aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Thursday, February 16, 2012

aku dan kebahagiaan


            Ketika aku sedang melihat-lihat kembali sekilas mengenai tulisan-tulisan yang sudah aku posting di sini. Nampaknya sudah terlalu banyak mengenai kesedihan. Itu bukan berarti aku tidak pernah bahagia tentunya. Hanya saja, selama ini aku sulit untuk menceritakan kebahagiaan secara deskriptif, mungkin karena pengalaman kebahagiaan itu bersifat transendental. Akan tetapi bagiku kebahagiaan juga dihayati subjektif seperti kesedihan dan memiliki sifat universal sebagai fitrah manusia. 
            Dulu aku ingat waktu pertama kali menonton film the pursuit of happYness mungkin waktu aku masih duduk di kelas 1 SMA. aku mendefinisikan kebahagiaan seperti apa yang Chris Gardner definisikan dalam kehidupannya. Bagiku, tidak masalah dengan ini karena memang ketika aku menempatkan diri sebagai Chris Gardner, happiness terletak pada kebutuhan rasa aman, seperti pekerjaan, tempat tinggal dan penghasilan tetap. Ya, itu Chris Gardner. Mungkin bagi orang yang kebutuhan rasa aman telah terpenuhi, apa yang Chris Garner kejar dalam hidupnya bisa jadi bukan menjadi kebahagiaan baginya. Bagi orang yang sakit, bisa saja kesehatan merupakan kebahagiannya. Orang menikah ataupun hidup melajang, mereka bisa juga bahagia dan bisa saja tidak. Bagi orang yang spiritualis, bisa jadi itu adalah sumber kebahagiannya. Usia juga tidak menjamin suatu kebahagiaan, yang tua dan yang muda bisa saja didera depresi. 
            Aku sendiri sejak saat itu masih belum bisa mendefinisikan apa itu kebahagiaan walaupun aku tahu rasanya seperti apa karena kebahagiaan dapat aku rasakan di aspek kehidupan yang berbeda. Misalnya saja ketika aku pergi ke bioskop untuk menonton film bagus, aku bahagia namun setelah itu pudar lagi.  Tapi aku juga pernah mengobrol dengan seseorang, tanpa terasa ternyata aku sudah mengobrol selama hampir 4 jam! Lalu setelahnya aku merasa sangat bahagia. Pernah juga aku membaca buku-buku inspiratif atau penyejuk qalbu dan setelahnya aku merasa sangat bahagia. Pernah lagi, temanku bertanya apa aku tidak lelah dengan mengambil 3 les di bidang berbeda dan full disetiap harinya, aku hanya menjawab, “cape, tapi gue seneng”. Anehnya juga, ketika temanku bertanya apakah tahun depan aku mau mencoba menjadi asisten lab. di kampusku, aku malah lebih tertarik pada pekerjaanku yang sedang aku jalani sekarang sebagai guru privat, dengan alasan aku senang bisa berbagi ilmu dan membesarkan orang lain. Sering ketika aku beribadah, setelah shalat dan membaca quran  aku merasa bahagia. Aku juga merasakan kebahagiaan yang luar biasa ketika ternyata dapat membantu dan membahagiakan orang lain. Ketika aku hanya berdiam diri di kamar, lalu mengingat-ingat kejadian yang telah lalu dan kemudian bersyukur terhadap skenario kehidupan yang Tuhan sudah beri, aku juga merasa bahagia. Lalu apa sebenarnya kebahagiaan itu?
            Pernah aku membaca buku karya Dr. ‘Aidh bin ‘Abdullah Al-Qarni yang berjudul laa tahzan dalam bahasa arab, don’t be sad dalam bahasa inggris, atau jangan bersedih dalam bahasa indonesia. Aku pikir, walaupun banyak orang yang belum pernah membacanya, aku yakin orang yang pernah melihat atau mendengar tentang buku ini. Bagaimana tidak, buku ini selalu ada dalam jajaran buku best seller di toko buku. Sepanjang hidupku, ini adalah buku yang paling “healing”. Kebetulan pada saat itu, aku sedang diuji persoalan hidup yang sangat membuat sedih, dan karena membaca buku ini aku bisa merasakan kebahagiaan lagi pada saat itu. Tapi, tetap saja, aku masih kurang bisa mendeskripsikan kebahagiaan secara ilmiah. Karena memang begitu religius dan spiritual kebahagiaan yang aku tangkap dari buku itu; rasa syukur, kesabaran, keikhlasan, bersih hati, dll. Namun karena penyajian kata per katanya yang begitu menyejukkan, hal itu menjadi tidak terkesan menceramahi. aku belum berani berbicara banyak kadang soal ini, takut terkesan “menceramahi” apalagi aku ini mahasiswa fakultas psikologi, bukan tarbiyah. Jadi aku pikir, mungkin untukku memang “healing”, tapi tidak bagi orang lain yang berkonsultasi padaku dan butuh dipahami bukan membutuhkan ceramah. 
            Lima semester di psikologi kadang cukup membosankan dengan begitu banyaknya mata kuliah yang “dijejali” namun tidak satupun yang benar-benar membuatku excited. Selain analisis eksistensial yang didalamnya manusia itu bernuansa intensional, kesadaran, baik (suara hati) dan bebas; aku sedikit banyak menaruh perhatian pada psikologi islam yang mirsinya hanya 1 sks. Walaupun teman-teman mengatakan aku aneh lantaran “bisa-bisanya” tertarik dengan psikologi islam, tapi tentu ini bukan saja hanya masalah spiritualitas. Tapi juga bagaimana memandang manusia itu sendiri. Bagiku hanya humanistik, analisis eksistensial dan psikologi islam yang menilai manusia itu positif. 
            Hingga pada akhirnya aku menemukan positive psychology, salah satu ranah dari psikologi ini yang bagiku sangat memuliakan manusia, tidak sekedar berbicara perihal “menyembuhkan”, tapi lebih kepada meningkatkan salah satunya kebahagian, yang didalamnya ada juga perihal kekuatan,kebaikan, dan makna kehidupan. 
Positive psychology is about nurturing talent and improving normal life. it is focused heavily on happiness and fulfillment
I think I’ve just found “mine” in psychology
            Setidaknya positive psychology tidak sekedar membantuku untuk mendekripsikan kebahagiaan secara ilmiah, tapi aku juga menemukan nilai-nilai islam di dalamnya, ada fitrah, rasa syukur, memafkan, keyakinan dan harapan, dan makna hakiki dari kehidupan. 
            Positive psychology dalam membicarakan kebahagiaan, menyajikan tiga hal penting yang menjadi penunjang, yaitu emosi positif pada masa lalu, masa depan, dan masa sekarang. Emosi positif pada masa lalu berkaitan dengan bagaimana kita dapat bersyukur dan memafkan yang telah lalu. Seperti halnya yang diajarkan oleh islam, untuk senantiasa bersyukur dalam setiap apa yang Allah berikan, baik itu ujian maupun berupa nikmat. “Dan dia telah menyempurnakan untuku dikmat-Nya lahir dan batin” (QS. 31:20) “maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang pantas kalian dustakan?” (QS. 55: 13). “Terimalah semua yang telah Allah berikan kepada kalian dan jadilah kalian termasuk orang-orang yang bersyukur” (QS. 7: 144). Memaafkan bukan hal yang asing lagi dalam islam, terlebih sebagai umat islam kita dilatih untuk bisa saling maaf-memaafkan setiap hari raya idul fitri, meskipun maaf memaafkan tidak hanya dilakukan pada saat idul fitri. “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain. (QS. 3: 134) “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang lain mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (QS. 7: 199). Memaafkan tidak hanya dalam meridoi perlakuan orang lain yang menyakitkan, tapi juga bagaimana kita tidak selalu menoleh, menangisi, dan berkaca pada masa lalu. Hanya akan ada kesia-sian untuk hidup yang sedang dijalani dan masa depan. Aku pikir, kalau kita bisa bijak dalam menyikapi masa lalu, maka kepuasan kebanggan dan ketenagan yang akan kita dapatkan untuk mersakan kebahagiaan.
            Emosi positif yang berkaitan dengan masa depan, adalah mengenai optimisme, harapan, percaya diri, dan keyakinan. “keyakinan adalah yang sebaik-baiknya tertanam dalam hati” (sabda Rasulullah SAW). keyakinan menjadi sangat penting untuk mencegah keputusasaan. Keyakinan bahwa sesungguhnya di dalam kesulitan pasti ada kemudahan, Allah tidak akan memberikan beban melebihi kemampuan hamba-Nya, Allah mengikuti sesuai prasangkaan habanya, Allah akan mengubah keadaan sesuai dengan apa yang diiktiarkan dan masih banyak lagi yang tentu semua itu berasal dari Al-Quran. Dengan begitu, akan memunculkan harapan untuk menghadapi masa depan. 
            Emosi positif masa sekarang berkaitan dengan pleasure dan gratification. Pleasure berkaitan dengan kenikmatan lahir dan batin, sedangkan gratification adalah kegiatan yang senang kita lakukan yang bisa membuat kita mengalami flow, yaitu dimana waktu terasa terhenti dalam kondisi yang sangat nyaman. Kebahagiaan dalam hal ini dapat ditingkatkan dengan cara membangun kekuatan dan kebijakan personal yang kita miliki. Kekuatan yang dimaksud yang diungkap dalam positive psychology oleh Selignment jika dilihat semuanya berlandaskan fitrah manusia dari 99 asmaul husna, beberapa diantaranya seperti keadilan (A’Adl), pengendalian diri (Al Qoobidi), pemaaf (Al’ Affuw), rasa syukur (Asy Syakuur),  mencintai dan dicinta (Arrahman Arrahim), dan sebagainya. Sehingga dapat dikatakan bahwa hidup yang menyenangkan dimana segala emosi positif bisa diraih, belum tentu merupakan hidup yang baik. hidup yang baik adalah ketika kita menggunakan kekuatan personal (fitrah) untuk memperoleh gratifikasi semaksimal mungkin pada aspek-aspek utama kehidupan. 
            Kebahagiaan dapat diperoleh dengan banyak jalan, salah satunya mengatur kekuatan dan kebajikan pribadi dalam aspek-aspek kehidupan. Hidup yang menyenangkan, hidup yang baik, maka belum tentu juga hidup itu bermakna. penting untuk mengetahui apa itu makna kehidupan, tentu agar segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup tidak menjadi pekerjaan yang sia-sia. Islam menjelaskan bahwa manusia diturunkan di bumi adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi, dengan diberikan bekal fitrahnya. Sehingga manusia dapat mengaktualisasikannya agar dapat bermanfaat tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk umat, dan tidak hanya untuk dunia tapi juga untuk akhirat. “apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian sia-sia, dan bahwa sesungguhnya kalian tidak akan di kembalikan kepada Kami?” (QS. 23: 115)

Berbagai keterbatasan dalam hidup seringkali mengekang kebebasan, sehingga yang terasa hanyalah emosi negatif. Namun hanya ketika aku bersujud kepadaMu, hadir kekihlasan dan kekuatan untuk memaafkan masa lalu, muncul segenap keyakinan untuk masa depan, dan ketenangan batin untuk menghapus kesedihan saat ini. Tidak ada lagi tujuan untuk memperoleh kebahagiaan hakiki selain menuju padaMu ya Rabb. Maka, segala potensi (fitrah) yang Engkau bekali yang tercurah dalam segala gratifikasi apapun, semua hanya karena Allah. Karena itu adalah makna kehidupan yang dapat memabawa pada kebahagiaan yang hakiki..
           

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 16 Februari 2012
Irsa Ikramina

No comments:

Post a Comment