aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Wednesday, May 2, 2012

Aku, Tuckman, dan Jensen


            Belakangan ini aku malas datang ke kampus, selain memang kejenuhan yang telah memuncak, mungkin juga karena kehidupan di kampus itu ‘statis’. Nampak tidak ada perbedaan setiap harinya karena dikejar deadline tugas. Tugas perkuliahan betul-betul menuntut “banyak”, selain dari kemampuan mengatur waktu, mahasiswa juga dituntut untuk dapat bekerjasama dengan orang lain karena banyaknya tugas yang dibentuk dalam kelompok.
Suatu hari di kelas, pada saat pembagian kelompok untuk suatu tugas mata kuliah...
Mahasiswa 1: “woy, ini ada tiga orang belum dapet kelompok. Dikemanain?? Coba ada yang mau gabung kesini ngga? Baru tiga orang. Ato ada kelompok yang dipecah aja ni, biar tiga orang ini dapet kelompok.” Teriak salah satu mahasiswa yang sedang menuliskan pembagian kelompok di white board.  
Mahasiswa sekelas : *sibuk mengobrol satu sama lain* aku lihat ada yang emosi, ada yang memasang wajah miris, ada juga yang ikut memberikan pendapat untuk pembagian kelompok.
Anis : “ ih, ya ampun ! kok gini amet sih psikologi. Watir tau! Bagi kelompok aja uda hampir sejam !” kata Anis dengan kesal sambil melihat jam tangan, dan sedikit melirik ke arah tiga orang yang terlantar tersebut dengan tatapan tidak tega.
Irsa : “iya, ngga banget emang. Kekanak-kanakkan. Eh tapi ngga juga sih nis, wajar.” Kataku dengan nada bicara yang semakin lambat sembari berpikir untuk jawaban atas tragedi yang mengenaskan ini.
            well, pada dasarnya tragedi mengenaskan ini bisa dijawab dengan teori si Tuckman Jensen. Bagaimanapun, enam semester bukanlah waktu yang sebentar untuk saling mengenal satu sama lain baik dari segi hubungan interpersonal maupun segi kualitas seseorang dalam task nya. Deadline tugas yang “menghantui” mahasiswa dan juga kesulitan tugas yang tinggi, disertai dengan pengalaman kerja kelompok bersama mahasiswa lainnya telah memangkas tahapan forming dan storming dalam tahapan perkembangan kelompok. Artinya, wajar saja kalau mahasiswa memilih kelompok “yang itu-itu lagi” karena mereka tahu bahwa ketika dihadapkan tugas, mereka hanya akan melampaui tahap norming (kesepakatan pembagian tugas) dan performing (fokus mengerjakan tugas). Hal ini akan mempersingkat waktu ditengah deadline tugas yang menekan, untuk mencapai efektivitas dalam pengerjaan tugas dan menyelesaikan hambatan yang ada. Walaupun, aku masih sedikit meragukan hal ini. Dimana memang mahasiswa psikologi selain dari memiliki nuansa need of affiliation yang tinggi, mereka juga sudah punya peer group nya masing-masing. Sehingga ini “nampak” lebih berat pada aspek hubungan interpersonal-nya daripada task nya. hubungan interpersonal dalam hal ini, bahwa ketika kelompok langsung memasuki tahap norming, langsung membangun kohesi dan membangun hubungan peran yang fungsional (performing)
Ada satu lagi mungkin yang dapat menjawab, walaupun aku lupa-lupa ingat dengan teori nya, semoga ini tidak melenceng. Teori equity berlaku untuk kelompok juga kah? Bagaimanapun, sejauh yang aku ingat dan aku pahami anggota kelompok akan tetap memperhatikan dan memberi reward pada anggota kelompok yang memperlakukan yang lain secara adil/seimbang (equitable) dan umumnya menghukum anggota yang memperlakukan orang lain secara adil/seimbang (inequitable). Sehingga ini menjadi masuk akal kalau ada orang yang tersisihkan atau tidak kebagian kelompok. Aku pikir, kelompok manapun tidak mengharapkan ketidakseimbangan dengan hanya memasukkan anggota kelompok yang kerjanya hanya nge-print, atau mengumpulkan ke meja dosen saja. Istilah kasarnya, “nebeng nama doang”. Apalagi golongan orang seperti ini sejauh pengamatanku, mereka juga ‘sedikit bermasalah’ dengan relasi interpersonalnya. Artinya diluar tugas atau kerja kelompok, mereka juga sulit diterima di mayoritas peer group yang ada.
Sometimes, life is not just about being the best for yourselves, but it might be the most suitable person in society.
You don’t have to be somebody else, all you have to do is being adjustable.

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 3 Mei 2012
Irsa Ikramina

No comments:

Post a Comment