aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Thursday, January 26, 2012

aku dan hijrahku


           hari ini ada hal yang mengingatku pada kota asalku. Aku memang terlahir di Jakarta, namun aku tidak tinggal di Jakarta. Sebut saja “Jakarta coret”. Ya, kota pinggiran Jakarta. Aku dibesarkan di kota tersebut. Banyak memori yang masih aku ingat hingga saat ini, baik mengenai keluarga, teman, sekolah, sahabat. rasanya semua tidak begitu saja luput dari ingatanku walaupun sekarang kehidupanku begitu menyita seluruh energi psikis. Kadang ingatan-ingatan itu terlintas begitu saja di kepalaku dan ada suatu perasaan yang sulit aku jelaskan ketika mengingatnya.
            Kehidupan remajaku pada saat di kota itu sama seperti remaja pada umumnya, bisa dikatakan memang seperti itu tahapan perkembangannya, stress and storm dan mencari jati diri. Di rumah aku sulit diatur, kakak yang egois dan suka menyuruh-nyuruh adik, sering menyendiri di kamar, lebih mendengarkan apa kata teman-teman daripada orang tua. Di sekolah, aku bukan star aku juga bukan underdog. Ya, bisa dikatakan aku netral, tidak masalah bagiku berteman dengan siapapun, hanya saja aku sudah memiliki peer group yang aku sudah merasa nyaman. Aku tidak menonjol dalam akademik, kecuali pada saat kelas 3 SMP dan 1 SMA. pada dasarnya aku tidak suka menonjolkan diri, tapi karena waktu itu aku punya group musik, kadang aku tampil di beberapa acara sekolah. Awal masa SMP aku juga sempat bergabung dalam tim basket untuk bertanding sana-sini. Tapi itu hanya cerita klasiknya.
            Dulu aku punya peer group yang sudah aku anggap sebagai keluarga, jumlahnya sekitar 6 hingga 7 orang. Kedekatan kami tidak cukup hanya di sekolah, salah satu temanku dari peer group itu sudah diperbolehkan membawa kendaraan pribadi. Kemanapun, kita selalu bersama. Tidak mintapun, kadang aku dijemput ketika memang akan pergi bersama. Ini adalah salah satu memori yang paling mudah kuingat. Kadang kita pergi seharian, hanya ingin menikmati kota Jakarta. Ke pasar Senen untuk membeli barang-barang, ke mangga dua untuk mencari baju, mencari roti bakar Eddie di malam hari, hingga waktu itu pernah perjalanan di akhiri di monas pada saat malam hari. Ya, hanya sekedar menatap monas, melihat lalu lalang mobil di dekat Gambir, dan berbincang bersama. Kadang, kita tidak menghabiskan waktu seharian. Namun pergi dari sore untuk pergi ke mall. Aku ingat, yang paling sering dikunjungi adalah Pondok Indah Mall, karena ketika berada disana, pasti saja bertemu teman-teman yang lain.  Aku dulu tidak terlalu memperhatikan masalah akademik, kecuali kelas 3 SMP ketika akan menghadapi Ujian Nasional.
            Kehidupanku sedikit ada perubahan ketika naik ke kelas 1 SMA, aku sudah tidak terpaku pada peer group itu lagi karena memang ada yang berganti sekolah dan banyak teman baru dari luar. Ya, karena memang sebagian besarnya diisi lagi oleh anak-anak dari SMP sekolah tersebut. Kelas 1 SMA, aku tidak peduli dengan akademik, tapi aku masih bertanggung jawab. Jika ada tugas aku kerjakan, jika pekan ulangan aku belajar. Hanya saja aku tidak menggebu seolah memiliki need achievement yang tinggi. Tapi tanpa disengaja ternyata aku bisa berprestasi walaupun mungkin jajaran guru agak bingung, karena perilaku yang aku tampilkan kontradiktif dengan hasil akademik. Aku sering tidur di kelas, tidak memperhatikan pelajaran, terlambat masuk kelas, mengobrol saat pelajaran, dan sulit diatur. Di kelas 1 SMA ini aku mendalami musik di bidang klasik, aku mengambil les gitar klasik, aku juga les bahasa inggris. Sehingga aku tidak aktif di lingkungan sekolah.
            Aku punya teman dekat yang sama-sama di tempat les inggris yang sama namun berbeda kelas di sekolah. Kesamaan minat pada seni, cukup mendekatkan kami. Aku pernah pergi ke kota tua dengannya, dengan menggunakan bus. Ya, bus trans Jakarta membawa kami pergi mengelilingi Jakarta untuk mengambil beberapa foto dari sudut-sudut kota Jakarta. Sisanya, hidupku masih tidak jauh berbeda, malam minggu masih sering “bergaul” dengan teman-teman yang lain.
            Hingga pada suatu saat, aku merasakan kehampaan. Aku tidak mengerti untuk apa keberadaan dan eksistensiku. Di saat aku pergi bersama teman-teman di malam minggu, aku malah merasa tidak nyaman. Pikiranku seolah tidak berada di sana. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk menjadi anak rumahan. Dan ternyata cukup menyenangkan, aku menikmati kebersamaan dengan adik-adik di rumah yang selama ini aku sudah lewatkan. Menaiki kelas 2, aku masih meragukan eksistensiku dan malah menjadi menganggu kemampuan adjust. Aku merasa sangat tidak nyaman.
Pada akhirnya, aku yang masih berusia 16 tahun, memutuskan untuk
berhijrah ke Bandung. Aku ingin mencari “kehidupan yang sesungguhnya”.
            Persetujuan dari mama tidaklah cukup, aku harus berbicara kepada papa. Dan ini yang agak sedikit merepotkan bagiku. Kadang sosok papa agak sedikit kaku dan sulit dimengerti, sehingga selalu mempengaruhi komunikasi yang ada. Mungkin papa terlalu genius, sehingga punya pemikiran-pemikiran yang original dan sulit dimengerti orang lain.
Aku : “aku mau pindah sekolah di Bandung”
Papa: “buat apa?”
Aku: “aku ngerasa aneh, aku gak ngerasa menikmati hidup. Aku gak kaya temen-temen yang lain. Aku pengen cari kehidupan yang membuat aku nyaman”
Papa: “gak masuk akal”
-----hening-----
Papa: “kamu tau hidup untuk apa?”
Aku: “ya jalanin aja”
Papa: *tersenyum sinis dan meremehkan* kamu harus tau hakekat hidup itu apa nak. Buat apa irsa hidup, itu harus tau.”
Aku: “.............”
Papa: “oke, papa izinkan kamu sekolah di Bandung. Tapi kamu harus mencari tau. Apa itu hakekat kehidupan”
            Aku tidak mempedulikan pesan papa pada saat itu, yang penting aku pindah ke Bandung.....
            Ya, akhirnya aku bersekolah di Bandung, itu juga dengan proses yang banyak di mudahkan. Sekolah yang aku akan masuki termasuk 5 terbaik di Bandung. Aku harus melalui seleksi, tes dan wawancara. Aku juga punya beberapa saingan pada saat itu. Tapi nampaknya Tuhan memang memiliki maksud untuk meng-hijrahkan aku ke Bandung. Sehingga segala prosesnya menjadi banyak kemudahan.
            Bulan-bulan pertama sekolah menjadi berat bagiku, semua yang aku bayangkan hanya fatamorgana. Karena aku harus berhadapan dengan cultural shock , bahasa sunda, sekolah negeri yang aku rasakan sangat jauh berbeda dari sekolah swasta yang selama ini jadi sekolahku, jarak antara rumah dan sekolah yang begitu jauh harus aku tempuh selama 1 jam. Semua menjadi sulit bagiku.
            Memasuki kelas 3 SMA, semua menjadi tidak terasa lagi olehku. Karena aku sudah menemukan teman yang nyaman, selain itu yang terpikirkan adalah UAN dan akan berkuliah dimana nantinya. Dari semenjak pindah aku memang melanjutkan lagi di institusi yang sama untuk les musik dan bahasa inggris di Bandung sehingga pada saat kelas 3 aku menambah bimbingan belajar, hari-hariku menjadi padat, dan dengan begitu saja aku lupa dengan kesulitan-kesulitanku dalam proses adaptasi.  
             Selama awal 2 tahun aku di Bandung itulah yang cukup merekonstruksi ‘aku’. Ketika kelas 2 aku menjadi orang baru, tidak ada yang mengenalku. aku lebih banyak berbicara pada diriku sendiri, masa-masa sulit dan berat aku coba dekatkan pada Tuhan. Ritual-ritual ibadah tidak aku tinggalkan. Meski mudah saja untuk ditinggalkan semestinya. Ya, karena aku sudah tidak lagi bersekolah di sekolah Islam. Tapi ternyata aku kehilangan budaya dan ritual Islam yang selama ini diterapkan di sekolah lamaku. dari kecil aku memang di sekolahkan di sekolah Islam dan ketika aku keluar dari zona itu. Aku jadi dapat melihat jelas sampai sejauh mana batasan yang dimiliki diriku, sebagai ego conscience dan ego ideal. Kesadaran spiritual pun menjadi lebih meningkat.
            Menaiki kelas 3, kesibukan les ku tidak menghalangi aku untuk bertafakur mencari tau apa hakikat hidup yang papa maksudkan. Untung saja, di tempat bimbingan belajar itu antara guru dan murid tidak ada batasan. Setahun bersama, mereka menjadi seperti keluarga. Beberapa guru yang dekat denganku sangat berpengaruh dalam hal ini. Pandangan-padangan mereka mengenai kehidupan memudahkan aku menemukan hakikat hidup yang aku cari selama ini. Hidupku menjadi lebih bermakna.
            Tidak terasa olehku, aku sudah di Bandung selama kurang lebih 4.5 tahun. Aku yang sekarang hampir memasuki semester 6 dalam bidang psikologi, sangat bersyukur jika aku mengingat live event hijrah ini. Terlebih selama aku di psikologi, aku juga belajar memahami diriku sendiri, memahami orang lain dan tentu saja aku padu padankan dengan spritualitas dan pemaknaan kehidupan yang aku peroleh selama 2 tahun itu. Aku juga tidak pernah menyangka sebelumnya kalau aku harus bergelut di dunia psikologi. Karena dulu impianku adalah seni. Aku ingin kuliah perfilman di IKJ, tapi nampaknya orang tua tidak mengizinkan. Maka dari itu aku ingin belajar ilmu komunikasi untuk broadcast sebagai kompensasi. tapi sejauh ini aku pikir not bad. Psikologi bagaimanapun juga adalah seni, seni memahami manusia tentunya.
            Berbicara soal hijrah, dulu aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk kembali lagi ke Jakarta. Tapi ternyata aku sudah terlanjur mencintai Bandung dengan segala perjalanan yang aku tempuh. Bukan berarti, aku akan tinggal selamanya di Bandung dan tidak akan pernah kembali ke Jakarta. Tidak lama lagi aku akan lulus kuliah, dan menghadapi episode kehidupan yang baru dan mungkin lebih menantang. Untuk itu sekarang ini aku persiapkan diriku untuk berhijrah lagi. Lalu kemana aku akan berhijrah? Insya Allah ketempat yang lebih baik, dimana setiap hijrah bisa mendekatkan aku pada-Nya, lebih bermakna tidak hanya untuk aku tapi juga untuk orang lain.

I expect more, actually.
But only God knows the best place for me.

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 27.01.2012
Irsa Ikramina
                       

No comments:

Post a Comment