Pada
Sabtu sore yang mendung, aku bertemu dengan teman kuliah. Teman yang tidak
biasa, sebab ketika aku bersamanya, aku seperti berkaca pada diri sendiri, juga
tidak merasa sendiri, seperti menemukan manusia yang satu species dengan ku.
“hai
! “ sapa kami ketika saling melihat wajah setelah beberapa bulan.
“tadi
gue nyari-nyari loh. Tempatnya kok pilih yang mojok dan remeng-remeng sih ?”
kata aku.
“hah,
iya ya ?” ternyata caroline sedang nonton film drama korea di laptopnya.
“tadi
gue bilang ke mas-mas yang greeter di depan. Gue nyari temen. Terus dia langsung
anterin gue kesini. Kok dia tau ya ? lu tadi titip pesen ?”
“hah.
Enggak kok. Mungkin gue nampak sendirian”
“bukan,
gue rasa kita nampak satu species”
Sambil
aku melihat menu dan memesan minuman, caroline menawari ku film-film yang ada
di laptopnya.
“sa,
ini bagus loh. Drama korea. Supaya lu gak tumpul afek”
“kurang
ajar lu. Gue gak tumpul afek. Cuma industri yang membentuk gue seperti ini.
“Gimana
tesis ?” pertanyaan pembuka umum tentu saja aku lontarkan.
“intens,
tapi lebih naas si ranti. Dosen pembimbingnya”
“what’s
wrong ?”
“sangat
rasional. Kita nuansa afeksi. Tp dia selalu memberi jarak”
“bukannya
memang begitu seharusnya, you should try live in coorporate world. Worse than
that. Kerja dan hidup di tengah manusia yang tidak mengedepankan kepekaan”
“hahaha,
iya sih”.
“eh,
caroline. gue seperti merindukan sesuatu di fase kehidupan kuliah. Seperti ada
rasa yang hilang. Tapi gue gak tahu apa itu”
“masa
lu gak tau sih sa ?”
“yeeee...
gue orangnya abstrak keleus. Emg elu, konkret” kata ku bercanda.
Pembicaraan
kami menjelajah ke berbagai topik. Caroline bercerita soal bagaimana kuliah S2
dan aku bercerita bagaimana kehidupan di industri. Sepanjang cerita kami banyak
tertawa bukan karena kisah kami memang lucu. Tapi karena imajinasi kami juga
ikut bermain mewarnai cerita-cerita nyata. Khususnya kisah-kisah kami dulu
ketika kuliah.
“oia,
gue mau check in ah”, kata caroline
“oh”
“lu
hingga saat ini bener-bener gak punya path sa ? itu bener-bener pilihan hidup
lu ?”
“gilak
lu, nanya medsos aja sampe kayak nanya pilihan karir atau jodoh. Iya, gue Cuma pake
twitter, instagram dan blog”
“lu
kalau ujian suka open book caroline ?” tanya ku ganti topik
“suka.
Kenapa ?”
“kata
gue percuma open book. Gue udah gak kemakan iming-iming kemudahan yang
ditawarkan dosen. Seringkali memang karena jawabannya tidak ada di buku”
“hahaha.
Iya ya. Di buku ada penjelasan id, ego dan superego. Eh, di soal, jelaskan
dinamikanya”
“yaiyalah.
Emang kita anak SD. Kudu berpikir kritis dan analisis dong”
“eh,
kok gue pernah liat di foto WA lu, lu nonton musik bareng dosen pembimbing. Gimana
ceritanya ?”
“ya,
doi nge WA, ada acara musik yang main subjek skripsi gue. Katanya inget gue. Jadi
kita janjian gitu deh.”
“ooohh”
“eh,
ngomong-ngomong soal skripsi, gue inget jaman ngerjain tu penelitian kualitatif”
kata aku jadi mendadak teringat
“kenapa
?”
“kesannya
kan gimana gitu si penelitian kualitatif. Sampe temen gue ada yang nanya,
karena gue sering begadang pas ngerjain revisi. Itu sih settingan gue aja,
supaya kesannya penelitian kualitatif itu lebayatun. Padahal yaiyalah. Gimana gue
gak tidur jam 2 jam 3. Orang mulainya juga baru jam 9 jam 10”
“anjrit.
Bener banget dong. Hahaha”
“kedua,
kita juga sering mendramatisir pas UTS dan UAS atau praktikum ngerjain laporan
terus gak tidur. Padahal, mulainya juga jam berapa.”
“hahahah”,
caroline terbahak-bahak
“satu
hal lagi, belajar atau ngetik laporan sejam. Istirahatnya dua jam. Kelakuan siapa
coba tuh ?”
“hahaha
iya banget ya. Terus kita berasa paling menderita sendiri. Merasa gak tidur,
terus sensitif. Gak mau diganggu gitu. Orang lain harus memahami kondisi kita”
“iya,
gilak kan ? gue bilang juga apa”
“terus
ini loh sa, gue ngerasa, dulu hal yang paling bikin stress pas kuliah itu
praktikum. Lu ngerasa gak ?” caroline mencoba mencari tahu apa aku sependapat
dengannya atau tidak
“iya
gue ngerasa”
“kenapa
ya sa, apa karena kita hanya punya waktu 3 hari untuk nyusun laporan ?”
“bukan
carol, gue rasa karena banyak hal yang diluar kuasa manusia. Disitulah letak stressornya”
“maksud
lu ?”
“ya,
misalnya kita sudah siap praktikum. Siap OP. Tiba-tiba aja tu OP ngebatalin di
detik-detik terakhir. Gilak kan ? terus, gue udah merasa siap buat feedback
praktikum. Bawa dong gue laporan-laporan temen sekelompok yang udah difotokopi.
Pas feedback mau mulai. Gue menyadari bahwa laporan yang gue bawa Cuma 3. Sisanya
gue salah bawa laporan. Praktikum lain. ya maklum lah, udah di titik jenuh dan
lelah”
“anjrit.
Terus lu gimana sa ?”
“gue
pura-pura kalau itu laporan yang di tangan gue emang laporan sesungguhnya. Gue coba
perhatiin aja temen-temen gue kasih feedback apa. Ntar gue improvisasi dari
situ. Rada masih inget juga sih. Kebetulan malam nya kan udah baca. Biasa,
acting”
“hahaha
parah banget dong”
“ya.
Ntahlah. Dulu hidup kok gitu-gitu amat ya. Kocar kacir di dunia internal
sendiri. Hampir putus dengan realitas gitu” kata ku sambil prihatin dengan diri
sendiri
“tapi
carol, dibalik naas nya hidup kita dulu. Gue bersyukur dan berterimakasih
banget sama dosen yang signifikan membentuk cara pikir gue di tingkat akhir. Ya,
di KKPP sama skripsi. Di skripsi nuansanya bebas, jadi gue kaya bisa eksplor
dan coba kreatif dengan topik dan metode penelitian. Melihat dinamika dalam
pengalaman manusia. Tidak ada sistem yang membentuk perilaku, adanya inisiatif
untuk eksplor dan minta bimbingan sendiri. Di KKPP, gue belajar hidup dengan
sistem kerja. Power point harus kirim ke dosen setiap hari apa maksimal jam
berapa. Dasar teori harus jelas, analisa harus tajam dan susunan laporan dan
cara berpikir sistematis. Sampe kostum pun dulu gue diatur kan. Tp tingkat
akhir was really amazing. Setelah terlalui, baru menyadari bahwa bisa melalui 2
pola belajar itu. dan di dunia kerja, ternyata gue hidup dengan kombinasi pola
keduanya. In coorporate world, you had better create system as well as live in established system”
“ya
sih, gak semuanya ya. hal yang kita lalui itu konyol”
“eh,
by the way, how is Roy ? dia ambil S2 psikologi industri organisasi kan ?
kayanya gue perlu ngobrol banyak sama dia”
“Roy
sibuk sa, sama kaya dulu dia S1 aja. Suka berorganisasi juga kan”
“hahaha.
I see. Bukan satu species ya. kita sih, kuliah biasa juga udah lelah. Pulang,
terus tidur. Kind of useless. Ya mungkin karena orang-orang yang aktif seperti
species mereka adalah orang yang punya need of power dan affiliasi, belum lagi
energi psikis yang berlebih dan mereka merasa charging kita bersama orang lain.
not kind of us, kecenderungan introvert dan mencari ketenangan”
“beuh,
bener banget tuh. Kalopun gue ikut rapat-rapat gitu. Cuma fisik gue doang yang
ada. Psikis gue bawaannya udah pengen pulang. Sembari di rapat itu lagi coba
memaksa pesertanya mengeluarkan pendapat. “ayo keluarkan ide, keluarkan ide",
tapi gue hanya bisa memberi tatapan kosong”
“hahaha.
I’m really happy right now. Thanks ya. kayanya gue menemukan jawabannya,
imajinasi. Di dunia kerja gue tidak bisa berimajinasi dan tidak punya teman untuk
itu. selalu saja berpikir realistis. Padahal imajinasi itu perlu”
“iya
sih, sayang rachel gak bisa dateng. Imajinasi dia juga liar. Pantes kita adalah
segitiga bermuda. Ketika kita duduk berdekatan di kelas. Pasti ada aja kita
ditegur dosen, karena kehadiran psikis kita tidak di kelas. Terlalu banyak
imajinasi”
“oia
carol, apa.. di kehidupan lu saat ini, khususnya kuliah S2, lu menemukan peer
group atau teman satu species”
“
I don’t think so, sulit rasanya.”
“individual
ya ? ya,
sama aja kaya gue di kantor. Pertememanan sebatas rekan kerja, tidak deep,
tidak attach. Nampaknya gue menemukan jawaban satu lagi. attachment. Terjawab sudah
rasa yang hilang dan gue rindukan itu apa. Imajinasi dan attachment. kita tidak terkoneksi dengan orang-orang tertentu secara mendalam”
“ya
gue rasa juga gitu”
“thanks
anyway”
“eh
sa, lu jadi ngopi film ? ayolah. Selain berbagi pengalaman mungkin lu juga
dapet film dari gue” kata caroline terdengar memaksa
Bandung, 6 Desember 2015
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment