"Silahkan, mau duduk dimana ?"
"saya cek ke lantai atas dulu boleh ? saya sudah janji dengan seorang teman"
"silahkan mbak"
Suara langkah kaki ku ketika naik tangga tidak bisa dibendung lagi. padahal aku sudah berusaha untuk meringankan langkah kaki ku. maklum saja, design interior cafe ini memang dominan kayu. sebetulnya tempat ngopi ini setiap hari aku lalui ketika berangkat ke kantor, hanya saja baru kali ini aku mampir kesini.
sesampainya di lantai atas, aku meningkatkan konsentrasi untuk mencari wajah yang kukenal. tapi ternyata tidak sulit, bukan karena wajahnya tidak berubah. tentu saja wajahnya berubah karena sudah lama tak jumpa. tidak sulit menemukan wajahnya karena memang di lantai atas itu tempatnya tidak luas, lagipula hanya ada dua orang saja termasuk dirinya di lantai atas itu.
aku segera menghampirinya,
"hei ! sudah lama ?" sapa ku dengan wajah gembira sambil menarik kursi untuk menyimpan tas ku dan untuk duduk
"kamu gak mau pesan dulu?" jawabnya dengan datar. sangat berjarak, rasional, dan.. sibuk dengan dunianya. ya, ia sedang sibuk dengan laptop dan smartphonenya.
"hmm, ok. aku pesan minum dulu ke bawah ya"
"Eh, aku titip tolong pesankan air putih ya"
"iya teh" aku memanggilnya dengan 'teh', karena ia adalah senior ku ketika di kampus dulu
setelah aku selesai pesan minum, aku kembali ke lantai atas dan duduk berhadapan dengannya. ada momen hening sejenak. aku bingung harus memulai pembicaraan bagaimana. karena dia sibuk dengan laptop dan smartphonennya.
"jadi ? ada cerita apa ? kamu kerja dimana sekarang ?" akhirnya dia membuka pembicaraan.
"oh, jadi aku dulu ya yang cerita ?"
aku agak kaget sebetulnya. aku sedang tidak ingin bercerita tentang karir atau hidup ku, aku hanya ingin membicarakan topik menarik saja. maklum, mumpung bertemu teman satu species yang sama-sama psikologi. lagipula, aku mengatur pertemuan ini memang untuk diskusi banyak hal, bukan karena kebutuhan untuk curhat atau ingin didengarkan. akan tetapi, aku mencoba bercerita dengan singkat hanya untuk sekedar menjawab pertanyaannya.
"aku kerja jadi HRD, di suatu perusahaan otomotif. ya pekerjannya ya begitu-begitu saja"
keheningan terjadi. aku berusaha melanjutkan cerita lagi hanya sekedar untuk memecah keheningan.
"ya perusahaannya masih baru kok. jadi manajemen organisasinya belum rapi. kadang aku rangkap jadi auditor"
"hmmm gitu..terus ?" responnya singkat sambil sebentar saja melihat wajah ku lalu melihat layar laptop lagi
"hmm apa ya. ya gitu-gitu aja sih. kalau teteh S2 nya masih ?" aku menyerah. ganti arah saja, dialah yang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ku
"ya.. waktu aku kemarin sakit dan juga ada masalah keluarga, aku sempat cuti, tapi aku langsung kerja. jadi belum dilanjutkan lagi kuliahnya" dari wajahnya ada keengganan menjawab karena mungkin tidak nyaman dengan pertanyaan ku.
hening lagi..
"eh aku hanya bisa sampai jam 12.30 ya. aku mau lanjut ketemu geng kuliah ku"
aku melihat jam tangan. sekitar 35 menit lagi waktu ku untuk bercakap dengannya. jujur saja, ini agak aneh. dulu ia tidak seperti ini. ini seperti adjust dengan orang baru lagi. bagiku tak apa, agar pertemuan ini manfaat. aku harus memutar otak dan berusaha memahami perilakunya.
"it's ok. aku juga akan ke tempat kak Ammy kok setelah ini. teteh ingat kan ? subjek skripsi aku."
"ooh iya"
hening lagi...
"kenapa teh ?" aku seperti mendengar dia berbicara
"oh enggak, aku lagi bicara sama handphone aku"
"open line" begitu ia memerintahkan secara lisan untuk smartphonenya membuka aplikasi LINE secara otomatis
"wow, pakai voice teh ?"
"ya, ngetik itu membutuhkan waktu yang lebih lama. kita harus hemat waktu"
"hmm, terdengar sangat efektif dan efisien" kataku sambil menganalisa
twelve o'clock... suara itu muncul dari handphone-nya. sungguh, seperti ujian mata kuliah saja rasanya. padahal yang diharapkan adalah percakapan rileks antar teman hingga lupa waktu
"wah, pakai pengingat waktu teh?"
"ya, aku suka pakai ini. kalau kerjaan ku lagi dikejar deadline. aku suka pasang target. misalnya dalam waktu 3 jam aku harus bisa menyelesaikan beberapa tulisan"
pekerjaannya saat ini memang berkaitan dengan tulisan
sembari aku memahami dan memaklumi. kenapa orang yang aku kenal dulu adalah orang yang easy going, saat ini bisa sangat memperhitungkan waktu dan sangat disiplin atau keras pada diri sendiri.
hmm. aku paham. mungkin dengan terhambatnya kuliah S2 nya, secara waktu dan usia menjadi tertinggal start untuk meniti karir. untuk mengejarnya, pada karir yang ia tekuni saat ini ia begitu berdisiplin diri dan sangat memperhatikan soal waktu.
"wah, kalau pekerjaan ku di kantor sih nggak bisa kaya gitu teh. ada aja iklannya. tiba-tiba disuruh ini disuruh itu. selain itu harus multi-tasking, sambil ngerjain kerjaan, harus bisa dengar juga boss yang minta diperhatikan ketika cerita soal kehidupan pribadinya."
"hehehe iya sih.. beda ya.. " katanya setuju
"oia, ngomong-ngomong soal nulis, gimana bisa seproduktif itu teh ? kendalanya kan ada saja. misalnya inspirasi dan kalau orang yang jam kernya seperti ku tentu adalah soal waktu"
"bukan soal inspirasi dan waktu, tapi adalah soal komitmen. menjadi seorang penulis adalah komitmen terhadap diri sendiri. kamu yang tentukan sendiri mau tulis apa, kamu yang terntukan sendiri kapan waktunya. itu kalau memang kamu sudah komit menjadi seorang penulis"
aku tersenyum. menyadari tidak ada yang berubah dari dirinya. sebagai senior, wejangannya selalu bisa aku terima.
membicarakan soal berubah, aku melontarkan petanyaan padanya.
"apa life event membuat orang berubah ya teh ? disini life event yang aku maksud ya bad life event ya"
"I know, karena biasanya life event yang menyenangkan tidak signifikan merubah orang"
"jadi, teteh setuju bahwa life event merubah orang ?"
Untuk menjawab pertanyaan ku ini, dia sampai mengeluarkan semacam buku catatannya dari tasnya. membuka sebuah halaman yang terdapat quotes dari tulisan tangannya. ia meminta ku membacanya, sambil menunjuk quotes nya.
"nih, kamu baca yang ini ya"
"kalau yang lain boleh teh ?" kata ku sambil bercanda
"ya jangan laah.. yang itu aja"
kebetulan quotesnya dari bahasa inggris jadi aku mencoba membacanya dengan seksama.
“And once the storm is over, you won’t remember how you made it through, how you managed to survive. You won’t even be sure, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm, you won’t be the same person who walked in. That’s what this storm’s all about.”
Haruki Murakami
"aku suka tulisan-tulisan Haruki Murakami" katanya untuk memecah keheningan aku yang sedang membacanya.
"iya teh. this is your answer for my question"
"aku gak bisa bilang life event bisa merubah orang atau tidak, tapi yang jelas, setelah kamu melalui badai itu. you won't be the same person. but all depends on yourself. kamu memilih untuk seperti apa dalam menghadapi badai. S-O-R. Stimulus-Organism-Response"
"I get it" kataku sambil tersenyum
"yuk, it's time to go"
"Alright"
i know something that, suatu pertemuan tidak bisa diukur dari durasi pertemuan. tapi dari apa yang kita dapat dari pertemuan tersebut
Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Irsa Ikramina
4 Juli 2016
No comments:
Post a Comment