Umumnya identik dengan ritual.
tapi ibadah bukan hanya persoalan ritual, ini urusan hati. niat dan keikhlasan.
ya, setidaknya dalam penghayatanku.
banyak orang mengatakan kerja itu ibadah.
aku adalah salah satunya diantara banyak orang itu.
tapi benarkah setiap pekerjaan yang kita lakukan sudah benar-benar ibadah ?
****
"Maaf menganggu waktunya pak, boleh saya masuk ?"
"ya" kata boss besar, yaitu atasan tidak langsung ku, sambil tetap menatap layar laptop. atasan langsung ku sedang cuti melahirkan. sudah 2 bulan ini tidak ada di kantor. jadi dengan banyak dan sedikit keterpaksaan aku harus berkoordinasi dan berkomunikasi dengannya
"begini pak, soal pencairan dana penghargaan dari pihak eksternal itu. mereka minta report realisasi kegiatannya. kalau yang saya pelajari dari surat resmi mereka, dana yang mereka berikan itu adalah 15 Juta yang harus dinikmati oleh karyawan cabang kita yang terbaik itu pak, sebagai bentuk apreasiasi dari kontribusi mereka"
"terus ?"
"pada kenyataannya, pada Surat Keputusan Direksi (SK) internal kita, dana yang dinikmati karyawan cabang hanya dianggarkan 3 juta dan memang mereka merealisasikannya dengan nominal yang tidak jauh berbeda melalui kegiatan buka bersama dengan anak yatim pak." kata ku dengan berat. karena aku juga baru tahu ada permainan seperti ini di jajaran management. selama ini yang aku tahu hanya SK internal saja, karena biasanya ini diurus oleh atasan langsung ku
"jadi bagaimana saya harus buat report nya pak ?" kata ku melanjutkan, belagak sok polos. padahal tahu ujungnya apa
"ya lo mark up aja lah, susah-susah amat sih !" kata dia menggampangkan
"tapi kan kenyataannya hanya 3 jutaan pak yang dihabiskan cabang, lagipula ini acara anak yatim loh pak. masa sih mau di mark up juga. ini kan kegiatan amal pak, bukan hura-hura.", kata ku yang masih menahan diri untuk coba mengikuti budaya indonesia, yaitu menjunjung tinggi kesopanan daripada kejujuran. sebab apabila aku boleh jujur, aku hanya akan bilang dengan sarkastik, "jadi integritas yang terpampang pada nilai perusahaan itu apa ya pak ?"
"udah, lo pake foto-foto acara lama aja kek, digabung-gabungin. susah amat sih !" seperti biasa menggampangkan tanpa ada kepekaan hati
aku tidak menjawab apa-apa. kembali ke ruangan ku.
"menurut kalian bagaimana ?" aku meminta pendapat staff-staff di ruangan.
"Wah, pihak eksternal itu suka tahu loh bu kalau itu acara lama atau baru. lagiankan kita punya medsos acara apapun suka di upload."
benar juga. menggunakan foto kegiatan lain bukanlah pilihan dan solusi.
aku merasa terhimpit dengan posisi ini. sungguh menguji super ego. aku merasa sedang sangat dilihat dan didengar Tuhan sekarang. seperti Ia sedang menunggu, apa keputusan yang akan aku ambil.
akhirnya aku coba menghubungi atasan langsung ku via Whatsapp. Dengan harapan ia bisa membantu ku. apakah ada jalan lain selain manipulasi data itu.
"kamu coba minta tolong pihak eksternal itu, ceritakan apa adanya. yang jelas kita mau mencairkan sisa uangnya" kata atasan ku memberi saran. ya, jadi kalau report ini tidak masuk ke mereka, sisa uangnya tidak akan cair.
sebetulnya aku malu melakukan saran atasan ku itu, juga tidak puas. orang mereka jelas-jelas sudah punya rules nya lalu kita sendiri melanggar lalu minta keringanan. kalau dalam kondisi seperti ini, suka berharap tinggal di luar negeri saja. mentalitas yang di luar nalar.
tapi apa boleh buat, aku lakukan saja. dengan rasa sangat malu dan berharap ini tidak akan menimpa ku lagi hingga akhir hayat.
setelah aku coba hubungi. tentu saja mereka menganjurkan untuk buat acara lagi. yang penting dana itu benar-benar dihabiskan untuk dinikmati karyawan cabang. intinya adalah stick with the rules. ya sebetunya aku juga sudah tahu ujungnya.
"bu, sudah ku coba. mereka stick with the rules."
"ya sudah, kalau gitu tidak ada jalan lain. kalau gitu memang harus mark up"
"saya takut bu"
"itu hal biasa kok, udah nggak apa-apa " jawaban yang sangat menggelitik nalar ku. kok salah dibiasakan ? jadi batas benar dan salah dalam hidup ini sudah saru dengan kebiasaan yang menjadi budaya.
"saya bukan takut sama pihak eksternal itu, tapi saya takut sama Tuhan"
sudah dibaca tapi ada jeda lama untuk membalas. mungkin sembari berpikir.
tidak lama kemudian muncul balasan.
"bagaimanapun kamu benar. yaudah, kamu sampaikan hal ini ke boss besar. apa adanya"
"baik bu, aku coba"
hari sudah sore, aku tidak langsung reaktif untuk menolak pekerjaan ini kepada boss besar. sepulang ke rumah aku banyak berpikir sembari tidak tenang batin. apa yang harus aku lakukan ? apa yang terjadi nanti ? apakah selama aku bekerja di industri dan organisasi akan selalu menghadapi ini ? aku memikirkan anak-anak yatim. kasihan mereka. dikasihnya cuma berapa tapi di laporan harus di mark up dengan bombastis. aku juga memikirkan karyawan cabang, yang sebetulnya mereka ada hak lebih yang bisa dinikmati. sungguh ini bukan hal yang benar, melanggar suara hati.
aku banyak bertanya pada diriku sendiri. karena jawabannya adalah aku sendiri, aku yang memutuskan, aku yang memilih. kalau memang niat ku kerja untuk ibadah, kenapa aku harus mengotorinya ? aku hanya akan merusak nilai ibadah ku sendiri.
apa sebetulnya yang terpenting dalam pekerjaan ? values atau performance ? di beberapa perusahaan yang menjunjung tinggi values, jika seseorang ditemukan melakukan violence integrity meski performance dan kontribusinya sangat tinggi bagi perusahaan. maka tamatlah riwayatnya. sebab, performance berkaitan dengan ilmu, pengalaman, skill yang sangat bisa diasah melalui program training dan coahing. tapi karakter dan values ? siapa yang bentuk ? ya diri kita sendiri. selagi masih muda, bentuklah karakter. sebab, ini yang akan kita bawa kemanapun kita bekerja, apapun karir dan profesinya.
aku sempat menyesali kenapa harus bekerja diantara orang-orang yang tidak sadar values. tapi lantas kemudian aku berpikir. ya, mungkin hikmahnya karakter akan lebih ditempa dan dibentuk pada kondisi yang seperti ini. belajar memutuskan untuk mengikuti suara hati.
ini juga soal keyakinan. kalau aku harus dipecat. toh rezeki sudah ada Yang Maha Mengatur. apalagi kalau memang kita memilih Tuhan, masa Tuhan tidak menjamin ?
aku belum cerita apa-apa kepada mama mengenai hal ini. karena, aku sadar betul ini adalah keputusan yang harus keluar dari hati nurani dan ini adalah urusan hatiku dengan Tuhan.
keesokan harinya, aku kerja seperti biasa. ada meeting tapi diundur. jadi aku ada waktu untuk memantapkan hati dan menelpon mama.
"ma, siap-siap ya. aku mau menolak pekerjaan. khawatir aku dipecat atau diberikan surat peringatan setelah ini" ya, surat peringatan potong gaji soalnya. kalau sampai hal ini terjadi, maka jatah yang akan aku bawa pulang akan berkurang.
"loh kenapa ?"
aku ceritakan saja secara singkat. dan alasan terbesarku adalah aku takut sama Tuhan.
"ya, bilang aja seperti itu" mama setuju dan siap dengan konsekuensi
Waktunya meeting, bersama boss besar dan juga seluruh tim HRD dan GA. seusai meeting aku mencari kesempatan untuk berbicara dengan boss besar. yang lain sudah kembali ke ruangan masing-masing, kecuali boss besar yang masih dengan laptopnya di ruang meeting.
"ah, kesempatan" kataku dalam hati. aku cepat-cepat ambil berkas yang diperlukan dan menghapirinya.
"maaf pak, saya minta waktunya sebentar"
"ada apa?"
"saya sudah coba lakukan seperti apa yang bapak minta. tapi maaf pak. saya tidak bisa. sebelumnya saya minta maaf. ini bukan maksud untuk menolak pekerjaan. tapi ini masalah hati. batin saya tidak tenang kalau harus melakukan hal ini"
"itu mah biasa, udah enggak apa-apa kok" lagi-lagi, membiasakan yang salah
"ya saya tahu"
"kamu sudah coba hubungi atasan kamu ?"
"sudah, dia juga bilang biasa"
"ya memang"
"tapi saya tetap tidak bisa pak, maaf. saya tidak takut dengan pihak eksternal itu. tapi saya takutnya sama Tuhan"
ada sedikit nuansa canggung yang terjadi diantara pembicaraan itu.
"Silahkan pak, saya sudah siapkan berkasnya. bapak tinggal tulis tangan saja angkanya disini"
dia nampak skakmat dengan jawabanku.
"ya sudah. coba kamu cari foto kegiatan cabang x, dia pernah ada acara bulan lalu. kalau kamu gak bisa, nanti saya saja"
***
"ini supervisor ibu kok menolak pekerjaan sih ? masa ngerjain gitu aja nggak mau" kata bos besar via telp ke ataan langsung ku
"yaiyalah pak, dia sudah benar. saya juga takut sama Tuhan." kata atasan ku
"yaiya ya bu.. saya juga takut sama Tuhan"
Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 27 Agustus 2016
No comments:
Post a Comment