aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Sunday, May 13, 2012

Aku dan perjalanan filosofisku


            Bandung sedang panas-panasnya sekarang. Terlihat begitu terik dari dalam ruangan ketika  menatap keluar, orang-orang menyipitkan matanya karena cahaya matahari yang menyilakukan dan cepatnya langkah orang-orang untuk menghindari rasa panas yang menusuk. Tidak biasanya Bandung punya summer!
            Panasnya Bandung saat ini mengingatkanku dengan “perjalanan kecil” ku..
            Aku ingat pada masa-masa kelas 3 SMA. dimana seluruh energi psikis dan fisik habis-habisan aku kerahkan. Tidak hanya untuk kelulusan sekolah, SNMPTN, dan juga pendidikan non-formal yang aku tempuh. Tapi juga perjalanan dalam hati ku untuk mencari makna.
            Aku ingat, jadwal bimbingan belajarku adalah hari selasa dan kamis. Lokasi bimbingan belajar itu tidak jauh dari sekolahku, namun cukup jauh kalau harus ditempuh dengan berjalan kaki. Bisa saja pada saat itu aku menebeng teman untuk sampai ke tempat bimbingan belajar. Tapi aku memilih berjalan, bersama hati dan pikiranku.
            Aku menggenakan seragam sekolah putih abu dan jacket andalan ku. sepatu converse hitamku yang sangat dekil, membentuk jejak langkah ku. Tidak lupa aku membawa buku ukuran A4 yang tebal berisi soal-soal dari bimbingan belajar itu dan juga tas ransel warna biru ku.
            Pukul 14.30 sekolah ku baru usai, pada jam itu matahari masih sangat menyengat dan membuat lemas. Tapi aku dengan kuat berjalan kaki ke tempat bimbingan belajar. Ini adalah perjalanan renunganku. Aku banyak merenungi tentang kehidupan ini dalam perjalanan itu. Untuk apa aku hidup? Untuk apa aku melakukan semua ini? Akan kemana aku? Apa maksud Tuhan dengan semua ini? Ya, ini menjadi sebuah perjalanan paling filosofis dalam hidupku. itu sebabnya perjalanan menuju tempat bimbingan belajar menjadi tidak lelah secara psikis bagiku. Meski kadang kaki dan pundak ku terasa pegal.
            Ada banyak makna hidup yang aku temukan dalam perjalanan itu. Aku akan bercerita salah satunya saja kali ini..
            Siang itu. Di bawah panasnya matahari. aku sedang berjalan kaki menuju tempat bimbingan belajar. Meski belum terlambat, aku mempercepat langkah kaki ku, nafas ku jadi  tersengal-sengal, tenggorokanku menjadi kering, dan jantung ku berdegup dengan cepat. Aku pikir, pada saat itu jantungku berdegup dengan cepat bukan hanya karena langkah kaki yang aku percepat tapi karena ada suatu hal yang ingin aku sampaikan kepada seseorang sesampainya di tempat bimbel. Sesegera mungkin!  
            Sesampainya di tempat bimbel, aku langsung menuju kelas ku. Aku menyimpan tas dan bukuku di atas kursi. Kursi itu berada di pojok bagian belakang kelas. Tempat aku biasa duduk. Memang sudah menjadi kebiasaan ku sejak di bangku sekolah untuk memilih tempat duduk di belakang. Bukan berarti ini menunjukkan self esteem yang rendah, lagipula aku aktif menjawab pertanyaan guru. Hanya saja, aku bisa lebih “melihat” keadaan kelas dari “belakang”.
            Setelah aku  menyimpan tasku, aku berdiam sejenak untuk mengatur nafasku, merasakan hembusan angin yang sejuk dari AC kelas, dan membuka jacket ku. Belum ada siapa-siapa di kelasku. Aku memang menjadi langganan datang paling pertama di kelas ini. Aku mengambil tempat minum dari dalam tas ransel dan menuju ke bagian belakang dari tempat bimbel. Disana aku segera mengisi tempat minum dengan air dari dispenser untuk aku teguk. Sambil aku menikmati setiap tegukkan air yang masuk ke tenggorokanku, aku melirik ke arah ruang guru. “yak! Orang yang ingin aku temui sudah datang!”, ujarku dalam hati.
            Aku masuk ke dalam ruang guru, menghampiri seorang pria yang sedang menonton TV sambil menikmati secangkir kopi. “baru dateng pak?”, tanya ku sambil tersenyum. Pria itu dengan kalem dan singkatnya menjawab, “iyap”.
            Ya, dia adalah salah satu guru yang mengajar di bimbingan belajar tersebut. Pria berusia 43 tahun itu mengajar geografi di beberapa sekolah swasta di Bandung. Pak guru yang satu ini sudah biasa menjadi alat perekamku, ketika aku bercerita mengenai banyak hal. Apalagi pada saat itu aku belum mengenal “menulis”. Dia tidak banyak bicara, tapi aku tahu dia active listening ketika aku bercerita.
            Tanpa basa-basi aku yang baru duduk di depannya, langsung saja bercerita mengenai apa yang aku dapat dari “perjalanan kecil ku, perjalanan filosofisku”
            “pak, saya baru saja menemukan salah satu makna kehidupan. Mungkin saya memang dididik di sekolah Islam sebelum hijrah ke Bandung ini. Sehingga kata-kata bersyukur sudah tidak asing lagi bagi saya. Tapi ternyata saya baru menemukan “syukur” yang sesunggunya sekarang ini !”
            “hmmmm....”, hanya itu yang hanya keluar dari mulutnya disertai dengan anggukan kepala.
Just in that way he showed his response, but it made me feel better and wanted to tell more about my stories to him
            “iya pak, dan saya betul-betul merasakan rasa syukur yang hakiki itu. Kalo saya pikir ya pak, rasa syukur itu tidak hanya disampaikan secara eksplisit atau lisan. Tapi juga seharusnya secara implisit baik dari hati maupun perbuatan. Ya, mungkin orang bingung ngeliat saya yang sok sibuk sekolah dan les ini itu tanpa mau mabal, tapi bagi saya, untuk bagian hidup saya sekarang ini. Itu menunjukkan rasa syukur saya sama Allah. Paling tidak, saya sudah berusaha amanah dengan fasilitas yang diberikan orang tua terhadap saya sebagai anak. itu juga salah satu ungkapan rasa syukur, alhasil saya ngga merasa berat menjalani ini. Bahagia. So, saya uda berhasil mencapai makna hidup bersyukur kan pak?”, kataku sambil tersenyum bangga.
            Lalu iya melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, namun dengan senyumannya kali ini.
            Ritual ini aku jalani selama satu tahun penuh, sebetulnya tidak Cuma dia yang mendengarkan ku dan asik untuk diajak berbicara. ada beberapa guru lainnya. hanya saja, dialah yang mengikuti rangkaian perjalanan yang aku tempuh. Hingga menjelang SNMPTN, pada saat aku hanya murid yang diajar olehnya ketika tutorial, tidak ada murid lain. Hanya aku dengannya yang sampai pada akhir babak perjalanan kecilku, perjalanan filosofisku.
“pak, bagi saya sudah tidak terlalu penting bagaimana hasilnya. Fikom Unpad dan lolos SNMPTN memang yang saya perjuangkan selama satu tahun ini. Tapi hasil menjadi tidak terlalu penting lagi bagi saya, proses telah mengajari saya banyak hal, proses telah mendewasakan saya, sehingga proses menjadi lebih penting dari hasil. Toh, saya tidak bisa ngotot kalau ternyata Psikologi Unisba adalah yang terbaik menurut Allah. Thanks anyway Sir, you’ve saved my life for this last year. Please keep in touch, I still need your advice in the future or even when I’ll  have been at highest achievement of my life. i won’t forget this”

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 13 Mei 2012
Irsa Ikramina

Wednesday, May 2, 2012

Aku, Tuckman, dan Jensen


            Belakangan ini aku malas datang ke kampus, selain memang kejenuhan yang telah memuncak, mungkin juga karena kehidupan di kampus itu ‘statis’. Nampak tidak ada perbedaan setiap harinya karena dikejar deadline tugas. Tugas perkuliahan betul-betul menuntut “banyak”, selain dari kemampuan mengatur waktu, mahasiswa juga dituntut untuk dapat bekerjasama dengan orang lain karena banyaknya tugas yang dibentuk dalam kelompok.
Suatu hari di kelas, pada saat pembagian kelompok untuk suatu tugas mata kuliah...
Mahasiswa 1: “woy, ini ada tiga orang belum dapet kelompok. Dikemanain?? Coba ada yang mau gabung kesini ngga? Baru tiga orang. Ato ada kelompok yang dipecah aja ni, biar tiga orang ini dapet kelompok.” Teriak salah satu mahasiswa yang sedang menuliskan pembagian kelompok di white board.  
Mahasiswa sekelas : *sibuk mengobrol satu sama lain* aku lihat ada yang emosi, ada yang memasang wajah miris, ada juga yang ikut memberikan pendapat untuk pembagian kelompok.
Anis : “ ih, ya ampun ! kok gini amet sih psikologi. Watir tau! Bagi kelompok aja uda hampir sejam !” kata Anis dengan kesal sambil melihat jam tangan, dan sedikit melirik ke arah tiga orang yang terlantar tersebut dengan tatapan tidak tega.
Irsa : “iya, ngga banget emang. Kekanak-kanakkan. Eh tapi ngga juga sih nis, wajar.” Kataku dengan nada bicara yang semakin lambat sembari berpikir untuk jawaban atas tragedi yang mengenaskan ini.
            well, pada dasarnya tragedi mengenaskan ini bisa dijawab dengan teori si Tuckman Jensen. Bagaimanapun, enam semester bukanlah waktu yang sebentar untuk saling mengenal satu sama lain baik dari segi hubungan interpersonal maupun segi kualitas seseorang dalam task nya. Deadline tugas yang “menghantui” mahasiswa dan juga kesulitan tugas yang tinggi, disertai dengan pengalaman kerja kelompok bersama mahasiswa lainnya telah memangkas tahapan forming dan storming dalam tahapan perkembangan kelompok. Artinya, wajar saja kalau mahasiswa memilih kelompok “yang itu-itu lagi” karena mereka tahu bahwa ketika dihadapkan tugas, mereka hanya akan melampaui tahap norming (kesepakatan pembagian tugas) dan performing (fokus mengerjakan tugas). Hal ini akan mempersingkat waktu ditengah deadline tugas yang menekan, untuk mencapai efektivitas dalam pengerjaan tugas dan menyelesaikan hambatan yang ada. Walaupun, aku masih sedikit meragukan hal ini. Dimana memang mahasiswa psikologi selain dari memiliki nuansa need of affiliation yang tinggi, mereka juga sudah punya peer group nya masing-masing. Sehingga ini “nampak” lebih berat pada aspek hubungan interpersonal-nya daripada task nya. hubungan interpersonal dalam hal ini, bahwa ketika kelompok langsung memasuki tahap norming, langsung membangun kohesi dan membangun hubungan peran yang fungsional (performing)
Ada satu lagi mungkin yang dapat menjawab, walaupun aku lupa-lupa ingat dengan teori nya, semoga ini tidak melenceng. Teori equity berlaku untuk kelompok juga kah? Bagaimanapun, sejauh yang aku ingat dan aku pahami anggota kelompok akan tetap memperhatikan dan memberi reward pada anggota kelompok yang memperlakukan yang lain secara adil/seimbang (equitable) dan umumnya menghukum anggota yang memperlakukan orang lain secara adil/seimbang (inequitable). Sehingga ini menjadi masuk akal kalau ada orang yang tersisihkan atau tidak kebagian kelompok. Aku pikir, kelompok manapun tidak mengharapkan ketidakseimbangan dengan hanya memasukkan anggota kelompok yang kerjanya hanya nge-print, atau mengumpulkan ke meja dosen saja. Istilah kasarnya, “nebeng nama doang”. Apalagi golongan orang seperti ini sejauh pengamatanku, mereka juga ‘sedikit bermasalah’ dengan relasi interpersonalnya. Artinya diluar tugas atau kerja kelompok, mereka juga sulit diterima di mayoritas peer group yang ada.
Sometimes, life is not just about being the best for yourselves, but it might be the most suitable person in society.
You don’t have to be somebody else, all you have to do is being adjustable.

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 3 Mei 2012
Irsa Ikramina