aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Sunday, December 14, 2014

Diambil dari catatan harian 12 Maret 2013

Wanita ini lahir pada tahun 1939, itu berarti ia melewati masa dimana Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya. Sewaktu kecil aku memandangnya “keren” karena ia melalui kisah sejarah yang tertulis dalam buku pelajaran sejarah.
Wanita ini aku panggil, nenek.
Sewaktu kecil, sosok nenek menjadi begitu penting, selain dalam kunjungan liburan, sosok nenek menjadi tempat dimana terbebas dari aturan-aturan orang tua. Ketika aku dewasa, sosok nenek tidak begitu “keren” lagi. Mungkin karena perbedaan zaman dan generasi yang sangat jauh sehingga nasehat-nsehatnya sudah tidak relevan dengan kehidupan anak muda sekarang.
Keren, tidak keren sosok nenek dimataku sekarang, yang jelas rasa sedih, kehilangan, dan penyesalan sedang membalut hati ini ketika aku melihat tubuhnya yang telah kaku dibaluti kain kafan dan diiringi dengan lantunan surat Yasin. Warna-wara akromatik yang bergejolak dalam diri ini membuatku hanya bisa terpaku menatapnya, berusaha menerima kenyataan bahwa jiawanya telah meninggalkan raganya.
Rasa sesal mengganjal hati ketika tidak responsif terhadap firasat kepergiannya dan tidak menyadari kelembutannya yang selalu tercurah. Nasehatnya yang tidak relevan dengan masa kini, sesungguhnya adalah kelembutan dan pehatian dari kasih sayangnya. Nasehat sederhana, tapi begitu menyentuh jika dikenang meski sosoknya telah tiada..
Tuhan, nenek telah mewakilkan sifat lembut dan kasih sayang Mu. Ya latif, Ya Rahman, Ya Rahim. Maka terimalah nenek di sisi-Mu. Tempat paling mulia. Amin.

Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 12 Maret 2013

Irsa Ikramina

No comments:

Post a Comment