aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Monday, March 27, 2017

Sabar

Aroma kopi seduhan tangan ku sendiri menyeruak, menemani ku yang pura-pura kerja padahal sedang berselancar di situs lowongan pekerjaan. Inilah Shafa Marwa ku yang belum putus sedari akhir tahun lalu. Memang, rezeki sudah Tuhan atur. Tapi itu baru keyakinan batiniah, harus disertai upaya lahiriah untuk membuka pintu rezeki yang lebih besar. Siti Hajar yakin Allah tidak akan menelantarkannya, tapi keyakinan itu tidak membuatnya hanya berdiam dan menunggu. Upaya lahiriah yang ia lakukan adalah berlari Shafa dan Marwa. Begitu juga dengan ku.

Hanya saja yang membedakan dengan akhir tahun lalu. Kali ini bukan sekedar soal rezeki, tapi juga ilmu. Kalau memang hari ini harus lebih baik dari kemarin. Maka selama 3 bulan belakang ini aku sudah menjadi orang yang merugi bekerja di perusahaan ini. Kerja bagiku selain untuk menjemput rezeki, juga untuk belajar dan berkembang menjadi lebih baik. Sebab, menimba ilmu itu juga berarti berjalan di Jalan Tuhan. Being Leader sama halnya seperti jadi trainer atau dosen. We share knowledge, train and teach team to be better. Itu sebabnya harus selalu belajar terus, agar bisa berbagi ilmu terus dan menjadi amal yang tidak terputus. Tapi sayangnya, akibat struktur organisasi yang banyak bolongnya (resign kemudian tidak dicari penggantinya, dibiarkan saja), sisanya yang menempati adalah orang-orang yang “tidak disarankan” (posisi strategis bahkan), sisanya juga harus bekerja rangkap fungsi. Akibat hal-hal tersebut, sulit menciptakan budaya learning organization. I see no future in here.

So, I think Hijrah is the best decision now. Leaving Jahiliyah, going to the light.

Klik Apply

Sambil menyeruput kopi aku melirik ke staff ku, yang kelihatannya sudah agak senggang setelah menginput banyaknya pengajuan karyawan sales. Aku langsung tembak saja bertanya.

“Kamu nggak ada rencana cari kerjaan yang lebih baik?” tanya ku santai tapi to the point. Pertanyaan ini menjadi lazim apabila kita kerja di perusahaan yang engagement karyawannya sangat rendah

“eh, maksudnya gimana bu ?” dia kaget. Kikuk juga, karena pertanyaan ku terlalu mengejutkan mungkin baginya.

“ya gini loh, kira-kira kamu ada rencana resign nggak dalam waktu dekat ini ? siapa tau kamu mau memutuskan mengurus anak setelah lahiran bulan Juni ini atau mau lanjut disini setelah cuti melahirkan tapi sekedar sambil mencari pekerjaan lain ? karena kalau kamu memang mau fokus mengembangkan diri di karir. Di sini sudah bukan tempat yang sesuai” kataku menjelaskan

 “oohh.. sebetulnya ada bu. Tapi tergantung suami ku. Suami ku dari beberapa bulan lalu sudah cari-cari kerja juga yang lebih baik. Begitu di Jakarta dia sudah pindah ke perusahaan yang salary nya kira-kira bisa mencukupi keluarga. Maka aku akan ikut suami ke Jakarta. Perkara nanti akan kembali bekerja, itu kan paling di Jakarta dan nunggu anak sudah agak besar”

“That’s Nice. Mau memaksimalkan ibadah sebagai istri dan Ibu ya ?”  tanya ku. oohh suaminya yang sedang Shafa Marwa, ujarku dalam hati

“Iya Bu, sudah komitmen tidak akan LDR kalau anak sudah lahir”

“Bagus, ikut senang mendengarnya. Mudah-mudahan yang terbaik ya buat kamu dan keluarga. Nanti kabarin aja kalau suami sudah ketemu air zam-zamnya. Supaya disini aku bisa mempersiapkan”

“Iya Bu, saranku pas cari orang buat pengganti cuti melahirkan ku, cari yang requirement nya seolah untuk menggantikan aku hingga kedepannya. Jaga-jaga bu, nggak akan ada yang tahu kan”

“Iya, kamu betul”

“Ibu sendiri bagaimana ?”  tanyanya balik.

“tentu kalau ada peluang lebih baik pasti aku akan menyegerakan hijrah. Tapi memang harus sabar. di Bandung perusahaan yang sudah established bisa dihitung pakai jari, posisi HR Supervisor juga tidak banyak. Nanti kalau sudah waktunya juga dilancarkan. Tidak tergesa-gesa tapi ya menyegerakan kalau sudah waktunya. Kan, Hijrah harus lebih baik” jawabku singkat saja

“Ibu nggak mau coba di Jakarta ?”
Aku tersenyum sebelum menjawab pertanyaan ini. “sesungguhnya aku sudah memulai perjalanan shafa dan marwa ini cukup lama. Bahkan sampai ke Jakarta sekalipun. Tapi ada beberapa pertimbangan yang di putuskan bersama dengan keluarga untuk menetap saja di Bandung”

Kami terdiam sejenak. Mungkin sama-sama merenungi pilihan kami masing-masing.

“Jangan-jangan kita akan resign dalam waktu yang tidak jauh berbeda. Doa kita diijabah” kataku memecah keheningan dengan nada bercanda.

Kami memang pernah bercanda, supaya tim HRD kalau bubar secara bersamaan. Siapa tahu itu bisa memberikan pelajaran ke manajemen karena kami tahu tidak mudah merekrut orang baru yang bersedia diperlakukan dan dipekerjakan seperti kami.  Kami merasa dipekerjakan melebihi porsi yang seharusnya, manajemen merasa tim HRD bisa berjalan sebagaimana mestinya meski Manager HRD resign sehingga tidak dicari pengganti. Alhasil aku juga ketimpaaan fungsi manager, begitu juga dengan rekan supervisor ku yang akrab disapa Babeh. Sedangkan staff, harus megerjakan administratif HRD yang menurut analisa jabatan harusnya dikerjakan dua orang. Dulu pernah ada, namun karena politik manajemen, orangnya dipindahkan kebagian lain secara paksa, kalau tidak berseda resign lah pilihannya. Kalau memang berkurangnya orang bisa membantu kondisi perusahaan saat ini, sayangnya alasan-alasan itu tidak pernah dipaparkan secara transparan dan jelas kepada kami. Apalagi penjelasan basis data. Itu sebabnya, tanpa alasan dan penjelasan rasional. Kami merasa diperlakukan seperti romusha.

“Jangan-jangan bu. Kita kan lagi di Dzalimi” kata staff ku serius sambil matanya melotot. Padahal aku cuma bercanda

Aku malah tertawa. Melihat ekspresinya yang menanggapi serius. Pertanyaan selanjutnya mungkin adalah kenapa kami merasa didzalimi. Dzalim sebetulnya tidak selalu indentik dengan hal yang sifatnya keji dan mengarah pada penderitaan. Mengacu pada konsep dalam Islam, Dzalim itu berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Misalnya sampah dibuang secara sembarangan tidak pada tempatnya. Maka itu sudah Dzalim. Di kantor ini ? tentu banyak yang ditempatkan bukan pada tempatnya. Misalnya lembur tanpa uang lembur yang semestinya, tanggal merah pada kalender bisa jadi tanggal hitam tanpa bayaran lembur yang seharusnya, hasil rekrutmen kurang disarankan tapi tetap saja dipaksakan, dan seperti misalnya yang aku dan tim ku hadapi, masalah fungsi dan tanggung jawab yang sudah tidak pada tempat dan porsi kami.

Masih banyak hal mengenai Dzalim di kantor ini sebetulnya. Tapi bagiku yang paling menarik dari sekian banyak adalah ketika menempatkan kenyataan sebagai bukan kenyataan. Misalnya saja ketika aku membuat kuesioner karyawan dan melaporkannya, yang merupakan persentase terbesar dari motivasi karyawan adalah gaji, bonus dan insentif (berkaitan dengan imbalan dan hampir semua mengatakan alasannya untuk menafkahi keluarga). Aku rasa ini jawaban lazim. Kemudian setelah dilaporkan, aku ditugaskan untuk membuat kuesioner lagi di bulan depan dengan pertanyaan yang sama mengenai motivasi kerja tapi ditambah keterangan dalam kurung (kecuali bonus, gaji dan insentif). Sia-sialah kerjaku dan upaya karyawan menyampaikan aspirasinya, karena tindakan korektif atau upaya mengobati akan dilakukan berdasarkan diagnosa yang diingingkan, bukan diagnosa sesungguhnya. Tapi karyawan ada yang begiu jujurnya, di kuesioner kedua itu dia menjawab, “TIDAK MUNAFIK, TETAP GAJI, BONUS DAN INSENTIF.” Aku tersenyum waktu membaca dan merekapnya. Pemilihan kata yang menarik “munafik”. Pikir ku benar juga apa katanya, kita dipaksa kerja dengan membohongi hati sendiri, buka didorong bekerja dengan hati. Ya memangnya kenapa kalau kita kerja untuk mejemput rejeki untuk nafkah keluarga, tidak ada yang salah sepanjang niatnya baik dan prosesnya halal. Kenapa jadi harus dipaksa dengan menggunakan alasan lain.

“iya loh bu.. bener deh. Sekarang coba pikir. Berapa banyak orang yang di dzalimi di perusahan ini. Ratusan. Berapa banyak yang berdoa ? tidak hanya kayawan tapi juga keluarga karyawan. Artinya, doa-doa kita bisa saja diijabah”

Aku masih tertawa kecil. “doa itu pasti dikabulkan kok, hanya saja ada 3 kondisi, dikabulkan sesuai keinginan, ditunda, atau digantikan dengan yang terbaik menurut Allah. Nah, mekanismenya ketika sedang di dzalimi, kita berada titik 0, tidak ada nafsu, ego pun terkikis, disitulah tidak ada penghalang antara kita dan Allah, maka doa akan lebih mudah untuk dikabulkan”

“iya berarti tinggal tunggu waktu aja kan.. memang bu, saat ini posisi kita semua sedang dibawah. Tapi pasti ada waktunya kok kondisi akan berbalik kalau Allah berkehendak”

“iya.. sudah tertuang di Al-Imran ayat 26” jawab ku singkat

Staff ku hanya menaikan alisnya, dengan maksud bertanya apa isi ayatnya.

“Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki” Jawab ku

“coba kalau kita ingat nasib Fajar saat ini. Sekarang dia udah berada di tempat yang lebih baik dari kita. Tentu perlu proses dan waktu untuk bisa kesana, tapi kalau sudah waktunya ya. Sampai juga di tempat lebih baik” staff ku bercerita, mengngatkan soal nasib Supervisor GA

Dulu dalam tim ku ada supervisor GA, karena posisi itu akan dihapuskan, maka ia diminta mengundurkan diri kalau tidak mau mengambil posisi yang ditwarkan perusahaan. Tentu saja prosedur dan ketentuan PHK yang dilakukan terhadap dirinya tidak sesuai jalannya UU Ketenagakerjaan. Suatu hari aku bingung kedapatan WA dari GM menanyakan apakah surat resign Fajar sudah masuk atau belum. Untung aku cukup dekat dan sering ngobrol dengannya, jadi aku langsung saja tanyakan ada apa. Kebayang kalau aku tidak dekat, masa tiba-tiba menagih surat resign seperti mengusir. Fajar sempat menganggur beberapa bulan kemudian sekarang mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik.

“iya.. Man Shabara Zhafira” jawab ku singkat lagi, kali ini sambil tersenyum

“apa itu bu ?”

“Syair Arab. Siapa yang sabar, dian akan beruntung”

Terdiam sejenak.

“Tanpa disadari yang kita lakukan saat ini adalah bersabar. Kita tidak pasif atau sekedar pasrah. Kita tetap aktif menjalani tugas-tugas sembari aktif mencari solusi kita masing-masing. Ya mungkin dengan membuka pintu berhijrah atau shafa marwa mencari air zam-zam. Sembari menunggu, kita juga aktif bertahan. Mudah-mudahan, siapapun yang bisa hijrah dari tempat ini lebih dulu, mudah-mudahan itu yang terbaik untuk kita” kata ku meneruskan obrolan

Tapi sayang, sebelum sempat obrolan ini berlanjut. Pak De menghampiri ku, memintanya ikut ke ruangan lain untuk bicara. Pak De hanya sapaan akrab, seperti panggilan kami kepada Babeh. Pak De adalah salah satu Dept. Head yang bertahan hingga saat ini setelah 2 Dept.Head resign di awal tahun ini.

Selama di ruangan, Pak De bercerita panjang lebar. Aku hanya bisa diam dan mengangguk sebagai tanda kalau aku mendengarkan. Dari bahasa tubuhnya, Pak De hanya ingin didengarkan saja. Pak De memang sering curhat ke HRD soal uneg-unegnya. Tapi baru kali ini, hati ku sama sedihnya seperti yang Pak De rasakan dari ungkapkan secara tersirat bahasa tubuh dan intonasi bicaranya. Sedihnya hingga sampai terasa di hati ku juga. Aku juga tidak tega Pak De diperlakukan seperti itu dan aku juga mengerti posisi Pak De. Apalagi aku selalu ikut meeting manajemen mewakili departemen HRD dan menyaksikan bagaimana Pak De dibantai padahal kondisi lapangan yang tidak mendukung. Seperti biasa, kenyataan tidak ditempatkan sebagai kenyataan. Pucuk pimpinan tutup mata, tidak mau tahu bahwa untuk mencapai tujuan kita perlu waktu, perlu perbekalan, dan perlu petunjuk arah. Pak De juga tidak setuju berat soal karyawan di departemennya akan dipekerjakan dari jam 7 pagi sampai 6 sore tanpa uang lembur yang layak. Kalau kondisi seperti ini terus, Pak De memutuskan untuk hijrah. Tidak segan ia meninggalkan tempat ini. Meski aku belum bisa pastikan, itu sudah niat seperti aku atau masih keputusan emosi sesaat saja.

Aku keluar ruangan, maksud hati mau menikmati kopi ku yang mungkin sudah semakin dingin. Babeh melambai dari jauh, dari kursi dan meja kerjanya. Dalam hatiku, saking aja lebih tua, padahal aku mau menikmati kopi. Aku hampiri dia.

“Kenapa beh ? kusut amat mukanya”

“saya tuh udah bingung. Ngasih tahunya harus gimana coba. Masa data mau dimanipulasi. Nanti kalau ketahuan pihak eksternal kan kita kena denda. Duh...” babeh bercerita sembari wajahnya menunjukan lelah batin

Tidak untuk pertama kalinya Babeh mengalami ini. Jujur aku pun bosan mendengarnya.
“Yasudah beh. Sabar aja. Ya harus bagaimana lagi ?” kata ku sambil tersenyum

Ada senyuman di wajah Babeh meski terlihat berat

“Allah beserta orang yang sabar” kataku sambil meningalkan babeh.

Bukan aku tidak empati. Tapi semua orang disini mulai mengeluhkan hal yang itu-itu lagi. Kalau masih mau tinggal disini ya jangan mengeluh, hadapi. Kalau mau hijrah, ya bergerak. Hanya dua itu pilihannya. Sebab, memang begitulah hidup. Sabar menerima takdir sambil bergerak menju takdir yang lebih baik.

Kembali lagi aku ke meja kerjaku. Aaah.. Alhamdulillah.. akhirnya aku bisa menikmati kopi, masih hangat. Ternyata, untuk menikmati secangkir kopi saja butuh kesabaran, tapi beruntunglah aku tidak hanya kopi yang bisa dinikmati. Ada gorengan datang traktiran dari petinggi untuk satu ruangan. Ternyata menikmati kopinya ditunda agar lebih nikmat ketika gorengan juga tiba.

Bandung, 27 Maret 2017
Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Irsa Ikramina

No comments:

Post a Comment