aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Friday, June 29, 2012

Aku dan pintu baru bagi duniaku dan penghayatanku


kamu kenapa irsa!!!?? Kamu kenapa !!??? kamu kenapa !!??  saya kecewa sama kamu?!!! Akh..!! gimana kamu mau jadi psikolog kriminal kalo apa kata OP kamu percaya aja!! Saya kecewa sama kamu!!”.

            Berbaring diatas tempat tidur, berselimut, sambil membaca sebuah novel. Akh akhirnya aku menyerah, mataku pedih. Aku sudahi dulu membaca novelnya. Entah kenapa aku selalu tenggelam didalam kisah yang dituliskan Iwan Setyawan. Novel yang berjudul “Ibuk” itu baru aku beli siang tadi dan aku berniat ingin baca sekali habis. Tapi kondisi mata tidak memungkinkan. Aku menutup novel itu, bangun dan menatap ke sekeliling kamarku. Kamar ini tidak jauh berbeda pada saat tidak libur kuliah. Beberapa buku tergeletak di pinggir tempat tidurku. Ada novel, buku “tombo ati”, dan bahkan kamus pocket oxford dan text book yang aku photocopy dari dosenku. Aku tidur bersama mereka dan aku bangun dengan mereka. Ada sajadah terbentang yang diatasnya ada lipatan mukena yang kulipat asal saja serta alquran di sudut sajadah. Meja belajar tidak pernah sesuai fungsi, selalu saja dipenuhi barang-barang entah jam tangan, radio, DVD, atau map-map yang berisi kertas penting. Tumpukan buku psikologi selalu terlihat “penuh” tepat di samping tempat tidur. Ada tumpukan laporan di sudut kamar, di belakang pintu.
Kondisi kamar memang tidak berbeda, tapi rutinitasnya yang berbeda ya itu karena UAS telah selesai. Itu berarti semester 6 juga sudah berakhir. Aku ingat dua minggu yang lalu masih bangun dengan sangat pagi, sekedar untuk bisa menyempatkan diri membaca materi ujian.  Aku juga masih sangat ingat di hari terakhir ujian bagaimana aku mengisi jawaban essay. Aku menjawab dengan tidak “selayaknya” karena energi ku sudah habis terutama karena kejadian di hari sebelumnya. “aku ceritakan saja sambil menulis, sudah lama aku tidak menulis”, dalam hatiku. Kemudian aku ambil laptop ke atas tempat tidurku..
Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pramoedya Ananta Toer
            Hari sebelum aku mengisi ujian “dengan tidak layak”, aku dan kelompok praktikum observasi interview melakukan feedback. Aku tidak bisa menebak perasaan dan pikiran mereka satu per satu, namun aku bisa membaca dari wajah teman-teman ku kalau ada satu keinginan yang sama yaitu, “cepatlah segera berakhir”. ya mungkin karena kami sempat tidak jadi feedback dan jadwal UAS yang “recet” membuat kami ingin dengan segera menyelesaikan semua kegiatan di penghujung semester ini. 
            Aku menyadari bahwa seperti biasanya pasti ada kesalahan dalam pengambilan data dan penulisan laporan. Wajarkah? Entahlahya batasan wajar menjadi begitu subjektif. Aku pikir ini menjadi wajar ketika memaklumi bahwa semua skill yang diajarkan dalam praktikum akan berkembang sesuai dengan jumlah jam terbang. Namun, bagi beberapa pembimbing, terutama yang memang dosen senior. Justru ini menjadi kesalahan yang tidak dapat “dimaafkan”.
            Itu sebabnya feedback kali ini aku merasa takut, karena pembimbingnya kali ini dosen senior. Senior disini tidak hanya mengacu pada lamanya pengalaman mengajar, namun juga berkaitan dengan expert power. Aku melihat dosen yang satu ini sangat cerdas. Dimataku pemikiran-pemikirannya sangat original, terlihat juga dari bagaimana caranya menyampaikan materi sangat berbeda dengan dosen yang lainnya. terus terang ketika menghadapi dosen yang satu ini antara takut dan segan jadi tidak ada bedanya. Mengingat aku sering melakukan kesalahan ketika presentasi analisis kasus di kelas psikologi sosial. tapi tanpa aku sadari, lepas dari mata kuliah tersebut kepekaan terhadap realitas dengan teori sosial menjadi tinggi. Aku setuju bahwa keberhasilan dalam suatu mata kuliah bukan hanya mengacu pada hasil nilai A, B, C, namun juga bagaimana teori-teori yang diajarkan menjadi “bagian” dari mahasiswa dan mampu mengaplikasikannya pada realitas kehidupan sehari-hari. Sederhana, tapi apabila ini didukung dengan jam terbang yang tinggi aku pikir siapa yang tidak mau memperkerjakan seorang analyst atau consultant yang handal? Namun, terlepas dari itu semua, dliuar jam mengajar dan ketika memasuki mejanya di ruang dosen. Aku tau beliau adalah orang yang akan selalu dengan ringan meminjamkan buku-bukunya yang juga “original” kepada mahasiswa dan menjawab pertanyaan mahasiswa atau sekedar berdiskusi seputar pelajaran.
            Feedback hari itu berjalan “seperti biasanya”, seperti biasa disini berarti membahas seluruh kesalahan dan “dosa” yang telah mahasiswa perbuat dari laporan dan pengambilan datanya. Pada dasarnya ketika seorang pembimbing merupakan dosen senior dan memiliki expert power, tentu akan memiliki standard yang tinggi dalam menilai hasil kerja mahasiswa. Singkatnya, tidak akan banyak memaklumi.
            Satu per satu mahasiswa menunggu giliran untuk “mempertanggungjawabkan” apa yang telah dikerjakan. Aku tidak seperti salah satu teman sekelompok ku yang ketika ada kesalahan dengan segera mengatakan, “maaf kang”. Karena untukku, aku tidak mengerjakan laporan hanya untuk minta maaf. Itu sebabnya aku banyak diam dan hanya menghela nafas ketika ditanyai mengenai kesalahan. Hingga akhirnya tibalah giliranku. Kesalahanku adalah aku terlalu mengandalkan wawancara daripada observasi tapi tidak didukung dengan kemampuan wawancara yang memadai, dengan sedikit probing akibatnya aku seperti begitu saja mempercayai apa kata OP. Langsung saja dosen ini mengatakan padaku dengan nada tinggi, “kamu kenapa irsa!!!?? Kamu kenapa !!??? kamu kenapa !!?? saya kecewa sama kamu?!!! Akh..!! gimana kamu mau jadi psikolog kriminal kalo apa kata OP kamu percaya aja!! Saya kecewa sama kamu!!”. Seketika aura ketegangan menyeruak ke seluruh ruangan. aku hanya diam, terpaku, menundukkan kepala, sesekali aku melihat ke arah dosen itu. Setiap dosen itu bertanya, “kamu kenapa!!!??” dalam hati aku menjawab, “loh? Kenapa gimana? Biasanya juga begini kok. Ya ngga kenapa-napa. Kok jadi malah kaya intimate vs stranger difference gini. Artinya, secara past experience kan biasanya juga salah”
Aku menatap kedua wajah cemas temanku yang belum mendapat giliran. Ada ketakutan dan kecemasan di mata mereka. Aku hanya bisa diam tapi rasanya warna-warna akromatik meledak di dalam diriku. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Seusai feedback kami hanya terdiam menatap satu sama lain, hanya beberapa kata yang terungkap, helaan nafas mewakili ungkapan kelelahan kami. Sambil berjalan ke luar lab, aku berkata, “ yasudah, semoga lulus semua. Amin”
Aku akui menempuh pendidikan psikologi di kampus ini, yang menjadi berat bukan masalah persaingan. Dimana letak persaingan kalau iklimnya need of affiliation? Tapi yang memberatkan adalah tuntutan yang tinggi.
            Sesampai di rumah, kata-kata dosen itu masih terdengar jelas di kepalaku. Kondisi kehabisan energi psikis turut mendukung tidak maksimalnya dalam mempelajari materi ujian untuk besok. Keesokan harinya, entah apa yang aku isi di lembar jawaban. rasanya seperti setengah sadar. Bahkan disaat mengerjakan ujianpun kata-kata dosen itu masih seperti nyata. Padahal hari itu aku sedang berulang tahun, tapi kebahagiaan ku tidak “lepas”. Biasanya aku juga bertafakur mengenai perjalanan hidup yang aku tempuh, tapi aku sedang tidak memiliki energi psikis untuk melakukannya hari itu. Aku biarkan saja hari itu terlalui..
            Meski aku masih bertanya-tanya dalam hati dan pikiranku, kenapa kata dosen ini masih begitu nyata dalam duniaku?  Kenapa kata-katanya begitu mempengaruhiku sedalam ini? Apa mungkin karena secara social impact ada strength dimana dosen tersebut memiliki status tinggi dan expert power. Selain itu ada satu hal yang mengganjal, kenapa hanya kepada aku saja dosen ini mengatakan kekecewaannya. Sehingga dalam hal ini menyinggung juga immediacy, ada sesuatu yang ia sampaikan kepadaku secara personal.
            lusa harinya, aku dan mama pergi berlibur ke pangandaran. Sudah lama direncanakan, hampir gagal tapi aku bersikeras. Kenapa? Aku ingin merasa lebih dekat dengan Allah melalui alam ciptaan-Nya. Kami tiba disana malam hari, setibanya disana aku sedikit melupakan kejadian yang memberatkan psikis ku beberapa hari ke belakang. baru keesokan paginya aku akan ke pantai. Kebetulan, jarak pantai dan hotelnya hanya 50 meter. Aku sudah tidak sabar!!
            Keesokan paginya aku pergi ke pantai.  Aku lihat dari kejauhan warna biru yang begitu menyejukkan, hamparan air yang begitu luas seperti tiada batas melambangkan kebesaran pencipta-Nya. Bersama suara gemuruh ombak kecil aku mempercepat langkahku untuk mendekatinya. Kakiku menyentuh pasir yang begitu lembut. Aku lepas sandal yang ku kenakan, dan aku biarkan air laut menyentuh kakiku. Begitu dingin, begitu sejuk, memadamkan kegundahan hati ini. Aku biarkan angin laut menerpa wajahku. Aku menatap langit biru. Sinar matahari membuatku sulit membuka mataku, namun di tengah silaunya matahari aku melihat ada layang-layangan yang bergerak “bebas”. Seperti aku yang “bebas” bersama duniaku dan penghayatanku.
            Aku terpaku di tepian pantai menatap laut lepas. Aku ingin seperti laut yang begitu “lepas”. Aku ingin melepaskan segala beban yang memberatkan langkahku. Luasnya lautan menembus hatiku, meluaskan hati yang begitu sempit. Aku ucapkan Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar. Aku tidak ragu sedikitpun akan kekuasaan dan kebesaran-Nya dan ini hanya sebagian kecil dari keindahan-Nya. 

            Hari itu aku yang pergi bersama mama tidak lama menghabiskan waktu di pantai, setelah mengambil beberapa foto. Kami kembali ke hotel, karena matahari sudah mulai sangat menyengat. Ah, aku ingin ke pantai lagi ! niatku dalam hati ketika menghabiskan waktu di hotel.
            Besoknya aku ke pantai lagi, hanya aku, kamera, dan laut lepas. Lagi-lagi aku terpaku menatap ke lautan. Aku merasa ini seperti sebuah meditasi alam yang membentuk ulang kepingan-kepingan self concept yang sempat hancur. Existential vacuum dan depresi yang pernah aku alami cukup meluluh lantakan self concept yang kupunya. Aku berusaha menyusunnya kembali, dan hari ini, di hadapan laut adalah saat menggabungkannya meskipun itu retak-retak. Di kepala ku terdengar kata-kata dari orang-orang terdekat, kini suara di kepalaku tidak hanya dari dosen itu. Sekarang ada banyak. Suara-suara itu silih berganti hadir di kepalaku..
Dari cara bicara kamu, dan melihat IPK kamu yang sekarang, Ibu yakin kamu bisa jadi psikolog nanti..
Sa, kamu belum menyadari. Sebenarnya kamu punya daya analisis yang cukup bagus. Cobalah jangan berdasarkan common senses aja, pake teori-teorinya.
Kamu bisa disalahpahami orang lain tetapi jangan salah memaknai keindahan dirimu sendiri
Nak, kamu sebetulnya cerdas..
Anggaplah kamu masuk psikologi karena menurut Tuhan kualitas kamu terlalu bagus untuk Fikom, maka Tuhan memilihkan psikologi untukmu. Dari dulu saya sudah pernah bilang kan bahwa kamu memiliki pemikiran yang berbeda
           
            Masih banyak suara-suara yang terdengar di kepalaku. Aku tetap berdiri, terpaku, melihat lautan. Namun dunia internalku berjalan begitu dalam dengan penghayatannya. Orang disekitar pantai seperti bingung melihatku. Mungkin mereka bertanya-tanya aku sedang apa. Beberapa meter dariku ada sekumpulan anak muda yang sedang bermain pasir, ada juga yang sedang bermain bola atau sekedar berenang di air. Untuk membuatku merasa “penuh” aku tidak perlu melakukan semua itu. Aku hanya butuh mengarungi lautan bersama duniaku dan penghayatanku. Tanpa disadari aku sudah cukup lama berdiri disitu, matahari mulai terasa menyengat di tanganku, aku berpindah tempat dari tempatku berdiri..

 Ku tuliskan jejak ku di pantai ini, meski aku tau itu akan hilang tersapu air pantai. Tapi pantai ini sudah menjadi bagian dari duniaku dan tidak akan pernah ku lupakan dalam penghayatanku.


Dengan berat hati aku tinggalkan pantai ini, dengan menoleh lagi sebelum aku benar-benar meninggalkannya.

            Jadi apa maksudnya dari semua ini? Perkataan dosen itu dan meditasi itu, mengingatkanku bahwa perjalananku masih sangat panjang namun tidak banyak waktunya. Aku seharusnya bisa berbuat lebih dari saat ini. Maka selama ini aku sudah terlalu “santai”, terbawa arus perputaran kehidupan yang hanya sekedar reaktif namun tidak proaktif, bahwa masih ada virtue dan strength yang dapat diaktualisasikan, aku masih bisa belajar dan bekerja lebih dari ini. So what the hell is wrong with me? Psikologi sudah menjadi bagian dari duniaku, dari hidupku. Sama seperti misi dari psikologi sendiri. First, to cure mental illness. i have ever been depression and existential vacuum. Second, to find and nurture genius and talent. Third, to make normal life more fulfilling. Ofcourse the next step will follow those missions. At least, I do for my self first in order to “give” to people arround me.
I have lived through much and now I think I have found what is needed for happiness. A quiet, secluded life in the country with possibility of being useful to people
Tolstoy
            Aku sering meilhat pesawat terbang diatas langit dan bertanya dalam benak ini. Akan kemana pesawat itu membawa penumpangnya? Mungkin ke negara tetangga atau negara yang jaraknya puluhan jam. Kapan aku bisa sampai disana? Dari SMP aku selalu bermimpi untuk bisa study abroad. Aku ingin mengenal orang-orang diluar sana, belajar banyak hal, mersakan jadi pelajar yang dididik secara humanistik. Tapi kini aku sudah berada di penghujung perjalanan pendidikan. Tapi mimpi itu tidak hilang, tetap menyala. Bagiku belajar adalah nafas hidup. Tidak harus melalui jalur pendidikan formal. Mungkinkah ini adalah salah satu jalan yang harus ku tempuh untuk menguji sejauh aku bisa melalui keraguan dan ketakutanku? Haruskah aku berhijrah lagi untuk yang kedua kalinya dalam hidupku? Mungkin iya. Kita tidak akan pernah tahu sampai kita mencobanya. Sebab aku tidak berjalan bersama Freud yang selalu melihat masa lalu; aku tidak berjalan bersama Adler yang berjuang menjadi superior hanya karena inferioritas; tapi aku berjalan bersama Maslow untuk bergerak maju ke depan, mengaktualisasikan diri; aku berjalan bersama Seligment untuk mengembangkan diri, melakukan yang terbaik untuk kehidupan, untuk lebih bahagia, untuk lebih “penuh”; dan aku berjalan bersama Viktor E Frankl untuk memaknai setiap langkah dalam kehidupan.
By the way, i just wanna say that maybe i’m not a person who easily say “sorry” because i hate my self when make people dissapointed because of me. But i’d like to say “thank you”, sir. For making me realize, the place where i should go, the abilities that I have, and the way i should see this life journey from now.



Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 29 Juni 2012
Irsa Ikramina

No comments:

Post a Comment