Tidak
terasa, sebulan sudah aku menempa diri di dunia industri. Dunia yang menuntut
serba cepat, rasional, sistematis serta prosedural. Ya tentu saja hal tersebut
menggerus kepekaan emosi dan afeksi terhadap manusia. Behavioristik menekan
humanistik. Meskipun dunia industri menempa soft skill dan kompetensi, tapi di
saat yang bersamaan, di sisi lain, ada nilai, etik dan idealisme profesi yang
tersudut. Memahami manusia dengan menggunakan kacamata kepentingan korporasi,
bukan memahami eksistensinya.
Sampai detik ini, aku mempersepsi
diri ku bahwa aku belum berjiwa industri, bahkan aku belum memilikinya. Mungkin
karena aku terlalu berpegang teguh pada nilai-nilai profesi. Ntahlah, industri
di mata ku tetap saja, “terlalu” rasional. Banyak hal yang aku lihat, aku
dengar, aku alami tidak sesuai dengan hati ku. Banyak juga tuntutan dari
pekerjaan ku yang membuat aku mengalami konflik super ego. Berapapun lamanya aku
hidup di industri. Aku hanya selalu mengingatkan diri ku, bahwa apa yang aku
tampilkan pada setting industri hanyalah sebatas peran dan tuntutan kerja, aku
tidak ingin menginternalisasi begitu dalam nilai-nilai industri sampai merubah
kepribadian dan cara pandang ku seperti manusia manusia yang telah terlalu
dalam terbentuk oleh industri. Cukup sebatas menempa diri untuk meningkatkan
skill dan knowledge. Yah, mungkin juga sedikit mental, karena harus menghadapi
berbagai macam orang yang... ntahlah.. sulit ku jelaskan.
Atasan langsung ku terus terang saja
sangat industrial mindset, didukung oleh latar belakang pendidikan yang lebih
tinggi dan sesuai bidangnya, jabatannya, serta memang kompetensi manajerialnya
yang telah terasah dari pengalaman kerjanya. Menurut ku ia atasan yang sangat baik
hatinya, tapi terlalu rasional dan sanguinis sehingga mungkin sepertinya agak kesulitan
memahami duniaku yang banyak melibatkan emosi, afeksi, estetika, deep emphathy
dan juga idealisme profesi. Itu sebabnya ia bilang aku tukang galau, padahal
kenyataanya memang aku tidak serasional dirinya. Ia sabar karena ia berusaha
memahami duniaku yang sangat jauh dari industri. Karena kalau ia mau, bisa saja
ia mendepakku selepas masa percobaan ini, lantaran aku adalah manusia yang
sulit dipahami. Tapi aku rasa ia tidak akan menyerah. dalam hal pekerjaan, ia
tidak pelit ilmu, kapan pun dan apapun aku bertanya ia ajarkan. Ini salah satu
alasan aku bertahan di industri. Mungkin memang Tuhan ingin aku belajar sesuatu
di sini. Tuhan memberi aku mentor. Terus terang saja aku ngos-ngosan, mengikuti
ritmik kerjanya yang lari sprint sementara aku tipe pelari marathon. Tapi
selama Tuhan memberi kesempatan belajar ini, akan aku coba ikuti meskipun
berdarah-darah. Ia berlari maka aku ikut lari, ia jalan aku akan
mendampinginya, ia diam aku akan menemaninya.
Dari aku,
duniaku dan penghayatanku
Bandung, 9
Februari 2015
Tengah Malam,
pukul 00.27 di rumah atasan langsung ku.
Menjelang
dinas bersama geng dept.head.
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment