aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Wednesday, August 15, 2012

Aku dan pria tionghoa


Happy birthday my deep thought friend. May God Almighty bless you with a happy heart, love from everyone, wisdom, success in all you do, and opened doors in life. God bless you.

Ucapan selamat ulang tahun itu dituliskan seseorang pada wall facebook ku ketika berulang tahun Juni lalu. Aku tidak menyangka bahwa silaturrahim yang terjalin antara aku dengannya tetap hidup hingga saat ini. Ucapan selamat ulang tahun dan selamat natal atau lebaran diantara kami tidak pernah putus. Selamat natal ? ya, kami memang berbeda agama dan juga berbeda usia cukup jauh. pria ini pemeluk agama kristen protestan, ber-suku bangsa tionghoa, dan usianya 10 tahun berada diatas usiaku. Aku tidak melihat semua perbedaan itu, apa mungkin karena kami punya banyak kesamaan ? mungkin juga. Akademik, kehidupan, dan spiritualitas adalah ketiga topik yang selalu mewarnai pembicaraan ku dengannya.

Sebut saja Barlian, yaitu pria tionghoa yang kini berprofesi sebagai dosen, dulu merupakan guru bimbingan belajarku. Bimbingan belajarku dulu memang begitu signifikan bagi kehidupanku, ya salah satunya aku menemukan orang-orang yang sangat berpengaruh bagi kepribadian maupun kehidupan. Pria ini baru mengajar ketika kelas SNMPTN dimulai. Itu berarti, pertemuan awalku dengannya adalah yang paling singkat dibanding guru yang lainnya karena aku mengenalnya sejak awal tahun ajaran.

Tapi, siapa sangka guru yang aku kenal paling terakhir di bimbingan belajar itu akan menjadi significant person yang sangat berpengaruh dan tentu banyak menolong dalam perjalanan kehidupanku hingga saat ini.

****

Dua hari yang lalu, sekitar pukul 9 pagi. Motorku berhenti didepan sebuar rumah yang pagarnya tertutup rapat. Tidak ada bel, maka pilihannya mengetuk dengan gembok yang menggantung di pagar atau memberitahu pada pemilik rumah melalui SMS bahwa aku sudah tiba di depan rumahnya. Baru saja aku mengeluarkan handphone dari tas, pria tionghoa ini sudah membukakan pagarnya. Ya, aku berkunjung ke rumahnya !

eh, baru aja mau sms !” kataku sambil tersenyum.

mau dimasukin ngga motornya?

boleh deh, asal cukup”, kataku sambil menyalakan mesin motor dan memeperkirakan apakah cukup atau tidak masuk ke garasi yang terisi oleh mobil dan motornya.

apa kabar nih?” katanya sambil tersenyum dan menjulurkan tangannya untuk menjabat tanganku.

yah, begitulah !” jawabku yang kikuk untuk berjabat tangan dengannya karena masih memegangi helm dan kunci motor

Keterbukaan dan kesediaan untuk membantu. Aku pikir itu adalah dua hal yang mempertemukan aku dengannya pada saat itu dan juga awal pertemuanku dengannya 3 tahun yang lalu.
Di kelas intensif SNMPTN aku duduk di pojokan kelas. kelas tidak terlalu penuh pada saat itu. Mungkin masih awal program sehingga anak-anak yang mengambil program setahun penuh masih malas untuk datang. Hanya aku anak yang memang mengambil program setahun penuh di kelas itu. Sisanya adalah wajah-waajah baru, mereka adalah anak-anak yang hanya mengambil program SNMPTN, sehingga banyak pendatang yang datang dari luar Bandung. Cukup lama aku menunggu, kemudian pria tionghoa ini masuk kedalam kelas, mengajar pelajaran sejarah pada saat itu. Itu adalah kali pertama aku melihatnya. Ada sesuatu yang berbeda dari cara mengajarnya, tapi aku tidak tahu apa.

Guru geografi malamnya mengirimkan SMS untukku menanyakan penilaian terhadap guru yang masih baru itu. Aku sudah memahami hal ini, karena setiap ada perekrutan guru baru maka yang menentukan adalah guru senior. Ya, guru geografi itu yang dianggap senior untuk mata pelajaran IPS.

hmm, gini pak. Sebetulnya saya juga bingung menjelaskannya. Ada sisi yang menunjukkan bahwa jam terbang mengajarnya masih belum dapat dikatakan senior. Tapi ada sisi menarik yang saya pikir dalam gaya berkomunikasinya yang berbeda dari guru yang lainnya. tapi menyenangkanlah. Saya pikir untuk bimbel ini guru itu sudah memiliki kriteria yang dibutuhkan”, jelasku menjawab SMS dari guru geografi.

hmm. Ya, dia lulusan Fikom Unpad sa”, balas SMS dari guru geografi dengan cepat.

Di hari yang lainnya ketika ia mengajar lagi, seusai kelas aku memberanikan diri menghampirinya.

pak bisa bantu saya ?”

apa yang bisa saya bantu?”

saya lagi nyusun tugas akhir untuk level akhir di tempat les bahasa Inggris semacam paper gitu lah dan sebentar lagi saya harus mempresentasikan, forum lah ya. saya pikir bapak bisa bantu saya dalam hal ini, supaya presentasi saya lebih menarik. Saya tahu kalo bapak lulusan komunikasi”

ohh, haha. Ya sebisa mungkin saya bantu. Mau kapan ?”

sehabis ini ada kelas lagi pak ? saya ada nih satu lagi”

ngga ada sih, tapi ngga papa. Biar saya tunggu di ruang guru”

wah seriusan pak ?! oke, nanti abis beres kelas saya kesana ya. makasi loh pak !?”, kataku dengan girang

Setelah kelas selesai, aku ragu apa benar-benar pria tionghoa ini ada di ruang guru. Sambil melangkah ragu aku menghampiri ruang guru, dari jendela sudah terlihat. Ah ada ! langsung saja aku menghampirinya.

“jadi gimana apa yang bisa saya bantu ?” katanya dengan gesture yang menunjukkan keterbukaan.
Aku mengeluarkan paper dari dalam tas dan menanyakan banyak hal mengenai presentasi, apa yang akan ditanyakan penguji, dsb. Kami mengobrol cukup lama pada saat itu, karena pembicaraan juga tidak hanya mengenai paper ku. Pembicaraan mengalir membicarakan niatku dan minatku pada Fikom Unpad, membicarakan pelajaran sejarah yang merupakan kesukaannya, membicarakan pengalaman mengajar dan kuliahnya. Sampai-sampai kami tidak menyadari kalau bimbel sudah sepi, tidak ada murid dan juga sudah tidak ada guru..

*****

“duduk sa, silahkan silahkan”, katanya ketika aku memasuki rumahnya.

“puasa ngga?”

puasa dooonng, jadikan ngga perlu repot-repot, heheh”, kataku dengan nada mengejek.

hahaha, ya sudah siap untuk direpotkan juga kok”

lagi ngga ngajar nih kak?” kataku dengan sapaan “kak”, karena setahun yang lalu ia memintaku untuk tidak memanggilnya “pak” lagi. Ia pikir hubungan ini juga sudah menjadi persaudaraan dan bukan sekedar guru dengan murid.

ngga, libur kan. Yaa, paling sambil nyiapin bahan-bahan aja sih”

“jadi gimana nih? Ada apa sa?” katanya dengan gesture yang menunjukkan keterbukaan. Persis 3 tahun yang lalu.

Sambil membuka pembicaraan, aku menceritakan mengenai perjalanan pendidikanku selama semester-semester terakhir. Di tengah aku yang sedang bercerita, keluar seorang wanita dari salah satu kamar

“haloo, irsa ya ? Santi”, katanya dengan ramah dan sambil berjabat tangan denganku.

“puasa ngga?”

“iyaa puasa” kataku sambil tersenyum

“dulu irsa dateng kok ke kawinan kita San”, kata kak Barlian. Ya, setahun yang lalu kak Barlian memang mengundang aku ke acara resepsi pernikahannya.

“oh iya ? duh lupa yaa. Gak inget karena banyak yang dateng”, kata kak Santi sambil mengingat-ngingat dan tertawa.

Sementara kak Santi pergi ke belakang, aku dan kak Barlian melanjutkan pembicaraan lagi.

“dulu kak Barlian gimana bisa dapet ide penelitian skripsi ? sampe detik ini saya ngga tau banget mau neliti apa” kataku dengan ekspresi wajah frustasi dan mengacak rambut dengan kedua tanganku.

“heheh, dulu sih gini sa. skripsi saya tentang manejemen konflik. Saya mikir kalau seandainya jaman sekolah guru saya mengajar dengan komunikasi yang baik. pasti anak-anak akan mudah memahami apa yang guru sampaikan. Maka saya coba teliti dari hal itu”

“kualitatif ya?” tebak aku

“iya, saya tertarik dengan hal-hal yang hanya bisa diukur dengan kualitatif”

“ya, saya pikir juga gitu. Kalo idealnya emang kualitatif, terlalu banyak yang digeneralisasikan dalam kuantitatif. Tapi saya masih ragu untuk di psikologi mengambil kualitatif”

Lalu kak Ariel memberikan perumpaannya mengenai fenomena yang ada di kampusku mengenai spiritualitas.

“nah, kepekaan-kepekaan itu yang belum saya punya. Awareness terhadap fenomena atau hal dari sekitar yang dapat diangkat untuk diteliti belum saya dapet”

“ya tapi itukan kepekaan saya, kamu akan tersiksa kalau kamu pake kepekaan saya. Kamu harus cari sendiri”

“hmmm, sulit juga ya”

“atau begini deh sa, untuk membantu kamu nih. Kalau kamu yakin Tuhan membuat skenario hidup tidak ada yang kebetulan atau tidak sengaja, bahwa semua hal yang telah kamu lalui ada maksudnya. Maka kamu bisa ambil dari situ. Apa yang ingin kamu ketahui yang belum terjawab kaitannya dengan kehidupan kamu, hanya saja ini kamu tuangkan secara scientific. Ya, bukan berarti ngga boleh mempelajari hal baru atau yang diluar itu, tapi ini untuk membantu memudahkan aja sih sebenarnya”

Hening sejenak, menyadari bahwa apa yang dikatakannya juga menggambarkan pertemuanku dengannya. pertemuan pertama kali di bimbingan belajar itu dan berteman hingga saat ini, aku berada di rumahnya, dihadapannya, membicarakan sesuatu yang juga penting dalam hidupku ke depannya, betul-betul sudah diatur Tuhan.

aku mengiyakan pendapat kak Barlian sembari mencari-cari dalam hati dan pikiranku. Apa yang begitu signifikan dan belum terjawab dalam hidupku. Yang pertama terlintas dalam kepala ku adalah yan tempat bimbingan belajar itu

“sebenarnya sih kak, dulu saya pernah terbesit kalo mau neliti soal Daniel (Rumah Belajar Daniel nama bimbingan belajarnya). Waktu jaman masih bimbel disana ya kepikiran bahwa tempat bimbel ini beda, termasuk pengajar-pengajarnya. Tapi saya belum bisa menjelaskan secara objektif kenapa bisa begitu. Kalo dulu kak Barlian neliti apa di Daniel ?”

Tesis kak Barlian  memang mengenai bimbingan belajar itu juga.

“budaya organisasi”, katanya sambil mengambil tesisnya di rak buku lalu ia memberikannya padaku.


“ya kira-kira begitulah sa mengenai penelitian kualitatif, kalau hanya disuruh bab-bab awal saja kamu bisa liat contoh bab 1 tesis saya itu”

                                                                              ******

kak Barlian  memberikan softcopy tesisnya yang juga masih sampai bab 1 dan potongan-potongan data wawancara dari flashdisk-nya. Aku waktu itu kebingungan dengan tugas proposal penelitian mata kuliah metodologi penelitian semester 2. Saat itu aku juga masih rajin mampir ke bimbingan belajar tersebut karena kesibukan sebagai mahasiswa tingkat awal tidak padat dan kadang aku sekedar ingin ngobrol dengan guru-guru disana, menanyakan pandangan atau pendapat.

“waah, siip lah. Makasi ya pak. Kesekian kalinya nih bapak ngebantu saya”

“ah, ya gapapa kan saling bantu. Oia tahun depan saya tidak mengajar disini lagi sa. Tapi kalau kamu butuh bantuan apa-apa atau mau nanya-nanya hubungi saya aja ya”

“loh ! kenapa pak ?” kataku dengan kaget

“ya kan ngejar tesis aja. Kalau emang sudah cukup data dan selesai ya sudah”

“loh, jadi bapak ngajar disini Cuma kedok ?”

“haha, kedok. Ya bisa dibilang begitu”

“partisipan lah yaa”

Aku yang dulu berpikir bahwa nampaknya akan sulit keep in touch dengan guru yang satu ini. Malah sekarang rumahnya satu kawasan sama-sama di Arcamanik. Kak Barlian pindah ke Arcamanik setelah menikah. Bahkan sekarang ini masih bisa dengan leluasa menyambung silaturahim. Subhanallah !

****
“bawa aja dulu sa, siapa tau nemu topik yang mau kamu sorot” kata kak Barlian setelah menunggu lama aku membuka-buka tesisnya.

“iya deh, dibawa dulu ya. semoga dapet insight. Bisa dibilang Headstart nih saya, habis gimana ya kak. Saya uda jalanin 3 tahun di psikologi tanpa passion. jadi saya pikir, di tingkat akhir ini saya ingin membayar semua itu. saya ngga mau lagi ngerjain sesuatu macem formalitas dan menggugurkan kewajiban. Paling tidak, walaupun sekedar penelitian, saya juga ingin ada keberkahan dan manfaat di dalam proses dan hasilnya kan” kataku sambil membereskan tas dan memakai jaket.

“iyaa, iyaa streotipe orang idealis.” Katanya sambil tersenyum dan volume suara yang mengecil

“hah, emang saya idealis?!”

“ah, dari dulu !”

“taunya??”

“ya keliahatan saja pemikirannya suka berbeda. Hehe.” Katanya sambil tertawa kecil dan tidak menatap wajahku. “ya terserah kamu sih, kalo kamu mau lulus cepet, masalah waktu dan biaya juga jadi pertimbangan secara pragmatis tentunya. Makanya tulis aja dulu topik-topik yang menarik bagi kamu. Lebih bagus kamu pra-survey dari sekarang sebelum masuk kuliah.”

“kegesitan ngga sih ?”

“ya ngga lah, emang kamu lulus kuliah pa tunggu-tunggu sama temen-temen kamu”
Aku berpamitan dengan Kak Santi sementara kak Barlian membantuku mengeluarkan motor.

“duh uda namu, penghuni lagi yang ngeluarin motor” kataku merasa tidak enak

“ah, ngga papa, lagipula saya jarang dapet tamu. Nyampe rumah juga suka malem”

“bentar lagi jugakan pasti ada mahasiswa bimbingan kaak, hahah” kataku mengejek

“ah, saya belum dapet izin sebetulnya untuk membimbing, masih baru kan saya. Yah setidaknya kamu yang pertama secara unofficial” katanya sambil tertawa

****

Dijalan pulang dari rumahnya, aku mengingat-ingat bantuan kak Barlian selama ini sudah sangat banyak, banyak hal mengenai kehidupan yang jadi dapat aku sikapi dengan bijak. Spiritualitas yang dimiliki dan sebagai kristiani taat juga membuatku memandangnya seolah kak Barlian sudah mencapai wisdom di usia yang masih muda.

Ketika aku masih awam soal perkuliahan, kak Barlian memberikan gambaran mengenai dunia perkuliahan. Ketika aku bingung mengenai tugas-tugas perkuliahan yang aku hadapi, kak Barlian membantuku memberikan pandangan-pandagannya. Ketika aku tidak tahu siapa yang harus dijadikan OP anamnesa, kak Barlian waktu itu bersedia.

Ketika aku tidak yakin dengan jalan hidup psikologi kak Barlian yang meyakinkanku
Pencobaan yang kamu alami tidak akan melebihi kekuatanmu, pada waktunya Tuhan akan memberikan jalan keluar. Hidup itu lebih kayak lari maraton daripada lari sprint. Masalah daya tahan dan ketabahan, bukan masalah kecepatan, you’ll be fine kid.
Anggaplah kamu masuk psikologi karena menurut Tuhan kualitas kamu terlalu bagus untuk di di jurusan yang kamu inginkan, maka Tuhan memilihkan psikologi untukmu..
well, you have more than you think irsa...the best is yet to come....

dan ketika aku hampir berhenti di tengah jalan. Kak Barlian juga yang meyakinkanku
Saya tidak bisa bantu meyakinkan kamu soal psikologi, itu rasanya di luar kemampuan saya, tapi mungkin berbagi apa yang saya tahu soal kondisi ketika berada di dalam lubang atau padang gurun yang namanya "proses" itu. Ketika proses begitu berat, arahkan mata pada tujuan akhir, apa yang ingin kita capai, orang macam apa yang ingin kita menjadi.
Yang perlu kita lawan adalah ketakutan2 kita, ketidakpercayaan kita pada penyertaan Tuhan, rasa rendah diri, minder, khawatir, malas, dan juga kesombongan2 kita, setiap hari (istilah saya "menyangkal diri dan pikul salib").

Skripsi belum dibuat saja ucapan terimakasih ku sudah menunggu satu nama untuk ditulis. Ah, tidak hanya skripsi aku pikir, mungkin.. sebuah novel aku, duniaku, dan penghayatanku..

Terima kasih ya Rabb, telah mengirimkan orang-orang yang luar biasa dalam hidup ini, yang mengajarkan aku banyak hal, yang mengingatkan bahwa hidup bukan merupakan ketidaksengajaan. Seluruhnya telah dirancang dengan perhitungan yang sempurna dari Mu ya Allah

Dari aku duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 12 Agustus 2012
Irsa Ikramina

No comments:

Post a Comment