hari ini ada hal yang mengingatku pada kota
asalku. Aku memang terlahir di Jakarta, namun aku tidak tinggal di Jakarta. Sebut
saja “Jakarta coret”. Ya, kota pinggiran Jakarta. Aku dibesarkan di kota
tersebut. Banyak memori yang masih aku ingat hingga saat ini, baik mengenai
keluarga, teman, sekolah, sahabat. rasanya semua tidak begitu saja luput dari
ingatanku walaupun sekarang kehidupanku begitu menyita seluruh energi psikis. Kadang
ingatan-ingatan itu terlintas begitu saja di kepalaku dan ada suatu perasaan
yang sulit aku jelaskan ketika mengingatnya.
Kehidupan
remajaku pada saat di kota itu sama seperti remaja pada umumnya, bisa dikatakan
memang seperti itu tahapan perkembangannya, stress
and storm dan mencari jati diri. Di rumah aku sulit diatur, kakak yang
egois dan suka menyuruh-nyuruh adik, sering menyendiri di kamar, lebih mendengarkan
apa kata teman-teman daripada orang tua. Di sekolah, aku bukan star aku juga bukan underdog. Ya, bisa dikatakan aku netral, tidak masalah bagiku
berteman dengan siapapun, hanya saja aku sudah memiliki peer group yang aku sudah merasa nyaman. Aku tidak menonjol dalam
akademik, kecuali pada saat kelas 3 SMP dan 1 SMA. pada dasarnya aku tidak suka
menonjolkan diri, tapi karena waktu itu aku punya group musik, kadang aku tampil di beberapa acara sekolah. Awal masa
SMP aku juga sempat bergabung dalam tim basket untuk bertanding sana-sini. Tapi
itu hanya cerita klasiknya.
Dulu
aku punya peer group yang sudah aku
anggap sebagai keluarga, jumlahnya sekitar 6 hingga 7 orang. Kedekatan kami
tidak cukup hanya di sekolah, salah satu temanku dari peer group itu sudah diperbolehkan membawa kendaraan pribadi. Kemanapun,
kita selalu bersama. Tidak mintapun, kadang aku dijemput ketika memang akan
pergi bersama. Ini adalah salah satu memori yang paling mudah kuingat. Kadang kita
pergi seharian, hanya ingin menikmati kota Jakarta. Ke pasar Senen untuk
membeli barang-barang, ke mangga dua untuk mencari baju, mencari roti bakar Eddie
di malam hari, hingga waktu itu pernah perjalanan di akhiri di monas pada saat
malam hari. Ya, hanya sekedar menatap monas, melihat lalu lalang mobil di dekat
Gambir, dan berbincang bersama. Kadang, kita tidak menghabiskan waktu seharian.
Namun pergi dari sore untuk pergi ke mall.
Aku ingat, yang paling sering dikunjungi adalah Pondok Indah Mall, karena
ketika berada disana, pasti saja bertemu teman-teman yang lain. Aku dulu tidak terlalu memperhatikan masalah
akademik, kecuali kelas 3 SMP ketika akan menghadapi Ujian Nasional.
Kehidupanku
sedikit ada perubahan ketika naik ke kelas 1 SMA, aku sudah tidak terpaku pada peer group itu lagi karena memang ada
yang berganti sekolah dan banyak teman baru dari luar. Ya, karena memang
sebagian besarnya diisi lagi oleh anak-anak dari SMP sekolah tersebut. Kelas 1
SMA, aku tidak peduli dengan akademik, tapi aku masih bertanggung jawab. Jika ada
tugas aku kerjakan, jika pekan ulangan aku belajar. Hanya saja aku tidak menggebu
seolah memiliki need achievement yang
tinggi. Tapi tanpa disengaja ternyata aku bisa berprestasi walaupun mungkin
jajaran guru agak bingung, karena perilaku yang aku tampilkan kontradiktif
dengan hasil akademik. Aku sering tidur di kelas, tidak memperhatikan
pelajaran, terlambat masuk kelas, mengobrol saat pelajaran, dan sulit diatur. Di
kelas 1 SMA ini aku mendalami musik di bidang klasik, aku mengambil les gitar
klasik, aku juga les bahasa inggris. Sehingga aku tidak aktif di lingkungan
sekolah.
Aku
punya teman dekat yang sama-sama di tempat les inggris yang sama namun berbeda
kelas di sekolah. Kesamaan minat pada seni, cukup mendekatkan kami. Aku pernah
pergi ke kota tua dengannya, dengan menggunakan bus. Ya, bus trans Jakarta
membawa kami pergi mengelilingi Jakarta untuk mengambil beberapa foto dari
sudut-sudut kota Jakarta. Sisanya, hidupku masih tidak jauh berbeda, malam
minggu masih sering “bergaul” dengan teman-teman yang lain.
Hingga
pada suatu saat, aku merasakan kehampaan. Aku tidak mengerti untuk apa
keberadaan dan eksistensiku. Di saat aku pergi bersama teman-teman di malam
minggu, aku malah merasa tidak nyaman. Pikiranku seolah tidak berada di sana. Hingga
akhirnya, aku memutuskan untuk menjadi anak rumahan. Dan ternyata cukup menyenangkan,
aku menikmati kebersamaan dengan adik-adik di rumah yang selama ini aku sudah
lewatkan. Menaiki kelas 2, aku masih meragukan eksistensiku dan malah menjadi
menganggu kemampuan adjust. Aku merasa
sangat tidak nyaman.
Pada
akhirnya, aku yang masih berusia 16 tahun, memutuskan untuk
berhijrah
ke Bandung. Aku ingin mencari “kehidupan yang sesungguhnya”.
Persetujuan
dari mama tidaklah cukup, aku harus berbicara kepada papa. Dan ini yang agak sedikit
merepotkan bagiku. Kadang sosok papa agak sedikit kaku dan sulit dimengerti,
sehingga selalu mempengaruhi komunikasi yang ada. Mungkin papa terlalu genius,
sehingga punya pemikiran-pemikiran yang original
dan sulit dimengerti orang lain.
Aku
: “aku mau pindah sekolah di Bandung”
Papa:
“buat apa?”
Aku:
“aku ngerasa aneh, aku gak ngerasa menikmati hidup. Aku gak kaya temen-temen
yang lain. Aku pengen cari kehidupan yang membuat aku nyaman”
Papa:
“gak masuk akal”
-----hening-----
Papa:
“kamu tau hidup untuk apa?”
Aku:
“ya jalanin aja”
Papa:
*tersenyum sinis dan meremehkan* kamu harus tau hakekat hidup itu apa nak. Buat
apa irsa hidup, itu harus tau.”
Aku:
“.............”
Papa:
“oke, papa izinkan kamu sekolah di Bandung. Tapi kamu harus mencari tau. Apa itu
hakekat kehidupan”
Aku tidak
mempedulikan pesan papa pada saat itu, yang penting aku pindah ke Bandung.....
Ya,
akhirnya aku bersekolah di Bandung, itu juga dengan proses yang banyak di
mudahkan. Sekolah yang aku akan masuki termasuk 5 terbaik di Bandung. Aku harus
melalui seleksi, tes dan wawancara. Aku juga punya beberapa saingan pada saat
itu. Tapi nampaknya Tuhan memang memiliki maksud untuk meng-hijrahkan aku ke
Bandung. Sehingga segala prosesnya menjadi banyak kemudahan.
Bulan-bulan
pertama sekolah menjadi berat bagiku, semua yang aku bayangkan hanya
fatamorgana. Karena aku harus berhadapan dengan cultural shock , bahasa sunda, sekolah negeri yang aku rasakan
sangat jauh berbeda dari sekolah swasta yang selama ini jadi sekolahku, jarak
antara rumah dan sekolah yang begitu jauh harus aku tempuh selama 1 jam. Semua menjadi
sulit bagiku.
Memasuki
kelas 3 SMA, semua menjadi tidak terasa lagi olehku. Karena aku sudah menemukan
teman yang nyaman, selain itu yang terpikirkan adalah UAN dan akan berkuliah
dimana nantinya. Dari semenjak pindah aku memang melanjutkan lagi di institusi
yang sama untuk les musik dan bahasa inggris di Bandung sehingga pada saat
kelas 3 aku menambah bimbingan belajar, hari-hariku menjadi padat, dan dengan
begitu saja aku lupa dengan kesulitan-kesulitanku dalam proses adaptasi.
Selama awal 2 tahun aku di Bandung itulah yang
cukup merekonstruksi ‘aku’. Ketika kelas 2 aku menjadi orang baru, tidak ada
yang mengenalku. aku lebih banyak berbicara pada diriku sendiri, masa-masa
sulit dan berat aku coba dekatkan pada Tuhan. Ritual-ritual ibadah tidak aku
tinggalkan. Meski mudah saja untuk ditinggalkan semestinya. Ya, karena aku
sudah tidak lagi bersekolah di sekolah Islam. Tapi ternyata aku kehilangan
budaya dan ritual Islam yang selama ini diterapkan di sekolah lamaku. dari
kecil aku memang di sekolahkan di sekolah Islam dan ketika aku keluar dari zona
itu. Aku jadi dapat melihat jelas sampai sejauh mana batasan yang dimiliki
diriku, sebagai ego conscience dan
ego ideal. Kesadaran spiritual pun menjadi lebih meningkat.
Menaiki
kelas 3, kesibukan les ku tidak menghalangi aku untuk bertafakur mencari tau
apa hakikat hidup yang papa maksudkan. Untung saja, di tempat bimbingan belajar
itu antara guru dan murid tidak ada batasan. Setahun bersama, mereka menjadi seperti
keluarga. Beberapa guru yang dekat denganku sangat berpengaruh dalam hal ini. Pandangan-padangan
mereka mengenai kehidupan memudahkan aku menemukan hakikat hidup yang aku cari
selama ini. Hidupku menjadi lebih bermakna.
Tidak
terasa olehku, aku sudah di Bandung selama kurang lebih 4.5 tahun. Aku yang
sekarang hampir memasuki semester 6 dalam bidang psikologi, sangat bersyukur
jika aku mengingat live event hijrah
ini. Terlebih selama aku di psikologi, aku juga belajar memahami diriku
sendiri, memahami orang lain dan tentu saja aku padu padankan dengan
spritualitas dan pemaknaan kehidupan yang aku peroleh selama 2 tahun itu. Aku juga
tidak pernah menyangka sebelumnya kalau aku harus bergelut di dunia psikologi. Karena
dulu impianku adalah seni. Aku ingin kuliah perfilman di IKJ, tapi nampaknya
orang tua tidak mengizinkan. Maka dari itu aku ingin belajar ilmu komunikasi
untuk broadcast sebagai kompensasi. tapi
sejauh ini aku pikir not bad. Psikologi
bagaimanapun juga adalah seni, seni memahami manusia tentunya.
Berbicara
soal hijrah, dulu aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk kembali lagi ke
Jakarta. Tapi ternyata aku sudah terlanjur mencintai Bandung dengan segala
perjalanan yang aku tempuh. Bukan berarti, aku akan tinggal selamanya di
Bandung dan tidak akan pernah kembali ke Jakarta. Tidak lama lagi aku akan
lulus kuliah, dan menghadapi episode kehidupan yang baru dan mungkin lebih
menantang. Untuk itu sekarang ini aku persiapkan diriku untuk berhijrah lagi. Lalu
kemana aku akan berhijrah? Insya Allah ketempat yang lebih baik, dimana setiap
hijrah bisa mendekatkan aku pada-Nya, lebih bermakna tidak hanya untuk aku tapi
juga untuk orang lain.
I expect more,
actually.
But only God knows
the best place for me.
Dari aku,
duniaku, dan penghayatanku
Bandung,
27.01.2012
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment