aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Thursday, February 16, 2012

aku dan sajadahku


           hari ini aku pergi ke kampus hanya untuk sekedar mengurusi persyaratan beasiswa, setelah itu aku memutuskan untuk langsung cepat pulang ke rumah lantaran aku sedang merasa tidak nyaman berada di lingkungan sosial, aku ingin sendiri.
            Sesampainya di tempat parkiran motor, a’ budi, tukang parkir untuk parkiran motor rayon anak-anak psikologi, bertanya kepada ku sambil mengeluarkan motorku diantara motor-motor yang lainnya yang begitu berjajar padat.
A’ budi             : “sa, nilai uda keluar semua?”
aku                   : “udah. Kenapa a’?”
A’ budi             : “terus gimana?”
Aku                    : “turun dikit banget tapi masih dalam range yang wajar. Jadi ya, sangat Alhamdulillah”   kataku  sambil tersenyum bangga.
                          “emg kenapa a’?” tanyaku dengan nada heran.
A’ budi              :“ oohh, engga keliatan aja mukanya beda. Gak kaya biasanya. Kirain aja,    yaaa  kan biasanya kuliah suka gitu kalau ngeliat anak-anak yang lain”
Aku sadar a’budi menyadari wajahku yang menyisakan kesedihan karena dari semalam sampai bangun pagi aku menangis. Mungkin selain mataku masih sedikit sembab, aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk “sok tegar”. Kelesuan, tatapan lunglai, langkah berat pasti sangat mudah terobservasi oleh tukang parkir sekalipun.
Aku                    : “hehehe, yaelah. Ujian hidup perkuliahan tuh belum seberapa a’” kataku sambil tersenyum diplomasi dan memberinya uang parkir
A’budi               : “cieee filosofi hidupnya dalem nih” dengan nada mengejek ku.
Aku                    : “yaa bener a’, kuliah itu hanya sebagian kecil dari perjalanan hidup. Belum nanti bekerja, belum nanti berumah tangga. Ujiannya lebih kompleks lagi. Ini hanya baru sebagian kecil aja.”
A’ budi              : “iya juga sih” katanya sambil mengangguk dan terdiam.
Sementara a’ budi masih terdiam, aku sudah menyalakan mesin motor dan memecah diamnya a’ budi, “yuk a, duluan”, kataku sambil jalan perlahan. “iya sa, hati-hati”, kata a’ budi.
            Aku akui, aku memang sedang sedih. Meski begitu, aku hanya manusia yang sedang menghayati kesedihan. Karena aku juga tahu, tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Kalau sedang sedih seperti ini, aku ingin segera pulang, aku ingin bertemu sajadahku yang selalu terbentang di kamarku..
            Sajadahku itu yang selalu menemaniku di saat aku berkomunikasi pada Sang Khalik. Sajadahku adalah saksi ketegaran, kebahagiaan, dan kesedihanku. Tidak hanya pada saat aku shalat, tapi sajadahku yang menyerap tetesan air mataku yang berjatuhan ketika doa sudah tidak sanggup aku ucapkan. Air mata yang berjatuhan di atas sajadahku adalah ungkapan-ungkapan hati yang tidak bisa aku ungkapkan ke orang lain dan hanya sanggup aku ucapkan dalam hati untuk Yang Mha Mengetahui. Di sepertiga malam terakhir sajadahku menemaniku untuk menjadi alas dari lantai yang sangat dingin. Ia juga menjadi saksi dari setiap sujudku. Di atas sajadahku, aku merasakan ketentraman hati dalam menjalankan ritual shalat, di atas sajadahku juga ku lantunkan bacaan-bacaan qur’an. Di atas sadajah itu, aku ucapkan doa doa yang hanya bisa di dengar oleh aku, ia, dan Yang Maha Mendengarkan.
            Kebiasaanku kalau belajar atau membaca materi kuliah adalah di tempat tidur karena meja belajarku yang terlalu penuh dan berantakan. Namun ketika aku sering ketiduran, agar tidak mengantuk aku belajar di atas sajadahku dengan hanya sorotan cahaya dari lampu belajar di tengah malam. Sajadahku juga yang menemani perjalanan jihad ku.
            Tanpa sajadah itu, kenikmatanku untuk bercinta dengan Yang Maha Menyanyagi tidaklah menjadi lengkap..

 Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 16 Februari 2012
Irsa Ikramina
  
           

No comments:

Post a Comment