aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Sunday, November 13, 2016

the real job and its journey to find

"ada waktu bicara sebentar bu ?"

aku dan boss menuju ruang meeting, agar bisa bicara 4 mata. 

"gimana sa ?"

"PT. Zencra (bukan nama sebenarnya) mengundang saya lagi bu, untuk rekrutmen tahap selanjutnya"

Sebelumnya aku sudah lolos tahap administrasi dan psikotes, kini aku diundang untuk tahap FGD dan apabila lolos, dilanjutkan tahap presentasi dan wawancara HR.

"Ya sudah, kapan ?"

" Lusa, tapi nampaknya saya harus izin 1 hari penuh bu. karena saya diundang ke Jakarta"

"Lusa kamu ada jadwal  psikotes, wawancara, meeting  atau ada schedule penting ?"

"nggak ada bu. clear"

"ok, berangkatlah. saya beri kamu izin."

Mungkin ini memang terdengar aneh, mana ada boss yang membiarkan dan memberikan kesempatan anak buahnya melamar di tempat kerja lain. tentu saja ada peristiwa yang mendahului. 

Boss ku menjunjung tinggi keterbukaan mengenai kendala kerja atau ketidaknyamanan kerja. Jelas hal ini aku manfaatkan dengan baik, aku ungkapkan bahwa penghasilan yang aku dapat saat ini tidak bisa mengejar inflasi yang terjadi. aku tidak bilang gaji ku kecil, karena itu tidak ada dasar ukuran dan kriterianya. tapi, dengan kondisi ku sebagai tulang punggung keluarga, tentu penghasilan saat ini tidak terlalu banyak membantu untuk jalannya operasional hidup. ya, memang dari tahun 2015 ke 2016 aku mengalami kenaikan gaji, tapi kenaikan itu tidak dapat membantu untuk menghadapi naiknya harga-harga kebutuhan pokok. mungkin apabila aku adalah seorang anak yang tinggal di rumah orang tua dan hanya mengeluarkan uang untuk makan siang dan ongkos, gaji yang diterima ku saat ini masih terbilang cukup. begitulah hidup, setiap orang punya tuntutan masing-masing. tentu aku tidak gegabah untuk sekedar lompat sana lompat sini berganti pekerjaan hanya karena penghasilan, aku sempat tanya ke boss prospek kenaikan gaji di tahun 2017 dikisaran angka berapa. aku sudah dapat kisaran angka kasar dan itu masih belum dapat membantu.

aku tidak bilang perusahaan ku tidak bisa memberikan kesejahteraan dan aku tidak bilang aku tidak betah karena hal tertentu di perusahaan saat ini. soal kesejahteraan, semua juga tergantung profit dan growth dari perusahaan, saat ini perusahaan tempat ku bekerja masih start - up. ya jadi jangan menuntut digaji dan diberi fasilitas seperti perusahaan ternama yang sudah established. kemudian soal tidak betah, ah, kerja dimana-mana ada saja kok hal mengesalkan dan menyebalkan. hal tersebut tidak dapat dihindari, tinggal seberapa besar ambang toleransi kita menghadapi hal itu. ini memang subjektif, tiap orang beda-beda. tapi bagi ku, hal-hal yang aku hadapi di perusahaan tempat ku bekerja saat ini ya masih dalam taraf dapat dimaklumi, berubah sistem, berubah kebijakan, pengurangan orang, berubah struktur. ya, masih mencari pola untuk established, membangun pondasi. belum bicara improvement. kerja di tempat seperti ini harus tahan dengan perubahan yang terjadi begitu cepat, dan kadang tanpa dasar karena trial dan error. terlebih, jajaran manajemen secara usia belum ada yang mengunjak usia kepala 4. tapi seperti kataku tadi, masih dalam taraf dapat dimaklumi dan ditoleransi. 

keputusan ku untuk meninggalkan perusahaan aku pikir sudah didasari alasan-alasan yang rasional, bagaimana aku bisa konsen memecahkan pemasalahan di kantor kalau aku masih diganggu pikiran-pikiran bagaimana bayar token listrik, LPG, beli bahan masak, belanja bulanan dll. skala rumah tangga yang aku pikirkan, bukan skala pribadi. boss ku dapat mengerti kondisi ku, sehingga ia merelakan aku mencari tempat kerja yang lebih baik. 

" I'm not leaving because of neither my leader nor my team, but I have to leave because I have resposibility, as a breadwinner. In fact, this company can't help me for this, so why I still help this company to grow ? "

***


"saya diundang FGD, dimana saya harus menuggu ?" tanya ku kepada resepsionis di lobby

"boleh pinjam KTP nya ?" 

setelah aku memberikan KTP, aku diberi tanda pengenal sebagai peserta tes yang aku langsung gantungkan di leher ku. ketika aku hendak duduk di sofa lobby, tiba-tiba ada yang memanggilku

"irsa !"

aku menoleh ke arah suara memanggil ku

"hei Fajri !" 

kami adalah teman kuliah, satu angkatan. sudah lama kami tidak bertemu. di group LINE Psikologi 2009 namanya baru saja disebut-sebut karena teman-teman mengucapkan selamat kepadanya atas wisuda S2 nya. waktu S1 pun, Fajri adalah lulusan tercepat diantara angkatan 2009. I think he is an achiever, and that's good. sangat bertolak belakang sekali sekali dengan aku. 

"Eh sorry ya, gue gak aktif di group jadi belum ngucapin selamat. selamat ya !"

"hehe, iya terimakasih"

tidak lama, kami diminta pindah ke ruangan lokasi tempat kami FGD. Ruangannya dikelilingin kaca, sehingga kami bisa lihat pemandangan taman, banyak tempat duduk, ada AC nya jadi tetap sejuk. disitulah tempat kami menunggu dipanggil ke dalam ruangan tempat FGD. ternyata ada banyak batch. Fajri adalah batch jam 08.30 sedangkan aku adalah batch jam 09.30. dan ntah sudah berjalan berapa banyak dan semenjak hari apa seleksi FGD ini berjalan. kami menunggu bersama peserta tes lainnya, mayoritas dalam ruang kaca itu batch nya Fajri, jadi memang nampaknya aku kepagian

"eh lu bawa mobil jri ?", tanyaku

"iya, gila. Moh. Toha macet parah banjir. gue brangkat jam 7 sampai jam 3 subuh"

"Walah, gue sih kemarin juga berangkatnya. jam pulang kantor langsung ke Dipatiukur. memang hujan sih. yang tadinya mau naik gojek, malah terpaksa pake uber dan mana harganya lagi peak. but so far lancar-lancar aja."

"Duh, gue ngerasa tua umur nih", kata Fajri gelisah

"tua gimana ? kita kan emang udah tua ?" kata ku bercanda tapi memang fakta

"iya, kan aneh. Fresh Graduate tapi kok usia 25"

"oohh... ya santai aja kalik. itu kan hanya pilihan. gue belum S2. tapi memang di kolom experienced gue sudah bisa isi sesuatu. hehe" kata ku sedikit mengejek dan tertawa ringan. pikir ku, ktu tidak perlu digalaukan. kan itu sudah pilihan dan konsekuensi.

"lu gak mau jadi dosen Jri ?"

"wah, sudah ada yang menawarkan sih sa. Unisba dan Unpad"

"So, Why didn't you pick it ?"

"Gue Money Oriented

"ah, I see."

"Lu sendiri gak mau sa jadi dosen "

"Lah lu gimana sih, S2 aja belum"

"nah kenapa juga lu gak S2 sa ?"

aku sedikit tersenyum sebelum menjawab ini

"Gue punya tanggungan, perlu fixed income. Gak bisa putus penghasilannya. sementara untuk S2 kayanya harus putus kerja"

"Iya sih..." Jawab Fajri

tidak lama, ada orang yang muncul dari dalam ruangan yang menyebutkan nama-nama untuk FGD selanjutnya dan diminta bersiap-siap. ada nama Fajri disebutnya.

"kok nama lu gak disebut ya sa ?"

"lah kan beda batch, itu pasti dia absen dulu kehadiran  batch elu Jri"

"Oh Iya.."

"Eh, kalau boleh tau penghasilan lu berapa sa ?"

Aku jawab dengan angka dalam range

"Emang segitu gaji buat pengalaman ?" Fajri agak sedikit terkejut

aku tersenyum

"Jri, semua juga tergantung pengalaman dan pendidikan kita, juga.. kemampuan perusahaan. kalau perusahaan belum established. profit masih kembang kempis. ya masak lu mau mau nuntut gaji perusahaan established. beda keleus. kalau lu money oriented , langkah lu sudah tepat apply perusahaan besar seperti ini. kalau kerja kaya gue sekarang, memang banyak belajar soal membangun sistem, prosedur, membentuk budaya persahaan dll. tapi jangan harap soal kesejahteraan, itu hanya soal pilihan kok. sekarang gue tanya, lu minta gaji berapa ?"

Fajri sebutkan angka 

"nah, kl lu apply ke perusahaan gue, belum tentu perusahaan gue dengan angka segitu bisa kasih meski lu S2. karena masalah kemampuan perusahaan dan.. grading di perusahaan itu. kalau di perusahaan yang grading system nya sudah bagus. gaji akan diperhatikan dari kondisi kita, lu karena pendidikan, gue karena pengalaman. beda komponen bro. jadi kalau berbicara Take Home Pay ya kompleks kalau kita mau lihat grading dan komponen tunjangan, juga kondisi perusahaan "

Fajri diam saja. Entah mengerti atau tidak dengan penjelasan ku atau mungkin masih mencerna kenyataan hidup yang ada di dunia industri. 

Tidak lama, Batch Fajri dipanggil untuk FGD. 

"Good Luck ya !" kataku memberi semangat

aku perhatikan sekitar dan sedikit juga berbincang dengan pelamar lainnya. kebanyakan mereka adalah Fresh Graduate S1 dan S2 tanpa pengalaman, dan juga banyak yang tidak tahu soal HR. tapi hal ini tidak membuat aku merasa bisa dan yakin, biasa saja. bagaimana kalau program ini memang mencari Fresh Graduate karena mereka mau membentuk dari 0. itu sebabnya aku tenang-tenang saja, serahkan pada Tuhan. yang penting lakukan yang terbaik.

sebagian dari mereka menggalaukan soal FGD ini, banyak yang belum pernah. ya, begitu juga dengan aku. tapi ya aku enteng-enteng saja.

"mbak sudah pernah FGD ?" ada mas-mas yang bertanya kepada ku dengan wajah dan intonasi gelisah

"belum, ini yang pertama. santai aja mas. saya juga belum pernah kok"

"oohh begitu ya mbak"

dalam hati ku, dasar Fresh Graduate galau.  

tiba saat batch ku untuk FGD, aku lakukan saja yang terbaik. ketika aku selesai, Fajri juga keluar dari ruangan presentasi. ternyata Fajri sudah lolos FGD dan lanjut ke presentasi.

"wah, sudah presentasi nih... " komentar ku

"iya, lu gimana tadi sa FGD ?"

"ya gitu aja, biasa aja. udah beres ya. nanti selanjutnya gimana katanya ?" tanya ku

"ya nanti tunggu kabar via email kalau lolos ke tahap selanjutnya"

"oohh begitu ya"

"lu lolos FGD sa ?"

"ya belum tahu, makanya ini masih nunggu. lu mau cabut sekarang ? enak balik sekarang sih nggak akan macet" kata ku

"enggak lah, mau nungguin lu dulu sa", katanya sambil nyengir

aku hanya tersenyum, nampaknya dia penasaran apa aku lolos atau tidak. ada-ada saja. karena lama, akhirnya dia menyerah. 

"gue duluan deh sa"

"ohh yowes.. hati-hati ya"

tidak lama Fajri pergi meninggalkan ruang kaca, ditempel lah nama-nama yang lolos FGD pada batch ku. ternyata hanya lolos 2 orang. dan termasuk ada nama ku. yang tidak lolos FGD berarti tidak melanjutkan ke tahap presentasi dan wawancara. 

tiba-tiba saja di LINE ku ada message masuk dan itu dari Fajri. 

Selamat Sa. Masuk ya

Jujur aku agak bingung dia tahu darimana, tapi kemudian aku balas

Weits, kok tau ? iya nih Alhamdulillah :)

Yang tidak lolos mengucapkan sampai jumpa lagi dan kami-kami yang lolos (Saat itu ada 3 orang, 1 dari batch sebelumnya dan 2 dari batch ku termasuk aku). kami masih menunggu di ruang kaca. kami dapat giliran presentasi dan wawancara setelah jam makan siang, kami diberi kupon makan siang yang bisa ditukarkan di kantin atau di Raffles dengan ruang kaca. kami malas jalan ke kantin dan memutuskan untuk menukarkan kupon makan siang di Raffles. 1 orang dari kami yang jadwal presentasinya lebih sore diantara kami memutuskan untuk makan siang di luar bersama temannya. dan hanya tinggal aku dan 1 orang saja memilih stay. sambil menghabiskan santap siang, kami mengobrol. awalnya dia tidak tahu kalau aku lebih tua darinya. setelah menyebutkan nama, asal univ dan angkatan. dia langsung memanggil aku dengan sebutan "kak". 

"ini adalah satu-satunya perusahaan yang rekrutmennya aku sudah jauh kak"

aku tersenyum, "saya sudah sering gagal waktu seusia kamu"

"oia kak ? berapa lama kak dapet kerja waktu itu ?"

"kalau dihitung dari Sidang yang 6 bulan, kalau dari Wisuda ya 4 bulan."

"eh, rekrutmen ini cepat juga ya proses nya. waktu itu kita psikotes senin lalu kan ya"

"Wah lupa kak aku, maklum pengangguran jadi lupa hari"

"hehe, iya. saya harus ninggalin pekerjaan sih ya, jadi saya ingat hari apa"

"nanti kalau aku ditanya mau ditempatkan dimana aku jawab apa ya kak ?"

aku tertawa kecil, mungkin dia lupa. aku ini juga praktisi HR yang juga sering mennayakan kesiapan pelamar untuk ditepatkan dimana

"ya, jawab saja apa adanya. memang kamu tidak siap ditempatkan dimanapun ?

"aku mau di Jakarta sih, biar mandiri aja"

"ooh jadi keluarga semua di Bandung ya. Loh, memang kalau selain Jakarta jadi tidak mandiri ? kan, sama-sama jauh dari keluarga" tanya ku sambil tersenyum. iseng saja mengejar jawabannya"

"hehe iya sih. soalnya kalau di Jakarta itu banyak temen kak"

"oohh jadi karena itu... "jawabku sambil tersenyum iseng dan mengangguk

"menurut kakak, mending langsung S2 tau kerja dulu baru S2 ?"

"kamu mau tau pendapat saya ? baiklah, tidak ada yang lebih baik. semua hanya pilihan yang memiliki konsekuensi masing-masing. tapi bagi saya yang kerja dulu, saya jadi lebih mengenal hidup, banyak ragam orang dan dunia kerja lebih dulu yang tidak diajarkan di perkuliahan. dan itu membuat proses pematangan pribadi lebih cepat. baru nanti di upgrade lagi dengan ilmu dan pola pikir yang diajarkan di S2."

"iya kak, aku juga mau kerja dulu, baru nanti disekolahkan sama perusahaan seperti mama ku."

"oh, mamanya disekolahkan sama perusahaan ya. memang kerjanya dimana ?"

ia menjawa perusahaan BUMN terbesar di Bandung. 

"oh, pantas. mudah-mudahan kamu juga bisa seperti mama ya. Amin"

"iya kak Amin"

"oia, kenapa kakak cari pekerjaan lagi ?" tanya dia penasaran

"biasalah. cari lagi yang lebih baik. tentu perjalanan karir harus diiringi peningkatan ilmu dan penghasilan. bukan sekedar gengsi buat keren-kerenan kerja di perusahaan ternama dan besar. kerja itu cari nafkah buat keluarga, kalau memang kita bisa bawa pulang lebih besar lagi dan berkah kenapa tidak ? kan nasib kita sendiri yang mengubahnya. begitu juga di tempat kerja, kalau kita bisa memberikan banyak kontribusi untuk growth perusahaan tandanya kehadiran kita manfaatnya sangat dirasakan. ada waktunya diamana kita harus memberikan manfaat di tempat lain, jadi ya, kerja itu bagi saya buat jadi mata air keluarga dan tempat saya kerja. kalaupun toh saya mulai mencari, karena memang sudah waktunya, untuk menuju yang lebih baik. hijrah kan memang selalu ke tempat yang lebih baik"

dia diam saja. kemungkinannya dia tidak mengerti atau tidak mempedulikan

"yasudah, kamu presentasi jam 13.00 kan. saya mau solat dulu kamu mau ikut ?"

dia menggeleng

"nanti ketemu saja di ruang kaca lagi ya" kata ku sambil beranjak dari duduk

***

setelah kembali ke ruang kaca aku dan dia menunggu lagi. namun tak lama ia dipanggil, sementara batch-batch FGD masih berjalan di setiap jam nya. aku menunggu saja, karena aku kedapatan jam 13.45, sehabis yang jam 13.00.

tibalah namaku dipanggil, wawancara dan pesentasi aku lalui biasa saja dan dengan tenang. sudah jelas interviewer mengutarakan maksudnya di awal wawancara. ia hanya ingin melihat profile pelamar dengan kesesuaian yang dibutuhkan program ini. ya aku pikir apa adanya saja, kalau tidak cocok ya sudah. kalau cocok ya Alhamdulillah.

setelah presentasi dan wawancara selesai, aku langsung kembali ke hotel. aku akan kembali ke Bandung besok subuh. jadi sampe Bandung langsung ke kantor. tidak lupa aku kabari boss ku kalau aku lolos FGD hingga ke presentasi dan wawancara. serta berterimakasih atas kesempatan yang ia berikan. 

saat aku sedang merebahkan tubuh di tempat tidur. Fajri memngirimkan message lagi via LINE. aku hanya tersenyum dan sedikit menggelengkan kepala. disaat yang bersamaan aku juga meladen WA boss ku yang memberikan aku tugas ini dan itu karena besok ia akan cuti. 

Fajri membalas LINE dengan menjawab pertanyaan terakhir ku darimana ia tahu aku lolos FGD

Tadi gue liat
Gimana sa lancar ?

Buset, liat dimana ?
ya gitu lah.. biasa aja hehe

Pas jalan keluar parkir
Positif masuk gak sa ?

Gak tau... woles sih gue mah haha

Hehe
Gue yang cemas si
Put an expect so high

hehe. gue orang yang sangat sering gagal Jri. Until I don't mind anymore about the result, just focus on process and what I can learn from that

But you give some lesson learned for people who put really ambicoius on it kayak gue sa
hahaha

hehe, mungkin beda menyikapi ya Jri. tapi tenang aja, tidak ada jawaban yang salah.semua jawaban adalah benar :P sederhana aja sih gue mah, kalau gak rejeki ya gak lolos, kalau rejeki ya lolos. but it;s good for you to keep up your spirit, be optomistic. I'm not a pessimist, just realistic :) so. I don't have space for dissappoinment, I just have space for growing from failure, until one day I meet the the best success that God has arranged

i'm just realizing that you are cooler than I thought

santai.. rejeki sudah ada Yang Maha Mengatur :)

Yes sa. But mudah-mudahan kita masuk program bareng ye

iya Amin, Insha Allah kalau memang itu yang terbaik menurut Tuhan



Bandung, 13 November 2016
Dari aku, duniaku dan penghayatanku
irsa ikramina