Belajar
dan membaca sudah menjadi nafas bagi kehidupan ku. Pengalaman menyusun skripsi
dengan metode kualitatif ternayata begitu memengaruhi ku secara mendalam. Hidup
ini memang selalu menjadi peneliti kualitatif rasanya. Belajar memahami kehidupan
dan manusia, juga secara mendalam.
Belakangan ini aku sedikit keluar
dari “kampung halaman” ku. Belajar dan berkecimpung di dunia bisnis. Menarik ?
ya juga. Malah aku belajar memperhitungkan setiap langkah dari dunia bisnis
ini. Nyaman ? tidak. Seni dan psikologi tidak memadang segala hal dari sudut
padang keuntungan (kecuali psikologi industri mungkin). Sedangkan di bisnis,
aku harus menggunakan kacamata itu. Padahal, tidak selalunya hidup ini berdiri
di atas azas keuntungan, ada juga azas manfaat. Seni dan psikologi dekat dengan
filsafat. Di bisnis apa perlu filsafat ? aku rasa tidak. Sisi manusiawi ku
lebih merasa terancam di dunia bisnis daripada dunia kampung halaman ku. Walaupun
tidak selalu dan semua, tapi di dunia bisnis aku menemukan orang yang
mengedepankan kehendak pribadinya dengan mengabaikan sisi manusiawinya terhadap
manusia lain khusunya yang dipekerjakannya. Seperti kehidupan di korporasi
besar yang pernah aku rasakan dengan kemelut politik dan intriknya.
Aku tidak bilang ya orang yang
berkecimpung di dunia bisnis lantas adalah orang yang kejam. Tidak. Jika kepemimpinan
dan manajemennya baik, mereka akan sangat berjasa dalam memberikan kontribusi positif
kepada market dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Hanya saja,
seperti tidak sejalan dengan apa apa yang diajarkan di kampung halaman ku,
yaitu seni dan psikologi.
Tapi jangan salah, kemasan bisa
profesi tapi jiwa bisa saja bisnis. Ya, misalnya seperti dokter yang mengeruk
keuntungan dengan berjualan produk obat melalui resep yang dituliskannya
padahal tidak terlalu perlu atau mempraktekan orto padahal bukan
spesialiasasinya demi menarik banyak pasien yang sebteulnya jumlahnya sudah
sangat overload untuk ia tangani sendiri. Ada juga dokter-dokter yang sangat idealis,
bagi mereka kebahagiaan adalah ya mengobati pasien, mereka juga tidak terlalu
hitungan kepada pasien ya yang penting pasien lekas sehat. kalau di dunia
musik, akan terpecah menjadi dua lagi. Yang naluri bisnis kuat akan lari kepada
industri musik “yang sesungguhnya” sedangkan musisi yang bersifat “nyeniman”
mereka tidak terlalu kejar setoran semacam itu. Yang penting bisa berkarya yang
idealis, bemain musik dengan nyaman dan dapat menghibur pendengar itu saja
cukup. Om Arbain Rambey juga pernah mengatakan pada ku kalau dalam dunia
fotografi, ya ada dua macam. Yang berada pada jalur profesional akan selalu
menyesuaikan keinginan klien dan berkaitan dengan rupiah. Tapi kalau nyeniman
banget yang tidak terlalu memikirkan hal itu. Berkarya lah sepuasnya
Sekali waktu aku pernah berkunjung ke
kampus lain dalam rangka peluncuran buku dan interpretasi seni salah satu teman
ku yang berprofesi sebagai dosen di sana. Tentu saja teman ku ini berada pada
dunia yang sama dengan ku. Ia musisi, filsuf dan penulis. kebiasaan buruk ku
memang selalu saja naif, aku pikir akademisi ya akademisi. Tapi ternyata tidak.
Agak terkejut juga melihat kemasan akademisi, namun jiwanya adalah korporasi. Semuanya
sangat terlihat dari cara bicara, isi pikiran dan gelagatnya. Ya karena aku
pernah bekerja di korporasi besar jadi tahu jenis manusia dan iklminya seperti
apa. Si akademisi berjiwa korporasi malah mengungkapkan kecewa bahwa
universitasnya akan digolongkan menjadi PTN bukan PTS lagi. semakin saja
menguatkan pikiranku. Pantas saja teman ku ini pernah bilang kalau ia mau menduduki
jabatan yang lebih tinggi untuk merubah situasi di sana yang menurutnya sudah
terlalu bisnis.
Tidak ada yang salah dengan
heterogennya pilihan-pilihan itu. Hanya saja aku semakin lama semakin memahami.
Darimana asal ku dan kemana aku akan pulang meskipun merantau menimba ilmu ke
berbagai bidang. Not bad mencoba merantau jauh dari kampung halaman. Semakin membuka
pandangan dan memahami kehidupan dan manusianya di dalam bidang-bidang
tersebut. Bagaimana pun, psikologi itu universal, karena idealismenya memahami
manusia. Justru harusnya lulusan psikologi bersifat generik. Mampu beradaptasi
di segala bidang kehidupan manusia. Hanya saja, semua berpulang pada kesediaan
manusia yang bersangkuan. Psikologi tidak hanya terampil menggunakan alat tes,
tidak hanya berurusan dengan HR. Tapi harusnya lebih dari itu. Dengan merantau
seperti ini, aku bisa mencapai idealisme psikologi yaitu memahami manusia. Jadi
tidak sempit hanya pada mengetes dan tek
tek bengek HR. Toh, ilmu nya juga malah manfaat dengan mencoba berbagai
bidang. Misalnya saja dalam dunia bisnis ini, meskipun tidak sesuai dengan
jiwaku, tapi memberi kan pemahaman lebih pada proses bisnis dan strategi bisnis
apapun, sehingga kalau aku harus kembali mengenakan “kemasan” HR di suatu
korporasi (meskipun aku bukan mental korporasi) aku akan mampu beradaptasi pada
industri dan proses bisnis apapun. Ya, HR memang harusnya produk generik yang
mampu beradaptasi pada industri dan proses bisnis apapun. Mungkin kampus ku meluluskan
sarjana psikologi yang terlalu klinis atau memang mentalku terbentuk kilinis
sepanjang proses kuliah, sehingga ketika menjadi HR perlu waktu untuk memahami
dan beradaptasi dengan proses bisnis dan industrinya untuk dapat “menyentuh”
manusia yang bekerja pada sistem tersebut.
Selanjutnya kemana kah aku akan
merantau ? aku pun belum tahu pasti. Apapun itu, semoga seluruh ilmunya dapat
terintegrasi dengan baik untuk dapat mencapai keuntungan eh, manfaat J ya, karena aku jiwa yang menganut
azas manfaat, karena hanya dengan manusia yang menjadi manfaat di dunia dapat
selamat di kehidupan yang selanjutnya.
Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 15 Desember 2014
Irsa Ikramina