Jika seniman
pada umumnya, atau siapapun yang menyebut dirinya seniman, atau yang dikenal
sebagai seniman setiap jam dalam hidupnya ia waqafkan untuk berkarya. Aku bukan
seniman yang seperti itu. aku harus mewaqafkan 40 jam seminggu dalam hidupku
untuk korporasi. Itu belum termasuk loyalitas.
Sampai kapan aku akan seperti ini.
Aku pun belum tahu. Belum bisa berandai-andai. Hidup memang harus punya rencana
dan strategi pencapaiannya. Tapi hidup ku tidak sesederhana itu. tarik menarik
antara passion dan desakan kehidupan terus saja mendesak ku. Tapi aku tidak
akan kalah. Aku malah menyadari suatu hal, bahwa tidak semua seniman memiliki
seluruh waktu dalam hidupnya untuk berkarya. Tidak selalunya seniman menjadi
satu kesatuan entitas dan eksistensi. Bagi seniman seperti ku. Seniman adalah
eksistensi jiwa ku. Tapi entitas atau atribut yang dikenal dari diri ku bisa saja
berupa akademisi, korporasi, profesi. Bisa apapun.
Apakah aku merencanakan kembali ke
dunia korporasi ? tentu saja tidak. Tapi anggaplah, ketika aku memutuskan untuk
mewaqafkan sebagian waktu ku di korporasi, itu adalah upaya memperkaya
pengalaman batin, karena penting bagi seniman agar dapat menciptakan karya yang
lebih dalam, lebih bermakna, tidak sekedar indah tapi juga menggugah emosi
estetik.
Selama aku mencintai seni, selama
aku selalu ingin berkarya, selama aku mudah tergugah dengan emosi estetik dari
suatu karya, selama aku selalu merasa damai ketika berada di tengah perkumpulan
seniman dan selama aku merasa “pulang” ketika
berada ditengah diskusi filsafat atau bedah karya seni serta apresiasi seni,
selama aku merasa “charging” ketika di tengah pameran karya seni. Maka aku akan
selalu menjadi seniman, apapun entitas ku. Ya.. setidaknya bagi diriku sendiri.
Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 19 Desember 2014
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment