semua dosenkan memang cerdas, tapi selalu ada daya tarik tersendiri untukku dari dosen-dosen tertentu. Ya, salah satunya ibu dosen yang satu ini. Pembawaannya tegas dan disegani anak-anak mahasiswanya karena memang memiliki expert power. Ia juga selalu menuntut mahasiswanya berpikir lebih tinggi. Itu yang aku suka, “membesarkan” mahasiswa, tidak semua dosen melakukannya.
            Ketika  hanya tinggal aku yang dikelas, aku beranjak dan mengumpulkan lembar jawab ke meja dosen. Lalu ibu dosen itu bertanya,
Ibu dosen        : “kamu kegiatannya apalagi nak? Selain kuliah.”
Irsa                   : “ngga ada bu, di rumah aja. Paling juga mengajar. Tapi itu juga Cuma seminggu sekali sih” jawabku sambil tersenyum     
Ibu dosen        : “oh, mengajar apa nak?”
Irsa                   : “bahasa inggris  bu. Privat. Nagajarin temen sih”
Ibu dosen        :”ohhh. Ngajar temen. kalo kata saya cobalah ikut berorganisasi. nak, kamu sebetulnya cerdas. Tapi cobalah ikut organisasi. Sukses itukan ngga cukup Cuma cerdas aja kan?”
Irsa                   : “iya bu, makasih” kataku sambil tersenyum dan menganggukan kepala.
Aku diam sejenak sambil tersenyum. The insider-outsider difference kah? Bahwasannya, aku tahu organisasi itu juga perlu. Tapi aku lebih tau tentang diriku sendiri, sebab mengapa aku tidak terlibat dalam organisasi. Tapi kemudian aku lebih mengganggap, ibu dosen ini care dengan memberi inputan seperti itu. Maka aku terima dengan positif saja. Aku tersenyum lagi dan mengatakan terimakasihku.
Lalu ketika aku akan pergi dari kelas, ibu memanggilku lagi
Ibu dosen        :”eh, saraya. Boleh ibu minta nomer kamu?”
Irsa                   :”boleh bu”, jawabku singkat
Dia mencatat nomer ku di buku agendanya. Lalu aku pamit dan keluar kelas. Dalam benak, aku bertanya, “ngapain ya si ibu minta nomer gue? Buset. Berasa penting nih gue.”
Pada saat keluar kelas, aku bertemu beberapa teman yang nampak cemas. Beberapa diantaranya bilang, “ih itu apa ngga di bold aja sih petunjuknya kalo emang harus pilih lebih dari satu jawaban. kenapa juga ngga pake yang 1,2,3 benar A gitu-gitu”, ungkapnya dengan kesal.
Inalillah ! aku juga menjawab hanya satu jawaban. “bodoh!”, aku mencerca diriku sendiri dalam hati. Seniorku memang pernah mengingatkan, “Hati-hati sama dosen yang satu itu, kalau buat soal suka menjebak. Baca petunjuknya baik-baik”. aku melihat ke sekumpulan teman yang lain ada juga yang sangat-sangat cemas, dan mengatakan, “ah.. aku Cuma pilih satu..”
Pada saat itupun aku cukup soak. tapi aku berusaha menenangkan diriku. Aku tidak mengatakan kepada siapapun aku terkena jebakan itu juga. Kebetulan, aku tidak membawa motor seperti biasanya. Mama yang mengantar jemputku hari ini. Sambil menunggu mama, aku sambil berbicara pada diriku sendiri.
“ada-ada saja rencana Allah untuk membawaku SP. Aku rajin berdoa belakangan ini, agar ada atau tidaknya yang harus SP aku serahkan saja pada pengaturanNya. Karena aku punya beberapa rencana besar untuk liburan kali ini. Dengan catatan, aku tidak SP. Selain itu, aku berusaha agar penghasilan ku dari mengajar tidak habis hanya untuk SP. Tapi bisa membeli buku-buku yang aku pikir bisa mendukung untuk metpen dan KKPP semester depan. Namun, aku dibuat tidak menyadari jebakan petunjuk soal itu. Yasudahlah, SP nya aku bayar pakai sedekah saja. Mudah-mudahan Insya Allah dilancarkan urusan akademik ini”
            Bayar pakai sedekah? Sedekah itu punya 4 mata pisau, yaitu mengundang datangnya rezeki, menolak bala, menyembuhkan penyakit dan memanjangkan umur. Aku menyadari bahwa aku kurang bersedekah, seringkali dari penghasilan ku mengajar tidak besar aku sisihkan untuk anak yatim. Mungkin, dengan kejadian pada saat ujian hari ini, Allah ingin mengingatkatkan ku pada sedekah, sedekah itu menolak bala. Karena, kalau dirunut aku sudah berdoa sebelum ujian, biasanya aku juga mendirikan salat duha sebelum ujian. Tapi karena hari ini sedang “halangan” jadi aku hanya mengandalkan doa dan keyakinan. Dengan adanya hal ini, aku berusaha tidak berprasangka buruk kepada Allah. Aku pikir, buat apa berprasangka buruk? Seperti tidak mengenal Allah saja. Sudah 20 tahun hidup tapi kalau belum mengenal Allah lebih dalam percuma saja. Aku yakin, akan ada hikmah yang nanti akan terkuak dalam skenario ini.

Satu hal yang membuat ku tetap yakin kepada-Nya adalah karena aku sudah meluruskan niat untuk menyempurnakan amanah, menyempurnakan ikhtiar.

Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya yang tertanam di dalam hati itu adalah keyakinan”
            Ya, di akhir semester ini aku berusaha mencari meaning of life apa yang membuat perjalanan tahun terakhir berkuliah ini akan membuat lebih bermakna. kata Viktor E. Frankl, kalau aku tidak salah mengartikan dari bukunya. makna hidup itu berbeda-beda setiap orang dan juga berbeda-beda setiap waktu. Itu berarti, setiap episode kehidupan akan  memiliki makna yang berbeda. Oleh karena itu aku berusaha menemukan “makna” untuk masa satu tahun terakhir ku berkuliah.
            Aku mencoba merunut ke belakang, ketika aku baru menapaki kota Bandung, ketika hijrah pertama dalam hidupku aku lakukan, untuk menemukan makna, dan untuk menemukan Allah dalam ketersesatanku (baca aku dan hijrah). aku juga mengingat masa aku ditakdirkan untuk menempuh pendidikan di psikologi.
Waktu itu aku berpikir bahwa, aku tidak punya alasan untuk “mengggebu” dalam menuntut ilmu di psikologi ini. Aku tidak minat. Tapi aku masih punya alasan untuk bertanggung jawab dalam menjalankan amanah ini, sebagai tanda rasa syukur ku pada-Nya 
            Sudut pandang yang sederhana untuk menyikapi suatu babak kehidupan, tapi energinya luar biasa dan aku juga dihujani berkah dan rahmat-Nya. Kemudahan demi kemudahan atas izin-Nya selalu menyertai langkahku. Speechless rasanya untuk menceritakan ini, tapi let me tell you reader , merupakan kebesaran Allah aku bisa sampai di titik perjalanan yang sekarang ini dengan sudah dua tahun berturut-turut memboyong jatah mendapat beasiswa dengan jalur prestasi ! subhanallah..  

Rasulullah saw. bersabda, "jika engkau beramal untuk dunia maka engkau akan mendapatkan dunia, tetapi jika engkau beramak untuk akhirat maka engkau akan mendapatkan akhirat dan juga dunia"
 
maka, aku tidak punya alasan lagi selain untuk menyempurnakan amanah sebagai mahasiswa psikologi dalam setahun terakhir berkuliah ini. Mengenai hasil akhir? Biarlah Allah yang mengatur, aku percayakan pada-Nya. Dalam perjalanan untuk menyempurnakan amanah ini, tidak cukup hanya belajar dengan rajin dan cerdas saja. Tapi juga harus ada perbaikan dalam sisi aqidah dan ibadah. aqidah, aku berusaha lebih yakin lagi, haqqul yaqin dengan janji-janji dan pertolongan Allah. Intensitas dan kualitas ibadah juga aku perbaiki, salat sunnah mulai aku terbarkan di sela-sela kesibukan yang ada. Tidak tetinggal juga, seperti apa yang sudah diingatkan hari ini oleh Allah, sedekah..
Bagaimana engkau menginginkan sesuatu yang luar biasa padahal engkau sendiri tak mengubah dirimu dari kebiasaan mu? Kita banyak meminta, banyak berharap kepada Allah. Tapi sibuknya meminta meminta kadang membuat kita tak sempat menilai diri sendiri. Padahal kalau kita meminta, akan berakibat kita mengubah diri, dan Allah akan memberi apa yang kita minta..
-Ibnu Ath-Tha’ilah-

Rasulullah saw. bersabda, "sesungguhnya amal itu ditinjau dari niatnya, dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan apa yang ia niatkan"
           
            Terlalu dalam aku menyelami dunia internalku, sampai tidak menyadari kalau aku sedang menunggu dijemput mama. kemudian tidak lama, mobil mama sudah terlihat dari kejauhan. Di mobil, aku bercerita kepada mama mengenai kejadian dalam ujian hari ini dan pembicaraan aku dengan ibu dosen. Nampaknya mama lebih tertarik menanggapi cerita aku dengan ibu dosen.
Mama              :”ya memang  sayang kalau cerdas tapi cuma kuliah aja dan ngga di aktualisasikan ke bidang lain”
Irsa                   :”iya siih”
Mama              :”coba main ke kantornya kang Tauhid gih, siapa tau ada kesempatan buat aktualisasi diri. Feeling mama, irsa ada “tempat” untuk menulis..

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 7 Juni 2012
Irsa Ikramina

No comments:

Post a Comment