aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Saturday, January 7, 2012

aku dan keluarga


            akhir minggu adalah waktu bersantai yang sangat diharapkan bagi semua orang yang selalu sibuk setiap harinya. Termasuk aku tentunya. Aku kadang menghabiskan waktu di depan TV, terdengar pemalasan? Mungkin iya. Tapi sebetulnya di balik film-film yang aku tonton ada banyak hal yang kadang membuat aku berpikir soal kehidupan. Seperti film yang aku tonton hari ini, sebenarnya film cheaper by the dozen bukan film yang baru lagi, bahkan aku sudah menontonnya berkali-kali. Film ini mengisahkan tentang keluarga yang memliki duabelas anak. di dalamnya menceritakan konflik dalam keluarga dan bagaimana membenahinya sehingga menemukan apa arti keluarga yang sesungguhnya.
            Aku membayangkan bagaimana kalau aku yang menjadi bagian dari keluarga itu? Mungkin penghayatanku mengenai keluarga akan berbeda. Ya, disilah letak keragamannya. Berasal dari keluarga yang seperti apa kah kita? Ini akan memberi warna pada kepribadian kita dan membentuk “kacamata” dalam memandang apa itu keluarga dan siapa saja keluarga itu.
            Seberapa penting keluarga itu, mungkin bagi setiap orang akan berbeda-beda dalam memandangnya. dalam psikologi, latar belakang kehidupan terutama bagaimana keluarganya sebagai lingkungan sosial yang terdekat bagi seseorang adalah hal yang yang sangat penting. Mungkin itu sebabnya alat tes selalu disertakan dengan anamnesa. Tapi aku disini tidak ingin membahas perihal keluarga dan kepribadian, tapi lebih mengarah pada keluarga dan penghayatan.
            Untuk tipe penghayatan pertama, mungkin seseorang yang memiliki keluarga yang hangat dan nyaman (seperti yang dikisahkan pada cheaper by the dozen pada akhirnya) akan berpendapat bahwa keluarga adalah yang terpenting, keluarga adalah tempat kemana kita harus pulang, tempat yang memberikan kenyamanan, dan keluarga adalah yang di posisi nomor satu dalam segala prioritas hubungan interpersonal. “hubungan darah adalah keluarga, kalau ada apa-apa keluarga pasti bantu, kalau temen kan belum tentu. Sedeket-deketnya juga pasti ada batasan”, seperti inilah pada umumnya yang orang katakan. Ya, maka aku berasumsi mereka berasal dari keluarga yang seperti ini.
            Tipe penghayatan yang kedua ini mungkin seseorang yang berasal dari keluarga yang pada awalnya  mengalami disrupted family (keluarga yang tidak utuh karena perceraian, kematian, dll) akan memiliki penghayatan yang berbeda lagi. Biasanya ketidakutuhan yang dialami menghadapkan mereka untuk membuka pintu lebar-lebar untuk orang luar yang mau menjadi anggota keluarga baru. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari  proses adjustment dengan anggota keluarga baru tersebut. Hal ini mengingatkan aku pada film the spy next door  yang diperankan Jackie Chan. Jackie Chan yang berperan sebagai mata-mata yang ingin menikahi seorang wanita tapi dituntut harus dapat adjust dengan anak-anaknya. ia mengatakan, “aku ini terlahir sebagai anak yatim piatu, aku tinggal di panti asuhan. Meski begitu, aku menganggap semua orang yang ada disana adalah keluarga ku. Keluarga tidak terbatas pada hubungan darah, keluarga adalah dimana kita bisa saling menyayangi”. Begitu kira-kira yang aku ingat apa yang ia katakan di film tersebut.
            Sekiranya itulah yang aku ketahui tentang penghayatan umumnya mengenai keluarga, tapi adakah yang lain? Ya, mungkin ini juga mngingatkan aku pada film into the wild, mengisahkan seseorang yang pergi berkelana mencari kebebasan. Nampaknya ia salah mengartikan apa itu kebebasan yang sebenarnya. di akhir film ini disiksahkan ia meninggal karena terjebak di tengah alam yang liar. Ia tidak bisa kembali menyebrangi sungai yang sudah deras aliran airnya. Pada detik-detik kematiannya, ia menyadari betapa pentingnya orang-orang yang telah hadir dalam hidupnya. Bisa dikatakan mungkin ia baru menyadari bahwa ada kebutuhan psikologis yang tidak dapat dipenuhi sendiri tapi harus dipenuhi bersama orang lain. Walaupun pada awalnya ia menikmati kebebasannya sendiri ditengah alam. Aku pun sebagai penonton turut bisa merasakan kebebasan yang ia rasakan. Tapi sebenarnya mungkin bukan ini kebebasan yang manusia cari. Aku pikir kebebasan lebih mengacu pada kebebasan untuk memilih. Ya, dalam konteks ini memilih siapa yang kita anggap sebagai keluarga, tapi ia memilih kesendirian.
            Terkait dengan kebebasan memilih, tipe penghayatan yang ketiga ini adalah seseorang yang menghayati bahwa keluarga bisa jadi adalah yang memiliki hubungan darah dan yang tidak memiliki hubungan darah. Ia memiliki kebebasan untuk memilih siapa saja yang berhak menjadi keluarganya. Itu sebabnya mungkin entah bagaimana bisa kita jauh lebih care kepada sahabat, teman atau siapapun yang kita kenal daripada keluarga kita sendiri yang memiliki hubungan darah (dalam hal ini keluarga jauh misalnya). Meskipun tentu saja hal ini sudah ada porsinya masing-masing dalam tingkatan prioritas. Ya, keluarga adalah siapa saja yang selalu mendampingi dan saling memahami. biasanya tipe penghayatan ini berpendapat, “pas kita susah juga yang bantu ya temen, mereka kemana? Paling pas lebaran juga baru basa basi”.
            Apapun penghayatan yang kita miliki mengenai keluarga, aku yakin Allah sudah mengaturnya. Siapa-siapa saja yang Allah kirimkan untuk mendampingi, untuk saling menyayangi, untuk memberikan kenyamanan dan tentu saja untuk menguji kita..

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
            Bandung, 07.01.2012
Irsa Ikramina
             

No comments:

Post a Comment