“kamu kenapa irsa!!!?? Kamu kenapa !!??? kamu
kenapa !!?? saya kecewa sama kamu?!!! Akh..!! gimana kamu mau jadi psikolog
kriminal kalo apa kata OP kamu percaya aja!! Saya kecewa sama kamu!!”.
Berbaring
diatas tempat tidur, berselimut, sambil membaca sebuah novel. Akh akhirnya aku
menyerah, mataku pedih. Aku sudahi dulu membaca novelnya. Entah kenapa aku
selalu tenggelam didalam kisah yang dituliskan Iwan Setyawan. Novel yang
berjudul “Ibuk” itu baru aku beli siang tadi dan aku berniat ingin baca sekali
habis. Tapi kondisi mata tidak memungkinkan. Aku menutup novel itu, bangun dan
menatap ke sekeliling kamarku. Kamar ini tidak jauh berbeda pada saat tidak
libur kuliah. Beberapa buku tergeletak di pinggir tempat tidurku. Ada novel,
buku “tombo ati”, dan bahkan kamus pocket
oxford dan text book yang aku photocopy dari dosenku. Aku tidur
bersama mereka dan aku bangun dengan mereka. Ada sajadah terbentang yang
diatasnya ada lipatan mukena yang kulipat asal saja serta alquran di sudut
sajadah. Meja belajar tidak pernah sesuai fungsi, selalu saja dipenuhi
barang-barang entah jam tangan, radio, DVD, atau map-map yang berisi kertas
penting. Tumpukan buku psikologi selalu terlihat “penuh” tepat di samping
tempat tidur. Ada tumpukan laporan di sudut kamar, di belakang pintu.
Kondisi kamar
memang tidak berbeda, tapi rutinitasnya yang berbeda ya itu karena UAS telah
selesai. Itu berarti semester 6 juga sudah berakhir. Aku ingat dua minggu yang
lalu masih bangun dengan sangat pagi, sekedar untuk bisa menyempatkan diri
membaca materi ujian. Aku juga masih
sangat ingat di hari terakhir ujian bagaimana aku mengisi jawaban essay. Aku
menjawab dengan tidak “selayaknya” karena energi ku sudah habis terutama karena
kejadian di hari sebelumnya. “aku ceritakan saja sambil menulis, sudah lama aku
tidak menulis”, dalam hatiku. Kemudian aku ambil laptop ke atas tempat
tidurku..
Orang boleh pandai setinggi
langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan
dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pramoedya Ananta Toer
Hari
sebelum aku mengisi ujian “dengan tidak layak”, aku dan kelompok praktikum
observasi interview melakukan feedback.
Aku tidak bisa menebak perasaan dan pikiran mereka satu per satu, namun aku
bisa membaca dari wajah teman-teman ku kalau ada satu keinginan yang sama
yaitu, “cepatlah segera berakhir”. ya mungkin karena kami sempat tidak jadi feedback dan jadwal UAS yang “recet” membuat kami ingin dengan segera
menyelesaikan semua kegiatan di penghujung semester ini.
Aku
menyadari bahwa seperti biasanya pasti ada kesalahan dalam pengambilan data dan
penulisan laporan. Wajarkah? Entahlahya batasan wajar menjadi begitu subjektif.
Aku pikir ini menjadi wajar ketika memaklumi bahwa semua skill yang diajarkan dalam praktikum akan berkembang sesuai dengan
jumlah jam terbang. Namun, bagi beberapa pembimbing, terutama yang memang dosen
senior. Justru ini menjadi kesalahan yang tidak dapat “dimaafkan”.
Itu
sebabnya feedback kali ini aku merasa
takut, karena pembimbingnya kali ini dosen senior. Senior disini tidak hanya
mengacu pada lamanya pengalaman mengajar, namun juga berkaitan dengan expert power. Aku melihat dosen yang
satu ini sangat cerdas. Dimataku pemikiran-pemikirannya sangat original, terlihat juga dari bagaimana
caranya menyampaikan materi sangat berbeda dengan dosen yang lainnya. terus
terang ketika menghadapi dosen yang satu ini antara takut dan segan jadi tidak
ada bedanya. Mengingat aku sering melakukan kesalahan ketika presentasi
analisis kasus di kelas psikologi sosial. tapi tanpa aku sadari, lepas dari
mata kuliah tersebut kepekaan terhadap realitas dengan teori sosial menjadi
tinggi. Aku setuju bahwa keberhasilan dalam suatu mata kuliah bukan hanya
mengacu pada hasil nilai A, B, C, namun juga bagaimana teori-teori yang
diajarkan menjadi “bagian” dari mahasiswa dan mampu mengaplikasikannya pada
realitas kehidupan sehari-hari. Sederhana, tapi apabila ini didukung dengan jam
terbang yang tinggi aku pikir siapa yang tidak mau memperkerjakan seorang analyst atau consultant yang handal? Namun, terlepas dari itu semua, dliuar jam
mengajar dan ketika memasuki mejanya di ruang dosen. Aku tau beliau adalah
orang yang akan selalu dengan ringan meminjamkan buku-bukunya yang juga “original” kepada mahasiswa dan menjawab
pertanyaan mahasiswa atau sekedar berdiskusi seputar pelajaran.
Feedback hari itu berjalan “seperti
biasanya”, seperti biasa disini berarti membahas seluruh kesalahan dan “dosa”
yang telah mahasiswa perbuat dari laporan dan pengambilan datanya. Pada
dasarnya ketika seorang pembimbing merupakan dosen senior dan memiliki expert power, tentu akan memiliki standard yang tinggi dalam menilai hasil
kerja mahasiswa. Singkatnya, tidak akan banyak memaklumi.
Satu
per satu mahasiswa menunggu giliran untuk “mempertanggungjawabkan” apa yang
telah dikerjakan. Aku tidak seperti salah satu teman sekelompok ku yang ketika
ada kesalahan dengan segera mengatakan, “maaf kang”. Karena untukku, aku tidak
mengerjakan laporan hanya untuk minta maaf. Itu sebabnya aku banyak diam dan
hanya menghela nafas ketika ditanyai mengenai kesalahan. Hingga akhirnya
tibalah giliranku. Kesalahanku adalah aku terlalu mengandalkan wawancara
daripada observasi tapi tidak didukung dengan kemampuan wawancara yang memadai,
dengan sedikit probing akibatnya aku
seperti begitu saja mempercayai apa kata OP. Langsung saja dosen ini mengatakan
padaku dengan nada tinggi, “kamu kenapa irsa!!!?? Kamu kenapa !!??? kamu kenapa
!!?? saya kecewa sama kamu?!!! Akh..!! gimana kamu mau jadi psikolog kriminal
kalo apa kata OP kamu percaya aja!! Saya kecewa sama kamu!!”. Seketika aura
ketegangan menyeruak ke seluruh ruangan. aku hanya diam, terpaku, menundukkan
kepala, sesekali aku melihat ke arah dosen itu. Setiap dosen itu bertanya,
“kamu kenapa!!!??” dalam hati aku menjawab, “loh? Kenapa gimana? Biasanya juga
begini kok. Ya ngga kenapa-napa. Kok jadi malah kaya intimate vs stranger difference gini. Artinya, secara past experience kan biasanya juga salah”
Aku menatap kedua
wajah cemas temanku yang belum mendapat giliran. Ada ketakutan dan kecemasan di
mata mereka. Aku hanya bisa diam tapi rasanya warna-warna akromatik meledak di
dalam diriku. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Seusai feedback kami hanya terdiam menatap satu
sama lain, hanya beberapa kata yang terungkap, helaan nafas mewakili ungkapan
kelelahan kami. Sambil berjalan ke luar lab, aku berkata, “ yasudah, semoga
lulus semua. Amin”
Aku akui menempuh pendidikan
psikologi di kampus ini, yang menjadi berat bukan masalah persaingan. Dimana
letak persaingan kalau iklimnya need of affiliation? Tapi yang memberatkan
adalah tuntutan yang tinggi.
Sesampai
di rumah, kata-kata dosen itu masih terdengar jelas di kepalaku. Kondisi
kehabisan energi psikis turut mendukung tidak maksimalnya dalam mempelajari
materi ujian untuk besok. Keesokan harinya, entah apa yang aku isi di lembar
jawaban. rasanya seperti setengah sadar. Bahkan disaat mengerjakan ujianpun
kata-kata dosen itu masih seperti nyata. Padahal hari itu aku sedang berulang
tahun, tapi kebahagiaan ku tidak “lepas”. Biasanya aku juga bertafakur mengenai
perjalanan hidup yang aku tempuh, tapi aku sedang tidak memiliki energi psikis
untuk melakukannya hari itu. Aku biarkan saja hari itu terlalui..
Meski
aku masih bertanya-tanya dalam hati dan pikiranku, kenapa kata dosen ini masih
begitu nyata dalam duniaku? Kenapa
kata-katanya begitu mempengaruhiku sedalam ini? Apa mungkin karena secara social impact ada strength dimana dosen tersebut memiliki status tinggi dan expert power. Selain itu ada satu hal
yang mengganjal, kenapa hanya kepada aku saja dosen ini mengatakan
kekecewaannya. Sehingga dalam hal ini menyinggung juga immediacy, ada sesuatu yang ia sampaikan kepadaku secara personal.
lusa
harinya, aku dan mama pergi berlibur ke pangandaran. Sudah lama direncanakan,
hampir gagal tapi aku bersikeras. Kenapa? Aku ingin merasa lebih dekat dengan
Allah melalui alam ciptaan-Nya. Kami tiba disana malam hari, setibanya disana
aku sedikit melupakan kejadian yang memberatkan psikis ku beberapa hari ke
belakang. baru keesokan paginya aku akan ke pantai. Kebetulan, jarak pantai dan
hotelnya hanya 50 meter. Aku sudah tidak sabar!!
Keesokan
paginya aku pergi ke pantai. Aku lihat
dari kejauhan warna biru yang begitu menyejukkan, hamparan air yang begitu luas
seperti tiada batas melambangkan kebesaran pencipta-Nya. Bersama suara gemuruh
ombak kecil aku mempercepat langkahku untuk mendekatinya. Kakiku menyentuh
pasir yang begitu lembut. Aku lepas sandal yang ku kenakan, dan aku biarkan air
laut menyentuh kakiku. Begitu dingin, begitu sejuk, memadamkan kegundahan hati
ini. Aku biarkan angin laut menerpa wajahku. Aku menatap langit biru. Sinar
matahari membuatku sulit membuka mataku, namun di tengah silaunya matahari aku
melihat ada layang-layangan yang bergerak “bebas”. Seperti aku yang “bebas” bersama
duniaku dan penghayatanku.
Aku
terpaku di tepian pantai menatap laut lepas. Aku ingin seperti laut yang begitu
“lepas”. Aku ingin melepaskan segala beban yang memberatkan langkahku. Luasnya
lautan menembus hatiku, meluaskan hati yang begitu sempit. Aku ucapkan Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar. Aku
tidak ragu sedikitpun akan kekuasaan dan kebesaran-Nya dan ini hanya sebagian
kecil dari keindahan-Nya.
Hari
itu aku yang pergi bersama mama tidak lama menghabiskan waktu di pantai,
setelah mengambil beberapa foto. Kami kembali ke hotel, karena matahari sudah
mulai sangat menyengat. Ah, aku ingin ke pantai lagi ! niatku dalam hati ketika
menghabiskan waktu di hotel.
Besoknya
aku ke pantai lagi, hanya aku, kamera, dan laut lepas. Lagi-lagi aku terpaku
menatap ke lautan. Aku merasa ini seperti sebuah meditasi alam yang membentuk
ulang kepingan-kepingan self concept
yang sempat hancur. Existential vacuum
dan depresi yang pernah aku alami cukup meluluh lantakan self concept yang kupunya. Aku berusaha menyusunnya kembali, dan
hari ini, di hadapan laut adalah saat menggabungkannya meskipun itu
retak-retak. Di kepala ku terdengar kata-kata dari orang-orang terdekat, kini
suara di kepalaku tidak hanya dari dosen itu. Sekarang ada banyak. Suara-suara
itu silih berganti hadir di kepalaku..
Dari
cara bicara kamu, dan melihat IPK kamu yang sekarang, Ibu yakin kamu bisa jadi
psikolog nanti..
Sa,
kamu belum menyadari. Sebenarnya kamu punya daya analisis yang cukup bagus. Cobalah
jangan berdasarkan common senses aja, pake teori-teorinya.
Kamu
bisa disalahpahami orang lain tetapi jangan salah memaknai keindahan dirimu
sendiri
Nak,
kamu sebetulnya cerdas..
Anggaplah
kamu masuk psikologi karena menurut Tuhan kualitas kamu terlalu bagus untuk
Fikom, maka Tuhan memilihkan psikologi untukmu. Dari dulu saya sudah pernah
bilang kan bahwa kamu memiliki pemikiran yang berbeda
Masih
banyak suara-suara yang terdengar di kepalaku. Aku tetap berdiri, terpaku,
melihat lautan. Namun dunia internalku berjalan begitu dalam dengan penghayatannya.
Orang disekitar pantai seperti bingung melihatku. Mungkin mereka bertanya-tanya
aku sedang apa. Beberapa meter dariku ada sekumpulan anak muda yang sedang
bermain pasir, ada juga yang sedang bermain bola atau sekedar berenang di air. Untuk
membuatku merasa “penuh” aku tidak perlu melakukan semua itu. Aku hanya butuh
mengarungi lautan bersama duniaku dan penghayatanku. Tanpa disadari aku sudah
cukup lama berdiri disitu, matahari mulai terasa menyengat di tanganku, aku
berpindah tempat dari tempatku berdiri..
Ku tuliskan jejak ku di pantai ini, meski aku
tau itu akan hilang tersapu air pantai. Tapi pantai ini sudah menjadi bagian
dari duniaku dan tidak akan pernah ku lupakan dalam penghayatanku.
Dengan berat hati aku tinggalkan pantai ini,
dengan menoleh lagi sebelum aku benar-benar meninggalkannya.
Jadi
apa maksudnya dari semua ini? Perkataan dosen itu dan meditasi itu,
mengingatkanku bahwa perjalananku masih sangat panjang namun tidak banyak
waktunya. Aku seharusnya bisa berbuat lebih dari saat ini. Maka selama ini aku
sudah terlalu “santai”, terbawa arus perputaran kehidupan yang hanya sekedar
reaktif namun tidak proaktif, bahwa masih ada virtue dan strength yang dapat diaktualisasikan, aku masih bisa
belajar dan bekerja lebih dari ini. So what
the hell is wrong with me? Psikologi sudah menjadi bagian dari duniaku,
dari hidupku. Sama seperti misi dari psikologi sendiri. First, to cure mental illness. i have ever been depression and existential
vacuum. Second, to find and nurture genius and talent. Third, to make normal
life more fulfilling. Ofcourse the next step will follow those missions. At least,
I do for my self first in order to “give” to people arround me.
I have lived
through much and now I think I have found what is needed for happiness. A quiet,
secluded life in the country with possibility of being useful to people
Tolstoy
Aku
sering meilhat pesawat terbang diatas langit dan bertanya dalam benak ini. Akan
kemana pesawat itu membawa penumpangnya? Mungkin ke negara tetangga atau negara
yang jaraknya puluhan jam. Kapan aku bisa sampai disana? Dari SMP aku selalu
bermimpi untuk bisa study abroad. Aku
ingin mengenal orang-orang diluar sana, belajar banyak hal, mersakan jadi pelajar
yang dididik secara humanistik. Tapi kini aku sudah berada di penghujung
perjalanan pendidikan. Tapi mimpi itu tidak hilang, tetap menyala. Bagiku belajar
adalah nafas hidup. Tidak harus melalui jalur pendidikan formal. Mungkinkah ini
adalah salah satu jalan yang harus ku tempuh untuk menguji sejauh aku bisa
melalui keraguan dan ketakutanku? Haruskah aku berhijrah lagi untuk yang kedua
kalinya dalam hidupku? Mungkin iya. Kita tidak akan pernah tahu sampai kita
mencobanya. Sebab aku tidak berjalan bersama Freud yang selalu melihat masa
lalu; aku tidak berjalan bersama Adler yang berjuang menjadi superior hanya karena
inferioritas; tapi aku berjalan bersama Maslow untuk bergerak maju ke depan,
mengaktualisasikan diri; aku berjalan bersama Seligment untuk mengembangkan
diri, melakukan yang terbaik untuk kehidupan, untuk lebih bahagia, untuk lebih “penuh”;
dan aku berjalan bersama Viktor E Frankl untuk memaknai setiap langkah dalam
kehidupan.
By the way, i just
wanna say that maybe i’m not a person who easily say “sorry” because i hate my
self when make people dissapointed because of me. But i’d like to say “thank
you”, sir. For making me realize, the place where i should go, the abilities
that I have, and the way i should see this life journey from now.
Dari aku,
duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 29
Juni 2012
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment