akhir minggu adalah waktu bersantai yang sangat
diharapkan bagi semua orang yang selalu sibuk setiap harinya. Termasuk aku
tentunya. Aku kadang menghabiskan waktu di depan TV, terdengar pemalasan? Mungkin
iya. Tapi sebetulnya di balik film-film yang aku tonton ada banyak hal yang kadang
membuat aku berpikir soal kehidupan. Seperti film yang aku tonton hari ini,
sebenarnya film cheaper by the dozen bukan
film yang baru lagi, bahkan aku sudah menontonnya berkali-kali. Film ini
mengisahkan tentang keluarga yang memliki duabelas anak. di dalamnya
menceritakan konflik dalam keluarga dan bagaimana membenahinya sehingga
menemukan apa arti keluarga yang sesungguhnya.
Aku
membayangkan bagaimana kalau aku yang menjadi bagian dari keluarga itu? Mungkin
penghayatanku mengenai keluarga akan berbeda. Ya, disilah letak keragamannya. Berasal
dari keluarga yang seperti apa kah kita? Ini akan memberi warna pada
kepribadian kita dan membentuk “kacamata” dalam memandang apa itu keluarga dan
siapa saja keluarga itu.
Seberapa
penting keluarga itu, mungkin bagi setiap orang akan berbeda-beda dalam
memandangnya. dalam psikologi, latar belakang kehidupan terutama bagaimana
keluarganya sebagai lingkungan sosial yang terdekat bagi seseorang adalah hal
yang yang sangat penting. Mungkin itu sebabnya alat tes selalu disertakan dengan
anamnesa. Tapi aku disini tidak ingin membahas perihal keluarga dan
kepribadian, tapi lebih mengarah pada keluarga dan penghayatan.
Untuk
tipe penghayatan pertama, mungkin seseorang yang memiliki keluarga yang hangat
dan nyaman (seperti yang dikisahkan pada cheaper
by the dozen pada akhirnya) akan berpendapat bahwa keluarga adalah yang
terpenting, keluarga adalah tempat kemana kita harus pulang, tempat yang
memberikan kenyamanan, dan keluarga adalah yang di posisi nomor satu dalam
segala prioritas hubungan interpersonal. “hubungan darah adalah keluarga, kalau
ada apa-apa keluarga pasti bantu, kalau temen kan belum tentu. Sedeket-deketnya
juga pasti ada batasan”, seperti inilah pada umumnya yang orang katakan. Ya,
maka aku berasumsi mereka berasal dari keluarga yang seperti ini.
Tipe
penghayatan yang kedua ini mungkin seseorang yang berasal dari keluarga yang
pada awalnya mengalami disrupted family (keluarga yang tidak
utuh karena perceraian, kematian, dll) akan memiliki penghayatan yang berbeda
lagi. Biasanya ketidakutuhan yang dialami menghadapkan mereka untuk membuka
pintu lebar-lebar untuk orang luar yang mau menjadi anggota keluarga baru. Tentu
saja hal ini tidak terlepas dari proses adjustment dengan anggota keluarga baru
tersebut. Hal ini mengingatkan aku pada film the spy next door yang
diperankan Jackie Chan. Jackie Chan yang berperan sebagai mata-mata yang ingin
menikahi seorang wanita tapi dituntut harus dapat adjust dengan anak-anaknya. ia mengatakan, “aku ini terlahir
sebagai anak yatim piatu, aku tinggal di panti asuhan. Meski begitu, aku
menganggap semua orang yang ada disana adalah keluarga ku. Keluarga tidak
terbatas pada hubungan darah, keluarga adalah dimana kita bisa saling
menyayangi”. Begitu kira-kira yang aku ingat apa yang ia katakan di film
tersebut.
Sekiranya
itulah yang aku ketahui tentang penghayatan umumnya mengenai keluarga, tapi
adakah yang lain? Ya, mungkin ini juga mngingatkan aku pada film into the wild, mengisahkan seseorang yang
pergi berkelana mencari kebebasan. Nampaknya ia salah mengartikan apa itu
kebebasan yang sebenarnya. di akhir film ini disiksahkan ia meninggal karena
terjebak di tengah alam yang liar. Ia tidak bisa kembali menyebrangi sungai yang
sudah deras aliran airnya. Pada detik-detik kematiannya, ia menyadari betapa
pentingnya orang-orang yang telah hadir dalam hidupnya. Bisa dikatakan mungkin
ia baru menyadari bahwa ada kebutuhan psikologis yang tidak dapat dipenuhi
sendiri tapi harus dipenuhi bersama orang lain. Walaupun pada awalnya ia
menikmati kebebasannya sendiri ditengah alam. Aku pun sebagai penonton turut
bisa merasakan kebebasan yang ia rasakan. Tapi sebenarnya mungkin bukan ini
kebebasan yang manusia cari. Aku pikir kebebasan lebih mengacu pada kebebasan
untuk memilih. Ya, dalam konteks ini memilih siapa yang kita anggap sebagai
keluarga, tapi ia memilih kesendirian.
Terkait
dengan kebebasan memilih, tipe penghayatan yang ketiga ini adalah seseorang
yang menghayati bahwa keluarga bisa jadi adalah yang memiliki hubungan darah
dan yang tidak memiliki hubungan darah. Ia memiliki kebebasan untuk memilih
siapa saja yang berhak menjadi keluarganya. Itu sebabnya mungkin entah
bagaimana bisa kita jauh lebih care kepada
sahabat, teman atau siapapun yang kita kenal daripada keluarga kita sendiri
yang memiliki hubungan darah (dalam hal ini keluarga jauh misalnya). Meskipun tentu
saja hal ini sudah ada porsinya masing-masing dalam tingkatan prioritas. Ya,
keluarga adalah siapa saja yang selalu mendampingi dan saling memahami. biasanya
tipe penghayatan ini berpendapat, “pas kita susah juga yang bantu ya temen,
mereka kemana? Paling pas lebaran juga baru basa basi”.
Apapun
penghayatan yang kita miliki mengenai keluarga, aku yakin Allah sudah
mengaturnya. Siapa-siapa saja yang Allah kirimkan untuk mendampingi, untuk
saling menyayangi, untuk memberikan kenyamanan dan tentu saja untuk menguji
kita..
Dari aku,
duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 07.01.2012
Irsa
Ikramina
No comments:
Post a Comment