aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Sunday, February 7, 2016

22 Desember 2015 lewat – part 3



26 Januari 2016

“gak usah kuatir kalau lu emang mau cari tempat kerja lain. kalau memang pada dasarnya niatnya adalah untuk hijrah ke tempat yang lebih baik kenapa enggak ?” kata ku pada Fatir

“iya sih. Sebetulnya terbesit itu ada”

“manusiawi lah, gue aja nih. Kalau boleh ngomong jujur, ada aja lemah imannya. Gue disini sebetulnya mau bertahan sampe minimal 3 tahun. tapi kadang kalau baca info lowongan di group LINE psikologi, itu memang menggoda. Pernah ada posisi yang ditawarkan dan jobdesnya hampir sama banget kaya gue sekarang, ya gue yakin gue menguasai lah ya. ada kok bisikan untuk send CV, tapi ya balik lagi ke niat. Akhirnya gue gak jadi untuk send CV. Kemungkinan besar gue akan dipanggil itu besar, karena di sana banyakan almamater gue. Ada beberapa senior di sana. tapi gue abaikan aja info itu. fokus lagi sama tujuan gue sekarang.”

Pembicaraan kami terpotong. Si boss telp ke nomor ku. mungkin aku terdengar setengah memperhatikannya karena sambil sibuk mengurusi file word yang beda tahun itu. akhirnya si boss nelp ke nomor Fatir. Selesai aku urus itu file word, aku langsung siapkan alat tes untuk psikotes kepala cabangnya. Semenjak sistem rekrutmen ku dinilai lama oleh manajemen, mereka hanya perlu profile psikologis karyawan ketika akan habis masa percobaan, datanya dipakai sebagai dasar pertimbangan untuk memutuskan apakah mereka akan diangkat menjadi tetap atau di cut. Ya, meski ini cukup tidak sistematis sebetulnya. Bukankah rekrutmen memang untuk mencari orang yang pas dengan requirement yang dibutuhkan ? kenapa fungsi dan dasar rekrutmen jadi digeser setelah orang tersebut bekerja ? ah sudahlah. Aku sudah pernah mempertahankan sistem ku di hadapan manajemen. Tapi ya, birokrasi memang kadang membungkam idealisme.

“eh gue psikotes dulu ya di belakang” kata ku sambil membawa seabrek alat tes dan stopwatch tergantung dileher ku.

“eh, tunggu. Anak-anak yang mau audit di cabang Banjar sama Tasik duit perjalanan dinasnya gimana ?” tanya Fatir kepada ku

Sebetulnya tim atau anak-anak yang kami sebut itu bukanlah tim audit. Fungsi jabatannya sudah bergeser jadi hampir seperti auditor. Fungsi jabatan mereka awalnya adalah menjaga standar-standar yang ditetapkan main dealer dan AHM pada masing-masing cabang. Aku juga kadang pusing. Sudah ku buatkan analisa jabatan dan jobdesc, eh nanti fugsinya rubah-rubah lagi. sampai-sampai anak-anak itu bertanya, “bu, sebetulnya jobdes kita ini apa ?”

“udah,kata si boss mau diurus dari Head Office. Coba lu cek deh di email. Semalem gue kirim email penugasan ke mereka dan hanya cc boss, GM, sama direktur dan elu.”

“oh iya-iya”

“tiba-tiba gue mengkhawatirkan anak-anak auditor itu. baru banget gue training udah langsung ke lapangan. Dengan penempatan cabang audit diacak. Psikologisnya itu loh. Mana sebulan sekali lagi”

“hah, sebulan sekali ???!!!” kata Fatir shock

“yeh, lu kagak baca email boss tuh. Cc kita kok. Coba lu baca dengan seksama”

“yang mana ?” tanya Fatir sambil menunjukan inbox emailnya

“tu dia” kata ku sambil menunjuk ke layar laptopnya. Bahkan boss di badan email mem-bold audit ini akan dilakukan sebulan sekali.

“ah, gila” kata Fatir sambil geleng kepala. “kalau gini caranya harusnya buat tim audit saja. Terpisah”

“lah, ya kan lu tau mind set nya di sini ? pengen kerjaan yang harusnya dilakukan 10 tim beres, tapi kenyataannya hanya ada 1 tim. Right ?”

“yauda lu telp deh, anak-anak. Kasih dukungan psikologis”

“iye tenang, apa guna gue kuliah di psikologi kalau kagak punya empati sama gak peka sama gituan. Ntar ya, gue ngejar psikotes dulu nih. Kalau si Riska keburu beres kan giliran gue yang sosialisasi SOP” jawab ku sedikit membanggakan profesi ku.

***
Selama psikotes berlangsung, di sela-selanya aku banyak berpikir. Banyak hal yang tidak beres di sini memang. Salah satunya audit unit dan kelengkapan yang awalnya adalah milik Finance & Accounting Department (FAD) jadi sekarang dilimpahkan kepada HRD. Semua orang yang bekerja di korporasi dan paham dasar manajemen organisasi juga mengetahui bahwa pekerjaan harus dilaksanakan sesuai dengan fungsi departemen masing-masing. Hal-hal yang berkaitan dengan inventaris perusahaan memang biasanya akan dia audit oleh bagian accounting. Kemudian perihal SOP, disini, budayanya seluruh SOP dibuatkan oleh HRD. Baik operasional maupun non operasional. Padahal, yang paham alur di departemen atau di operasional itu sendiri yan adalah orang yang ada di departemennya. Kadang, wacana SOP dibawah kontrol HRD malah menjadi salah kaprah, bahwa segala SOP yan dibuat dan di audit HRD.

Tentu saja bukan aku dan tim menolak pekerjaan, tapi tentu ingin meluruskan apa yang menjadi fungsingnya masing-masing. Sederhananya saja, kita punya pembatu rumah tangga dan supir. Karena ingin low cost. Kita rekrut salah satu saja untuk menjalankan 2 fungsi itu. Apakah bisa 1 orang tsb mengantarkan majikan ke luar kota tapi juga ingin rumahnya yang ditinggalkan selalu bersih dan rapi ? bisa saja kataku asal punya jurus pemecah raga.

Aku yang sepanjang hidup disekolahkan di sekolah islam dan hanya 2 tahun saja bersekolah di sekolah umum. Tanpa disadari terbiasa melihat dari sudut pandang agama dalam memandang permasalahan. Aku ingat bahwa guru agama ku ketika SMA pernah mengatakan bahwa Dzalim itu berarti menempatkan sesuatu yang bukan pada tempatnya. Maka dalam hal ini, ketika tugas tersebut adalah “tempatnya” berada pada departemen lain, kemudian di pindahkan ke departemen lain yang bukan sesuai fungsinya atau “pada tempatnya”. Apakah ini juga termasuk dzalim ? mengingat, orang-orang yang berada di departemen yang dilimpahkan pekerjaan itu juga memiliki keterbatasan waktu dan tenaga. Tentu saja hal yang sifatnya teknis seperti ini tidak bisa hanya sekedar menutup mata menjadi tidak ingin tahu, yang penting beres.

Termasuk tugas audit unit dadakan ini. Jadwal kami dinas dari Senin - Jumat yang telah direncanakan pekerjaannya cukup padat. Bahkan pada teknis pelaksanaannya ada yang mundur dari schedule. Tiba-tiba saja kami diberikan tugas yang jelas secara teknis berdasarkan trial akan bisa diselesaikan selama 4 hari. Masuk akal kah ?

Ah, tapi sudahlah. Kenapa aku mesti memikirkan hal seperti ini ? abaikan saja lah ya

Semakin aku berusaha mengabaikan. Ternyata semakin gelisah hati ini. Mungkin suara hati ku sedang berbicara. Apa itu suara hati ? suara hati atau God Spot itu adalah fitrah manusia yang berasal dari 99 Sifat Allah yang ditiupkan bersamaan dengan ruh manusia.

Kemudian Ia memberinya bentuk (dengan perbandingan ukuran yang baik), dan meniupkan ke dalamnya roh (Ciptaan)-Nya. Ia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan (perasaan) hati....” (QS 32 Surat As Sajdah Ayat 9)

Ada suara hati Al’ Adl, Yang Maha Adil, adil bukan berarti sama, tapi harus sesuai dengan porsinya. Apakah tugas yang menimpa tim ku ini sudah proporsional ?

Ada suara hati Al Hasiib, Yang Maha Pembuat perhitungan, apakah tugas yang diberikan kepada tim ku ini sudah benar perhitungannya baik waktu, teknis serta sumber daya tenaga yang dimiliki tim memang mungkin untuk di lakukan ?

Ah, paling tidak memang aku harus berusaha menyampaikan. Aku tidak ingin mengabaikan suara hati ini.

Aku lihat stop watch, kebetulan waktu masih banyak. Aku bisa telp boss sebentar nih. Aku mau asertif. Aku berbicara atas nama suara hati dan fitrah manusia, mewakili tim ku juga. Meski aku sadar, respon negatif yang dapat muncul ketika aku menyampaikan ini adalah aku dianggap tukang protes, kerja hitungan dan merasa berkeberatan dengan tugas yang diberikan.

To be continued...
Bandung, 8 Februari 2016
Irsa Ikramina









Saturday, February 6, 2016

22 Desember 2015 lewat – part 2

25 Januari 2016

Hari pertama dinas di kota Sidareja. Sesampainya di cabang aku dan Riska langsung bergerak sesuai tugas masing-masing yang telah direncanakan. Ya, aku, Fatir, Rico dan Riska sebelum berangkat kami sudah buat schedule. Cukup detail hingga kami breakdown perjamnya. Maklum, waktu kami sedikit. Tapi pekerjaan seabrek. Kalau ingin  pulang tepat waktu dengan pekerjaan tuntas. Kami harus sesuai dengan schedule.

Tiba-tiba saja, smartphone kami berdering menunjukan ada BBM message yang masuk. Ya, boss mengirimkan message pada group BBM  HRD & GA.

“Pak Fatir dan Bu Irsa, lakukan audit unit dan kelengkapan ya di Sidareja. Thanks”

Aku membaca, tapi tidak respon, sembari berpikir bagaimana teknis waktu yang terbatas ini bisa dilakukan audit unit dan kelengkapan, sementara ketika dilakukan di Bandung sebagai trial dilakukan selama 4 hari. Tak lama Fatir yang respon.

“ya bu, nanti kalau sampai Sidareja saya bicarakan dulu teknisnya dengan Bu Irsa”

***
Hari sudah malam, aku dan Riska sedang makan di pinggir jalan dekat hotel.

“Aku khawatir dengan Fatir dan Rico. Kok belum sampai ya ? aku WA tapi malah checklist 1. Aku telp saja lah ya”

“iya bu. tau gitu kan mereka aku buatkan surat tugas untuk menginap di hotel Banjar”

Dengan pulsa ku yang pas-pasan aku telp Fatir.

“Dimana ?”

“masih makan nih di Banjar. Belum selesai” kata Fatir terdengar sambil mengunyah makanan.

“buset. Lama baget. Harusnya kemarin dibuatkan surat tugas untuk menginap di Hotel Banjar”

“gak lah, beres jam berapapun gue cabut ke Sidareja malam ini”

“serius ? jangan dipaksain”

“iya. Gue males kalau pagi diperjalanan terus langsung kerja”

“iya gue tau. Yauda, gue booking kamar satu lagi buat kalian ya. ntar di resepsionis tinggal ambil kunci aja atas nama lu. tau posisi hotelnya kan ?”

“sip-sip. Iya Insha Allah tau”

26 Januari 2016

Pagi-pagi sekali aku dan Riska sudah siap. Kami kejar jadwal. Pekerjaan yang sudah kami jadwalkan meleset, dalam artian pekerjaan yang harusnya selesai pada hari kemarin ternyata tidak selesai. Kami tidak menyangka karyawan di Sidareja cukup interaktif dan kritias, sehingga menambah durasi. Rasanya kami ingin cepat sampai kantor cabang sepagi mungkin.

“Ris, coba BBM Rico dan Pak Fatir. Sudah siap atau belum.”

“ya bu”

Setelah beberapa saat..

“ada jawaban gak ?”

“BBM nya belum pada delivered bu”

“telp driver yang kemarin jemput kita di stasiun, suruh jemput kita terus tinggalkan pesan di BBM ke Rico dan Fatir kalau kita duluan” kata ku mengambil keputusan cepat. Aku pikir mungkin mereka lelah, bisa jadi mereka sampai larut malam.

“ok bu”

Cukup sigap juga si driver hingga aku dan Riska sudah dijemput dalam waktu singkat dan dalam sekejap sudah sampai di kantor cabang. Seperti hari kemarin, kami langsung bergerak cepat mengerjalan tugas masing-masing untuk kejar pekerjaan selesai sesuai schedule.

Hanya selang 15 menit, tak lama Fatir dan Rico datang. Aku sedang sibuk print fasilitas karyawan untuk di tandatangani. Sialnya karena file yang dikirim boss ku dan komputer yang ada di cabang wordnya berbeda tahun. Formatnya semuanya berubah. Sungguh sangat wasting time dan aku menghabiskan puluhan kop surat karena kesalahan format print. Awalnya boss ku yang mau print kan semuanya, karena untuk urusan payroll memang saat ini seluruh datanya ada di boss. Tapi karena pada hari itu ia sudah di jemput untuk pulang, apa boleh di kata, sisannya aku harus print di cabang. Memang agak sedikit membuat ku kesal karena waktu yang dimakan cukup banyak hanya untuk persoalan remeh. Sementara aku dan tim sedang di kejar waktu.

Fatir menghampiri ku yang sedang sewot mengurusi print-an. Sementara Rico sedang sibuk dengan instalasi laptop dan Riska sedang sosialisaso SOP HRD.

“eh, gimana nih kita audit ?”

“ah, speecless gue. Waktunya cukup gitu?” sambil mata tidak lepas dari layar komputer dengan kesal

“apaan sih ? oh itu wordnya beda ya. udah coba di setting-annya ?”

“udah banget keleus, lu pikir gue gaptek ?” kata ku kesal

“eh iya, jadi mau gimana kita ?” kata ku melanjutkan

“kemaren pas gue baca BBM, yang terlintas di pikiran gue kok jadi kita sih yang urus audit unit?  Makanya gue iya-iya dulu aja lah”

“yaudalah bray, terima realita. Di sini budayanya emang banyak kekeliruan”

“tapi gak bisa seperti ini juga. Hanya karena masalah gak trust sama departemen sebelah, tugas mereka jadi di kita”

“well, kata si boss sih departemen kita memang masih bersih di mata manajemen. Departemen lainnya petingginya udah pada kena potongan semua. Harus ganti kerugian perusahaan hanya karena kurang kontrol. itu sebabnya sekarang kita sedang diandalkan”

“ya tapi ini ngaco, fungsi masing-masing departemen harus di luruskan. Minimal boss kita bisa jangan meng-iya kan”

“ya tapi kan boss juga udah bilang doi udah coba, tapi susah untuk meyakinkannya. Gagal sih pasti, makanya dia kasih instruksi ke kita tuh suruh audit di sini. Padahal jadwal kita udah padet banget. Doi diteken juga kali sama manajemen. Ya mau gimana lagi ? brontak ? kadang kalau gue asertif. Malah juga dipandang sebagai tukang protes dan banyak mengeluh, atau berkeberatan di kasih tugas ini itu. simalakama kalau di posisi kita mah bray”

Rico nampak berpikir berat soal ini. Ada keheningan sejenak diantara kami.
“kenapa ? lu pasti terpikir cari tempat kerja lain ya ?” kata ku menebak

to be continued...

Bandung, 7 Februari 2016
Irsa Ikramina