Suatu
hari di toilet kantor. Aku membasuh wajah dengan air di washtafel. Lalu aku
memandang refleksi diriku sendiri di cermin.
“oh, aku
masih hidup dan masih menjadi aku”, ucap ku dalam hati
.
Seseorang
yang jabatannya lebih tinggi 2 level dariku baru saja membunuh karakter ku. Lalu
aku menyadari suatu hal. Pembunuhan karakter tidak akan membuat aku mati
ternyata dan tidak akan membuat aku melupakan diri ku sendiri. Jadi buat apa
ada orang yang selalu membunuh karakter orang lain ?
Orang-orang
inferior memang umumnya akan membunuh karakter orang lain, untuk membuat
dirinya superior. Sedangkan orang yang dibunuh karakternya agaknya memang harus
bersyukur, karena ia berada pada posisi yang menguatkan dan membangun
karakternya sendiri.
Dalam
dunia keja seperti ini, yang perlu di sadari bahwa kita tidak hanya belajar
soal KPI, SOP, analisa, data, presentasi, improvement, audit, product
knowledge, dll. Itu remeh sesungguhnya. Tp
karakter dan mental seseorang yang akan menentukan kematangan juga harus selalu
dibangun. Ya aku rasa, aku memang memerlukan peran-peran antagonis yang
membunuh karakter dalam skenario hidup ku saat ini. Tentu saja untuk membentuk
mental dan karakter yang lebih matang.
Hidup
memang tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya, sesuai keinginan dan wacana.
Karena memang manusia terlalu sok tahu atas apa yang baik bagi kehidupannya dan
terlalu sering berkhayal menjauh dari kenyataan dengan melukiskan wacananya
sendiri.
Aku
tersenyum pada refleksi diriku sendiri, meyakinkan diriku sendiri bahwa semua
ini baik-baik saja.
Aku
keluar toilet. Kembali ke ruang kerja. Di meja kerjaku ada buku.
Nasib
Manusia.
Judul
buku yang aku pinjam dari rumah buku. Karya seorang temanku, Syarif Maulana.
Mengisahkan perjalanan hidup Pak Awal Uzhara, yang menuntut ilmu perfilman di
Rusia, kemudian tidak bisa pulang karena dicurigai ada kaitan dengan G30S PKI
pada masa itu. Bahkan kewarganegaraan Indonesianya dicabut sehingga ia stateless (tidak memiliki
kewarganegaraan). Nasibnya terkatung-katung selama 50 tahun di Rusia dengan
impian bisa pulang ke tanah air.
Cerita
ini agak menohok, setidaknya bagi ku pribadi. Bahwa hal yang sederhana
direncanakan manusia, yaitu sekolah di luar dengan beasiswa lalu pulang ke
tanah air. Menjadi tidak sederhana lagi.
Aku
menjadi banyak berpikir soal kenyataan, nasib dan pilihan hidup.
Seperti
aku, aku tidak memilih berada di ruangan ini, ditanyai ini itu oleh staff ku
dan di suruh ini itu oleh atasan ku. juga, saat pekerjaan sedang memenuhi
kehidupan ku. aku sangat rindu sekali untuk pulang. Pulang ke tempat aku merasa
pulang bersama seniman-seniman lainnya. Tidak sulit bagi aku dan mereka untuk
saling dekat dan bicara dari hati ke hati, juga menyikapi soal hidup. Aku merasa
seperti dilahirkan dari rahim yang sama.
Tapi
di sini, di tempat kerjaku saat ini. Pekerjaan sederhana saja bisa menjadi
pelik. Dengan dasar dan alasan yang tak pasti. Kelakuan kelakuan manusianya pun
melampuai batas nalar. Ya, meskipun tak semua dan tekecuali tim ku.
Aku
sedikit mengasosiasikan hidup ku dengan Pak Awal, kami sama-sama rindu ingin
pulang. Hanya saja tempat aku pulang lebih abstrak dan Pak Awal lebih konkret.
ketika
jam solat tiba, aku pergi ke musola. sambil jalan ke musola, aku ingat kata
atasan ku padaku, “ya kalau itu kehidupan yang kamu inginkan, maka
persiapkanlah untuk itu”. ya, maksud atasan ku adalah aku harus siapkan
darimana penghasilanku dsb kalau aku mau hijrah ke dunia tempat aku merasa
pulang itu.
oia,
aku sebetulnya bukan pemeluk islam yang taat secara praktek ibadah. Tapi aku
spiritualis. Aku percaya Tuhan, aku yakin Tuhan, aku banyak bicara dengan
Tuhan. Aku tidak paham soal agama terlalu dalam, tapi bertahun-tahun di
sekolahkan di sekolah islam, membuat aku selalu menggunakan juga kacamata islam
dalam setiap permasalahan hidup yang aku alami.
Tunggu
dulu.. jadi sebetulnya pada hakikatnya aku mempersiapkan diri untuk pulang ya ? ah, iya,
bukankah hidup memang seperti itu adanya. Mempersiapkan diri untuk pulang
secara lebih hakiki dalam artian, ke kampung akhirat.
Kalau
ditafsirkan secara lebih dalam, aku dan Pak Awal mengalami perasaan yang memang
merupakan fitrah manusia, yaitu kerinduan untuk pulang kepada yang menciptakan.
Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 25 Oktober 2015
Irsa Ikramina