aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Friday, March 23, 2012

Aku dan menulis


           aku tatap archive pada blog ini dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Entah bagaimana bisa sudah sekian banyak cerita aku tuturkan disini, banyak emosi yang terpendam yang aku luapkan disini, dan banyak kisah hidup yang aku ungkap disini. Aku memang bukan penulis yang berbakat. Tapi setidaknya kini menulis sudah menjadi “kebutuhan” bagiku. Berawal dari saran dari dua orang teman untuk menulis dan faktor situasional dimana tidak selalunya orang akan hadir untuk active listening sekaligus juga memahami. Meskipun begitu, bukan berarti menulis dapat menggantikan posisi kebutuhan afeksi sosial. hanya saja, menulis dapat mengurangi tension yang ada sekaligus sarana katarsis. Selain itu, hanya dengan menulis aku akan terhindar dari disalahpahami. Dengan menulis, aku merasa berada dalam kebebasan tanpa harus mempertimbangkan sisi mana yang harus aku tampilkan pada orang lain.
            dalam perkuliahan aku tidak pandai dalam menulis secara ilmiah, aku juga tidak pernah punya pengalaman dalam karya seni menulis. Tapi, melalui tulisan aku menjadi lebih paham mengenai diri sendiri, aku merenungi perjalanan hidup yang telah ku tempuh, dan yang selalu dapat meringankan beban berat di hati ini.
            Aku tidak tahu akan sebanyak apa tulisan yang akan aku update disini, sampai kapan, dan akan seperti apa kelanjutan cerita-ceritanya. Namun, aku berharap bahwa perjalanan hidupku masih penuh dengan hikma-hikmah, pelajaran, dan juga skenario menarik yang kelak mungkin aku “kemas” untuk dapat disampaikan kepada orang banyak dan tentunya dapat bermanfaat, tidak hanya sebagai aktualisasi diri, namun juga untuk bekal perjalananku untuk kehidupan setelah mati .


Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 24 Maret 2012
Irsa Ikramina

Wednesday, March 21, 2012

Aku dan keterdesakan


            dalam perjalanan hidup ini, telah banyak yang aku lalui. Hingga pada saat ini, aku sedang berada pada titik perjalanan yang bisa dikatakan “terdesak”. Memang sulit dijelaskan, namun bukan begitukah kehidupan? Kita tidak punya banyak cukup waktu untuk melakukan berbagai macam hal. Dalam satu hari saja, tidak semua dapat dikerjakan maksimal, ada saja yang harus dikorbankan dan ada saja yang harus diprioritaskan. 20 tahun hidup saja, rasanya masih merasa kurang dalam banyak hal. 
            Ya, tapi yang ini berbeda. Ini adalah masa dimana aku merasa kuat karena “keterdesakan”. Belakangan ini aku sering mengatakan pada diriku sendiri, “tidak ada waktu lagi untuk galau, tidak ada waktu lagi untuk stress, tidak ada waktu lagi untuk merasa nlangsa. Hajar terus, Allah pasti nolong, semua sudah diukur sesuai kemampuan, pasti terlewati, yakin, ikhtiar, tawakal”.
             tidak ada waktu lagi hanya untuk sekedar mengeluh dan hanya untuk mendekati keterpurukan. Sudah terlalu banyak mimpi yang aku rangkaikan untuk mama, untuk menguatkan dan untuk menenangkannya. Semua itu aku lakukan karena amanah sebagai seorang anak untuk membahagiakan ibu. Sudah waktunya mama menemukan air zamzamnya setelah perjalanan panjang antara shafa dan marwa untuk membawaku sampai pada titik perjalanan yang sejauh ini. Sudah saatnya aku membawa mama “hijrah” ke tempat yang lebih mulia, ini dalah tugasku, ini adalah amanahku, dan ini juga drive terbesarku. 
            Padahal apa yang aku lalui sekarang ini adalah lebih berat dari sebelumnya, tapi tanpa diduga dengan kekuatan-Nya, aku bisa berdiri tegar. Yakin bahwa semua ikhtiar ini, akan membawa pada perubahan keadaan. bukankah Allah akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri yang berusaha mengubahnya? Sudah terlalu banyak derai air mata dan tetesan keringat yang menjadi saksi dari perjalanan panjang ini. Dan sudah terlalu jauh aku berlari untuk mencapai tujuan “hijrah”.
Tidak ada waktu lagi hanya untuk sekdar berharap tanpa ikhtiar

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 21 Maret 2012
Irsa Ikramina

Monday, March 5, 2012

Aku, dunia, dan logoterapi


Hal yang paling aku syukuri dalam hidup ini ada dua, yang pertama “aku” dan yang kedua adalah “dunia”.
Dunia mitwelt adalah tempat dimana aku dan orang-orang disampingku berada. Tanpa mereka, entah seperti apa kehidupanku ini. Tentu dari rasa syukurku terhadap Tuhan atas dunia mitwelt yang diberikan, aku ingin mengucapkan terimakasih yang mungkin menjadi tidak sepantasnya jika aku sampaikan kepada mereka secara langsung. 
bagi orang-orang yang hingga saat ini masih mendampingiku, terima kasih sudah bertahan dari arus datang dan perginya orang dalam kehidupanku. Dan bagi yang pernah hadir dalam hidupku, terima kasih telah memberikan warna kromatik dalam kehidupanku”.
            dunia eigenwelt adalah aku dan duniaku. Tempat aku berhubungan dengan diriku sendiri, tempat aku memahami diriku dan dunia luar, tempat aku bebas memilih pilihan-pilihan. Tentu untuk hal yang satu ini, aku sangat berterimakasih kepada Tuhan Yang Maha Menciptakan.
            Itu sebabnya “aku” menjadi bagian yang paling aku syukuri dalam hidup ini. Aku yang menyadari dan aku yang memaknakan, menjadi eksistensi yang tiada batas bagi diriku sendiri. Tanpa keberadaan “aku” maka makna kehidupanpun menjadi tidak ada. 
            Aku jadi teringat bagaimana aku memulai ini semua secara “sadar”. Episode kehidupanku pada saat hijrah menjadi logoterapi bagi diriku sendiri (baca aku dan hijrah). Sebelum hijrah, aku seperti kehilangan eksistensiku, aku tidak tahu dimana diriku berada. Tapi untunglah ketika aku hijrah aku punya tugas untuk menemukan makna kehidupan ini. Setidaknya, ini yang membuat aku dapat menemukan eksistensi diriku dan membuat aku bertahan dari segala ujian kehidupan ini. 
            Kata-kata Viktor E. Frankl mengingatkan ku pada beberapa kata-kata yang disampaikan orang-orang dalam hidupku. 
Jangan pedulikan gejolak perasaanmu, arahkan pandanganmu pada sesuatu yang menunggumu di depan. Yang penting bukan apa yang bergejolak di dalam dirimu, namun apa yang akan terjadi di depan, yang akan kau wujudkan (Viktor E. Frankl)
Luruskan niat, jangan menoleh ke belakang lagi, inget apa yang jadi tujuan kita, fokus. (mama)
Saya tidak bisa bantu meyakinkan kamu soal psikologi, itu rasanya di luar kemampuan saya, tapi mungkin berbagi apa yang saya tahu soal kondisi ketika berada di dalam lubang atau padang gurun yang namanya "proses" itu. Ketika proses begitu berat, arahkan mata pada tujuan akhir, apa yang ingin kita capai, orang macam apa yang ingin kita menjadi.
(kak Ariel)


Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 6 maret 2012
Irsa Ikramina