26 Januari 2016
“iya
sih. Sebetulnya terbesit itu ada”
“manusiawi
lah, gue aja nih. Kalau boleh ngomong jujur, ada aja lemah imannya. Gue disini
sebetulnya mau bertahan sampe minimal 3 tahun. tapi kadang kalau baca info
lowongan di group LINE psikologi, itu memang menggoda. Pernah ada posisi yang
ditawarkan dan jobdesnya hampir sama banget kaya gue sekarang, ya gue yakin gue
menguasai lah ya. ada kok bisikan untuk send CV, tapi ya balik lagi ke niat. Akhirnya
gue gak jadi untuk send CV. Kemungkinan besar gue akan dipanggil itu besar,
karena di sana banyakan almamater gue. Ada beberapa senior di sana. tapi gue abaikan
aja info itu. fokus lagi sama tujuan gue sekarang.”
Pembicaraan
kami terpotong. Si boss telp ke nomor ku. mungkin aku terdengar setengah
memperhatikannya karena sambil sibuk mengurusi file word yang beda tahun itu.
akhirnya si boss nelp ke nomor Fatir. Selesai aku urus itu file word, aku
langsung siapkan alat tes untuk psikotes kepala cabangnya. Semenjak sistem
rekrutmen ku dinilai lama oleh manajemen, mereka hanya perlu profile psikologis
karyawan ketika akan habis masa percobaan, datanya dipakai sebagai dasar
pertimbangan untuk memutuskan apakah mereka akan diangkat menjadi tetap atau di
cut. Ya, meski ini cukup tidak sistematis sebetulnya. Bukankah rekrutmen memang
untuk mencari orang yang pas dengan requirement yang dibutuhkan ? kenapa fungsi
dan dasar rekrutmen jadi digeser setelah orang tersebut bekerja ? ah sudahlah. Aku
sudah pernah mempertahankan sistem ku di hadapan manajemen. Tapi ya, birokrasi
memang kadang membungkam idealisme.
“eh
gue psikotes dulu ya di belakang” kata ku sambil membawa seabrek alat tes dan
stopwatch tergantung dileher ku.
“eh,
tunggu. Anak-anak yang mau audit di cabang Banjar sama Tasik duit perjalanan
dinasnya gimana ?” tanya Fatir kepada ku
Sebetulnya
tim atau anak-anak yang kami sebut itu bukanlah tim audit. Fungsi jabatannya
sudah bergeser jadi hampir seperti auditor. Fungsi jabatan mereka awalnya
adalah menjaga standar-standar yang ditetapkan main dealer dan AHM pada
masing-masing cabang. Aku juga kadang pusing. Sudah ku buatkan analisa jabatan
dan jobdesc, eh nanti fugsinya rubah-rubah lagi. sampai-sampai anak-anak itu
bertanya, “bu, sebetulnya jobdes kita ini apa ?”
“udah,kata
si boss mau diurus dari Head Office. Coba lu cek deh di email. Semalem gue
kirim email penugasan ke mereka dan hanya cc boss, GM, sama direktur dan elu.”
“oh
iya-iya”
“tiba-tiba
gue mengkhawatirkan anak-anak auditor itu. baru banget gue training udah
langsung ke lapangan. Dengan penempatan cabang audit diacak. Psikologisnya itu
loh. Mana sebulan sekali lagi”
“hah,
sebulan sekali ???!!!” kata Fatir shock
“yeh,
lu kagak baca email boss tuh. Cc kita kok. Coba lu baca dengan seksama”
“yang
mana ?” tanya Fatir sambil menunjukan inbox emailnya
“tu
dia” kata ku sambil menunjuk ke layar laptopnya. Bahkan boss di badan email
mem-bold audit ini akan dilakukan
sebulan sekali.
“ah,
gila” kata Fatir sambil geleng kepala. “kalau gini caranya harusnya buat tim
audit saja. Terpisah”
“lah,
ya kan lu tau mind set nya di sini ? pengen kerjaan yang harusnya dilakukan 10
tim beres, tapi kenyataannya hanya ada 1 tim. Right ?”
“yauda
lu telp deh, anak-anak. Kasih dukungan psikologis”
“iye
tenang, apa guna gue kuliah di psikologi kalau kagak punya empati sama gak peka
sama gituan. Ntar ya, gue ngejar psikotes dulu nih. Kalau si Riska keburu beres
kan giliran gue yang sosialisasi SOP” jawab ku sedikit membanggakan profesi ku.
***
Selama
psikotes berlangsung, di sela-selanya aku banyak berpikir. Banyak hal yang
tidak beres di sini memang. Salah satunya audit unit dan kelengkapan yang
awalnya adalah milik Finance & Accounting Department (FAD) jadi sekarang
dilimpahkan kepada HRD. Semua orang yang bekerja di korporasi dan paham dasar
manajemen organisasi juga mengetahui bahwa pekerjaan harus dilaksanakan sesuai
dengan fungsi departemen masing-masing. Hal-hal yang berkaitan dengan inventaris
perusahaan memang biasanya akan dia audit oleh bagian accounting. Kemudian perihal
SOP, disini, budayanya seluruh SOP dibuatkan oleh HRD. Baik operasional maupun
non operasional. Padahal, yang paham alur di departemen atau di operasional itu
sendiri yan adalah orang yang ada di departemennya. Kadang, wacana SOP dibawah kontrol
HRD malah menjadi salah kaprah, bahwa segala SOP yan dibuat dan di audit HRD.
Tentu
saja bukan aku dan tim menolak pekerjaan, tapi tentu ingin meluruskan apa yang
menjadi fungsingnya masing-masing. Sederhananya saja, kita punya pembatu rumah
tangga dan supir. Karena ingin low cost. Kita rekrut salah satu saja untuk
menjalankan 2 fungsi itu. Apakah bisa 1 orang tsb mengantarkan majikan ke luar
kota tapi juga ingin rumahnya yang ditinggalkan selalu bersih dan rapi ? bisa
saja kataku asal punya jurus pemecah raga.
Aku
yang sepanjang hidup disekolahkan di sekolah islam dan hanya 2 tahun saja
bersekolah di sekolah umum. Tanpa disadari terbiasa melihat dari sudut pandang
agama dalam memandang permasalahan. Aku ingat bahwa guru agama ku ketika SMA
pernah mengatakan bahwa Dzalim itu berarti menempatkan sesuatu yang bukan pada
tempatnya. Maka dalam hal ini, ketika tugas tersebut adalah “tempatnya” berada
pada departemen lain, kemudian di pindahkan ke departemen lain yang bukan
sesuai fungsinya atau “pada tempatnya”. Apakah ini juga termasuk dzalim ? mengingat,
orang-orang yang berada di departemen yang dilimpahkan pekerjaan itu juga memiliki
keterbatasan waktu dan tenaga. Tentu saja hal yang sifatnya teknis seperti ini
tidak bisa hanya sekedar menutup mata menjadi tidak ingin tahu, yang penting
beres.
Termasuk
tugas audit unit dadakan ini. Jadwal kami dinas dari Senin - Jumat yang telah
direncanakan pekerjaannya cukup padat. Bahkan pada teknis pelaksanaannya ada
yang mundur dari schedule. Tiba-tiba saja kami diberikan tugas yang jelas
secara teknis berdasarkan trial akan bisa diselesaikan selama 4 hari. Masuk akal
kah ?
Ah,
tapi sudahlah. Kenapa aku mesti memikirkan hal seperti ini ? abaikan saja lah
ya
Semakin
aku berusaha mengabaikan. Ternyata semakin gelisah hati ini. Mungkin suara hati
ku sedang berbicara. Apa itu suara hati ? suara hati atau God Spot itu adalah
fitrah manusia yang berasal dari 99 Sifat Allah yang ditiupkan bersamaan dengan
ruh manusia.
Kemudian Ia
memberinya bentuk (dengan perbandingan ukuran yang baik), dan meniupkan ke
dalamnya roh (Ciptaan)-Nya. Ia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan
(perasaan) hati....” (QS 32 Surat As Sajdah Ayat 9)
Ada
suara hati Al’ Adl, Yang Maha Adil, adil bukan berarti sama, tapi harus sesuai
dengan porsinya. Apakah tugas yang menimpa tim ku ini sudah proporsional ?
Ada
suara hati Al Hasiib, Yang Maha Pembuat perhitungan, apakah tugas yang
diberikan kepada tim ku ini sudah benar perhitungannya baik waktu, teknis serta
sumber daya tenaga yang dimiliki tim memang mungkin untuk di lakukan ?
Ah,
paling tidak memang aku harus berusaha menyampaikan. Aku tidak ingin
mengabaikan suara hati ini.
Aku
lihat stop watch, kebetulan waktu masih banyak. Aku bisa telp boss sebentar
nih. Aku mau asertif. Aku berbicara atas nama suara hati dan fitrah manusia,
mewakili tim ku juga. Meski aku sadar, respon negatif yang dapat muncul ketika
aku menyampaikan ini adalah aku dianggap tukang protes, kerja hitungan dan
merasa berkeberatan dengan tugas yang diberikan.
To
be continued...
Bandung, 8 Februari 2016
Irsa Ikramina