Aroma kopi seduhan tangan ku
sendiri menyeruak, menemani ku yang pura-pura kerja padahal sedang berselancar
di situs lowongan pekerjaan. Inilah Shafa
Marwa ku yang belum putus sedari akhir tahun lalu. Memang, rezeki sudah
Tuhan atur. Tapi itu baru keyakinan batiniah, harus disertai upaya lahiriah
untuk membuka pintu rezeki yang lebih besar. Siti Hajar yakin Allah tidak akan
menelantarkannya, tapi keyakinan itu tidak membuatnya hanya berdiam dan
menunggu. Upaya lahiriah yang ia lakukan adalah berlari Shafa dan Marwa. Begitu
juga dengan ku.
Hanya saja yang membedakan dengan
akhir tahun lalu. Kali ini bukan sekedar soal rezeki, tapi juga ilmu. Kalau
memang hari ini harus lebih baik dari kemarin. Maka selama 3 bulan belakang ini
aku sudah menjadi orang yang merugi bekerja di perusahaan ini. Kerja bagiku selain
untuk menjemput rezeki, juga untuk belajar dan berkembang menjadi lebih baik. Sebab,
menimba ilmu itu juga berarti berjalan di Jalan Tuhan. Being Leader sama halnya seperti jadi trainer atau dosen. We share knowledge, train and teach team to
be better. Itu sebabnya harus selalu belajar terus, agar bisa berbagi ilmu
terus dan menjadi amal yang tidak terputus. Tapi sayangnya, akibat struktur organisasi
yang banyak bolongnya (resign kemudian
tidak dicari penggantinya, dibiarkan saja), sisanya yang menempati adalah
orang-orang yang “tidak disarankan” (posisi strategis bahkan), sisanya juga
harus bekerja rangkap fungsi. Akibat hal-hal tersebut, sulit menciptakan budaya
learning organization. I see no future in
here.
So, I think Hijrah is the best decision now. Leaving Jahiliyah,
going to the light.
Klik Apply
Sambil menyeruput kopi aku
melirik ke staff ku, yang kelihatannya sudah agak senggang setelah menginput
banyaknya pengajuan karyawan sales. Aku langsung tembak saja bertanya.
“Kamu nggak ada rencana cari
kerjaan yang lebih baik?” tanya ku santai tapi to the point. Pertanyaan ini menjadi lazim apabila kita kerja di
perusahaan yang engagement karyawannya
sangat rendah
“eh, maksudnya gimana bu ?” dia
kaget. Kikuk juga, karena pertanyaan ku terlalu mengejutkan mungkin baginya.
“ya gini loh, kira-kira kamu ada
rencana resign nggak dalam waktu
dekat ini ? siapa tau kamu mau memutuskan mengurus anak setelah lahiran bulan
Juni ini atau mau lanjut disini setelah cuti melahirkan tapi sekedar sambil
mencari pekerjaan lain ? karena kalau kamu memang mau fokus mengembangkan diri
di karir. Di sini sudah bukan tempat yang sesuai” kataku menjelaskan
“oohh.. sebetulnya ada bu. Tapi tergantung
suami ku. Suami ku dari beberapa bulan lalu sudah cari-cari kerja juga yang
lebih baik. Begitu di Jakarta dia sudah pindah ke perusahaan yang salary nya kira-kira bisa mencukupi
keluarga. Maka aku akan ikut suami ke Jakarta. Perkara nanti akan kembali
bekerja, itu kan paling di Jakarta dan nunggu anak sudah agak besar”
“That’s Nice. Mau memaksimalkan ibadah sebagai istri dan Ibu ya ?” tanya ku. oohh suaminya yang sedang Shafa
Marwa, ujarku dalam hati
“Bagus, ikut senang mendengarnya.
Mudah-mudahan yang terbaik ya buat kamu dan keluarga. Nanti kabarin aja kalau
suami sudah ketemu air zam-zamnya. Supaya disini aku bisa mempersiapkan”
“Iya Bu, saranku pas cari orang
buat pengganti cuti melahirkan ku, cari yang
requirement nya seolah untuk menggantikan aku hingga kedepannya. Jaga-jaga
bu, nggak akan ada yang tahu kan”
“Iya, kamu betul”
“Ibu sendiri bagaimana ?” tanyanya balik.
“tentu kalau ada peluang lebih
baik pasti aku akan menyegerakan hijrah. Tapi memang harus sabar. di Bandung
perusahaan yang sudah established bisa
dihitung pakai jari, posisi HR Supervisor juga tidak banyak. Nanti kalau sudah
waktunya juga dilancarkan. Tidak tergesa-gesa tapi ya menyegerakan kalau sudah
waktunya. Kan, Hijrah harus lebih baik” jawabku singkat saja
“Ibu nggak mau coba di Jakarta ?”
Aku tersenyum sebelum menjawab
pertanyaan ini. “sesungguhnya aku sudah memulai perjalanan shafa dan marwa ini
cukup lama. Bahkan sampai ke Jakarta sekalipun. Tapi ada beberapa pertimbangan
yang di putuskan bersama dengan keluarga untuk menetap saja di Bandung”
Kami terdiam sejenak. Mungkin
sama-sama merenungi pilihan kami masing-masing.
“Jangan-jangan kita akan resign dalam waktu yang tidak jauh
berbeda. Doa kita diijabah” kataku memecah keheningan dengan nada bercanda.
Kami memang pernah bercanda,
supaya tim HRD kalau bubar secara bersamaan. Siapa tahu itu bisa memberikan
pelajaran ke manajemen karena kami tahu tidak mudah merekrut orang baru yang
bersedia diperlakukan dan dipekerjakan seperti kami. Kami merasa dipekerjakan melebihi porsi yang
seharusnya, manajemen merasa tim HRD bisa berjalan sebagaimana mestinya meski
Manager HRD resign sehingga tidak
dicari pengganti. Alhasil aku juga ketimpaaan fungsi manager, begitu juga
dengan rekan supervisor ku yang akrab disapa Babeh. Sedangkan staff, harus
megerjakan administratif HRD yang menurut analisa jabatan harusnya dikerjakan
dua orang. Dulu pernah ada, namun karena politik manajemen, orangnya dipindahkan
kebagian lain secara paksa, kalau tidak berseda resign lah pilihannya. Kalau memang berkurangnya orang bisa
membantu kondisi perusahaan saat ini, sayangnya alasan-alasan itu tidak pernah
dipaparkan secara transparan dan jelas kepada kami. Apalagi penjelasan basis
data. Itu sebabnya, tanpa alasan dan penjelasan rasional. Kami merasa
diperlakukan seperti romusha.
“Jangan-jangan bu. Kita kan lagi
di Dzalimi” kata staff ku serius sambil matanya melotot. Padahal aku cuma bercanda
Aku malah tertawa. Melihat ekspresinya
yang menanggapi serius. Pertanyaan selanjutnya mungkin adalah kenapa kami
merasa didzalimi. Dzalim sebetulnya tidak selalu indentik dengan hal yang
sifatnya keji dan mengarah pada penderitaan. Mengacu pada konsep dalam Islam,
Dzalim itu berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Misalnya sampah
dibuang secara sembarangan tidak pada tempatnya. Maka itu sudah Dzalim. Di
kantor ini ? tentu banyak yang ditempatkan bukan pada tempatnya. Misalnya lembur
tanpa uang lembur yang semestinya, tanggal merah pada kalender bisa jadi
tanggal hitam tanpa bayaran lembur yang seharusnya, hasil rekrutmen kurang
disarankan tapi tetap saja dipaksakan, dan seperti misalnya yang aku dan tim ku
hadapi, masalah fungsi dan tanggung jawab yang sudah tidak pada tempat dan
porsi kami.
Masih banyak hal mengenai Dzalim
di kantor ini sebetulnya. Tapi bagiku yang paling menarik dari sekian banyak
adalah ketika menempatkan kenyataan sebagai bukan kenyataan. Misalnya saja
ketika aku membuat kuesioner karyawan dan melaporkannya, yang merupakan
persentase terbesar dari motivasi karyawan adalah gaji, bonus dan insentif
(berkaitan dengan imbalan dan hampir semua mengatakan alasannya untuk menafkahi
keluarga). Aku rasa ini jawaban lazim. Kemudian setelah dilaporkan, aku
ditugaskan untuk membuat kuesioner lagi di bulan depan dengan pertanyaan yang
sama mengenai motivasi kerja tapi ditambah keterangan dalam kurung (kecuali bonus,
gaji dan insentif). Sia-sialah kerjaku dan upaya karyawan menyampaikan
aspirasinya, karena tindakan korektif atau upaya mengobati akan dilakukan
berdasarkan diagnosa yang diingingkan, bukan diagnosa sesungguhnya. Tapi
karyawan ada yang begiu jujurnya, di kuesioner kedua itu dia menjawab, “TIDAK
MUNAFIK, TETAP GAJI, BONUS DAN INSENTIF.” Aku tersenyum waktu membaca dan
merekapnya. Pemilihan kata yang menarik “munafik”. Pikir ku benar juga apa
katanya, kita dipaksa kerja dengan membohongi hati sendiri, buka didorong
bekerja dengan hati. Ya memangnya kenapa kalau kita kerja untuk mejemput rejeki
untuk nafkah keluarga, tidak ada yang salah sepanjang niatnya baik dan
prosesnya halal. Kenapa jadi harus dipaksa dengan menggunakan alasan lain.
“iya loh bu.. bener deh. Sekarang
coba pikir. Berapa banyak orang yang di dzalimi di perusahan ini. Ratusan. Berapa
banyak yang berdoa ? tidak hanya kayawan tapi juga keluarga karyawan. Artinya,
doa-doa kita bisa saja diijabah”
Aku masih tertawa kecil. “doa itu
pasti dikabulkan kok, hanya saja ada 3 kondisi, dikabulkan sesuai keinginan,
ditunda, atau digantikan dengan yang terbaik menurut Allah. Nah, mekanismenya
ketika sedang di dzalimi, kita berada titik 0, tidak ada nafsu, ego pun
terkikis, disitulah tidak ada penghalang antara kita dan Allah, maka doa akan
lebih mudah untuk dikabulkan”
“iya berarti tinggal tunggu waktu
aja kan.. memang bu, saat ini posisi kita semua sedang dibawah. Tapi pasti ada
waktunya kok kondisi akan berbalik kalau Allah berkehendak”
“iya.. sudah tertuang di Al-Imran
ayat 26” jawab ku singkat
Staff ku hanya menaikan alisnya,
dengan maksud bertanya apa isi ayatnya.
“Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa
pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang
Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau
hinakan siapapun yang Engkau kehendaki” Jawab ku
“coba kalau kita ingat nasib
Fajar saat ini. Sekarang dia udah berada di tempat yang lebih baik dari kita. Tentu
perlu proses dan waktu untuk bisa kesana, tapi kalau sudah waktunya ya. Sampai juga
di tempat lebih baik” staff ku bercerita, mengngatkan soal nasib Supervisor GA
Dulu dalam tim ku ada supervisor
GA, karena posisi itu akan dihapuskan, maka ia diminta mengundurkan diri kalau
tidak mau mengambil posisi yang ditwarkan perusahaan. Tentu saja prosedur dan
ketentuan PHK yang dilakukan terhadap dirinya tidak sesuai jalannya UU
Ketenagakerjaan. Suatu hari aku bingung kedapatan WA dari GM menanyakan apakah
surat resign Fajar sudah masuk atau belum. Untung aku cukup dekat dan sering
ngobrol dengannya, jadi aku langsung saja tanyakan ada apa. Kebayang kalau aku
tidak dekat, masa tiba-tiba menagih surat resign
seperti mengusir. Fajar sempat menganggur beberapa bulan kemudian sekarang
mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik.
“iya.. Man Shabara Zhafira” jawab
ku singkat lagi, kali ini sambil tersenyum
“apa itu bu ?”
“Syair Arab. Siapa yang sabar,
dian akan beruntung”
Terdiam sejenak.
“Tanpa disadari yang kita lakukan
saat ini adalah bersabar. Kita tidak pasif atau sekedar pasrah. Kita tetap
aktif menjalani tugas-tugas sembari aktif mencari solusi kita masing-masing. Ya
mungkin dengan membuka pintu berhijrah atau shafa marwa mencari air zam-zam. Sembari
menunggu, kita juga aktif bertahan. Mudah-mudahan, siapapun yang bisa hijrah
dari tempat ini lebih dulu, mudah-mudahan itu yang terbaik untuk kita” kata ku
meneruskan obrolan
Tapi sayang, sebelum sempat obrolan
ini berlanjut. Pak De menghampiri ku, memintanya ikut ke ruangan lain untuk bicara.
Pak De hanya sapaan akrab, seperti panggilan kami kepada Babeh. Pak De adalah
salah satu Dept. Head yang bertahan hingga saat ini setelah 2 Dept.Head resign di awal tahun ini.
Selama di ruangan, Pak De
bercerita panjang lebar. Aku hanya bisa diam dan mengangguk sebagai tanda kalau
aku mendengarkan. Dari bahasa tubuhnya, Pak De hanya ingin didengarkan saja.
Pak De memang sering curhat ke HRD soal uneg-unegnya. Tapi baru kali ini, hati
ku sama sedihnya seperti yang Pak De rasakan dari ungkapkan secara tersirat
bahasa tubuh dan intonasi bicaranya. Sedihnya hingga sampai terasa di hati ku
juga. Aku juga tidak tega Pak De diperlakukan seperti itu dan aku juga mengerti
posisi Pak De. Apalagi aku selalu ikut meeting manajemen mewakili departemen
HRD dan menyaksikan bagaimana Pak De dibantai padahal kondisi lapangan yang
tidak mendukung. Seperti biasa, kenyataan tidak ditempatkan sebagai kenyataan.
Pucuk pimpinan tutup mata, tidak mau tahu bahwa untuk mencapai tujuan kita
perlu waktu, perlu perbekalan, dan perlu petunjuk arah. Pak De juga tidak
setuju berat soal karyawan di departemennya akan dipekerjakan dari jam 7 pagi
sampai 6 sore tanpa uang lembur yang layak. Kalau kondisi seperti ini terus,
Pak De memutuskan untuk hijrah. Tidak segan ia meninggalkan tempat ini. Meski
aku belum bisa pastikan, itu sudah niat seperti aku atau masih keputusan emosi
sesaat saja.
Aku keluar ruangan, maksud hati
mau menikmati kopi ku yang mungkin sudah semakin dingin. Babeh melambai dari
jauh, dari kursi dan meja kerjanya. Dalam hatiku, saking aja lebih tua, padahal
aku mau menikmati kopi. Aku hampiri dia.
“Kenapa beh ? kusut amat mukanya”
“saya tuh udah bingung. Ngasih
tahunya harus gimana coba. Masa data mau dimanipulasi. Nanti kalau ketahuan
pihak eksternal kan kita kena denda. Duh...” babeh bercerita sembari wajahnya
menunjukan lelah batin
Tidak untuk pertama kalinya Babeh
mengalami ini. Jujur aku pun bosan mendengarnya.
“Yasudah beh. Sabar aja. Ya harus
bagaimana lagi ?” kata ku sambil tersenyum
Ada senyuman di wajah Babeh meski
terlihat berat
“Allah beserta orang yang sabar” kataku sambil meningalkan babeh.
Bukan aku tidak empati. Tapi semua orang disini mulai mengeluhkan hal yang itu-itu lagi. Kalau masih mau tinggal disini ya jangan mengeluh, hadapi. Kalau mau hijrah, ya bergerak. Hanya dua itu pilihannya. Sebab, memang begitulah hidup. Sabar menerima takdir sambil bergerak menju takdir yang lebih baik.
Bukan aku tidak empati. Tapi semua orang disini mulai mengeluhkan hal yang itu-itu lagi. Kalau masih mau tinggal disini ya jangan mengeluh, hadapi. Kalau mau hijrah, ya bergerak. Hanya dua itu pilihannya. Sebab, memang begitulah hidup. Sabar menerima takdir sambil bergerak menju takdir yang lebih baik.
Kembali lagi aku ke meja kerjaku.
Aaah.. Alhamdulillah.. akhirnya aku bisa menikmati kopi, masih hangat. Ternyata,
untuk menikmati secangkir kopi saja butuh kesabaran, tapi beruntunglah aku
tidak hanya kopi yang bisa dinikmati. Ada gorengan datang traktiran dari
petinggi untuk satu ruangan. Ternyata menikmati kopinya ditunda agar lebih nikmat ketika gorengan juga tiba.
Bandung, 27 Maret 2017
Dari aku, duniaku dan
penghayatanku
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment