Ketika aku sedang melihat-lihat kembali sekilas
mengenai tulisan-tulisan yang sudah aku posting di sini. Nampaknya sudah
terlalu banyak mengenai kesedihan. Itu bukan berarti aku tidak pernah bahagia
tentunya. Hanya saja, selama ini aku sulit untuk menceritakan kebahagiaan
secara deskriptif, mungkin karena pengalaman kebahagiaan itu bersifat
transendental. Akan tetapi bagiku kebahagiaan juga dihayati subjektif seperti
kesedihan dan memiliki sifat universal sebagai fitrah manusia.
Dulu
aku ingat waktu pertama kali menonton film the
pursuit of happYness mungkin waktu aku masih duduk di kelas 1 SMA. aku
mendefinisikan kebahagiaan seperti apa yang Chris Gardner definisikan dalam
kehidupannya. Bagiku, tidak masalah dengan ini karena memang ketika aku
menempatkan diri sebagai Chris Gardner, happiness
terletak pada kebutuhan rasa aman, seperti pekerjaan, tempat tinggal dan
penghasilan tetap. Ya, itu Chris Gardner. Mungkin bagi orang yang kebutuhan
rasa aman telah terpenuhi, apa yang Chris Garner kejar dalam hidupnya bisa jadi
bukan menjadi kebahagiaan baginya. Bagi orang yang sakit, bisa saja kesehatan
merupakan kebahagiannya. Orang menikah ataupun hidup melajang, mereka bisa juga
bahagia dan bisa saja tidak. Bagi orang yang spiritualis, bisa jadi itu adalah
sumber kebahagiannya. Usia juga tidak menjamin suatu kebahagiaan, yang tua dan
yang muda bisa saja didera depresi.
Aku
sendiri sejak saat itu masih belum bisa mendefinisikan apa itu kebahagiaan
walaupun aku tahu rasanya seperti apa karena kebahagiaan dapat aku rasakan di
aspek kehidupan yang berbeda. Misalnya saja ketika aku pergi ke bioskop untuk
menonton film bagus, aku bahagia namun setelah itu pudar lagi. Tapi aku juga pernah mengobrol dengan
seseorang, tanpa terasa ternyata aku sudah mengobrol selama hampir 4 jam! Lalu
setelahnya aku merasa sangat bahagia. Pernah juga aku membaca buku-buku
inspiratif atau penyejuk qalbu dan setelahnya aku merasa sangat bahagia. Pernah
lagi, temanku bertanya apa aku tidak lelah dengan mengambil 3 les di bidang
berbeda dan full disetiap harinya,
aku hanya menjawab, “cape, tapi gue seneng”. Anehnya juga, ketika temanku
bertanya apakah tahun depan aku mau mencoba menjadi asisten lab. di kampusku,
aku malah lebih tertarik pada pekerjaanku yang sedang aku jalani sekarang
sebagai guru privat, dengan alasan aku senang bisa berbagi ilmu dan membesarkan
orang lain. Sering ketika aku beribadah, setelah shalat dan membaca quran aku merasa bahagia. Aku juga merasakan
kebahagiaan yang luar biasa ketika ternyata dapat membantu dan membahagiakan
orang lain. Ketika aku hanya berdiam diri di kamar, lalu mengingat-ingat
kejadian yang telah lalu dan kemudian bersyukur terhadap skenario kehidupan
yang Tuhan sudah beri, aku juga merasa bahagia. Lalu apa sebenarnya kebahagiaan
itu?
Pernah
aku membaca buku karya Dr. ‘Aidh bin ‘Abdullah Al-Qarni yang berjudul laa tahzan dalam bahasa arab, don’t be sad dalam bahasa inggris, atau
jangan bersedih dalam bahasa indonesia. Aku pikir, walaupun banyak orang yang
belum pernah membacanya, aku yakin orang yang pernah melihat atau mendengar
tentang buku ini. Bagaimana tidak, buku ini selalu ada dalam jajaran buku best seller di toko buku. Sepanjang
hidupku, ini adalah buku yang paling “healing”.
Kebetulan pada saat itu, aku sedang diuji persoalan hidup yang sangat
membuat sedih, dan karena membaca buku ini aku bisa merasakan kebahagiaan lagi
pada saat itu. Tapi, tetap saja, aku masih kurang bisa mendeskripsikan
kebahagiaan secara ilmiah. Karena memang begitu religius dan spiritual kebahagiaan
yang aku tangkap dari buku itu; rasa syukur, kesabaran, keikhlasan, bersih
hati, dll. Namun karena penyajian kata per katanya yang begitu menyejukkan, hal
itu menjadi tidak terkesan menceramahi. aku belum berani berbicara banyak
kadang soal ini, takut terkesan “menceramahi” apalagi aku ini mahasiswa
fakultas psikologi, bukan tarbiyah. Jadi aku pikir, mungkin untukku memang “healing”, tapi tidak bagi orang lain yang
berkonsultasi padaku dan butuh dipahami bukan membutuhkan ceramah.
Lima
semester di psikologi kadang cukup membosankan dengan begitu banyaknya mata
kuliah yang “dijejali” namun tidak satupun yang benar-benar membuatku excited. Selain analisis eksistensial
yang didalamnya manusia itu bernuansa intensional, kesadaran, baik (suara hati)
dan bebas; aku sedikit banyak menaruh perhatian pada psikologi islam yang
mirsinya hanya 1 sks. Walaupun teman-teman mengatakan aku aneh lantaran
“bisa-bisanya” tertarik dengan psikologi islam, tapi tentu ini bukan saja hanya
masalah spiritualitas. Tapi juga bagaimana memandang manusia itu sendiri. Bagiku
hanya humanistik, analisis eksistensial dan psikologi islam yang menilai
manusia itu positif.
Hingga
pada akhirnya aku menemukan positive
psychology, salah satu ranah dari psikologi ini yang bagiku sangat
memuliakan manusia, tidak sekedar berbicara perihal “menyembuhkan”, tapi lebih
kepada meningkatkan salah satunya kebahagian, yang didalamnya ada juga perihal
kekuatan,kebaikan, dan makna kehidupan.
Positive psychology is about nurturing talent and improving normal life. it is focused
heavily on happiness and fulfillment
I think I’ve just
found “mine” in psychology
Setidaknya
positive psychology tidak sekedar
membantuku untuk mendekripsikan kebahagiaan secara ilmiah, tapi aku juga
menemukan nilai-nilai islam di dalamnya, ada fitrah, rasa syukur, memafkan,
keyakinan dan harapan, dan makna hakiki dari kehidupan.
Positive psychology dalam membicarakan
kebahagiaan, menyajikan tiga hal penting yang menjadi penunjang, yaitu emosi
positif pada masa lalu, masa depan, dan masa sekarang. Emosi positif pada masa
lalu berkaitan dengan bagaimana kita dapat bersyukur dan memafkan yang telah
lalu. Seperti halnya yang diajarkan oleh islam, untuk senantiasa bersyukur
dalam setiap apa yang Allah berikan, baik itu ujian maupun berupa nikmat. “Dan dia telah menyempurnakan untuku
dikmat-Nya lahir dan batin” (QS. 31:20) “maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang pantas kalian dustakan?” (QS. 55: 13). “Terimalah semua yang telah Allah berikan kepada kalian dan jadilah
kalian termasuk orang-orang yang bersyukur” (QS. 7: 144). Memaafkan bukan
hal yang asing lagi dalam islam, terlebih sebagai umat islam kita dilatih untuk
bisa saling maaf-memaafkan setiap hari raya idul fitri, meskipun maaf memaafkan
tidak hanya dilakukan pada saat idul fitri. “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan orang-orang yang memaafkan
kesalahan orang lain. (QS. 3: 134) “Jadilah
engkau pemaaf dan suruhlah orang lain mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah
dari orang-orang yang bodoh” (QS. 7: 199). Memaafkan tidak hanya dalam
meridoi perlakuan orang lain yang menyakitkan, tapi juga bagaimana kita tidak selalu
menoleh, menangisi, dan berkaca pada masa lalu. Hanya akan ada kesia-sian untuk
hidup yang sedang dijalani dan masa depan. Aku pikir, kalau kita bisa bijak
dalam menyikapi masa lalu, maka kepuasan kebanggan dan ketenagan yang akan kita
dapatkan untuk mersakan kebahagiaan.
Emosi
positif yang berkaitan dengan masa depan, adalah mengenai optimisme, harapan,
percaya diri, dan keyakinan. “keyakinan
adalah yang sebaik-baiknya tertanam dalam hati” (sabda Rasulullah SAW).
keyakinan menjadi sangat penting untuk mencegah keputusasaan. Keyakinan bahwa
sesungguhnya di dalam kesulitan pasti ada kemudahan, Allah tidak akan
memberikan beban melebihi kemampuan hamba-Nya, Allah mengikuti sesuai prasangkaan
habanya, Allah akan mengubah keadaan sesuai dengan apa yang diiktiarkan dan masih
banyak lagi yang tentu semua itu berasal dari Al-Quran. Dengan begitu, akan
memunculkan harapan untuk menghadapi masa depan.
Emosi
positif masa sekarang berkaitan dengan pleasure
dan gratification. Pleasure berkaitan dengan kenikmatan lahir dan batin, sedangkan gratification adalah kegiatan yang
senang kita lakukan yang bisa membuat kita mengalami flow, yaitu dimana waktu terasa terhenti dalam kondisi yang sangat
nyaman. Kebahagiaan dalam hal ini dapat ditingkatkan dengan cara membangun
kekuatan dan kebijakan personal yang kita miliki. Kekuatan yang dimaksud yang
diungkap dalam positive psychology
oleh Selignment jika dilihat semuanya berlandaskan fitrah manusia dari 99
asmaul husna, beberapa diantaranya seperti keadilan (A’Adl), pengendalian diri
(Al Qoobidi), pemaaf (Al’ Affuw), rasa syukur (Asy Syakuur), mencintai dan dicinta (Arrahman Arrahim), dan
sebagainya. Sehingga dapat dikatakan bahwa hidup yang menyenangkan dimana
segala emosi positif bisa diraih, belum tentu merupakan hidup yang baik. hidup
yang baik adalah ketika kita menggunakan kekuatan personal (fitrah) untuk
memperoleh gratifikasi semaksimal mungkin pada aspek-aspek utama kehidupan.
Kebahagiaan
dapat diperoleh dengan banyak jalan, salah satunya mengatur kekuatan dan
kebajikan pribadi dalam aspek-aspek kehidupan. Hidup yang menyenangkan, hidup
yang baik, maka belum tentu juga hidup itu bermakna. penting untuk mengetahui
apa itu makna kehidupan, tentu agar segala sesuatu yang kita lakukan dalam
hidup tidak menjadi pekerjaan yang sia-sia. Islam menjelaskan bahwa manusia
diturunkan di bumi adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi, dengan diberikan
bekal fitrahnya. Sehingga manusia dapat mengaktualisasikannya agar dapat
bermanfaat tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk umat, dan tidak
hanya untuk dunia tapi juga untuk akhirat. “apakah
kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian sia-sia, dan bahwa sesungguhnya
kalian tidak akan di kembalikan kepada Kami?” (QS. 23: 115)
Berbagai keterbatasan
dalam hidup seringkali mengekang kebebasan, sehingga yang terasa hanyalah emosi
negatif. Namun hanya ketika aku bersujud kepadaMu, hadir kekihlasan dan
kekuatan untuk memaafkan masa lalu, muncul segenap keyakinan untuk masa depan,
dan ketenangan batin untuk menghapus kesedihan saat ini. Tidak ada lagi tujuan
untuk memperoleh kebahagiaan hakiki selain menuju padaMu ya Rabb. Maka, segala
potensi (fitrah) yang Engkau bekali yang tercurah dalam segala gratifikasi
apapun, semua hanya karena Allah. Karena itu adalah makna kehidupan yang dapat
memabawa pada kebahagiaan yang hakiki..
Dari aku,
duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 16
Februari 2012
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment