aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Monday, March 5, 2012

Aku, dunia, dan logoterapi


Hal yang paling aku syukuri dalam hidup ini ada dua, yang pertama “aku” dan yang kedua adalah “dunia”.
Dunia mitwelt adalah tempat dimana aku dan orang-orang disampingku berada. Tanpa mereka, entah seperti apa kehidupanku ini. Tentu dari rasa syukurku terhadap Tuhan atas dunia mitwelt yang diberikan, aku ingin mengucapkan terimakasih yang mungkin menjadi tidak sepantasnya jika aku sampaikan kepada mereka secara langsung. 
bagi orang-orang yang hingga saat ini masih mendampingiku, terima kasih sudah bertahan dari arus datang dan perginya orang dalam kehidupanku. Dan bagi yang pernah hadir dalam hidupku, terima kasih telah memberikan warna kromatik dalam kehidupanku”.
            dunia eigenwelt adalah aku dan duniaku. Tempat aku berhubungan dengan diriku sendiri, tempat aku memahami diriku dan dunia luar, tempat aku bebas memilih pilihan-pilihan. Tentu untuk hal yang satu ini, aku sangat berterimakasih kepada Tuhan Yang Maha Menciptakan.
            Itu sebabnya “aku” menjadi bagian yang paling aku syukuri dalam hidup ini. Aku yang menyadari dan aku yang memaknakan, menjadi eksistensi yang tiada batas bagi diriku sendiri. Tanpa keberadaan “aku” maka makna kehidupanpun menjadi tidak ada. 
            Aku jadi teringat bagaimana aku memulai ini semua secara “sadar”. Episode kehidupanku pada saat hijrah menjadi logoterapi bagi diriku sendiri (baca aku dan hijrah). Sebelum hijrah, aku seperti kehilangan eksistensiku, aku tidak tahu dimana diriku berada. Tapi untunglah ketika aku hijrah aku punya tugas untuk menemukan makna kehidupan ini. Setidaknya, ini yang membuat aku dapat menemukan eksistensi diriku dan membuat aku bertahan dari segala ujian kehidupan ini. 
            Kata-kata Viktor E. Frankl mengingatkan ku pada beberapa kata-kata yang disampaikan orang-orang dalam hidupku. 
Jangan pedulikan gejolak perasaanmu, arahkan pandanganmu pada sesuatu yang menunggumu di depan. Yang penting bukan apa yang bergejolak di dalam dirimu, namun apa yang akan terjadi di depan, yang akan kau wujudkan (Viktor E. Frankl)
Luruskan niat, jangan menoleh ke belakang lagi, inget apa yang jadi tujuan kita, fokus. (mama)
Saya tidak bisa bantu meyakinkan kamu soal psikologi, itu rasanya di luar kemampuan saya, tapi mungkin berbagi apa yang saya tahu soal kondisi ketika berada di dalam lubang atau padang gurun yang namanya "proses" itu. Ketika proses begitu berat, arahkan mata pada tujuan akhir, apa yang ingin kita capai, orang macam apa yang ingin kita menjadi.
(kak Ariel)


Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 6 maret 2012
Irsa Ikramina


No comments:

Post a Comment