Baragkali, di kehidupan yang serba mahal ini, menjadi budak kapitalis bukanlah suatu pilihan. tapi merupakan suatu keterdesakan dan keterpaksaan dalam kacamata realistis.
Untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasar yang bernilai rupiah banyak orang pada akhirnya, menyerahkan dan engorbankan waktu, tenaga dan kebebasannya pada kepentingan profit korporasi, yang toh, pada kenyataannya tidak selalu berdampak langsung. bagaimanapun korporasi akan selalu mengedepankan kepentingan dan ambisi-ambisinya.
apapun jabatannya, apapun korporasinya, bagiku tetap saja stratanya adalah budak, budak kapitalis
tidak cukup hanya mengorbankan waktu, tenaga dan kebebasan. budak kapitalis kadang harus mengabaikan suara hatinya, suara hati yang merupakan fitrah manusia sebagai makhluk ber - Tuhan.
hanya bisa bungkam ketika sesuatu ditempatkan tidak pada tempatnya. hanya bisa diam ketika ada yang tidak proporsional antara apa yang dikerjakan dan apa yang didapat.
harus berpura-pura tidak peka terhadap perasaan-perasaan manusia ketika nilai kemanusiaan bukan yang dikedepankan. semua dilakukan atasa dasar visi dan misi organisasi.
aku bukanlah budak kapitalis yang memberontak. aku hanya berharap dan bermimpi kelak aku adalah budak kapitalis yang bernaung pada korporasi sufi. tanpa harus mengabaikan suara hati. agar meski di dunia hanya strata budak. tapi di dalam hati tetap ada Tuhan, tanpa mengabaikan suara hati, tanpa konflik superego.
Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 6 Mei 2016
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment