aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Friday, December 19, 2014

Aku, seniman yang mewaqafkan 40 jam seminggunya di dunia korporasi

           Jika seniman pada umumnya, atau siapapun yang menyebut dirinya seniman, atau yang dikenal sebagai seniman setiap jam dalam hidupnya ia waqafkan untuk berkarya. Aku bukan seniman yang seperti itu. aku harus mewaqafkan 40 jam seminggu dalam hidupku untuk korporasi. Itu belum termasuk loyalitas.
            Sampai kapan aku akan seperti ini. Aku pun belum tahu. Belum bisa berandai-andai. Hidup memang harus punya rencana dan strategi pencapaiannya. Tapi hidup ku tidak sesederhana itu. tarik menarik antara passion dan desakan kehidupan terus saja mendesak ku. Tapi aku tidak akan kalah. Aku malah menyadari suatu hal, bahwa tidak semua seniman memiliki seluruh waktu dalam hidupnya untuk berkarya. Tidak selalunya seniman menjadi satu kesatuan entitas dan eksistensi. Bagi seniman seperti ku. Seniman adalah eksistensi jiwa ku. Tapi entitas atau atribut yang dikenal dari diri ku bisa saja berupa akademisi, korporasi, profesi. Bisa apapun.
            Apakah aku merencanakan kembali ke dunia korporasi ? tentu saja tidak. Tapi anggaplah, ketika aku memutuskan untuk mewaqafkan sebagian waktu ku di korporasi, itu adalah upaya memperkaya pengalaman batin, karena penting bagi seniman agar dapat menciptakan karya yang lebih dalam, lebih bermakna, tidak sekedar indah tapi juga menggugah emosi estetik.
            Selama aku mencintai seni, selama aku selalu ingin berkarya, selama aku mudah tergugah dengan emosi estetik dari suatu karya, selama aku selalu merasa damai ketika berada di tengah perkumpulan seniman dan  selama aku merasa “pulang” ketika berada ditengah diskusi filsafat atau bedah karya seni serta apresiasi seni, selama aku merasa “charging” ketika di tengah pameran karya seni. Maka aku akan selalu menjadi seniman, apapun entitas ku. Ya.. setidaknya bagi diriku sendiri.


Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 19 Desember 2014
Irsa Ikramina

            

No comments:

Post a Comment