aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Saturday, February 18, 2017

Tuhan di hati ku, maka aku ada


Begitu banyak pilihan dalam hidup ini. Manusia punya kebebasan memilih. Pilihlah ! toh, tidak memilih, juga sebetulnya sudah memilih. Aku pun begitu. Memilih ini dan itu, tentu dengan melibatkan Tuhan di setiap pilihan, karena Tuhan-lah Yang Maha Mengetahui.

Kenyataannya, ketika manusia dihadapkan pada kejadian menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Manusia ternyata berada pada posisi harus memilih. Ya, setidaknya aku melihatnya seperti itu. Memilih respon dari kejadian tersebut, mau direspon dengan mendekat kepada Tuhan atau menjauh dari Tuhan. Sesederhana itu ternyata makna dari setiap rangkaian kejadian yang dihadapi manusia. Tapi, proses menjalaninya memang tidak semudah mengatakannya.

Butuh sabar, ikhlas, syukur, dll. Kalau hidup ini ibarat ujian. Maka itulah kisi-kisi ujiannya. Setiap orang dapat menghadapi persoalan yang berbeda, seperti ujian sekolah. Ada pilihan ganda, essay, isian, praktik dll. Tapi kisi pastilah sama. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menghadapi ujiannya. Cara belajar setiap orang pun berbeda-beda. Ada yang suka belajar di waktu subuh, ada yang hanya mengandalkan mendengarkan dosen di kelas, ada yang selalu berusaha memahami materi, dll. Tentu dalam menghadapi ujian hidup, cara belajar ini harus ditemukan sendiri, tidak bisa mengikuti cara orang lain. Akan tersiksa apabila memaksakan cara belajar orang lain pada diri sendiri. Cara belajarku, aku meyakini bahwa selalu ada pesan yang ingin disampaikan Tuhan dari setiap kejadian, itu lah yang selalu aku cari tahu. Tuhan ingin sampaikan apa kepada ku ? jawaban yang aku temukan bisa saja salah, sama seperti ujian, lalu kemudian tidak lulus. Itu sebabnya ini memang perkara tidak mudah. Tapi memang harus dilalui. Sedikit saja melibatkan nafsu, jawaban yang ditemukan bisa saja malah menjerumuskan.

Semakin banyak lulus ujian, semakin tinggi kelas atau tingkat kesulitan ujiannya. Pilihannya mau semakin dekat atau semakin menjauh dari Tuhan. Terus seperti itu siklusnya. Hingga ada suatu titik dimana, kemana pun aku melangkah, aku bertemu Tuhan. Dengan siapapun aku bertemu, Tuhan sedang berbicara pada ku melalui makhluk-Nya. Kejadian pahit atau manis yang dihadapi, keduanya dipandang baik. Tuhan selalu hadir dalam setiap nafas, setiap jengkal dalam hidup ini. Jadi Tuhan ada dimana ?

Tuhan memang selalu hadir, tapi sayang manusia tidak selalu menyadari hal ini. Itu sebabnya ada proses-proses ujian yang harus dihadapi. Melelahkan memang, baru ujian yang sebelumnya terlalui, sudah muncul lagi dst. Agar hati ini terlatih, untuk tidak meletakan apapun di hati selain Tuhan. Proses untuk berada pada titik zero, kosong atau fitrah. Pada titik inilah, tidak ada penghalang lagi antara aku dan Tuhan.

Itu sebabnya Tuhan lebih tertarik merubah apa yang ada “di dalam”, sedangkan manusia sibuk merubah apa yang ada “di luar”

Pada akhirnya, eksistensi ini adalah aku dan Tuhan. Tuhan di hati ku, maka aku ada.

Bandung, 18 Februari 2017
Dari aku, duniaku dan penghayatanku



No comments:

Post a Comment