Wanita
ini lahir pada tahun 1939, itu berarti ia melewati masa dimana Indonesia
memproklamasikan kemerdekaanya. Sewaktu kecil aku memandangnya “keren” karena
ia melalui kisah sejarah yang tertulis dalam buku pelajaran sejarah.
Wanita
ini aku panggil, nenek.
Sewaktu
kecil, sosok nenek menjadi begitu penting, selain dalam kunjungan liburan,
sosok nenek menjadi tempat dimana terbebas dari aturan-aturan orang tua. Ketika
aku dewasa, sosok nenek tidak begitu “keren” lagi. Mungkin karena perbedaan
zaman dan generasi yang sangat jauh sehingga nasehat-nsehatnya sudah tidak
relevan dengan kehidupan anak muda sekarang.
Keren,
tidak keren sosok nenek dimataku sekarang, yang jelas rasa sedih, kehilangan,
dan penyesalan sedang membalut hati ini ketika aku melihat tubuhnya yang telah
kaku dibaluti kain kafan dan diiringi dengan lantunan surat Yasin. Warna-wara
akromatik yang bergejolak dalam diri ini membuatku hanya bisa terpaku
menatapnya, berusaha menerima kenyataan bahwa jiawanya telah meninggalkan
raganya.
Rasa
sesal mengganjal hati ketika tidak responsif terhadap firasat kepergiannya dan
tidak menyadari kelembutannya yang selalu tercurah. Nasehatnya yang tidak
relevan dengan masa kini, sesungguhnya adalah kelembutan dan pehatian dari
kasih sayangnya. Nasehat sederhana, tapi begitu menyentuh jika dikenang meski
sosoknya telah tiada..
Tuhan,
nenek telah mewakilkan sifat lembut dan kasih sayang Mu. Ya latif, Ya Rahman,
Ya Rahim. Maka terimalah nenek di sisi-Mu. Tempat paling mulia. Amin.
Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 12 Maret 2013
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment