Happy
birthday my deep thought friend. May God Almighty bless you with a
happy heart, love from everyone, wisdom, success in all you do, and
opened doors in life. God bless you.
Ucapan
selamat ulang tahun itu dituliskan seseorang pada wall
facebook ku ketika
berulang tahun Juni lalu. Aku tidak menyangka bahwa silaturrahim yang
terjalin antara aku dengannya tetap hidup hingga saat ini. Ucapan
selamat ulang tahun dan selamat natal atau lebaran diantara kami
tidak pernah putus. Selamat natal ? ya, kami memang berbeda agama dan
juga berbeda usia cukup jauh. pria ini pemeluk agama kristen
protestan, ber-suku bangsa tionghoa, dan usianya 10 tahun berada
diatas usiaku. Aku tidak melihat semua perbedaan itu, apa mungkin
karena kami punya banyak kesamaan ? mungkin juga. Akademik,
kehidupan, dan spiritualitas adalah ketiga topik yang selalu mewarnai
pembicaraan ku dengannya.
Sebut saja Barlian, yaitu pria tionghoa yang kini berprofesi sebagai dosen, dulu
merupakan guru bimbingan belajarku. Bimbingan belajarku dulu memang
begitu signifikan bagi kehidupanku, ya salah satunya aku menemukan
orang-orang yang sangat berpengaruh bagi kepribadian maupun
kehidupan. Pria ini baru mengajar ketika kelas SNMPTN dimulai. Itu
berarti, pertemuan awalku dengannya adalah yang paling singkat
dibanding guru yang lainnya karena aku mengenalnya sejak awal tahun
ajaran.
Tapi,
siapa sangka guru yang aku kenal paling terakhir di bimbingan belajar
itu akan menjadi significant
person yang
sangat berpengaruh dan tentu banyak menolong dalam perjalanan
kehidupanku hingga saat ini.
****
Dua
hari yang lalu, sekitar pukul 9 pagi. Motorku berhenti didepan sebuar
rumah yang pagarnya tertutup rapat. Tidak ada bel, maka pilihannya
mengetuk dengan gembok yang menggantung di pagar atau memberitahu
pada pemilik rumah melalui SMS bahwa aku sudah tiba di depan
rumahnya. Baru saja aku mengeluarkan handphone
dari tas, pria
tionghoa ini sudah membukakan pagarnya. Ya, aku berkunjung ke
rumahnya !
“ eh, baru aja mau sms !” kataku sambil tersenyum.
“ eh, baru aja mau sms !” kataku sambil tersenyum.
“mau
dimasukin ngga motornya?
“boleh
deh, asal cukup”, kataku sambil menyalakan mesin motor dan
memeperkirakan apakah cukup atau tidak masuk ke garasi yang terisi
oleh mobil dan motornya.
“apa
kabar nih?” katanya sambil tersenyum dan menjulurkan tangannya
untuk menjabat tanganku.
“yah,
begitulah !” jawabku yang kikuk untuk berjabat tangan dengannya
karena masih memegangi helm dan kunci motor
Keterbukaan
dan kesediaan untuk membantu. Aku pikir itu adalah dua hal yang
mempertemukan aku dengannya pada saat itu dan juga awal pertemuanku
dengannya 3 tahun yang lalu.
Di
kelas intensif SNMPTN aku duduk di pojokan kelas. kelas tidak terlalu
penuh pada saat itu. Mungkin masih awal program sehingga anak-anak
yang mengambil program setahun penuh masih malas untuk datang. Hanya
aku anak yang memang mengambil program setahun penuh di kelas itu.
Sisanya adalah wajah-waajah baru, mereka adalah anak-anak yang hanya
mengambil program SNMPTN, sehingga banyak pendatang yang datang dari
luar Bandung. Cukup lama aku menunggu, kemudian pria tionghoa ini
masuk kedalam kelas, mengajar pelajaran sejarah pada saat itu. Itu
adalah kali pertama aku melihatnya. Ada sesuatu yang berbeda dari
cara mengajarnya, tapi aku tidak tahu apa.
Guru
geografi malamnya mengirimkan SMS untukku menanyakan penilaian
terhadap guru yang masih baru itu. Aku sudah memahami hal ini, karena
setiap ada perekrutan guru baru maka yang menentukan adalah guru
senior. Ya, guru geografi itu yang dianggap senior untuk mata
pelajaran IPS.
“hmm,
gini pak. Sebetulnya saya juga bingung menjelaskannya. Ada sisi yang
menunjukkan bahwa jam terbang mengajarnya masih belum dapat dikatakan
senior. Tapi ada sisi menarik yang saya pikir dalam gaya
berkomunikasinya yang berbeda dari guru yang lainnya. tapi
menyenangkanlah. Saya pikir untuk bimbel ini guru itu sudah memiliki
kriteria yang dibutuhkan”, jelasku menjawab SMS dari guru geografi.
“hmm.
Ya, dia lulusan Fikom Unpad sa”, balas SMS dari guru geografi
dengan cepat.
Di
hari yang lainnya ketika ia mengajar lagi, seusai kelas aku
memberanikan diri menghampirinya.
“pak
bisa bantu saya ?”
“apa
yang bisa saya bantu?”
“saya
lagi nyusun tugas akhir untuk level akhir di tempat les bahasa
Inggris semacam paper gitu lah dan sebentar lagi saya harus
mempresentasikan, forum lah ya. saya pikir bapak bisa bantu saya
dalam hal ini, supaya presentasi saya lebih menarik. Saya tahu kalo
bapak lulusan komunikasi”
“ohh,
haha. Ya sebisa mungkin saya bantu. Mau kapan ?”
“sehabis
ini ada kelas lagi pak ? saya ada nih satu lagi”
“ngga
ada sih, tapi ngga papa. Biar saya tunggu di ruang guru”
“wah
seriusan pak ?! oke, nanti abis beres kelas saya kesana ya. makasi loh
pak !?”, kataku dengan girang
Setelah
kelas selesai, aku ragu apa benar-benar pria tionghoa ini ada di
ruang guru. Sambil melangkah ragu aku menghampiri ruang guru, dari
jendela sudah terlihat. Ah ada ! langsung saja aku menghampirinya.
“jadi
gimana apa yang bisa saya bantu ?” katanya dengan gesture
yang menunjukkan keterbukaan.
Aku
mengeluarkan paper dari
dalam tas dan menanyakan banyak hal mengenai presentasi, apa yang
akan ditanyakan penguji, dsb. Kami mengobrol cukup lama pada saat
itu, karena pembicaraan juga tidak hanya mengenai paper
ku. Pembicaraan
mengalir membicarakan niatku dan minatku pada Fikom Unpad,
membicarakan pelajaran sejarah yang merupakan kesukaannya,
membicarakan pengalaman mengajar dan kuliahnya. Sampai-sampai kami
tidak menyadari kalau bimbel sudah sepi, tidak ada murid dan juga
sudah tidak ada guru..
*****
“duduk
sa, silahkan silahkan”, katanya ketika aku memasuki rumahnya.
“puasa
ngga?”
“puasa
dooonng, jadikan ngga perlu repot-repot, heheh”, kataku dengan nada
mengejek.
“hahaha,
ya sudah siap untuk direpotkan juga kok”
“lagi
ngga ngajar nih kak?” kataku dengan sapaan “kak”, karena
setahun yang lalu ia memintaku untuk tidak memanggilnya “pak”
lagi. Ia pikir hubungan ini juga sudah menjadi persaudaraan dan bukan
sekedar guru dengan murid.
“ngga, libur kan. Yaa, paling sambil nyiapin bahan-bahan aja sih”
“ngga, libur kan. Yaa, paling sambil nyiapin bahan-bahan aja sih”
“jadi
gimana nih? Ada apa sa?” katanya dengan gesture
yang menunjukkan keterbukaan. Persis 3 tahun yang lalu.
Sambil
membuka pembicaraan, aku menceritakan mengenai perjalanan
pendidikanku selama semester-semester terakhir. Di tengah aku yang
sedang bercerita, keluar seorang wanita dari salah satu kamar
“haloo,
irsa ya ? Santi”, katanya dengan ramah dan sambil berjabat tangan
denganku.
“puasa
ngga?”
“iyaa
puasa” kataku sambil tersenyum
“dulu
irsa dateng kok ke kawinan kita San”, kata kak Barlian. Ya, setahun
yang lalu kak Barlian memang mengundang aku ke acara resepsi
pernikahannya.
“oh
iya ? duh lupa yaa. Gak inget karena banyak yang dateng”, kata kak Santi sambil mengingat-ngingat dan tertawa.
Sementara
kak Santi pergi ke belakang, aku dan kak Barlian melanjutkan
pembicaraan lagi.
“dulu
kak Barlian gimana bisa dapet ide penelitian skripsi ? sampe detik ini
saya ngga tau banget mau neliti apa” kataku dengan ekspresi wajah
frustasi dan mengacak rambut dengan kedua tanganku.
“heheh,
dulu sih gini sa. skripsi saya tentang manejemen konflik. Saya mikir
kalau seandainya jaman sekolah guru saya mengajar dengan komunikasi
yang baik. pasti anak-anak akan mudah memahami apa yang guru
sampaikan. Maka saya coba teliti dari hal itu”
“kualitatif
ya?” tebak aku
“iya,
saya tertarik dengan hal-hal yang hanya bisa diukur dengan
kualitatif”
“ya,
saya pikir juga gitu. Kalo idealnya emang kualitatif, terlalu banyak
yang digeneralisasikan dalam kuantitatif. Tapi saya masih ragu untuk
di psikologi mengambil kualitatif”
Lalu
kak Ariel memberikan perumpaannya mengenai fenomena yang ada di
kampusku mengenai spiritualitas.
“nah,
kepekaan-kepekaan itu yang belum saya punya. Awareness
terhadap fenomena atau hal dari sekitar yang dapat diangkat untuk
diteliti belum saya dapet”
“ya
tapi itukan kepekaan saya, kamu akan tersiksa kalau kamu pake
kepekaan saya. Kamu harus cari sendiri”
“hmmm,
sulit juga ya”
“atau
begini deh sa, untuk membantu kamu nih. Kalau kamu yakin Tuhan
membuat skenario hidup tidak ada yang kebetulan atau tidak sengaja,
bahwa semua hal yang telah kamu lalui ada maksudnya. Maka kamu bisa
ambil dari situ. Apa yang ingin kamu ketahui yang belum terjawab
kaitannya dengan kehidupan kamu, hanya saja ini kamu tuangkan secara
scientific.
Ya, bukan berarti ngga boleh mempelajari hal baru atau yang diluar
itu, tapi ini untuk membantu memudahkan aja sih sebenarnya”
Hening
sejenak, menyadari bahwa apa yang dikatakannya juga menggambarkan
pertemuanku dengannya. pertemuan pertama kali di bimbingan belajar
itu dan berteman hingga saat ini, aku berada di rumahnya,
dihadapannya, membicarakan sesuatu yang juga penting dalam hidupku ke
depannya, betul-betul sudah diatur Tuhan.
aku
mengiyakan pendapat kak Barlian sembari mencari-cari dalam hati dan
pikiranku. Apa yang begitu signifikan dan belum terjawab dalam
hidupku. Yang pertama terlintas dalam kepala ku adalah yan tempat
bimbingan belajar itu
“sebenarnya
sih kak, dulu saya pernah terbesit kalo mau neliti soal Daniel (Rumah
Belajar Daniel nama bimbingan belajarnya). Waktu jaman masih bimbel
disana ya kepikiran bahwa tempat bimbel ini beda, termasuk
pengajar-pengajarnya. Tapi saya belum bisa menjelaskan secara
objektif kenapa bisa begitu. Kalo dulu kak Barlian neliti apa di Daniel
?”
Tesis
kak Barlian memang mengenai bimbingan belajar itu juga.
“budaya
organisasi”, katanya sambil mengambil tesisnya di rak buku lalu ia
memberikannya padaku.
“ya
kira-kira begitulah sa mengenai penelitian kualitatif, kalau hanya
disuruh bab-bab awal saja kamu bisa liat contoh bab 1 tesis saya itu”
******
******
kak Barlian memberikan softcopy
tesisnya yang juga masih sampai bab 1 dan potongan-potongan data
wawancara dari flashdisk-nya.
Aku waktu itu kebingungan dengan tugas proposal penelitian mata
kuliah metodologi penelitian semester 2. Saat itu aku juga masih
rajin mampir ke bimbingan belajar tersebut karena kesibukan sebagai
mahasiswa tingkat awal tidak padat dan kadang aku sekedar ingin
ngobrol dengan
guru-guru disana, menanyakan pandangan atau pendapat.
“waah,
siip lah. Makasi ya pak. Kesekian kalinya nih bapak ngebantu saya”
“ah,
ya gapapa kan saling bantu. Oia tahun depan saya tidak mengajar
disini lagi sa. Tapi kalau kamu butuh bantuan apa-apa atau mau
nanya-nanya hubungi saya aja ya”
“loh
! kenapa pak ?” kataku dengan kaget
“ya
kan ngejar tesis aja. Kalau emang sudah cukup data dan selesai ya
sudah”
“loh,
jadi bapak ngajar disini Cuma kedok ?”
“haha,
kedok. Ya bisa dibilang begitu”
“partisipan
lah yaa”
Aku
yang dulu berpikir bahwa nampaknya akan sulit keep
in touch dengan guru
yang satu ini. Malah sekarang rumahnya satu kawasan sama-sama di
Arcamanik. Kak Barlian pindah ke Arcamanik setelah menikah. Bahkan
sekarang ini masih bisa dengan leluasa menyambung
silaturahim. Subhanallah !
****
“bawa
aja dulu sa, siapa tau nemu topik yang mau kamu sorot” kata kak Barlian setelah menunggu lama aku membuka-buka tesisnya.
“iya
deh, dibawa dulu ya. semoga dapet insight.
Bisa dibilang Headstart
nih saya, habis gimana
ya kak. Saya uda jalanin 3 tahun di psikologi tanpa passion.
jadi saya pikir, di
tingkat akhir ini saya ingin membayar semua itu. saya ngga mau lagi
ngerjain sesuatu macem formalitas dan menggugurkan kewajiban. Paling
tidak, walaupun sekedar penelitian, saya juga ingin ada keberkahan
dan manfaat di dalam proses dan hasilnya kan” kataku sambil
membereskan tas dan memakai jaket.
“iyaa,
iyaa streotipe orang idealis.” Katanya sambil tersenyum dan volume
suara yang mengecil
“hah,
emang saya idealis?!”
“ah,
dari dulu !”
“taunya??”
“ya
keliahatan saja pemikirannya suka berbeda. Hehe.” Katanya sambil
tertawa kecil dan tidak menatap wajahku. “ya terserah kamu sih,
kalo kamu mau lulus cepet, masalah waktu dan biaya juga jadi
pertimbangan secara pragmatis tentunya. Makanya tulis aja dulu
topik-topik yang menarik bagi kamu. Lebih bagus kamu pra-survey
dari sekarang sebelum
masuk kuliah.”
“kegesitan
ngga sih ?”
“ya
ngga lah, emang kamu lulus kuliah pa tunggu-tunggu sama temen-temen
kamu”
Aku
berpamitan dengan Kak Santi sementara kak Barlian membantuku
mengeluarkan motor.
“duh
uda namu, penghuni lagi yang ngeluarin motor” kataku merasa tidak
enak
“ah,
ngga papa, lagipula saya jarang dapet tamu. Nyampe rumah juga suka
malem”
“bentar
lagi jugakan pasti ada mahasiswa bimbingan kaak, hahah” kataku
mengejek
“ah,
saya belum dapet izin sebetulnya untuk membimbing, masih baru kan
saya. Yah setidaknya kamu yang pertama secara unofficial”
katanya sambil tertawa
****
Dijalan
pulang dari rumahnya, aku mengingat-ingat bantuan kak Barlian selama
ini sudah sangat banyak, banyak hal mengenai kehidupan yang jadi
dapat aku sikapi dengan bijak. Spiritualitas yang dimiliki dan
sebagai kristiani taat juga membuatku memandangnya seolah kak Barlian
sudah mencapai wisdom
di usia yang masih
muda.
Ketika
aku masih awam soal perkuliahan, kak Barlian memberikan gambaran
mengenai dunia perkuliahan. Ketika aku bingung mengenai tugas-tugas
perkuliahan yang aku hadapi, kak Barlian membantuku memberikan
pandangan-pandagannya. Ketika aku tidak tahu siapa yang harus
dijadikan OP anamnesa, kak Barlian waktu itu bersedia.
Ketika
aku tidak yakin dengan jalan hidup psikologi kak Barlian yang
meyakinkanku
Pencobaan
yang kamu alami tidak akan melebihi kekuatanmu, pada waktunya Tuhan
akan memberikan jalan keluar. Hidup itu lebih kayak lari maraton
daripada lari sprint. Masalah daya tahan dan ketabahan, bukan masalah
kecepatan, you’ll be fine kid.
Anggaplah
kamu masuk psikologi karena menurut Tuhan kualitas kamu terlalu bagus
untuk di di jurusan yang kamu inginkan, maka Tuhan memilihkan psikologi untukmu..
well,
you have more than you think irsa...the best is yet to come....
dan
ketika aku hampir berhenti di tengah jalan. Kak Barlian juga yang
meyakinkanku
Saya
tidak bisa bantu meyakinkan kamu soal psikologi, itu rasanya di luar
kemampuan saya, tapi mungkin berbagi apa yang saya tahu soal kondisi
ketika berada di dalam lubang atau padang gurun yang namanya "proses"
itu. Ketika proses begitu berat, arahkan mata pada tujuan akhir, apa
yang ingin kita capai, orang macam apa yang ingin kita menjadi.
Yang
perlu kita lawan adalah ketakutan2 kita, ketidakpercayaan kita pada
penyertaan Tuhan, rasa rendah diri, minder, khawatir, malas, dan juga
kesombongan2 kita, setiap hari (istilah saya "menyangkal diri
dan pikul salib").
Skripsi
belum dibuat saja ucapan terimakasih ku sudah menunggu satu nama
untuk ditulis. Ah, tidak hanya skripsi aku pikir, mungkin.. sebuah
novel aku, duniaku, dan penghayatanku..
Terima
kasih ya Rabb, telah mengirimkan orang-orang yang luar biasa dalam
hidup ini, yang mengajarkan aku banyak hal, yang mengingatkan bahwa
hidup bukan merupakan ketidaksengajaan. Seluruhnya telah dirancang
dengan perhitungan yang sempurna dari Mu ya Allah
Dari
aku duniaku, dan penghayatanku
Bandung,
12 Agustus 2012
Irsa
Ikramina
No comments:
Post a Comment