aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Sunday, October 25, 2015

Pulang

Suatu hari di toilet kantor. Aku membasuh wajah dengan air di washtafel. Lalu aku memandang refleksi diriku sendiri di cermin.

“oh, aku masih hidup dan masih menjadi aku”, ucap ku dalam hati
.
Seseorang yang jabatannya lebih tinggi 2 level dariku baru saja membunuh karakter ku. Lalu aku menyadari suatu hal. Pembunuhan karakter tidak akan membuat aku mati ternyata dan tidak akan membuat aku melupakan diri ku sendiri. Jadi buat apa ada orang yang selalu membunuh karakter orang lain ?

Orang-orang inferior memang umumnya akan membunuh karakter orang lain, untuk membuat dirinya superior. Sedangkan orang yang dibunuh karakternya agaknya memang harus bersyukur, karena ia berada pada posisi yang menguatkan dan membangun karakternya sendiri.

Dalam dunia keja seperti ini, yang perlu di sadari bahwa kita tidak hanya belajar soal KPI, SOP, analisa, data, presentasi, improvement, audit, product knowledge, dll.  Itu remeh sesungguhnya. Tp karakter dan mental seseorang yang akan menentukan kematangan juga harus selalu dibangun. Ya aku rasa, aku memang memerlukan peran-peran antagonis yang membunuh karakter dalam skenario hidup ku saat ini. Tentu saja untuk membentuk mental dan karakter yang lebih matang.

Hidup memang tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya, sesuai keinginan dan wacana. Karena memang manusia terlalu sok tahu atas apa yang baik bagi kehidupannya dan terlalu sering berkhayal menjauh dari kenyataan dengan melukiskan wacananya sendiri.

Aku tersenyum pada refleksi diriku sendiri, meyakinkan diriku sendiri bahwa semua ini baik-baik saja.

Aku keluar toilet. Kembali ke ruang kerja. Di meja kerjaku ada buku.

Nasib Manusia.

Judul buku yang aku pinjam dari rumah buku. Karya seorang temanku, Syarif Maulana. Mengisahkan perjalanan hidup Pak Awal Uzhara, yang menuntut ilmu perfilman di Rusia, kemudian tidak bisa pulang karena dicurigai ada kaitan dengan G30S PKI pada masa itu. Bahkan kewarganegaraan Indonesianya dicabut sehingga ia stateless (tidak memiliki kewarganegaraan). Nasibnya terkatung-katung selama 50 tahun di Rusia dengan impian bisa pulang ke tanah air.

Cerita ini agak menohok, setidaknya bagi ku pribadi. Bahwa hal yang sederhana direncanakan manusia, yaitu sekolah di luar dengan beasiswa lalu pulang ke tanah air. Menjadi tidak sederhana lagi.

Aku menjadi banyak berpikir soal kenyataan, nasib dan pilihan hidup.

Seperti aku, aku tidak memilih berada di ruangan ini, ditanyai ini itu oleh staff ku dan di suruh ini itu oleh atasan ku. juga, saat pekerjaan sedang memenuhi kehidupan ku. aku sangat rindu sekali untuk pulang. Pulang ke tempat aku merasa pulang bersama seniman-seniman lainnya. Tidak sulit bagi aku dan mereka untuk saling dekat dan bicara dari hati ke hati, juga menyikapi soal hidup. Aku merasa seperti dilahirkan dari rahim yang sama.

Tapi di sini, di tempat kerjaku saat ini. Pekerjaan sederhana saja bisa menjadi pelik. Dengan dasar dan alasan yang tak pasti. Kelakuan kelakuan manusianya pun melampuai batas nalar. Ya, meskipun tak semua dan tekecuali tim ku.

Aku sedikit mengasosiasikan hidup ku dengan Pak Awal, kami sama-sama rindu ingin pulang. Hanya saja tempat aku pulang lebih abstrak dan Pak Awal lebih konkret.
ketika jam solat tiba, aku pergi ke musola. sambil jalan ke musola, aku ingat kata atasan ku padaku, “ya kalau itu kehidupan yang kamu inginkan, maka persiapkanlah untuk itu”. ya, maksud atasan ku adalah aku harus siapkan darimana penghasilanku dsb kalau aku mau hijrah ke dunia tempat aku merasa pulang itu.

oia, aku sebetulnya bukan pemeluk islam yang taat secara praktek ibadah. Tapi aku spiritualis. Aku percaya Tuhan, aku yakin Tuhan, aku banyak bicara dengan Tuhan. Aku tidak paham soal agama terlalu dalam, tapi bertahun-tahun di sekolahkan di sekolah islam, membuat aku selalu menggunakan juga kacamata islam dalam setiap permasalahan hidup yang aku alami.

Tunggu dulu.. jadi sebetulnya pada hakikatnya aku  mempersiapkan diri untuk pulang ya ? ah, iya, bukankah hidup memang seperti itu adanya. Mempersiapkan diri untuk pulang secara lebih hakiki dalam artian, ke kampung akhirat.
Kalau ditafsirkan secara lebih dalam, aku dan Pak Awal mengalami perasaan yang memang merupakan fitrah manusia, yaitu kerinduan untuk pulang kepada yang menciptakan.


Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 25 Oktober 2015
Irsa Ikramina