Belakangan ini aku malas datang ke kampus,
selain memang kejenuhan yang telah memuncak, mungkin juga karena kehidupan di
kampus itu ‘statis’. Nampak tidak ada perbedaan setiap harinya karena dikejar deadline tugas. Tugas perkuliahan betul-betul
menuntut “banyak”, selain dari kemampuan mengatur waktu, mahasiswa juga
dituntut untuk dapat bekerjasama dengan orang lain karena banyaknya tugas yang
dibentuk dalam kelompok.
Suatu hari di kelas, pada saat pembagian
kelompok untuk suatu tugas mata kuliah...
Mahasiswa
1:
“woy, ini ada tiga orang belum dapet kelompok. Dikemanain?? Coba ada yang mau
gabung kesini ngga? Baru tiga orang. Ato ada kelompok yang dipecah aja ni, biar
tiga orang ini dapet kelompok.” Teriak salah satu mahasiswa yang sedang
menuliskan pembagian kelompok di white
board.
Mahasiswa
sekelas : *sibuk mengobrol satu sama lain* aku lihat
ada yang emosi, ada yang memasang wajah miris, ada juga yang ikut memberikan
pendapat untuk pembagian kelompok.
Anis
: “
ih, ya ampun ! kok gini amet sih psikologi. Watir tau! Bagi kelompok aja uda
hampir sejam !” kata Anis dengan kesal sambil melihat jam tangan, dan sedikit
melirik ke arah tiga orang yang terlantar tersebut dengan tatapan tidak tega.
Irsa
: “iya,
ngga banget emang. Kekanak-kanakkan. Eh tapi ngga juga sih nis, wajar.” Kataku dengan
nada bicara yang semakin lambat sembari berpikir untuk jawaban atas tragedi
yang mengenaskan ini.
well, pada dasarnya tragedi mengenaskan
ini bisa dijawab dengan teori si Tuckman Jensen. Bagaimanapun, enam semester
bukanlah waktu yang sebentar untuk saling mengenal satu sama lain baik dari
segi hubungan interpersonal maupun segi kualitas seseorang dalam task nya. Deadline tugas yang “menghantui”
mahasiswa dan juga kesulitan tugas yang tinggi, disertai dengan pengalaman
kerja kelompok bersama mahasiswa lainnya telah memangkas tahapan forming dan storming dalam tahapan perkembangan kelompok. Artinya, wajar saja
kalau mahasiswa memilih kelompok “yang itu-itu lagi” karena mereka tahu bahwa
ketika dihadapkan tugas, mereka hanya akan melampaui tahap norming (kesepakatan pembagian tugas) dan performing (fokus mengerjakan tugas). Hal ini akan mempersingkat
waktu ditengah deadline tugas yang
menekan, untuk mencapai efektivitas dalam pengerjaan tugas dan menyelesaikan
hambatan yang ada. Walaupun, aku masih sedikit meragukan hal ini. Dimana memang
mahasiswa psikologi selain dari memiliki nuansa need of affiliation yang tinggi, mereka juga sudah punya peer group nya masing-masing. Sehingga ini
“nampak” lebih berat pada aspek hubungan interpersonal-nya daripada task nya. hubungan interpersonal dalam hal ini, bahwa ketika kelompok langsung memasuki tahap norming, langsung membangun kohesi dan membangun hubungan peran yang fungsional (performing)
Ada satu lagi
mungkin yang dapat menjawab, walaupun aku lupa-lupa ingat dengan teori nya,
semoga ini tidak melenceng. Teori equity berlaku
untuk kelompok juga kah? Bagaimanapun, sejauh yang aku ingat dan aku pahami
anggota kelompok akan tetap memperhatikan dan memberi reward pada anggota kelompok yang memperlakukan yang
lain secara adil/seimbang (equitable) dan umumnya menghukum anggota yang
memperlakukan orang lain secara adil/seimbang (inequitable).
Sehingga ini menjadi masuk akal kalau ada orang yang tersisihkan atau tidak
kebagian kelompok. Aku pikir, kelompok manapun tidak mengharapkan ketidakseimbangan
dengan hanya memasukkan anggota kelompok yang kerjanya hanya nge-print, atau
mengumpulkan ke meja dosen saja. Istilah kasarnya, “nebeng nama doang”. Apalagi
golongan orang seperti ini sejauh pengamatanku, mereka juga ‘sedikit bermasalah’
dengan relasi interpersonalnya. Artinya diluar tugas atau kerja kelompok,
mereka juga sulit diterima di mayoritas peer
group yang ada.
Sometimes,
life is not just about being the best for yourselves, but it might be the most
suitable person in society.
You
don’t have to be somebody else, all you have to do is being adjustable.
Dari
aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung,
3 Mei 2012
Irsa
Ikramina
No comments:
Post a Comment