aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Sunday, December 14, 2014

Seni dan Psikologi sebagai kampung halaman ku

Belajar dan membaca sudah menjadi nafas bagi kehidupan ku. Pengalaman menyusun skripsi dengan metode kualitatif ternayata begitu memengaruhi ku secara mendalam. Hidup ini memang selalu menjadi peneliti kualitatif rasanya. Belajar memahami kehidupan dan manusia, juga secara mendalam.
            Belakangan ini aku sedikit keluar dari “kampung halaman” ku. Belajar dan berkecimpung di dunia bisnis. Menarik ? ya juga. Malah aku belajar memperhitungkan setiap langkah dari dunia bisnis ini. Nyaman ? tidak. Seni dan psikologi tidak memadang segala hal dari sudut padang keuntungan (kecuali psikologi industri mungkin). Sedangkan di bisnis, aku harus menggunakan kacamata itu. Padahal, tidak selalunya hidup ini berdiri di atas azas keuntungan, ada juga azas manfaat. Seni dan psikologi dekat dengan filsafat. Di bisnis apa perlu filsafat ? aku rasa tidak. Sisi manusiawi ku lebih merasa terancam di dunia bisnis daripada dunia kampung halaman ku. Walaupun tidak selalu dan semua, tapi di dunia bisnis aku menemukan orang yang mengedepankan kehendak pribadinya dengan mengabaikan sisi manusiawinya terhadap manusia lain khusunya yang dipekerjakannya. Seperti kehidupan di korporasi besar yang pernah aku rasakan dengan kemelut politik dan intriknya.
            Aku tidak bilang ya orang yang berkecimpung di dunia bisnis lantas adalah orang yang kejam. Tidak. Jika kepemimpinan dan manajemennya baik, mereka akan sangat berjasa dalam memberikan kontribusi positif kepada market dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Hanya saja, seperti tidak sejalan dengan apa apa yang diajarkan di kampung halaman ku, yaitu seni dan psikologi.
            Tapi jangan salah, kemasan bisa profesi tapi jiwa bisa saja bisnis. Ya, misalnya seperti dokter yang mengeruk keuntungan dengan berjualan produk obat melalui resep yang dituliskannya padahal tidak terlalu perlu atau mempraktekan orto padahal bukan spesialiasasinya demi menarik banyak pasien yang sebteulnya jumlahnya sudah sangat overload untuk ia tangani sendiri.  Ada juga dokter-dokter yang sangat idealis, bagi mereka kebahagiaan adalah ya mengobati pasien, mereka juga tidak terlalu hitungan kepada pasien ya yang penting pasien lekas sehat. kalau di dunia musik, akan terpecah menjadi dua lagi. Yang naluri bisnis kuat akan lari kepada industri musik “yang sesungguhnya” sedangkan musisi yang bersifat “nyeniman” mereka tidak terlalu kejar setoran semacam itu. Yang penting bisa berkarya yang idealis, bemain musik dengan nyaman dan dapat menghibur pendengar itu saja cukup. Om Arbain Rambey juga pernah mengatakan pada ku kalau dalam dunia fotografi, ya ada dua macam. Yang berada pada jalur profesional akan selalu menyesuaikan keinginan klien dan berkaitan dengan rupiah. Tapi kalau nyeniman banget yang tidak terlalu memikirkan hal itu. Berkarya lah sepuasnya
Sekali waktu aku pernah berkunjung ke kampus lain dalam rangka peluncuran buku dan interpretasi seni salah satu teman ku yang berprofesi sebagai dosen di sana. Tentu saja teman ku ini berada pada dunia yang sama dengan ku. Ia musisi, filsuf dan penulis. kebiasaan buruk ku memang selalu saja naif, aku pikir akademisi ya akademisi. Tapi ternyata tidak. Agak terkejut juga melihat kemasan akademisi, namun jiwanya adalah korporasi. Semuanya sangat terlihat dari cara bicara, isi pikiran dan gelagatnya. Ya karena aku pernah bekerja di korporasi besar jadi tahu jenis manusia dan iklminya seperti apa. Si akademisi berjiwa korporasi malah mengungkapkan kecewa bahwa universitasnya akan digolongkan menjadi PTN bukan PTS lagi. semakin saja menguatkan pikiranku. Pantas saja teman ku ini pernah bilang kalau ia mau menduduki jabatan yang lebih tinggi untuk merubah situasi di sana yang menurutnya sudah terlalu bisnis.
Tidak ada yang salah dengan heterogennya pilihan-pilihan itu. Hanya saja aku semakin lama semakin memahami. Darimana asal ku dan kemana aku akan pulang meskipun merantau menimba ilmu ke berbagai bidang. Not bad mencoba merantau jauh dari kampung halaman. Semakin membuka pandangan dan memahami kehidupan dan manusianya di dalam bidang-bidang tersebut. Bagaimana pun, psikologi itu universal, karena idealismenya memahami manusia. Justru harusnya lulusan psikologi bersifat generik. Mampu beradaptasi di segala bidang kehidupan manusia. Hanya saja, semua berpulang pada kesediaan manusia yang bersangkuan. Psikologi tidak hanya terampil menggunakan alat tes, tidak hanya berurusan dengan HR. Tapi harusnya lebih dari itu. Dengan merantau seperti ini, aku bisa mencapai idealisme psikologi yaitu memahami manusia. Jadi tidak sempit hanya pada mengetes dan tek tek bengek HR. Toh, ilmu nya juga malah manfaat dengan mencoba berbagai bidang. Misalnya saja dalam dunia bisnis ini, meskipun tidak sesuai dengan jiwaku, tapi memberi kan pemahaman lebih pada proses bisnis dan strategi bisnis apapun, sehingga kalau aku harus kembali mengenakan “kemasan” HR di suatu korporasi (meskipun aku bukan mental korporasi) aku akan mampu beradaptasi pada industri dan proses bisnis apapun. Ya, HR memang harusnya produk generik yang mampu beradaptasi pada industri dan proses bisnis apapun. Mungkin kampus ku meluluskan sarjana psikologi yang terlalu klinis atau memang mentalku terbentuk kilinis sepanjang proses kuliah, sehingga ketika menjadi HR perlu waktu untuk memahami dan beradaptasi dengan proses bisnis dan industrinya untuk dapat “menyentuh” manusia yang bekerja pada sistem tersebut.
            Selanjutnya kemana kah aku akan merantau ? aku pun belum tahu pasti. Apapun itu, semoga seluruh ilmunya dapat terintegrasi dengan baik untuk dapat mencapai keuntungan eh, manfaat J ya, karena aku jiwa yang menganut azas manfaat, karena hanya dengan manusia yang menjadi manfaat di dunia dapat selamat di kehidupan yang selanjutnya.

Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 15 Desember 2014
Irsa Ikramina


No comments:

Post a Comment