aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Friday, February 20, 2015

aku dan industri

         Tidak terasa, sebulan sudah aku menempa diri di dunia industri. Dunia yang menuntut serba cepat, rasional, sistematis serta prosedural. Ya tentu saja hal tersebut menggerus kepekaan emosi dan afeksi terhadap manusia. Behavioristik menekan humanistik. Meskipun dunia industri menempa soft skill dan kompetensi, tapi di saat yang bersamaan, di sisi lain, ada nilai, etik dan idealisme profesi yang tersudut. Memahami manusia dengan menggunakan kacamata kepentingan korporasi, bukan memahami eksistensinya.
            Sampai detik ini, aku mempersepsi diri ku bahwa aku belum berjiwa industri, bahkan aku belum memilikinya. Mungkin karena aku terlalu berpegang teguh pada nilai-nilai profesi. Ntahlah, industri di mata ku tetap saja, “terlalu” rasional. Banyak hal yang aku lihat, aku dengar, aku alami tidak sesuai dengan hati ku. Banyak juga tuntutan dari pekerjaan ku yang membuat aku mengalami konflik super ego. Berapapun lamanya aku hidup di industri. Aku hanya selalu mengingatkan diri ku, bahwa apa yang aku tampilkan pada setting industri hanyalah sebatas peran dan tuntutan kerja, aku tidak ingin menginternalisasi begitu dalam nilai-nilai industri sampai merubah kepribadian dan cara pandang ku seperti manusia manusia yang telah terlalu dalam terbentuk oleh industri. Cukup sebatas menempa diri untuk meningkatkan skill dan knowledge. Yah, mungkin juga sedikit mental, karena harus menghadapi berbagai macam orang yang... ntahlah.. sulit ku jelaskan.
            Atasan langsung ku terus terang saja sangat industrial mindset, didukung oleh latar belakang pendidikan yang lebih tinggi dan sesuai bidangnya, jabatannya, serta memang kompetensi manajerialnya yang telah terasah dari pengalaman kerjanya. Menurut ku ia atasan yang sangat baik hatinya, tapi terlalu rasional dan sanguinis sehingga mungkin sepertinya agak kesulitan memahami duniaku yang banyak melibatkan emosi, afeksi, estetika, deep emphathy dan juga idealisme profesi. Itu sebabnya ia bilang aku tukang galau, padahal kenyataanya memang aku tidak serasional dirinya. Ia sabar karena ia berusaha memahami duniaku yang sangat jauh dari industri. Karena kalau ia mau, bisa saja ia mendepakku selepas masa percobaan ini, lantaran aku adalah manusia yang sulit dipahami. Tapi aku rasa ia tidak akan menyerah. dalam hal pekerjaan, ia tidak pelit ilmu, kapan pun dan apapun aku bertanya ia ajarkan. Ini salah satu alasan aku bertahan di industri. Mungkin memang Tuhan ingin aku belajar sesuatu di sini. Tuhan memberi aku mentor. Terus terang saja aku ngos-ngosan, mengikuti ritmik kerjanya yang lari sprint sementara aku tipe pelari marathon. Tapi selama Tuhan memberi kesempatan belajar ini, akan aku coba ikuti meskipun berdarah-darah. Ia berlari maka aku ikut lari, ia jalan aku akan mendampinginya, ia diam aku akan menemaninya.

Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 9 Februari 2015
Tengah Malam, pukul 00.27 di rumah atasan langsung ku.
Menjelang dinas bersama geng dept.head.
Irsa Ikramina

              

No comments:

Post a Comment