aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Saturday, February 4, 2012

aku dan perjalanan batin


Kadang aku merasa, perjalanan yang aku tempuh sudah sangat jauh..
Mungkin karena tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa aku telah memulai perjalanan panjang ini
           
            Dulu aku ingat ketika masih duduk di bangku SD, mungkin kelas 5, berarti usiaku pada saat itu sekitar 10 tahun. Aku mendapat ranking pertama di kelas, teman-teman bermainku mendapat ranking 5 dan 10 besar. Lalu mereka mendapat hadiah yang telah dijanjikan orang tuanya sebagai reward. Aku yang tidak menyangka akan mendapat ranking 1, memang tidak dijanjikan apapun. Karena aku sudah melihat teman-temanku yang dididik dengan sangat behavioristik, aku pikir aku akan diberikan hadiah. Aku menunggu diberikan hadiah, ternyata tidak juga. Lalu aku mencoba meminta sesuatu, ternyata dibelikan namun butuh waktu lama dan memang setiap aku meminta apapun itu, biasanya tidak langsung diberikan. Bisa dibilang aku dibesarkan dengan penanaman motivasi intrinsik, dan hal itu yang menjadi peganganku hingga saat ini. Namun sejak saat itu, aku menyadari bahwa hidup ku “berbeda” dari teman-teman yang lainnya.
I realized that my life wouldn't be easy
            Usia 10 tahun memang belum mencapai kemampuan berpikir operasional formal dalam perkembangan kognitifnya, tapi bukan berarti tidak bisa untuk menyadari realitas yang dihadapi. Desakan kehidupan dan tekanan kehidupan, kadang menuntut seseorang untuk dapat memaksimalkan kapasitas yang ada. Kemampuan problem solving dan menempatkan diri menjadi sangat penting. Mungkin, itu sebabnya mental age bisa jadi lebih tua dari chronological age-nya. Memasuki usia remaja akhir, sekitar usia 16 – 19 tahun, aku lebih senang berteman dengan orang dewasa. Karena memang sebelumnya, aku sering dibilang, “lu ngomong apa sih sa? Ga ngerti gue”. Sejak saat itu aku belajar menempatkan diri dan mencari teman yang berusia sudah dewasa. Bukan berarti aku tidak membutuhkan teman-teman sepantar ku lagi, hanya saja porsinya yang berbeda. Biasanya, teman-teman sepantar untuk hal-hal yang lebih ringan, seperti bercanda dan bermain. Sedangkan orang dewasa, adalah untuk teman berbicara, dimana aku dapat dengan bebas mengutarakan isi hati dan pikiran tanpa dibilang aneh atau disalahpahami.
            Pengalaman berteman dengan orang dewasa dan dapat menyesuaikan diri dengan mereka, membuat aku juga dapat memahami mereka meski usia berjarak jauh. Aku bisa saling sharing, bertukar pikiran, dan hal yang paling menyenangkan bagiku adalah karena aku didengarkan dan dimintai pendapat. Dapat dikatakan, aku tidak dianggap “anak kecil”. Kadang, meski usia dua kali lipat diatas, untukku bukan hal yang sulit untuk berempati dan dapat memahami. Itu sebabnya aku merasa perjalanan yang aku tempuh seperti sudah sangat jauh, karena mungkin aku memulainya (menyadari) dari usia yang sangat muda.
Usia ku kini 20 tahun, namun panjangnya perjalanan yang sudah aku tempuh membuat aku merasa seperti sudah 40 tahun hidup..

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 05022012
Irsa Ikramina


No comments:

Post a Comment