Bandung sedang panas-panasnya sekarang. Terlihat
begitu terik dari dalam ruangan ketika menatap keluar, orang-orang menyipitkan
matanya karena cahaya matahari yang menyilakukan dan cepatnya langkah
orang-orang untuk menghindari rasa panas yang menusuk. Tidak biasanya Bandung
punya summer!
Panasnya Bandung saat ini mengingatkanku
dengan “perjalanan kecil” ku..
Aku
ingat pada masa-masa kelas 3 SMA. dimana seluruh energi psikis dan fisik
habis-habisan aku kerahkan. Tidak hanya untuk kelulusan sekolah, SNMPTN, dan
juga pendidikan non-formal yang aku tempuh. Tapi juga perjalanan dalam hati ku
untuk mencari makna.
Aku
ingat, jadwal bimbingan belajarku adalah hari selasa dan kamis. Lokasi bimbingan
belajar itu tidak jauh dari sekolahku, namun cukup jauh kalau harus ditempuh
dengan berjalan kaki. Bisa saja pada saat itu aku menebeng teman untuk sampai
ke tempat bimbingan belajar. Tapi aku
memilih berjalan, bersama hati dan pikiranku.
Aku
menggenakan seragam sekolah putih abu dan jacket
andalan ku. sepatu converse hitamku
yang sangat dekil, membentuk jejak langkah ku. Tidak lupa aku membawa buku
ukuran A4 yang tebal berisi soal-soal dari bimbingan belajar itu dan juga tas
ransel warna biru ku.
Pukul
14.30 sekolah ku baru usai, pada jam itu matahari masih sangat menyengat dan
membuat lemas. Tapi aku dengan kuat berjalan kaki ke tempat bimbingan belajar. Ini
adalah perjalanan renunganku. Aku banyak merenungi tentang kehidupan ini dalam
perjalanan itu. Untuk apa aku hidup? Untuk apa aku melakukan semua ini? Akan kemana
aku? Apa maksud Tuhan dengan semua ini? Ya, ini menjadi sebuah perjalanan
paling filosofis dalam hidupku. itu sebabnya perjalanan menuju tempat bimbingan
belajar menjadi tidak lelah secara psikis bagiku. Meski kadang kaki dan pundak
ku terasa pegal.
Ada
banyak makna hidup yang aku temukan dalam perjalanan itu. Aku akan bercerita
salah satunya saja kali ini..
Siang
itu. Di bawah panasnya matahari. aku sedang berjalan kaki menuju tempat
bimbingan belajar. Meski belum terlambat, aku mempercepat langkah kaki ku,
nafas ku jadi tersengal-sengal,
tenggorokanku menjadi kering, dan jantung ku berdegup dengan cepat. Aku pikir,
pada saat itu jantungku berdegup dengan cepat bukan hanya karena langkah kaki
yang aku percepat tapi karena ada suatu hal yang ingin aku sampaikan kepada
seseorang sesampainya di tempat bimbel. Sesegera mungkin!
Sesampainya
di tempat bimbel, aku langsung menuju kelas ku. Aku menyimpan tas dan bukuku di
atas kursi. Kursi itu berada di pojok bagian belakang kelas. Tempat aku biasa
duduk. Memang sudah menjadi kebiasaan ku sejak di bangku sekolah untuk memilih
tempat duduk di belakang. Bukan berarti ini menunjukkan self esteem yang rendah, lagipula aku aktif menjawab pertanyaan
guru. Hanya saja, aku bisa lebih “melihat” keadaan kelas dari “belakang”.
Setelah
aku menyimpan tasku, aku berdiam sejenak
untuk mengatur nafasku, merasakan hembusan angin yang sejuk dari AC kelas, dan membuka
jacket ku. Belum ada siapa-siapa di
kelasku. Aku memang menjadi langganan datang paling pertama di kelas ini. Aku mengambil
tempat minum dari dalam tas ransel dan menuju ke bagian belakang dari tempat
bimbel. Disana aku segera mengisi tempat minum dengan air dari dispenser untuk
aku teguk. Sambil aku menikmati setiap tegukkan air yang masuk ke
tenggorokanku, aku melirik ke arah ruang guru. “yak! Orang yang ingin aku temui
sudah datang!”, ujarku dalam hati.
Aku
masuk ke dalam ruang guru, menghampiri seorang pria yang sedang menonton TV
sambil menikmati secangkir kopi. “baru dateng pak?”, tanya ku sambil tersenyum.
Pria itu dengan kalem dan singkatnya menjawab, “iyap”.
Ya,
dia adalah salah satu guru yang mengajar di bimbingan belajar tersebut. Pria berusia
43 tahun itu mengajar geografi di beberapa sekolah swasta di Bandung. Pak guru
yang satu ini sudah biasa menjadi alat perekamku, ketika aku bercerita mengenai
banyak hal. Apalagi pada saat itu aku belum mengenal “menulis”. Dia tidak
banyak bicara, tapi aku tahu dia active listening
ketika aku bercerita.
Tanpa
basa-basi aku yang baru duduk di depannya, langsung saja bercerita mengenai apa
yang aku dapat dari “perjalanan kecil ku, perjalanan filosofisku”
“pak,
saya baru saja menemukan salah satu makna kehidupan. Mungkin saya memang
dididik di sekolah Islam sebelum hijrah ke Bandung ini. Sehingga kata-kata
bersyukur sudah tidak asing lagi bagi saya. Tapi ternyata saya baru menemukan “syukur”
yang sesunggunya sekarang ini !”
“hmmmm....”,
hanya itu yang hanya keluar dari mulutnya disertai dengan anggukan kepala.
Just in that way he
showed his response, but it made me feel better and wanted to tell more about my
stories to him
“iya pak, dan saya betul-betul
merasakan rasa syukur yang hakiki itu. Kalo saya pikir ya pak, rasa syukur itu
tidak hanya disampaikan secara eksplisit atau lisan. Tapi juga seharusnya
secara implisit baik dari hati maupun perbuatan. Ya, mungkin orang bingung
ngeliat saya yang sok sibuk sekolah dan les ini itu tanpa mau mabal, tapi bagi
saya, untuk bagian hidup saya sekarang ini. Itu menunjukkan rasa syukur saya
sama Allah. Paling tidak, saya sudah berusaha amanah dengan fasilitas yang diberikan
orang tua terhadap saya sebagai anak. itu juga salah satu ungkapan rasa syukur,
alhasil saya ngga merasa berat menjalani ini. Bahagia. So, saya uda berhasil
mencapai makna hidup bersyukur kan pak?”, kataku sambil tersenyum bangga.
Lalu iya melakukan hal yang sama
seperti sebelumnya, namun dengan senyumannya kali ini.
Ritual ini aku jalani selama satu
tahun penuh, sebetulnya tidak Cuma dia yang mendengarkan ku dan asik untuk diajak
berbicara. ada beberapa guru lainnya. hanya saja, dialah yang mengikuti
rangkaian perjalanan yang aku tempuh. Hingga menjelang SNMPTN, pada saat aku
hanya murid yang diajar olehnya ketika tutorial, tidak ada murid lain. Hanya aku
dengannya yang sampai pada akhir babak perjalanan kecilku, perjalanan
filosofisku.
“pak,
bagi saya sudah tidak terlalu penting bagaimana hasilnya. Fikom Unpad dan lolos
SNMPTN memang yang saya perjuangkan selama satu tahun ini. Tapi hasil menjadi
tidak terlalu penting lagi bagi saya, proses telah mengajari saya banyak hal,
proses telah mendewasakan saya, sehingga proses menjadi lebih penting dari
hasil. Toh, saya tidak bisa ngotot kalau ternyata Psikologi Unisba adalah yang
terbaik menurut Allah. Thanks anyway Sir,
you’ve saved my life for this last year. Please keep in touch, I still need
your advice in the future or even when I’ll have been at highest achievement of my life. i
won’t forget this”
Dari aku,
duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 13
Mei 2012
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment