aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Sunday, December 6, 2015

aku dan teman satu species


Pada Sabtu sore yang mendung, aku bertemu dengan teman kuliah. Teman yang tidak biasa, sebab ketika aku bersamanya, aku seperti berkaca pada diri sendiri, juga tidak merasa sendiri, seperti menemukan manusia yang satu species dengan ku.

“hai ! “ sapa kami ketika saling melihat wajah setelah beberapa bulan.

“tadi gue nyari-nyari loh. Tempatnya kok pilih yang mojok dan remeng-remeng sih ?” kata aku.

“hah, iya ya ?” ternyata caroline sedang nonton film drama korea di laptopnya.

“tadi gue bilang ke mas-mas yang greeter di depan. Gue nyari temen. Terus dia langsung anterin gue kesini. Kok dia tau ya ? lu tadi titip pesen ?”

“hah. Enggak kok. Mungkin gue nampak sendirian”

“bukan, gue rasa kita nampak satu species”

Sambil aku melihat menu dan memesan minuman, caroline menawari ku film-film yang ada di laptopnya.

“sa, ini bagus loh. Drama korea. Supaya lu gak tumpul afek”

“kurang ajar lu. Gue gak tumpul afek. Cuma industri yang membentuk gue seperti ini.

“Gimana tesis ?” pertanyaan pembuka umum tentu saja aku lontarkan.

“intens, tapi lebih naas si ranti. Dosen pembimbingnya”

“what’s wrong ?”

“sangat rasional. Kita nuansa afeksi. Tp dia selalu memberi jarak”

“bukannya memang begitu seharusnya, you should try live in coorporate world. Worse than that. Kerja dan hidup di tengah manusia yang tidak mengedepankan kepekaan”

“hahaha, iya sih”.

“eh, caroline. gue seperti merindukan sesuatu di fase kehidupan kuliah. Seperti ada rasa yang hilang. Tapi gue gak tahu apa itu”

“masa lu gak tau sih sa ?”

“yeeee... gue orangnya abstrak keleus. Emg elu, konkret” kata ku bercanda.

Pembicaraan kami menjelajah ke berbagai topik. Caroline bercerita soal bagaimana kuliah S2 dan aku bercerita bagaimana kehidupan di industri. Sepanjang cerita kami banyak tertawa bukan karena kisah kami memang lucu. Tapi karena imajinasi kami juga ikut bermain mewarnai cerita-cerita nyata. Khususnya kisah-kisah kami dulu ketika kuliah.

“oia, gue mau check in ah”, kata caroline

“oh”

“lu hingga saat ini bener-bener gak punya path sa ? itu bener-bener pilihan hidup lu ?”

“gilak lu, nanya medsos aja sampe kayak nanya pilihan karir atau jodoh. Iya, gue Cuma pake twitter, instagram dan blog”

“lu kalau ujian suka open book caroline ?” tanya ku ganti topik

“suka. Kenapa ?”

“kata gue percuma open book. Gue udah gak kemakan iming-iming kemudahan yang ditawarkan dosen. Seringkali memang karena jawabannya tidak ada di buku”

“hahaha. Iya ya. Di buku ada penjelasan id, ego dan superego. Eh, di soal, jelaskan dinamikanya”

“yaiyalah. Emang kita anak SD. Kudu berpikir kritis dan analisis dong”

“eh, kok gue pernah liat di foto WA lu, lu nonton musik bareng dosen pembimbing. Gimana ceritanya ?”

“ya, doi nge WA, ada acara musik yang main subjek skripsi gue. Katanya inget gue. Jadi kita janjian gitu deh.”

“ooohh”

“eh, ngomong-ngomong soal skripsi, gue inget jaman ngerjain tu penelitian kualitatif” kata aku jadi mendadak teringat

“kenapa ?”

“kesannya kan gimana gitu si penelitian kualitatif. Sampe temen gue ada yang nanya, karena gue sering begadang pas ngerjain revisi. Itu sih settingan gue aja, supaya kesannya penelitian kualitatif itu lebayatun. Padahal yaiyalah. Gimana gue gak tidur jam 2 jam 3. Orang mulainya juga baru jam 9 jam 10”

“anjrit. Bener banget dong. Hahaha”

“kedua, kita juga sering mendramatisir pas UTS dan UAS atau praktikum ngerjain laporan terus gak tidur. Padahal, mulainya juga jam berapa.”

“hahahah”, caroline terbahak-bahak

“satu hal lagi, belajar atau ngetik laporan sejam. Istirahatnya dua jam. Kelakuan siapa coba tuh ?”

“hahaha iya banget ya. Terus kita berasa paling menderita sendiri. Merasa gak tidur, terus sensitif. Gak mau diganggu gitu. Orang lain harus memahami kondisi kita”

“iya, gilak kan ? gue bilang juga apa”

“terus ini loh sa, gue ngerasa, dulu hal yang paling bikin stress pas kuliah itu praktikum. Lu ngerasa gak ?” caroline mencoba mencari tahu apa aku sependapat dengannya atau tidak

“iya gue ngerasa”

“kenapa ya sa, apa karena kita hanya punya waktu 3 hari untuk nyusun laporan ?”

“bukan carol, gue rasa karena banyak hal yang diluar kuasa manusia. Disitulah letak stressornya”

“maksud lu ?”

“ya, misalnya kita sudah siap praktikum. Siap OP. Tiba-tiba aja tu OP ngebatalin di detik-detik terakhir. Gilak kan ? terus, gue udah merasa siap buat feedback praktikum. Bawa dong gue laporan-laporan temen sekelompok yang udah difotokopi. Pas feedback mau mulai. Gue menyadari bahwa laporan yang gue bawa Cuma 3. Sisanya gue salah bawa laporan. Praktikum lain. ya maklum lah, udah di titik jenuh dan lelah”

“anjrit. Terus lu gimana sa ?”

“gue pura-pura kalau itu laporan yang di tangan gue emang laporan sesungguhnya. Gue coba perhatiin aja temen-temen gue kasih feedback apa. Ntar gue improvisasi dari situ. Rada masih inget juga sih. Kebetulan malam nya kan udah baca. Biasa, acting”

“hahaha parah banget dong”

“ya. Ntahlah. Dulu hidup kok gitu-gitu amat ya. Kocar kacir di dunia internal sendiri. Hampir putus dengan realitas gitu” kata ku sambil prihatin dengan diri sendiri

“tapi carol, dibalik naas nya hidup kita dulu. Gue bersyukur dan berterimakasih banget sama dosen yang signifikan membentuk cara pikir gue di tingkat akhir. Ya, di KKPP sama skripsi. Di skripsi nuansanya bebas, jadi gue kaya bisa eksplor dan coba kreatif dengan topik dan metode penelitian. Melihat dinamika dalam pengalaman manusia. Tidak ada sistem yang membentuk perilaku, adanya inisiatif untuk eksplor dan minta bimbingan sendiri. Di KKPP, gue belajar hidup dengan sistem kerja. Power point harus kirim ke dosen setiap hari apa maksimal jam berapa. Dasar teori harus jelas, analisa harus tajam dan susunan laporan dan cara berpikir sistematis. Sampe kostum pun dulu gue diatur kan. Tp tingkat akhir was really amazing. Setelah terlalui, baru menyadari bahwa bisa melalui 2 pola belajar itu. dan di dunia kerja, ternyata gue hidup dengan kombinasi pola keduanya. In coorporate world, you had better create system as well as live in established system”

“ya sih, gak semuanya ya. hal yang kita lalui itu konyol”

“eh, by the way, how is Roy ? dia ambil S2 psikologi industri organisasi kan ? kayanya gue perlu ngobrol banyak sama dia”

“Roy sibuk sa, sama kaya dulu dia S1 aja. Suka berorganisasi juga kan”

“hahaha. I see. Bukan satu species ya. kita sih, kuliah biasa juga udah lelah. Pulang, terus tidur. Kind of useless. Ya mungkin karena orang-orang yang aktif seperti species mereka adalah orang yang punya need of power dan affiliasi, belum lagi energi psikis yang berlebih dan mereka merasa charging kita bersama orang lain. not kind of us, kecenderungan introvert dan mencari ketenangan”

“beuh, bener banget tuh. Kalopun gue ikut rapat-rapat gitu. Cuma fisik gue doang yang ada. Psikis gue bawaannya udah pengen pulang. Sembari di rapat itu lagi coba memaksa pesertanya mengeluarkan pendapat. “ayo keluarkan ide, keluarkan ide", tapi gue hanya bisa memberi tatapan kosong”

“hahaha. I’m really happy right now. Thanks ya. kayanya gue menemukan jawabannya, imajinasi. Di dunia kerja gue tidak bisa berimajinasi dan tidak punya teman untuk itu. selalu saja berpikir realistis. Padahal imajinasi itu perlu”

“iya sih, sayang rachel gak bisa dateng. Imajinasi dia juga liar. Pantes kita adalah segitiga bermuda. Ketika kita duduk berdekatan di kelas. Pasti ada aja kita ditegur dosen, karena kehadiran psikis kita tidak di kelas. Terlalu banyak imajinasi”

“oia carol, apa.. di kehidupan lu saat ini, khususnya kuliah S2, lu menemukan peer group atau teman satu species”

“ I don’t think so, sulit rasanya.”

“individual ya ? ya, sama aja kaya gue di kantor. Pertememanan sebatas rekan kerja, tidak deep, tidak attach. Nampaknya gue menemukan jawaban satu lagi. attachment. Terjawab sudah rasa yang hilang dan gue rindukan itu apa. Imajinasi dan attachment. kita tidak terkoneksi dengan orang-orang tertentu secara mendalam”

“ya gue rasa juga gitu”

“thanks anyway”

“eh sa, lu jadi ngopi film ? ayolah. Selain berbagi pengalaman mungkin lu juga dapet film dari gue” kata caroline terdengar memaksa

Bandung, 6 Desember 2015
Irsa Ikramina

No comments:

Post a Comment