manusia adakalanya tersesat karena kesempitan. tapi, manusia juga bisa tersesat karena kelapangan. mungkin manusia perlu ilmu, agar tidak terombang ambing kelapangan dan kesempitan hidup. kadang, mereka tahu, pegangan yang pasti hanyalah Tuhan. tapi untuk selalu dapat dekat dan berpegang kepada Tuhan manusia perlu ilmu.
aku mencari, ilmu apa dan siapa yang bisa ajarkan?
dengan kondisi dunia saat ini yang dilanda budaya materialisme dan hedonisme. nampaknya tidak mungkin aku mencari ilmu yang diwarisi pada masa ini. aku percaya, bahwa ilmu adalah warisan yang luar biasa, dapat menembus lintas waktu jauh ke depan. tapi aku harus mencari masa dimana ilmu yang diperlukan ini lahir pada kondisi yang serupa seperti masa saat ini. karena disitulah, aku yakin lahir ilmu yang juga menjawab pencarian penghayatan spiritual ditengah kondisi sosial yang cenderung semakin menjauhi nilai dan akhlak agama.
ditemukan. ada masa dimana budaya materialisme juga melanda generasi umat Islam yang pertama, karena kemakmuran dunia Islam pada era Umayyah dan Abbasiyah yang menggantikan Imperium Romawi dan Rusia.
pada era itu, tasawuf muncul ke permukaan. tapi bukan sufi yang akan menjadi sumber ilmu ku, tapi adalah ahli hikmah. karena hikmah pada era itu sifatnya sangat kental dengan tasawuf. orang-orang inilah yang lebih banyak diam, tersenyum dan mendengarkan permasalahan orang lain untuk memberikan solusi dan pandangan yang bijaksana.
hikmah itu sendiri berarti adalah sisi baik dari sesuatu, meski pada masa itu disebutnya hikam yang sebetulnya artinya juga sama saja, hanya jamaknya hikmah dalam bahasa arab.
untuk menguak hikmah dalam setiap babak kehidupan diperlukan kemampuan interpretasi yang mendalam, karena tidak hanya melibatkan intelektual tapi juga kebersihan hati dan kedalaman tauhid. itu sebabnya, ini adalah salah satu ilmu yang tingkatannya paling sulit untuk dipelajari (bagi ku). selain memerlukan pemahaman yang mendalam, mengamalkannya pun tidak mudah.
mempelajari Al Hikam, berarti juga menyadari eksistensi diri sebagai seorang salik, yaitu peniti jalan menuju Allah.
eksistesi memang soal makna dan pilihan, pilihan untuk memaknakan dari sisi yang baik atau tidak. karena itulah yang akan menentukan perjalanan sebagai seorang salik untuk menuju kepada Tuhan. menguak dan memahami hikmah, juga adalah eksistensi. dimana kelapangan dan kesempitan hanya sebagai sarana untuk selalu memaknakan dan menguak hikmah, agar selalu dekat dengan Tuhan.
Istirahatkan dirimu dari kesibukan mengurusi duniamu.
Urusan yang telah diatur Allah tak perlu kau sibuk
ikut campur
Ibnu Atha'illah al-Iskandari
Jangan mengadukan musibah kepada selain Allah. Karena
Allah semata yang menurunkannya. Bagaimana mungkin
selain Allah dapat mengangkat musibah yang telah
ditetapkan-Nya ? Bagaimana mungkin orang yang tidak bisa
mengangkat musibah dari dirinya sendiri bisa mengangkat
musibah orang lain ?
Ibnu Atha'illah al-Iskandari
Jangan sampai tertundanya karunia Tuhan kepadamu,
setelah kau mengulang-ulang doamu, membuatmu putus asa.
karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilihan-Nya,
bukan sesuai pilihanmu; pada waktu yang diinginkan-Nya,
bukan pada waktu yang kauinginkan.
Ibnu Atha'illah al-Iskandari
Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 10 Juli 2016
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment