aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Sunday, November 13, 2016

the real job and its journey to find

"ada waktu bicara sebentar bu ?"

aku dan boss menuju ruang meeting, agar bisa bicara 4 mata. 

"gimana sa ?"

"PT. Zencra (bukan nama sebenarnya) mengundang saya lagi bu, untuk rekrutmen tahap selanjutnya"

Sebelumnya aku sudah lolos tahap administrasi dan psikotes, kini aku diundang untuk tahap FGD dan apabila lolos, dilanjutkan tahap presentasi dan wawancara HR.

"Ya sudah, kapan ?"

" Lusa, tapi nampaknya saya harus izin 1 hari penuh bu. karena saya diundang ke Jakarta"

"Lusa kamu ada jadwal  psikotes, wawancara, meeting  atau ada schedule penting ?"

"nggak ada bu. clear"

"ok, berangkatlah. saya beri kamu izin."

Mungkin ini memang terdengar aneh, mana ada boss yang membiarkan dan memberikan kesempatan anak buahnya melamar di tempat kerja lain. tentu saja ada peristiwa yang mendahului. 

Boss ku menjunjung tinggi keterbukaan mengenai kendala kerja atau ketidaknyamanan kerja. Jelas hal ini aku manfaatkan dengan baik, aku ungkapkan bahwa penghasilan yang aku dapat saat ini tidak bisa mengejar inflasi yang terjadi. aku tidak bilang gaji ku kecil, karena itu tidak ada dasar ukuran dan kriterianya. tapi, dengan kondisi ku sebagai tulang punggung keluarga, tentu penghasilan saat ini tidak terlalu banyak membantu untuk jalannya operasional hidup. ya, memang dari tahun 2015 ke 2016 aku mengalami kenaikan gaji, tapi kenaikan itu tidak dapat membantu untuk menghadapi naiknya harga-harga kebutuhan pokok. mungkin apabila aku adalah seorang anak yang tinggal di rumah orang tua dan hanya mengeluarkan uang untuk makan siang dan ongkos, gaji yang diterima ku saat ini masih terbilang cukup. begitulah hidup, setiap orang punya tuntutan masing-masing. tentu aku tidak gegabah untuk sekedar lompat sana lompat sini berganti pekerjaan hanya karena penghasilan, aku sempat tanya ke boss prospek kenaikan gaji di tahun 2017 dikisaran angka berapa. aku sudah dapat kisaran angka kasar dan itu masih belum dapat membantu.

aku tidak bilang perusahaan ku tidak bisa memberikan kesejahteraan dan aku tidak bilang aku tidak betah karena hal tertentu di perusahaan saat ini. soal kesejahteraan, semua juga tergantung profit dan growth dari perusahaan, saat ini perusahaan tempat ku bekerja masih start - up. ya jadi jangan menuntut digaji dan diberi fasilitas seperti perusahaan ternama yang sudah established. kemudian soal tidak betah, ah, kerja dimana-mana ada saja kok hal mengesalkan dan menyebalkan. hal tersebut tidak dapat dihindari, tinggal seberapa besar ambang toleransi kita menghadapi hal itu. ini memang subjektif, tiap orang beda-beda. tapi bagi ku, hal-hal yang aku hadapi di perusahaan tempat ku bekerja saat ini ya masih dalam taraf dapat dimaklumi, berubah sistem, berubah kebijakan, pengurangan orang, berubah struktur. ya, masih mencari pola untuk established, membangun pondasi. belum bicara improvement. kerja di tempat seperti ini harus tahan dengan perubahan yang terjadi begitu cepat, dan kadang tanpa dasar karena trial dan error. terlebih, jajaran manajemen secara usia belum ada yang mengunjak usia kepala 4. tapi seperti kataku tadi, masih dalam taraf dapat dimaklumi dan ditoleransi. 

keputusan ku untuk meninggalkan perusahaan aku pikir sudah didasari alasan-alasan yang rasional, bagaimana aku bisa konsen memecahkan pemasalahan di kantor kalau aku masih diganggu pikiran-pikiran bagaimana bayar token listrik, LPG, beli bahan masak, belanja bulanan dll. skala rumah tangga yang aku pikirkan, bukan skala pribadi. boss ku dapat mengerti kondisi ku, sehingga ia merelakan aku mencari tempat kerja yang lebih baik. 

" I'm not leaving because of neither my leader nor my team, but I have to leave because I have resposibility, as a breadwinner. In fact, this company can't help me for this, so why I still help this company to grow ? "

***


"saya diundang FGD, dimana saya harus menuggu ?" tanya ku kepada resepsionis di lobby

"boleh pinjam KTP nya ?" 

setelah aku memberikan KTP, aku diberi tanda pengenal sebagai peserta tes yang aku langsung gantungkan di leher ku. ketika aku hendak duduk di sofa lobby, tiba-tiba ada yang memanggilku

"irsa !"

aku menoleh ke arah suara memanggil ku

"hei Fajri !" 

kami adalah teman kuliah, satu angkatan. sudah lama kami tidak bertemu. di group LINE Psikologi 2009 namanya baru saja disebut-sebut karena teman-teman mengucapkan selamat kepadanya atas wisuda S2 nya. waktu S1 pun, Fajri adalah lulusan tercepat diantara angkatan 2009. I think he is an achiever, and that's good. sangat bertolak belakang sekali sekali dengan aku. 

"Eh sorry ya, gue gak aktif di group jadi belum ngucapin selamat. selamat ya !"

"hehe, iya terimakasih"

tidak lama, kami diminta pindah ke ruangan lokasi tempat kami FGD. Ruangannya dikelilingin kaca, sehingga kami bisa lihat pemandangan taman, banyak tempat duduk, ada AC nya jadi tetap sejuk. disitulah tempat kami menunggu dipanggil ke dalam ruangan tempat FGD. ternyata ada banyak batch. Fajri adalah batch jam 08.30 sedangkan aku adalah batch jam 09.30. dan ntah sudah berjalan berapa banyak dan semenjak hari apa seleksi FGD ini berjalan. kami menunggu bersama peserta tes lainnya, mayoritas dalam ruang kaca itu batch nya Fajri, jadi memang nampaknya aku kepagian

"eh lu bawa mobil jri ?", tanyaku

"iya, gila. Moh. Toha macet parah banjir. gue brangkat jam 7 sampai jam 3 subuh"

"Walah, gue sih kemarin juga berangkatnya. jam pulang kantor langsung ke Dipatiukur. memang hujan sih. yang tadinya mau naik gojek, malah terpaksa pake uber dan mana harganya lagi peak. but so far lancar-lancar aja."

"Duh, gue ngerasa tua umur nih", kata Fajri gelisah

"tua gimana ? kita kan emang udah tua ?" kata ku bercanda tapi memang fakta

"iya, kan aneh. Fresh Graduate tapi kok usia 25"

"oohh... ya santai aja kalik. itu kan hanya pilihan. gue belum S2. tapi memang di kolom experienced gue sudah bisa isi sesuatu. hehe" kata ku sedikit mengejek dan tertawa ringan. pikir ku, ktu tidak perlu digalaukan. kan itu sudah pilihan dan konsekuensi.

"lu gak mau jadi dosen Jri ?"

"wah, sudah ada yang menawarkan sih sa. Unisba dan Unpad"

"So, Why didn't you pick it ?"

"Gue Money Oriented

"ah, I see."

"Lu sendiri gak mau sa jadi dosen "

"Lah lu gimana sih, S2 aja belum"

"nah kenapa juga lu gak S2 sa ?"

aku sedikit tersenyum sebelum menjawab ini

"Gue punya tanggungan, perlu fixed income. Gak bisa putus penghasilannya. sementara untuk S2 kayanya harus putus kerja"

"Iya sih..." Jawab Fajri

tidak lama, ada orang yang muncul dari dalam ruangan yang menyebutkan nama-nama untuk FGD selanjutnya dan diminta bersiap-siap. ada nama Fajri disebutnya.

"kok nama lu gak disebut ya sa ?"

"lah kan beda batch, itu pasti dia absen dulu kehadiran  batch elu Jri"

"Oh Iya.."

"Eh, kalau boleh tau penghasilan lu berapa sa ?"

Aku jawab dengan angka dalam range

"Emang segitu gaji buat pengalaman ?" Fajri agak sedikit terkejut

aku tersenyum

"Jri, semua juga tergantung pengalaman dan pendidikan kita, juga.. kemampuan perusahaan. kalau perusahaan belum established. profit masih kembang kempis. ya masak lu mau mau nuntut gaji perusahaan established. beda keleus. kalau lu money oriented , langkah lu sudah tepat apply perusahaan besar seperti ini. kalau kerja kaya gue sekarang, memang banyak belajar soal membangun sistem, prosedur, membentuk budaya persahaan dll. tapi jangan harap soal kesejahteraan, itu hanya soal pilihan kok. sekarang gue tanya, lu minta gaji berapa ?"

Fajri sebutkan angka 

"nah, kl lu apply ke perusahaan gue, belum tentu perusahaan gue dengan angka segitu bisa kasih meski lu S2. karena masalah kemampuan perusahaan dan.. grading di perusahaan itu. kalau di perusahaan yang grading system nya sudah bagus. gaji akan diperhatikan dari kondisi kita, lu karena pendidikan, gue karena pengalaman. beda komponen bro. jadi kalau berbicara Take Home Pay ya kompleks kalau kita mau lihat grading dan komponen tunjangan, juga kondisi perusahaan "

Fajri diam saja. Entah mengerti atau tidak dengan penjelasan ku atau mungkin masih mencerna kenyataan hidup yang ada di dunia industri. 

Tidak lama, Batch Fajri dipanggil untuk FGD. 

"Good Luck ya !" kataku memberi semangat

aku perhatikan sekitar dan sedikit juga berbincang dengan pelamar lainnya. kebanyakan mereka adalah Fresh Graduate S1 dan S2 tanpa pengalaman, dan juga banyak yang tidak tahu soal HR. tapi hal ini tidak membuat aku merasa bisa dan yakin, biasa saja. bagaimana kalau program ini memang mencari Fresh Graduate karena mereka mau membentuk dari 0. itu sebabnya aku tenang-tenang saja, serahkan pada Tuhan. yang penting lakukan yang terbaik.

sebagian dari mereka menggalaukan soal FGD ini, banyak yang belum pernah. ya, begitu juga dengan aku. tapi ya aku enteng-enteng saja.

"mbak sudah pernah FGD ?" ada mas-mas yang bertanya kepada ku dengan wajah dan intonasi gelisah

"belum, ini yang pertama. santai aja mas. saya juga belum pernah kok"

"oohh begitu ya mbak"

dalam hati ku, dasar Fresh Graduate galau.  

tiba saat batch ku untuk FGD, aku lakukan saja yang terbaik. ketika aku selesai, Fajri juga keluar dari ruangan presentasi. ternyata Fajri sudah lolos FGD dan lanjut ke presentasi.

"wah, sudah presentasi nih... " komentar ku

"iya, lu gimana tadi sa FGD ?"

"ya gitu aja, biasa aja. udah beres ya. nanti selanjutnya gimana katanya ?" tanya ku

"ya nanti tunggu kabar via email kalau lolos ke tahap selanjutnya"

"oohh begitu ya"

"lu lolos FGD sa ?"

"ya belum tahu, makanya ini masih nunggu. lu mau cabut sekarang ? enak balik sekarang sih nggak akan macet" kata ku

"enggak lah, mau nungguin lu dulu sa", katanya sambil nyengir

aku hanya tersenyum, nampaknya dia penasaran apa aku lolos atau tidak. ada-ada saja. karena lama, akhirnya dia menyerah. 

"gue duluan deh sa"

"ohh yowes.. hati-hati ya"

tidak lama Fajri pergi meninggalkan ruang kaca, ditempel lah nama-nama yang lolos FGD pada batch ku. ternyata hanya lolos 2 orang. dan termasuk ada nama ku. yang tidak lolos FGD berarti tidak melanjutkan ke tahap presentasi dan wawancara. 

tiba-tiba saja di LINE ku ada message masuk dan itu dari Fajri. 

Selamat Sa. Masuk ya

Jujur aku agak bingung dia tahu darimana, tapi kemudian aku balas

Weits, kok tau ? iya nih Alhamdulillah :)

Yang tidak lolos mengucapkan sampai jumpa lagi dan kami-kami yang lolos (Saat itu ada 3 orang, 1 dari batch sebelumnya dan 2 dari batch ku termasuk aku). kami masih menunggu di ruang kaca. kami dapat giliran presentasi dan wawancara setelah jam makan siang, kami diberi kupon makan siang yang bisa ditukarkan di kantin atau di Raffles dengan ruang kaca. kami malas jalan ke kantin dan memutuskan untuk menukarkan kupon makan siang di Raffles. 1 orang dari kami yang jadwal presentasinya lebih sore diantara kami memutuskan untuk makan siang di luar bersama temannya. dan hanya tinggal aku dan 1 orang saja memilih stay. sambil menghabiskan santap siang, kami mengobrol. awalnya dia tidak tahu kalau aku lebih tua darinya. setelah menyebutkan nama, asal univ dan angkatan. dia langsung memanggil aku dengan sebutan "kak". 

"ini adalah satu-satunya perusahaan yang rekrutmennya aku sudah jauh kak"

aku tersenyum, "saya sudah sering gagal waktu seusia kamu"

"oia kak ? berapa lama kak dapet kerja waktu itu ?"

"kalau dihitung dari Sidang yang 6 bulan, kalau dari Wisuda ya 4 bulan."

"eh, rekrutmen ini cepat juga ya proses nya. waktu itu kita psikotes senin lalu kan ya"

"Wah lupa kak aku, maklum pengangguran jadi lupa hari"

"hehe, iya. saya harus ninggalin pekerjaan sih ya, jadi saya ingat hari apa"

"nanti kalau aku ditanya mau ditempatkan dimana aku jawab apa ya kak ?"

aku tertawa kecil, mungkin dia lupa. aku ini juga praktisi HR yang juga sering mennayakan kesiapan pelamar untuk ditepatkan dimana

"ya, jawab saja apa adanya. memang kamu tidak siap ditempatkan dimanapun ?

"aku mau di Jakarta sih, biar mandiri aja"

"ooh jadi keluarga semua di Bandung ya. Loh, memang kalau selain Jakarta jadi tidak mandiri ? kan, sama-sama jauh dari keluarga" tanya ku sambil tersenyum. iseng saja mengejar jawabannya"

"hehe iya sih. soalnya kalau di Jakarta itu banyak temen kak"

"oohh jadi karena itu... "jawabku sambil tersenyum iseng dan mengangguk

"menurut kakak, mending langsung S2 tau kerja dulu baru S2 ?"

"kamu mau tau pendapat saya ? baiklah, tidak ada yang lebih baik. semua hanya pilihan yang memiliki konsekuensi masing-masing. tapi bagi saya yang kerja dulu, saya jadi lebih mengenal hidup, banyak ragam orang dan dunia kerja lebih dulu yang tidak diajarkan di perkuliahan. dan itu membuat proses pematangan pribadi lebih cepat. baru nanti di upgrade lagi dengan ilmu dan pola pikir yang diajarkan di S2."

"iya kak, aku juga mau kerja dulu, baru nanti disekolahkan sama perusahaan seperti mama ku."

"oh, mamanya disekolahkan sama perusahaan ya. memang kerjanya dimana ?"

ia menjawa perusahaan BUMN terbesar di Bandung. 

"oh, pantas. mudah-mudahan kamu juga bisa seperti mama ya. Amin"

"iya kak Amin"

"oia, kenapa kakak cari pekerjaan lagi ?" tanya dia penasaran

"biasalah. cari lagi yang lebih baik. tentu perjalanan karir harus diiringi peningkatan ilmu dan penghasilan. bukan sekedar gengsi buat keren-kerenan kerja di perusahaan ternama dan besar. kerja itu cari nafkah buat keluarga, kalau memang kita bisa bawa pulang lebih besar lagi dan berkah kenapa tidak ? kan nasib kita sendiri yang mengubahnya. begitu juga di tempat kerja, kalau kita bisa memberikan banyak kontribusi untuk growth perusahaan tandanya kehadiran kita manfaatnya sangat dirasakan. ada waktunya diamana kita harus memberikan manfaat di tempat lain, jadi ya, kerja itu bagi saya buat jadi mata air keluarga dan tempat saya kerja. kalaupun toh saya mulai mencari, karena memang sudah waktunya, untuk menuju yang lebih baik. hijrah kan memang selalu ke tempat yang lebih baik"

dia diam saja. kemungkinannya dia tidak mengerti atau tidak mempedulikan

"yasudah, kamu presentasi jam 13.00 kan. saya mau solat dulu kamu mau ikut ?"

dia menggeleng

"nanti ketemu saja di ruang kaca lagi ya" kata ku sambil beranjak dari duduk

***

setelah kembali ke ruang kaca aku dan dia menunggu lagi. namun tak lama ia dipanggil, sementara batch-batch FGD masih berjalan di setiap jam nya. aku menunggu saja, karena aku kedapatan jam 13.45, sehabis yang jam 13.00.

tibalah namaku dipanggil, wawancara dan pesentasi aku lalui biasa saja dan dengan tenang. sudah jelas interviewer mengutarakan maksudnya di awal wawancara. ia hanya ingin melihat profile pelamar dengan kesesuaian yang dibutuhkan program ini. ya aku pikir apa adanya saja, kalau tidak cocok ya sudah. kalau cocok ya Alhamdulillah.

setelah presentasi dan wawancara selesai, aku langsung kembali ke hotel. aku akan kembali ke Bandung besok subuh. jadi sampe Bandung langsung ke kantor. tidak lupa aku kabari boss ku kalau aku lolos FGD hingga ke presentasi dan wawancara. serta berterimakasih atas kesempatan yang ia berikan. 

saat aku sedang merebahkan tubuh di tempat tidur. Fajri memngirimkan message lagi via LINE. aku hanya tersenyum dan sedikit menggelengkan kepala. disaat yang bersamaan aku juga meladen WA boss ku yang memberikan aku tugas ini dan itu karena besok ia akan cuti. 

Fajri membalas LINE dengan menjawab pertanyaan terakhir ku darimana ia tahu aku lolos FGD

Tadi gue liat
Gimana sa lancar ?

Buset, liat dimana ?
ya gitu lah.. biasa aja hehe

Pas jalan keluar parkir
Positif masuk gak sa ?

Gak tau... woles sih gue mah haha

Hehe
Gue yang cemas si
Put an expect so high

hehe. gue orang yang sangat sering gagal Jri. Until I don't mind anymore about the result, just focus on process and what I can learn from that

But you give some lesson learned for people who put really ambicoius on it kayak gue sa
hahaha

hehe, mungkin beda menyikapi ya Jri. tapi tenang aja, tidak ada jawaban yang salah.semua jawaban adalah benar :P sederhana aja sih gue mah, kalau gak rejeki ya gak lolos, kalau rejeki ya lolos. but it;s good for you to keep up your spirit, be optomistic. I'm not a pessimist, just realistic :) so. I don't have space for dissappoinment, I just have space for growing from failure, until one day I meet the the best success that God has arranged

i'm just realizing that you are cooler than I thought

santai.. rejeki sudah ada Yang Maha Mengatur :)

Yes sa. But mudah-mudahan kita masuk program bareng ye

iya Amin, Insha Allah kalau memang itu yang terbaik menurut Tuhan



Bandung, 13 November 2016
Dari aku, duniaku dan penghayatanku
irsa ikramina

Sunday, August 28, 2016

ibadah 2

ibadah.
dan lagi. ini soal hati dan niat.
bukan sebatas ritual, atau sekedar menggugurkan kewajiban, atau juga sekedar formalitas belaka, atau sekedar melakukan karena tekanan publik.

wadah ibadah begitu banyak dalam hidup ini. selain bekerja...  ah, menikah. itu juga sering digadang-gadangkan sebagai ibadah. ya memang benar. tapi soal hati ? memang hanya Tuhan yang tahu. 

***

aplikasi LINE ku terus berdering, bahkan belakangan ini terlalu sering. Group Psikologi 2009 sedang ramai. paling tidak tahun ini memang, yang dibicarakan di group itu kalau tidak soal lowongan pekerjaan ya undangan pernikahan. wajar, usia rata-rata mencapai seperempat abad. sudah saatnya menunaikan tugas perkembangan dewasa awal untuk memiliki hubungan intimasi membangun keluarga. 

lalu ?

ya kalau sedang ada uang dan waktu ya menghadiri. kalau tidak ya ucapkan saja selamat via apapun. maklum, kondangan memang tidak ada plafonnya di anggaran ku. karena memang gaji naiknya seuprit, tapi lonjakan harga kebutuhan begitu pesat dan tinggi. jadi bukan karena tidak peduli. tapi begitulah kalau berbicara realita hidup. tapi biasanya, aku akan berusaha menghadiri undangan teman-teman yang aku anggap penting, dekat dan berarti. karena sederhananya, aku juga ingin teman-teman yang aku anggap penting, dekat dan berarti juga ada saat hari bahagiaku nanti.

tidak hanya di kalangan rekan kuliah. momen ini juga sedang laris di kantor. beberapa rekan kerja ku satu ruangan juga  menikah tahun ini. 

"weeess.... kamu mau menikah to ?" kata manager sales dengan suara medok menggelegar. saat rekan kerja yang merupakan staff ku itu memberikan undangan pernikahannya

"eh, bentar lagi bu Indri juga looh paaak. kita kan cuma bentar doang waktunya" katanya mungkin ia berusaha mengalihkan perhatian

"iya pak, disini pada mau closing. emang opreasional doang yang closing. status single juga kudu di closing" jawab Indri.

aku seperti biasa sedang sibuk di depan laptop, jadi tidak menanggapi.

"nah loh, lu kapan sa ?" kata si manager sales itu yang masih berdiri di ambang pintu ruang HRD dan bukannya masuk ke ruangan saat mengobrol begitu. 

"iya pak, Insha Allah tahun depan" kataku datar sambil tetap sibuk dengan laptop.

setelah manager itu pergi. barulah ruangan HRD dihampiri kesejukan lagi. 

"heboh banget sih" kata Indri

"tau tuh.." kata staff ku itu

aku sedang sibuk dengan alam pikiran ku. kalau lagi buat konsep dan analisa. tidak suka terputus-putus. jadi tidak mau menanggapi hal yang remeh.

"bu, ini tandatangan dulu lah, biar aku bisa ke si boss besar minta acc"

"ok", aku cek berkasnya lalu tandatangan

cukup padat pekerjaan ku hari ini, aku harus lanjut buat Instruksi Kerja Penggunaan Mesin EDC. sebetulnya ini tugas supervisor departemen sebelah, supervisor finance. tapi disini aku tidak akan menceritakan kenapa fungsinya bisa amburadul. yang jelas, aku sibuk.

"eh bu, tadi pas aku minta tandatangan  ke ruangan sana kan manager lagi pada ngumpul, terus mereka tuh bercandanya parah banget deh"

aku sibuk memotret mesin EDC langkah per langkah dengan smartphone ku sesuai dengan instruksi kerja yang sudah aku ketik. aku kurang minat mendengarkan cerita staff ku, karena sudah tahu, di kantor ini antara tingkat jabatan dan gaya bercandanya ada ketimpangan. 

"iya bu, masa tadi pas minta tandatangan kan manager pada ngumpul tuh. terus kata si manager sales, aku suruh ajarin ibu supaya punya pacar. ya aku bilang, orang ibu punya kok, terus mereka kaya shock gak percaya gitu bu. kok mereka gitu sih"

"ohh ya dari dulu mereka memang begitu. biarkan aja" kataku sok tua seperti orang tua yang menanggapi cerita anaknya, sembari sibuk memotret mesin EDC

aku tidak heran dengan bercandaan seperti itu di kantor ini, hanya ada 2 gaya sosialisasi informal di kantor ini. kalau tidak bercanda seperti anak SMP ya seperti infotainment, selalu ingin tahu kehidupan pribadi orang lain. itu sebabnya aku lebih sibuk baca buku atau browsing hal menarik saat istirahat atau luang

"ya itukan harus diluruskan loh bu, masa jahat gitu" kata staff ku

"udah gak perlu, biarkan aja" kata ku tidak mau menanggapi hal remeh. 

"udah ashar kan ya, solat dulu deh", kata ku sambil beranjak untuk ke musola dan sedikit melirik ke arahnya. kasihan juga tidak ditanggapi. habis ya memang tidak penting untuk ditanggapi kok. hanya Indri yang akhirnya menanggapi ceritanya. tapi aku tak menyimak apa yang mereka bahas

***

"Hai maaaaa" kata ku sambil buka pintu rumah ketika pulang kerja

"Hai syaaaaa" jawab mama

"habis gak bekal makan siangnya?" kata mama

"habis dong. mandi solat dulu deh, eh minggu kondangan nih. staff di kantor ku nikahan" 

"oh iya ? dimana gitu ?"

aku tidak menjawab, karena sudah keburu masuk kamar mandi. sesudahnya, seperti biasa kita akan ngobrol santai sambil makan dan nonton TV. 

"eh si Firda mau married juga nih, hadeuh banyak banget kalau harus kondangan" kata ku sambil lihat medsos di smartphone

"temen irsa banyak yang mau nikah ?"

"banyaaak.. ni kalau diturut satu-satu gak akan bisa nih didatengin semua"

"are you worried ?" tanya mama

aku sambil tersenyum, sambil menatap layar televisi. aku paham pertanyaan ini arahnya kemana

"not at all, mom. Allah sudah atur. tenang aja, hanya soal waktu. disini aku juga sedang beribadah kok. ibadah kerja untuk cari nafkah, dikasih waktu lebih untuk bisa memuliakan ibunya. nanti kalau sudah waktunya ya menikah juga sama-sama ibadah. dalam bentuk yang berbeda. yang penting totalitas aja, sekarang tanggung jawab aku apa, kerja untuk cari rejeki buat kita, yasudah, itu ibadah aku. nanti kalau sudah menikah wadahnya lebih luas lagi, ibadahnya ke suami dan anak. tidak ada yang perlu diburu-buru disini. aku juga ingin memastikan kehidupan mama aman dan nyaman sebelum aku menikah, sistem keuangan kita terprogram dan jelas pfafonnya. karena ketika aku menikah bangun fondasi dan sistem yang berbeda lagi. tapi kalau segala sesuatu sudah siap, maka ya memang harus disegerakan. apalagi untuk ibadah dan menyempurnakan agama"

ada jeda tapi kami tidak saling menatap

"sekarang berapa banyak ma, orang yang diuji sama pernikahannya karena mungkin niat dihatinya bukan untuk ibadah. cuma buat cari pasangan, lah pasangan bisa siapa aja. bisa meninggal, bisa selingkuh, bisa dikasih gak harmonis ujungnya cerai. cuma buat punya anak, lah nanti kalau emang ditakdirkan gak punya anak ? anak bisa gak dikasih, bisa lahir tidak sempurna. sudah sekarang kira fokus sama ibadah kita ma, terus kita sama-sama berdoa, supaya bisa menyegerakan ibadah yang lain. Allah sudah memperhitungkan segala sesuatunya kok"

"iya.. mama juga akan fokus apa yang menjadi wadah ibadah mama saat ini dan semoga Allah selalu dekat dan mendegarkan doa kita. Insha Allah apa yang kita rencanakan selama tujuannya baik akan diberikan jalan"

"Amin"


Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 28 Agustus 2016

Friday, August 26, 2016

ibadah

Ibadah.

Umumnya identik dengan ritual. 
tapi ibadah bukan hanya persoalan ritual, ini urusan hati. niat dan keikhlasan.
ya, setidaknya dalam penghayatanku.

banyak orang mengatakan kerja itu ibadah.
aku adalah salah satunya diantara banyak orang itu. 
tapi benarkah setiap pekerjaan yang kita lakukan sudah benar-benar ibadah ?



****

"Maaf menganggu waktunya pak, boleh saya masuk ?" 

"ya" kata boss besar, yaitu atasan tidak langsung ku, sambil tetap menatap layar laptop. atasan langsung ku sedang cuti melahirkan. sudah 2 bulan ini tidak ada di kantor. jadi dengan banyak dan sedikit keterpaksaan aku harus berkoordinasi dan berkomunikasi dengannya

"begini pak, soal pencairan dana penghargaan dari pihak eksternal itu. mereka minta report realisasi kegiatannya. kalau yang saya pelajari dari surat resmi mereka, dana yang mereka berikan itu adalah 15 Juta yang harus dinikmati oleh karyawan cabang kita yang terbaik itu pak, sebagai bentuk apreasiasi dari kontribusi mereka"

"terus ?"

"pada kenyataannya, pada Surat Keputusan Direksi (SK) internal kita, dana yang dinikmati karyawan cabang hanya dianggarkan 3 juta dan memang mereka merealisasikannya dengan nominal yang tidak jauh berbeda melalui kegiatan buka bersama dengan anak yatim pak." kata ku dengan berat. karena aku juga baru tahu ada permainan seperti ini di jajaran management. selama ini yang aku tahu hanya SK internal saja, karena biasanya ini diurus oleh atasan langsung ku

"jadi bagaimana saya harus buat report nya pak ?" kata ku melanjutkan, belagak sok polos. padahal tahu ujungnya apa

"ya lo mark up aja lah, susah-susah amat sih !" kata dia menggampangkan

"tapi kan kenyataannya hanya 3 jutaan pak yang dihabiskan cabang, lagipula ini acara anak yatim loh pak. masa sih mau di mark up juga. ini kan kegiatan amal pak, bukan hura-hura.", kata ku yang masih menahan diri untuk coba mengikuti budaya indonesia, yaitu menjunjung tinggi kesopanan daripada kejujuran. sebab apabila aku boleh jujur, aku hanya akan bilang dengan sarkastik, "jadi integritas yang terpampang pada nilai perusahaan itu apa ya pak ?"

"udah, lo pake foto-foto acara lama aja kek, digabung-gabungin. susah amat sih !" seperti biasa menggampangkan tanpa ada kepekaan hati

aku tidak menjawab apa-apa. kembali ke ruangan ku. 

"menurut kalian bagaimana ?" aku meminta pendapat staff-staff di ruangan.

"Wah, pihak eksternal itu suka tahu loh bu kalau itu acara lama atau baru. lagiankan kita punya medsos acara apapun suka di upload."

benar juga. menggunakan foto kegiatan lain bukanlah pilihan dan solusi. 

aku merasa terhimpit dengan posisi ini. sungguh menguji super ego. aku merasa sedang sangat dilihat dan didengar Tuhan sekarang. seperti Ia sedang menunggu, apa keputusan yang akan aku ambil.

akhirnya aku coba menghubungi atasan langsung ku via Whatsapp. Dengan harapan ia bisa membantu ku. apakah ada jalan lain selain manipulasi data itu.

"kamu coba minta tolong pihak eksternal itu, ceritakan apa adanya. yang jelas kita mau mencairkan sisa uangnya" kata atasan ku memberi saran. ya, jadi kalau report ini tidak masuk ke mereka, sisa uangnya tidak akan cair.

sebetulnya aku malu melakukan saran atasan ku itu, juga tidak puas. orang mereka jelas-jelas sudah punya rules nya lalu kita sendiri melanggar  lalu minta keringanan. kalau dalam kondisi seperti ini, suka berharap tinggal di luar negeri saja. mentalitas yang di luar nalar.
tapi apa boleh buat, aku lakukan saja. dengan rasa sangat malu dan berharap ini tidak akan menimpa ku lagi hingga akhir hayat.

setelah aku coba hubungi. tentu saja mereka menganjurkan untuk buat acara lagi. yang penting dana itu benar-benar dihabiskan untuk dinikmati karyawan cabang. intinya adalah stick with the rules. ya sebetunya aku juga sudah tahu ujungnya. 

"bu, sudah ku coba. mereka stick with the rules."

"ya sudah, kalau gitu tidak ada jalan lain. kalau gitu memang harus mark up"

"saya takut bu"

"itu hal biasa kok, udah nggak apa-apa " jawaban yang sangat menggelitik nalar ku. kok salah dibiasakan ? jadi batas benar dan salah dalam hidup ini sudah saru dengan kebiasaan yang menjadi budaya. 

"saya bukan takut sama pihak eksternal itu, tapi saya takut sama Tuhan"

sudah dibaca tapi ada jeda lama untuk membalas. mungkin sembari berpikir.
tidak lama kemudian muncul balasan.

"bagaimanapun kamu benar. yaudah, kamu sampaikan hal ini ke boss besar. apa adanya" 

"baik bu, aku coba"

hari sudah sore, aku tidak langsung reaktif untuk menolak pekerjaan ini kepada boss besar. sepulang ke rumah aku banyak berpikir sembari tidak tenang batin. apa yang harus aku lakukan ? apa yang terjadi nanti ? apakah selama aku bekerja di industri dan organisasi akan selalu menghadapi ini ? aku memikirkan anak-anak yatim. kasihan mereka. dikasihnya cuma berapa tapi di laporan harus di mark up dengan bombastis. aku juga memikirkan karyawan cabang, yang sebetulnya mereka ada hak lebih yang bisa dinikmati. sungguh ini bukan hal yang benar, melanggar suara hati.

aku banyak bertanya pada diriku sendiri. karena jawabannya adalah aku sendiri, aku yang memutuskan, aku yang memilih. kalau memang niat ku kerja untuk ibadah, kenapa aku harus mengotorinya  ? aku hanya akan merusak nilai ibadah ku sendiri. 

apa sebetulnya yang terpenting dalam pekerjaan ? values atau performance ? di beberapa perusahaan yang menjunjung tinggi values, jika seseorang ditemukan melakukan violence integrity meski performance dan kontribusinya sangat tinggi bagi perusahaan. maka tamatlah riwayatnya. sebab, performance berkaitan dengan ilmu, pengalaman, skill yang sangat bisa diasah melalui program training dan coahing. tapi karakter dan values ? siapa yang bentuk ? ya diri kita sendiri. selagi masih muda, bentuklah karakter. sebab, ini yang akan kita bawa kemanapun kita bekerja, apapun karir dan profesinya. 

aku sempat menyesali kenapa harus bekerja diantara orang-orang yang tidak sadar values. tapi lantas kemudian aku berpikir. ya, mungkin hikmahnya karakter akan lebih ditempa dan dibentuk pada kondisi yang seperti ini. belajar memutuskan untuk mengikuti suara hati. 

ini juga soal keyakinan. kalau aku harus dipecat. toh rezeki sudah ada Yang Maha Mengatur. apalagi kalau memang kita memilih Tuhan, masa Tuhan tidak menjamin ?

aku belum cerita apa-apa kepada mama mengenai hal ini. karena, aku sadar betul ini adalah keputusan yang harus keluar dari hati nurani dan ini adalah urusan hatiku dengan Tuhan.

keesokan harinya, aku kerja seperti biasa. ada meeting tapi diundur. jadi aku ada waktu untuk memantapkan hati dan menelpon mama. 

"ma, siap-siap ya. aku mau menolak pekerjaan. khawatir aku dipecat atau diberikan surat peringatan setelah ini" ya, surat peringatan potong gaji soalnya. kalau sampai hal ini terjadi, maka jatah yang akan aku bawa pulang akan berkurang. 

"loh kenapa ?" 

aku ceritakan saja secara singkat. dan alasan terbesarku adalah aku takut sama Tuhan.

"ya, bilang aja seperti itu" mama setuju dan siap dengan konsekuensi

Waktunya  meeting, bersama boss besar dan juga seluruh tim HRD dan GA. seusai meeting aku mencari kesempatan untuk berbicara dengan boss besar. yang lain sudah kembali ke ruangan masing-masing, kecuali boss besar yang masih dengan laptopnya di ruang meeting.

"ah, kesempatan" kataku dalam hati. aku cepat-cepat ambil berkas yang diperlukan dan menghapirinya.

"maaf pak, saya minta waktunya sebentar"

"ada apa?"

"saya sudah coba lakukan seperti apa yang bapak minta. tapi maaf pak. saya tidak bisa. sebelumnya saya minta maaf. ini bukan maksud untuk menolak pekerjaan. tapi ini masalah hati. batin saya tidak tenang kalau harus melakukan hal ini"

"itu mah biasa, udah enggak apa-apa kok" lagi-lagi, membiasakan yang salah

"ya saya tahu"

"kamu sudah coba hubungi atasan kamu ?"

"sudah, dia juga bilang biasa"

"ya memang"

"tapi saya tetap tidak bisa pak, maaf. saya tidak takut dengan pihak eksternal itu. tapi saya takutnya sama Tuhan"

ada sedikit nuansa canggung yang terjadi diantara pembicaraan itu.

"Silahkan pak, saya sudah siapkan berkasnya. bapak tinggal tulis tangan saja angkanya disini"

dia nampak skakmat dengan jawabanku.

"ya sudah. coba kamu cari foto kegiatan cabang x, dia pernah ada acara bulan lalu. kalau kamu gak bisa, nanti saya saja"


***

"ini supervisor ibu kok menolak pekerjaan sih ? masa ngerjain gitu aja nggak mau" kata bos besar via telp ke ataan langsung ku

"yaiyalah pak, dia sudah benar. saya juga takut sama Tuhan." kata atasan ku

"yaiya ya bu.. saya juga takut sama Tuhan"



Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 27 Agustus 2016

Saturday, July 30, 2016

the happiest person

Definisi manusia akan bahagia. kadang terlalu bersandar dengan yang sifatnya materi. padahal, materi sifatnya tidak kekal. tidak kekal karena ya, hanya sebatas ciptaan saja, ciptaan manusia bahkan. yang dimana juga manusia juga sebatas ciptaan juga. hanya saja yang menciptakan itu Maha Hebat. jadi, apa tidak terlalu dangkal apabila manusia malah menyandarkan kebahagiaanya dari ciptaannya sendiri yang tidak kekal ? sebetulnya aku yakin manusia sudah banyak menyadari mengenai hal ini. hanya saja, belum menemukan cara yang tepat untuk bisa menyandarkan kebahagiaannya hanya kepada yang menciptakannya.

kebahagiaan adalah suatu proses yang sifatnya kontinu, bukan sebuah periode atau momen saja yang sifatnya seringkali dianggap temporal. kebahagiaan dimulai dari hal yang terkecil dari kenyataan yang dihadapi. karena manusia seringkali menggambarkan kebahagiaan dengan gambaran yang terlalu jauh dengan realita kesehariannya. sehingga kenyataan dan dan gambaran selalu memiliki kesenjangan yang tidak akan pernah menyatu dalam hidup.

aku sering bilang di dalam hati ku kepada Tuhan. "Thanks God, I'm the happiest person in this life because of today. I'm so grateful for life You've given me. I believe that tomorrow and future will be better and happier from today"

Just like that, and I have been a happiest person.

pertanyaan selanjutnya adalah How is my life ? apakah aku adalah orang yang paling kaya di dunia ? apakah aku orang yang memiliki jabatan yang tinggi di sebuah perusahaan yang besar ? apakah aku orang yang memiliki gelar pendidikan yang panjang di belakang nama ku ? the answer is not yet.

perhatikan jawaban ku. aku tidak menjawab tidak tapi belum. jadi apakah aku juga menyadarkan kebahagiaan pada yang sifatnya materi dan atribut ? jawabannya tidak. tapi hal tersebut bisa jadi sebagai konsekuensi dari proses kebahagiaan. seperti yang aku bilang kepada Tuhan "I believe that tomorrow and future will be better and happier from today"

let's start from early morning of the day I enjoy

ucapan syukur paling pertama dan paling awal adalah ketika bangun tidur, karena masih diberikan kesempatan untuk membuka mata dan bernafas, itu berarti masih ada kesempatan memperbaiki diri dan berbuat kebaikan. membiasakan diri bangun sebelum fajar itu memang lebih menyenangkan, ada banyak waktu luang dan tenang untuk banyak berdialog dengan Tuhan dan refleksi diri. so happy, to be intense talking to God and myself. ibarat gadget jadi seperti di restart, so fresh to start the day.  bagi penulis seperti ku, setelah selesai semua ritual itu, aku akan tenggelam bersama buku dan menulis. bagi yang lain, waktunya bisa diisi apapun yang bermanfaat. ada rasa syukur bisa melakukan hal produktif dari pagi hari, semakin produktif seseorang akan semakin happy. terlebih, kalau aktivitas itu memang adalah passion atau merasa sangat "masuk" pada aktivitas tersebut. again, i'm so grateful. 

tak terasa, waktu akan berjalan begitu cepat. dilanjutkan dengan aktivitas bersiap pergi ke tempat mencari nafkah. I'm a breadwinner actually. so I can't be lazy for that. menjadi seorang pencari nafkah sejak dilantik mencari sarjana, hidup jadi lebih bermakna sebetulnya dan dipermudah dalam hal mencari "ruang" ibadah. karena menjadi pencari nafkah bagi keluarga, disitulah nilai ibadah dan ladang amalnya. bersyukur karena hidup lebih terarah, niat lebih lurus, dan penghasilan menjadi lebih berkah. again, i'm so grateful. 

seperti manusia lainnya saja, taking shower and having breakfast adalah rutinitas umum di pagi hari, khususnya di Indonesia kali ya, di luar Indonesia mandi itu bisa jadi tidak dilakukan di pagi hari. ketika mandi sangat bersyukur punya air yang bersih dan melimpah untuk mandi, dimana banyak orang yang tinggal di daerah sulit air. padahal bersih pangkal sehat, being clean adalah suatu keharusan, dan bisa membersihkan diri di pagi hari adalah sesuatu yang sangat disyukuri. dilanjutkan dengan makan pagi, sangat bersyukur karena punya mama yang menyiapkan makan pagi. jadi tidak harus menyiapkan sendiri. habis mandi cuma langsung duduk dan memasukan makanan ke dalam mulut. dengan begini waktu dan tenaga jadi tidak terlalu banyak terbuang. merupakan suatu kemudahan yang patut di syukuri, oia, dan tidak harus beli, jadi lebih hemat. di luar sana, banyak orang yang tidak bisa makan pagi, karena hanya bisa makan 2 kali bahkan 1 kali dalam sehari, sudah jelas, makan pagi adalah option yang mereka akan skip. hanya dari 2 rutinitas pagi ini, again, i'm so grateful. 

perjalanan menuju kantor, harus bedesakan di jalan bersama dengan pencari ilmu dan pencari nafkah lainnya. obviously, akan bermacetan di jalan. tapi ada satu hal yang aku syukuri, karena aku naik kendaraan motor. paling tidak dibanding naik umum yang rutenya lebih keliling, tidak bisa diprediksi waktu ngetemnya, dan harus bedesakan dengan orang lain di dalamnya. tentu memiliki kendaraan motor jadi suatu hal yang patut disyukuri. bagaimanapun, dulu aku pernah merasakan harus menggunakan umum. selain itu, punya kendaran motor sendiri lebih hemat bahan bakar dan lebih cepat meski macet. selama perjalanan pun, aku biasa sambil mendengarkan musik dari i-pod, mendegarkan musik-musik favorit ku untuk menambah semangat sambil menikmati udara kota Bandung di pagi hari secara cuma-cuma. setiap udara segar yang aku tembus pada pagi hari itu menyegarkan,  terasa di wajah. again, i'm so grateful. 

sesampainya di kantor, bersyukulah tidak terlambat. bisa absen tepat waktu dan memulai melakukan pekerjaan-pekerjaan. selama bekerja, tentu aku tidak sendiri. ada tim, kerja tim. 
meski bawahan ku belum banyak, tapi sejauh ini aku cukup menikmati menjadi leader. bagiku, menjadi leader adalah suatu proses belajar mematangkan diri dan membawa tim kearah lebih baik, tentu saja tidak hanya dari pencapaian kerja tapi juga secara personal dari anggota tim tersebut. di kantor aku juga sedang mendapat kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi. lantaran atasan langsung ku sedang cuti melahirkan. inilah waktu yang aku tidak akan sia-siakan untuk proses percepatan belajar. well, jadi manager tembak is'n't a bad thing. kesempatan belajar untuk terlbat dalam porsi-porsi manajerial pada kesempatan semuda mungkin dari usia dan sedini mungkin dari pengalaman kerja itu adalah hal yang patut disyukuri. again, i'm so grateful. 

jam istirahat makan siang tiba. well, as i said before. aku beruntung punya mama yang ikhlas untuk selalu menyiapkan makanan, hingga pada saat aku ke kantor untuk bekal makan siang pun sudah disiapkan. aku sangat bersyukur, selain lebih hemat. makanan rumah jauh lebih bersih dan sehat. aku pun tidak perlu keluar beli mekanan lagi ke luar kantor. biasanya, aku dan tim yang seruangan suka makan siang bersama. tapi kali ini aku mulai mengurangi. aku lebih memilih makan di mejaku sambil browsing hal-hal yang sifatnya sangat inspiring  dan full of knowledge. tentu saja bukan aku ingin memisahkan diri dari lingkungan sosial yang ada. tapi kalau aku diberi pilihan. pilihan pertama, ngobrol ngalur ngidul atau kalau lagi ada boss biasanya pasif mendengarkan cerita tentang kehidupan pribadi dan keluarganya. pilihan kedua adalah upgrade diri dengan fasilitas yang ada. ofcourse I choose second option. dengan begitu, waktu yang ada jauh lebih bermanfaat. again, i'm so grateful. 

tibalah waktu pulang kerja. prinsip ku, pulang kerja harus ontime. jangan diartikan ini adalah tenggo yang negatif karena kerja hitungan. tapi tenggo adalah suatu keharusan. justru jangan sampai salah mengartikan loyalitas itu adlaah tidak pulang tenggo. karena itu akan membetuk mental dan kebiasaan menunda pekerjaan sebab merasa kalau pulang tenggo tidak dinilai loyal. lagipula kenapa harus lembur kalau memang pekerjaan semua sudah selesai ? selama setahun pertama kerja di perusahaan ini. aku nyaris tidak pernah ontime jam pulangnya bersama staff ku. there's something wrong. kata atasan ku, "Seorang leader harus bisa memikirkan bagaimana pekerjaan dirinya sendiri dan timnya tidak over." lalu aku berpikir apa yang menjadi penyebabnya. setelah aku melakukan analisa jabatan, identifikasi masalahnya ternyata adalah kurangnya SDM dari segi kuantitas. finally, disetujuinyalah penambahan orang. aku minta 1 orang level staff sebetulnya, tapi di acc nya adalah admin. well, ini sama saja sebetulnya kaya sakit dimana perlu obat 500 mg, tapi diberikan obat hanya 250mg. memang kami bisa pulang ontime sekarang, tapi tentu masih ada gejala-gejala penyakit yang masih menganggu kami. kecepatan dan kualitas kerja yang masih belum bisa memenuhi ekspekitasi atasan ku dan diri ku sendiri. terlepas dari itu semua, setelah kehadiran posisi admin ini. kami semua bisa pulang tenggo. ada banyak waktu yang bisa digunakan ketika pulang tepat waktu. baik bagi diri sendiri, teman dan keluarga. again, i'm so grateful.  

perjalanan pulang kerja memang bukan hal yang menyenangkan untuk di kota Bandung seperti sekarang ini. The traffic jam is so intense ! meskipun demikian, paling tidak aku punya ipod untuk didengarkan sehingga perjalanan jauh dan macet jadi tidak terlalu dirasa. bersyukurlah jarak rumah dan kantor ku, kalau dibandingkan teman kantor lainnya ada yang lebih jauh. so, much more energy I can save than others. again, i'm so grateful.  

sesampainya di rumah dengan selamat, tentu suatu hal yang patut disyukuri. datang, makan tinggal makan karena sudah disiapkan, mandi air hangat untuk melepas lelah pun hanya tinggal putar keran, tidak lupa pray to God, and family time with my mom. If I have some extra time, I will read book before going to sleep. again, i'm so grateful.  

jadi begitulah keseharian ku. nothing special right ? but I'm happy and grateful. kebahagian itu kita yang ciptakan sendiri. kita yang sikapi sendiri. karena kebahagiaan adalah rasa mensyukuri hal-hal yang kecil sehingga menciptakan ikatan antara setiap rasa syukur itu. semakin kuat dan panjang tali rasa syukur itu. semakin kita merasa bahagia dalam hidup ini.


Siapa tidak mensyukuri nikmat, berarti menginginkan hilangnya. Dan siapa menyuskurinya, berarti telah secara kuat mengikatnya

(Al-Hikam, Ibnu Atha 'illah al-Iskandari)




Bandung, 31 Juli 2016
Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Irsa Ikramina

Saturday, July 9, 2016

salik

manusia adakalanya tersesat karena kesempitan. tapi, manusia juga bisa tersesat karena kelapangan. mungkin manusia perlu ilmu, agar tidak terombang ambing kelapangan dan kesempitan hidup. kadang, mereka tahu, pegangan yang pasti hanyalah Tuhan. tapi untuk selalu dapat dekat dan berpegang kepada Tuhan manusia perlu ilmu.

aku mencari, ilmu apa dan siapa yang bisa ajarkan?

dengan kondisi dunia saat ini yang dilanda budaya materialisme dan hedonisme. nampaknya tidak mungkin aku mencari ilmu yang diwarisi pada masa ini. aku percaya, bahwa ilmu adalah warisan yang luar biasa, dapat menembus lintas waktu jauh ke depan. tapi aku harus mencari masa dimana ilmu yang diperlukan ini lahir pada kondisi yang serupa seperti masa saat ini. karena disitulah, aku yakin lahir ilmu yang juga menjawab pencarian penghayatan spiritual ditengah kondisi sosial yang cenderung semakin menjauhi nilai dan akhlak agama. 

ditemukan. ada masa dimana budaya materialisme juga melanda generasi umat Islam yang pertama, karena kemakmuran dunia Islam pada era Umayyah dan Abbasiyah yang menggantikan Imperium Romawi dan Rusia.

pada era itu, tasawuf muncul ke permukaan. tapi bukan sufi yang akan menjadi sumber ilmu ku, tapi adalah ahli hikmah. karena hikmah pada era itu sifatnya sangat kental dengan tasawuf. orang-orang inilah yang lebih banyak diam, tersenyum dan mendengarkan permasalahan orang lain untuk memberikan solusi dan pandangan yang bijaksana.

hikmah itu sendiri berarti adalah sisi baik dari sesuatu, meski pada masa itu disebutnya hikam yang sebetulnya artinya juga sama saja, hanya jamaknya hikmah dalam bahasa arab. 

untuk menguak hikmah dalam setiap babak kehidupan diperlukan kemampuan interpretasi yang mendalam, karena tidak hanya melibatkan intelektual tapi juga kebersihan hati dan kedalaman tauhid. itu sebabnya, ini adalah salah satu ilmu yang tingkatannya paling sulit untuk dipelajari (bagi ku). selain memerlukan pemahaman yang mendalam, mengamalkannya pun tidak mudah. 

mempelajari Al Hikam, berarti juga menyadari eksistensi diri sebagai seorang salik, yaitu peniti jalan menuju Allah.

eksistesi memang soal makna dan pilihan, pilihan untuk memaknakan dari sisi yang baik atau tidak. karena itulah yang akan menentukan perjalanan sebagai seorang salik untuk menuju kepada Tuhan. menguak dan memahami hikmah, juga adalah eksistensi. dimana kelapangan dan kesempitan hanya sebagai sarana untuk selalu memaknakan dan menguak hikmah, agar selalu dekat dengan Tuhan. 


Istirahatkan dirimu dari kesibukan mengurusi duniamu. 
Urusan yang telah diatur Allah tak perlu kau sibuk
ikut campur

Ibnu Atha'illah al-Iskandari


Jangan mengadukan musibah kepada selain Allah. Karena 
Allah semata yang menurunkannya. Bagaimana mungkin 
selain Allah dapat mengangkat musibah yang telah 
ditetapkan-Nya ? Bagaimana mungkin orang yang tidak bisa
 mengangkat musibah dari dirinya sendiri bisa mengangkat 
musibah orang lain ?

Ibnu Atha'illah al-Iskandari



Jangan sampai tertundanya karunia Tuhan kepadamu, 
setelah kau mengulang-ulang doamu, membuatmu putus asa. 
karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilihan-Nya, 
bukan sesuai pilihanmu; pada waktu yang diinginkan-Nya, 
bukan pada waktu yang kauinginkan.

Ibnu Atha'illah al-Iskandari 


Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 10 Juli 2016
Irsa Ikramina