aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Saturday, December 12, 2015

kesetiaan dan ketulusan

"apa yang membuat kamu sedih Jes ?" kata bos ku terhadap staff ku yang sedang sesenggukan menangis di hadapannya. disampingku. 

aku hanya tersenyum. bos ku memandang ku. melontarkan pertanyaan. mungkin respon ku tidak sesuai dengan suasana yang dirasakan.

"bu irsa, kenapa senyum-senyum saja ?"

"karena saya paham, apa yang dirasakan Jesica. tanpa saya harus bertanya. tanpa dia bercerita"

"bisa tolong diceritakan ?"

aku tersenyum lagi. kali ini bukan karena aku mengetahui suatu hal. tapi karena menyadari pertanyaan bos ku itu sangat tidak appropriate. aku memandang Jesica yang masih sibuk dengan air mata dan tisu nya. baiklah, aku bantu. semoga ilmu cenayang aku kali ini tidak membaca secara meleset.

"Jesica memiliki kepribadian yang tidak jauh dari saya. melankolis. kami pun memiliki bintang yang sama. setipe tentu. orang seperti kami, ketika attach dengan seseorang, kehidupan, lingkungan ataupun pekerjaan. maka akan sulit untuk berpaling. karena selalu melibatkan hati dan selalu 'dalam' "

Jesica langsung menyahut, dengan suaranya yang masih sengau

"mungkin ada benarnya juga apa yang dikatakan bu irsa. mungkin ilustrasinya begini, saya sudah punya rumah sendiri yang nyaman. tiba-tiba saya harus pergi keluar rumah dan tinggal di rumah orang lain, dengan lingkungan yang baru dan tidak saya kenal. belum lagi saya tidak tahu apa yang harus dilakukan."

begitu ungkapan perasaan Jesica yang ditawari promosi jabatan tapi di departemen tetangga. 

"loh tapi kan, cuma departemen sebelah. tetangga" kata bos ku, yang selalu saja pada situasi afek dan emosi. responnya rasional.

aku hanya menghela nafas. rasanya lelah menjelaskan soal afek dan emosi, dengan manusia rasional.

"ya tapi kan tetap saja bu, aku tidak bisa bercerita lagi, makan bareng lagi" kata Jesica yang mungkin masih punya kesabaran untuk menjelaskan di tengah dirinya yang sedang sangat emosional.

"ya banyak hal bu, kenyamanan dengan atasan mungkin salah satunya" kata ku iseng  untuk menyanjungnya

"ya kamu kan juga atasannya", kata bos ku merespon humor dengan serius. dalam rangka memuji ku juga gagal seketika dengan jawabannya seperti itu

"ya begini lah bu, intinya orang-orang seperti kami pasti tidak mudah menghadapi hal seperti ini. kami selalu melibatkan perasaan, melibatkan hati, selalu mengingat dan tidak mudah melupakan." kata ku yang ingin segera pertemuan ini berakhir

"kalau ibu pasti suatu saat lupa deh sama kami", kata ku bercanda

"enggak ah, enggak akan lupa lah"

"yakin bu ? waktu ibu nonton acara musik sama saya. ada seeorang yang menyapa ibu duluan, ternyata itu dosen ibu. dosennya masih ingat dengan ibu. tapi ibu sudah lupa dengannya" kata ku ingin mencairkan situasi ini

Jesica sedikit tertawa. meski wajahnya masih sembab. aku tersenyum sambil memandangnya. guyon ku akhirnya berhasil. setidaknya ada yang terhibur

"iya sih, aku bener-bener lupa loh. ya ampun. itu dosen pembimbing atau penguji ya ?" kata bos ku berusaha mengingat. "tapi aku bener-bener lupa loh"

"tuh kan, pasti sama kami ibu akan lupa" kata ku sambil menggoda. tapi aku sudah tahu apa yang akan dikatakan dan bagaimana responnya. setahun bekerja dengannya dinamika kepribadiannya sudah terbaca oleh ku

"yaiya, mungkin bisa begitu. kl tadi berbicara soal rumah. aku memang tidak sulit dan malah nyaman-nyaman saja kalau aku tidur di rumah siapapun"

ya. memang di kehidupannya nyatanya seperti itu. itu sebabnya ia punya beberapa keluarga angkat meski merantau di Bandung. mudah masuk pada situasi sosial apapun. tapi aku tau, orang semacam ini akan mudah juga melupakan atau meninggalkan. tidak "dalam". tidak seperti aku dan Jesica.

ruangan General Manager hening. kami pun menyudahi pertemuan yang melankolis di tengah tuntutan profesional. 

pertemuan siang itu, ternyata menjadi bahan renungan ku. 

orang-orang terdekat dalam hidup ku, yang juga significant person. mayoritas memang manusia yang serupa dengan ku. itu sebabnya kami tidak ada kesulitan dalam menjalin hubungan pertemanan jangka panjang. meski kadang kesibukan menyempitkan ruang dan waktu kebersamaan kami. tapi pintunya selalu terbuka kapanpun. jika diibaratkan dengan lapisan-lapisan. maka mereka tetap berdiri pada lapisan yang terdalam, mendekati personal ku. jarang ada yang bergerak mundur menjadi lapisan terjauh. 

menjalin hubungan dengan orang-orang yang seperti ini memang mengajari ku apa itu kesetiaan. ruang dan waktu memang variabel yang tidak stabil. ia bisa membuat kebersamaan menjadi intens tapi bisa juga  menjadi kurang intens. tapi hati kami selalu terikat. 

namun ternyata dalam lapisan ku itu, tidak semuanya orang setipe dengan ku. ada juga yang mudah melupakan. mudah masuk ke lapisan terdalam, tapi juga mudah beranjak lalu menghilang. seperti menjauh dari tata surya ku hingga sudah tak terlihat lagi. 

menjalin hubungan dengan orang-orang seperti ini mengajari ku apa itu ketulusan. aku tidak bisa berharap apa yang aku lakukan terhadapnya akan selalu dibalas hal yang sama. aku tidak bisa berharap ia selalu mengingat ku seperti aku selalu mengingatnya. tapi satu hal yang aku sadari, bahwa tidaklah perlu untuk tahu, apa ia masih memerlukan ku atau tidak. tapi aku harus selalu ada untuknya, disampingnya.  paling tidak secara hati. ya, meski ruang dan waktu kelak akan membuat kebersamaan menjadi tidak intens.


mengenal dua macam manusia seperti ini mengajari ku bahwa waktu kebersamaan itu sangatlah berharga, meskipun  sekejap. sebab aku tidak pernah tau dalam tiap-tiap detik pertemuan dan kebersamaan. dalam tiap-tiap kata yang aku ucapkan. mungkin itulah yang terakhir kalinya. karena ya, ruang dan waktu adalah variabel yang yang tidak stabil dan tidak bisa diprediksi. kelak bisa merapatkan kebersamaan. kelak bisa juga menyurutkan kebersamaan. dan variabel ruang dan waktu itu yang mengatur adalah Yang Maha Mengatur dengan segala skenarioNya. 

Teruntuk orang-orang yang tersayang dalam hidup ku. aku berterimakasih atas kebersamaan yang membahagiakan. dan teruntuk Tuhan yang mengatur variabel ruang dan waktu, aku berysukur Engkau pertemukan aku dengan orang-orang pilihan Mu.


Dari aku, duniaku dan penghayatan ku
Bandung, 13 Desember 2015
Irsa Ikramina

Tulisan ini didedikasikan untuk 
orang-orang yang aku sayang dalam hidup ku,
dalam dunia ku

No comments:

Post a Comment