hari ini aku pergi ke kampus hanya untuk sekedar
mengurusi persyaratan beasiswa, setelah itu aku memutuskan untuk langsung cepat
pulang ke rumah lantaran aku sedang merasa tidak nyaman berada di lingkungan
sosial, aku ingin sendiri.
Sesampainya
di tempat parkiran motor, a’ budi, tukang parkir untuk parkiran motor rayon
anak-anak psikologi, bertanya kepada ku sambil mengeluarkan motorku diantara
motor-motor yang lainnya yang begitu berjajar padat.
A’ budi :
“sa, nilai uda keluar semua?”
aku : “udah. Kenapa a’?”
A’ budi : “terus gimana?”
Aku : “turun dikit banget tapi
masih dalam range yang wajar. Jadi ya,
sangat Alhamdulillah” kataku sambil tersenyum bangga.
“emg kenapa a’?” tanyaku dengan nada heran.
A’
budi :“
oohh, engga keliatan aja mukanya beda. Gak kaya biasanya. Kirain aja, yaaa kan
biasanya kuliah suka gitu kalau ngeliat anak-anak yang lain”
Aku sadar a’budi menyadari wajahku yang
menyisakan kesedihan karena dari semalam sampai bangun pagi aku menangis. Mungkin
selain mataku masih sedikit sembab, aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi
untuk “sok tegar”. Kelesuan, tatapan lunglai, langkah berat pasti sangat mudah
terobservasi oleh tukang parkir sekalipun.
Aku
: “hehehe, yaelah. Ujian
hidup perkuliahan tuh belum seberapa a’” kataku sambil tersenyum diplomasi dan
memberinya uang parkir
A’budi : “cieee filosofi hidupnya dalem
nih” dengan nada mengejek ku.
Aku : “yaa bener a’, kuliah itu
hanya sebagian kecil dari perjalanan hidup. Belum nanti bekerja, belum nanti
berumah tangga. Ujiannya lebih kompleks lagi. Ini hanya baru sebagian kecil aja.”
A’
budi : “iya juga sih” katanya
sambil mengangguk dan terdiam.
Sementara a’ budi masih terdiam, aku sudah
menyalakan mesin motor dan memecah diamnya a’ budi, “yuk a, duluan”, kataku
sambil jalan perlahan. “iya sa, hati-hati”, kata a’ budi.
Aku
akui, aku memang sedang sedih. Meski begitu, aku hanya manusia yang sedang
menghayati kesedihan. Karena aku juga tahu, tidak boleh berlarut-larut dalam
kesedihan. Kalau sedang sedih seperti ini, aku ingin segera pulang, aku ingin
bertemu sajadahku yang selalu terbentang di kamarku..
Sajadahku
itu yang selalu menemaniku di saat aku berkomunikasi pada Sang Khalik. Sajadahku
adalah saksi ketegaran, kebahagiaan, dan kesedihanku. Tidak hanya pada saat aku
shalat, tapi sajadahku yang menyerap tetesan air mataku yang berjatuhan ketika
doa sudah tidak sanggup aku ucapkan. Air mata yang berjatuhan di atas sajadahku
adalah ungkapan-ungkapan hati yang tidak bisa aku ungkapkan ke orang lain dan
hanya sanggup aku ucapkan dalam hati untuk Yang Mha Mengetahui. Di sepertiga
malam terakhir sajadahku menemaniku untuk menjadi alas dari lantai yang sangat
dingin. Ia juga menjadi saksi dari setiap sujudku. Di atas sajadahku, aku
merasakan ketentraman hati dalam menjalankan ritual shalat, di atas sajadahku
juga ku lantunkan bacaan-bacaan qur’an. Di atas sadajah itu, aku ucapkan doa
doa yang hanya bisa di dengar oleh aku, ia, dan Yang Maha Mendengarkan.
Kebiasaanku
kalau belajar atau membaca materi kuliah adalah di tempat tidur karena meja
belajarku yang terlalu penuh dan berantakan. Namun ketika aku sering ketiduran,
agar tidak mengantuk aku belajar di atas sajadahku dengan hanya sorotan cahaya
dari lampu belajar di tengah malam. Sajadahku juga yang menemani perjalanan
jihad ku.
Tanpa
sajadah itu, kenikmatanku untuk bercinta dengan Yang Maha Menyanyagi tidaklah menjadi
lengkap..
Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 16
Februari 2012
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment