aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Thursday, February 16, 2012

aku dan sajadahku


           hari ini aku pergi ke kampus hanya untuk sekedar mengurusi persyaratan beasiswa, setelah itu aku memutuskan untuk langsung cepat pulang ke rumah lantaran aku sedang merasa tidak nyaman berada di lingkungan sosial, aku ingin sendiri.
            Sesampainya di tempat parkiran motor, a’ budi, tukang parkir untuk parkiran motor rayon anak-anak psikologi, bertanya kepada ku sambil mengeluarkan motorku diantara motor-motor yang lainnya yang begitu berjajar padat.
A’ budi             : “sa, nilai uda keluar semua?”
aku                   : “udah. Kenapa a’?”
A’ budi             : “terus gimana?”
Aku                    : “turun dikit banget tapi masih dalam range yang wajar. Jadi ya, sangat Alhamdulillah”   kataku  sambil tersenyum bangga.
                          “emg kenapa a’?” tanyaku dengan nada heran.
A’ budi              :“ oohh, engga keliatan aja mukanya beda. Gak kaya biasanya. Kirain aja,    yaaa  kan biasanya kuliah suka gitu kalau ngeliat anak-anak yang lain”
Aku sadar a’budi menyadari wajahku yang menyisakan kesedihan karena dari semalam sampai bangun pagi aku menangis. Mungkin selain mataku masih sedikit sembab, aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk “sok tegar”. Kelesuan, tatapan lunglai, langkah berat pasti sangat mudah terobservasi oleh tukang parkir sekalipun.
Aku                    : “hehehe, yaelah. Ujian hidup perkuliahan tuh belum seberapa a’” kataku sambil tersenyum diplomasi dan memberinya uang parkir
A’budi               : “cieee filosofi hidupnya dalem nih” dengan nada mengejek ku.
Aku                    : “yaa bener a’, kuliah itu hanya sebagian kecil dari perjalanan hidup. Belum nanti bekerja, belum nanti berumah tangga. Ujiannya lebih kompleks lagi. Ini hanya baru sebagian kecil aja.”
A’ budi              : “iya juga sih” katanya sambil mengangguk dan terdiam.
Sementara a’ budi masih terdiam, aku sudah menyalakan mesin motor dan memecah diamnya a’ budi, “yuk a, duluan”, kataku sambil jalan perlahan. “iya sa, hati-hati”, kata a’ budi.
            Aku akui, aku memang sedang sedih. Meski begitu, aku hanya manusia yang sedang menghayati kesedihan. Karena aku juga tahu, tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Kalau sedang sedih seperti ini, aku ingin segera pulang, aku ingin bertemu sajadahku yang selalu terbentang di kamarku..
            Sajadahku itu yang selalu menemaniku di saat aku berkomunikasi pada Sang Khalik. Sajadahku adalah saksi ketegaran, kebahagiaan, dan kesedihanku. Tidak hanya pada saat aku shalat, tapi sajadahku yang menyerap tetesan air mataku yang berjatuhan ketika doa sudah tidak sanggup aku ucapkan. Air mata yang berjatuhan di atas sajadahku adalah ungkapan-ungkapan hati yang tidak bisa aku ungkapkan ke orang lain dan hanya sanggup aku ucapkan dalam hati untuk Yang Mha Mengetahui. Di sepertiga malam terakhir sajadahku menemaniku untuk menjadi alas dari lantai yang sangat dingin. Ia juga menjadi saksi dari setiap sujudku. Di atas sajadahku, aku merasakan ketentraman hati dalam menjalankan ritual shalat, di atas sajadahku juga ku lantunkan bacaan-bacaan qur’an. Di atas sadajah itu, aku ucapkan doa doa yang hanya bisa di dengar oleh aku, ia, dan Yang Maha Mendengarkan.
            Kebiasaanku kalau belajar atau membaca materi kuliah adalah di tempat tidur karena meja belajarku yang terlalu penuh dan berantakan. Namun ketika aku sering ketiduran, agar tidak mengantuk aku belajar di atas sajadahku dengan hanya sorotan cahaya dari lampu belajar di tengah malam. Sajadahku juga yang menemani perjalanan jihad ku.
            Tanpa sajadah itu, kenikmatanku untuk bercinta dengan Yang Maha Menyanyagi tidaklah menjadi lengkap..

 Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 16 Februari 2012
Irsa Ikramina
  
           

aku dan kebahagiaan


            Ketika aku sedang melihat-lihat kembali sekilas mengenai tulisan-tulisan yang sudah aku posting di sini. Nampaknya sudah terlalu banyak mengenai kesedihan. Itu bukan berarti aku tidak pernah bahagia tentunya. Hanya saja, selama ini aku sulit untuk menceritakan kebahagiaan secara deskriptif, mungkin karena pengalaman kebahagiaan itu bersifat transendental. Akan tetapi bagiku kebahagiaan juga dihayati subjektif seperti kesedihan dan memiliki sifat universal sebagai fitrah manusia. 
            Dulu aku ingat waktu pertama kali menonton film the pursuit of happYness mungkin waktu aku masih duduk di kelas 1 SMA. aku mendefinisikan kebahagiaan seperti apa yang Chris Gardner definisikan dalam kehidupannya. Bagiku, tidak masalah dengan ini karena memang ketika aku menempatkan diri sebagai Chris Gardner, happiness terletak pada kebutuhan rasa aman, seperti pekerjaan, tempat tinggal dan penghasilan tetap. Ya, itu Chris Gardner. Mungkin bagi orang yang kebutuhan rasa aman telah terpenuhi, apa yang Chris Garner kejar dalam hidupnya bisa jadi bukan menjadi kebahagiaan baginya. Bagi orang yang sakit, bisa saja kesehatan merupakan kebahagiannya. Orang menikah ataupun hidup melajang, mereka bisa juga bahagia dan bisa saja tidak. Bagi orang yang spiritualis, bisa jadi itu adalah sumber kebahagiannya. Usia juga tidak menjamin suatu kebahagiaan, yang tua dan yang muda bisa saja didera depresi. 
            Aku sendiri sejak saat itu masih belum bisa mendefinisikan apa itu kebahagiaan walaupun aku tahu rasanya seperti apa karena kebahagiaan dapat aku rasakan di aspek kehidupan yang berbeda. Misalnya saja ketika aku pergi ke bioskop untuk menonton film bagus, aku bahagia namun setelah itu pudar lagi.  Tapi aku juga pernah mengobrol dengan seseorang, tanpa terasa ternyata aku sudah mengobrol selama hampir 4 jam! Lalu setelahnya aku merasa sangat bahagia. Pernah juga aku membaca buku-buku inspiratif atau penyejuk qalbu dan setelahnya aku merasa sangat bahagia. Pernah lagi, temanku bertanya apa aku tidak lelah dengan mengambil 3 les di bidang berbeda dan full disetiap harinya, aku hanya menjawab, “cape, tapi gue seneng”. Anehnya juga, ketika temanku bertanya apakah tahun depan aku mau mencoba menjadi asisten lab. di kampusku, aku malah lebih tertarik pada pekerjaanku yang sedang aku jalani sekarang sebagai guru privat, dengan alasan aku senang bisa berbagi ilmu dan membesarkan orang lain. Sering ketika aku beribadah, setelah shalat dan membaca quran  aku merasa bahagia. Aku juga merasakan kebahagiaan yang luar biasa ketika ternyata dapat membantu dan membahagiakan orang lain. Ketika aku hanya berdiam diri di kamar, lalu mengingat-ingat kejadian yang telah lalu dan kemudian bersyukur terhadap skenario kehidupan yang Tuhan sudah beri, aku juga merasa bahagia. Lalu apa sebenarnya kebahagiaan itu?
            Pernah aku membaca buku karya Dr. ‘Aidh bin ‘Abdullah Al-Qarni yang berjudul laa tahzan dalam bahasa arab, don’t be sad dalam bahasa inggris, atau jangan bersedih dalam bahasa indonesia. Aku pikir, walaupun banyak orang yang belum pernah membacanya, aku yakin orang yang pernah melihat atau mendengar tentang buku ini. Bagaimana tidak, buku ini selalu ada dalam jajaran buku best seller di toko buku. Sepanjang hidupku, ini adalah buku yang paling “healing”. Kebetulan pada saat itu, aku sedang diuji persoalan hidup yang sangat membuat sedih, dan karena membaca buku ini aku bisa merasakan kebahagiaan lagi pada saat itu. Tapi, tetap saja, aku masih kurang bisa mendeskripsikan kebahagiaan secara ilmiah. Karena memang begitu religius dan spiritual kebahagiaan yang aku tangkap dari buku itu; rasa syukur, kesabaran, keikhlasan, bersih hati, dll. Namun karena penyajian kata per katanya yang begitu menyejukkan, hal itu menjadi tidak terkesan menceramahi. aku belum berani berbicara banyak kadang soal ini, takut terkesan “menceramahi” apalagi aku ini mahasiswa fakultas psikologi, bukan tarbiyah. Jadi aku pikir, mungkin untukku memang “healing”, tapi tidak bagi orang lain yang berkonsultasi padaku dan butuh dipahami bukan membutuhkan ceramah. 
            Lima semester di psikologi kadang cukup membosankan dengan begitu banyaknya mata kuliah yang “dijejali” namun tidak satupun yang benar-benar membuatku excited. Selain analisis eksistensial yang didalamnya manusia itu bernuansa intensional, kesadaran, baik (suara hati) dan bebas; aku sedikit banyak menaruh perhatian pada psikologi islam yang mirsinya hanya 1 sks. Walaupun teman-teman mengatakan aku aneh lantaran “bisa-bisanya” tertarik dengan psikologi islam, tapi tentu ini bukan saja hanya masalah spiritualitas. Tapi juga bagaimana memandang manusia itu sendiri. Bagiku hanya humanistik, analisis eksistensial dan psikologi islam yang menilai manusia itu positif. 
            Hingga pada akhirnya aku menemukan positive psychology, salah satu ranah dari psikologi ini yang bagiku sangat memuliakan manusia, tidak sekedar berbicara perihal “menyembuhkan”, tapi lebih kepada meningkatkan salah satunya kebahagian, yang didalamnya ada juga perihal kekuatan,kebaikan, dan makna kehidupan. 
Positive psychology is about nurturing talent and improving normal life. it is focused heavily on happiness and fulfillment
I think I’ve just found “mine” in psychology
            Setidaknya positive psychology tidak sekedar membantuku untuk mendekripsikan kebahagiaan secara ilmiah, tapi aku juga menemukan nilai-nilai islam di dalamnya, ada fitrah, rasa syukur, memafkan, keyakinan dan harapan, dan makna hakiki dari kehidupan. 
            Positive psychology dalam membicarakan kebahagiaan, menyajikan tiga hal penting yang menjadi penunjang, yaitu emosi positif pada masa lalu, masa depan, dan masa sekarang. Emosi positif pada masa lalu berkaitan dengan bagaimana kita dapat bersyukur dan memafkan yang telah lalu. Seperti halnya yang diajarkan oleh islam, untuk senantiasa bersyukur dalam setiap apa yang Allah berikan, baik itu ujian maupun berupa nikmat. “Dan dia telah menyempurnakan untuku dikmat-Nya lahir dan batin” (QS. 31:20) “maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang pantas kalian dustakan?” (QS. 55: 13). “Terimalah semua yang telah Allah berikan kepada kalian dan jadilah kalian termasuk orang-orang yang bersyukur” (QS. 7: 144). Memaafkan bukan hal yang asing lagi dalam islam, terlebih sebagai umat islam kita dilatih untuk bisa saling maaf-memaafkan setiap hari raya idul fitri, meskipun maaf memaafkan tidak hanya dilakukan pada saat idul fitri. “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain. (QS. 3: 134) “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang lain mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (QS. 7: 199). Memaafkan tidak hanya dalam meridoi perlakuan orang lain yang menyakitkan, tapi juga bagaimana kita tidak selalu menoleh, menangisi, dan berkaca pada masa lalu. Hanya akan ada kesia-sian untuk hidup yang sedang dijalani dan masa depan. Aku pikir, kalau kita bisa bijak dalam menyikapi masa lalu, maka kepuasan kebanggan dan ketenagan yang akan kita dapatkan untuk mersakan kebahagiaan.
            Emosi positif yang berkaitan dengan masa depan, adalah mengenai optimisme, harapan, percaya diri, dan keyakinan. “keyakinan adalah yang sebaik-baiknya tertanam dalam hati” (sabda Rasulullah SAW). keyakinan menjadi sangat penting untuk mencegah keputusasaan. Keyakinan bahwa sesungguhnya di dalam kesulitan pasti ada kemudahan, Allah tidak akan memberikan beban melebihi kemampuan hamba-Nya, Allah mengikuti sesuai prasangkaan habanya, Allah akan mengubah keadaan sesuai dengan apa yang diiktiarkan dan masih banyak lagi yang tentu semua itu berasal dari Al-Quran. Dengan begitu, akan memunculkan harapan untuk menghadapi masa depan. 
            Emosi positif masa sekarang berkaitan dengan pleasure dan gratification. Pleasure berkaitan dengan kenikmatan lahir dan batin, sedangkan gratification adalah kegiatan yang senang kita lakukan yang bisa membuat kita mengalami flow, yaitu dimana waktu terasa terhenti dalam kondisi yang sangat nyaman. Kebahagiaan dalam hal ini dapat ditingkatkan dengan cara membangun kekuatan dan kebijakan personal yang kita miliki. Kekuatan yang dimaksud yang diungkap dalam positive psychology oleh Selignment jika dilihat semuanya berlandaskan fitrah manusia dari 99 asmaul husna, beberapa diantaranya seperti keadilan (A’Adl), pengendalian diri (Al Qoobidi), pemaaf (Al’ Affuw), rasa syukur (Asy Syakuur),  mencintai dan dicinta (Arrahman Arrahim), dan sebagainya. Sehingga dapat dikatakan bahwa hidup yang menyenangkan dimana segala emosi positif bisa diraih, belum tentu merupakan hidup yang baik. hidup yang baik adalah ketika kita menggunakan kekuatan personal (fitrah) untuk memperoleh gratifikasi semaksimal mungkin pada aspek-aspek utama kehidupan. 
            Kebahagiaan dapat diperoleh dengan banyak jalan, salah satunya mengatur kekuatan dan kebajikan pribadi dalam aspek-aspek kehidupan. Hidup yang menyenangkan, hidup yang baik, maka belum tentu juga hidup itu bermakna. penting untuk mengetahui apa itu makna kehidupan, tentu agar segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup tidak menjadi pekerjaan yang sia-sia. Islam menjelaskan bahwa manusia diturunkan di bumi adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi, dengan diberikan bekal fitrahnya. Sehingga manusia dapat mengaktualisasikannya agar dapat bermanfaat tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk umat, dan tidak hanya untuk dunia tapi juga untuk akhirat. “apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian sia-sia, dan bahwa sesungguhnya kalian tidak akan di kembalikan kepada Kami?” (QS. 23: 115)

Berbagai keterbatasan dalam hidup seringkali mengekang kebebasan, sehingga yang terasa hanyalah emosi negatif. Namun hanya ketika aku bersujud kepadaMu, hadir kekihlasan dan kekuatan untuk memaafkan masa lalu, muncul segenap keyakinan untuk masa depan, dan ketenangan batin untuk menghapus kesedihan saat ini. Tidak ada lagi tujuan untuk memperoleh kebahagiaan hakiki selain menuju padaMu ya Rabb. Maka, segala potensi (fitrah) yang Engkau bekali yang tercurah dalam segala gratifikasi apapun, semua hanya karena Allah. Karena itu adalah makna kehidupan yang dapat memabawa pada kebahagiaan yang hakiki..
           

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 16 Februari 2012
Irsa Ikramina

Saturday, February 4, 2012

aku dan kesabaran


        belakangan ini aku selalu murung, tidak bergairah, tidak besemangat. Ada hal yang membuat aku begitu sedih, aku punya keinginan yang saat ini sangatlah tidak mungkin untuk bisa dicapai. Namun ketika tadi aku berdiam di atas tempat tidur, dalam keheningan tiba-tiba saja seperti ada “sisi malaikat” dalam diriku yang berbicara padaku.
Sa, coba liat ke sekeliling kamar. Beberapa barang yang bernilai tinggi di sekitar, lu inget dapetinnya dengan perjalanan yang seperti apa? Tapi pada akhirnya lu bisa punya itu semua kan? Coba inget lagi segala keinginan dalam kehidupan, apa yang tidak Allah kasih?
            Aku tersentak sambil menatap barang-barang itu. Iya memang, dulu aku sangat bukan menginginkannya lagi bahkan, tapi membutuhkan semua itu. Meski rasanya semua pada saat itu hampir tidak mungkin aku miliki. Tapi ternyata satu persatu bisa aku miliki entah dari arah yang tidak disangka-sangka. Aku tersadar bahwa, “Allah pasti ngasih, Allah cuma minta satu, sabar.” Pada dasarnya tidak hanya barang, tapi apapun yang kita inginkan. Aku jadi teringat, dulu aku sangat mengnginkan masuk fakultas ilmu komunikasi, tapi Allah memberikan psikologi dan bahkan aku diberikan kemudahan yang berlimpah. “jadi kalau Allah ngga ngasih, Allah pasti gantiin sama yang lebih baik”.
            Aku beranjak dari tempat tidur, aku buka-buka lagi buku-buku penyejuk qalbu mengenai kesabaran. Dua semester belakangan ini memang intensitas dan frekuensi aku membaca buku-buku penyejuk qalbu memang menurun karena kesibukan kuliah dan menyusun bahan mengajar. Aku menjadi diingatkan kembali bahwa sabar adalah jalan keluar yang terbaik dan telah diakui secara universal kebenarannya. Sabar itu mempunyai pasangan, yaitu shalat. Sabar dan shalat ibarat dua sisi keping mata uang yang harus selalu berjalan beriringan. sabar tanpa shalat, ibarat bangunan tanpa fondasi beton, mudah ambruk terserang gempa. Aku mencoba menyerap lagi hakikat kesabaran aku mencoba lebih khusyuk dalam shalat. Ternyata tanpa disadari, aku jadi lebih dekat dengan-Nya.
“....., sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”
Al baqarah : 153
            Maka ketika kita bersabar, Allah akan bersama kita. Dan apa yang tidak bisa kita lalui ketika kita bersama-Nya? Apapun yang kita inginkan, insya Allah akan Allah beri, Allah hanya minta satu hal selain ihktiar, yaitu sabar. Allah melakukan hal ini memang karena Allah begitu menyayangi kita, Allah ingin kita tawadhu, tidak jadi menggampangkan segala hal dan lupa diri apabila semua mudah didapatkan. “Bukankah tanpa pernah menghadapi kesukaran hidup manusia tidak akan pernah bisa menjadi matang?” (Ir. Permadi Alibasyah)
Orang yang bersabar, pasti mendapat kemenangan, walaupun tertunda
-Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a-

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 05.02.2012
Irsa Ikramina

aku dan perjalanan batin


Kadang aku merasa, perjalanan yang aku tempuh sudah sangat jauh..
Mungkin karena tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa aku telah memulai perjalanan panjang ini
           
            Dulu aku ingat ketika masih duduk di bangku SD, mungkin kelas 5, berarti usiaku pada saat itu sekitar 10 tahun. Aku mendapat ranking pertama di kelas, teman-teman bermainku mendapat ranking 5 dan 10 besar. Lalu mereka mendapat hadiah yang telah dijanjikan orang tuanya sebagai reward. Aku yang tidak menyangka akan mendapat ranking 1, memang tidak dijanjikan apapun. Karena aku sudah melihat teman-temanku yang dididik dengan sangat behavioristik, aku pikir aku akan diberikan hadiah. Aku menunggu diberikan hadiah, ternyata tidak juga. Lalu aku mencoba meminta sesuatu, ternyata dibelikan namun butuh waktu lama dan memang setiap aku meminta apapun itu, biasanya tidak langsung diberikan. Bisa dibilang aku dibesarkan dengan penanaman motivasi intrinsik, dan hal itu yang menjadi peganganku hingga saat ini. Namun sejak saat itu, aku menyadari bahwa hidup ku “berbeda” dari teman-teman yang lainnya.
I realized that my life wouldn't be easy
            Usia 10 tahun memang belum mencapai kemampuan berpikir operasional formal dalam perkembangan kognitifnya, tapi bukan berarti tidak bisa untuk menyadari realitas yang dihadapi. Desakan kehidupan dan tekanan kehidupan, kadang menuntut seseorang untuk dapat memaksimalkan kapasitas yang ada. Kemampuan problem solving dan menempatkan diri menjadi sangat penting. Mungkin, itu sebabnya mental age bisa jadi lebih tua dari chronological age-nya. Memasuki usia remaja akhir, sekitar usia 16 – 19 tahun, aku lebih senang berteman dengan orang dewasa. Karena memang sebelumnya, aku sering dibilang, “lu ngomong apa sih sa? Ga ngerti gue”. Sejak saat itu aku belajar menempatkan diri dan mencari teman yang berusia sudah dewasa. Bukan berarti aku tidak membutuhkan teman-teman sepantar ku lagi, hanya saja porsinya yang berbeda. Biasanya, teman-teman sepantar untuk hal-hal yang lebih ringan, seperti bercanda dan bermain. Sedangkan orang dewasa, adalah untuk teman berbicara, dimana aku dapat dengan bebas mengutarakan isi hati dan pikiran tanpa dibilang aneh atau disalahpahami.
            Pengalaman berteman dengan orang dewasa dan dapat menyesuaikan diri dengan mereka, membuat aku juga dapat memahami mereka meski usia berjarak jauh. Aku bisa saling sharing, bertukar pikiran, dan hal yang paling menyenangkan bagiku adalah karena aku didengarkan dan dimintai pendapat. Dapat dikatakan, aku tidak dianggap “anak kecil”. Kadang, meski usia dua kali lipat diatas, untukku bukan hal yang sulit untuk berempati dan dapat memahami. Itu sebabnya aku merasa perjalanan yang aku tempuh seperti sudah sangat jauh, karena mungkin aku memulainya (menyadari) dari usia yang sangat muda.
Usia ku kini 20 tahun, namun panjangnya perjalanan yang sudah aku tempuh membuat aku merasa seperti sudah 40 tahun hidup..

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 05022012
Irsa Ikramina


Wednesday, February 1, 2012

aku dan depresi


“sa, tanda-tanda orang depresi itu gimana sih sa?
Gue banyak gak puas sama hidup gue, gue banyak nyesel”
            Kira-kira seperti itulah sms yang masuk dari seorang teman dalam dua kali pengiriman sms. Aku langsung tanggap mengenai hal ini, aku tidak ragu untuk ‘meraih’ orang-orang yang seperti ini. Bukan hanya karena tanggung jawab sebagai mahasiswa psikologi yang dipercaya orang lain paham soal manusia dan melakukan empati sekedar atas dasar keprofesian. Tapi, juga karena aku mengalami depresi.
            Berbicara soal depresi, sebetulnya depresi itu normal, terlebih ketika menghadapi kesulitan hidup. Stressor yang tinggi dapat memicu depresi, tapi tentu tidak setiap orang akan mengalami depresi. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi seperti faktor biologis, coping style dan juga social support. lalu bagaimana dengan ceritaku?
            Aku dilanda perasaan kehilangan, ya memang ini bukan perihal kisah percintaan dan siapa yang ditinggal dan yang meninggalkan. Ini hanya siklus kehidupan umum yang pada saat itu kondisi psikis tidak siap untuk menerima realitas yang ada. Dalam kisah ini pada dasarnya tidak ada yang salah, hanya saja titik beratnya pada penghayatanku mengenai hal ini. Mungkin begitulah siklus kehidupan, setiap orang datang dan pergi. Tapi menjadi tidak sederhana ketika orang ini dihayati berperan sebagai social support dalam hidup. Aku menyadari bahwa, tidak ada yang patut dipersalahkan dan aku pun tidak bisa menuntut siapapun, yang aku perlu lakukan adalah menguatkan diri untuk melanjutkan kehidupan. Mungkin memang terdengar sederhana, tapi ternyata di alam ketidaksadaranku komponen intrapsikis sedang berdinamika. 
            Freud meneorikan bahwa saat orang merasa kehilangan, atau bahkan takut kehilangan, figur penting dari orang yang kepadanya mereka miliki perasaan ambivalen, perasaan marah mereka terhadap tersebut berubah menjadi kemarahan ekstrem. Namun kemarahan yang ekstrem tersebut memicu rasa bersalah, yang justru mencegah mereka untuk mengarahkan rasa marah secara langsung kepada orang yang telah pergi (objek). Objek tersebut kemudian direpresentasikan secara mental dan disatukan ke dalam self, sehingga kemarahan terarah ke dalam. Hal ini menimbulkan self-hatred, yang nantinya akan menimbulkan depresi.
            Apakah hanya ini saja? Tidak hanya oleh psikodinamika, tapi aku juga dirundung oleh teori humanistik dalam aspek kehidupan yang lain secara bersamaan. Pada dasarnya teoritikus humanistik seperti teoritikus psikodinamika, mengaitkan depresi dengan kehilangan. Kehilangan dalam hal ini tidak hanya orang, tapi juga dikatikan dengan identitas personal dan rasa self-worth yang menyebabkan sense of purpose dan self-worth terguncang. Misalnya, jika kita mendasarkan self-esteem kita pada peran pekerjaan atau kesuksesan, maka ketika kehilangan pekerjaan dan turun pangkat, kehilangan seperti ini dapat memicu depresi, terutama bila kita dibesarkan untuk menilai diri sendiri berdasarkan kesuksesan pekerjaan.
            Ada suatu hal yang sudah menjadi bagian dari hidupku cukup lama dan aku juga menyandarkan self-esteem pada hal tersebut. Karena segala pertimbangan dan ketidakmungkinan yang ada, maka aku harus melepaskannya begitu saja. Lagi-lagi aku dihadapkan dengan kehilangan. Memang ini tidak benar-benar terjadi secara bersamaan dengan event yang diatas. Tapi dengan perasaan kehilangan yang masih dirasakan hingga saat ini, menjadi memperburuk kondisi psikis yang ada. Perasaan tidak berharga, tidak percaya diri, inferior dan merasa tidak bisa memenuhi kebutuhan untuk aktualisasi diri.
            Apa masih ada lagi? Ya, masih ada. Kali ini dari teori belajar. Menurut teori ini, depresi dihasilkan dari ketidakseimbangan output perilaku dan input reinforcement yang berasal dari lingkungan. Kurangnya reinforcement untuk usaha seseorang dapat menurunkan motivasi dan menyebabkan perasaan depresi. Pada dasarnya, aku yang selalu tertarik pada dunia internal dan pemaknaan, maka akan lebih tertarik dengan struktur internal seperti psikodinamika dan humanistik, sehingga teori belajar tidak terlalu menjadi perhatianku. Terlebih, teori belajar juga fokus pada faktor-faktor situasional. Tapi nampaknya kali ini aku tidak bisa luput dari teori belajar, karena apa yang sedang aku hadapi tidak bisa lepas dari atribut-atribut psikologis dari teori tersebut.
            Aku cenderung mengedepankan pemaknaan dari setiap yang aku kerjakan, tentu bagiku pada hakikatnya semua adalah ibadah, aku ingin meraih ridho-Nya. Meski tidak semua kegiatan aku maknai seperti itu secara spesifik, namun secara hakikat yang mendasar sebagai tujuan dari segala yang dilakukan (general). Aku juga mengedepankan motivasi intrinsik dalam berperilaku. Tapi pada kenyataannya, adakalanya pada titik tertentu sebagai manusia ternyata aku juga membutuhkan reinforcement dari lingkungan. Ketidakseimbangan output  yang aku hasilkan dengan input reinforcement yang ada pada taraf tertentu ternyata dapat memperngaruhi motivasi intrinsik yang selama ini aku pupuk dalam diri. Ini juga menjadi salah satu yang menyebabkan perasaan depresi.
            Kalau orang mengatakan hidup itu kejam aku setuju, karena apa yang aku alami diatas belum termasuk stessor-stressor kecil. sebetulnya stressor yang menyehatkan, dalam artian stressor yang pada taraf masih dibutuhkan untuk melatih adjustment. Tapi tentu karena beberapa hal berat yang aku alami, itu akan dihayati sebagai beban dan bukan dihayati sebagai tantangan. Terlebih, ketika kondisi emosi yang sangat menguasai diri, maka aspek kognisi akan menurun. Sehingga secara teori kognitif, melakukan generalisasi yang berlebihan, keyakinan-keyakinan negatif, dll. Pada kondisi seperti ini akan lebih mudah mencapai titik maksimum dalam stress tolerance.
            Pada dasarnya aku masih tidak terlalu yakin untuk mendiagnosis diri sendiri berdasarkan DSM. Ya karena memang aku masih belum berkompetensi untuk melakukan perkerjaan yang dilakukan psikolog klinis. Meskibegitu kadang menganalisis diri sendiri dapat membantu menjawab perasan, pikiran atau penghayatan yang dirasa tidak wajar.
            Anggaplah, aku memang mengalami depresi. Lalu seperti apa rasanya? Sudah pasti memiliki rasa bersalah yang berlebih, menjadi selalu menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi. mudah lelah, baik secara psikis maupun fisik. tidak ada minat dengan aktivitas. Sering mengantuk karena mengalami hipersomnia. Mudah menangis dikala sendiri yang penyebabnya adalah perasaan sedih namun tidak dapat dipastikan masalah yang menyebabkan kesedihan secara rasional. Berbeda dengan sedih yang ada penyebab pasti dan hanya sementara, depresi adalah perasan sedih mendalam yang tidak jelas apa yang menjadi penyebabnya dan censerung menetap lama. Sulit berkonsentrasi, mungkin itu sebabnya aku sampai mengalami kecelakaan motor diwaktu yang berdekatan, itu belum termasuk yang hampir-hampir. Terkadang untung saja pengemudi motor yang lain sempat nge-rem meski mereka yang menjadi hampir jatuh. Kalau tidak, itu akan jadi kecelakaan yang lebih parah dari yang aku pernah alami. Itu sebabnya mengemudi harus diatas 17 tahun, kaitannya adalah masalah kematangan emosi dan kognisi. Lain kali, tambahkan juga selain tidak boleh dalam keaadan mabuk, tapi juga harus sehat secara psikis yaitu tidak mengalami depresi. Kaitannya adalah, selain sulit berkonsentrasi tapi bisa jadi tidak takut mati. Memang, biasanya depresi dikaitkan dengan bunuh diri. Tapi bisa jadi mereka juga yang memang tidak berencana bunuh diri, tapi tidak takut mati. Tidak lagi ada perhitungan-perhitungan dalam melakukan perilaku yang dapat membahayakan dirinya. Apakah ini juga aku alami? Tentu saja iya. Mungkin aku memang tidak ada niatan bunuh diri, karena itu sangat di larang oleh agama. Tapi, ketidaktakutan pada kematian karena keputusasaan yang mendalam. Misalnya seperti ketika menyebrang jalan tanpa perhitungan, mengemudikan motor dalam kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya, dan tragisnya, aku pernah berdoa untuk minta dicabut nyawa kalau memang aku sudah tidak bisa amanah lagi dalam menjalani tanggung jawab keseharian.
            life event ­non-normatif dan menyelami dunia abnormalitas, bagiku tidak selalunya buruk. Setidaknya dalam kondisi-kondisi sulit, aku menjadi lebih mengenal diri sendiri, aku juga jadi lebih paham orang lain, dan tentu akan punya sudut pandang yang berbeda dari orang pada umumnya. Aku menjadi terbiasa dengan hal-hal yang seperti ini, dalam artian ketika orang lain memerlukan pertolongan atau ketika mereka mengeluhkan perasaan-perasaan yang mereka anggap tidak wajar dan bahkan mereka sulit pahami, aku menjadi mudah memahaminya, tentunya tetap dengan landasan teori yang telah aku pelajari diperkuliahan.
            Hidup seringkali berat dan sulit sampai tanpa disadari mungkin kita mengalami depresi. Tapi aku tau itu hanya proses yang memang harus dilalui yang merupakan bagian dari kehidupan. Tinggal bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari setiap pengaturan-Nya agar tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tapi juga orang lain. Semoga, dengan segala hal yang telah aku lalui, hikmah yang terkuak dapat bermanfaat bagi kehidpanku dan orang lain. Amin. 

dari aku, duniaku, dan penghayatanku
bandung, 02.02.2012
irsa ikramina