Hal
yang paling aku syukuri dalam hidup ini ada dua, yang pertama “aku” dan yang
kedua adalah “dunia”.
Dunia mitwelt adalah tempat dimana aku dan
orang-orang disampingku berada. Tanpa mereka, entah seperti apa kehidupanku
ini. Tentu dari rasa syukurku terhadap Tuhan atas dunia mitwelt yang diberikan, aku ingin mengucapkan terimakasih yang
mungkin menjadi tidak sepantasnya jika aku sampaikan kepada mereka secara
langsung.
“bagi orang-orang yang hingga saat ini masih
mendampingiku, terima kasih sudah bertahan dari arus datang dan perginya orang
dalam kehidupanku. Dan bagi yang pernah hadir dalam hidupku, terima kasih telah
memberikan warna kromatik dalam kehidupanku”.
dunia eigenwelt adalah aku dan duniaku. Tempat
aku berhubungan dengan diriku sendiri, tempat aku memahami diriku dan dunia
luar, tempat aku bebas memilih pilihan-pilihan. Tentu untuk hal yang satu ini,
aku sangat berterimakasih kepada Tuhan Yang Maha Menciptakan.
Itu
sebabnya “aku” menjadi bagian yang paling aku syukuri dalam hidup ini. Aku yang
menyadari dan aku yang memaknakan, menjadi eksistensi yang tiada batas bagi diriku
sendiri. Tanpa keberadaan “aku” maka makna kehidupanpun menjadi tidak ada.
Aku
jadi teringat bagaimana aku memulai ini semua secara “sadar”. Episode kehidupanku
pada saat hijrah menjadi logoterapi bagi diriku sendiri (baca aku dan hijrah). Sebelum
hijrah, aku seperti kehilangan eksistensiku, aku tidak tahu dimana diriku
berada. Tapi untunglah ketika aku hijrah aku punya tugas untuk menemukan makna
kehidupan ini. Setidaknya, ini yang membuat aku dapat menemukan eksistensi
diriku dan membuat aku bertahan dari segala ujian kehidupan ini.
Kata-kata
Viktor E. Frankl mengingatkan ku pada beberapa kata-kata yang disampaikan
orang-orang dalam hidupku.
Jangan pedulikan
gejolak perasaanmu, arahkan pandanganmu pada sesuatu yang menunggumu di depan. Yang
penting bukan apa yang bergejolak di dalam dirimu, namun apa yang akan terjadi
di depan, yang akan kau wujudkan (Viktor E. Frankl)
Luruskan niat,
jangan menoleh ke belakang lagi, inget apa yang jadi tujuan kita, fokus. (mama)
Saya tidak bisa
bantu meyakinkan kamu soal psikologi, itu rasanya di luar kemampuan saya, tapi
mungkin berbagi apa yang saya tahu soal kondisi ketika berada di dalam lubang
atau padang gurun yang namanya "proses" itu. Ketika proses begitu
berat, arahkan mata pada tujuan akhir, apa yang ingin kita capai, orang macam
apa yang ingin kita menjadi.
(kak Ariel)
Dari aku,
duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 6
maret 2012
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment