aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Saturday, February 6, 2016

22 Desember 2015 lewat – part 2

25 Januari 2016

Hari pertama dinas di kota Sidareja. Sesampainya di cabang aku dan Riska langsung bergerak sesuai tugas masing-masing yang telah direncanakan. Ya, aku, Fatir, Rico dan Riska sebelum berangkat kami sudah buat schedule. Cukup detail hingga kami breakdown perjamnya. Maklum, waktu kami sedikit. Tapi pekerjaan seabrek. Kalau ingin  pulang tepat waktu dengan pekerjaan tuntas. Kami harus sesuai dengan schedule.

Tiba-tiba saja, smartphone kami berdering menunjukan ada BBM message yang masuk. Ya, boss mengirimkan message pada group BBM  HRD & GA.

“Pak Fatir dan Bu Irsa, lakukan audit unit dan kelengkapan ya di Sidareja. Thanks”

Aku membaca, tapi tidak respon, sembari berpikir bagaimana teknis waktu yang terbatas ini bisa dilakukan audit unit dan kelengkapan, sementara ketika dilakukan di Bandung sebagai trial dilakukan selama 4 hari. Tak lama Fatir yang respon.

“ya bu, nanti kalau sampai Sidareja saya bicarakan dulu teknisnya dengan Bu Irsa”

***
Hari sudah malam, aku dan Riska sedang makan di pinggir jalan dekat hotel.

“Aku khawatir dengan Fatir dan Rico. Kok belum sampai ya ? aku WA tapi malah checklist 1. Aku telp saja lah ya”

“iya bu. tau gitu kan mereka aku buatkan surat tugas untuk menginap di hotel Banjar”

Dengan pulsa ku yang pas-pasan aku telp Fatir.

“Dimana ?”

“masih makan nih di Banjar. Belum selesai” kata Fatir terdengar sambil mengunyah makanan.

“buset. Lama baget. Harusnya kemarin dibuatkan surat tugas untuk menginap di Hotel Banjar”

“gak lah, beres jam berapapun gue cabut ke Sidareja malam ini”

“serius ? jangan dipaksain”

“iya. Gue males kalau pagi diperjalanan terus langsung kerja”

“iya gue tau. Yauda, gue booking kamar satu lagi buat kalian ya. ntar di resepsionis tinggal ambil kunci aja atas nama lu. tau posisi hotelnya kan ?”

“sip-sip. Iya Insha Allah tau”

26 Januari 2016

Pagi-pagi sekali aku dan Riska sudah siap. Kami kejar jadwal. Pekerjaan yang sudah kami jadwalkan meleset, dalam artian pekerjaan yang harusnya selesai pada hari kemarin ternyata tidak selesai. Kami tidak menyangka karyawan di Sidareja cukup interaktif dan kritias, sehingga menambah durasi. Rasanya kami ingin cepat sampai kantor cabang sepagi mungkin.

“Ris, coba BBM Rico dan Pak Fatir. Sudah siap atau belum.”

“ya bu”

Setelah beberapa saat..

“ada jawaban gak ?”

“BBM nya belum pada delivered bu”

“telp driver yang kemarin jemput kita di stasiun, suruh jemput kita terus tinggalkan pesan di BBM ke Rico dan Fatir kalau kita duluan” kata ku mengambil keputusan cepat. Aku pikir mungkin mereka lelah, bisa jadi mereka sampai larut malam.

“ok bu”

Cukup sigap juga si driver hingga aku dan Riska sudah dijemput dalam waktu singkat dan dalam sekejap sudah sampai di kantor cabang. Seperti hari kemarin, kami langsung bergerak cepat mengerjalan tugas masing-masing untuk kejar pekerjaan selesai sesuai schedule.

Hanya selang 15 menit, tak lama Fatir dan Rico datang. Aku sedang sibuk print fasilitas karyawan untuk di tandatangani. Sialnya karena file yang dikirim boss ku dan komputer yang ada di cabang wordnya berbeda tahun. Formatnya semuanya berubah. Sungguh sangat wasting time dan aku menghabiskan puluhan kop surat karena kesalahan format print. Awalnya boss ku yang mau print kan semuanya, karena untuk urusan payroll memang saat ini seluruh datanya ada di boss. Tapi karena pada hari itu ia sudah di jemput untuk pulang, apa boleh di kata, sisannya aku harus print di cabang. Memang agak sedikit membuat ku kesal karena waktu yang dimakan cukup banyak hanya untuk persoalan remeh. Sementara aku dan tim sedang di kejar waktu.

Fatir menghampiri ku yang sedang sewot mengurusi print-an. Sementara Rico sedang sibuk dengan instalasi laptop dan Riska sedang sosialisaso SOP HRD.

“eh, gimana nih kita audit ?”

“ah, speecless gue. Waktunya cukup gitu?” sambil mata tidak lepas dari layar komputer dengan kesal

“apaan sih ? oh itu wordnya beda ya. udah coba di setting-annya ?”

“udah banget keleus, lu pikir gue gaptek ?” kata ku kesal

“eh iya, jadi mau gimana kita ?” kata ku melanjutkan

“kemaren pas gue baca BBM, yang terlintas di pikiran gue kok jadi kita sih yang urus audit unit?  Makanya gue iya-iya dulu aja lah”

“yaudalah bray, terima realita. Di sini budayanya emang banyak kekeliruan”

“tapi gak bisa seperti ini juga. Hanya karena masalah gak trust sama departemen sebelah, tugas mereka jadi di kita”

“well, kata si boss sih departemen kita memang masih bersih di mata manajemen. Departemen lainnya petingginya udah pada kena potongan semua. Harus ganti kerugian perusahaan hanya karena kurang kontrol. itu sebabnya sekarang kita sedang diandalkan”

“ya tapi ini ngaco, fungsi masing-masing departemen harus di luruskan. Minimal boss kita bisa jangan meng-iya kan”

“ya tapi kan boss juga udah bilang doi udah coba, tapi susah untuk meyakinkannya. Gagal sih pasti, makanya dia kasih instruksi ke kita tuh suruh audit di sini. Padahal jadwal kita udah padet banget. Doi diteken juga kali sama manajemen. Ya mau gimana lagi ? brontak ? kadang kalau gue asertif. Malah juga dipandang sebagai tukang protes dan banyak mengeluh, atau berkeberatan di kasih tugas ini itu. simalakama kalau di posisi kita mah bray”

Rico nampak berpikir berat soal ini. Ada keheningan sejenak diantara kami.
“kenapa ? lu pasti terpikir cari tempat kerja lain ya ?” kata ku menebak

to be continued...

Bandung, 7 Februari 2016
Irsa Ikramina



No comments:

Post a Comment